Minggu, 08 Agustus 2010

OBITUARI : Penantian Terakhir Mimi Rasinah

OBITUARI

Penantian Terakhir Mimi Rasinah

Tiga jam sebelum pentas untuk terakhir kalinya di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8), tak banyak keluhan yang disampaikan Mimi Rasinah (80). Dia hanya berujar perutnya sedikit mulas. Selebihnya, rasa lapar dan suhu badan yang hangat tidak digubrisnya. Semua demi dedikasi pada tari topeng Indramayu.

Berkali-kali menantu, cucu, kerabat, dan tamu yang datang menengok, memintanya untuk makan. Namun, semua usulan itu ditolak Rasinah. Alasannya, dia tak bisa makan jika belum selesai menari. ”Nanti saja. Habis nari,” ujar Mimi Rasinah dengan suara yang pelan, sekitar dua jam sebelum pentas.

Menurut Rani, istri salah satu cucunya, Mimi Rasinah selalu menolak jika diminta makan dulu sebelum tampil. Padahal, dia terakhir makan pukul 14.00 dan pentasnya baru dimulai pukul 21.00. Rani mengaku khawatir, tetapi neneknya tetap menolak dan hanya mau minum air putih.

Menahan rasa lapar bukan hal baru bagi Rasinah karena dia sudah terbiasa melakukannya sejak muda. Dia pernah bercerita, untuk menari topeng pada saat hajatan, durasinya bisa mencapai enam sampai delapan jam. Selama itu pula penari tidak boleh berhenti atau istirahat makan.

Rasa lapar dan lelah, kata Rani, sepertinya terhapus karena kali ini Mimi Rasinah bisa pergi bersama keluarga untuk pentas di luar kota. ”Selama di mobil Mimi tidak kelihatan capek. Dia malah terlihat senang dan bercanda terus dengan kami. Soalnya, kami perginya ramai-ramai,” tambah Rani.

Perjalanan panjang

Rasinah bersama rombongannya menempuh perjalanan selama 9 jam dari Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, dan tiba di BBJ pukul 17.00. Biasanya, perjalanan Indramayu-Jakarta hanya butuh empat jam, tetapi kali ini dua kali lipat karena ada kemacetan di Indramayu, Subang, dan Jakarta.

Seperti itulah Mimi Rasinah, ujar Wangi Indriya, penari topeng Indramayu dari Sanggar Mulya Bakti. Rasinah punya dedikasi dan tanggung jawab tinggi pada profesinya. Selain sosoknya sederhana, maestro tari itu dikenal gigih, berpendirian, dan tak pernah mengeluh.

Hal itu diperlihatkan Rasinah sebelum pentas terakhirnya. Meski harus menunggu lama, dia tetap menanti kehadiran salah seorang cucunya yang akan menggendong dan mengantarnya ke toilet. Dia tak memaksa orang lain untuk melakukan tugas itu. Maklum, karena penyakit strokenya, mobilitas Rasinah serba terbatas.

”Yang saya kagumi, dia tidak pernah mengeluh meski sebenarnya dia capek. Biarpun sakit, saat mau pentas, dia tetap akan pentas. Orang lain tidak perlu tahu kalau dia sakit. Dia bukan seniman yang cengeng,” tambah Wangi, yang mengaku terkejut ketika mendengar kabar berpulangnya Rasinah, Sabtu (7/8).

Rasinah juga tidak mengeluh kepada keluarganya. ”Dua hari Mimi di rumah, istirahat, tidak menunjukkan sakit atau mengeluh. Tiba-tiba tadi siang (Sabtu) kondisinya lemah, tak bisa bergerak, hingga akhirnya kami bawa ke rumah sakit,” kata Aerli, cucu Rasinah.

Menurut Aerli, tekanan darah Rasinah turun drastis sehingga mengembuskan napas terakhir di Unit Gawat Darurat RSUD Indramayu.

Kepergian maestro tari topeng ini memang membuat dunia seni berduka. Endo Suanda, seniman tari yang datang melayat, mengakui sangat kehilangan sosok Rasinah. Di matanya, Rasinah adalah salah satu sosok yang menghidupkan dunia tari topeng Indramayu.

Diakui Endo, kelebihan Rasinah sangat langka. Ia tidak menari dengan fisik dan pikiran, tetapi jiwa dan hati. Rasinah adalah nenek yang terlihat lemah dan rapuh, tetapi saat menari ia menjadi sosok penuh karisma, kuat, dan berangasan. ”Ketika Rasinah menari, saya seperti kena setrum,” katanya.

Bergurau

Berbicara dengan Mimi Rasinah harus dengan suara sedikit lebih kencang dan jelas karena pendengarannya sudah tak bagus lagi. Tetapi, hal itu tak membuatnya malas berkomunikasi dengan orang lain. Dia masih tetap senang bergurau, termasuk saat ditanya apa jampi-jampi rahasianya bisa menari dengan apik.

”Mau bayar berapa?” ujar Mimi Rasinah sambil kemudian tertawa nakal.

Di sanggar dan di rumahnya, Rasinah juga sosok nenek yang gemar bergurau. Anak dan cucunya suka sekali menggodanya. Siapa saja yang mengobrol dengan Rasinah pasti merasa senang karena senyum ramahnya selalu menghiasi bibirnya yang sudah kusut oleh umur. Tak banyak yang tahu bahwa di balik senyumnya, dia menyimpan rasa sakit yang mendalam karena stroke yang menyerangnya lima tahun lalu.

