Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2009

7.000 Penerbit Buku Dunia Gelar Pameran Buku di Jerman

Gerai China terlihat paling menonjol dalam Frankfurt Bookfair di Frankfurt, Jerman, 14-18 Oktober 2009. Dibandingkan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya, pameran kali ini sepi pengunjung. (Foto : Kompas/ST Sularto)***

Peradaban yang Tetap Menjanjikan

Oleh : ST Sularto

Frankfurt Book Fair 2009 berlangsung di Frankfurt, Jerman, 14-18 Oktober. Diikuti lebih dari 7.000 penerbit yang berasal dari 100 negara, pameran itu selama lima hari penyelenggaraan dikunjungi total lebih dari 570.000 orang.

Pada hari pertama terdapat 45.753 pengunjung khusus pebisnis perbukuan, hari kedua 102.205 orang, ketiga 152.530 orang, keempat 227.164 pengunjung, dan drop lagi pada hari terakhir, Minggu (18/10), yaitu sekitar 40.000 orang. Dibandingkan tahun lalu, setiap hari pameran kali ini mengalami penurunan 2.000-3.000 orang, kecuali hari pertama, hanya berselisih sekitar 350 orang.

Tahun ini sepi dibandingkan dengan tahun lalu? ”Dari sisi jumlah pengunjung ya, tetapi dari segi keramaian bisnis perbukuan—utamanya kontak bisnis terjemahan—tahun ini tetap ramai,” kata Sam Missingham dari Bookseller, London. Mengapa? Tidak tegas menjawab sebagai dampak krisis ekonomi global tahun 2008, Missingham menjelaskan, banyak faktor yang mengambil peranan. Di antaranya, faktor ekonomi global, tetapi tidak kalah penting faktor mulai berkembangnya electronics-book (e-book) atau buku elektronik—produk virtual yang merambah dan mulai semakin ramai sejak pameran tahun lalu.

Membandingkan dengan tahun 2000, 2002, dan 2004, pameran tahun ini paling sepi. Bukan oleh riuh, gemerlap, dan kesibukan acara-acara yang digelar setiap peserta yang diselenggarakan di semua hall (ruang pameran)—mulai dari hall 0 hingga 11 dengan keluasan masing-masing—tetapi terutama oleh bergegasnya pengunjung, yang disebabkan oleh takut kalah berebut atau mungkin sekaligus menghilangkan cuaca dingin. Pada tiga tahun itu sungguh, orang Indonesia—mohon maaf dalam hal ini hanya terlihat sebagai noktah kecil—harus berdecak kagum. Adapun pada tahun ini, menurut beberapa rekan yang rajin menyambangi setiap tahun, pengunjung lebih sepi, setelah pada tahun 2007 dan 2008 Indonesia sempat merasa optimis.

Pengakuan mereka serupa yang disampaikan pengunjung lain. Bagi pebisnis buku—khususnya ”pemburu” hak cipta terjemahan—hari pertama tetap perlu perjuangan bersaing, terutama dengan penerbit-penerbit yang rajin mengirimkan delegasi semacam kelompok Penerbit Gramedia yang mengirimkan lebih dari 8 orang, bahkan Penerbit Erlangga tak mau kalah dengan mengirimkan 13 orang.

Pengunjung baru terlihat ramai pada hari-hari berikutnya, terutama Sabtu. Pameran diramaikan juga oleh pengunjung yang memanfaatkan hari libur akhir pekan. Nah, pada hari-hari itu pengunjung berjubel—walaupun lagi-lagi terasa lengang. Adapun pada hari terakhir, pebisnis sudah jarang terlihat. Petugas pameran sebagian besar diganti oleh satpam, bukan lagi orang berjas rapi ataupun perempuan-perempuan cantik.

Ketika ditanya, ke mana para petugas kemarin? ”Sudah pulang,” kata seorang penjaga di gerai Vintage dari London yang sibuk mengemasi buku, Minggu (18/10). Lantas siapa yang datang hari Minggu itu? Mereka yang mengadu untung beli obralan buku, dijual antara 5 euro sampai 25 euro, dengan tetap mempertahankan harga banderol untuk beberapa judul buku. Siapa lagi? Mereka yang menangguk kesempatan dengan memunguti buku-buku yang rupanya sengaja ditinggalkan oleh pemilik gerai.

