Selasa, 03 November 2009

Mang Oman dan Gesekan Dawai Tarawangsa Yang Telah Melegenda

OMAN. (Foto : Kompas/Mawar Kusuma Wulan)***

Mang Oman Merasa dengan Tarawangsa

Oleh : Mawar Kusuma Wulan Kuncoro Manik

Mata Mang Oman hampir selalu terpejam ketika tangan kanannya menggesek dawai tarawangsa. Dalam setiap gesekan yang diselingi petikan, alat musik gesek tertua di Jawa Barat itu mengalunkan irama lengkingan panjang yang menyayat hati. Sungguh, alunan degung sunda sanggup menumpahkan air mata bagi hati yang terluka dan membuncahkan tawa di saat gembira.

Hampir setiap hari setelah pulang dari sawah, Mang Oman selalu memainkan alat musik dua dawai yang telah ditekuninya sejak masa remaja itu. Tarawangsa yang diartikannya sebagai alat untuk penerawangan rasa itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Mang Oman. ”Tiap kali menggesek tarawangsa, rasanya enak luar biasa,” ungkap Mang Oman saat ditemui di rumahnya, Kampung Cigelap, Parung, Cibalong, Tasikmalaya.

Rasa enak luar biasa inilah yang ingin senantiasa ditularkan oleh Mang Oman kepada semua orang. Selain memainkan alat musik tarawangsa, Mang Oman selalu menularkan kepiawaiannya menggesek tarawangsa kepada para tetangga dan rekan dekatnya. Dari tahun 1980-an, Mang Oman sempat membantu mengajar ekstrakurikuler tarawangsa secara cuma-cuma bagi para siswa di Sekolah Dasar Nangkasari, Kampung Cigelap.

Sejak setahun lalu, Mang Oman tak lagi mengajari siswa SD karena hampir seluruh waktunya tersita untuk menggarap sawah seluas 100 bata (1 bata > 14 meter persegi). Apalagi setelah istrinya, Enong (50), terkena stroke dan tidak lagi bisa menemaninya bertani. Padahal, kerinduan untuk menularkan keahlian musik tarawangsa masih melekat di hati Mang Oman.

Pada Sabtu (17/10) lalu, misalnya, sulit sekali menemui Mang Oman yang menghabiskan waktunya dari lepas subuh hingga jelang magrib untuk bertani dan menggembala sapi di pucuk bukit dengan jalan curam mendaki sejauh satu kilometer. Meskipun tubuhnya letih, senyum tak pernah lepas dari wajah Mang Oman.

Calung rantay

Semangatnya pun segera membuncah ketika mulai menggesek dawai tarawangsa yang terbuat dari kawat baja bekas kopling. Alat penggesek tarawangsa dibuat dari bahan yang mudah dicari, seperti ijuk dari pohon aren dengan gagang dari kayu jati. Bahan baku utama terbuat dari kayu lamek.

Mang Oman terbiasa membuat sendiri alat musik tarawangsa. Tak hanya digunakan untuk kebutuhannya pribadi, kadangkala Mang Oman juga menerima pesanan pembuatan tarawangsa dari rekan dan tetangga. Alat musik tarawangsa selalu digabungkan dengan permainan alat musik tradisional Sunda lainnya, yaitu kecapi dan calung rantay.

Bersama tiga rekannya, Mak Enar (70), Yayan (37), dan Yana (43), Mang Oman tergabung dalam Grup Calung Tarawangsa Dangiang Budaya di bawah pimpinan Aseng Kartija (68). Mereka selalu memainkan lebih dari sepuluh lagu tradisional yang tidak pernah diaransemen ulang seperti lagu bertajuk ”Ayun”, ”Salancar”, ”Manuk Hejo”, ”Aleuy”, dan ”Kang Kiai”.

Setiap lagu berdurasi lebih kurang lima menit. Mak Enar memetik kecapi atau dikenal juga dengan istilah jentreng sambil menyanyi dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda kuno. Petikan jentreng Mak Enar ini menjadi pengiring lagu utama yang dimainkan alat musik tarawangsa.

Dua rekan lainnya, Yana dan Yayan, bertugas memainkan alat musik bambu calung yang dirangkai dengan tali kuat dari tumbuhan merambat. Penampilan musik tarawangsa biasanya diiringi tari-tarian dari pasangan penari pria dan wanita dengan gerakan pelan dan teratur. Penonton tarawangsa pun diperbolehkan turut menari bersama para penari.

Seni musik tarawangsa sarat simbol. Menurut Mang Oman, dua dawai tarawangsa melambangkan paradoks kehidupan. Jika ada siang, maka ada malam; perempuan dilengkapi lelaki; dan ada langit, maka ada bumi. Sementara itu, jentreng berdawai tujuh melambangkan kepenuhan hidup manusia seperti tujuh hari dalam satu pekan.

Bersama grup Dangiang Sunda, Mang Oman telah memainkan alat musik tarawangsa ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, bahkan hingga Sumatera. Mereka juga pernah tampil di Universitas Padjadjaran maupun Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Setiap kali bermain di berbagai pementasan di luar Desa Cibalong, Mang Oman dan rekan-rekannya biasa dibayar Rp 100.000 per orang.

Menurut Mang Oman, pendapatan dari pementasan tarawangsa ini tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi, dia mengaku bisa memperoleh kepuasan dari setiap gesekan tarawangsa yang dimainkannya.

Masyarakat pedesaan cenderung masih menyukai tarawangsa sebagai hiburan di hajatan pernikahan, syukuran rumah baru, dan khitanan. Pada bulan-bulan tertentu seperti bulan ruwah, bulan maulid, dan bulan haji, Mang Oman dan Grup Calung Tarawangsa Dangiang Budaya selalu tampil di berbagai pesta hajatan setiap hari.

Kehadiran alat musik tarawangsa juga terkait erat dengan tradisi bercocok tanam padi. Tarawangsa biasa dimainkan pada upacara ngalaksa sebagai ucapan syukur terhadap limpahan panen serta penghormatan terhadap Dewi Sri.

Tak sekadar sarana hiburan, tarawangsa juga dipercaya menyimpan fungsi magis. Sering kali, seni musik tarawangsa dilantunkan sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit seperti lumpuh, buta, atau kesurupan. Mang Oman mengaku sering diminta memainkan tarawangsa untuk kesembuhan warga.

Alat musik tarawangsa hanya dijumpai di daerah tertentu di Jabar, seperti Sumedang, Banten selatan, dan Tasikmalaya. Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya telah memasukkan tarawangsa ke dalam daftar seni tradisional yang terancam punah karena lemahnya regenerasi. Padahal, alat musik itu merupakan kesenian asli tanah Pasundan. Nama tarawangsa bahkan telah tercantum sebagai alat musik tradisional Sunda pada naskah ”kuna sewaka darma” yang ditulis sekitar abad ke-16.

Tarawangsa, lanjut Mang Oman, memang cenderung sulit dipelajari karena mengandalkan olah rasa. Tak ada kunci atau tangga nada yang harus dihapal ketika memainkan tarawangsa. Paling cepat, dibutuhkan satu pekan untuk bisa menggesek tarawangsa.

Mang Oman yang tidak fasih berbahasa Indonesia ini mengaku selalu mengajak ”murid-murid”-nya untuk mengandalkan ketajaman rasa ketika menggesek tarawangsa. Alat musik yang hidup dan berkembang di kalangan petani itu hingga kini masih bertahan melintasi zaman karena kesetiaan dari orang-orang seperti Mang Oman.

