Sabtu, 20 Juni 2009
Pendangkalan Terjadi di Waduk Bojongsari
Senin, 15 Juni 2009
Menggugah Gerakan Penghijauan di Indramayu Yang Berkesinambungan dan Tak Hanya Seremonia
Tapi Jangan Gunduli Pegunungan dan Pantai
INDRAMAYU – Ada yang agak ganjil dalam program penghijauan yang dilakukan di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Kecenderungan semakin menekankan penghijauan di sekitar kota semakin kentara. Itu terlihat dengan pencanangan program penghijauan di kawasan Hutan Kota Indramayu, yang terletak di Jalan Pahlawan Indramayu, belum lama ini.
Ironisnya, belum ada gerakan yang signifikan soal pelaksanaan penghijauan di kawasan hutan pelindung pantai yang sekarang telah banyak berubah fungsi menjadi pertambakan, dan gerakan penghijauan di kawasan hutan industri yang sekarang telah berubah menjadi areal tumpangsari, misalnya di wilayah Kecamatan Kroya, Haurgeulis, dan Terisi. Meski ada pelaksanaan penghijuan, namun terkesan tidak maksimal.
Beberapa pemerhati lingkungan kerap mengingatkan, jangan sampai kawasan kota ingin dihijaukan, sementara pegunungan dan pantai diduga dibiarkan gundul.
“Kalau cuma kota yang dihijaukan, sama saja bohong. Pelaksanaan penghijauan itu semestinya harus berimbang dan merata di semua kawasan, baik kota, perkampungan, pegunungan, dan pantai harus serius dihijaukan semua tanpa kecuali,” ungkap Saprorudin, pemerhati lingkungan Indramayu.
Hingga kini, ToeNTAS News masih kesulitan untuk mendata perkiraan prosentase yang dihijaukan dengan areal yang digunakan masyarakat untuk “usaha”. Darto, Humas Perum Perhutani KPH Indramayu yang dihubungi, Jumat (12/6), konon, pihaknya belum bisa mengevaluasi prosentase yang dihujaukan dengan hutan industri berupa pohon kayu putih dan jati. Begitu pula dengan penghijuan hutan payau di kawasan pertambakan yang merupakan areal tanah kehutanan atau tanah milik negara. Padahal, pihak Perum Perhutani pun ikut memungut retribusi hutan dari warga yang mengelola tanah negara tersebut.
“Hingga akhir 2009 ini, kami masih akan mengevaluasi tentang pelaksanaan tumpangsari di kawasan dataran tinggi maupun pantai di Kabupaten Indramayu,” katanya.
Sedangkan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu, Drs. H. Yayan Mulyantoro, MM melalui Seksi Produksi Hutan dan Perkebunan, Sutanto Jaya, S.Hut mengatakan, pihaknya hingga kini belum mengevaluasi prosentase kawasan hijau di areal hutan payau di pantai Indramayu, maupun hutan produksi yang berada di pegunungan Indramayu bagian Barat.
“Kalau retribusinya memang pihak kami pun memungutnya. Tapi kalau ditanya kawasan prosentase hijaunya, kami pun masih harus mengevaluasi lagi,” ujar Sutanto, Sabtu (13/6), di kantornya.
Perbincangan ToeNTAS News hari Jumat (12/6) dan Sabtu (13/6), baik Darto maupun Sutanto lebih banyak membicarakan soal tarif pungutan retribusi hutan yang dipatok berdasarkan Perda No. 13 Tahun 2002, yakni kawasan hutan industri yang dijadikan tumpangsari dengan "label" pemberdayaan masyarakat desa hutan (PMDH) dipungut Rp 100 ribu per hektarnya. Sedangkan warga yang membuka tambak di kawasan hutan payau milik Perum Perhutani, dipungut Rp 70 ribu per hektarnya. (Satim/Joko K) ***
Sabtu, 13 Juni 2009
EKSPEDISI SUSUR SUNGAI CIMANUK INDRAMAYU 2009
Rabu, 10 Juni 2009
Berbahaya : Jika Kebudayaan "Diperalat "
Memperalat KebudayaanOleh : Radhar Panca Dahana
Pada misi purbanya, kebudayaan sebenarnya tidak lebih dari usaha manusia untuk survive, mempertahankan diri (spesies)-nya. Pada masa kemudian, katakanlah di masa yang disebut modern, kebudayaan menjadi upaya manusia memuliakan dirinya, dengan kesadaran ia adalah spesies terunggul, setidaknya di Bumi.
Di kurun akhir ini, keunggulan spesies itu mengalami ujian amat berat, saat berbagai fenomena alam—juga rekayasa kebudayaannya sendiri—menunjukkan indikasi teruji akan adanya semacam big bang baru yang berpotensi memusnahkan hingga 75 persen populasi dan hampir seluruh harta peradabannya. Tampaknya misi kebudayaan, dalam jangka dekat, tak tertolak akan kembali pada kondisi Purbanya.
Dalam pemahaman ini, semua gerak, aktivitas, hingga ambisi hidup manusia tak terhindarkan dari kewajiban untuk mempertimbangkan kerja-kerja kebudayaan. Kerja yang memberinya dasar eksistensial dan orientasi hasilnya. Namun, kesadaran atau obligasi peradaban ini, malangnya, belum mengisi alam kognisi kita, terutama para elite di segala dimensi; pihak yang sebenarnya menentukan kerja-kerja itu.
