Kamis, 14 Mei 2009

Serba-Serbi Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Pekan Budaya Diwarnai Atap Bocor

MANADO – Hujan deras yang mengguyur Manado, Sulawesi Utara, Senin (11/5) sore, menyebabkan atap GOR Arie Lasut bocor. Pada saat bersamaan, sekelompok remaja dan pemuda bersiap tampil di panggung. Tak pelak, mereka tampil dengan sejumlah ember ditempatkan di panggung untuk menampung tetesan air hujan. Meski begitu, mereka tetap bersemangat tampil, seperti panggung boneka dan paduan suara yang diiringi kulintang dan keybord. (GSA)***

Kerja Sama Pemantauan Samudera Hindia

MANADO – Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menandatangani kerja sama pengamatan Samudra Hindia bagian timur di Manado, Selasa (11/5). Kerja sama yang rencananya mulai Juli 2009 itu merupakan bagian dari pemantauan perubahan iklim.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelautan DKP Aryo Anggoro mengatakan, pemantauan itu mencakup suhu permukaan, kecepatan arus laut, dan kecepatan angin yang bermanfaat untuk adaptasi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim. Kerja sama DKP dan NOAA itu berlangsung hingga tahun 2014. Pertemuan itu juga membahas pemberantasan pencurian ikan, perikanan yang bertanggung jawab, serta pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. (LKT)***

Tak Ada Larangan Melaut

MANADO – Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo H Sarundajang di Manado, Senin (11/5), mengatakan, pihaknya tak pernah melarang nelayan di Kota Manado melaut selama berlangsungnya Konferensi Kelautan Dunia (WOC). “Tidak ada pelarangan melaut terhadap nelayan. Melaut adalah hak asasi,” ujar Sarundajang.

Berdasarkan pengamatan kemarin, nelayan di Kota Manado berhenti melaut karena beredar luas isu pelarangan tersebut. Isu itu beredar sejak pekan lalu. (LKT)***

Sumber : Kompas, Selasa, 12 Mei 2009

Pidato Menteri Freddy Numberi pada Pembukaan Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado



KELAUTAN

Dunia Diajak Berpaling ke Laut

MANADO – Indonesia menekankan pentingnya negara-negara di dunia bersatu mengarusutamakan isu kelautan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Komitemen bersama itu antara lain perlu didukung kerja sama penelitian.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengutarakan seruan itu dalam pembukaan Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manando, Senin (11/5).

Sejak kemarin semua kegiatan di WOC dimulai. Selain sidang pejabat (SOM), juga dimulai pameran ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri kelautan.

Pembukaan pada hari pertama diwarnai dengan penangkapan aktivis lembaga swadaya mansyarakat dari Aliansi Manado.

Malam harinya, sebanyak 15 aktivis masyarakat sipil dari Filipina, peserta Forum Internasional Kelautan dan Keadilan Perikanan (FIKKP) yang digagas Aliansi Manado, dikarantina di Kantor Imigrasi Manado. Mereka ada di antara massa yang dibubarkan polisi sore harinya.

Ke-15 orang itu dikarantina dengan alasan persoalan kelengkapan imigrasi. “Ada indikasi pelanggaran keimigrasian,” kata Kepala Imigrasi Manado Jumanter Lubis di Manado, Senin malam.

Ia belum merinci kapan ke-15 warga negara Filipina itu akan dideportasi. Hanya dikatakan masih dalam pemeriksaan. Selain itu juga ada 4 orang Kamboja dan 2 orang Malaysia yang diperlakukan sama.

Kerja sama banyak bidang

Dalam pidatonya, Freddy menegaskan, kerja sama negara maju dan berkembang dibutuhkan tidak hanya dalam hal keuangan, pangan, energi, dan krisis air bersih, tetapi juga antisipasi perubahan iklim.

“Kita (negara-negara) harus bekerja sama menciptakan pemahaman lebih baik mengenai keterkaitan erat antara laut dan perubahan iklim maupun dampak perubahan iklim terhadap ekosistem, keragaman hayati laut, dan masyarakat pesisir, khususnya pulau-pulau kecil,” ujar Freddy.

Komitmen kerja sama itu antara lain diwujudkan dengan pengurangan emisi karbon dan mendukung konservasi di kawasan perairan penting, seperti segitiga terumbu karang, Kawasan Prakarsa Segitiga Terumbu Karang (CTI) mencakup enam wilayah di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Timor Leste, dam Kepulauan Solomon.

“Tidak mungkin negara jalan sendiri-sendiri. Setiap negara memiliki rencana aksi nasional yang bisa dijalankan secara bersama-sama,” ujarnya seusai pembukaan WOC.

Freddy menambahkan, sebagian negara masih alergi dengan mitigasi karena terkait dengan pengurangan emisi karbon. Padahal, perubahan iklim yang sebagian besar dipicu oleh emisi karbon sangat berdampak pada engara-negara kecil dan kepulauan.

WOC akan merumuskan kesepakatan yang tertuang dalam Deklarasi Kelautan Manado (MOD). Selanjutnya, hal itu akan dibahas dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).

Belum tersentuh

Penasihat Delegasi Indonesia untuk WOC yang juga mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja mengatakan, WOC merupakan langkah awal pengarusutamaan peran laut dalam upaya stabilisasi iklim global. Selama ini laut nyaris tak tersentuh dalam kebijakan nasional.

“WOC adalah langkah pertama ke arah kebijakan stabilisasi iklim global yang lebih komprehensif. Upaya mengangkat isu kelautan adalah jalan panjang,” ujarnya.

Sebagai wujud komitmen, ujar Sarwono, Indonesia harus memiliki kebijakan nasional kelautan yang menonjol. Kebijakan kelautan dan konservasi juga harus mampu memperbaiki taraf hidup masyarakat pesisir.

Semakin tersisih

Di tengah pertemuan yang dihadiri 83 delegasi dari 72 negara dan 11 lembaga internasional, kritik muncul dari kalangan masyarakat sipil. Mereka menilai pertemuan tersebut tidak menyentuh subtansi persoalan kelautan yang selama ini dihadapi.

Sebaliknya, justru terjadi kompromi terhadap negara-negara maju yang selama ini mengambil keuntungan atas kekayaan laut Indonesia dan negara kepulauan lain. ”Ada persoalan lebih penting yang dilupakan,” kata anggota Aliansi Manado, Rignolda Djamaludin.