OMAN

• Usia: 55 tahun • Istri: Enong (50) • Anak: 1. Titin 2. Iin Rustiana 3. Neni Heryani 4. Dian Hernawan • Pendidikan: Sekolah Rakyat • Penghargaan: Bersama Grup Calung Tarawangsa Dangiang Budaya mendapat penghargaan sebagai pelestari budaya Sunda dari Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya (2009).***

Source : Kompas, Selasa, 3 November 2009 | 02:41 WIB

Prihatin ! Banyak Anak Muda Indonesia Yang Tidak Paham Sejarah Negerinya

Ingrid Widjanarko. ( Foto : Kompas/Nina Susilo)***

INGRID WIDJANARKO

Prihatin Sejarah

Ingrid Widjanarko (51) prihatin banyak anak muda Indonesia yang tidak paham sejarah negerinya. Karenanya, ketika terbang dari Jakarta ke Surabaya, Rabu (28/10), Ingrid pun meminta Slamet Rahardjo mengingatkan pilot supaya menginformasikan bahwa 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda.

”28 Oktober 1928 tidak cuma Sumpah Pemuda, tetapi saat pertama kali lagu ’Indonesia Raya’ dikumandangkan meskipun belum ada liriknya,” tutur Ingrid yang juga sudah memublikasikan kumpulan puisi berjudul Surat untuk Rumput itu dalam jumpa pers peringatan Hari Pahlawan, ”Surabaya Juang”, di Surabaya, akhir bulan lalu.

Mengingatkan soal sejarah tidak hanya dilakukan Ingrid kali ini saja. Nasionalisme tertanam sejak Ingrid kecil. Ayahnya adalah ajudan Bung Karno, presiden pertama RI.

Saking bangganya dengan kepahlawanan, Ingrid langsung berpose dan mengangkat kepalan tangan ketika melihat tiruan patung pahlawan dari tubuh manusia berlumur lumpur dan memegang bendera Merah Putih.

Dia pun berandai-andai. Kalau saja dirinya menjadi Menteri Pariwisata, dia akan meminta semua pilot menginformasikan hari-hari bersejarah Indonesia saat penerbangan. Merdeka!! (INA)***

Source : Kompas, Selasa, 3 November 2009 | 02:50 WIB

Sikap KeIndonesiaan Jawa Tengah

Gunretno. (Foto : Kompas/Idha Saraswati Wahyu Sejati)***

KEINDONESIAAN JAWA TENGAH/DI YOGYAKARTA (1)

Sedulur Sikep Memandang Negara

dan Penegakan Hukum

Oleh : Susana Rita

Batas desa sudah tampak. ”Anda memasuki Desa Sukolilo”. Demikian sambutan pertama yang tertera pada dua tembok putih yang mengapit jalan aspal yang sudah tak rata. Setelah berkendaraan selama lebih kurang 40 menit ke arah selatan ibu kota Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akhirnya saya dan dua teman sampai juga di tanah para Sedulur Sikep.

Di sini, sekitar 200 kepala keluarga komunitas Sikep atau lebih dikenal dengan masyarakat Samin tinggal. Mereka adalah pengikut Samin Surosentiko alias Raden Kohar (1859-1914), pencetus gerakan sosial melawan Belanda dengan cara menentang segala aturan dan kewajiban yang dibuat pemerintah kolonial kala itu, di antaranya menolak membayar pajak.

Beberapa ciri/identitas perlawanan digunakan sejak zaman Belanda, seperti tidak bersekolah, tidak memakai peci, tetapi memakai ikat kepala (mirip orang Jawa zaman dahulu), tak memakai celana panjang (tetapi memilih celana selutut), tidak berpoligami, tidak berdagang, dan menolak kapitalisme.

Hingga akhir Oktober lalu, atau lebih dari 100 tahun kemudian, ciri-ciri itu masih bertahan. Bocah-bocah Sikep tak mengikuti pendidikan formal meski bukan berarti mereka tak terdidik. Celana selutut dan ikat kepala pun masih terlihat. Prinsip siji kanggo salawase atau satu untuk selamanya masih diucapkan setiap anggota Komunitas Sikep ketika ditanya mengenai perkawinan.

Mereka pun tetap tidak berdagang, konsisten hidup sebagai petani. Maka, tak heran saat beberapa waktu lalu mereka meradang saat sebagian lahannya di lereng Pegunungan Kendeng bakal ditambang dan dijadikan lahan pabrik semen oleh PT Semen Gresik. Mereka hidup berdampingan dan harmonis dengan alam dan sesama. Kejujuran dan kebenaran adalah nilai utama dan ajaran tata laku keseharian yang turun-temurun diwariskan leluhur.

Seorang tokoh muda Sedulur Sikep, Gunretno, mengungkapkan, ada lima prinsip dasar (adeg-adeg) yang ditanamkan sejak kecil, yakni jangan memiliki perasaan drengki srei, panasten, dakwen, kemeren. Selain itu, mereka juga selalu diajarkan untuk tidak bertindak bedog colong, pethil jumput, dan nemu.

Orang Sikep tidak boleh memiliki rasa dengki, iri, selalu curiga.

Orang Sikep tidak boleh mencuri (bedhog colong), mengambil sesuatu yang bukan haknya (methil), dan bahkan menemukan sesuatu yang bukan miliknya (nemu).

Menurut Gunretno, ajaran itu masih dipegang teguh Sedulur Sikep. Ini setidaknya tergambar ketika beberapa waktu lalu seorang Sedulur Sikep menemukan kalung emas di tengah jalan. Kalung itu tidak diambil, tetapi malah ditutupi dengan batu agar tidak dilihat orang yang bukan pemiliknya. Sedulur Sikep itu kemudian mencari tahu pemilik perhiasan, lalu memberitahukan lokasi kalung itu.

Suasana aman sangat kentara di lingkungan mereka. Rumah kosong ditinggal begitu saja dengan pintu terbuka. Tamu tidak akan kehilangan barang meskipun tertinggal. Pemilik rumah akan menyimpannya, kemudian dikembalikan ketika yang bersangkutan datang kembali.

Gunretno juga menegaskan, tak pernah ada pencurian di komunitasnya. Ia pun bahkan belum pernah mendengar ada warga Sikep yang didapati berbuat kriminal, baik dalam lingkungannya maupun ketika mereka keluar dari komunitasnya. Orang disebut telah keluar dari Sedulur Sikep ketika memutuskan untuk sekolah, berdagang, dan melakukan hal-hal yang dilarang leluhur.

”Setahu saya, baru dua kali ada Sedulur Sikep yang berurusan polisi. Yang pertama, dulu ketika Mbah Samin ditangkap Belanda karena menolak membayar pajak dan tahun lalu ketika beberapa warga ditangkap polisi saat aksi menolak pembangunan pabrik semen,” ujar Gunretno.

Tahun lalu polisi menangkap sembilan warga yang diduga terlibat aksi penyanderaan kendaraan roda empat dalam aksi penolakan pabrik semen di Pati. Penangkapan itu membuat penolakan kian mengental sampai akhirnya PT Semen Gresik membatalkan peletakan batu pertama pembangunan pabrik dan merelokasinya ke Tuban, Jawa Timur.

Bagaimana jika ada yang melanggar adeg-adeg itu? Menurut Gunretno, masyarakat Sikep tak akan menjatuhkan sanksi apa pun. Namun, rata-rata pelanggar adeg-adeg akan malu sendiri. ”Orang mungkin hanya menjadi tidak percaya lagi,” ujarnya.

