Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

Bangun Solidaritas untuk Hadapi Kesulitan Bangsa

IDUL ADHA 1431 HIJRIAH

Bangun Solidaritas untuk Hadapi Kesulitan Bangsa

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kanan), didampingi (dari kiri ke kanan) Menko Polhukam Djoko Suyanto, Ketua MA Harifin Tumpa, Ketua DPD Irman Gusman, dan Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub tengah menunaikan shalat Idul Adha 1431 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (17/11). (KOMPAS/ALIF ICHWAN)***

JAKARTA - Solidaritas sangat penting dalam menghadapi berbagai kesulitan yang dialami bangsa saat ini, termasuk untuk mengatasi kondisi ekonomi. Para pemimpin bangsa pun diminta bekerja sama dan bersatu demi mencapai kemajuan bangsa.

”Mulai hari ini kita hentikan saling menghujat dan saling menuding,” ujar Guru Besar Universitas Hasanuddin, Makassar, Halide, saat menyampaikan khotbah bertema ”Dengan Semangat Ibadah Haji dan Qurban, Kita Bina Persatuan Bangsa” dalam pelaksanaan shalat Idul Adha 1431 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (17/11).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ny Ani Yudhoyono menunaikan shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal. Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II dan pemimpin lembaga negara serta duta besar negara sahabat juga melakukan shalat Idul Adha di masjid tersebut.

Kali ini Presiden Yudhoyono tidak didampingi Wakil Presiden Boediono dan Ny Herawati Boediono. Itu karena Wapres Boediono melaksanakan shalat Idul Adha di Jepang.

Wartawan Kompas, Suhartono, yang menyertai rombongan Wapres Boediono, melaporkan, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, yang bertindak sebagai khatib di Sekolah Indonesia di Tokyo, Jepang, Rabu, menyatakan, bangsa Indonesia sekarang ini ditantang menjadi manusia sejati. Sejati dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan menjalani berbagai profesi dan jabatan.

”Dalam suasana bangsa yang tengah diuji dengan berbagai keprihatinan sekarang ini, kita ditantang menjadi manusia yang sejati. Seberapa jauh kita bisa meniru perilaku dan kearifan Habil (anak Nabi Adam) di tengah-tengah penderitaan saudara sebangsa yang sedang dilanda bencana, yaitu dengan memberikan bantuan yang, meskipun sedikit, memiliki nilai yang besar,” ujar Hatta, Rabu pagi waktu setempat.

Menurut Hatta, Habil merepresentasikan figur yang baik, sedangkan Qabil mewakili figur yang jahat. Namun, setiap anak cucu Adam diberi pilihan untuk mengikuti kedua figur tersebut.

”Drama kehidupan Habil dan Qabil akan terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Bahkan, drama kehidupan itu semakin mudah ditemukan di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari kita dan di seluruh profesi kita. Kita mau memilih yang mana,” tutur Hatta.

Personifikasi keprihatinan dan kerelaan berkurban, lanjut Hatta, berada dalam pribadi Nabi Ibrahim. ”Munculnya berbagai ujian bencana, seperti banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat; gunung meletus Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah; serta gempa bumi disertai tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Allah SWT menantang kita dengan berbagai ujian seperti itu. Semoga ujian itu menjadi hikmah besar,” kata Hatta.

Hatta kemudian mengajak bangsa Indonesia meningkatkan kesalehan sosial di tengah-tengah keprihatinan bangsa. ”Bencana yang bertubi-tubi sekarang ini diharapkan bisa meningkatkan kesalehan sosial kita untuk lebih rendah hati dan tidak membicarakan keburukan dan menceritakan kelebihan diri kita sendiri dalam waktu 24 jam,” katanya.

Hewan kurban

Seusai menunaikan shalat Idul Adha, Presiden Yudhoyono dan Ny Ani Yudhoyono menyerahkan seekor sapi kurban keluarga Presiden kepada panitia di Masjid Istiqlal. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Presiden dan keluarga menyumbangkan dua sapi kurban. Selain disumbangkan ke Masjid Istiqlal, satu ekor sapi yang lain diserahkan ke Masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Kepresidenan.