Di bagian politik, para penguasa atau pemimpin bangsa tampaknya kewalahan sekadar untuk menjelaskan pemahaman yang cukup komprehensif tentang hal itu. Terlebih saat mereka harus mengelaborasinya ke dalam sebuah strategi (kebudayaan) atau program-program konkret yang harus dilakukan. Dialog yang terjadi antara para budayawan dengan para calon presiden dan calon wakil presiden di Jakarta beberapa waktu lalu melukiskan kenyataan itu.
Kebudayaan lebih dipahami hanya sebagai sebuah kompleks pernyataan dan produk yang dapat teramati, bahkan terukur, baik dalam produk keras maupun lunak. Kebudayaan sebagai karya seni adalah bias pemahaman utama. Lebih jauh kebudayaan terkoleksi dalam bentuk bangunan, artefak, ilmu, syariat agama, atau teknologi. Dengan kata lain, kebudayaan mengalami materialisasi hingga ke tempatnya yang paling sempit: komodifikasi. Satu bentuk apresiasi kasar yang menempatkan kekuasaan lebih sebagai perangkat yang dapat dikooptasi atau diperalat untuk meneguhkan kekuasaan.
Kebudayaan dalam pemaknaan seperti ini sebenarnya tidak lebih dari cara mengerikan yang pernah dilakukan rezim Soeharto, yakni saat seluruh ekspresi dan produksi kultural kita dibakukan sekaligus dibekukan hanya untuk etalase kegenitan yang didistribusi secara murah meriah mengelilingi pentas-pentas selebratif ke penjuru dunia. Kita pun mafhum, kebudayaan dalam gerak dan apresiasi itu sebenarnya sudah teperdaya. Kebudayaan adalah hidup yang sudah menjadi mayat, menjadi zombi.
Kebudayaan proses
Hal yang lebih substansial namun dilenakan oleh para pelaku kekuasaan ada di wilayah di mana kebudayaan menjalani geraknya yang paling dinamis: proses. Wilayah di mana semua kerja budaya masih ada dalam tahap pencarian, pertukaran, penemuan, dan pembentukan. Tahap yang masih bersifat abstrak, dan kalaupun ada output-nya, ia masih berupa kode-kode atau simbol-simbol dasar.
Dalam tahap atau ruang ini, yang dapat dilakukan—oleh siapa pun—tidak lain adalah keterlibatan. Sikap apresiatif yang berjarak, bahkan menjadi penonton, lebih- lebih bermaksud memperalat atau memperdayanya, akan membuat kerja dan produk kebudayaan itu sendiri menjadi berjarak, bahkan teralienasi dari realitas diri sang apresiator/penonton/pemerdaya.
Maka, sebuah kerja kebudayaan yang sifat dasarnya adalah imanen dan semesta—bagi seluruh manusia yang dilingkupi maupun melingkupinya—sewajarnya menyertakan semua elemen kerja dari sebuah bangsa, termasuk dari para penyelenggara negara. Penafian afirmasi historis itu justru akan membuat negara terasing dari kerja sejarah ini; merendahkan bahkan melumpuhkan kemampuan atau potensi-potensi terbaiknya.
Wajar dan alami pula karenanya bila pemerintah atau penguasa (politik, ekonomi, dan sebagainya) turut berupaya agar proses kebudayaan dapat berlangsung dengan caranya yang terbaik. Cara yang sebenarnya sudah diwariskan oleh bangsa- bangsa di nusantara ini, yang sudah memiliki kurun—menurut banyak catatan—lebih dari dua milenia.
Dalam arti ini, adalah obligasi alamiah bagi pemerintah untuk melengkapi proses itu dengan infrastruktur
kebudayaan (kesenian tentu di dalamnya) yang mencukupi, ruang ekspresi yang kondusif, apresiasi (hingga ke tingkat penghargaan material) yang sepadan pada karya/produk maupun pelaku/produsennya, dan seterusnya. Dan akan menjadi hal progresif bila mereka terlibat langsung dalam proses itu, menggunakan atau mengekspresikan diri lewat simbol-simbol artistik yang dihasilkannya.
Penafian atau penegasian atas obligasi—yang sebenarnya konstitusional—ini tidak hanya memberi ancaman bagi pemerintah itu sendiri (bukan semacam ancaman konyol yang dianggap berasal dari seniman, misalnya), tetapi juga menjadi sumber kecemasan bagi cara hidup kita sebagai bangsa. Penempatan yang dominatif dari satu sektor pembangunan, katakan ekonomi, adalah jalan terbaik untuk terjadinya hal itu.
Senyum itu
Melalui adagium klasiknya yang menyatakan: ekonomi lebih dulu dicukupkan sebelum kebudayaan digenapkan, sektor ekonomi sebenarnya sejak lama menjebak negara-negara ketiga (berkembang) dalam krisis yang berulang. Sementara realitas hidup berbudaya kita yang cukup panjang mengajarkan sebuah fakta: kebahagiaan—juga sebagai akhir perjuangan ekonomi, di antaranya—tidaklah semata karena limpahan harta.
Bagaimana hidup dapat tersenyum dalam pundi-pundi yang disimpan kecemasan dari kekikiran bahkan kedustaan koruptif ? Tidakkah senyum itu dapat timbul saat kita leluasa beraktualisasi, menjalankan ritus mental-intelektual-spiritual, yang disediakan antara lain oleh agama, adat, dan seni ? Meski hanya sekadar nasi-ikan-sambal di piring makan siang, atau pondok, TV 14 inci, dan sepeda motor cicilan kita miliki ?