Masyarakat pesisir semakin tersisih dari wilayah kelolanya. Untuk mengubahnya, harus ada pelibatan secara langsung masyarakat pesisir dalam pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Masyarakat harus berdaulat.

Dideportasi

Sementara itu, salah satu dari 15 orang yang akan dideportasi, Dina (warga negara Filipina), yang dihubungi kemarin malam berujar, mereka akan dibawa ke bandara pada Selasa pukul 07.00 Wita.

“Kami harus menginap di kantor imigrasi. Permintaan kami kembali ke hotel ditolak,” katanya.

Menurut Dina, ia bersama teman-temannya menolak dipindahkan ke kantor polisi untuk dipotret dan diambil sidik harinya. “Kami tidak melakukan kekerasan, untuk apa ?,” ujarnya.

Selain itu, FIKKP juga diikuti peserta dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Hingga kini belum ada kepastian apakah mereka juga akan dideportasi.

“Yang jelas, kami menyesalkan kejadian ini dan sudah menyebarluaskannya secara virtual,” kata Riza Damanik, anggota Aliansi Manado.

Peristiwa itu, lanjutnya, memperkuat sinyalemen bahwa suara masyarakat sipil akan selalu dibungkam. (GSA/LKT/ICH/ZAL). ***

Sumber : Kompas, Selasa, 12 Mei 2009

Rabu, 13 Mei 2009

Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Sumber : The World Ocean Observatory@2008

Dari Arena Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Tarian Daerah di Bandara Sam Ratulangi

MANADO – Berlangsungnya Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Kota Manado, Sulawesi Utara, 11 – 15 Mei 2009, diwarnai pergelaran tarian daerah untuk menyambut para undangan dan delegasi WOC di Bandara Sam Ratulangi, Minggu (10/5) siang.

Beberapa tarian dari Kabupaten Bolaang Mongondow digelar di lobi Sekretariat WOC di bandara. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulut, Boyke Rompas, sejumlah tarian dari 15 kabupaten/kota di Sulut akan ditampilkan di bandara itu selama berlangsungnya WOC. (Lkt/Kompas)***
Sumber : Kompas, Senin, 11 Mei 2009

Sekilas Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Antrean Panjang Registrasi

MANADO – Registrasi yang baru dibuka Minggu (10/5) siang di Grand Kawanua International Convention Center (GKICC) diwarnai antrean panjang, baik peserta konferensi maupun para peliput.

Antrean panjang juga dipicu keterbatasan jumlah komputer pengisi data dan foto peserta. Minggu siang dan sore ratusan orang antre berdiri dan sebagian kecil duduk menunggu tiga komputer yang dioperasikan. Tak sedikit di antaranya yang antre hingga satu jam dengan panjang antrean mencapai 10 meter.

Panitia registrasi pun tidak menyediakan alat fotokopi untuk menggandakan dokumen yang dibutuhkan. (Gsa/Lkt).***

Sumber : Kompas, Senin, 11 Mei 2009

Kisah di Balik Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Konferensi Kelautan Dunia 2009
Persiapan Pameran Dikebut

Hari Ini Pertemuan Pendahuluan WOC Manado

MANADO – Para peserta Pameran Ilmu Teknologi, dan Industri Kelautan Internasional, Minggu (10/5) malam, masih sibuk menghias dan mematangkan kesiapan stan. Pameran akan berlangsung 11 – 15 Mei 2009.

Menurut data panitia penyelenggara pameran PT. Fery Agung Corindotama, pameran diikuti 132 peserta. Sebagian besar peserta berasal dari perwakilan pemerintah daerah di Indonersia.

Pameran, menggunakan lokasi Restoran Nyiur Melambai. Ruang pamer utama ditempati badan dunia, departemen, dan perusahaan swasta. Hall B dan C dengan tenda ditempati Pemda.

Selain pameran juga dilangsungkan pertemuan pejabat senior. Pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia (WOC) yang dimulai Senin (11/5) akan diawali pertemuan 83 (bukan 87) delegasi pejabat senior dari 72 negara dan 11 organisasi internasional yang bergerak di bidang lingkungan dan kelautan. Pertemuan pejabat senior (SOM) ini diadakan di Grand Kawanua Convention Centre.

Di tempat terpisah, Manado Convention Centre (MCC) juga menggelar simposium yang membahas 10 topik dengan 31 sesi mengenai kelautan. Simposium diikuti lebih dari 1.000 peserta dalam dan luar negeri.

Sekretaris Panitia Nasional Konferensi Kelautan Dunia (WOC), Indroyono Soesilo mengatakan, 83 delegasi peserta dengan jumlah orang sebanyak 1.835 kemarin sudah berada di Manado. Para peserta diangkut melalui sejumlah penerbangan langsung (extra flight) dari Jakarta dan Singapura.

Delegasi Meksiko mengubah jumlah rombongan yang akan datang dari 20 orang menjadi dua orang. Salah satu penyebabnya adalah merebaknya vitus influenza A-H1N1.

Menurut Indroyono, antusiasme peserta menghadiri Konferensi Kelautan Dunia cukup tinggi. Dicontohkan, Amerika Serikat menyertakan 40 ilmuwan, termasuk wakil menteri kelautan mereka dan membawa rekaman pidato Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang akan disiarkan di sela-sela konferensi.

Pembicaraan MOD

Pertemuan pejabat senior wakil negara peserta WOC tersebut merupakan langkah awal pembicaraan Manado Ocean Declaration (MOD) yang akan dideklarasikan pada akhir pertemuan akbar pada 14 Mei 2009 mendatang. Pembicaraan ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan kelautan dunia.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, pertemuan pejabat senior sebagai salah satu agenda untuk menyamakan persepsi mengenai MOD.

Selanjutnya, MOD akan menjadi rujukan dari WOC untuk diperjuangkan pada Konferensi PBB untuk Peribahan Iklim COP-15 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, pada bulan Desember mendatang.

Salah satu butir MOD memuat ajakan agar dimensi kelautan menjadi perhatian dunia dalam upaya melakukan adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim. (Ich/Zal).
Sumber : Kompas, Senin, 11 Mei 2009

Selasa, 12 Mei 2009

Jalan-Jalan ke "Kota Toea" Indramayu

Kawasan Kota Toea Indramayu di Jalan Cimanuk.(Foto:Satim)

KOTA TOEA INDRAMAYU

Kemalangan di Tengah Gempuran Zaman

INDRAMAYU – Kota tua di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih tampak hingga kini. Meski beberapa bangunannya sudah banyak yang dipugar, sehingga agak mengurangi keasrian dari lokasi yang dulu pernah menyimpan sejarah tersendiri sejak keberadaannya pada masa lalu itu.