China paling menonjol

China, yang tahun ini menjadi tamu kehormatan (guest of honor), tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan menempati satu hall penuh produk yang berkaitan dengan buku dan nonbuku dihadirkan juga. China go global, China mengglobal. Dengan moto tradition & innovation yang dipilihnya, China sudah lebih dari dua tahun mempersiapkan, setelah pada tahun 2007 ditetapkan sebagai tamu kehormatan. ”Kami all out dan memperoleh dukungan penuh dari pemerintah, utamanya kami ingin menjadi jembatan antara Barat dan Timur. Kami ingin belajar dari Barat, utamanya Jerman, dan sebaliknya, kami pun ingin dimengerti,” ujar Wapres China Xi Jinping.

Penerbit-penerbit dari Inggris, Amerika, tentu selain Jerman dan China, mendominasi aura pameran. Semua hall yang ditempati Jerman, maklum sebagai tuan rumah, selalu dipadati pengunjung. Para pemburu hak cipta berjubel di gerai-gerai ini, selain karena dominasi jumlah judul dan buku-buku ditulis bahasa Inggris, juga selama ini judul-judul buku yang laris di pasaran luar Eropa pun terbitan Inggris atau Amerika. Adapun Jerman? Diburu oleh para pemburu hak terjemahan ke bahasa Inggris atau bahasa-bahasa daerah lain. Pengunjung yang berjubel adalah mereka yang sehari-hari berbahasa Jerman, penduduk yang menempati sebuah negara terpadat di Eropa.

Bagaimana Indonesia? Kalau pada tahun 2007 ada optimisme akan ikut serta dalam pameran tahun 2008, yang ternyata gagal, tahun ini tak satu pun penerbit dari Indonesia tampil. Pada tahun-tahun 2000, 2002, dan 2004 masih terlihat ada satu-dua buku yang diterbitkan oleh penerbit Indonesia terselip di hall religion menyatu dengan penerbit dari Amerika soal politik dan agama, tetapi tahun ini tak ada lagi. ”Kami absen, tak ada yang mau pameran,” kata Setiadarma Madjid, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat. Diamini Sukartini dari Obor, ketidakhadiran penerbit Indonesia memang karena faktor keuangan.

Dalam pameran 2004, ketika terorisme masih banyak dibicarakan orang, sempat Haidar Bagir dari Mizan memberikan ceramah di gerai Ikapi. Namun, Indonesia tidak berkecil hati, dibandingkan Argentina, misalnya, yang tahun depan sebagai guest of honor. Perbukuan Indonesia lebih ”tampil” daripada Argentina. Gerai Argentina biasa-biasa saja, terkesan minder terimpit oleh gerai-gerai besar dan sibuk di sebelahnya.

Tema-tema dan judul yang ditulis pun berbeda dengan tahun-tahun lalu. Tahun ini judul-judul nonfiksi lebih menonjol ketimbang fiksi. Kalau dulu banyak dijumpai tema-tema terorisme dan kesehatan China, kali ini tema dan judul amat beragam, bahkan cenderung pada persoalan amat luas, yakni tentang perkembangan budaya—khususnya peradaban manusia. Meskipun dengan perkembangan teknologi digital, tetap saja buku adalah rekaman dari peradaban kemanusiaan, sebuah industri paduan antara idealisme dan bisnis.