Apakah petani, buruh, guru, seniman, siapa pun dari mayoritas bangsa ini harus didera dan dihela oleh nafsu jadi kaya raya, jadi orang yang punya kuasa pada orang lain (lebih dari diri sendiri)? Saya kira, rakyat banyak itu tak membutuhkan siksa ideologi ekonomi semacam itu. Apa yang lebih mereka, kita, butuhkan adalah sebuah senyum di bibir kehidupan kita.
Di manakah senyum itu, di bibir kehidupanmu?
Radhar Panca Dahana,
Sastrawan; Tinggal di Tangerang
KOMPAS, Sabtu, 6 Juni 2009 | 03:10 WIB. Illustrasi : www.arkib.gov.my
Aksi Penambangan Pasir di Indramayu Bagian Barat
Eksavator Gerogoti Pegunungan Cikawung
*) Warga Desa Cikawung Terancam Bencana
INDRAMAYU – Tak disangka dan tak diduga, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat yang dulunya tercatat sebagai kawasan hutan jati terkaya di Asia, kini hutan jati sebagai pelindung kawasan dataran tinggi di Kota Mangga itu sudah sirna. Yang tersisa hanya beberapa pohon saja yang berusia sekitar tiga tahunan. Kerusakan kawasan hutan lindung itu diduga dirusak, dan dijarah oleh orang-orang yang tak bertanggung bertanggung jawab. Bahkan, beberapa oknum aparat pun diduga ikut terlibat dalam aksi penjarahan hutan lindung dan pohon yang dilindungi pemerintah tersebut.
Penderitaan bekas kawasan hutan jati tak hanya berhenti sampai disitu. Sekarang, sudah jatinya sirna malah akan bertambah parah lagi. Lantaran, masih ada gerakan yang cenderung bakal memporak-porandakan daerah tersebut oleh warganya yang dilakukan bersama-sama, yakni dengan melakukan pengerukan pasir (atau yang lebih ngetrend dijuluki Galian C) yang diduga tak terkedali, bahkan cenderung mengancam kawasan hutan lindung berikut pemukiman penduduk sekitarnya, hanya karena memburu pasir-pasir yang bisa dijadikan lahan kehidupan sebagian warga di sana.
Galian C atau Pengerukan Pasir yang dinilai paling bagus di Asia, ada di gunung kecil atau yang lazim dikenal pegunungan batas Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu yang berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Namun kini, kawasan itu menjadi rebutan bagi para bos-bos yang berkantung tebal untuk mengeruk kekayaan dari daerah itu. Besok atau lusa, boleh jadi Desa Cikawung hanya meninggalkan kenangan masa indah yang kelam ditelan kerakusan zaman yang diduga oleh warganya sendiri, sementara yang menikmati hasilnya dan berubah menjadi orang kara raya hanya segelinitir saja.
Luasnya Ratusan Hektar
Luasnya kawasan pegunungan Cikawung yang menjadi batas Kabupaten Indramayu- Kabupaten Sumedang, tampaknya lebih dari ratusan hektar. Gunung kecil itu, kini diketahui menjadi sumber pasir dan sudah berjalan sekitar dua tahun dijadikan ladang Galian C.
Wrga yang pertama menunggu penambangan pasir di kawasan itu, kini sudah menjadi bos di Desa Cikawung. Karena Engkar (50), Maman (42), dan Oyo (45) satu keluarga dan bersaudara yang asalnya mengupayakan mencari pemodal untuk membiayai pengerukan pasir di Cikawung itu.
Maman menceritakan kisah awalnya, bahwa Engkar membawa bos dari Bandung. Dari tahun 2008 lalu sudah memodali pengerukan pasir di Kampung Cijati Desa Cikawung. Sedangkan Maman membawa pemodal dari Cirebon, dan Oyo berhasil menggandeng bos dari Kabupaten Sumedang.
Setelah mereka bertiga sama-sama memperoleh bos, lalu mengupayakan perizinannya ke Kota Indramayu. Diantaranya, menemui Perum Perhutani sebagai penangung jawab wilayah hutan. Lalu ke Pemda Indramayu yang punya wilayah sepengetahuan Kuwu (Kepala Desa) Cikawung dan Camat Terisi.
Maman menceritakan, bahwa dirinya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan, Dinas
Perijinan dan Dipenda yang punya restribusi. “Artinya kami sebagai orang yang di depan mengupayakan usaha galian pasir ini, bukan sekedar mengambil hasilnya untuk kepentingan sendiri. Namun Anda juga tahu, setiap hari ratusan mobil truk meramaikan Desa Cikawung Blok Cijati, Siputat, dan Cibayak. Tiap mobil truk bayarnya Rp 330 ribu. Uangnya untuk biaya operasional, lebihnya sebagai keuntungan usaha pemodal dan bayar retribusi kepada Dipenda, Perum Perhutani, dan biaya keamanan, serta biaya lain-lain uga sejen-sejene,” ucap Maman.
Lain lagi seperti yang dituturkan Enggar. Dia memberi keterangan di Keker , bahwa dulunya sumber kehidupan masyarakat Cikawung Blok Cijati, Ciputat, dan Cibayak itu aslinya dari kayu jati sebagai sumber penghasilannya.
Meski galian pasir itu telah mengancam keselamatan hidupnya, namun hingga kini masih dijadikan andalan penghasilan bagi sebagian warga di sana, walaupun sebagai tukang korek pasir. Padahal, penghasilannya tak seberapa.
Warga di Cikawung pun, kini tampaknya tengah berhadapan dengan kenyataan hidupnya dalam dua sisi yang bersebarangan. Memilih jadi “kuli” korek pasir, di luar sebagai buruh tani, atau lebih memilih mereboisasi hutan jati yang dulu telah menghidupinya selama berabad-abad silam ?