Kemarin, jutaan pemeluk Islam di sejumlah daerah menggelar shalat Idul Adha. Sebagian warga, terutama warga Muhammadiyah, menunaikan shalat Idul Adha sehari sebelumnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, yang menunaikan shalat Idul Adha di Surabaya, Jawa Timur, mengajak umat untuk merenungi ujian yang diberikan Tuhan untuk bangsa Indonesia.

”Kita harus sikapi bencana ini dengan penuh kesabaran sebab orang sabar adalah mereka yang ketika ditimpa musibah tetap mengingat Allah,” tuturnya.(DAY/ANTARA)***

Source : Kompas, Kamis, 18 November 2010 | 04:07 WIB

Fokuskan Kurban ke Daerah Bencana

IDUL ADHA

Fokuskan Kurban ke Daerah Bencana

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersiap menyembelih sapi kurban di halaman belakang Gedung Pakuan, Bandung, Rabu (17/11). Selain berkurban di Pakuan, Gubernur juga menyerahkan hewan kurban di beberapa masjid di Bandung, antara lain Masjid Istiqamah dan Masjid Raya Kota Bandung. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)***

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengimbau warga yang melakukan ibadah kurban agar menyerahkan bantuannya ke daerah bencana, seperti Wasior (Papua), Mentawai (Sumatera Barat), dan kawasan Gunung Merapi (Jawa Tengah dan Yogyakarta).

Hal itu dikatakan seusai melaksanakan shalat Idul Adha di Lapangan Gasibu, Bandung, Rabu (17/11). Menurut Heryawan, Idul Adha adalah momen bagi warga Jabar untuk menggandakan amal baiknya dengan memberikan bantuan kepada orang-orang yang menjadi korban bencana dan fakir miskin.

”Di hari-hari normal, kita sudah berkurban dan menyantuni fakir miskin. Namun, dalam situasi banyaknya bencana yang menimpa berbagai daerah di Indonesia seperti saat ini, Idul Adha juga menjadi momentum meningkatkan sedekah hingga dua kali lipat,” u j a r ny a .

Idul Adha pun bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban. Heryawan menegaskan, sebagai bagian dari ibadah, Idul Adha memiliki makna sosial, antara lain kesediaan berkorban bagi orang lain yang memerlukan bantuan.

Saat ditanya mengenai perbedaan pelaksanaan shalat Idul Adha di antara umat, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Umat Islam itu menyebutkan bahwa hal itu biasa terjadi. ”Tidak ada persoalan dengan perbedaan hari itu. Ada yang shalat Selasa atau Rabu, tetapi nanti kita bersatu lagi saat shalat Jumat. Itu wajar-wajar saja,” u n g k a p ny a .

Shalat yang diikuti Gubernur itu diisi khotbah oleh Ketua Badan Amil Zakat Jabar Mochamad Surjani Ichsan. Dalam khotbahnya, Surjani menekankan agar umat mengingat arti berkurban, yakni memberikan sesuatu untuk menunjukkan kecintaan kepada orang lain meskipun harus menderita. (REK)***

Source : Kompas, Kamis, 18 November 2010 | 04:48 WIB

Perayaan Hari Raya Kurban Berlangsung Lancar

IDUL ADHA

Perayaan Hari Raya Kurban Berlangsung Lancar

Warga berdesakan untuk mendapatkan daging kurban di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan di Pejompongan, Jakarta Pusat, Rabu (17/11). (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)***

JAKARTA - Perayaan Idul Adha di Jakarta sepanjang Selasa hingga Rabu (17/11) berlangsung aman dan lancar. Shalat Id di Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, Rabu lalu, dan ribuan umat yang melaksanakan ibadah shalat yang sama di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis pagi, berjalan khidmat. Perbedaan penentuan jatuhnya tanggal 10 Zulhijah di Jakarta terbukti tidak memengaruhi kekhusyukan beribadah warga.