Ya, industri buku tidak akan lenyap, bahkan setelah mesin cetak ditemukan Gutenberg di Jerman pada abad ke-16 sampai abad ke-21, tampaknya cetak—seperti halnya koran cetak—tetap akan lestari. ”Seperti koran, buku cetak tak akan habis,” kata Setiadarma Madjid. Namun, hingga kini belum ada yang meramal seperti Thomas Meyer bahwa pada tahun 2040 koran cetak akan mati. Buku (dan koran) tetaplah rekaman peradaban manusia yang terus lestari dan menjanjikan!***

Source : Kompas, Rabu, 11 November 2009 | 02:56 WIB

Senin, 02 November 2009

China Gelar KTT Media Sedunia

KTT Media Sedunia digelar di Balai Rakyat (Great Hall) China, 8-10 Oktober 2009. KTT diikuti 170 organisasi media dari sejumlah negara. (Foto : Kompas/Budiman Tanurejo)***

KTT MEDIA SEDUNIA

Upaya China Menarik Perhatian Dunia

Oleh : Budiman Tanuredjo

Bandara Internasional Capital Beijing sudah sepi ketika pesawat Singapore Airlines mendarat di Ibu Kota Republik Rakyat China, Rabu (7/10) tengah malam. Pesawat SQ boleh jadi adalah penerbangan terakhir yang mendarat di Bandara Capital Beijing setelah menempuh perjalanan 6 jam lebih dari Bandara Changi, Singapura.

Tampak beberapa petugas bandara masih menggunakan masker, khususnya di pos kesehatan. Virus H1N1 masih menjadi momok menakutkan bagi Pemerintah China. Setiap penumpang diwajibkan mengisi formulir yang berisi catatan kondisi kesehatan, termasuk rencana pengunjung yang akan tinggal di China. Alat pengukur suhu badan dipasang di jalur penumpang. Semuanya diperiksa detail!

Kedatangan saya ke Beijing adalah atas undangan Kantor Berita China, Xinhua, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Media Sedunia, 8-10 Oktober 2009. Konferensi itu dipusatkan di Gedung Balai Rakyat (Great Hall) China. Di luar bandara, Rhine, mahasiswa China, sudah menunggu untuk menjemput saya menuju tempat penginapan di Hotel Grand Beijing.

Grand Beijing adalah hotel mewah yang letaknya di pusat kota. Lokasi Hotel Grand Beijing tak sampai 500 meter dari Lapangan Tiannanmen yang pada tahun 1990-an kesohor sebagai tempat terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Sekitar 20 tahun lalu—tepatnya 4-6 Juni 1989—terjadi pembantaian mahasiswa prodemokrasi China oleh Tentara Pembebasan Rakyat.

Meski mata sudah mengantuk karena badan lelah, Rhine menjelaskan agenda acara KTT Media Sedunia. Di dalam mobil Audi yang hangat—temperatur diatur 23 derajat celsius, sementara suhu udara di luar 12 derajat—Rhine menceritakan kemajuan China. ”Negeri ini tetap komunis, tapi secara ekonomi maju,” ucapnya.

Perjalanan dari Bandara Capital Beijing hingga hotel ditempuh sekitar 45 menit. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan lampu-lampu jalan dengan berbagai hiasan, yang didominasi warna merah, masih menyala terang benderang. Gedung pencakar langit menjulang di sepanjang perjalanan dari bandara. Jalan-jalan tol menghubungkan satu tempat ke tempat lain di Beijing,

Pekan itu, Beijing memang sedang pesta. Ketika saya tiba, Beijing baru saja memperingati 60 tahun Republik Rakyat China yang dipusatkan di Lapangan Tiannanmen, 1 Oktober 2009. Selama satu pekan, 1-8 Oktober, dijadikan hari libur resmi. Lalu lintas masih ramai. Rombongan pejalan kaki masih memadati jalan raya itu. Rasa dingin tampaknya tidak memengaruhi para wisatawan tersebut. Mereka tetap berjalan-jalan di tengah malam. ”Ini jalan terbesar di Beijing,” ucap Rhine menjelaskan jalan raya di mana Hotel Grand Beijing terletak.

Pertama kali

Masih dalam rangka peringatan 60 tahun Republik Rakyat China itulah Beijing menggelar KTT Media Sedunia. Diskusi tentang KTT Media Sedunia itu diinisiasi sejumlah raksasa media dunia saat mereka bertemu di Beijing berbarengan dengan pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008.