Pasalnya, jika pengerukan pasir di alas kawasan Cikamurang Desa Cikawung digali terus menerus-menerus dengan alat berat jenis eksavator, cepat atau lambat terancam bencana alam, karena tanggul Sungai Cipanas terancam bobol dan menimbulkan banjir yang lebih parah. Selain bakal menenggelamkan wilayah Kecamatan Terisi, luapan air bah Sungai Cipanas itu pun mengancam keselamatan penduduk di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. (Mas Noors)***
Source : KeKer, Juni 2009. Illustrasi : dwiayuni.files.wordpress.com
Deklarasi "Komitmen Moral" Polisi
Banyak Polisi Tak Profesional
BANDUNG – Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Timur Pradopo mengatakan, hingga saat ini masih banyak polisi yang tidak profesional. Ketidakprofesionalan tersebut terlihat dari sikap dan perilaku polisi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.
Demikian disampaikan Timur Pradopo pada apel pembacaan “Komitmen Moral” dalam rangka reformasi birokrasi Polri di jajaran Polda Jabar, di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota bandung, Selasa (9/6).
“Perilaku-perilaku seperti itulah yang menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap polisi. Akibatnya, polisi semakin dijauhi dan dibenci masyarakat,” kata Timur Pradopo.
Kapolda berharap, komitmen tersebut bisa menjadi gerakan moral untuk mereformasi diri. “Reformasi ini sebagai wujud pengabdian di dalam membangun polisi yang profesional, bermoral, bermartabat, modern, serta dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Hasil Sarasehan
Komitmen yang dibacakan bersama itu, terdiri atas sembilan poin yang merupakan hasil rumusan Sarasehan Polri. Intinya adalah pisisi polisi sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat harus benar-benar terlihat dan terasa nyata di masyarakat.
“Sembilan poin komitmen moral ini merupakan kritalisasi nilai-nilai yang harus dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu, harus dipahami, dihayati, serta diamalkan secara konsisten dan berkelanjutan agar menumbuhkan dan meningkatkan integritas moral dalam pelaksanaan reformasi birokrasi polisi,” ujar Kapolda Jabar.
Timur menambahkan, tumbuhnya kesadaran agar mau berubah ke arah yang lebih baik akan menjadi modal utama dalam membangun citra polisi ke arah yang lebih positif. “Komitmen ini adalah kehendak seluruh jajaran Polri agar berperilaku lebih baik,” katanya.
Menurut Timur, polisi harus mau berubah ke arah yang lebih baik sebelum diubah oleh masyarakat. “Suka atau tidak suka, perubahan dilakukan secepatnya apabila tidak ingin tergilas perubahan. Hal yang harus diingat adalah polisi harus menjadi teladan. Untuk itu, harus ada mekanisme kontrol efektif agar proses enkulturasi polisi berjalan ideal,” katanya. (A-128) ***
Source : Pikiran Rakyat, Rabu (Wage) 10 Juni 2009. Illustrasi :www.polwilcirebon.lodaya.web.id
Cegah Monopoli, Tender Dipecah
BANDUNG – Untuk menghindari monopoli pemborong, Pemprov Jabar memecah proyek pengadaan buku gratis senilai Rp 270,3 miliar menjadi enam paket tender. Selian untuk menghindari praktik monopoli, pemecahan tender pengadaan buku itu juga untuk mempercepat proses realisasi distribusi buku gratis.
Data dari Kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (LPSE) Jabar menunjukkan, Paket I senilai Rp 46,8 miliar, Paket II Rp 46,9 miliar, Paket III Rp 46,8 miliar, Paket IV Rp 44 miliar, Paket V Rp 42,7 miliar, dan Paket VI Rp 43,1 miliar.
Pada pekan ini, LPSE baru akan menetapkan pemenang tender Paket I dan V. Semester tender paket lainnya akan diselesaikan dalam bulan ini (Juni 2009-Red).
Menurut Sekretaris Pelaksana Harian LPSE Jabar, Ika Mardiah, seluruh tender proyek itu akan dirampungkan bulan ini. Dia mengatakan, buku yang akan dicetak itu didistribusikan bagi 5,2 juta murid SD/MI, 2,1 juta siswa SMP dan sederajat, serta 2,1 juta siswa SMA dan sederajat.
“Tidak ada kendala, mudah-mudahan segera rampung,” ujar Ika dalam siaran pers LPSE, Selasa (9/6).
Ika menyebutkan, dengan dibagi menjadi enam paket, pengerjaan proyek pengadaan buku itu bisa segera direalisasikan.
Anggota Komisi E DPRD Jabar, Ikhwan Fauzi, menyatakan, tender proyek buku gratis tidak boleh dijadikan ajang bancakan pemborong. Dia menegaskan, dalam proyek itu pun harus dihindari upaya monopoli pemenang tender.
“Baguslah kalau dipecah jadi enam paket,” ujar Ikhwan kepada wartawan di kantornya.
Namun, ujar Ikhwan, sekalipun dibagi menjadi enam paket, harus tetap diperhatikan indentitas pemenang keenam tender tersebut. Menurut dia, keenam pemborong yang memenangi tender tersebut harus berasal dari pemilik yang berbeda.
“Harus diperhatikan, bisa saja nama perusahaannya berbeda, namun pemiliknya sama,” kata Ikhwan.