Begitu kentalnya ajaran itu melekat di kaum Sikep. Karjo (23) dan Agus Purwanto (20), misalnya, tak pernah berpikir untuk berbuat di luar apa yang diajarkan orangtuanya. Pilihan profesi tetap petani. Sikap hidup yang diupayakan sejauh mungkin menghindari drengki srei, dakwen panasten, dan methil jumput serta nemu.

Karjo bahkan sangat menyadari pilihan profesinya sebagai petani tidak menjanjikan kekayaan duniawi (sugih bondho). ”Kami ini disuruh sugih eling (selalu ingat/waspada),” ujar Karjo lagi.

Bagi Karjo, belajar dari kenyataan dan kehidupan adalah sekolah yang sebenarnya. Belajar nrimo, berupaya mencapai keinginan yang terukur, dijalaninya beberapa tahun belakangan. Ia menceritakan upayanya saat ingin memiliki telepon genggam dan sepeda motor. Saat itu ia menebar 200 pancing di sungai selama 16 hari untuk membeli telepon genggam.

”Saya juga pernah merantau ke Kalimantan selama 2,5 bulan. Terkumpul uang Rp 5,5 juta. Saat sudah mendapat hasil yang cukup untuk membeli sepeda motor, saya pulang,” kata Karjo, yang pernah bekerja sebagai pencari emas. Ia menambahkan, ”Sekarang saya lagi kosong, tak punya keinginan apa-apa.”

Kritis dan paham hukum

Meski setiap hari bergulat dengan lumpur dan tanah, tidak berarti membuat Sedulur Sikep tak mengikuti perkembangan politik dan hukum di negeri ini. Sedulur Sikep tak ketinggalan isu, bahkan ketika bicara penegakan hukum, perilaku pejabat, dan pemilu.

Bincang-bincang kritis rasanya sangat biasa dijumpai di Sukolilo. Warga sadar akan persoalan demokrasi, negara, dan kesejahteraan. Tak cuma di rumah Gunretno, ungkapan kritis juga bergaung di Omah Kendeng. Rumah berbentuk limas yang didirikan sebagai pusat kegiatan bagi warga lereng Pegunungan Kendeng di Dukuh Ledok, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Rumah pusat perlawanan masyarakat Sikep dan warga sekitarnya.

Seperti terjadi pada Sabtu (24/10), lima pemuda Sikep tengah duduk melingkar di atas anyaman bambu yang digelar di lantai batu Omah Kendeng. Mereka duduk persis di bawah rangka utama rumah, di bawah tiang kayu jati yang berdiri menyangga bangunan seluas lebih dari 100 meter itu. Tidak lupa, sebotol kendi hitam (tempat air minum) menemani obrolan itu.

Silih berganti warga yang datang dan pergi. Kian malam obrolan kian seru, terutama ketika Slamet, warga setempat bukan Sikep, turut bergabung di Omah Kendeng. Slamet mempertanyakan gagasan kesejahteraan versi pejabat negara. Ia mengkritik pejabat pemerintah yang seolah tahu bagaimana menyejahterakan rakyat.

”Rerasan” semakin gayeng (meriah) ketika bicara kemerdekaan. Slamet dan yang lain merasa belum merdeka, terutama ketika mereka merasa hanya menjadi buruh di negeri sendiri dan terusik di tanah sendiri. Rencana pembangunan pabrik semen di lahan mereka dirasa mengusik hak atas kepemilikan tanah mereka.

Icuk, salah satu anak tokoh Sikep Mbah Tarno (almarhum), mengkritik pejabat yang memaknai merdeka sebagai merdhil koyone. Artinya, seorang ketika menjadi pejabat bukannya memikirkan warganya, tetapi mencari keuntungan untuk menutup modal yang sudah dikeluarkan.

Banyak nilai leluhur yang dilupakan, terutama oleh orang-orang politik yang dinilainya tega ”memolitiki” bangsa sendiri. ”Kamardikan kuwi kudu iso naati perikemanusiaan. La, wong karo bangsane dhewe dho tegel-tegelan kok dikon nindakake perikemanusiaan (Merdeka itu seharusnya bisa menaati perikemanusiaan. Akan tetapi, bagaimana, dengan bangsa sendiri saja tega kok disuruh berperikemanusiaan),” kata Icuk.

Dalam hal penegakan hukum, Icuk bahkan memuji pemerintah kolonial Belanda. ”Zaman Belanda kuwi ono wong mek godhong jati wae ditahan. Nek saiki, pencurian, ojo kok godhonge, dangkelane wae entek,” kata dia.

Artinya, pada zaman Belanda orang yang mencuri daun jati saja ditahan. Beda dengan sekarang, apalagi cuma daunnya, bahkan pencurian hingga ke akar-akar jati (dangkelane) pun tidak ditahan. Bagi Icuk, dalam hal penegakan hukum, Belanda jauh lebih tegas.

Saat ini, tambahnya, pembuat undang-undang (UU) justru menjadi pelanggar UU. Pembuat UU justru mengajari orang yang tak mengerti UU untuk melanggarnya.

Apa yang dapat dipelajari dari Sedulur Sikep? Mengapa masyarakat Sikep relatif patuh pada ajaran leluhur meski tak pernah menjadi hukum tertulis. Ojo bedhog colong, methil, bahkan nemu. Ojo drengki srei, panasten, dakwen, dan kemeren.

Membayangkan masyarakat mengadopsi nilai-nilai Samin barangkali merupakan hal yang mustahil. Yang menarik dan dapat diambil hikmahnya adalah ketika setiap individu memahami hukum tak tertulis itu dan berupaya menerapkannya.

Asep Rahmat Fajar, peneliti Indonesia Legal Roundtable yang sedang menempuh studi di International Institute for Sociology Law di Spanyol, menjelaskan, gap antara aturan tertulis dan pelaksanaannya seperti yang ada saat ini lebih disebabkan oleh adanya kegagalan dalam pembangunan subyek hukum (manusia). Padahal, penerapan hukum membutuhkan budaya hukum yang terpatri di dalam masyarakat. ***

Source : Kompas, Selasa, 3 November 2009 | 03:22 WIB

Kurikulum Kewirausahaan Akan Diterapkan Tahun 2010

Kewirausahaan Harus

Menjadi Karakter

Kurikulum Kewirausahaan Diterapkan di Sekolah Tahun 2010

JAKARTA - Kewirausahaan atau entrepreneurship bukan cuma diartikan keterampilan berbisnis. Lebih penting dari itu, kewirusahaan adalah sikap kreatif, inovatif, dan berani mengambil keputusan sehingga harus dijadikan sikap hidup bahkan karakter bangsa.

Demikian pokok pikiran yang terungkap dari pemikiran pengusaha yang juga tokoh pendidikan kewirausahaan, Ciputra; Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama; serta Sudrajat Rasyid, Deputi Mennegpora Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga. Para tokoh tersebut hadir dalam pembukaan Training of Trainers (TOT) Entrepreneurship yang dilaksanakan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) di Jakarta, Senin (2/11).

”Dulu saya berpikir lewat pendidikan sudah cukup untuk membuat Indonesia makmur. Tetapi kenapa hingga sekarang tetap saja kita terbelakang? Ternyata tidak cukup menguasai ilmu yang umum saja. Bangsa ini butuh orang-orang yang sanggup mengubah kotoran menjadi emas. Itu ada dalam spirit kewirausahaan,” kata Ciputra.

Menurut Ciputra, kewirausahaan itu bisa diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan. Kewirausahaan juga bisa mengatasi banyak persoalan bangsa, terutama kemiskinan dan pengangguran.