Sebelum manggung di BBJ, Rasinah sempat berujar senang diberikan kesempatan pentas lagi. Dia bermimpi, tari topeng Indramayu tetap memikat penonton dan tak pernah lekang oleh waktu. Itulah impian Mimi Rasinah pada menit-menit penantian terakhirnya di belakang panggung…. (THT/NIT)***

Source : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 03:10 WIB

TOTALITAS RASINAH Maestro Tari Topeng dari Indramayu

TOTALITAS RASINAH

Mimi Rasinah Menari bersama cucu dan penerusnya, Aerli Rasinah. (KOMPAS/LASTI KURNIA)***

Riasan tipis sudah menempel di wajah Mimi Rasinah (80), maestro tari topeng dari Indramayu, Jawa Barat. Rambut yang memutih pun telah tersisir rapi dan digelung sederhana. Tak lama, sebuah sobra (penutup kepala) dengan hiasan meriah dipasangkan oleh salah satu cucunya di atas kepalanya.

Mimi Rasinah pun siap menari di atas panggung Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dalam acara ”Indramayu dari Dekat”, Rabu (4/8).

Sembari menunggu waktunya manggung, Rasinah dengan telaten menerima semua tamu yang datang menjenguknya. Ada yang ingin bertanya tentang perjalanan hidupnya, ada yang ingin melepas rindu, dan tak sedikit yang berebut berfoto dengan sang maestro. Tak ayal, ruangan sederhana di sisi barat BBJ, yang khusus disiapkan untuk tempat istirahat Rasinah, malah ramai dengan tamu yang mampir.

Melihat banyaknya penggemar Rasinah yang datang, Warsi, anak Mimi Rasinah, pun menggodanya. ”Mimi seperti artis. Banyak yang mau foto sama Mimi.” Rasinah hanya tersenyum-senyum menanggapinya.

Bunyi gong terakhir tarian topeng tumenggung yang dibawakan salah satu murid Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah menandakan waktu manggung Rasinah telah tiba. Dengan dibopong dan dinaikkan ke kursi roda, Rasinah menuju panggung untuk menarikan tari topeng Panji Rogoh Sukma bersama Aerli Rasinah (24), cucunya, dan 12 anak didiknya di sanggar.

Meski duduk, dan hanya menari dengan separuh tubuhnya, Rasinah mampu menyihir penonton. Begitulah Rasinah dengan kesederhanaan dan totalitasnya, dia rela menyerahkan seluruh hidupnya pada panggung dan tari topeng Indramayu. (Timbuktu Harthana)***

Source : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 03:30 WIB

OBITUARI : Ni Ketut Cenik, Menari Sepanjang Hayat

OBITUARI

Ni Ketut Cenik, Menari Sepanjang Hayat

Oleh Gde Aryantha Soethama

Betapa seorang penari tidak mesti gemulai, semampai, dan cantik, dibuktikan oleh Ni Ketut Cenik, legenda seni pertunjukan Bali yang meninggal dalam usia 88 tahun, Sabtu (24/7). Jasadnya dikubur di setra Alas Arum, satu kilometer selatan tanah kelahiran dan tempatnya menghabiskan seluruh usia, Desa Batuan, Gianyar, Bali. Berita kepulangannya ke tanah asal luput dari perhatian. Berbeda ketika ia tampil penuh daya vitalitas di berbagai panggung dan pentas di seantero dunia yang selalu dielu-elukan.

Sejak bocah, Cenik senang menari, di mana pun ia punya kesempatan menari. Di pojok bale banjar atau halaman depan pura, tiba-tiba ia berdiri dan mengembangkan tangannya. Mulutnya mengumandangkan tiruan bunyi gamelan. Orang-orang sekeliling yang menonton terkagum-kagum. ”Beh, anak ini punya bakat hebat,” ujar mereka memuji.

Ketika remaja, hasratnya jadi penari kian menggebu, tetapi berkali-kali tak kesampaian karena ia memang tidak cukup semampai dan gemulai. Tak satu pun sekaa (kelompok) dan guru tari yang sudi mengajarnya. Teman-teman sebayanya sudah sibuk tampil ketika piodalan (upacara) di pura, Cenik tetap terasing, tak diajak serta. ”Jika terkenang saat itu, saya kadang menangis,” ujarnya. Namun, akhirnya ia menyebut juga dua nama yang menjadi gurunya, Wayan Kurir, yang mengajarinya tari joged pingitan, dan Anak Agung Mandra Ukiran, yang mengarahkannya menjadi penari arja (drama tari Bali). Ia mengaku belajar menari dari menonton, yang terus dilakoninya sampai usia tua. Jika ada pertunjukan di desanya, ia akan duduk bersama penonton lain, berdesak-desak, dengan mulut menyusur tembakau, tak peduli kalau ia sudah disebut sebagai seorang maestro tari Bali. Menontonlah justru gurunya yang terpenting.

Joged pingitan

Cenik baru berusia sembilan tahun ketika Kurir mendidiknya jadi joged pingitan. Ketika ia sedang menggembalakan sapi di tegalan, sambil menembang mengusir sepi, ketua sekaa joged pingitan mendatanginya dan mengajaknya bergabung. ”Tapi, saya harus diuji berkali-kali, disuruh menari, dan menyebut nama tarian yang saya peragakan. Semua anggota sekaa heran karena saya menjawab dan menarikannya dengan benar,” kenang Cenik semasa hidupnya.

Menjadi penari dan terikat dalam kelompok sangat membantu ekonomi keluarganya. ”Setiap hari, kalau latihan, saya mendapat jatah satu kobokan beras dan daging,” ujar Cenik. Satu kobokan setara dengan hampir seperempat kilogram. Dari kebersamaannya dalam sekaa inilah Cenik kemudian dikenal sebagai penari joged pingitan terbaik dan mataksu (berwibawa) sepanjang hayatnya.