Penyebaran buku gratis, kata Ikhwan, akan sangat membantu mengurangi beban orangtua siswa. Dia mengungkapkan, jual beli buku kerap dijadikan obyek bisnis oknum pengajar.
“Sekolah boleh gratis, tetapi biaya pembelian buku masih mencekik warga,” kata Ikhwan.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menargetkan, pada Agustus 2009, seluruh buku sudah bisa didistribusikan. Menurut dia, buku pelajaran itu akan dinikmati oleh siswa tahun ajaran 2009-2010. Dengan demikian, orangtua siswa tidak boleh lagi dibebani biaya pembelian buku mulai Agustus 2009.
“Kami mengawasi dengan ketat pendistribusiannya,” ujar Heryawan seusai Sidang Paripurna DPRD Jabar, Selasa (9/6). (A-132)***
Source : Pikiran Rakyat, Rabu (Wage) 10 Juni 2009
Senin, 08 Juni 2009
Ujian Bagi Pengemban Mandat Sekda
Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (kiri) menyerahkan mandat Plt. Sekda kepada H. Supendi,
Sabtu (6/6) malam di Pendopo Pemkab Indramayu. (Foto : Satim)
Tantangan Bagi Sekda Baru
Resman : “Jangan Tinggalkan Warisan Pertengkaran”
INDRAMAYU – Dengan masuknya H. Supendi menduduki jabatan tertinggi di kalangan birokrat Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat sebagai Plt. Sekretaris Daerah (Sekda) di Kota Mangga itu sejak Sabtu (6/6) malam, tampaknya merupakan tantangan baru baginya. Sebab, selama ini ia tergolong pejabat yang paling lama mengendalikan “anak buah” di lingkungan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) setempat. Kini Dispenda sudah dilikuidasi menjadi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Indramayu.
Ia memang pernah menjabat Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, serta pernah pula menjadi Camat Kroya, Kabupaten Indramayu. Namun menduduki jabatan tertinggi dalam kepegawaian Pemkab Indramayu itu, bagi Supendi merupakan wahana dan amanah yang harus dilakoninya, sebelum ia ditetapkan sebagai Sekda yang definitif.
Sabtu (6/6) malam itu, boleh jadi merupakan harapan-harapan bagi kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan berbagai kalangan yang kerap berhubungan dengan Pemerintahan Kabupaten Indramayu kepada Supendi. Mengapa ? Contohnya, beberapa insan pers yang setiap hari meliput di lingkungan Pemkab Bumi Wiralodra itu umumnya mengeluh selama Hj. Sri Indrawati menjabat Sekda, kebetulan Sabtu (6/6) malam itu merupakan malam perpisahan karena Sri sudah waktunya purnabhakti (pensiun).
Ketua Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Kabupaten Indramayu, Duliman mengatakan, selama Sri menjabat Sekda, dirinya dan sejumlah wartawan lain menilai bahwa Sri kurang supel, dan terkesan tertutup kepada pers, bahkan tak sedikit pula yang menganggap ia agak sulit untuk ditemui. “Sehingga muncul kesan, Ibu Sri itu tertutup. Mudah-mudahan, Pak Supendi lebih terbuka, profesional, luwes dan tranparan. Jadi jangan sampai, urusan sepele saja harus ke bupati. Misalnya, ketika wartawan konfirmasi sesuatu hal, masa harus ke bupati saja,” katanya.
Harapan agar Supendi lebih luwes kepada wartawan, juga dilontarkan Tomi dari Harian Seputar Indonesia (Sindo), Oetoyo dari Harian Radar Cirebon, dan sejumlah insan pers lainnya. “Kami berharap, agar Pak Supendi lebih luwes dan mampu mengendalikan beragam permasalahan yang berkaitan dengan urusan birokrasi, dan sejumlah pihak yang berhubungan Pemkab Indramayu. Kalau kebijakan yang lebih tinggi memang haknya bupati, namun hal-hal keruwetan ketatabirokrasian, Sekda pun harus mampu meringankan tugas-tugas bupati,” ujarnya.
Harapan lainnya muncul dari Resman, wartawan senior di Kota Mangga Indramayu. Ia mengatakan, dengan kehadiran Supendi sebagai Plt. Sekda yang baru, agar Supendi mampu menjembatani hubungan pemerintahan harmonis kedua petinggi Kota Mangga itu. Karena selama ini keduanya diduga telah terjadi miss komunikasi antara Bupati Yance dengan Wakilnya Herry Sudjati. Sehingga muncul kesan, kedua pejabat itu kurang harmonis dalam mengendalikan Pemerintahan Kabupaten Indramayu.
Padahal, sejak kedua tokoh itu terpilih dan dilantik menjadi pasangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Bumi Wiralodra pada 2005 lalu, kedua pejabat penting itu telah berhasil membangun Indramayu dengan visi dan missinya “Sapta Mulih Harja” dan “Indramayu Remaja”. Namun akhir-akhir ini, mengapa muncul ketidak- harmonisan diantara mereka.