Namun, lokasi “Kota Toea” Indramayu itu masih seperti yang dulu, dan kini dijadikan nama Jalan Veteran dan Jalan Cimanuk bagian Timur Indramayu. Di kedua lokasi tersebut, Anda masih bisa menyaksikan deretan sejumlah gedung tua yang artistik, dan bentuk bangunannya bergaya China dan Eropa. Konon, kolonial Belanda lah yang memformat deretan sejumlah gudang barang dan pemukiman yang letaknya menghadap Sungai Cimanuk.

Hanya pemandangan yang sedikit tak sedap, karena sejumlah bangunan tembok besar dan meninggi sudah banyak yang hancur dan rata dengan tanah. Kesan tidak terpelihara kian tampak di sana. Ada kemungkinan, para keturunan yang mewarisi sejumlah bangunan tua tersebut tidak menjaga dan memeliharanya. Meski disebut-sebut, bahwa kawasan Kota Tua Indramayu hingga kini mayoritas dikuasai keturunan Tionghoa yang mayoritas berdagang.

Kawasan peninggalan sejarah itu hingga kini masih berada di sepanjang Sungai Cimanuk, tak jauh dari jantung Indramayu kota. Konon, dulunya sewaktu Belanda menjajah Indramayu mendirikan sejumlah pemukiman dan gudang-gudang barang ekspor dan impor kebutuhan sehari-hari, seperti tepung, garam, gula, beras, dan pupuk.

Namun berdasarkan Buku Sejarah Indramayu (1977) yang ditulis H. A. Dasuki menjelaskan, berdirinya kawasan tersebut ketika Belanda mulai menduduki Indramayu pada 1830, dan ketika itu kawasan Sungai Cimanuk dijadikan pelabuhan dengan dermaganya, sekarang berada di belakang Mesjid Agung Indramayu. Salah satu bukti peninggalan sejarahnya, sebuah segelondong patok jati untuk mengikat tali kapal yang berlabuh. Dalam patok itu bertuliskan 0 KM (nol kilometer).

Dimyati (55), salah seorang yang punya arti tersendiri baginya ketika disinggung kawasan “Kota Toea” Indramayu. Lantaran, sudah puluhan tahun sisa hidupnya mengabdi untuk menjaga kawasan pergudangan dan pemukiman kota bersejarah itu. Meski upah yang ia peroleh belum sebanding dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam menjaga lingkungan kawasan lama tersebut. Maklum, ia hanya dibayar ratusan ribu rupiah setiap bulannya dari warga keturunan Tionghoa yang bermukim di sana.

Dimyati.(Foto:Satim)

“Sebuah pengabdian panjang dalam mengisi sisa hidupku. Meski pemerintah terkesan tak punya kepedulian terhadap nasibku. Tapi mencoba untuk tabah, menjalani hidup apa adanya,” kata pria kelahiran Indramayu 2 Juli 1944 itu.

Dimyati mengharapkan, agar pemerintah bertanggung jawab terhadap kelestarian kota tua Indramayu berikut sejumlah peninggalan sejarah lainnya yang ada di Bumi Wiralodra Indramayu. Ia khawatir, jika peninggalan sejarah yang masih tersisa saja habis akibat gempuran zaman dan kerakusan ambisi modernisasi, apalagi indikasi politik penguasa yang tak peduli terhadap nilai-nilai sejarah. Jika demikian adanya, lalu apa yang bisa dibuktikan fakta sejarah kepada para generasi muda dalam membangun jiwa nasionalismenya.

“Jangan sampai generasi kita kehilangan jejak sejarah, dampaknya akan parah !,” ujarnya di Pos Penjagaan kawasan gedung tua Jalan Cimanuk Timur. (Satim/Joko K)***

Senin, 11 Mei 2009

Mari Pertahankan Kota Tua Bersejarah


Kota Toea

Cultural Tourism
Oleh : Pradaningrum Mijarto

Wisata budaya (cultural tourism) kini semakin mendapat tempat di hati wisatawan. Budaya selalu menjadi obyek wisata utama di seantero dunia. Namun sekitar tiga dasawarsa lalu, tren wisata budaya mulai terpecah, wisatawan mulai tertarik juga pada hasil peninggalan masa lampau yang menempel pada dinding-dinding bangunan di kota bersejarah, kota tua pada setiap negara yang mereka kunjungi. Tren wisata itu diberi nama heritage tourism atau cultural heritage tourism.

Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk mencipta saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.

Di dalam setiap kota tua masih lekat menempel sejarah sang kota, perjalanan hidup kota berabad lalu masih bisa terbaca hingga detik ini melalui bangunan tua, jalur kereta api, jembatan, kanal, kuliner, folklore, tradisi dan segala yang masih terus dilestarikan.

Kerutan di wajah sebuah kota tua, yang terpelihara apik, menjadi begitu menarik dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk, mengenang, tapi juga mencoba memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi pada satu kurun waktu. Kemudian, bisa kekaguman yang muncul atau dalam kisah tertentu, berharap kejadian buruk di masa lalu tak terulang kembali.

Warisan yang ada di setiap kota di dunia memiliki arti penting yang berbeda bagi penduduk kota itu sendiri, penduduk di negara di mana sebuah kota berada, atau bahkan bagi dunia.

Arti sebuah warisan bisa positif atau negatif. Warisan masa lalu, tak selalu berupa kejayaan yang membanggakan bagi generasi di masa kini namun seringkali juga mendatangkan rasa malu, kebencian, seperti pada masa kelam Jerman dan Eropa pada umumnya ketika Hitler berlagak menjadi Tuhan dan membantai orang Yahudi. Begitu banyak warga Jerman ingin melupakan warisan yang ditinggalkan Hitler. Tapi bagaimanapun, orang tak bisa melupakan sejarah mereka, baik yang membanggakan maupun yang memilukan.

Auschwitz atau Oswiescim yang masuk dalam World Heritage Sites UNESCO adalah salah satu peninggalan yang dilestarikan. Warga dunia ternyata lebih banyak yang memilih untuk tidak melupakan sejarah terkelam manusia di abad 20 melalui kamp pembantaian Yahudi di Polandia ini. Melalui Auschwitz, dunia diingatkan agar lakon ini tak pernah lagi dipentaskan pada panggung dunia manapun.