Jakob Oetama mengatakan, kewirausahaan bukan berhenti pada persoalan keahlian. ”Kewirausahaan mesti dikembangkan sebagai budaya dalam arti pembentukan sikap dan penanaman nilai-nilai hidup. ”Bangsa ini tidak butuh ornag-orang yang hanya bisa ngomong saja, tetapi butuh orang yang mau bekerja dan berbuat,” ujar Jakob.

Sudrajat Rasyid mengatakan, semangat kewiarusahaan itu mesti bisa jadi karakter atau budaya semua anak bangsa. Karena itu, perlu rekayasa ulang dalam bentuk pendidikan, pelatihan, serta metode mengembangkan kewirausahaan.

Antonius Tanan, Presiden UCEC, mengatakan, para peserta dalam TOT Entrepreneurship diharapkan bisa menjadi pengusaha dan menjadi pelatih pendidikan kewirausahaan.

Secara terpisah, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Depdiknas sedang menyusun kurikulum tentang kewirausahaan yang diharapkan selesai akhir Januari 2010 dan dapat dipraktikkan mulai tahun ajaran 2010/2011. ”Ini termasuk program 100 hari,” kata Nuh seusai rapat tingkat menteri hasil Rembuk Nasional 2009 di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. (ELN/LUK) ***

Source : Kompas, Selasa, 3 November 2009 | 04:32 WIB

Senin, 02 November 2009

Warga Miskin Indramayu Berharap Keadilan Bantuan Kemiskinan


KESEJAHTERAAN

Mereka Berharap Keadilan Bantuan Kemiskinan

Perlahan, Sami'in (40) menuruni sebuah pohon di pinggir jalan Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Ranting dan dahan kering yang dia patahkan dari pohon itu dipunguti dan dikumpulkan untuk bahan bakar tungku di rumahnya.

"Istri saya jualan gorengan. Kalau pakai gas, tidak akan menutup modalnya. Soalnya, harga gorengan di kampung cuma Rp 250 per buah, tidak bisa Rp 500 per buah seperti di kota," ujar Sami'in, Minggu (1/11).

Meski tidak cukup menutupi kekurangan hidup sehari-hari, hasil dari berdagang gorengan merupakan penghasilan tambahan untuk uang jajan kedua anaknya. Maklum saja, sebagai tukang becak, penghasilan Sami'in hanya Rp 20.000-Rp 30.000 per hari. Itu belum dikurangi biaya sewa becak dan ongkos pergi-pulang Krangkeng-Kota Cirebon, Rp 8.000 per hari.

Saat musim hujan dia bekerja menjadi buruh tani. Dari lahan garapan 300-400 ton dengan sistem maro (bagi hasil), penghasilannya bisa mencapai Rp 3,5 juta. Namun, itu harus dikurangi biaya tanam per musim Rp 2 juta.

Profesi ganda menjadi buruh tani sekaligus kuli harian atau tukang becak digeluti hampir seluruh buruh tani di Indramayu, seperti Rasmidi dan Rakiman, warga Desa Kalianyar, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Tak hanya itu, sejumlah buruh tani yang punya lahan menjual tanah-tanah di sawahnya Rp 20.000 per gerobak.

Penghasilan mereka sangat pas-pasan. Saban hari biaya hidup keluarga kecil di desa untuk membeli lauk-pauk, jajan, dan sekolah anak berkisar Rp 20.000. "Makanya, istri saya pergi jadi tenaga kerja wanita di luar negeri. Uang yang dia kirim setiap 4-6 bulan sekali jadi modal tanam," ujar Rasmidi.

Tidak utuh

Pemerintah memang punya program bantuan untuk orang miskin desa, tetapi sering kali bantuan itu tidak sampai atau tidak utuh. Bantuan benih atau obat-obatan pembasmi hama, misalnya, sering kali yang menerima justru petani mampu. Rumus yang sama berlaku pada program bantuan langsung tunai. Jatah yang seharusnya diterima keluarga miskin Rp 100.000, tetapi kenyataannya hanya Rp 30.000-Rp 50.000 per bulan per keluarga.

Sudah ada program bantuan modal pertanian dari Pemerintah Kabupaten Indramayu, ujar Rakiman, tetapi yang menerima juga bukan petani kecil atau buruh tani seperti dirinya. Bahkan, jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) yang menjadi hak mereka pun dikurangi. Setiap keluarga miskin seharusnya berhak memperoleh 15 kg raskin, tetapi mereka hanya menerima 4-5 kg per bulan.

"Kami menyebutnya bukan raskin, tetapi rasta, yaitu beras untuk dibagi rata. Orang yang jaya di desa juga menerima raskin. Lagi-lagi, orang miskin yang dirugikan. Jadi, kami hanya ingin bantuan untuk orang miskin sampai tepat sasaran," ujar Rakiman.

Keluhan Rakiman dan Sami'in sepertinya menjadi potret Kecamatan Krangkeng yang merupakan salah satu kecamatan dengan jumlah keluarga miskin terbanyak di Indramayu, yaitu 7.227 keluarga. Selama ini upaya pemerintah memberantas kemiskinan di pedesaan belum mereka rasakan secara langsung. Adanya oknum yang punya kekuasaan dan kekuatan menjadi penghalang bagi mereka mendapatkan keadilan bantuan tersebut. (TIMBUKTU HARTHANA)***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 13:26 WIB

Persoalan Kemiskinan di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat

Akar Kemiskinan Sulit Dicabut

Dana "Remittance" Digunakan untuk Kebutuhan Konsumtif

INDRAMAYU - Upaya memberantas kemiskinan di Kabupaten Indramayu tidak mudah karena terbelenggu faktor budaya yang membentuk pola kemiskinan kultural. Akibatnya, jumlah keluarga miskin terus bertambah, bahkan mencapai sepertiga dari total keluarga di kabupaten ini.

Tahun 2006, jumlah keluarga miskin yang tercatat 158.646 keluarga, sedangkan pada tahun 2008 bertambah menjadi 169.720 keluarga dari 506.000 keluarga di Indramayu. Apabila dihitung dari jumlah penduduk, lebih dari 25 persen jumlah penduduk Indramayu saat ini, 1,73 juta jiwa, tergolong rakyat miskin.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indramayu Apas Fahmi, Sabtu (31/10), mengakui, tidak mudah menghapus kemiskinan di Indramayu. Sebab, masyarakat menganggap kemiskinan adalah hal biasa dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, karakter masyarakatnya cenderung kurang kreatif bahkan malas.

"Budaya masyarakat agraris menjadikan angka kemiskinan di Indramayu tinggi. Kemungkinan sampai 40 persen keluarga di Indramayu tergolong kategori miskin. Oleh karena itu, yang harus diubah adalah pola pikir masyarakatnya," ujar Apas.

Kebiasaan menggelar hajatan besar-besaran dan budaya konsumtif masyarakat, ujar Apas, merupakan salah satu penyebab bertahannya angka keluarga miskin itu. Pola berpikir kreatif dan produktif belum banyak dimiliki warga Indramayu sehingga mereka cenderung bergantung pada alam, tanpa ada upaya lebih. Bagi mereka, tanpa modal, usaha produksi tidak bisa berjalan.

Kepala Seksi Statistik Sosial BPS Indramayu Caswandi mengatakan, petani adalah masyarakat yang paling rentan mengalami kemiskinan. Berdasarkan data BPS, sekitar 37 persen penduduk miskin di Indramayu adalah petani. Ketidakpastian kondisi pertanian, seperti bergantung pada cuaca, pasokan pupuk, serangan hama, dan ketersediaan air, menyebabkan rendahnya kesejahteraan petani.