Ketika tari joged pingitan dan arja dikuasai, ia menurunkan ilmu kepada sebanyak mungkin murid, dengan mulai mengajar anak-anak di desanya, sebelum orang-orang dari seluruh Bali memintanya menjadi guru tari di desa-desa mereka. Ia sudah mengajar ribuan orang. ”Banyak yang tidak saya ingat nama dan rupa mereka,” ujar Cenik, yang muridnya datang dari Italia, Perancis, Amerika, Australia, dan Jepang. Jika ditanya bagaimana mereka sampai mengenal Cenik dan belajar di rumahnya di Batuan, ia menjawab enteng, ”Mereka tahu saya dari majalah.” Media membuat ia populer sehingga orang-orang dari seluruh dunia mengundangnya untuk menari. ”Mereka tak bosan-bosan menonton saya menari,” ujarnya terkekeh. Tahun 2008, selama sebulan ia menari berkeliling Jepang.

Cenik tidak semata mendalami tari joged pingitan. Ia menguasai hampir semua jenis tari. Dalam drama tari Calonarang yang sangat digemarinya, ia tampil sebagai penari tunggal memerankan bermacam tokoh, menarikan legong, jauk, baris, tari barong, pandung, topeng, di satu pentas, dalam satu kali penampilan, tanpa jeda. Energinya luar biasa, vitalitasnya tak terbendung, dengan gerakan jauh dari kesan gemulai. Ia tak pernah menari dalam gaya slow motion. Dia bergerak terus, kadang dengan gerakan tubuh naik turun seperti orang sedang kegirangan dan hendak bersorak. Tubuh dalam posisi miring dengan kaki menjinjit diseretnya ke tepi panggung. Tiba-tiba wajah galak mendongak ke depan, mata mendelik. Cenik sangat kaya gerakan tiba-tiba, pintar menyuguhkan gerak-gerak kejutan, dengan kerling mata (seledet) sangat tajam dan berpendar. Penonton di Bali menyebutnya sebagai seledet tatit (lirikan petir).

Berkali-kali ia mengeluhkan panggung masa kini yang luas, yang membuatnya sangat berjarak dengan penonton. Namun, ia piawai mengatur bidang, yang ia bagi sesuai dengan kekuatan dan kebutuhan. Kepada murid-muridnya ia menasihatkan, ”Gunakan bidang sebatas kemampuanmu. Jika penonton bosan, perpendek tarianmu.” Karena itulah, Cenik dikenal sebagai penari yang sangat bebas, tidak terlalu direcoki bidang dan waktu. Ia punya koreografi sendiri, karyanya sendiri, dan hanya mungkin ditarikan oleh dirinya sendiri pula.

Sebagai penari joged, ia selalu menari berteman kipas. Jika penari lain memainkan kipas dengan halus, Cenik memainkannya dengan sentakan-sentakan kuat. Tarian Cenik adalah gerakan yang sangat energik, ekspresif, mengesankan tarian yang kasar, diletupkan sepenuh tenaga sepanjang pertunjukan. Gaya dan gerakannya di pentas hanya menjadi miliknya. Tak seorang pun sanggup meniru, apalagi menyamai, gerakan itu. Jika ada yang berkomentar bahwa Cenik adalah maestro tari Bali klasik, itu tidak sepenuhnya benar. Siapa pun yang sempat menonton langsung ia menari, memerhatikan mimiknya, akan punya kesan bahwa gerakan Cenik jauh lebih tua dari tari klasik. Ia menari seperti menyongsong gerakan tarian purba. Orang-orang dari desa tetangganya yang menonton kadang berucap, ”Dadong (nenek) ini menari sesuka hati, tidak ikut agem dan alur tari.” Tapi, yang ngomong seperti itu justru selalu rindu menonton Dadong menari. Mereka ingin menonton gerak tari yang seperti tidak punya struktur, tetapi sangat memikat karena penuh kejutan, energik, dan sangat kaya improvisasi.

Tak ada penari sanggup meniru gaya itu. ”Murid-murid saya, anak dan cucu, tak seorang pun bisa meniru gaya saya menari,” kata Cenik. Made Jimat, anaknya, penari kawakan, juga tak kuasa. Mungkin karena Cenik menganggap diri tak pernah berguru sehingga ia tampil menjadi penari dengan gerakan unik dan susah dijelaskan. Yang jelas, ia menari sepanjang hayat, sesuatu yang dilakoni pregina (penari) Bali masa lalu, yang kini kian susut jumlahnya.

Selamat jalan, Dadong. Tetaplah menari di sana. Biarlah di sini kami merindukanmu dengan menonton tarianmu di video, Facebook atau YouTube.

Gde Aryantha Soethama,

Cerpenis dan Novelis Tinggal di Bali.

Source : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 04:23 WIB

Sabtu, 07 Agustus 2010

IIS DAHLIA : Pilih Menyanyi 100 Lagu

IIS DAHLIA

Pilih Menyanyi 100 Lagu

IIS DAHLIA. (KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH)***

Bagi Iis Dahlia (38) lebih baik menyanyikan 100 buah lagu daripada diminta berpidato. ”Saya enggak bisa omong, kalau menyanyi ayo...,” tuturnya, Rabu (4/8) malam, ketika didaulat membuka pentas seni dan pameran ”Indramayu dari Dekat” di Bentara Budaya Jakarta.