“Mudah-mudahan, Pak Supendi selaku Plt. Sekda, bisa mengemban amanah untuk mencairkan hubungan kedua pemimpin daerah kita itu yang lebih harmonis. Jangan sampai masa jabatannya yang bakal berakhir pada Desember 2010 mendatang, meninggalkan warisan pertengkaran yang berkepanjangan,” ungkapnya. Sedangkan H. Supendi seusai dirinya diberi kepercayaan oleh Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) sebagai Plt. Sekda menggantikan Sri Indrawati kepada ToeNTAS News mengatakan,"Terima kasih atas ucapan selamat dari rekan-rekan wartawan," katanya sambil berjalan menuju mobil pribadinya, Sabtu (6/6) malam itu. (Satim)***
ANEKA ACARA MALAM PERPISAHAN SEKRETARIS DAERAH (SEKDA) KABUPATEN INDRAMAYU, HJ. SRI INDRAWATI DI PENDOPO PEMKAB INDRAMAYU, SABTU (6 JUNI 2009) MALAM.Jam 22.19 WIB : Sambutan Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) menyampaikan rasa terima kasih atas pengabdian Hj. Sri Indrawati selama menjalankan tugas sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) di Pemerintah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Bupati Yance juga mengucapkan "Selamat Menjalani Masa Pensiun" kepada Sri Indrawati.
Jam 23.24 WIB : Prosesi acara bersalam-salaman, dan ucapan selamat menjalani purnabhakti (Pensiun) kepada Hj. Sri Indrawati dari unsur Muspida, para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Kepala Dinas, Kepala Kantor, Camat, dan para pimpinan BUMD di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Jam 23.35 WIB : Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) melepas ratusan rombongan "Wisata Ziarah" ke Tangerang, Banten dan Jakarta dari berbagai elemen masyarakat yang difasilitasi Pemkab Indramayu dengan menggunakan 12 bus pariwisata dari armada Putri Luragung, Luragung, dan Sahabat.
Jam 23.59 WIB : Acara selesai. (Berbagai sumber) ***
Sabtu, 06 Juni 2009
Kerenina Sunny Halim Terpilih Sebagai Miss Indonesia 2009
MISS WORLD 2008 Ksenia Sukhinova memberikan mahkota kepada Miss Indonesia 2009 yang terpilih, Kerenina Sunny Halim asal DKI Jakarta (tengah), didampingi Miss Indonesia 2008 Sandra Angelia (kanan) dalam Malam Puncak Miss Indonesia 2009 di JCC Pelanry Hall, Jakarta, Jumat (5/6). KOMPAS/Agus Susanto Pemenang Miss Indonesia 2009
Written by bocahiseng on Saturday, June 06, 2009
JAKARTA - Malam puncak Miss Indonesia 2009 yang di adakan JCC Plenary Hall (5/6/09) di siarkan rcti. akhirnya sudah menentukan pemenang miss indonesia 2009 walau sebenarnya acara ini mengambil jadwal waktu acara the master season 3 jadi acara the master rcti di undur dehh, tapi gak apalah yang ngambil juga acara boleh juga, lumayan melihat cewek-cewek cantik berjalan di pangung dan bikin air liur mengalir :) tes..tess..nihh kaya ngomongin makanan aja.

Sandra angelia miss indonesia 2008 melepas mahkotanya untuk Miss Indonesia 2009 Karenina Sunny Halim dan Ksenia Sukhinova Miss World 2008 mendampinginya , kalau di suruh milih pilih yang mana yahh ?
Acara Final Miss indonesia ini di pandu sama tantowi yahya dan Kartika indah pelapori yang kalau gak salah sih runner up miss indonesia 2008 dan di meriahkan banyak artis seperti afgan, peterpan, ungu , pasto dan lain-lain dan untuk juri miss indonesia 2009 sendiri adalah Liliana Tanoesodibjo (Ketua Dewan Juri), Martha Tilaar, Darwis Triadi, Harry Darsono, Kamidia Radisti, dan Rudi Hadisuwarno dan terakhir bocahiseng xixixixi gak ding. udeh gak usah lama-lama lagi dan akhirnya yang jadi Pemenang Miss indonesia 2009 adalah Karenina Sunny Halim asal DKI Jakarta Dengan didampingi Ksenia Sukhinova Miss World 2008, Sandra Angelia Miss Indonesia 2008 melepas mahkotanya untuk Miss Indonesia 2009 Karenina Sunny Halim.
Sedikit tentang Karenina Sunny Halim -> Home Schooling Christian Vocational Academy Memiliki seorang Ibu yang berasal dari Montana, Amerika dan aktif di NGO membuat gadis cantik yang akrab disapa Nina ini ikut memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Ia pernah ikut turun menjadi pengajar bagi anak-anak korban tsunami Aceh. Selain itu, Nina yang memiliki prinsip mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan pribadi ini memiliki 6 gelar diploma, antara lain di bidang
Public Relations, Sales and Marketing, Primary Teeching, Economics, Performing Arts dan Music and Arts. Nina yang lahir di Jakarta, 13 Juni 1986 saat ini aktif mengajar di sebuah SMP di Jakarta.
Untuk Runner up 1 miss indonesia 2009 adalah Melati Putri Kusuma Dewi dari Sulawesi Barat dan Runner up 2 Miss indonesia 2009 adalah Viviane - Bali dan Selain Miss indonesia 2009 ada juga Gelar Miss - Miss Lainya seperti :
- Miss Favorit 2009 yang dimenangkan oleh Thirzza - Kalimantan Barat
- Miss Persahabatan 2009 yang dimenangkan oleh Nadya-Papua
- Miss Kulit Tercantik 2009 yang dimenangkan oleh VIVIANE - bali
- Miss Rambut Terindah 2009 yang dimenangkan oleh AGA - Kep.Riau
- Miss Tubuh Sehat 2009 yang dimenangkan oleh Leida - Sumatra Selatan
- Miss Sporty 2009 yang dimenangkan oleh Lani - Sulawesi Utara.