Konsumtif

Melihat luas lahan pertanian Indramayu yang mencapai 120.000 hektar dan potensi hasil tangkap ikan di laut yang melimpah, seharusnya tidak ada rakyat miskin. Sayangnya, sempitnya rata-rata kepemilikan lahan, hanya 0,3 hektar, dan kebanyakan buruh tani, berakibat pada tingkat kesejahteraan yang mereka peroleh juga terbatas. Ironisnya, Indramayu merupakan lumbung padi nasional, tetapi hanya 30 persen produksi beras per tahun yang dikonsumsi masyarakat Indramayu. Sisanya dijual ke luar Indramayu.

Selain itu, meski aliran dana remittance dari warga Indramayu yang bekerja di luar negeri per tahun mencapai Rp 300 miliar, atau lima kali pendapatan asli daerah Indramayu, tetap saja angka kemiskinan masih tinggi. Sebab, besarnya dana yang masuk malah digunakan untuk membiayai kebutuhan konsumtif, seperti memperbaiki rumah dan membeli perabot rumah tangga, bukannya dipakai untuk kegiatan produktif.

Untuk pemberantasan kemiskinan, Pemerintah Kabupaten Indramayu telah melakukan sejumlah program, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Bantuan langsung yang berbentuk Program Keluarga Harapan bertujuan memberi bantuan pendidikan dan kesehatan kepada keluarga miskin bersyarat. Selain itu, ada juga Yayasan Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat Keluarga Miskin yang kini memiliki dana berkisar Rp 14 miliar untuk membantu menyejahterakan keluarga miskin.

Bentuk pemberantasan kemiskinan secara tidak langsung adalah dengan penyediaan dana pendidikan dan pengobatan gratis, serta membangun infrastruktur jalan desa. Setidaknya, kata Apas, 40 persen APBD Indramayu, Rp 1,2 triliun, untuk memberantas kemiskinan. (THT)***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 13:28 WIB

China Gelar KTT Media Sedunia

KTT Media Sedunia digelar di Balai Rakyat (Great Hall) China, 8-10 Oktober 2009. KTT diikuti 170 organisasi media dari sejumlah negara. (Foto : Kompas/Budiman Tanurejo)***

KTT MEDIA SEDUNIA

Upaya China Menarik Perhatian Dunia

Oleh : Budiman Tanuredjo

Bandara Internasional Capital Beijing sudah sepi ketika pesawat Singapore Airlines mendarat di Ibu Kota Republik Rakyat China, Rabu (7/10) tengah malam. Pesawat SQ boleh jadi adalah penerbangan terakhir yang mendarat di Bandara Capital Beijing setelah menempuh perjalanan 6 jam lebih dari Bandara Changi, Singapura.

Tampak beberapa petugas bandara masih menggunakan masker, khususnya di pos kesehatan. Virus H1N1 masih menjadi momok menakutkan bagi Pemerintah China. Setiap penumpang diwajibkan mengisi formulir yang berisi catatan kondisi kesehatan, termasuk rencana pengunjung yang akan tinggal di China. Alat pengukur suhu badan dipasang di jalur penumpang. Semuanya diperiksa detail!

Kedatangan saya ke Beijing adalah atas undangan Kantor Berita China, Xinhua, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Media Sedunia, 8-10 Oktober 2009. Konferensi itu dipusatkan di Gedung Balai Rakyat (Great Hall) China. Di luar bandara, Rhine, mahasiswa China, sudah menunggu untuk menjemput saya menuju tempat penginapan di Hotel Grand Beijing.

Grand Beijing adalah hotel mewah yang letaknya di pusat kota. Lokasi Hotel Grand Beijing tak sampai 500 meter dari Lapangan Tiannanmen yang pada tahun 1990-an kesohor sebagai tempat terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Sekitar 20 tahun lalu—tepatnya 4-6 Juni 1989—terjadi pembantaian mahasiswa prodemokrasi China oleh Tentara Pembebasan Rakyat.

Meski mata sudah mengantuk karena badan lelah, Rhine menjelaskan agenda acara KTT Media Sedunia. Di dalam mobil Audi yang hangat—temperatur diatur 23 derajat celsius, sementara suhu udara di luar 12 derajat—Rhine menceritakan kemajuan China. ”Negeri ini tetap komunis, tapi secara ekonomi maju,” ucapnya.

Perjalanan dari Bandara Capital Beijing hingga hotel ditempuh sekitar 45 menit. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan lampu-lampu jalan dengan berbagai hiasan, yang didominasi warna merah, masih menyala terang benderang. Gedung pencakar langit menjulang di sepanjang perjalanan dari bandara. Jalan-jalan tol menghubungkan satu tempat ke tempat lain di Beijing,

Pekan itu, Beijing memang sedang pesta. Ketika saya tiba, Beijing baru saja memperingati 60 tahun Republik Rakyat China yang dipusatkan di Lapangan Tiannanmen, 1 Oktober 2009. Selama satu pekan, 1-8 Oktober, dijadikan hari libur resmi. Lalu lintas masih ramai. Rombongan pejalan kaki masih memadati jalan raya itu. Rasa dingin tampaknya tidak memengaruhi para wisatawan tersebut. Mereka tetap berjalan-jalan di tengah malam. ”Ini jalan terbesar di Beijing,” ucap Rhine menjelaskan jalan raya di mana Hotel Grand Beijing terletak.

Pertama kali

Masih dalam rangka peringatan 60 tahun Republik Rakyat China itulah Beijing menggelar KTT Media Sedunia. Diskusi tentang KTT Media Sedunia itu diinisiasi sejumlah raksasa media dunia saat mereka bertemu di Beijing berbarengan dengan pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008.

Para inisiator KTT Media Sedunia itu adalah Rupert Murdoch (CEO News Corporation), Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger, Direktur Jenderal ITAR-TASS Vitaly Ignantenko, Direktur Divisi BBC Global News Richard Sambrook, Presiden Associated Press Thomas Curley, dan Presiden Kantor Berita Kyodo Satoshi Ishihawa. Mereka hadir kembali di Beijing dalam KTT sebagai co-chairman. Sedangkan sebagai pimpinan KTT adalah Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun.

Masa depan media di tengah krisis ekonomi global dan perkembangan teknologi komunikasi menjadi isu sentral yang dibawakan dalam KTT Media tersebut. Media memang sedang dihadapkan pada era yang berubah. Perkembangan teknologi komunikasi dan merosotnya perekonomian dunia mengharuskan pengelola media mengantisipasi masalah tersebut.

KTT Media Sedunia yang pertama kalinya diadakan di Beijing. Mereka yang hadir mayoritas adalah kantor berita, televisi, radio, dan surat kabar. Biasanya, pertemuan internasional mengenai media digelar oleh World Association Newspaper (WAN) yang berbarengan dengan World Editor Forum (WEF) yang pada 2009 diadakan di Hyderabad, India, 30 November-3 Desember 2009.

Selain saya dari Indonesia, CEO Antara Ahmad Muklis Yusuf, Wakil Pemimpin Redaksi Antara Akhmad Khusaeni, dan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan juga hadir dalam pertemuan yang difasilitasi Kantor Berita Xinhua itu. Semua delegasi diinapkan di Hotel Grand Beijing dan Hotel Beijing yang lokasinya bersebelahan.