Karena dilahirkan dan besar di Indramayu, panitia menghubungi Iis dan dia menyatakan bersedia membuka acara seni itu.

Setelah berbasa-basi, ia mengucapkan terima kasih kepada lembaga atau badan yang bersedia memamerkan hasil kerajinan serta mementaskan tari tradisional Indramayu.

Sebab, katanya, jika hal itu dilakukan, hal-hal negatif yang selama ini lebih mendominasi Indramayu lambat laun bakal terkikis. ”Indramayu juga ada positifnya. Lihat saja batik serta hasil kerajinan lain. Di bidang kesenian, ada tari topeng indramayu oleh Ibu Mimi Rasinah,” ungkapnya.

”Tetapi, kok, yang diingat-ingat hanya soal yang negatif saja...,” tambah Iis tanpa merinci apa itu hal negatif dari Indramayu. Iis sejak 2009 serius menjalankan bisnis warung di Cilandak Town Square, Jakarta. Dia tak beranjak dari tempat duduk sampai Mimi Rasinah (80), maestro tari topeng indramayu—yang menari sambil duduk karena sakit, turun pentas. (POM)***

Source : Kompas, Sabtu, 7 Agustus 2010 | 02:59 WIB

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

DOK. "PRLM"

Mimi Rasinah maestro tari topeng asal Indramayu meninggal dunia di UGD RSUD Indramayu, Sabtu (6/8).***

INDRAMAYU, (PRLM),- Mimi Rasinah seorang Maestro tari topeng asal Desa Pekandangan, Kec./Kab. Indramayu meninggal dunia di UGD RSUD Indramayu, Sabtu (6/8) sekira pukul 14.05 WIB. Oleh keluarganya, jenasah Mimi Rasinah langsung dibawa pulang kerumah duka.

Kematian maestro yang pernah pentas di beberapa negara ini sangat mengejutkan kalangannya, terutama pihak keluarga. Isak tangis keluarga mengetahui Mimi Rasinah meninggal mewarnai ruang UGD RSUD Indramayu.

"Sebelum meninggal dunia, Mimi Rasinah sempat tampil menarikan tari topeng di Jakarta. Mungkin karena kecapaian dan punya riwayat penyakit stroke hingga meninggal di rumah sakit. Mungkin meninggalnya Mimi menunggu saya yang sedang pentas tari topeng di Cirebon, " kata Erly, cucu Mimi Rasinah kepada "PRLM".

Hal senada dikatakan dokter jaga UGD RSUD Indramayu, dr. H.Nurhendi. Menurutnya, saat Mimi Rasinah dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya, kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Meski pihaknya telah berusaha semaksimal, namun nyawanya tidak tertolong.

"Saat dibawa kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Diduga meinggalnya Mimi Rasinah akibat kecapean dan punya riwayat penyakit stroke, " jelasnya. (ui/kur)***

Komentar Berita:

  • encep (not verified) on Sabtu, 07/08/2010 - 17:05

turut berduka cita.dr kotaudang-sap.blogger.com

  • Anonymous (not verified) on Sabtu, 07/08/2010 - 16:03

Ngiring bela sungkawa kanggo Mimi Rasinah sareng kulawargana. Kuring estuning kaleungiten maestro tari topeng Indramayu.
Mugia arwah almarhumah sareng amal ibadah ditampi disisi Allah SWT, dihampura sagala dosana, ditebihkeun tina siksa kuburna. Amin...
Selamat jalan Mimi, jasa mu bagi kebudayaan tetap akan dikenang sepanjang masa.

Source : pikiran-rakyat.com, Sabtu, 07/08/2010 - 15:43

JAWA BARAT

  • 07.08.2010 | 15:43 wib

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

  • 07.08.2010 | 13:10 wib

Jalur Sodonghilir - Deudeul Kab.Tasikmalaya Lumpuh

  • 07.08.2010 | 12:33 wib

Petugas Gabungan Amankan 30 Orang Pasangan Mesum

  • 07.08.2010 | 02:24 wib

Sumber Mata Air Semakin Susut Akibat Kerusakan Lingkungan

  • 06.08.2010 | 20:41 wib

Polsek Palabuhanratu Sita Ribuan Petasan

  • 06.08.2010 | 20:28 wib

4 Pasangan Tertangkap di Kamar Hotel

  • 06.08.2010 | 20:22 wib

Mayat Bayi di Muara Cimandiri

  • 06.08.2010 | 19:50 wib

Kurniawan Alami Lumpuh Layu

  • 06.08.2010 | 19:34 wib

Ahyar Tewas Gantung Diri

  • 06.08.2010 | 18:32 wib

Polres Indramayu Berhasil Amankan Pengedar Upal

PENTAS TARI : Meski Stroke, Mimi Rasinah Masih Menari...

PENTAS TARI

Meski Stroke, Mimi Rasinah Masih Menari...

Seni wayang, topeng, batik, dan sejumlah karya fotografi dari Indramayu, Jawa Barat, dipamerkan dalam Pameran "Indramayu dari Dekat" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8). Pameran berlangsung hingga Minggu (8/8) mendatang. (KOMPAS/LASTI KURNIA)***

Mengharukan dan luar biasa. Dalam kondisi stroke, maestro tari topeng, Mimi Rasinah (80), tak kehilangan semangat untuk tampil di halaman Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8) malam.

”Ampun ya Gusti.... Kalau saya tak mampu lagi, biarkan anak-cucu yang mewarisi....” Demikian lebih kurang arti sebait syair yang dilantunkan Waci untuk Tarian Panji Rogo Sukma yang menampilkan Mimi Rasinah, Aerli Rasinah, cucunya, dan sejumlah cicitnya.