Para inisiator KTT Media Sedunia itu adalah Rupert Murdoch (CEO News Corporation), Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger, Direktur Jenderal ITAR-TASS Vitaly Ignantenko, Direktur Divisi BBC Global News Richard Sambrook, Presiden Associated Press Thomas Curley, dan Presiden Kantor Berita Kyodo Satoshi Ishihawa. Mereka hadir kembali di Beijing dalam KTT sebagai co-chairman. Sedangkan sebagai pimpinan KTT adalah Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun.

Masa depan media di tengah krisis ekonomi global dan perkembangan teknologi komunikasi menjadi isu sentral yang dibawakan dalam KTT Media tersebut. Media memang sedang dihadapkan pada era yang berubah. Perkembangan teknologi komunikasi dan merosotnya perekonomian dunia mengharuskan pengelola media mengantisipasi masalah tersebut.

KTT Media Sedunia yang pertama kalinya diadakan di Beijing. Mereka yang hadir mayoritas adalah kantor berita, televisi, radio, dan surat kabar. Biasanya, pertemuan internasional mengenai media digelar oleh World Association Newspaper (WAN) yang berbarengan dengan World Editor Forum (WEF) yang pada 2009 diadakan di Hyderabad, India, 30 November-3 Desember 2009.

Selain saya dari Indonesia, CEO Antara Ahmad Muklis Yusuf, Wakil Pemimpin Redaksi Antara Akhmad Khusaeni, dan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan juga hadir dalam pertemuan yang difasilitasi Kantor Berita Xinhua itu. Semua delegasi diinapkan di Hotel Grand Beijing dan Hotel Beijing yang lokasinya bersebelahan.

Demi untuk menyukseskan KTT Media Sedunia, Rhine menjelaskan, Xinhua mengerahkan 200 tenaga sukarela untuk mendampingi tamu-tamu Xinhua dari 170 negara di berbagai belahan dunia. Seorang tenaga sukarela—mereka adalah mahasiswa China yang belajar berbagai bahasa, seperti Inggris, Perancis, dan Arab—dikerahkan untuk mendampingi para pemimpin media dan kantor berita sedunia.

Safari pidato

KTT Media dibuka oleh Presiden Republik Rakyat China Hu Jintao dan dilanjutkan dengan safari pidato dari Ketua KTT Li Congjun dan para Wakil Ketua KTT dari Rupert Murdoch hingga John Liu, Wakil Presiden Google Inc. Hari pertama KTT ditandai dengan safari pidato yang diawali dengan pidato pembukaan dari Presiden China Hu Jintao. Presiden Hu menyerukan organisasi media global untuk menyerukan perdamaian dunia dan pembangunan.

Presiden Hu juga berharap pertemuan akan membantu untuk memperkuat kerja sama di antara media global, memacu lahirnya media industri global, dan membangun saling pengertian yang mendalam serta persahabatan di antara bangsa-bangsa. Terhadap organisasi media internasional, Presiden Hu menjanjikan akan melindungi media internasional untuk melakukan peliputan di China sesuai dengan peraturan yang berlaku di China.

Hu juga mengatakan, tantangan dunia berubah akibat krisis finansial global, ketidakseimbangan pembangunan, krisis pangan, dan terorisme. Kondisi itu menuntut tanggung jawab bersama media untuk bersama membangun dunia yang harmonis, perdamaian abadi, dan kesejahteraan umum. Pandangan senada disampaikan Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun. Li mengangkat tema tanggung jawab sosial media.

Seakan merespons pandangan Hu Jintao dan Li Congjun, Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger justru meminta China untuk mengembangkan sistem ekonomi yang lebih transparan. Masuknya China dalam sistem keuangan global menuntut adanya transparansi dalam statistik serta data-data keuangan karena pasar keuangan global menuntut data yang pasti dan bukan berdasarkan rumor. ”Transparansi menjadi salah satu kunci,” kata Schlesinger yang meminta China untuk membuka akses lebih besar terhadap wartawan asing di China. Selama ini, kata Schlesinger, terjadi perbedaan perlakuan antara wartawan China dan wartawan asing di China.