Demi untuk menyukseskan KTT Media Sedunia, Rhine menjelaskan, Xinhua mengerahkan 200 tenaga sukarela untuk mendampingi tamu-tamu Xinhua dari 170 negara di berbagai belahan dunia. Seorang tenaga sukarela—mereka adalah mahasiswa China yang belajar berbagai bahasa, seperti Inggris, Perancis, dan Arab—dikerahkan untuk mendampingi para pemimpin media dan kantor berita sedunia.

Safari pidato

KTT Media dibuka oleh Presiden Republik Rakyat China Hu Jintao dan dilanjutkan dengan safari pidato dari Ketua KTT Li Congjun dan para Wakil Ketua KTT dari Rupert Murdoch hingga John Liu, Wakil Presiden Google Inc. Hari pertama KTT ditandai dengan safari pidato yang diawali dengan pidato pembukaan dari Presiden China Hu Jintao. Presiden Hu menyerukan organisasi media global untuk menyerukan perdamaian dunia dan pembangunan.

Presiden Hu juga berharap pertemuan akan membantu untuk memperkuat kerja sama di antara media global, memacu lahirnya media industri global, dan membangun saling pengertian yang mendalam serta persahabatan di antara bangsa-bangsa. Terhadap organisasi media internasional, Presiden Hu menjanjikan akan melindungi media internasional untuk melakukan peliputan di China sesuai dengan peraturan yang berlaku di China.

Hu juga mengatakan, tantangan dunia berubah akibat krisis finansial global, ketidakseimbangan pembangunan, krisis pangan, dan terorisme. Kondisi itu menuntut tanggung jawab bersama media untuk bersama membangun dunia yang harmonis, perdamaian abadi, dan kesejahteraan umum. Pandangan senada disampaikan Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun. Li mengangkat tema tanggung jawab sosial media.

Seakan merespons pandangan Hu Jintao dan Li Congjun, Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger justru meminta China untuk mengembangkan sistem ekonomi yang lebih transparan. Masuknya China dalam sistem keuangan global menuntut adanya transparansi dalam statistik serta data-data keuangan karena pasar keuangan global menuntut data yang pasti dan bukan berdasarkan rumor. ”Transparansi menjadi salah satu kunci,” kata Schlesinger yang meminta China untuk membuka akses lebih besar terhadap wartawan asing di China. Selama ini, kata Schlesinger, terjadi perbedaan perlakuan antara wartawan China dan wartawan asing di China.

Saat berbicara di forum tersebut, Rupert Murdoch yang menyebut forum KTT Media sebagai ”Olimpiade Media” justru mengangkat tema lain yang mengentak. Raksasa media dari Australia justru berteriak keras terhadap para agregator yang mengambil begitu saja berita tanpa membayar. ”Mereka harus membayar karena ikut menggunakan berita-berita yang kita buat,” ujar Murdoch di atas podium. ”Bila kita tak bisa mengambil keuntungan, maka kita akan mengalami kerugian dan para kleptomania akan senang,” ujarnya seraya menyebut GoogleNews. John Liu dari Google yang berada di sudut paling kiri meja panelis hanya tersenyum ketika Murdoch berteriak perlunya membayar untuk menggunakan berita.

KTT Media Sedunia itu sendiri ditutup 10 Oktober. Dalam pernyataan bersamanya, KTT Media menyerukan agar organisasi media dunia memberikan informasi yang akurat, obyektif, tidak berpihak, serta liputan yang berimbang dalam berbagai peristiwa dunia yang terjadi. Namun, pada sisi lain, KTT Media Sedunia juga harus terus mempromosikan perlunya transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah serta perlunya membangun saling pengertian antarbangsa.

Citra

Apa yang didapat dari KTT Media Sedunia? Dong Guan Peng, analis dari Tsinghua University, menyebut forum KTT Media Sedunia adalah sebuah forum bagi pimpinan media dunia, termasuk pemimpin China, untuk mengenal lebih dekat para pemimpin raksasa media global.

”China memang mempunyai masalah dalam citra tentang dirinya,” kata Dong Guan, sebagaimana dikutip The Strait Times. Dong mengemukakan, ”Saya yakin beberapa dari tokoh media yang diundang sebagian dari antaranya belum pernah ke China. Saya terkejut dan berharap setelah mereka melihat kondisi riil China, maka bias terhadap berbagai tulisan tentang China akan sedikit berkurang.”

Politik pencitraan boleh jadi menjadi salah satu agenda Pemerintah China, selain motif ekonomi. China memang dikenal tidak ramah dengan ide-ide Barat soal transparansi dan kebebasan pers. Pers di China dikontrol sepenuhnya oleh negara. Selama berada di Beijing, hampir semua saluran televisi adalah CCTV. Tak ada CNN, BBC, atau Al-Jazeera yang bisa dinikmati.

Namun, kemampuan China menghadirkan sejumlah raksasa media dunia dan pada tahun 2008 menggelar Olimpiade Beijing telah menunjukkan kesuksesan China mengubah pandangan dunia tentang Negeri Tirai Bambu tersebut. Lapangan Tiannanmen yang 20 tahun lalu dikenal sebagai ladang kekerasan bagi mahasiswa prodemokrasi China kini telah diubah sebagai tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan asing selain Tembok China.

”China memang sukses mengubah citra diri mereka,” ujar seorang delegasi Indonesia. Lautan manusia dari berbagai penjuru dunia—mayoritas berwajah oriental—yang berada di Tiannanmen bak penziarahan manusia. ”Itu semacam penziarahan,” ujar seorang wartawan dari Senegal.

KTT Media 8-10 Oktober itu ditutup dengan mengunjungi tempat ternama di China, seperti The Forbidden City dan Tembok China. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:40 WIB

China Ibarat "Naga" Dengan Lidah Api Yang Siap Melahap Pangsa Pasar Produk Teknologi Komunikasi

Perusahaan teknologi telekomunikasi di China, Huawei Technologies Co Ltd, menempatkan stan pameran di tempat pameran komunikasi dan nirkabel di Beijing, China, Kamis (17/9). Ribuan pengunjung memadati pameran teknologi telekomunikasi tersebut. (Foto : Kompas/Ferry Santoso)***

STRATEGI

China Lahap Pasar Telekomunikasi

Oleh : Ferry Santoso

China tidak hanya unggul menghasilkan produk-produk manufaktur, seperti barang-barang konsumsi rumah tangga, tetapi juga unggul dalam memproduksi teknologi telekomunikasi dan sudah menjadi ”pemain” dunia.

Saat ini China ibarat ”naga” dengan lidah api yang siap melalap dan melahap pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Salah satu perusahaan penyedia solusi jaringan teknologi telekomunikasi di China yang menguasai sebagian pasar dunia adalah Huawei Technologies Co Ltd.

Huawei Technologies—didirikan tahun 1988—bermarkas di kota Shenzhen, China. Sejak didirikan, Huawei Technologies mampu mengembangkan teknologi telekomunikasi dari jaringan infrastruktur telekomunikasi, perangkat lunak, sampai produk-produk telekomunikasi seluler, seperti modem atau telepon genggam.

Setelah 20 tahun berkiprah di sektor industri telekomunikasi di China, Huawei Technologies telah melayani 36 operator telekomunikasi dari 50 operator telekomunikasi di dunia. Hampir semua produk telekomunikasi Huawei sudah memasuki pasar negara-negara di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.

Misalnya Belgia, Perancis, Brasil, Arab Saudi, Ghana, Thailand, dan Rusia. Bahkan, di Eropa, Huawei Technologies telah dipilih oleh operator telekomunikasi di Skandinavia, Teliasonera, untuk memasok jaringan teknologi seluler generasi keempat (long term evolution/LTE).