Dengan satu tangan kanan yang masih tangkas bergerak, Mimi Rasinah—yang merupakan pewaris kesembilan dalang Topeng Indramayu—dengan jari-jemari keriputnya, tetap lentik dan indah, membawakan tari tersebut sambil duduk. Sementara cucunya, Aerli, berdiri di belakang memainkan gerak topeng panji yang dibawakan Sang Maestro.

Walau tarian tersebut sudah diwariskan, di mana topeng Panji kini dimainkan Aerli, masih ada gerakan Mimi Rasinah yang belum dikuasai Aerli.

”Saya akan terus menggali karena Maestro Mimi Rasinah membawakannya dengan gerakan dari hati terdalam yang luar biasa,” katanya seusai pertunjukan.

Seusai menari, mata Mimi Rasinah tampak berkaca-kaca dan memberi hormat tatkala penonton mengapresiasinya dengan tepuk tangan.

Tari Panji Rogo Sukma merupakan tari yang sudah dimodifikasi, memainkan semua unsur topeng, sebagai simbol pewarisan dari Sang Maestro, kepada pewaris selanjutnya.

Selain Tari Panji Rogo Sukma, sebelumnya keluarga Mimi Rasinah juga menampilkan Tari Topeng Kelana Gandrung dan Tari Topeng Tumenggung.

Tarian topeng merupakan salah satu kekayaan budaya dari Indramayu yang ditampilkan khusus dalam pameran bertajuk ”Indramayu dari Dekat” yang dibuka penyanyi Iis Dahlia.

Pameran yang berlangsung hingga 8 Agustus itu juga menampilkan tradisi batik Indramayu. Di ruang pamer, terpajang 24 kain batik Indramayu berusia tua koleksi Carwati Basuri (33), salah seorang pengusaha batik dari Desa Paoman, Kabupaten Indramayu.

Jumat (6/8) besok pukul 19.30, pameran dimeriahkan Pentas Wayang Golek Cepak oleh Ki Ahmadi, sedangkan Sabtu (7/8) workshop tari topeng dan pentas tari topeng. (NAL/THT)***

Source : Kompas, Kamis, 5 Agustus 2010 | 04:48 WIB

INDRAMAYU DI BBJ : Dongeng Kegigihan Para Penari Pantura

INDRAMAYU DI BBJ

Dongeng Kegigihan Para Penari Pantura

Mimi Rasinah (80) memerhatikan dan sesekali memberikan contoh gerakan tari topeng yang benar kepada murid-murid di sanggarnya, yang dikelola cucu sekaligus penerusnya, Aerli Rasinah (24), di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (3/8). Anak didiknya berlatih tarian topeng Panji Rogosukmo, yang akan ditampilkan dalam acara "Indramayu dari Dekat" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu ini. (KOMPAS/TIMBUKTU HARTHANA)***

Oleh Siwi Yunita Cahyaningrum dan Timbuktu Harthana

Rumah Wangi Indriya, penari topeng ternama itu, masih saja sederhana. Sanggarnya sejak setahun lalu sudah berdiri megah, tetapi rumahnya yang dibangun tahun 1980-an itu masih setengah jadi. Dinding rumah yang sehari-hari menjadi tempat hidupnya tak dipoles semen.

Meski sederhana, di sinilah segala kegiatan tari dan tetabuhan hidup. Di sini pula semangat tari topeng yang berusia ratusan tahun berkembang di pantai utara (pantura) Jawa Barat.

Keluarga Wangi sudah bergelut dengan seni pantura turun-temurun. Kakeknya adalah pedalang tersohor. Ayahnya, Mamak Taham, pun kini menjadi tokoh dalang kenamaan Indramayu. Bagi keluarga seniman ini, kesenian pantura dan sanggar yang mereka punyai, yakni Mulya Bhakti, adalah satu-satunya kekayaan mereka.

Bukan hal yang mudah menjaga eksistensi kesenian dan sanggar. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak kecil. Wangi Indriya menghidupi sanggarnya dari keringatnya menari, juga bercocok padi. Setiap kali bisa pentas ataupun panen, Wangi selalu menyisihkan sebagian dananya untuk kebutuhan sanggar. Uang itu sebagian untuk pementasan dan sebagian lagi untuk kebutuhan rutin seperti membayar listrik sanggar.

Di les menari, Wangi hanya menarik tarif Rp 5.000 per anak tiap kali datang. Uang itu pun kembali ke para penari tersebut untuk keperluan pentas mereka di Indramayu atau di luar kota.

”Tidak semua pentas tari menghasilkan uang. Jika dana terbatas, uang dari sanggar pun harus dikeluarkan untuk penari ini, setidaknya buat ongkos pulang mereka,” kata Wangi suatu sore di sanggarnya di Tambi, sebuah desa kecil di Indramayu.

Penari sanggar seperti Suti (18) pun rela menjahit manik- manik sendiri agar mendapatkan kostum tari yang murah untuk membantu sanggar. Kostum tari topeng yang biasanya Rp 350.000 per set bisa hanya Rp 300.000 berkat keringat para pengurus sanggar yang meluangkan waktunya untuk memasang manik-manik dengan tangan mereka sendiri.

Wangi bahkan melupakan kepentingan pribadinya. Ketika harus menyekolahkan putranya, Aris, ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) di Solo, tahun 1998, Wangi bahkan tak punya biaya karena dana diperuntukkan bagi kegiatan sanggar.