Berlin masih menyimpan reruntuhan tembok, perlambang runtuhnya komunisme, yang dihancurkan pada 1989. Gerbang Brandenburg menanti wisatawan yang ingin menatap pintu gerbang pertanda damai dari Raja Frederik William II dari Prussia dan dibangun oleh Carl Langhans yang kini jadi landmark Berlin - bahkan Eropa. di Koln berdiri tegak Katedral Koln atau Kõlner Dom sebagai tengara kota yang dibangun di sekitar abad 12.

Kota tertua di Belanda, Maastricht, yang sudah ada sejak zaman Romawi dan sempat hanya menjadi kota kecil di ujung Selatan Belanda, kini bersinar sebagai kota budaya dengan peninggalan dari abad 12 yang masih bisa dilihat, tembok kota, gerbang kota, dan benteng.

Sebagai kota benteng, Maastricht mempertahankan warisan itu hingga kini. Sejak 1992, di mana Maastricht menjadi kota kelahiran Uni Eropa lewat Perjanjian Maastricht (The Treaty of Maastricht), kota ini makin berkilap sebagai kota tujuan turis mancanegara. Pemerintah setempat sadar betul, koceknya makin gemuk dengan kedatangan turis. Goa, St Pietersberg Cave, yang sudah ada sejak sebelum Masehi pun masih terawat lengkap dengan peninggalan sketsa dan lukisan di dinding. Di masa Hitler, goa ini menjadi tempat persembunyian.

Intinya, mereka melek heritage. Warisan berabad silam dilestarikan bukan hanya demi memenuhi rasa penasaran para turis tapi juga demi pengembangan heritage itu sendiri.

Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, dan Amerika Serikat, tur hantu pun digelar. Biasanya mereka menyasar bangunan tua.

Dari Asia, Korea Selatan penuh dengan kuil yang dibangun bahkan sejak sebelum Masehi. Kota bersejarah Gyeongju, Kuil Bulguksa, dan pertapaan Seokguram Grotto semua masuk dalam daftar World Heritage Sites UNESCO. Kawasan Gyeongju sudah ada sejak tahun 57 sebelum Masehi. Gyeongju adalah bekas ibukota Kerajaan Silla yang sudah berkembang sejak awal milenium. Tak pelak, peninggalan arkeologi di kawasan ini mengambil lahan yang cukup luas, sekitar 1.300 km2. Sedangkan Kuil Bulguksa, kuil penganut Buddha, dibangun juga pada masa Kerajaan Silla pada sekitar tahun 580-an. Seokguram Grotto adalah salah satu bagian dari kompleks Kuil Bulguksa yang mulai didirikan pada tahun 742.

Bicara soal Korea Selatan, sekitar dua pekan lalu seorang rekan lama dari Seoul melempar surat elektronik ke Warta Kota. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, lantas mulailah diskusi tentang wisata heritage. Kemudian dia menulis, "Pemerintah Seoul sedang membangun kafe di jembatan Sungai Han. Bayangkan, secangkir kopi sambil memandang Sungai Han dan air mancur menari. Kalau malam, waaaaah... romantis. Dan ini dibikin untuk menarik turis."

Menarik turis berarti menyedot uang dari kocek para turis agar masuk ke Seoul. Sebuah upaya dan kemauan luar biasa dari pemerintah Seoul untuk mewujudkan janji mereka pada dunia, menampilakan Seoul sebagai Soul of Asia.

Bergerak ke negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada Malaka yang tahun lalu masuk dalam daftar World Heritage Sites. Intinya, semua berlomba memelihara dan melestarikan warisan terpenting mereka sekaligus mengelolanya dengan baik.

Pada akhirnya memang, nilai ekonomi heritage begitu terasa langsung bagi kota dan penduduknya. Kafe, restoran, hotel, toko suvenir, pedagang tradisional semua terkena dampak berputarnya uang. Selain itu, keberlangsungan sebuah kota -lengkap dengan peninggalan sejarah dan budaya- terjaga bagi generasi selanjutnya.

Lantas, apa kabar Jakarta? Di usia yang menjelang 500 tahun, dalam rentang waktu yang kurang dari 20 tahun ke depan, Jakarta masih saja berantakan. Sudahkah Jakarta menciptakan citranya sebagaimana kota-kota lain di dekatnya?

Kawasan bersejarah Jakarta yang sedang dalam proses dihidupkan kembali kini terkesan dhedhel dhuwel. Mandek bukan hanya karena masalah pembangunan fisik, dan pembenahan ulang -karena dalam waktu dua tahun sudah babak belur lagi sehingga harus tambal sulam- tapi juga karena tak jelas arah revitalisasi itu. Terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak cakap, minim tindakan.

Padahal, potensi kawasan bersejarah/kota tua Jakarta tak terkatakan. Tengok saja sejarah kota ini. Bermula dari Sunda Kelapa di seputar abad 12 kemudian berganti nama menjadi Jayakarta pada 1527, berubah lagi menjadi Batavia pada 1619 di masa VOC, dan terakhir Jakarta pada 1942.

Sejarah panjang itu bermula di kawasan yang kini disebut kawasan lama atau kawasan bersejarah atau kota tua. Seluruh kawasan tempat di mana Batavia berawal ini ditetapkan sebagai situs dan dilindungi oleh SK Gubernur DKI Jakarta No 475/1993 mengenai bangunan cagar budaya di DKI Jakarta yang harus dilestarikan.

Menurut Candrian Attahiyat, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, sesuai Peraturan Gubernur No 34 Tahun 2006 tentang penguasaan, perencanaan, penataan kota tua, luas kawasan bersejarah atau kota tua Jakarta adalah 846 hektar. Batas sebelah Selatan adalah Gedung Arsip, batas Utara adalah Kampung Luar Batang, batas Timur Kampung Bandan, dan batas Barat di Jembatan Lima.

Di kawasan itu saja ada lebih dari 200 bangunan tua yang dimiliki BUMN, DKI Jakarta, swasta, dan perseorangan. Kondisinya? Lebih banyak yang menunggu ajal.