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus merambah pasar dunia, menurut Kepala Komunikasi Perusahaan Huawei Technologies Ross Gan, nilai kontrak penjualan produk Huawei terus meningkat.

Sebagai gambaran, nilai kontrak penjualan produk Huawei Technologies tahun 2007 sebesar 16 miliar dollar AS. Tahun 2008, nilai kontrak penjualan Huawei Technologies mencapai 23,3 miliar dollar AS atau naik 46 persen. Tahun 2009, nilai kontrak ditargetkan mencapai 30 miliar dollar AS.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS tahun 2008 itu, sebanyak 75 persen merupakan kontrak dengan operator-operator telekomunikasi dunia. Sisanya, sebesar 25 persen, merupakan kontrak dengan operator di pasar China sendiri.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS itu, Huawei Technologies mampu menggaet nilai penjualan atau pendapatan 18,3 miliar dollar AS. Pendapatan bersih mencapai 1,15 miliar dollar AS pada tahun 2008.

engan nilai kontrak dan nilai penjualan yang besar, peran Huawei Technologies dalam perkembangan teknologi telekomunikasi dunia memang patut diperhitungkan, selain Ericsson dan Nokia Siemens Networks (NSN).

Menurut Ross Gan, Huawei Technologies ditargetkan mampu menempati peringkat ke-2 di dunia pada masa mendatang sebagai perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi seluler.

Mengapa produk dan teknologi telekomunikasi yang dikembangkan Huawei Technologies mampu menembus pasar dunia? Salah satu strategi industri adalah terus mengikuti evolusi perkembangan layanan teknologi telekomunikasi.

”Huawei Technologies memiliki komitmen untuk menghasilkan teknologi dan produk telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Ros Gan. Untuk itu, Huawei menghabiskan biaya 2 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan pada 2008.

Bahkan, Huawei Technologies juga membangun universitas sebagai tempat belajar dan latihan di kawasan industri Huawei Technologies di Bantian Longgang, Shenzhen, China. Di tempat itu, tenaga-tenaga profesional Huawei dari sejumlah negara dididik dan dilatih.

Dengan riset yang dikembangkan, produk yang dihasilkan Huawei Technologies tidak hanya terbatas pada produk telepon genggam atau perangkat teknologi telekomunikasi seluler, seperti code division multiple access (CDMA), global system for mobile communications (GSM), dan worldwide interoperability for microwave access (WiMax).

Huawei Technologies juga mengembangkan jaringan infrastruktur telekomunikasi dari modem sampai stasiun penghubung telekomunikasi seluler (base transceiver station/BTS) untuk operator telekomunikasi. Bahkan, Huawei juga telah mengembangkan perangkat jaringan telekomunikasi BTS generasi keempat, yaitu SingleRan.

Di Indonesia, Huawei Technologies, melalui PT Huawei Tech Investment, juga menyediakan produk telepon genggam, modem, dan BTS untuk operator telekomunikasi.

Sebagai contoh, Huawei Tech Investment telah mendukung operator telekomunikasi seperti PT Telkom, Indosat, Telkomsel, Exelcomindo Pratama, Bakrie Telkom, dalam sejumlah layanan telekomunikasi seluler, seperti CDMA, GSM, transmisi, datacom, dan terminal.

Ledakan pasar

Pangsa pasar telekomunikasi seluler pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar. Produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, berkecepatan tinggi, dan layanan yang variatif semakin menjadi kebutuhan pasar.

Bagaimanapun komunikasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Produk-produk teknologi telekomunikasi pada akhirnya terintegrasi dengan kebutuhan manusia sehari-hari dengan populasi di dunia mencapai miliaran jiwa.

Itu berarti pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi semakin menggiurkan. Kompetisi perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi, termasuk operator telekomunikasi, pun semakin ketat untuk meraih konsumen dan memberikan layanan yang prima.

Pihak manajemen Huawei Technologies memprediksi besarnya pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Diperkirakan, lebih dari satu miliar pengguna jaringan seluler dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga-lembaga riset di bidang telekomunikasi, seperti Ovum dan Yankee Group, juga memprediksi hal yang sama.

Seberapa besar pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi di dunia? Memang tidak mudah mendapatkan angka pangsa pasar produk telekomunikasi di dunia karena banyaknya produk teknologi telekomunikasi.

Akan tetapi, statistik dari Internet World Stats dapat memberikan sedikit gambaran. Dari data Internet World Stats yang diperbarui per Juni 2009, jumlah pengguna internet di dunia diperkirakan 1,66 miliar orang (24,7 persen) dengan perkiraan populasi 6,76 miliar orang.

Dari data Internet World Stats itu juga dicantumkan 20 negara dengan jumlah pengguna internet yang terbesar. Dari 20 negara itu—dengan perkiraan populasi penduduk 4,31 miliar orang—jumlah pengguna internet diperkirakan 1,27 miliar orang (29,5 persen).

Dari 20 negara itu, Indonesia menempati urutan ke-15. Dari jumlah populasi sekitar 240 juta orang, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang besar pada masa-masa mendatang, kebutuhan produk teknologi telekomunikasi, dari telepon genggam, laptop, komputer, modem, sampai jaringan infrastruktur telekomunikasi pun akan semakin besar.

Perusahaan atau industri penyedia solusi jaringan telekomunikasi, seperti Huawei Technologies, semakin gencar menawarkan produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, efisien, dan canggih. Perusahaan-perusahaan sekelas Huawei Technologies akan berkompetisi dalam memberikan layanan teknologi komunikasi di dunia.

Di Indonesia, pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, termasuk di daerah-daerah terpencil, semakin menjadi tuntutan.

Apalagi Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana sehingga peran telekomunikasi dan layanan informasi yang cepat sangat penting.

Operator-operator telekomunikasi, termasuk di Indonesia, diharapkan mampu mengembangkan infrastruktur telekomunikasi yang andal dan efisien.

Operator telekomunikasi diharapkan tidak hanya menawarkan produk-produk seluler yang murah untuk merebut pangsa pasar yang gemuk. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:37 WIB

Selandia Baru Negeri Harapan Para Imigran

Toko penganan Asia di Auckland, Selandia Baru, Juli 2009. (Foto : Kompas/Ida Setyorini)***

IMIGRAN

Wajah Asia di Selandia Baru

Oleh : Ida Setyorini

Tahun 2002, The National Business Review-HP Invest mengadakan jajak pendapat terhadap 750 warga Selandia Baru tentang imigran asal Asia. Hasilnya, 45 persen menyatakan terlalu banyak imigran Asia, 44 persen berpendapat jumlah imigran Asia sudah cukup, dan 5 persen menilai jumlahnya masih sangat sedikit. Namun, mengenai penduduk asal Timur Tengah, Australia, kepulauan di Pasifik, Afrika Selatan, dan Inggris, mayoritas berpendapat jumlah mereka sudah tepat.

Berdasarkan data Biro Statistik Selandia Baru tahun 2006, dari sekitar 4 juta penduduk Negeri Kiwi tersebut, sebanyak 3,21 jiwa adalah warga Eropa atau keturunan Eropa, 624.000 jiwa Maori, 404.000 jiwa Asia, dan 302.000 jiwa penduduk asal Pasifik. Biro tersebut memprediksi pertumbuhan populasi orang Asia di Selandia Baru bakal lebih tinggi ketimbang penduduk lainnya.