Namun, hasil kerja keras dan berbagai bentuk pengorbanan yang ia lakukan memperoleh hasil yang sepadan. Sanggar Mulya Bhakti kini punya 350 siswa tari. Setiap malam bulan purnama sanggar itu selalu meriah dengan pentas Midang Sari. Pada saat itu berbagai seniman pantura berkumpul untuk mementaskan tari, macapatan, prolog, dan kesenian khas lainnya. Warga bukan hanya dari Indramayu, melainkan juga dari kota- kota lain dapat turut menikmati berbagai kesenian pantura yang kadang sudah jarang dipentaskan tersebut.

Mimi Rasinah

Bukan hanya Wangi yang mengalami ”jalan tak mudah” dalam berkesenian. Perjuangan gigih menghidupkan sanggar dan panggilan jiwa juga dilakukan oleh Mimi Rasinah. Di forum pameran kerajinan, foto, dan pergelaran ”Indramayu dari Dekat”, yang digelar di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 4-8 Agustus 2010, keuletan, kegigihan, kesederhanaan, sekaligus ketangguhan penari topeng Indramayu yang mendunia itu bisa dinikmati masyarakat Ibu Kota.

Di balik namanya yang mendunia, Mimi Rasinah (80)—sejak lima tahun lalu terserang stroke—tetap hidup dengan segala keterbatasan ekonominya. Ia bahkan hidup sangat melarat sejak terserang stroke. Kehidupan Rasinah saat itu sangat tergantung dari nafkah anak-anaknya yang bekerja sebagai penabuh gamelan dan kuli pemecah batu.

Kendati demikian, Rasinah tetap menari. Ia tetap mengajari cucunya, Aerli, menari topeng ketika setengah dari tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. ”Mimi masih bisa mengetuk kenong ketika saya menari, bahkan melempar saya dengan pemukul kenong ketika salah menarikan gerakan tari topeng,” kata Aerli.

Meski hidup serba sulit, semangat menari Mimi Rasinah tak pernah pudar. Baginya, tari topeng adalah takdir sekaligus pilihan hidup. Pilihan hidup itulah yang membuat sanggarnya kembali ramai dengan anak- anak muda, penari topeng baru.

Generasi baru ini memberikan angin segar bagi regenerasi tari topeng Rasinah. Aerli Rasinah (24), cucu Mimi Rasinah, menghidupkan kembali sanggar Mimi Rasinah dengan cara yang lebih inovatif, khususnya dalam hal manajemen panggung. Jika dulu Mimi Rasinah-lah yang mengurusi seluruh keperluan depan dan belakang panggung, kini pekerjaan itu diambil alih oleh penari, pemain musik, dan manajer panggung.

Facebook yang menjadi alat jejaring sosial modern pun digunakan sebagai alat promosi sanggar ini. Dari jejaring sosial inilah warga bisa melihat tarian Mimi Rasinah yang diunggah oleh Aerli, dan belajar darinya.

Sanggar dan kesenian benar- benar menjadi bagian dari hidup para penari pantura ini. Baik bagi Mimi Rasinah maupun Wangi Indriya, hilangnya pamor sanggar akan menghilangkan kesenian yang menjadi roh hidup masyarakat pantura.

Kehidupan para penari seperti Wangi Indriya dan Mimi Rasinah mengamini filsafat tarian topeng yang sudah merasuki hidup mereka, yakni berbagi dan bertindak benar. Dari kegigihan mereka, kesenian pantura tetap ada dan tumbuh di jiwa anak- anak muda di kawasan pantura. ***

Source : Kompas, Rabu, 4 Agustus 2010 | 03:13 WIB

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • jarot santoso

Rabu, 4 Agustus 2010 | 11:33 WIB

selamat atas kegigihan sanggar tari topeng......... lestarikan budaya lokal (bangsa kita) jangan punah meski kita memasuki abad modernisasi.

Balas tanggapan

Senin, 02 Agustus 2010

HER SUGANDA : Mimi Tiweng, Primadona Ronggeng Terakhir

Mimi Tiweng, Primadona Ronggeng Terakhir

Oleh HER SUGANDA

MIMI TIWENG. (Foto : HER SUGANDA)***

Masih adakah ruang yang tersedia untuk menyaksikan Mimi Tiweng menari? Primadona ronggeng ketuk dari Dusun Tlakop itu terakhir kali tampil memesona dalam pergelaran di Gedung Negara Cirebon, awal Desember tahun lalu.

Penampilannya di depan publik yang sebagian besar terdiri dari pejabat setempat pada malam itu bukan hanya merupakan yang pertama kali setelah cukup lama istirahat. Sebelumnya, ia lebih banyak berada di rumah mengurus suaminya, Waryim (75 tahun).

”Saya tidak tahu kapan bisa menari lagi,” kata Mimi Tiweng, yang memiliki nama lahir Kartiwen, penuh harap melepaskan kerinduannya.

Tlakop, kampung tempat Mimi Tiweng membangun keluarga dan kesenian ronggeng ketuk, termasuk wilayah Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Daerah pertanian itu dikelilingi areal persawahan sejauh mata memandang. Di tempat ini, Mimi Tiweng merupakan satu-satunya penari sekaligus primadona ronggeng ketuk yang masih ada.

Setelah itu? Mimi Tiweng tidak bisa menjawabnya. Dia hanya bisa menatap hampa masa depan kesenian yang digelutinya selama ini. Dalam benaknya sudah lama terbayang, kesenian ronggeng ketuk akan berakhir di tangannya. Setelah dirinya, tidak ada lagi generasi berikut yang melanjutkan.

Regenerasi kesenian tradisional yang biasanya berlangsung melalui anak atau anggota keluarga lain sudah tidak mungkin terjadi pada ronggeng ketuk.