Selain empat museum milik DKI Jakarta, Museum Sejarah Jakarta yang menempati bekas gedung balai kota di masa Batavia; Museum Wayang; Museum Seni Rupa dan Keramik; dan Museum Bahari, kawasan ini juga memiliki dua museum perbankan, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Di seputaran bekas pusat Batavia, ada bangunan Stasiun Jakarta Kota atau Beos yang pembangunannya kelar pada 1929. Menyusur kanal membayangkan awal abad 19 di mana kawasan Kali Besar tenar sebagai pusat bisnis, bisa jadi alternatif lain. Bangunan-bangunan tua di sisi kiri dan kanan kanal menjadi saksi sebagain sejarah Jakarta.

Lebih ke Utara, ada sisa tembok Batavia, ada pula kampung yang seharusnya tetap lestari sebagai Kampung Tugu. Kampung ini masuk sebagai kawasan yang dilestarikan dalam SK Gubernur DKI No 475/1993. Disebut demikian karena, menurut Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, di kawasan ini ditemukan Prasasti Tugu - peninggalan arkeologis tertua yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat.

Di kampung ini pula para mardijkers - tahanan yang sudah dibebaskan, dimerdekakan oleh Belanda - tinggal. Mereka kebanyakan keturunan Portugis.

Gereja Tugu yang pertama kali dibangun pada 1670-an, masih berdiri di sana. Kampung ini juga menyimpan warisan kuliner seperti dendeng tugu dan pindang srani tugu yang semua sudah punah bersama punahnya Kampung Tugu. Kampung yang harusnya lestari seperti apa adanya, kini hanya menyisakan keroncong tugu. Selebihnya, kini kawasan itu jadi tempat antrean truk konteiner.

Untuk menyasar wisata kuliner, kota tua masih memiliki kawasan yang paling beken. Kawasan itu tak lain adalah Pancoran, Glodok. Ingin ke pulau, bergeser sedikit ke Teluk Jakarta ada Kepulauan Seribu dengan Taman Arkeologi Pulau Onrust - pulau yang sibuk/tak pernah istirahat - yang terdiri atas Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Bidadari.

Tentu saja Indonesia tak hanya punya Jakarta. Kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Banten, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Semarang hingga kota-kota di luar Pulau Jawa menyimpan warisan tersendiri.

Yang perlu diingat bahwa bahkan dari segelas bir, secangkit kopi atau teh, sepotong es krim, semangkuk soto, atau patahan tembok tua, kita bisa kembali ke ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Preserving our past, building our future... Mulailah detik ini. ***

Kenangan Kota Tua Bersejarah di Jakarta


Gedung di tepi Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur,

ini merupakan bekas kediaman regens atau bupati kawasan Mester Cornelis di awal abad 20.

(Warta Kota/Umar Widodo}


Heritage dan Manusia

KOMPAS.com — Suatu hari, Warta Kota tersentak, ketika seorang bocah usia sekolah dasar bertanya, apa itu heritage. Sebetulnya bukan pertanyaan itu yang menyentak, tapi proses menjawabnyalah yang menyadarkan Warta Kota. Bagaimana memilih kata untuk kemudian dirangkum dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna si bocah. Dari proses itulah kemudian muncul kesadaran, barangkali bukan hanya si bocah yang tak paham apa itu heritage atau warisan/pusaka.

Heritage dalam kamus Oxford ditulis sebagai sejarah, tradisi dan kualitas yang dimiliki sebuah negara atau masyarakat selama bertahun-tahun dan diangap sebagai bagian penting dari karakter mereka. Sementara itu, Peter Howard dalam buku Heritage: Management, Interpretation, Identity memaknakan heritage sebagai segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam.

Jika selama ini manajemen warisan budaya lebih ditujukan pada warisan budaya secara publik, museum, misalnya, Howard mengingatkan, tiap orang juga punya latar belakang kehidupan ”behind the scenes” yang bisa jadi warisan tersendiri.

Warisan budaya adalah salah satu bagian dari pusaka suatu bangsa, yaitu pusaka budaya. Berdasarkan pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan di Ciloto 13 Desember 2003, Pusaka Indonesia meliputi Pusaka Alam, Pusaka Budaya, dan Pusaka Saujana. Pusaka Alam adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka Budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Pusaka Budaya mencakup pusaka berwujud (tangible) dan pusaka tidak berwujud (intangible). Dalam Pusaka Budaya ini bisa dilihat sebagai folklor. Pusaka Saujana adalah gabungan Pusaka Alam dan Pusaka Budaya dalam kesatuan ruang dan waktu. Pusaka Saujana dikenal dengan pemahaman baru yaitu cultural landscape (saujana budaya), yakni menitikberatkan pada keterkaitan antara budaya dan alam dan merupakan fenomena kompleks dengan identitas yang berwujud dan tidak berwujud.

Yang sering menjadi perbincangan di Indonesia, lebih mengerucut di Jakarta dan sekitarnya, masih warisan budaya dalam bentuk berwujud. Sebut saja gedung-gedung tua. Padahal, kalau kembali ke paparan di atas, folklor dalam bentuk cerita rakyat, tarian, kulinari, musik tradisional, dan lainnya masuk dalam pusaka budaya yang dalam bahasa kerennya disebut heritage tadi. Itu tadi jika bicara warisan secara kolektif sebagai bangsa.

Howard mengingatkan bahwa peninggalan atau warisan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, dan lainnya. Pokoknya heritage adalah untuk semua manusia.

Bicara soal warisan, soal heritage, langkah selanjutnya setelah upaya pelestarian—dalam hal ini kita ambil contoh pelestarian bangunan tua atau kawasan kota tua di Jakarta—adalah bagaimana aktivitas dilakukan demi menghidupkan warisan tadi. Bagaimana tradisi lokal juga ditampilkan dalam bentuk aktivitas di kawasan yang dilestarikan. Dengan demikian, tradisi lokal dalam bentuk apa pun, olahraga, kesenian, bisa menyatukan orang lain. Orang-orang yang punya kenangan, ikatan pada satu bentuk warisan dan menjadi bagian dari karakter mereka.***


Minggu, 10 Mei 2009

Obyek Wisata Pulau Biawak Indramayu

OBYEK WISATA

Menikmati Keindahan Alam

Pulau Biawak Indramayu

INDRAMAYU – Pulau Biawak yang terletak di kawasan perairan Laut Indramayu, merupakan aset Pemerintah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat yang dibanggakan hingga saat ini. Pemerintah setempat pun tampaknya tak segan-segan untuk mengucurkan dana bagi perbaikan, pembenahan, dan upaya-upaya pengelolaan pulau paling unik di Kota Mangga Indramayu itu.