Saat berbicara di forum tersebut, Rupert Murdoch yang menyebut forum KTT Media sebagai ”Olimpiade Media” justru mengangkat tema lain yang mengentak. Raksasa media dari Australia justru berteriak keras terhadap para agregator yang mengambil begitu saja berita tanpa membayar. ”Mereka harus membayar karena ikut menggunakan berita-berita yang kita buat,” ujar Murdoch di atas podium. ”Bila kita tak bisa mengambil keuntungan, maka kita akan mengalami kerugian dan para kleptomania akan senang,” ujarnya seraya menyebut GoogleNews. John Liu dari Google yang berada di sudut paling kiri meja panelis hanya tersenyum ketika Murdoch berteriak perlunya membayar untuk menggunakan berita.

KTT Media Sedunia itu sendiri ditutup 10 Oktober. Dalam pernyataan bersamanya, KTT Media menyerukan agar organisasi media dunia memberikan informasi yang akurat, obyektif, tidak berpihak, serta liputan yang berimbang dalam berbagai peristiwa dunia yang terjadi. Namun, pada sisi lain, KTT Media Sedunia juga harus terus mempromosikan perlunya transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah serta perlunya membangun saling pengertian antarbangsa.

Citra

Apa yang didapat dari KTT Media Sedunia? Dong Guan Peng, analis dari Tsinghua University, menyebut forum KTT Media Sedunia adalah sebuah forum bagi pimpinan media dunia, termasuk pemimpin China, untuk mengenal lebih dekat para pemimpin raksasa media global.

”China memang mempunyai masalah dalam citra tentang dirinya,” kata Dong Guan, sebagaimana dikutip The Strait Times. Dong mengemukakan, ”Saya yakin beberapa dari tokoh media yang diundang sebagian dari antaranya belum pernah ke China. Saya terkejut dan berharap setelah mereka melihat kondisi riil China, maka bias terhadap berbagai tulisan tentang China akan sedikit berkurang.”

Politik pencitraan boleh jadi menjadi salah satu agenda Pemerintah China, selain motif ekonomi. China memang dikenal tidak ramah dengan ide-ide Barat soal transparansi dan kebebasan pers. Pers di China dikontrol sepenuhnya oleh negara. Selama berada di Beijing, hampir semua saluran televisi adalah CCTV. Tak ada CNN, BBC, atau Al-Jazeera yang bisa dinikmati.

Namun, kemampuan China menghadirkan sejumlah raksasa media dunia dan pada tahun 2008 menggelar Olimpiade Beijing telah menunjukkan kesuksesan China mengubah pandangan dunia tentang Negeri Tirai Bambu tersebut. Lapangan Tiannanmen yang 20 tahun lalu dikenal sebagai ladang kekerasan bagi mahasiswa prodemokrasi China kini telah diubah sebagai tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan asing selain Tembok China.

”China memang sukses mengubah citra diri mereka,” ujar seorang delegasi Indonesia. Lautan manusia dari berbagai penjuru dunia—mayoritas berwajah oriental—yang berada di Tiannanmen bak penziarahan manusia. ”Itu semacam penziarahan,” ujar seorang wartawan dari Senegal.

KTT Media 8-10 Oktober itu ditutup dengan mengunjungi tempat ternama di China, seperti The Forbidden City dan Tembok China. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:40 WIB

China Ibarat "Naga" Dengan Lidah Api Yang Siap Melahap Pangsa Pasar Produk Teknologi Komunikasi

Perusahaan teknologi telekomunikasi di China, Huawei Technologies Co Ltd, menempatkan stan pameran di tempat pameran komunikasi dan nirkabel di Beijing, China, Kamis (17/9). Ribuan pengunjung memadati pameran teknologi telekomunikasi tersebut. (Foto : Kompas/Ferry Santoso)***

STRATEGI

China Lahap Pasar Telekomunikasi

Oleh : Ferry Santoso

China tidak hanya unggul menghasilkan produk-produk manufaktur, seperti barang-barang konsumsi rumah tangga, tetapi juga unggul dalam memproduksi teknologi telekomunikasi dan sudah menjadi ”pemain” dunia.