Namun, beberapa insiden mewarnai perayaan hari raya kurban tahun ini. Desak-desakan warga saat mengambil jatah daging hewan kurban masih terjadi, antara lain, di Masjid At-Taqwa, Jalan Sakti, Kompleks Pajak, Kemanggisan, Jakarta Barat. Dalam pembagian daging kurban Rabu kemarin, ratusan warga berdesakan dan terjadi dorong-mendorong. Beberapa orang bahkan terjatuh, tetapi tidak ada yang terluka.

Di Masjid Taman Ibadah, Jalan Tomang Asli, Jati Pulo, Palmerah, petugas Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat menemukan cacing pita di hati seekor hewan kurban. Hati itu langsung disingkirkan dan dimusnahkan.

Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat Kusdiana mengatakan, cacing pita di hati sapi itu tidak berdampak secara signifikan bagi kesehatan, tetapi tidak layak untuk dikonsumsi.

Di Jakarta Selatan, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan juga memeriksa proses pemotongan hewan kurban. Sebanyak 10 tim dikerahkan untuk memeriksa lokasi-lokasi pemotongan di 10 kecamatan. Mereka mengawasi petugas pemotong atau tukang jagal. Beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pemotongan hewan kurban adalah kebersihan, larangan merokok, tidak menggunakan sandal dan sepatu, serta mencuci tangan sebelum dan setelah memegang daging kurban.

Suasana pemotongan dan pembagian daging kurban diwarnai beberapa peristiwa. Di Depok, M Yusuf S (47), warga Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, meninggal ketika memotong sapi kurban. Yusuf yang sehari-hari bekerja sebagai petugas keamanan di Perumahan Taman Duta terkulai lemas setelah membantu pemotongan empat dari lima sapi.

Belum diketahui penyebab tewasnya Yusuf. Warga memperkirakan dia kecapaian atau terkena serangan jantung.

Suasana pemotongan kurban di Markas Polda Metro Jaya diwarnai dengan adanya penjualan pembagian daging kurban oleh lelaki yang mengaku bernama David, warga Karet, Jakarta Selatan. Begitu menerima kantong berisi daging, ia langsung menawarkan daging itu kepada orang yang berpapasan dengannya. ”Mau beli daging, Bang? Rp 100.000 aja,” katanya kepada seorang wartawan. Tiga plastik itu beratnya sekitar 3 kilogram, tetapi isinya campur, ada daging, jeroan, dan sebagian tulang.

Alasannya menjual daging itu karena di rumah tidak ada yang memasak. ”Tidak ada istri di rumah,” ujarnya.

Panitia hari raya kurban yang dipimpin Ajun Komisaris Besar Sukarna menerima sumbangan 31 sapi dan 34 kambing dari para pejabat Polda Metro Jaya. Sumbangan ini dibagikan kepada penghuni 11 asrama polisi, satuan kerja di bawah Polda Metro Jaya, yayasan sosial, masjid, serta masyarakat seperti penjual makanan.

Sepuluh loket

Menghindari antrean panjang warga dan berdesakan, pengelola Masjid Istiqlal yang akan menyalurkan 5.000 paket daging kurban, Kamis ini, menyediakan 10 loket pengambilan.

Ketua Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Mubarok mengatakan, 10 loket itu terbagi dua bagian. Lima loket untuk pengantre laki-laki dan lima loket khusus untuk perempuan.

Menurut Mubarok, pembagian daging kurban akan digelar antara gerbang Al-Fatah hingga gerbang Al-Ghofar yang berjarak sekitar 200 meter.

Dengan cara itu, diharapkan warga tidak perlu berdesak-desakan. Upaya ini juga dilakukan untuk mengantisipasi agar insiden yang memakan korban jiwa seperti terjadi tahun lalu tak terulang.

Agar warga mendapat jatah sesuai haknya, panitia pemotongan hewan kurban di Istiqlal juga akan menandai jari orang yang mendapat paket daging dengan tinta. (NEL/NDY/FRO/TRI)***

Source : Kompas, Kamis, 18 November 2010 | 03:48 WIB