Yahh Sandra Angelia miss indonesia 2008 pun menyerahkan mahkotanya kepada Karenina Sunny Halim sang Pemenang miss indonesia 2009 selamat buat pemenang yang gak menang jangan kecewa yahh cieeeh sok imutt :).***
KSENIA SUKHINOVA, Miss World 2008 yang datang ke Indonesia untuk menghadiri ajang pemilihan Miss Indonesia 2009, dan diberi penghormatan untuk menyerahkan mahkota kepada Miss Indo
nesia 2009, Kerenina Sunny Halim dari DKI Jakarta, Jumat (5/6) malam. Tampak dalam gambar, saat Ksenia Sukhinova meraih anugrah Miss World 2008, tahun lalu. (RCTI)
Penghargaan Kepada Pengabdi Lingkungan 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Jumat (5/6), menyerahkan penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan kepada Timotius Hindom (kiri) dari Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, disaksikan Ny Ani Yudhoyono dan mantan Duta Besar Khusus PBB untuk Millenium Development Goal (MDGs) Asia Pasifik Ny Erna Witoelar. Penghargaan Kalpataru diberikan untuk kategori perintis lingkungan, pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan, dan pembina lingkungan. Kompas/Alif Ichwan.Kalpataru bagi Masyarakat Adat
Hutan lindung seluas 38.000 hektar selain menyimpan kekayaan alam penopang kultur suku Dayak Wehea sekaligus rumah bagi flora dan fauna, termasuk ratusan orangutan Kalimantan. Sementara itu, Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung berhasil menjaga kelestarian hutan adat Rimbo Tujuh Danau seluas 1.000 ha dengan kekayaan alamnya.
”Negeri ini patut berterima kasih kepada pejuang lingkungan,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pada penyerahan anugerah penghargaan lingkungan di Jakarta, Jumat (5/6).
Kalpataru diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara kepada 12 orang atau kelompok masyarakat, sedangkan Adipura dan Adiwiyata serta Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah diserahkan Menneg LH di tempat lain.
Di Istana Negara, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup, Presiden mengatakan, upaya bersama menyelamatkan dan merehabilitasi lingkungan hidup selama ini belum cukup. ”Harus kita tingkatkan dan harus berbuat lebih banyak lagi,” ujarnya.
Untuk langkah bersama ke depan, Presiden menyebut empat langkah. Pertama merawat dan melestarikan lingkungan hidup yang masih ada. Kedua, yang sudah telanjur rusak diperbaiki dengan mengubah gaya hidup, mengeluarkan anggaran, kerja sama internasional, dan melibatkan teknologi. Ketiga, mengurangi emisi karbon dioksida. Keempat, kampanye penanaman dan pemeliharaan pohon.
Selain bagi masyarakat adat, Kalpataru diberikan bagi 10 individu dari Sumatera hingga Papua, serta Sulawesi Utara hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka terpilih melalui seleksi dari tingkat kelurahan hingga nasional.
Di Papua, peladang di pedalaman Fakfak, Papua Barat, tekun mengembangkan lahan dari 5 ha menjadi 55 ha selama 20 tahun. Puluhan ribu tanaman kayu dan buah bernilai ekonomi tinggi ditanamnya hingga mampu menyekolahkan kedua anaknya di jenjang perguruan tinggi.
Penganugerahan lingkungan diwarnai pembacaan Deklarasi Kalpataru yang dibacakan peraih Kalpataru tahun 1998, Eko Budiharjo, didampingi 40 tokoh peraih Kalpataru. Mereka risau dan prihatin terhadap kecenderungan bunuh diri ekologis.
Pada Jumat siang diserahkan pula Adipura bagi kota terbersih dan memiliki ruang terbuka hijau serta Adiwiyata bagi sekolah ramah lingkungan.
Tahun ini Adipura diberikan kepada 126 kota dari 375 kota yang dipantau tiga kali setahun. ”Jumlah kota penerima meningkat 8 persen, tetapi ada sembilan kota yang gagal menerima lagi,” kata Deputi II Kementerian Negara Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Gempur Adnan.
Tahun 2010, aspek penilaian Adipura akan ditambah dengan mempertimbangkan faktor kebersihan udara kota.
Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra, mewakili penerima Adipura, mengakui bahwa penghargaan itu bergengsi bagi daerah. Karena itu, kepala daerah berlomba-lomba meraih lalu mengaraknya ramai-ramai di kotanya.
Timotius Hindom (49)
Victor Emanuel Raiyon (51)
Tsunami tahun 1992 di pantai utara Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, justru membuatnya bertekad memperbaiki kawasan pesisir. Ribuan bakau ditanam di lahan seluas 55 ha. Bersama keluarga ia setia menanam hingga dijuluki orang gila. Kini, udang, kepiting, biawak, kera, dan burung hidup di hutan bakau itu.
Anyie Apuy (Kepala Adat Besar Hulu Bahau)
Menjaga hutan lindung Tana Ulen seluas 11.000 ha di Desa Long Alango, Malinau, Kalimantan Timur. Sejak tahun 1901, hutan lindung terjaga hingga menyediakan air warga. Kini, hutan menjadi tempat belajar dan model pengelolaan berkelanjutan.
Alexander Ketaren (59)
Warga Jalan Kamboja, Tanjung Rejo, kota Medan, Sumatera Utara. Ia membangun hutan kota dengan menanam bibit di lahan miliknya seluas 580 ha di pinggiran Kota Medan.
Kasmir Gindo Sutan (55)
Warga Padang Laweh, Tanah datar, Sumatera Barat, dikenal sebagai tokoh di balik hutan ulayat Patah Gigi seluas 1.000 ha. Hutan itu penting bagi kelangsungan Danau Singkarak dan Pembangkit Listrik Tenaga Air Singkarak.
