Minggu, 08 Agustus 2010

TOPENG INDRAMAYU : Tarian Terakhir Mimi Rasinah

TOPENG INDRAMAYU

Tarian Terakhir Mimi Rasinah

Maestro tari topeng Indramayu Mimi Rasinah (80) digendong menuju pentas, siap tampil dalam pentas tari topeng oleh Mimi Rasinah dan keluarga sekaligus membuka pameran seni Indramayu dari Dekat di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8). (KOMPAS/LASTI KURNIA)***

Oleh Putu Fajar Arcana

Orang tua yang agung! Mungkin ungkapan ini yang paling pas untuk melukiskan totalitas yang ditunjukkan Mimi Rasinah (80). Tetapi, kabar memilukan menyambar, Sabtu (7/8) siang. Maestro tari topeng Indramayu itu pergi untuk selamanya....

Mimi Rasinah diberitakan tutup usia di RSUD Indramayu sekitar pukul 14.00. Saat dibawa ke rumah sakit terdeteksi tekanan darahnya antara 145/65. Aerli (24), salah seorang cucunya, menuturkan, sebelum dilarikan ke rumah sakit, Rasinah tampak lemas, tetapi ia tidak mengeluh. ”Beliau hanya lima menit dirawat sebelum akhirnya pergi...” tutur Aerli dengan mata berkaca-kaca. Rasinah diduga meninggal akibat komplikasi penyakit stroke, darah rendah, kelelahan, dan usia lanjut.

Orang besar memang terkadang pergi dengan penuh isyarat. Rabu (4/8) malam, bersama rombongan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran ”Indramayu dari Dekat”. Acara yang dibuka oleh penyanyi dangdut asal Indramayu, Iis Dahlia, ini berlangsung 4-8 Agustus 2010. Tak seorang pun menduga, itulah tarian terakhir Rasinah.

Dalam kondisi separuh badan mati akibat terjangan stroke, Rasinah tetap mengalirkan aura magis ketika membawakan tari Panji Rogoh Sukma. Tangan kanannya yang lembut seolah tongkat ajaib yang menyihir ratusan penonton. Semua orang tiba-tiba saling berlomba untuk sekadar melihatnya dari dekat.

Ketika Rasinah dibopong ke atas panggung, mendadak suasana haru menebar. Napas semua orang seperti tertahan sampai benar-benar pewaris tari topeng bergaya Indramayu itu duduk dengan nyaman. Sementara Aerli Rasinah, sang cucu, berdiri kokoh di atasnya. Sebelum menari keduanya ditutupi 12 penari remaja, murid didikan Mimi Rasinah.

Panji Rogoh Sukma tak lain adalah puncak dari segala tarian topeng Indramayu. Seorang penari dituntut untuk mengolah jiwanya dengan menahan segala gerak tubuh. Gerak-gerak yang muncul adalah dorongan yang benar-benar meluncur dari kedalaman jiwa, bukan karena sesuatu yang dipikirkan secara teknis. Oleh karena itu, tarian ini lebih tampak seperti ”diam”, tubuh terpancang tegak lurus dengan langit (meminjam istilah sastrawan Iwan Simatupang).

Mimi Rasinah bukan tipe perempuan yang mudah menyerah. Sakit boleh menggerogoti raganya, tetapi gelegak jiwanya untuk terus menari tak tertahankan. Maka ia membentuk komposisi yang unik bersama Aerli. Karena lumpuh, Rasinah menari dengan duduk, sementara Aerli, pewaris langsung ilmu topeng Indramayu, berdiri di atasnya. Komposisi ini tidak saja menunjukkan kehebatan Rasinah, tetapi juga bisa diinterpretasi sebagai proses ”penurunan” ilmu topeng dari nenek kepada cucunya. Rasinah menyerahkan topeng, yang telah ia warisi selama 11 generasi, kepada Aerli. Ketika menari Aerli seolah berlaku sebagai penerjemah dari gerakan jiwa yang dialirkan lewat tangan Mimi Rasinah.

Sementara 12 penari remaja lainnya menunjukkan keberhasilan lain Mimi Rasinah di dalam menggelorakan kembali tari topeng Indramayu yang nyaris punah sekitar awal tahun 1990-an. Kendati fisiknya nyaris tak berdaya, tutur Aerli, Rasinah tetap bersikeras untuk mengajar remaja-remaja muridnya dari atas kursi roda. ”Mimi tahu kalau ada salah. Ia akan beri isyarat dengan tangan pada nayaga atau penarinya,” tambah Aerli.

Simbol

Sesungguhnya Mimi Rasinah malam itu tidak hadir sekadar sebagai penari. Ia telah menjelma sebagai simbol dari daya tahan tradisi menghadapi gempuran zaman. Perjalanan Rasinah ”mengemban” tradisi topeng Indramayu yang diwariskan ayahnya, Lastra, penuh dengan kepahitan. Ia tidak saja harus menghadapi kerasnya tempaan seperti berpuasa untuk mengolah batinnya, tetapi menantang gempuran hidup keluarganya yang morat-marit. Dua suami dan dua anaknya meninggal dalam usia muda karena ia harus bebarangan (mengamen) dari desa ke desa selama bertahun-tahun.

Lantaran putus asa, tahun 1979-1999, selama 20 tahun Mimi Rasinah seperti hilang ditelan bumi. Ia memutuskan berhenti dan mencoba menjalani hidup secara ”normal”. Tetapi, ketika peneliti seni Endo Suwanda dan Toto Amsar berkunjung ke rumahnya di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, tahun 1999, Rasinah seolah bangkit kembali. Ia mulai melanglang dunia untuk menunjukkan betapa tradisi memiliki cara yang lentur untuk terus bertahan di masa kini.

”Saya akan berhenti menari kalau sudah mati,” begitu pernah dikatakan Mimi Rasinah saat dikunjungi di Indramayu. Malam itu ia membuktikan keterbatasan fisik bukan halangan untuk terus menari. Kalau kini fisiknya benar-benar tiada, Rasinah telah mewariskan sebagian besar ilmu menarinya kepada Aerli serta 12 remaja lainnya. Dari Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah di Desa Pekandangan, akan terus terdengar alunan gamelan dan entak kaki untuk melanjutkan kehidupan tradisi yang diwariskan Rasinah. Benar-benar orang tua yang agung....

Dan kita akan menyaksikan seorang besar akan dimakamkan Minggu (8/8) pukul 09.00 di pemakaman Kampung Ciweni, Desa Pekandangan, Indramayu. Sangat pantas mengantarkan doa kepadanya, semoga ia tenang di sisi Tuhan.... Selamat jalan penatah kehidupan....(TNT/NIT)***

Source : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 03:03 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar