Kamis, 21 Oktober 2010

PEGGY MELATI SUKMA Duta Topeng Nusantara

PEGGY MELATI SUKMA

Duta Topeng Nusantara

PEGGY MELATI SUKMA. (KOMPAS / SIWI YUNITA CAHYANINGRUM)***

Lama tak muncul di layar kaca, artis Peggy Melati Sukma (34) kini bergelut dengan dunia budaya. Peggy yang lahir di Cirebon kini menjadi Duta Topeng Nusantara yang membawa misi memopulerkan topeng di kancah internasional.

Sejak Sabtu (9/10) lalu, Peggy sudah sibuk wira-wiri (bolak-balik) dari Jakarta ke Cirebon. Minggu lalu ia memimpin anak-anak dan remaja membuat 5.031 topeng kreatif dalam sehari. Hasilnya? Rekor nasional pun terpecahkan.

Rencananya, dia akan mengundang 15 kedutaan negara sahabat untuk menyaksikan kirab budaya tiga keraton pada Sabtu (16/10) di Cirebon. Acara itu berlanjut dengan pentas kolaborasi delapan tari topeng dari Nusantara di Kuningan pada malam harinya.

Menurut Peggy, keterlibatannya dalam Festival Topeng Nusantara didasari atas keinginannya memopulerkan topeng Nusantara. Kebetulan, ia digandeng oleh Nani Taufik, Ketua Yayasan Prima Adrian Tana, menjadi penggagas Festival Topeng Nusantara itu.

”Ini adalah langkah awal untuk mengenalkan topeng di tingkat internasional. Langkah selanjutnya adalah menjadikannya sebagai salah satu warisan dunia dari Indonesia,” kata Peggy.

Peggy juga berharap festival ini bisa menjadi ajang dua tahunan untuk menarik wisatawan. (NIT)***

Source : Kompas, Kamis, 14 Oktober 2010 | 02:58 WIB

Festival Topeng Nusantara di Cirebon

PERGELARAN

Festival Topeng Nusantara di Cirebon

CIREBON - Kirab budaya tiga keraton dan panggung kolaborasi delapan tari topeng nusantara menjadi puncak acara rangkaian Festival Topeng Nusantara di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/10). Pemerintah Jawa Barat rencananya menjadikan festival topeng seperti ini sebagai agenda wisata tahunan karena berpotensi meningkatkan pariwisata.

Akhir pekan itu kirab budaya Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan) dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Kirab tersebut diawali dari Alun-alun Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, dan diikuti 150 prajurit dan pengawal sultan serta abdi dalem Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Keraton Kacirebonan dari daerah.

Prajurit yang terlibat adalah pasukan wiraraja atau pengawal raja, pasukan sarwajala atau pasukan laut, pasukan jalasutra atau pemanah, pasukan suranenggala yang bersenjatakan gada, dan pasukan teliksandi atau mata-mata.

Dalam kirab itu tiga replika kereta sultan dari tiga keraton juga diarak. Ketiga kereta tersebut adalah Kereta Singa Barong (Keraton Kasepuhan), Kereta Paksi Naga Liman (Keraton Kanoman), dan Kereta Juru Mudi (Keraton Kacirebonan). Dulu, Sultan memanfaatkan kendaraan semacam ini untuk menyiarkan agama Islam.

Arak-arakan juga diwarnai kelompok-kelompok kesenian tradisional, seperti Berokan dari Indramayu, Buroq dari Cirebon, serta liong dan barongsai dari Kota Cirebon dan Kuningan. Kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang belakangan sudah jarang dipertunjukkan.

Kirab berakhir di Gedung Negara Cirebon atau sekitar 4 kilometer dari Keraton Kasepuhan.

Sultan Kasepuhan XIV Raja Arief Natadiningrat mengatakan, kirab adalah sajian sejarah yang diharapkan mampu menggugah dan menumbuhkan semangat persatuan bangsa.

Mengomentari acara ini, Hubert Gijzen, Direktur Regional Asia Pasifik UNESCO, berharap topeng menjadi salah satu kekayaan Indonesia yang bisa dikembangkan sebagai potensi wisata. ”Ke depan, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan bersejarah, tetapi juga kultur di masyarakat setempat. Topeng adalah salah satu kekayaan kultur yang sangat potensial,” katanya mengingatkan. (THT/NIT)***

Source : Kompas, Senin, 18 Oktober 2010 | 04:20 WIB

Jumat, 17 September 2010

Mukhamad Kurniawan : "TENGGELAMNYA PETANI GUREM"

TENGGELAMNYA PETANI GUREM

Kekalahan Entung, Ancaman Lumbung Padi

Amah, petani di Desa Kedawung, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengais padi dengan ani-ani di lahan garapannya yang terserang wereng. Banyak petani di Karawang yang terbentur kebutuhan untuk hidup menggadaikan sawah mereka. (KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN)***

Oleh Mukhamad Kurniawan

Tanah subur, jaringan irigasi teknis, dan subsidi pemerintah nyatanya tak cukup untuk mengangkat hidup Entung (65). Puluhan tahun membanting tulang di sawah, ia akhirnya takluk oleh tuntutan kebutuhan hidup. Senasib dengannya, para petani gurem lain di Karawang, Jawa Barat, pun kian gamang menghadapi perkembangan zaman.

Hingga tahun 2000-an, Entung adalah aktivis petani di wilayahnya. Ia menjabat Ketua Kelompok Tani Sri Rahayu di Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok; pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan Rengasdengklok; juga aktif di organisasi petani lain.

Dengan beberapa ”kendaraan” itu, Entung aktif membela petani, seperti saat menentang kebijakan impor beras, kenaikan harga pupuk, atau soal harga gabah yang terpuruk.

Akan tetapi, kebutuhan keluarga mengubur aktivitas itu. Lahan seluas 2,5 hektar (ha) warisan orangtua, termasuk milik Tati (62), istrinya, dijual seharga Rp 65 juta-Rp 70 juta per ha. Tahun 2004, ia tak punya sawah lagi. Entung pun memilih mundur dari beberapa organisasi dan sejak itu mengandalkan hidup dari anak-anaknya.