Ciri khas Pulau Biawak tersebut, konon, karena dihuni kawanan biawak purba yang masih langgeng keberadaannya hingga kini. Selain itu biota lautnya yang masih alami dan asri, belum banyak terganggu oleh ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab. Pengawasan ketat pun dilakukan petugas yang diterjunkan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu.

Para wisatawan yang berkunjung ke sana, semuanya dilarang merusak atau mengambil sesuatu yang dianggap merusak keasrian Pulau Biawak. Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, wisatawan akan dipandu oleh petugas yang sudah disiapkan pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu.

Petunjuk awal, sebelum ke Pulau Biawak, sebaiknya menghubungi atau berkoordinasi dulu dengan pihak Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Karena segala informasi dan hal-hal lainnya yang dubutuhkan bagi wisatawan bakal dijelaskan petugas di kantor tersebut.

Kemudian, para wisatawan pun tidak susah-susah mencari kapal atau sarana angkutan laut untuk menuju ke Pulau Biawak. Lantaran, pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu sidah menyiapkan kapal motor besar yang khusus mengantarkan para pelancong.

Gambar kapalnya cukup mudah dikenali. Karena bergambar binatang melata “Biawak” yang diduga untuk menggambarkan sarana angkutan menuju Pulau Biawak. Kapal motor ini, ada tulisan Bantuan Departemen Perikanan dan Kelautan yang sudah nongkrong sejak 2008 di tepi Pantai Karangsong Indramayu.

Yang perlu dipersiapkan para wisatawam, barangkali perbekalan secukupnya dan kesiapan fisiknya karena harus mengarungi lautan Indramayu dan bergelombang. Siapa tahu, apa yang dibutuhkan wisatawan belum tersedia di sana, karena betapa susah dan jauhnya sarana untuk berbelanja. Maklum, sebuah pulau di tengah lautan yang masih termasuk belum rutin dikunjungi banyak orang. Namun segala macam sarananya, sudah dibuat secara bertahap sejak beberapa tahun lalu. Sehingga para wisatawan akan dimanjakan untuk menikmati panorama alami di Pulau Biawak tersebut.

Kalau sidah sampai di Pulau Biawak, para wisatawan akan menikmati keindahan alam yang asri dari pulau yang sejak ratusan tahun silam telah berdiri mercusuar buatan pemerintahan Belanda, sekitar ratusan kawanan biawak purba, dan bisa berziarah di makam Syekh Syarif Khasan (konon, muridnya Sunan Gunung Jati) itu. Dan dalam rangka memeberikan kenyaman an kepada para wisatawan, biota laut dan darat pun dijaga ketat.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Ir. Abdul Rosyid Hakim mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan untuk membuat Pulau Biawak sebagai area wisata yang menyenangkan. Oleh karena itu, kata dia, secara bertahap dibangun berbagai sarana untuk lebih memudahkan jangkauan wisatawan, dan membuat nyaman pengunjungnya. Sehingga sudah dibuat dermaga, bungalau, posko, dan lain-lain.

“Kami mengupayakan, keberadaan Pulau Biawak mampu memberikan manfaat bagi semua pihak. Ke depannya, mampu mendulang devisa bagi kas Pendapatan Asli Daerah Setempat (PADS),” ujarnya.

Kesungguhan penanganan dan pengelolaan Pulau Biawak pernah disampaikan Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) dalam sidang paripurna Parlemen Bumi Wiralodra Indramayu, Jumat (13/3) dalam Pidato Penghantaran Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Indramayu Tahun Anggaran 2008.

Selain mengungkap tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Indramayu Tahun 2008 – 2025, Bupati Yance (sapaan akrab H. Irianto MS Syafiuddin) menyebutkan, bahwa Pulau Biawak merupakan area pengelolaan kawasan khusus. Sehingga Pulau Biawak dibagi menjadi 2 (dua) zona, yakni Zona Inti dan Zona Pengembangan.

Dijelaskan, Zona Inti merupakan perlindungan biota maupun fauna laut dan darat, serta dilarang menjadi fungsi lain. Sedangkan Zona Pengembangan, kawasan Pulau Biawak difungsikan untuk pengembangan obyek wisata ekonomi, seperti budidaya laut terbatas, penangkapan ikan terbatas, dan Wisata Bahari.

Nah, apakah Anda tertarik untuk mengisi liburan bersama keluarga atau teman-teman Anda di Pulau Biawak Indramayu ? (Satim)***

Wisata Pulau Biawak Indramayu



PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD)
PULAU BIAWAK INDRAMAYU

DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

KABUPATEN INDRAMAYU

JL. PABEAN UDIK NO. 01 INDRAMAYU. TELP./FAX. 0234-272 767


I. GAMBARAN UMUM KAB. INDRAMAYU

Luas Wilayah : 204.011 ha

Jumlah Kecamatan : 31 kecamtan

Jumlah Desa : 310 desa/kel.

Penduduk : 1.709.128 jiwa

Kepadatan : 836 jiwa/ha

Matapencaharian : Pertanian, Perikanan

Lahan sawah : 110.877 ha

Lahan tambak : 20.275 ha.

Potensi P.Kecil : P. Biawak

: P. Gosong

: P. Candikian

II. KONDISI DAN POTENSI UMUM KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN INDRAMAYU

  • Kabupaten Indramayu memiliki potensi wilayah perairan laut, pesisir/payau dan tawar. Kondisi tersebut Indramayu memiliki keanekaragam hayati (biodiversity) yang tinggi.
  • Potensi-potensi kawasan konservasi perairan Indramayu, antara lain : Kawasan Konservasi Laut dan Pulau-Pulau Kecil, Kawasan Perairan Payau dan Kawasan Konservasi Perairan Tawar.

III. KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN (KKP) KKLD PULAU BIAWAK INDRAMAYU

* Lingkup wilayah KKLD meliputi :

Daratan pulau (terrestrial) dan wilayah perairan (aquatic) pantai dan laut sekitarnya.

- Luas Total ± 15.540 Ha

- Luas darat ± 742 Ha, luas perairan ± 14.798 Ha.