Diperkirakan penduduk asal Asia di Selandia Baru akan bertambah 3,4 persen per tahun hingga 2026. Jumlah mereka diprediksi mencapai 790.000 jiwa pada tahun tersebut. Adapun pertumbuhan penduduk asli Maori sebesar 1,4 persen selama 20 tahun ke depan sehingga populasi mereka menjadi 820.000 jiwa pada 2026.

Pada periode yang sama, pertumbuhan penduduk Selandia Baru keturunan Eropa hanya bertambah 0,3 persen per tahun sehingga populasinya meningkat dari 3,21 juta jiwa menjadi 3,43 juta jiwa. Adapun pertumbuhan penduduk dari kepulauan di Samudra Pasifik 2,4 persen per tahun dan jumlahnya mencapai 480.000 pada tahun 2026.

Dari data Asia:NZ Foundation, pada tahun 1986-2006, jumlah penduduk Selandia Baru yang lahir di Asia bertambah tujuh kali lipat dari 32.685 jiwa menjadi 248.364 jiwa.

Dari sisi jumlah, penduduk asal Asia dan Maori tidak terlalu jauh berbeda. Namun, dengan tingginya pertumbuhan penduduk Asia, yakni 3,4 persen per tahun, populasi mereka kemungkinan bakal menggeser jumlah penduduk Maori.

Di Selandia Baru, istilah imigran mengacu kepada orang-orang yang lahir di luar negeri tersebut dan memasuki Selandia Baru melalui beberapa program keimigrasian. Program tersebut adalah berdasarkan keterampilan atau bisnis, sponsor keluarga, dan masalah kemanusiaan atau internasional.

Kategori keterampilan berarti imigran memiliki kualifikasi, pengalaman kerja, dan kematangan usia prospektif, sedangkan bisnis berarti orang yang berimigrasi ke Selandia Baru memiliki usaha dan berpengalaman berbisnis serta mampu membuka lapangan kerja baru di Negeri Kiwi.

Untuk kategori sponsor keluarga, calon imigran harus memiliki sponsor dari keluarga dekat mereka untuk mengajukan aplikasi menjadi warga Selandia Baru. Sementara untuk kategori kemanusiaan berarti imigran mengalami masalah kemanusiaan serius di negara asalnya dan ada penduduk Selandia Baru yang mau menjamin.

Berdasarkan data Biro Statistik Selandia Baru, ada 30 grup etnis Asia yang tinggal di Negeri Kiwi. Terbesar tentu saja China, diikuti India dan Korea. Etnis Asia lainnya adalah Thai, Filipina, Jepang, Sri Lanka, Melayu, Kamboja, dan Vietnam.

Kedatangan orang China, India, dan Korea bertambah besar setelah perubahan dalam Undang-Undang Keimigrasian Selandia Baru tahun 1986. Perubahan itu adalah membuka lebar pintu masuk bagi imigran, tanpa memandang rasnya, yang memiliki keahlian profesional dan modal untuk berinvestasi.

”Di Selandia Baru, populasi orang China dan India yang lahir di Asia meningkat 800 persen,” kata James Penn, Direktur Bisnis Asia:NZ Foundation. Asia:NZ Foundation adalah organisasi nonprofit yang dibangun tahun 1994 dengan tujuan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang Asia kepada penduduk Selandia Baru.

Khusus untuk penduduk asal Kamboja dan Vietnam, secara besar-besaran mereka datang sebagai pengungsi pada tahun 1977-1992. Kini, kedatangan mereka karena mendapat sponsor dari keluarga yang sudah lebih dulu tiba di Selandia Baru.

Selain itu, orang-orang Asia juga datang ke Selandia Baru sebagai pelajar dan mahasiswa. Pada tahun 2001, dari total 52.700 pelajar yang membayar penuh untuk studi di negeri tersebut, 84 persennya berasal dari kawasan Asia. Jumlah terbesar berasal dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand.

Tingginya pertumbuhan populasi orang-orang Asia di Selandia Baru sampai-sampai menimbulkan sentimen dan antiAsia. Banyak yang meminta agar pemerintah menutup pintu bagi imigran Asia karena mereka umumnya enggan berbaur dengan masyarakat lainnya.

”Jika terus membiarkan mereka masuk, akan membahayakan karena mereka tidak ingin berintegrasi. Semakin besar jumlahnya, semakin tinggi pula risikonya,” kata Deputi Pimpinan First Party Selandia Baru Peter Brown pada Maret 2008.

Bagi kaum imigran, Selandia Baru adalah negeri harapan, negeri yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Dari segi luas negara, Selandia Baru menempati urutan ke-74 di dunia dengan 270.467 kilometer persegi. Lebih kecil ketimbang Filipina yang dua peringkat di atasnya dengan 300.000 kilometer persegi. Namun, jumlah penduduk Selandia Baru hanya sekitar 4 juta jiwa, jauh di bawah Filipina yang hampir 92 juta jiwa.

Data IMF

Pendapatan Domestik Bruto Selandia Baru pun bukan yang paling banyak di dunia. Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) 2009, Selandia Baru menduduki peringkat ke-53 dengan pendapatan 109.563 miliar dollar AS, setingkat di bawah Kuwait yang 114.878 miliar dollar AS. Sementara dalam daftar Bank Dunia 2008, Selandia Baru ada di posisi ke-52 dengan 130.693 miliar dollar AS, setingkat di bawah Kazakhstan yang 132.229 miliar dollar AS. Berdasarkan data Asia:NZ Foundation 2008, PDB Selandia Baru adalah 116,6 miliar dollar AS di peringkat ke-60, hampir sama dengan Kuwait, Maroko, dan Slowakia.

Namun, dari segi pendapatan per kapita, Selandia Baru terbilang makmur. Menurut data IMF 2009, pendapatan per kapita Selandia Baru mencapai 30.030 dollar AS per tahun dan berada di urutan ke-28, setingkat di bawah Yunani yang 32.105 dollar AS per tahun. Sementara Bank Dunia menempatkan Selandia Baru di urutan ke-23 dengan 30.614 dollar AS per tahun.

Bagi orang-orang Asia, Selandia Baru adalah lahan subur untuk menuai asa dan menggantungkan masa depan. Banyaknya imigran dan turis asal Asia adalah peluang untuk membuka usaha. Itu sebabnya di kota besar, seperti Auckland, mudah sekali menemukan restoran bercita rasa Asia. Paling banyak tentu saja restoran Korea, China, India, dan Jepang. Di luar itu bertebaran restoran yang menjual hidangan Thai, Vietnam, Melayu, dan Timur Tengah.

Selain restoran, imigran Asia juga banyak yang membuka usaha toko kelontong, seperti minimarket serta butik pakaian dan sepatu. Bahkan, banyak pemilik toko penjual cendera mata khas Selandia Baru berasal dari Asia, terutama China. Maklum, banyak produk khas Selandia Baru ternyata buatan Negeri Tirai Bambu.

Letak Selandia Baru yang di Samudra Pasifik relatif terisolasi dari negara-negara lain. Australia yang terdekat dapat ditempuh dari Auckland dalam waktu dua jam penerbangan. Namun, negeri ini tetap memiliki magnet kuat bagi imigran, termasuk dari Asia. Di mata imigran, Selandia Baru adalah negeri harapan untuk merengkuh kehidupan yang lebih baik dan aman. Di mata Selandia Baru, Asia adalah pasar potensial yang menjanjikan bagi produk-produk mereka. Tanpa mengetahui kebiasaan orang Asia, Selandia Baru bakal kesulitan mengembangkan produknya. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:38 WIB