Pasangan Iwir (60)-Endeng (50) memiliki kisah yang nyaris sama. Ketiadaan uang untuk membayar biaya sekolah anak, berobat, dan kebutuhan dapur memaksa Iwir menggadaikan 1 ha sawahnya di Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, seharga Rp 15 juta tahun 1995. Hingga lima tahun kemudian, Iwir belum juga mampu menebusnya. Dan, keduanya harus bekerja serabutan sebagai buruh tandur (tanam), tukang ngarambet (pembersih rumput liar), atau buruh panen, sekadar untuk bertahan hidup.

Petani gurem lain di Karawang kebanyakan memperoleh lahan dari warisan orangtua.

Karena itu, kepemilikannya pun mengecil. Seperti Cholil (47), petani di Desa Sukasari, Kecamatan Purwasari, yang mewarisi 0,2 ha sawah. Dengan 0,2 ha, Cholil biasa memanen 1 ton gabah kering panen (GKP) per musim. Jika harga gabah Rp 3.000 per kg GKP, pendapatan kotornya Rp 3 juta. Dipotong ongkos produksi sekitar Rp 800.000, Cholil tinggal mengantongi Rp 2,2 juta untuk hidup hingga empat bulan. Artinya, pendapatan Cholil Rp 550.000 per bulan. Ini jauh di bawah kebutuhan hidup layak tahun ini (berdasarkan survei Dewan Pengupahan Kabupaten tahun 2009) sebesar Rp 1,262 juta per bulan atau upah minimum Kabupaten Karawang 2010 sebesar Rp 1,11 juta.

Pewarisan tanah dari orangtua kepada anak memicu fragmentasi. Sawah akhirnya tak mampu menopang hidup pemiliknya. Kini rata-rata kepemilikan sawah petani Karawang bahkan hanya 0,33 ha. Lumrah kalau petani menempuh jurus terakhir: menjual sawah warisan!

Amil Oyib (60), warga Desa Parakanmulya, Kecamatan Tirtamulya, menikmati betul kondisi itu. Beberapa tahun terakhir dia beralih profesi menjadi makelar lantaran banyak tetangganya yang berniat menjual atau menggadaikan lahan.

Kamis (2/9) siang, lima lokasi sawah milik empat tetangganya dia tawarkan. Luas lahan bervariasi, dari satu bahu (0,7 ha) hingga 4 ha dengan harga jual Rp 22.000-Rp 25.000 per meter persegi. ”Ayo Mas beli, biasanya enggak lama (1-2 bulan), sawah laku,” ujarnya menawarkan.

Ketidakseimbangan pendapatan dan beban kebutuhan hidup mendorong petani gurem menjual lahan. Akibatnya, mereka tidak hanya kian terjebak dalam kemiskinan, tetapi juga pada kekalahan karena kehilangan tanah. Ironisnya, mereka tinggal di daerah yang dikenal sebagai lumbung padi, Jabar!

Sejak pemerintah menetapkan 11.917 ha lahan di Karawang selatan sebagai daerah pengembangan kawasan, zona, dan kota industri tahun 1989, maraklah alih fungsi lahan pertanian. Selama 17 tahun, hingga tahun 2006, 2.502 ha sawah telah beralih fungsi untuk keperluan perumahan (1.213 ha), industri (947 ha), dan jasa (97,3 ha).

Perumahan selalu mendominasi kebutuhan lahan. Proyeksi kebutuhan rumah yang belum terpenuhi tahun 2010, berdasarkan kajian Badan Perencana Daerah Karawang, mencapai 117.959 unit, meningkat 54 persen dibandingkan tahun 2006 sejumlah 76.478 unit. Dengan asumsi setiap unit memerlukan 60 meter persegi tanah, butuh 707,7 ha lahan untuk membangun 117.959 rumah. Dengan produktivitas 7,32 ton GKP per ha (berdasarkan realisasi produksi musim tanam 2009/2010) dan rata-rata dua kali tanam setahun, kehilangan 707 ha sawah berarti kehilangan potensi produksi 10.350 ton GKP per tahun.

Dengan produksi padi yang mencapai lebih dari 1 juta ton GKP per tahun, Karawang adalah penyumbang sekitar 10 persen produksi Jabar; dan Jabar adalah salah satu provinsi utama produsen padi nasional. Terus berkurangnya lahan pertanian di lumbung padi berarti ancaman bagi ketahanan pangan dalam jangka panjang.

Koordinator Serikat Petani Karawang Deden Sofian berpendapat, dengan lahan rata-rata 0,33 ha, sulit bagi petani untuk bertahan hidup, bahkan jika pemerintah menyubsidi harga pupuk dan menyalurkan kredit usaha, sebab tanah merupakan faktor produksi kunci tak tergantikan.

Bupati Karawang Dadang S Muchtar beberapa kali sebenarnya sudah menegur soal rencana pengurukan dan alih fungsi sawah. Terhadap rencana pembangunan pelabuhan di pesisir utara Karawang pun, dia berharap tak ada sawah irigasi teknis yang dikorbankan.

Namun, mempertahankan sawah bukanlah perkara mudah....

Source : Kompas, Kamis, 16 September 2010 | 04:18 WIB

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • Fitriifah Lat

Kamis, 16 September 2010 | 16:59 WIB

Kenapa ya berita seperti ini sering terjadi, pemerintah please beri perhatian lebih tdh masalh rakyat dong

Balas tanggapan

  • wilarno setiawan

Kamis, 16 September 2010 | 10:17 WIB

Apakah UU No 41 tahun 2009 tentang "Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan" akan mampu mensiasati proses alih fungsi lahan pertanian pangan secara efektif? Das sollennya tentu bisa.

Balas tanggapan

Maria Hartiningsih : Sepotong Perjalanan Zahidul Huque

Sepotong Perjalanan Zahidul Huque

DOKUMENTASI UNFPA

Oleh Maria Hartiningsih

Dr Zahidul Huque duduk bersila di lantai lembab beralaskan plastik di ruang depan rumah kos di bilangan Harmoni, Jakarta. Ia mendengarkan keluhan Devi dan kawan-kawannya kelompok transjender, dikenal sebagai wanita-pria atau waria. Lulu (26) dari Srikandi Sejati, organisasi nonpemerintah dari, oleh, dan untuk waria, sebagai penerjemah.