* Letak Geografis KKLD P. Biawak

P. Biawak 06°56’022’’ LS dan 108°22’015’’ BT

P. Gosong 5°52’076”LS dan 108°24’337’’ BT

P. Candakian 5°48’089”LS dan 108°24’487’’BT

IV. PENATAAN ZONASI KKLD PULAU BIAWAK

  • ZONA INTI : sebagai zona perlindungan mutlak, zona ini diperlukan untuk kepentingan perlindungan kawasan (melindungi habitat dan populasi biota laut dan pesisir). Pada blok ini tidak diperkenankan adanya pengembangan fisik kecuali dalam rangka pengamanan kawasan.
  • ZONA PENYANGGA : merupakan zona pemanfaatan terbatas untuk kegiatan WISATA MINAT KHUSUS (semi intensif /terbatas). Kegiatan antara lain; wisata bahari, wana wisata, wisata alam laut (diving, snorkling, memancing) pemanfaatan pada zona ini adalah semi intensif dan multiguna.
  • ZONA BUDIDAYA TERBATAS adalah zona pemanfaatan untuk kegiatan budidaya laut (marine culture) dan penangkaran jenis-jenis biota laut langka dan jenis-jenis ikan hias. Dalam upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir.

V. FUNGSI KKLD P. BIAWAK

  1. Fungsi Konservasi (Perlindungan dan Pelestarian)
  2. Fungsi Pendidikan dan Riset
  3. Fungsi Pengembangan Ekonomi Masyarakat (pemanfaatan sumberdaya KKLD dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan)

Fungsi Pengembangan Ekonomi Masyarakat

  • Fungsi ini berkaitan dengan senua aspek pemanfaatan sumberdaya alam KKLD untuk pemanfaatan tradisional, wisata, pendidikan, budaya dan lainnya yang berkelanjutan (ramah lingkungan)
  • Kegiatannya, antara lain :
  1. Wisata Bahari (Diving, Snorkling, Memancing, dll2. Wisata Alam (hutan mangrove, Pengamatan Biawak, Burung, Kalong dan Lainnya).
  2. Wisata Pendidikan (Heiking, outbond, fotografi, pengenalan tumbuhan dan alam).
  3. Wisata Budaya dan Sejarah (Ziarah dan Bangunan Mercusuar th. 1872).
  4. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (Souvenir KKLD, Jasa Inap, Jasa Pemandu, dll)
  5. Budidaya Laut dan Penangkaran Biota Laut Langka ( keramba jaring apung kerapu, rumput laut dan penangkaran ikan hias laut dan biota langka) tumbuhan dan alam)

VII. SARANA PRASARANA KKLD KAB. INDRAMAYU

  • KANTOR PENGELOLA KKLD P. BIAWAK.
  • Kapal Wisata KKLD, kapasitas 25 Orang, dan perlengkapannya.
  • Radar dan Fish Finder.
  • Pusat Informasi dan Pos Jaga di Pulau Biawak.
  • Dermaga Pelabuhan / Jetty di Pulau Biawak.
  • Tempat Penangkaran Biota Laut Langka dan Ikan Hias.
  • Peralatan Selam (diving) 3 Unit dan Kompresor.
  • Mouring Bouy (tempat tambat perahu di laut).
  • Papan informasi penunjuk arah potensi wisata.

VIII. LANDASAN HUKUM KKLD P. BIAWAK

  • PERDA Kabupaten Indramayu No. 14 Tahun 2006, Tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dan Penataan Fungsi Pulau Biawak, P. Gosong dan P. Candikian
  • Keputusan Bupati Indramayu, No.: 523.1.05/Kep.80A-Diskanla /2006. Tanggal 12 Januari 2006. Tentang Pembentukan Forum Pengelola KKLD Kabupaten Indramayu.
  • Keputusan Bupati Indramayu, Nomor : 523.1.05/Kep.446A-Diskanla/2007. Tanggal 12 Mei 2007. Tentang Pembentukan Forum Pengelola KKLD Kabupaten Indramayu.

IX. SARANA DAN PRASARANA TAHUN 2008 KKLD P. BIAWAK INDRAMAYU

- Speedboat bottom glass

- Garasi Speedboat

- Revieter Handytalky (P. Biawak-Kota)

- Handytalky, GPS, Meubeler, TV, Wireless

X. Konservasi, Pendidikan dan Wisata P. Biawak

PULAU BIAWAK (LUAS DARAT ± 120 HA)

PULAU BIAWAK (LUAS DARAT ± 120 HA)

PULAU CANDIKIAN (LUAS DARAT ± 97 HA)

XI. POTENSI SUMBERDAYA ALAM KKLD P. BIAWAK

  • Hutan Mangrove
  • Biawak

UAS BN SD/MI KABUPATEN INDRAMAYU

Drs. Masdik, MM, Kasi Kurikulum Dikdas pada
Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu. (Foto:Satim)

UAS BN SD/MI

Standar Kelulusannya Masih

Ditentukan Sekolah Masing-Masing

INDRAMAYU – Setelah Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat, Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat di Kabupaten Indramayu telah melaksanakan Ujian Nasional (UN) pada April 2009 lalu, kini, giliran Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) mulai menggelar Ujian Akhir Semester Berstandar Nasional (UAS BN). Pelaksanaannya berlangsung selama tiga hari sejak Senin (11/5) hingga Rabu (13/5).

Kasubdin Dikdas Drs. H. Mas’ud, MM melalui melalui Kasi Kurikulum Dikdas pada Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Drs. Masdik, MM mengatakan, UAS BN tahun ini diikuti 878 SD Negeri/Swasta dan 115 MI yang tersebar di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Dari sejumlah sekolah tersebut, murid yang mengikuti UAS BN tercatat 32.588 siswa. Dan selama tiga hari itu, peserta UAS BN akan diuji untuk menjawab soal-soal mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Penegetahuan Alam (IPA). “Kami optimis, tingkat kelulusannya mendekati 100 persen. Meski pihak kami punya target kelulusan 100 persen, namun kami tak mau bicara muluk-muluk dulu. Namun tahun lalu kelulusannya 100 persen,” kata Masdik, Minggu (10/5), di kantornya.

Menurutnya, standar kelulusan UAS BN berbeda dengan Ujian Nasional (UN) yang ditentukan oleh pusat. Namun dalam standar kelulusan UAS BN SD/MI hingga kini masih ditentukan oleh sekolah masing-masing.

“Sebelumnya kami memang sudah menerima standar kelulusan masing-masing sekolah. Namun itu belum menjadi acuan tingkat kabupaten maupun pusat. Sistem standarisasi tingkat kabupaten untuk tahun ajaran mendatang, baru akan kami tentukan setelah mengevaluasi hasil nilai rata-rata siswa dari seluruh SD/MI pada tahun ini. Kami tak mau gegabah untuk menentukan standar untuk tahun depan,” ujar mantan Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Kecamatan Sindang itu.