”Anak saya dan anak-anak gadis lain tidak ada lagi yang mau menjadi penari ronggeng,” katanya. Nada suaranya rendah, memperlihatkan isi hati yang kecewa, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

Tanpa panggung

Ronggeng ketuk merupakan kesenian tradisional yang bentuknya tidak banyak berbeda dengan kesenian sejenis yang menampilkan penari ronggeng. Di daerah lain, kesenian ini dinamakan ketuk tilu karena salah satu instrumennya atau waditra berupa cemplon yang dinamakan ketuk terdiri dari tiga buah.

Instrumen lainnya adalah rebab (alat gesek), gendang dengan kulanter, gong, dan kecrek.

Para nayaga atau awak gamelan duduk di salah satu sisi, dikelilingi para penonton yang membentuk lingkaran. Penonton di baris paling depan biasanya duduk di atas lantai tanah atau jongkok. Namun, pusat perhatian mereka bukan pada kemeriahan irama gamelan yang mengiringi pertunjukan, tetapi kepada para ronggeng.

Ronggeng adalah penari yang umumnya perempuan. Selain menyanyi, ia juga melayani penonton yang berminat menari bersamanya. Tidak diketahui sejak kapan kesenian ini ada. Pergelaran kesenian tersebut biasanya diselenggarakan pada malam hari di daerah terbuka tanpa panggung.

”Kalau siang, penonton pria yang akan menari di arena merasa malu,” kata Waryim, menimpali istrinya. Penonton pria yang ikut menari kemudian memberikan sawer berupa sejumlah uang.

Pertunjukan ronggeng ketuk berlangsung sejak pukul 20.00. Semakin malam suasananya semakin hangat. Para penonton pria turun ke arena silih berganti, berusaha merebut hati ronggeng pujaannya seraya berlomba memberikan sawer. Sebelum 1990-an, pertunjukan ronggeng berlangsung hingga subuh. Namun kini, pertunjukan hanya dibolehkan sampai tengah malam.

Uang sawer merupakan pemasukan tambahan bagi para ronggeng dan nayaga. Kartiwen menceritakan, uang sawer yang terkumpul dibagikan setelah pertunjukan usai. ”Cara pembagiannya sabatur,” katanya. Artinya, sebagian untuk nayaga dan sebagian lagi untuk ronggeng.

Masa keemasan

Lahir di Dusun Tlakop, perjalanan hidup Mimi Tiweng sebagai penari ronggeng ketuk cukup panjang. Bisa dikatakan, hampir sepanjang usianya dicurahkan menjadi penari ronggeng. Ia mengaku sudah menari sejak usia 10 tahun. Tidak mengherankan jika namanya menyatu dengan ronggeng ketuk di Dusun Tlakop. Julukan ”Mimi” menunjukkan, ia merupakan seseorang yang dituakan karena kepiawaiannya pada salah satu bidang kesenian.

Mimi Tiweng pernah mengalami masa-masa keemasan yang sulit terlupakan. Sebelum organ tunggal mewabah seperti sekarang, ronggeng ketuk merupakan salah satu pilihan masyarakat Indramayu dalam memeriahkan upacara pernikahan, khitanan, dan lainnya.

”Waktu itu, dalam sebulan bisa penuh sehingga sering ada permintaan ditolak,” kenangnya. Apalagi jika usai musim panen, kesibukan mencapai puncaknya.

Mimi Tiweng dan penari ronggeng lainnya hanya mempunyai waktu istirahat pada siang hari. Malam hari mereka harus memenuhi panggilan dari satu desa ke desa lainnya.

Akan tetapi, masa keemasan itu sudah lama berlalu. Ketika ronggeng ketuk harus bersaing dengan orkes dangdut, Mimi Tiweng mengaku masih bisa bertahan. Namun, setelah muncul organ tunggal, Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” mulai limbung. Kelompok kesenian ini mulai merasakan kehilangan peminat. Nasib yang sama dialami oleh kelompok kesenian tradisional lain. ”Bahkan, sejak 2001 sudah tidak laku lagi,” katanya.

Satu per satu kesenian tradisional mulai berguguran. Pesaingnya sesama ronggeng ketuk yang ada di desanya sudah lebih dulu gulung tikar. Ronggeng dan nayaga-nya mencari sumber kehidupan lain. Sebagian lagi hilang dari peredaran karena usia lanjut dan lainnya meninggal.

Praktis Mimi Tiweng merupakan satu-satunya penari ronggeng ketuk yang masih bertahan. Di tempat kelahirannya, Dusun Tlakop, Sang Primadona itu tetap gigih mempertahankan keberadaan Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” walau hanya tinggal seorang diri. Teman-temannya sesama penari ronggeng sudah lama berpisah. Begitu juga sebagian besar nayaga-nya.

Dalam kesendiriannya, ia masih bersyukur karena ronggeng ketuk tidak hanya merupakan kesenian yang bertujuan menghibur publik penontonnya. Di daerahnya, ronggeng ketuk memiliki nilai spiritual yang biasa dipanggil oleh mereka yang akan memenuhi nazar atau kaul. Namun, hal itu sudah sangat jarang sehingga Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” hanya sesekali tampil.

Itu pun, nayaga yang menyertainya tidak bisa tampil utuh sebagaimana pendahulunya.