Tak hanya sekali-dua, Kepala Perwakilan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) untuk Indonesia itu mengunjungi kelompok-kelompok berisiko tertular dan menularkan infeksi menular seksual, baik karena persoalan seksualitas dan orientasi seksualnya maupun sebab lain, termasuk kemiskinan dan ketidaktahuan.

Selama bertugas di Indonesia sejak empat tahun lalu, Zahidul secara berkala pergi ke lapangan, khususnya ke wilayah kumuh dan padat. Mengunjungi klinik kesehatan reproduksi di berbagai pelosok dan sekolah yang punya prakarsa cerdas mengembangkan pendidikan kesehatan reproduksi adalah agenda wajib.

Ia mengunjungi mereka yang berada pada stadium akhir penyakit-penyakit oportunistik akibat hilangnya kekebalan tubuh oleh virus HIV/AIDS. Ia mendengar langsung praktik diskriminasi, termasuk dalam pelayanan kesehatan terhadap mereka yang dianggap ”liyan”. Ia memahami relasi kuasa yang timpang yang membuat posisi perempuan dan kesehatan reproduksinya dipertaruhkan.

Mitra setara

”Kita tak bisa bekerja hanya dengan membaca laporan, menandatanganinya, atau berdialog dengan orang-orang penting,” ujar Zahidul yang ditemui pada hari terakhir di kantornya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

”Itu juga penting.” Ia melanjutkan, ”Tetapi yang lebih penting berbicara langsung, mendengarkan aspirasi, dan melihat kondisi sebenarnya mereka yang membutuhkan dukungan kita. Wilayah isu kita menyangkut keseharian hidup dan itu sangat emosional. Dengan demikian, kerja advokasi kita menjadi jauh lebih kuat.”

Zahidul meyakini, manusia, seberapa pun lemah posisinya dalam struktur sosial, senantiasa memiliki daya hidup. Berbagai program pemberdayaan membantu agar mereka mampu mengidentifikasi potensi, kekuatan, dan kelemahannya.

”Kemudian kita bekerja bersama membangun dan mengembangkan program atas dasar apa yang mereka temukan sebagai kebutuhan mereka. Yang memutuskan bukan kita di Jakarta. Jadi, ’sekadar tahu’ tak cukup.”

Informasi langsung dari bawah sangat dibutuhkan para pembuat kebijakan sebagai bagian dari mekanisme umpan balik. Suara mereka harus didengar dalam proses pengambilan keputusan dan penyusunan program.

”Kita harus mengubah pendekatan pada masa lalu dan memperlakukan penerima dukungan kami sebagai mitra setara.” Ia menyambung, ”Itu berarti kita harus mengembangkan strategi yang berbeda. Semua ini mengubah mindset kita, para kolega, dan pemerintah.”

Memulai karier sebagai dokter yang mengelola 10 klinik berbasis komunitas di pedesaan Banglades, ia paham benar, strategi itu tidak baru. Pada 1978, gerakan berbasis komunitas dalam program kesehatan dasar sudah dilakukan. Baru 30 tahun kemudian dihidupkan lagi karena diyakini hanya gerakan ini yang mampu membuat suatu program dukungan berkelanjutan.

Namun, ada hal yang lebih personal. ”Dengan menemui mereka, saya bisa merasakan perasaan mereka. Ini seperti perjalanan spiritual.”

Tragedi

Zahidul yang mempromosikan program kesehatan dan pengembangan masyarakat melalui pendekatan ”Desa Sehat” dan bergelut dengan isu kesehatan reproduksi di banyak negara menghadapi berbagai peristiwa menyentuh.

”Kelahiran anak seharusnya menjadi saat yang membahagiakan. Lalu, mengapa perempuan harus meninggal ketika melahirkan?”

Perempuan yang meninggal saat melahirkan itu kebanyakan miskin dan tak mendapat akses pelayanan kesehatan. Meski ada soal budaya dan alasan ideologis, ia juga melihat soal lain, seperti kurangnya tenaga kesehatan di pedesaan, pelayanan yang kurang ramah di rumah sakit, dan birokrasi yang berbelit.

Tragedi personal itu hampir tak pernah ditengarai sebagai persoalan sehingga kematian ibu sulit dibendung. ”Dengan komitmen dan kehendak politik yang kuat akan menjamin tak ada kehamilan tak dikehendaki, tak ada komplikasi yang terlambat dibawa ke rumah sakit, dan kematian ibu melahirkan menjadi nol.”

Ia punya banyak pengalaman terkait kematian ibu, di antaranya di Banglades, Mongolia, dan Sudan. ”Yang terburuk adalah ketika terjadi pendarahan hebat dan Anda tak punya mekanisme menghentikannya. Kalaupun diberi transfusi, semua sudah terlambat. Banyak kematian di rumah sakit disebabkan keterlambatan.”

Ia melanjutkan, ”Ketika tak bisa melakukan apa pun untuk membantu, ada perasaan pedih yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ini sekaligus seperti tidak berharga karena Anda ingin menyelamatkan seseorang, tetapi tak bisa melakukannya karena sudah terlambat dibawa ke rumah sakit. Meski banyak juga kejadian di mana saya bisa menyelamatkan mereka. Mereka bahagia, saya juga bahagia.”

Tantangan

Ayah satu anak itu memahami perjalanan bangsa ini di bidang pembangunan dan kependudukan, yang sempat menjadi contoh banyak negara, termasuk Banglades. Menurut dia, Presiden Soeharto memiliki komitmen kuat dalam program Keluarga Berencana meski sangat terpusat, koersif, dan mengundang banyak kritik.

”Tetapi, ia membangun infrastruktur yang memang dibutuhkan negara yang secara geografis terdiri dari banyak pulau,” ujarnya.

Sayangnya, kondisi itu kini lemah. Setelah otonomi daerah, komitmen itu ada di tangan kepala daerah yang kepentingan politiknya berbeda-beda. Demokrasi belum dipahami secara substansial. Padahal, ada sekitar 17.000 pulau dengan kondisi sangat beragam dan kualitas pelayanan yang juga beragam.

”Kalau tantangan ini tidak dijawab, Indonesia akan sulit menurunkan angka kematian ibu,” ujarnya. ”Perhatian pada pendidikan dan kesehatan perempuan sangat penting untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik,” ucapnya.

Di luar isu yang menjadi bidang perhatiannya, Zahidul terkesan pada ketekunan dan kesabaran masyarakat Indonesia meski kehidupan sungguh tak mudah. ”Ada kekerasan, tetapi kondisinya sangat berbeda dengan kekerasan di wilayah Asia Selatan.”

Di Ankara, Turki, tempatnya bertugas untuk empat tahun ke depan, ia akan menghadapi gambaran kekerasan yang berbeda; bagian perjalanan yang akan memperkaya pengalaman batinnya....

***

Zahidul Huque, MD, PhD
• Lahir: Banglades, 1 Juli 1954
• Pendidikan:
- MBBS (setara dokter atau MD di AS) dari Rajshashi Medical College, Banglades
- Master dan PhD dalam kesehatan masyarakat dari John Hopkins University, Baltimore, AS
• Karier: 1992 bergabung dengan UNFPA, bertugas di Mongolia, Sudan, Filipina, dan Indonesia

Source : Kompas, Jumat, 17 September 2010 | 03:38 WIB

Sabtu, 28 Agustus 2010

Hidup Berdampingan dengan Anak Krakatau

TANAH AIR

Hidup Berdampingan dengan Anak Krakatau

Peserta pawai budaya dalam rangka Festival Krakatau XX di Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (24/7). Festival Krakatau merupakan agenda untuk mempromosikan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sebagai tempat wisata. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)***

Oleh Wisnu Aji Dewabrata dan Yulvianus Harjono

Titik hitam di laut yang tampak dari Pelabuhan Canti, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Minggu (25/7), mulai menunjukkan bentuknya. Titik hitam itu adalah Kapal Motor Batanghari, salah satu kapal yang berlayar dari Pulau Sebesi ke Canti. Kapal yang panjangnya sekitar 5 meter itu sarat dengan penumpang dan barang. Barang berukuran besar, seperti sepeda motor, diletakkan di atap kapal. Sementara penumpang duduk lesehan di dalam kapal, di atap, dan di anjungan kapal.

”Kalau mau ke Gunung Anak Krakatau, harus carter kapal. Soalnya tidak ada kapal ke Gunung Anak Krakatau, yang ada cuma ke Pulau Sebesi,” kata Ismail (49), pemilik warung makan di Pelabuhan Canti.

Setiap hari ada dua kali jadwal pelayaran, yaitu pukul 07.30 dari Pulau Sebesi ke Canti dan pukul 13.30 dari Canti ke Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi adalah pulau berpenghuni yang letaknya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Perjalanan naik kapal dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau hanya 1,5 jam (sekitar 36 kilometer). Dari Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau dapat terlihat samar-samar.

Pulau Sebesi terdiri atas empat dusun yang tergabung dalam satu desa, yaitu Desa Tejung Pulau Sebesi. Desa tersebut masuk Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Menurut Kepala Desa Tejung Pulau Sebesi Syahroni, luas Pulau Sebesi sekitar 2.350 hektar. Jumlah penduduk mencapai 2.727 orang atau sekitar 850 keluarga.

”Setahu saya, Pulau Sebesi sudah dihuni sejak tahun 1950-an. Ayah saya lahir di Pulau Sebesi dan kakek saya dimakamkan di Pulau Sebesi,” kata Syahroni.

Pasrah dan waswas

Pasrah dan waswas, demikian perasaan warga Pulau Sebesi karena rumah mereka begitu dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Apabila Gunung Anak Krakatau meletus, yang pertama kali tersapu adalah Pulau Sebesi.

Perasaan pasrah dan waswas itu mendorong warga Pulau Sebesi untuk selalu melakukan doa bersama di Gunung Anak Krakatau sekali setahun.

Siang itu, Minggu (25/7) pukul 13.30, puluhan warga Pulau Sebesi baru selesai melaksanakan doa bersama di hutan yang berada di kaki Gunung Anak Krakatau.

Doa bersama diawali dengan shalat dzuhur berjamaah, dilanjutkan membaca Surat Yasin dan membaca tahlil yang dipimpin imam masjid Pulau Sebesi.

Menurut Rahman (47), tokoh masyarakat Pulau Sebesi, doa bersama di Gunung Anak Krakatau dulu dilakukan setiap bulan Maulud (bulan ketiga penanggalan Jawa). Sejak ada Festival Krakatau, doa bersama digelar pada saat festival berlangsung.

”Anak Krakatau ini gunung yang berbahaya. Jadi, kami berdoa bersama untuk keselamatan warga Pulau Sebesi,” kata Rahman.

Rahman menceritakan, dulu doa bersama selalu diikuti dengan upacara melarung kepala kerbau ke laut. Namun, sekarang warga tidak lagi melarung kepala kerbau karena pemborosan. Warga merasa cukup melaksanakan doa bersama secara sederhana.

Bekas kedahsyatan letusan Gunung Krakatau tahun 1883 masih dapat ditemui hingga kini. Hayun (38), warga Pulau Sebesi, mengungkapkan, warga sering menemukan perabotan dapur, seperti cobek dan gelas, saat menggali tanah. Perabotan itu dihanyutkan gelombang tsunami dan terkubur dalam tanah.

Hayun mengutarakan, rasa waswas selalu menghantui warga Pulau Sebesi, apalagi ketika Gunung Anak Krakatau mulai batuk-batuk. Terakhir, Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas tahun 2007 dan 2008 yang disertai keluarnya semburan asap, pasir, dan batu pijar.

”Waktu itu warga cemas, Gunung Anak Krakatau yang lagi batuk-batuk menimbulkan gempa kecil di Pulau Sebesi. Warga hanya bisa pasrah kepada Tuhan,” lanjut Hayun.

Untuk mengungsi meninggalkan Pulau Sebesi, kata Hayun, tidak mungkin karena kapal yang tersedia hanya belasan. Selain itu, warga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Pulau Sebesi sehingga enggan meninggalkan Pulau Sebesi.

Pariwisata menggeliat

Selain mengandalkan perkebunan dan perikanan sebagai mata pencarian, warga Pulau Sebesi mulai serius menggeluti bisnis pariwisata. Di Pulau Sebesi ada tiga vila dan 12 rumah penduduk yang dapat disewa untuk homestay. Dalam seminggu ada 20-40 wisatawan datang ke Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi dan sekitarnya memiliki banyak obyek wisata dan letaknya strategis. Pulau Sebesi memiliki daerah perlindungan laut (DPL) yang terumbu karangnya terjaga dan pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau. Tidak ada hambatan komunikasi menggunakan telepon seluler di Pulau Sebesi, bahkan jaringan internet tanpa kabel pun tersedia.

Terumbu karang di sekitar Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau merupakan surga bawah laut bagi penyelam. Warga Pulau Sebesi sudah bisa menjadi pemandu para penyelam.

Sayangnya, semua potensi itu belum maksimal karena keterbatasan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Pulau Sebesi. Warga masih mengandalkan genset atau panel surya bantuan pemerintah yang alatnya sudah mulai usang.***

Source : Kompas, Sabtu, 28 Agustus 2010 | 03:01 WIB

Minggu, 22 Agustus 2010

Kota Tua Tambang Sawahlunto

Kota Tua Tambang Sawahlunto

Tujuh anak muda bercengkerama menunggu senja menutup hari di kawasan Saringan, akhir Juni lalu. Duduk di atas rel kereta yang sudah berkarat dan kayu yang lapuk tak mengurangi canda tawa mereka. Kawasan Saringan dibangun tahun 1900-an untuk memproses batu bara sebelum dibawa ke Teluk Bayur dengan menggunakan lokomotif uap.

Kawasan Saringan adalah satu dari 16 tempat bersejarah yang terpelihara dengan baik dan bisa dikunjungi di Sawahlunto. Sawahlunto menjadi terkenal karena batu bara setelah Willem Hendrik de Greve, peneliti batu bara dari Belanda, menyelidiki kemungkinan adanya batu bara di kawasan Sungai Ombilin, Sawahlunto, pada 1868. Penambangan pertama pun dilakukan pada tahun 1880.

Kota tambang tersebut berjarak sekitar 90 kilometer dari Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Sejumlah bangunan tua peninggalan Belanda masih menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran, dan aneka kios makanan hingga warnet.

Orang rantai, sebutan untuk orang-orang hukuman yang bekerja di tambang, bisa ditelusuri jejaknya di lubang tambang Mbah Soero. Tak jauh dari lubang Mbah Soero terdapat Museum Goedang Ransoem yang dulunya merupakan dapur umum yang dibangun pada tahun 1918 untuk menyuplai makanan bagi para pekerja tambang batu bara dan pasien rumah sakit. Rumah Pek Sin Kek, bangunan ini dibangun pada tahun 1906 dan pernah digunakan sebagai gedung teater, merupakan tempat perhimpunan masyarakat Melayu dan pabrik es. Wisata tambang bisa ditutup dengan naik kereta api Mak Itam dari Sawahlunto-Muarokalaban (pp), perjalanan menembus bukit, dan memasuki terowongan gelap sepanjang satu kilometer. (Agus Susanto)***

Source : Kompas, Minggu, 22 Agustus 2010 | 03:27 WIB

DEBORAH Bahagia dalam Seni

DEBORAH Bahagia dalam Seni

Berasal dari Amerika Serikat dan sempat meniti karier sebagai bankir selama bertahun-tahun, Deborah Iskandar (47) akhirnya tercebur dalam dunia seni rupa di Indonesia. Dan, dia menikmatinya. Katanya, ”Saya bahagia hidup bersama karya-karya seni rupa yang indah, dan menjadi bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia.”

Deborah adalah managing director kantor perwakilan Sotheby’s di Indonesia. Lembaga ini aktif menggelar lelang internasional di beberapa kota besar, seperti New York, London, dan Hongkong. Lelangnya mencakup karya seni rupa, wine, barang antik, perhiasan, atau furnitur.

”Dari semua itu, saya lebih menyukai lukisan,” katanya.

Sosok perempuan langsing berambut pirang ini memang akrab di kalangan dunia seni rupa di Indonesia. Kalangan seni rupa tentu kerap bertemu dengannya. ”Dalam seminggu setidaknya saya melihat dua sampai tiga pameran. Kadang, hampir setiap malam.”

Ngobrol dengan Deborah di kantornya, di Jalan Sudirman, Rabu (18/8) lalu, menyenangkan. Perempuan ini ramah, renyah, dan terbuka. Pagi itu, dia mengenakan gaun terusan pendek warna merah terang.

Dia bercerita panjang lebar tentang kegiatannya sambil menunjukkan sejumlah katalog atau lukisan yang terpasang di dinding kantor yang berudara dingin itu.

Sebagai pengurus balai lelang, dia getol mencari para kolektor yang hendak membeli atau menjual karya seni lewat lelang. Lelang kemudian mencari penawar harga tertinggi. Lewat proses ini, nama seniman Indonesia melejit setelah harga karyanya terdongkrak naik.

I Nyoman Masriadi, seniman asal Bali, contohnya. Awal tahun 2000-an, harga lukisannya masih sekitar Rp 25 juta. Tahun 2008, harganya sudah melonjak jadi sekitar 250.000 dollar AS (sekitar Rp 2,5 miliar), kemudian menjadi 1 juta dollar AS (sekitar Rp 1 triliun) lebih.

Harga lukisan

Dengan kisaran harga berbeda, beberapa seniman lain juga diuntungkan pasar, katakanlah seperti Putu Sutawijaya, Handiwirman Saputra, atau Agus Suwage. Kenapa harga lukisan bisa melenting begitu tinggi?

”Itu dinamika pasar, yang dipengaruhi nama seniman, kualitas karyanya, dan tingkat kesulitan mendapatkan karya,” katanya.

Lewat proses semacam ini, akhirnya balai lelang ikut mempercepat masuknya seni rupa kontemporer Indonesia ke dalam pasar internasional. Hanya saja, sebagian pengamat seni khawatir, iming-iming pasar bisa menggoda seniman muda untuk meniru gaya lukisan yang laku di pasaran.

Bagi Deborah, situasi itu menggambarkan sisi positif-negatif, sebagaimana dimiliki hal-hal lain. ”Mungkin pada awalnya seniman muda meniru tren pasar, tetapi lama-lama mereka dapat menemukan bahasa visualnya sendiri. Kadang harga di pasar juga turun sebagai koreksi.”

Perempuan ini mengaku senang bisa menjadi bagian dari perkembangan seni rupa Indonesia. ”Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk melihat karya seni. Saya merasa bahagia hidup saya dikelilingi sesuatu yang indah.”

Deborah mengaku tidak berasal dari lingkungan seni. Latar belakang pendidikannya di Amerika justru di bidang akunting dan hukum. Selesai kuliah, tahun 1988, dia hijrah ke Hongkong dan bekerja sebagai seorang bankir.

Di negeri itulah, dia mulai kepincut dengan seni rupa. Awalnya dia tertarik untuk mengamati dan mengoleksi lukisan kontemporer Rusia. Beberapa waktu kemudian dia ikut menyelenggarakan pameran lukisan.

”Saya belajar dengan banyak melihat karya seni, membaca buku-buku seni. Itu memungkinkan karena lukisan itu visual,” katanya.

Tahun 1991, perempuan ini pindah ke Indonesia, masih sebagai seorang bankir. Kecintaannya pada dunia seni makin kental saat dia menjadi partner sebuah galeri seni di New York, Amerika Serikat. Lima tahun kemudian, dia menerima tawaran untuk menangani suatu balai lelang internasional di Jakarta.

Sejak awal tahun 2009, dia dipercaya sebagai managing director Sotheby’s di Jakarta. Deborah semakin masuk dalam arus perkembangan seni rupa Indonesia. Dia mengaku sangat menikmati dunia yang mulai digelutinya lebih dari 20 tahun itu.

”Saya beruntung karena punya pekerjaan yang memang menjadi hobi saya.” Sampai kapan Anda terus menekuni dunia seni? ”Saya tak akan pernah berhenti. Bahkan, saat libur pun, saya masih mengunjungi museum seni, baca buku seni. Ini sangat menggairahkan.” (ILHAM KHOIRI)***

Source : Kompas, Minggu, 22 Agustus 2010 | 04:00 WIB

Senin, 09 Agustus 2010

MAESTRO TARI : Jenazah Mimi Rasinah Dikebumikan

MAESTRO TARI

Jenazah Mimi Rasinah Dikebumikan

Suasana pemakaman maestro tari topeng Indramayu, Mimi Rasinah, Minggu (8/8). Rasinah dimakamkan di pemakaman keluarga Kampung Ciweni, Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pemakamannya dihadiri sejumlah seniman, tokoh masyarakat, dan warga. (KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM)***

INDRAMAYU - Maestro tari Mimi Rasinah dikebumikan di makam keluarga Kampung Ciweni, Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Minggu (8/8) sekitar pukul 09.00. Petang harinya, Aerli, cucu Rasinah, sudah kembali naik pentas di Cirebon meski tanpa Rasinah.

Jasad Rasinah, yang wafat sehari sebelumnya, dilepas oleh kerabat, warga, seniman, budayawan, dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Indramayu. Topeng Klana warna merah yang biasa dipakai Rasinah manggung serta potretnya sedang menari disandingkan di nisannya.

Aris Tarmidi, perwakilan keluarga Rasinah, mengatakan, keluarga akan meneruskan pesan almarhumah untuk menghidupkan sanggar dan tari topeng Indramayu.

Aerli yang selalu tampil mendampingi sang nenek di panggung juga telah bangkit dari kesedihannya. Setelah upacara pemakaman neneknya, ia dan rombongan penari serta nayaga berangkat ke Cirebon untuk tampil dalam Festival Topeng Nusantara 2010 di halaman Gedung Ciayumajakuning, Cirebon.

”Tadi malam saya bermimpi ketemu Mimi lagi, yang meminta saya untuk terus menari tanpanya,” kata Aerli.

Aerli sempat ragu untuk tampil di Cirebon karena ketiadaan Rasinah. Tarian Panji Rogoh Sukma memang harus melibatkan tiga generasi penari, yakni Rasinah, Aerli, dan anak-anak sanggar yang diasuhnya. Akhirnya, meski tanpa Rasinah, tari itu tetap dibawakan oleh Aerli.

Keluarga juga akan menjalankan amanat Rasinah untuk meluaskan sangar tari. ”Itu pesan Mimi, pasir dan batu sudah kami kumpulkan sedikit-sedikit,” ujar Edi Suryadi, kakak Aerli.

Harta karun

Budayawan Indramayu, Supali Kasim, menyebut Rasinah adalah harta karun yang lama terpendam di bawah samudra. Setelah generasi tari topeng Cirebon, dari Ibu Suji, Ibu Dewi, hingga Ibu Sawitri, kemunculan Rasinah adalah fenomena tersendiri.

Berbagai penghargaan diterimanya di tingkat kabupaten hingga internasional. Harta karun itu tidak hanya milik Indramayu, tetapi juga dunia internasional.

Untuk mengenang Rasinah, Pemkab Indramayu akan membuat monumen Topeng Rasinah. Menurut Tisna Hendarin, Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Indramayu, maestro tari itu pantas mendapatkan penghargaan karena ia berperan besar mengangkat kesenian tradisional Indramayu ke seluruh dunia. (NIT/DMU)***

Source : Kompas, Senin, 9 Agustus 2010 | 04:02 WIB

Supali Kasim : "In Memoriam" Mimi Rasinah

FORUM

"In Memoriam" Mimi Rasinah

Oleh SUPALI KASIM

Foto pada halaman utama Kompas, Kamis (5/8), berjudul "Semangat Mimi Rasinah" berbunyi "Meski stroke dan harus terduduk, maestro tari topeng Indramayu, Mimi Rasinah (80), tetap penuh semangat menari bersama cucu dan penerusnya, Aerli Rasinah (26), di Bentara Budaya Jakarta pada Pentas Seni dan Pameran 'Indramayu dari Dekat', Rabu (4/8) malam. Mimi Rasinah, yang kini hanya mampu menggerakkan tubuh bagian kanannya, adalah satu-satunya empu tari topeng Indramayu yang masih hidup."

Dua hari kemudian, Sabtu pukul 16.28, Mimi Rasinah meninggal dunia di RSUD Indramayu. Pada Minggu pukul 09.30 jasadnya dikubur di pemakaman Desa Pekandangan, 3 km dari Kota Indramayu. Foto karya fotografer Kompas, Lasti Kurnia, tersebut adalah foto terakhir. Tari kreasi Rogo Sukma bersama cucunya tersebut adalah tarian terakhir. Akan tetapi, pentas tersebut bukanlah pentas terakhir. Ia seakan-akan telah me-rogo-kan (mengambil) sukma tarinya untuk diberikan kepada cucu dan penerusnya. Sukma Rasinah pun tidak akan mati karena tari topeng gaya Dermayonan akan diteruskan puluhan anak didiknya.

Rasinah memang seorang mimi (ibu) bagi kehidupan tari topeng. Pahit-getir kehidupan topeng telah puluhan tahun dilakoni. Riuh gemerlap dan kosong sepinya pentas ia nikmati. Perjuangan melawan kepapaan telah ia jalani. Namun, ia juga dengan sabar dan ikhlas melahirkan, mendidik, membimbing, dan menuntun anak-anak generasi penerusnya. Mama Amat

Secara biologis, darah seniman Rasinah tidak terlalu kental. Namun, sejak usia remaja dan menikah dengan Amat, nayaga tari topeng dari keluarga seniman, Rasinah memang dikader menjadi penari topeng. Berbagai teknik tari dan menabuh gamelan harus dikuasai. Secara ideologis, apresiasi dilakukan lewat pengembaraan sukma sekaligus pembentukan raga.

Ia menjalani ritual puasa mutih (berpuasa dengan hanya makan nasi putih atau segelas air), ngetan (berpuasa, saat berbuka hanya makan nasi ketan), ataupun puasa wali (tidak makan dan tidak minum selama tiga hari atau tujuh hari dan seterusnya). Selama puluhan tahun kelompok tari topengnya berpentas dari kampung ke kampung dan dari desa ke desa untuk menghibur penonton dalam hajatan ataupun ritual desa.

Kekayaan filsafat dan cermin karakter manusia pada tari topeng agaknya tidak selalu beriringan dengan kesukaan masyarakat yang cenderung memilih jenis kesenian yang bersifat lebih menghibur, lebih wah, nge-tren, dan nge-pop. Sejak dasawarsa 1980-an tari topeng mulai jarang ditanggap. Keterpurukan itu makin menjadi ketika Mama (Bapak) Amat meninggal dunia. Rasinah seperti "di-PHK". Belasan tahun kemudian tari topeng tidak disentuhnya lagi.

Sobra, badong, dodot, kedok, dan busana kebesaran lainnya ia tanggalkan meski dengan dada sesak. Apalagi, para nayaga lainnya satu per satu meninggal dunia, sudah renta, atau mencari penghidupan lain. "Tari topeng hanyalah masa lalu. Sekarang, orang tak butuh tari topeng, tak ada yang nanggap," ujar Mimi Ras atau juga biasa dipanggil Mak Inah itu.

Endo dan Toto

Siapa sangka ketika sudah 15 tahun meninggalkan dunia tari, ia "dipaksa" menari lagi. Endo Suanda, Toto Amsar Suanda, dan pengajar STSI Bandung lain saat itu berkeras merayunya. Pertemuan yang tidak diduga, atas petunjuk Mama Taham, seniman tradisional pemimpin Sanggar Mulya Bhakti, Tambi, Sliyeg, Indramayu, yang juga memiliki kelompok nayaga tari topeng, menunjuk Rasinah sebagai salah satu penari yang masih tersisa di Indramayu.

Rasinah menolak. Ia merasa sudah tua, sudah belasan tahun tidak menari, sudah lupa dunia tari. Bahkan, dunia tari mengantarkannya kepada kepapaan materi. Pendapatan tidak menentu. Rumahnya pun hampir roboh. Akan tetapi, ketika gamelan topeng berkumandang yang ditabuh para nayaga Mama Taham, ia seakan-akan menemukan kembali dunianya yang hilang. Sebuah dunia tempatnya mengekspresikan karakter manusia lewat tari Panji, Pamindo, Tumenggung, ataupun Klana.

Ketika menari Klana, kerentaan usia 65 tahun tidak ada. Kakinya lincah mengentak-entak, berderap, menyepak-nyepak, ataupun berjalan dengan pongahnya. Nuansa kemarahan menyebar di sekelilingnya, tinggi hati, berkuasa, dan egois dengan kegarangan kumis hitam tebal, mata melotot, dan wajah merah. Ekspresi tubuh, tangan, kaki, kepala, hati, dan jiwa menyatu dalam karakteristik angkara murka.

Namun, adegan yang penuh ruh dan energi itu justru menjadi kontras saat tarian usai dan kedok penari dibuka. Wajah yang tersembul adalah perempuan renta, ringkih, keriput, bahkan (maaf) mata kirinya pun sudah cacat.

Harta karun

Endo, Toto, dan Mama Taham berhasil membawanya kembali ke dunia tari. Mereka membawanya kembali berpentas sampai ke Bandung, Jakarta, Solo, Bali, bahkan beberapa kota di Jepang. Undangan pentas seperti mengalir dari berbagai tempat, kota, dan negara. Kekayaan karakteristik topeng ia suguhkan dan banyak diapresiasi. Rasinah adalah harta karun yang lama terpendam di bawah samudra dunia.

Setelah generasi tari topeng Cirebon, dari Ibu Suji, Ibu Dewi, hingga Ibu Sawitri, kemunculan Rasinah adalah fenomena tersendiri. Berbagai penghargaan diterimanya, dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional. Harta karun itu bukan hanya milik Indramayu, Jawa Barat, dan Indonesia, melainkan juga dunia internasional. Dalam kerentaan menuju usia 80 tahun, stroke menyerangnya sekitar dua tahun lalu. Nama besarnya seakan-akan magnet bagi khalayak, terutama yang merasa ikut-ikutan membesarkannya. Menjelang momen pilkada Jabar 2008, berbagai tokoh politik, calon gubernur, dan wakil gubernur menjenguknya.

Kini menjelang pilkada Indramayu, 18 Agustus, saat ia meninggalkan pentas dunia, kerabat, keluarga, warga desa, wartawan, seniman, dan budayawan menjenguknya. Calon bupati dan beberapa pejabat ikut pula mendoakannya. Pemerintah Kabupaten Indramayu berencana membuat monumen dirinya.

Rasinah tentu tidak mungkin lagi menari Klana yang beraroma kesombongan dunia, keangkuhan penguasa, dan kepongahan sang angkara murka. Di pekuburan tepi pematang sawah itu mungkin terlintas ada tarian Panji yang halus dan lembut sebagai pengembaraan sukma yang impresif dan utuh, seperti bayi baru lahir dalam gambaran kedok putih-bersih. Selamat jalan, sang maestro.*** Foto-foto : dari berbagai sumber.

Source : Kompas, Senin, 9 Agustus 2010 | 15:30 WIB

Minggu, 08 Agustus 2010

Story : Petitih Hidup Keluarga Lengger

Story : Petitih Hidup Keluarga Lengger

Petitih Hidup Keluarga Lengger

Foto dan naskah: Dhoni Setiawan

Bedak seharga lima ribuan
menghiasi dua penari beda generasi. Dengan bantuan cermin kecil, ibu dan anak saling memalit celak serta lipstik ke beberapa bagian wajah yang sebelumnya telah dioleskan bedak putih kecoklatan. Tidak tanggung-tanggung, pewangi untuk laki-laki juga mereka semprotkan ke wajah. "Biar wangi bang," kata Nur, 18 tahun.
Kartim, 43 tahun, suami dan
bapak dari kedua penari asal Cilacap tersebut tidak kalah sibuknya. Dengan berhati-hati ia mulai mencabuti kabel aki motor yang ia setrum ke aliran listrik rumah sejak semalam. Aki yang tenaganya telah penuh ia pasangkan kembali pada kotak musik. Jari-jarinya menari pada tombol-tombol volume, mengatur irama, sesekali kupingnya mencoba merekam suara dan menyelaraskan berbagai lagu campur sari. Tak butuh lama menjajal, ia sudah mendapatkan komposisi yang pas.
Tiga puluh lima menit berbenah. Dari ruang 3x4 meter yang mereka kontrak seharga Rp 5.000 per hari itu mereka telah menentukan tujuan. Kawasan Thamrin dan Tanah Abang jadi lahan penghidupannya.
Sampai di pusat perbelanjaan kawasan Tosari, kotak musik yang dibawa Kartim langsung ingar-bingar di tengah para pekerja mal yang beristirahat di warung makan tenda. Tanpa canggung apalagi malu, ibu dan anak itu langsung melibaskan selendang. Tanpa aba-aba mereka saling berpencar mencari kawanan manusia yang sudi memberi receh.
Nur Rahma dengan tubuh mudanya terlihat mendapatkan perhatian di tengah manusia pekerja mal. Dengan sedikit menggoda ia memanfaatkan kesempatan tersebut. "Sawer ra mas, sawer to bang," katanya dengan manja. Sedangkan sang ibu hanya memandang dingin
tanpa ekspresi. Baginya ini adalah resiko kerja.
Samiyem, 37 tahun, menceritakan dulu pernah ada orang yang memberikan uang dengan menyelipkan langsung di antara buah dada anaknya, bahkan ada yang langsung menawarnya. Seketika ia langsung marah dan harus menahan kemirisan hati. Namun sang anak ternyata lebih gesit. Nur langsung melayangkan tamparan ke pipi orang tersebut.
"Emang dia cewek apaan, semua ada resikonya mas, kalau mereka sopan kita juga sopan, bagi kita tidak masalah kalau mereka tidak mau memberi," kenang Samiyem yang mengaku telah lima tahun menjalani profesi menari di jalanan atau lengger karena desakan ekonomi.
Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan permukiman penduduk yang dikelilingi gedung pencakar. Keringat mulai menetes, memudarkan riasan saat mereka mulai menyambangi pangkalan ojek. Sepeser demi sepeser mereka masukkan dalam tas pinggang hitam.
Waktu menunjuk pukul 17.30 dan mereka pun beristirahat. Saatnya makan ala kadarnya di salah satu warteg sembari merias kembali paras yang pudar karena keringat. Usai azan magrib, mereka menghitung uang hasil lengger. Kartim yang bertugas layaknya manajer sekaligus kepala keluarga berucap syukur atas hasil hari itu.
Menurut Samiyem, pendapatan kali itu Rp 142.700 lebih dari cukup. "Biasanya kita cuman dapat sekitar 100 ribuan serhari, lumayan buat si Rohim anak saya yang baru mau masuk SD di kampung," terangnya.
Setelah dirasa cukup beristirahat, mereka berniat pulang ke kontrakan. Sembari berjalan menuju ke arah jalur metromini, tidak ada salahnya bagi mereka untuk menari sekali lagi, melengger kehidupan demi menyambung...

Source : Kompas, Sabtu, 07 June 2010 | 15:50

Comment :

bandie joe @ 22 July 2010 | 13:34

sabar ya... suatu saat Insya Allah, Tuhan pasti memberikan kebahagiaan yang lebih dari yang kalian harapkan.. AMIEN...

lara @ 22 July 2010 | 08:02

sedih liat photo2 itu, alhamdulillah saya msh di beri kerja yg sgt layak dari mrk. gak perlu panas2 di jalanan. Tapi kadang msh suka mengeluh... Ya ALLAH, kuasa sungguh nyata. semoga selalu di beri kemudahan rejeki buat seluruh umat MU. AMIN99x

zudine al mazduqi @ 17 July 2010 | 22:23

waduh jadi malu saya....ama street figter macam mereka...

ijop @ 14 July 2010 | 23:01

Semoga Allah memberkati anda sekeluarga... juga potographer nya...

sabar @ 08 July 2010 | 10:48

bersabarlah.....kalau disykuri bawa berkah dari pada makan duit rakyat n negara