Dijelaskan, sampai sekarang pemerintah pusat belum menentukan standar kelulusan UAS BN SD/MI dari materi pelajaran yang diujikan. Bahkan bahan soal ujiannnya pun 75 bpersen dibuat pusat, dan yang 25 persen dibuat oleh daerah melalui Dinas Pendidikan ringkat provinsi.

Namun yang pasti, kata Masdik, kelulusan murid SD/MI akan ditentukan oleh tiga kriteria dasar, yakni lulus UAS BN, lulus ujian di sekolahnya, dan lulus semua program pendidikan mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 semester II. Untuk yang demikian, Masdik merasa optimis, lantaran sebelumnya murid-murid kelas 6 sudah diuji melalui tes soal-soal mirip UAS BN di tingkat sekolah, gugus, kecamatan, kabupaten, dan tingkat provinsi.

Dari pemantauan ToeNTAS News, seluruh sekolah SD/MI menyatakan siap menggelar UAS BN Senin (11/5) hingga Rabu (13/5). Kesiapan itu seperti disampaikan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Sindang, Drs. H. Suryadi, M.Pd, Minggu (10/5) di kantornya.

Dari 23 SD Negeri, 1 SD swasta, dan 2 MI yang ada di wilayah Kecamatan Sindang saja, konon, sudah menyatakan siap melaksanakan UAS BN. “Tingkat kelulusannya kami optimis 100 persen,” ujar mantan KCD Pendidikan Kecamatan Lohbener itu.

Sampai Minggu (10/5) sore, para Kepala UPTD Pendidikan dari masing-masing kecamatan terlihat sibuk memberesi amplop tertutup yang berisi soal-soal ujian dan lembar jawaban UAS BN SD/MI di ruangan lantai dua yang biasanya untuk rapat. Yang sudah dicatat dan disaksikan petugas yang berjaga-jaga dari pihak kepolisian, rumpukan amplop soal-soal itu dibawa ke kantor UPTD Pendidikan kecamatan masing-masing.

“Dokumen rahasia itu tetap dijaga petugas dan para kepala sekolah. Sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah, dokumen rahasia itu disimpan di UPTD Pendidikan di tiap kecamatan,” tutur Suryadi yang terlihat sibuk membuat surat pemberitahuan jadwal pelaksanaan UAS BN untuk disampaikan kepada Kapolsek Sindang. (Satim/Joko K)***


Pentingnya SDLB di Indramayu

Kasi Kurikulum Dikdas pada
Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Drs. Masdik, MM. (Foto:Satim)

“Kelainan” Mental

Pemerintah Didesak Bangun SDLB

Setiap Kecamatan

INDRAMAYU – Duduga karena banyaknya anak-anak usia sekolah dasar yang mengalami “kelainan” mental, dan gangguan psikis lainnya, saat ini dibutuhkan sarana layanan pendidikan dasar luar biasa yang akan membina anak-anak seperti itu. Sekolah pun harus dijamin gratis dan biayanya ditanggung pemerintah. Kebutuhan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) itu tampaknya sangat mendesak, dan perlu dibangun di setiap kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Maklum, sampai saat ini, pemerintah belum membangunkan SDLB di setiap kecamatan, sehingga masyarakat merasa keberatan dan agak kesulitan untuk menyekolahkan anak-anaknya yang kebetulan diduga memiliki “kelainan”. Kalau sudah berdiri SDLB di masing-masing kecamatan, masyarakat diharapkan tidak merasa keberatan untuk menyekolahkan anaknya, sehingga upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat Indramayu bisa terlayani semua.

Jangan sampai, anak-anak yang memiliki “kelainan” sekolahnya campur dengan anak-anak normal. Dampaknya, sangat buruk terhadap imej sekolah dasar yang bersangkutan, karena keberadaannya akan mempengaruhi nilai dan kelulusan siswa lainnya. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mendesak agar di setiap kecamatan berdiri SDLB yang dibiayai pemerintah.

Demikian rangkuman pendapat Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Drs. Masdik, MM dalam dialog khusus tentang persoalan pendidikan dasar dan permasalahannya di lapangan dengan ToeNTAS News dan Pelita, Minggu (10/5) di kantornya.

Pendapat Masdik itu berdasarkan hasil temuannya di beberapa sekolah dasar yang pernah dikunjunginya. Kemudian hasil temuan ToeNTAS News dan Pelita di wilayah Kabupaten Indramayu, nyatanya tak sedikit pula anak-anak seusia sekolah dasar yang membutuhkan pelayanan pendidikan khusus di SDLB, dan bukan di sekolah dasar umum. Lantaran mereka diduga memiliki “kelainan”, sedangkan orangtuanya merasa kerepotan jika harus mendidik anak-anaknya itu ke SDLB sekitar kota yang terlalu jauh.

Temuan di lapangan, ada satu keluarga yang orangtuanya menjadi guru, namun kedua anaknya diduga mengalami “kelainan” dan hingga kini selalu dijaga-jaga terus oleh orangtuanya. Pernah di sekolahkan di SDLB sekitar kota, namun karena terlalu jauh dan merepotkannya, lalu putus sekolah di tengah jalan. Sementara di lingkungan masyarakat pun, keberadaan mereka selalu diawasi ketat orangtuanya karena sering “merepotkan”.

Temuan Masdik malah agak lucu lagi, ada beberapa sekolah memiliki murid yang aneh. Sampai kelas 5 belum bisa membaca dan menulis dengan benar. Karena termasuk laporan yang ganjil dan mencurigakan, kemudian suatu hari Masdik mengunjungi sekolah dimaksud.

“Setelah saya masuk kelas, anak-anak itu malah ngumpet di kolong meja belajar. Kalau yang lain-lainnya mendengarkan saya bicara yang didampingi kepala sekolahnya. Dari sikap dan bicaranya, ternyata diduga ada kelainan. Pantas saja di sekolah itu prestasinya memble terus gara-gara beberapa muridnya seperti itu,” kata Masdik.

Menurutnya, sejumlah temuan serupa juga banyak dijumpai di tengah-tengah masyarakat, juga di beberapa sekolah dasar umum. Sehingga, desakan berdirinya SDLB di tiap kecamatan itu, dalam rangka untuk merealisasikan pendidikan dasar bagi kalangan anak yang diduga memiliki “kelainan”. (Satim/Joko K) ***