Pengabdi Lingkungan :
Kadis SP
Petugas lapangan Kecamatan Gangga, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Selama 30 tahun ia memotivasi 46 kelompok tani menghijaukan lahan kritis milik anggota sebanyak 1.150 keluarga seluas sekitar 1.500 ha. Pendapatan warga pun meningkat.
Djoni (53)
PNS warga Flamboyan Baru, Kota Padang, Sumatera Barat. Puluhan tahun ia dedikasikan hidup bagi pertanian, khususnya organik. Ia memotivasi warga, turun ke lapangan, menyediakan pusat informasi, hingga mendirikan Institut Pertanian Organik.
Makaampo Ratundulange Madonsa (50)
Guru SMP Talaud, Tahuna, Sulawesi Utara. Ia tak hanya mengajar anak didik agar mencintai lingkungan, tetapi turun langsung menanam ribuan bakau menyelamatkan mata air. Ia juga menyebarkan bibit-bibit bakau di kawasan kepulauan di utara Provinsi Sulawesi Utara itu.
Pembina Lingkungan :
Irwansyah Idrus
Ketua RW di Petojo Utara, Jakarta Pusat. Ia gigih mengubah perilaku warga menjadi lebih bersih dan sehat melalui perbaikan sanitasi dan membangun sarana MCK, serta gerakan 3R sampah. Dapur umum dibangun memanfaatkan gas dan septic tank komunal yang mengurangi pencemaran air dan pemanasan global.
Imdaad Hamid
Wali Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kebijakannya melindungi kawasan hutan Sungai Wain seluas 9.782 ha turut menjaga ketersediaan air warga. Daerah Aliran Sungai Manggar 4.944 ha pun dilestarikan serta rehabilitasi 600 ha lahan kritis dengan membangun hutan kota seluas 7.612 ha.
Penyelamat Lingkungan :
Lembaga Adat Dayak Wehea, Kecamatan Muara Wahau. Kutai Timur, Kalimatan Timur. Hutan lindung seluas 38.000 ha yang menjadi habitat flora dan fauna terjaga oleh adat.
Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung, Siak Hulu, Kampar, Riau. Hukum adat melestarikan hutan Rimbo Tujuh Danau seluas 1.000 ha, habitat aneka flora dan fauna khas. (GSA) ***
Source : Kompas, Sabtu, 6 Juni 2009
Jumat, 05 Juni 2009
Langgam Dermayonan Mengiringi Pesta Adipura di Kabupaten Indramayu 2009
Bupati Bersalaman dengan Pasukan Kuning
INDRAMAYU - Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin, Jumat (5/6) sore, menyalami “pasukan kuning”(julukan) bagi petugas kebersihan di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, konon, karena dianggap berjasa dalam membersihkan kawasan Kota Mangga Indramayu. Atas jasanya itu, sehinga Kabupaten Indramayu meraih Adipura untuk keempat kalinya sebagai Kota Kecil Terbersih di Indonesia. Piala Adipura diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jumat (5/6) pagi. (Satim) ***
Kedatangan Adipura Disambut Alunan Nayagas
INDRAMAYU - Acara penyambutan Piala Adipura yang dibawa Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) dari Istana Negara Jakarta disambut dengan alunan musik seni Dermayonan di Pendopo Pemkab Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Jumat (5/6) sore. Musik langgam daerah setempat itu dimainkan Crew Nayagas Conversation pimpinan Kang Asep, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu. Seperti nampak dalam gambar, para nayaga tengah memainkan irama khas Dermayonan. (Satim) ***
BARU DATANG - Bupati Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin bersama istrinya, Hj. Anna Sophana baru datang menginjakan kaiknya di karpet kuning Pendopo Bupati Indramayu, Jumat (5/6) sore sekitar pukul 17.17 WIB sambil membawa Piala Adipura dan Adi Wiyata pemberian Pemerintah Pusat, sebagai Kota Kecil Terbersih di Indonesia, dan daerah yang memiliki sekolah berwawasan lingkungan, yakni SMK Negeri 1 Sindang. Acara penyambutan penghargaan Pemerintah Pusat itu tergolong meriah, karena melibatkan beberapa Ormas Pemuda dan pelajar. (Satim) ***
Peragaan Prestasi Kabupaten Indramayu di Bidang Lingkungan
INDRAMAYU - Empat penghargaan Daerah Terbersih kategori Kota Kecil Terbersih di Indonesia yang diraih Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat ditampilkan di Pendopo Bupati Indramayu, Jumat (5/6) sore sekitar pukul 17.33 WIB. Empat penghargaan di bidang lingkungan perkotaan itu diserahkan kepada rakyat Indramayu, yang diwakili Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H. Hasyim Djunaedi. Esoknya, Sabtu (6/6) pagi, akan diarak keliling wilayah Kabupaten Indramayu. (Satim) ***
INDRAMAYU – Bibit aneka ragam jenis tanaman tengah disiapkan pihak Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Tampak dalam gambar, sejumlah bibit untuk program Gerakan Rakyat Indramayu Menanam (GRIM) yang dicanangkan pemerintah setempat sudah disiapkan. Konon, GRIM itu sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk mengantisipasi Pemanasan Global. Ir. Solechudin, petugas dari dinas tersebut mengatakan, bahwa kawasan Hutan Kota di Kabupaten Indramayu harus mencapai 30 persen dari total luas wilayah Kabupaten Indramayu. Termasuk kawasan pesisir pun harus lebih dihijaukan. (Satim) ***