(HER SUGANDA, Wartawan, Tinggal di Bandung)

KARTIWEN ALIAS MIMI TIWENG
• Umur: Sekitar 65 tahun
• Pendidikan: Tidak sekolah
• Pekerjaan: Pimpinan Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari”, Dusun Tlakop RT 01 RW 03, Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
• Pengalaman: Menari sejak umur 10 tahun
• Suami: Waryim (75 tahun)
• Anak: Surono (36 tahun), Yus Idayani (23 tahun)

Source : Kompas, Sabtu, 31 Juli 2010 | 03:41 WIB

Minggu, 01 Agustus 2010

Jabar Evaluasi RSBI

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Jabar Evaluasi RSBI

BANDUNG - Dinas Pendidikan Jawa Barat bekerja sama dengan Badan Akreditasi Provinsi Jawa Barat sedang melakukan proses akreditasi terhadap 145 sekolah negeri rintisan sekolah berstandar internasional atau RSBI. Tujuannya, melihat apakah sekolah itu sudah memenuhi standar yang disyaratkan.

”Setelah dilakukan evaluasi, bukan tidak mungkin akan ada sekolah yang statusnya diturunkan menjadi sekolah reguler apabila standar yang ditetapkan tidak terpenuhi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wahyudin Zarkasyi di Bandung, Jumat (23/7).

Di Jabar, RSBI telah diselenggarakan sejak dua tahun lalu. Sebanyak 145 RSBI yang akan diakreditasi itu tersebar di sejumlah kota/kabupaten di Jabar, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dan SMK.

Wahyudin mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sekolah RSBI. Di antara syarat yang utama adalah melakukan kerja sama pendidikan dengan negara lain serta pengajaran menggunakan metode berbahasa Inggris.

”Kami berharap agar semua sekolah itu bisa memenuhi standar yang ditetapkan. RSBI sangat positif meningkatkan daya saing siswa. Setelah proses ini diselesaikan, tahun ini akan langsung dilanjutkan dengan RSBI swasta,” ujarnya.

Humas Dewan Pendidikan Kota Bandung Iwan Hermawan mengatakan, pelaksanaan RSBI di Jawa Barat masih jauh dari rasa keadilan masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. Alasannya, syarat masuk RSBI masih kental dengan persoalan dana. RSBI sering dijadikan alasan oleh sekolah untuk memungut dana dari masyarakat dan sampai saat ini tidak jelas patokannya.

”Meski ada kuota bagi masyarakat tak mampu, saya rasa tidak seimbang dengan jumlah siswa yang ingin merasakan pengajaran yang berkualitas,” ujarnya. (CHE)***

Source : Kompas, Senin, 26 Juli 2010 | 03:25 WIB

RSBI Kesulitan Cari Guru Berkualitas

RSBI Kesulitan Cari Guru Berkualitas

YOGYAKARTA - Rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI masih banyak yang kesulitan mendapatkan guru berkualitas. Semestinya RSBI memiliki guru berpendidikan S-2 minimal 30 persen dari jumlah guru, tetapi kenyataannya baru 5-15 persen yang memenuhi kualifikasi itu.

Bantuan pemerintah dalam meningkatkan kualifikasi guru dinilai sangat minim sehingga dituding menjadi salah satu penyebabnya.

Di SMP Negeri 8 Yogyakarta, misalnya, baru empat dari 75 guru yang bergelar S-2. ”Mereka pun kuliah dengan biaya sendiri,” kata Kepala SMP Negeri 8 Yogyakarta Pardi Hardisusanto di Yogyakarta, Rabu (21/7).

Menurut Pardi, selama ini SMP Negeri 8 Yogyakarta belum pernah menerima bantuan beasiswa untuk menyekolahkan guru ke tingkat S-2. Sementara itu, pendapatan guru terlalu minim untuk melanjutkan sekolah S-2 dengan biaya sendiri. Sejak empat tahun lalu, SMP Negeri 8 Yogyakarta mulai menyelenggarakan kelas internasional. Jumlah kelas internasional tersebut terus bertambah hingga tahun keempat ini.

Minimnya guru yang telah memenuhi kualifikasi ini, menurut Pardi, merupakan kendala utama sekolah untuk meningkatkan status menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Selain itu, para guru juga masih mempunyai kendala dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris. Hal tersebut karena para guru tidak pernah dipersiapkan untuk mengajar dalam bahasa Inggris.

Hal yang sama dialami SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sekolah yang tahun ini membuka 21 kelas internasional itu belum bisa memenuhi kualifikasi guru yang disyaratkan.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMA Negeri 3 Yogyakarta Kusworo mengatakan, baru 12 dari 50 guru SMA tersebut yang telah bergelar S-2. Di sekolah itu pun sebagian besar guru menggunakan biaya sendiri untuk kuliah S-2.

Kepala Bidang Perencanaan dan Standardisasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta Baskara Aji mengakui, kualifikasi guru masih sulit ditingkatkan. Dari 76 RSBI di DIY, belum satu pun yang berhasil menjadi SBI.

Penggunaan dana

Di Jakarta, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menyelidiki dugaan penyalahgunaan dana sumbangan orangtua di salah satu sekolah RSBI di kawasan Rawamangun.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Hidayatullah memaparkan temuan ini ketika Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Antikorupsi Pendidikan (KAKP) mendatangi Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Rabu.

Mereka mempertanyakan laporan indikasi korupsi dalam pengelolaan dana bantuan langsung (block grant) RSBI di sekolah tersebut pada tahun 2007 sebesar Rp 500 juta. Peneliti senior ICW, Febri Hendri, menilai, seharusnya Kejati DKI Jakarta memfokuskan penyidikannya pada penyalahgunaan pengelolaan block grant yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (IRE/LUK)***

Source : Kompas, Kamis, 22 Juli 2010 | 03:52 WIB