Saat ini China ibarat ”naga” dengan lidah api yang siap melalap dan melahap pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Salah satu perusahaan penyedia solusi jaringan teknologi telekomunikasi di China yang menguasai sebagian pasar dunia adalah Huawei Technologies Co Ltd.

Huawei Technologies—didirikan tahun 1988—bermarkas di kota Shenzhen, China. Sejak didirikan, Huawei Technologies mampu mengembangkan teknologi telekomunikasi dari jaringan infrastruktur telekomunikasi, perangkat lunak, sampai produk-produk telekomunikasi seluler, seperti modem atau telepon genggam.

Setelah 20 tahun berkiprah di sektor industri telekomunikasi di China, Huawei Technologies telah melayani 36 operator telekomunikasi dari 50 operator telekomunikasi di dunia. Hampir semua produk telekomunikasi Huawei sudah memasuki pasar negara-negara di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.

Misalnya Belgia, Perancis, Brasil, Arab Saudi, Ghana, Thailand, dan Rusia. Bahkan, di Eropa, Huawei Technologies telah dipilih oleh operator telekomunikasi di Skandinavia, Teliasonera, untuk memasok jaringan teknologi seluler generasi keempat (long term evolution/LTE).

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus merambah pasar dunia, menurut Kepala Komunikasi Perusahaan Huawei Technologies Ross Gan, nilai kontrak penjualan produk Huawei terus meningkat.

Sebagai gambaran, nilai kontrak penjualan produk Huawei Technologies tahun 2007 sebesar 16 miliar dollar AS. Tahun 2008, nilai kontrak penjualan Huawei Technologies mencapai 23,3 miliar dollar AS atau naik 46 persen. Tahun 2009, nilai kontrak ditargetkan mencapai 30 miliar dollar AS.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS tahun 2008 itu, sebanyak 75 persen merupakan kontrak dengan operator-operator telekomunikasi dunia. Sisanya, sebesar 25 persen, merupakan kontrak dengan operator di pasar China sendiri.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS itu, Huawei Technologies mampu menggaet nilai penjualan atau pendapatan 18,3 miliar dollar AS. Pendapatan bersih mencapai 1,15 miliar dollar AS pada tahun 2008.

engan nilai kontrak dan nilai penjualan yang besar, peran Huawei Technologies dalam perkembangan teknologi telekomunikasi dunia memang patut diperhitungkan, selain Ericsson dan Nokia Siemens Networks (NSN).

Menurut Ross Gan, Huawei Technologies ditargetkan mampu menempati peringkat ke-2 di dunia pada masa mendatang sebagai perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi seluler.

Mengapa produk dan teknologi telekomunikasi yang dikembangkan Huawei Technologies mampu menembus pasar dunia? Salah satu strategi industri adalah terus mengikuti evolusi perkembangan layanan teknologi telekomunikasi.

”Huawei Technologies memiliki komitmen untuk menghasilkan teknologi dan produk telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Ros Gan. Untuk itu, Huawei menghabiskan biaya 2 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan pada 2008.

Bahkan, Huawei Technologies juga membangun universitas sebagai tempat belajar dan latihan di kawasan industri Huawei Technologies di Bantian Longgang, Shenzhen, China. Di tempat itu, tenaga-tenaga profesional Huawei dari sejumlah negara dididik dan dilatih.

Dengan riset yang dikembangkan, produk yang dihasilkan Huawei Technologies tidak hanya terbatas pada produk telepon genggam atau perangkat teknologi telekomunikasi seluler, seperti code division multiple access (CDMA), global system for mobile communications (GSM), dan worldwide interoperability for microwave access (WiMax).

Huawei Technologies juga mengembangkan jaringan infrastruktur telekomunikasi dari modem sampai stasiun penghubung telekomunikasi seluler (base transceiver station/BTS) untuk operator telekomunikasi. Bahkan, Huawei juga telah mengembangkan perangkat jaringan telekomunikasi BTS generasi keempat, yaitu SingleRan.

Di Indonesia, Huawei Technologies, melalui PT Huawei Tech Investment, juga menyediakan produk telepon genggam, modem, dan BTS untuk operator telekomunikasi.

Sebagai contoh, Huawei Tech Investment telah mendukung operator telekomunikasi seperti PT Telkom, Indosat, Telkomsel, Exelcomindo Pratama, Bakrie Telkom, dalam sejumlah layanan telekomunikasi seluler, seperti CDMA, GSM, transmisi, datacom, dan terminal.

Ledakan pasar

Pangsa pasar telekomunikasi seluler pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar. Produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, berkecepatan tinggi, dan layanan yang variatif semakin menjadi kebutuhan pasar.

Bagaimanapun komunikasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Produk-produk teknologi telekomunikasi pada akhirnya terintegrasi dengan kebutuhan manusia sehari-hari dengan populasi di dunia mencapai miliaran jiwa.

Itu berarti pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi semakin menggiurkan. Kompetisi perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi, termasuk operator telekomunikasi, pun semakin ketat untuk meraih konsumen dan memberikan layanan yang prima.

Pihak manajemen Huawei Technologies memprediksi besarnya pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Diperkirakan, lebih dari satu miliar pengguna jaringan seluler dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga-lembaga riset di bidang telekomunikasi, seperti Ovum dan Yankee Group, juga memprediksi hal yang sama.

Seberapa besar pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi di dunia? Memang tidak mudah mendapatkan angka pangsa pasar produk telekomunikasi di dunia karena banyaknya produk teknologi telekomunikasi.

Akan tetapi, statistik dari Internet World Stats dapat memberikan sedikit gambaran. Dari data Internet World Stats yang diperbarui per Juni 2009, jumlah pengguna internet di dunia diperkirakan 1,66 miliar orang (24,7 persen) dengan perkiraan populasi 6,76 miliar orang.

Dari data Internet World Stats itu juga dicantumkan 20 negara dengan jumlah pengguna internet yang terbesar. Dari 20 negara itu—dengan perkiraan populasi penduduk 4,31 miliar orang—jumlah pengguna internet diperkirakan 1,27 miliar orang (29,5 persen).

Dari 20 negara itu, Indonesia menempati urutan ke-15. Dari jumlah populasi sekitar 240 juta orang, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang besar pada masa-masa mendatang, kebutuhan produk teknologi telekomunikasi, dari telepon genggam, laptop, komputer, modem, sampai jaringan infrastruktur telekomunikasi pun akan semakin besar.

Perusahaan atau industri penyedia solusi jaringan telekomunikasi, seperti Huawei Technologies, semakin gencar menawarkan produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, efisien, dan canggih. Perusahaan-perusahaan sekelas Huawei Technologies akan berkompetisi dalam memberikan layanan teknologi komunikasi di dunia.

Di Indonesia, pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, termasuk di daerah-daerah terpencil, semakin menjadi tuntutan.

Apalagi Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana sehingga peran telekomunikasi dan layanan informasi yang cepat sangat penting.

Operator-operator telekomunikasi, termasuk di Indonesia, diharapkan mampu mengembangkan infrastruktur telekomunikasi yang andal dan efisien.

Operator telekomunikasi diharapkan tidak hanya menawarkan produk-produk seluler yang murah untuk merebut pangsa pasar yang gemuk. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:37 WIB

Jumat, 08 Mei 2009

HET Pupuk Bersubsidi di Indramayu

HET PUPUK BERSUBSIDI

PERATURAN MENTERI PERTANIAN

Nomor : 29/Permentan/OT.140/6/2008

Tentang

HARGA ECERAN TERTINGGI

(HET)

PUPUK BERSUBSIDI

  1. Pupuk Urea.............................................. : Rp 1.200/Kg.
  2. Pupuk ZA................................................ : Rp 1.050/Kg.
  3. Pupuk Superphos................................... : Rp 1.550/Kg.
  4. Pupuk NPK, Phonska............................ : Rp 1.750/Kg.
  5. Pupuk NPK, Pelangi............................... : Rp 1.830/Kg.
  6. Pupuk NPK Kujang................................ : Rp 1.586/Kg.
  7. Pupuk Organik....................................... : Rp 500/Kg.

*). Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu Tahun 2009.