Kamis, 26 Mei 2011

TARLING DAN BAHASA JAWA BAGIAN BARAT

Kamis, 26 Mei 2011
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

FORUM BUDAYA

TARLING DAN BAHASA JAWA BAGIAN BARAT

Kesenian Indramayu - Tarling

TARLING, merupakan seni musik dan lagu yang pada awalnya di tampilkan dalam bentuk nyanyian (kiser) yang diiringi oleh gitar dan suling saja.
Indramayu adalah tempat lahirnya kesenian tarling pada abad ke 16, sejalan perkembangan jaman, kesenian tarling mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat. Saat ini tarling sudah dilengkapi dengan alat-alat musik yang modern, kendatipun demikian Tarling Klasik kasih banyak diminati oleh wisatawan.*** (Ilustrasi : Bloger Indramayu)***

FORUM BUDAYA

TARLING DAN BAHASA JAWA BAGIAN BARAT

Kesenian tradisi di Jawa Barat seperti terbelah menjadi dua, antara wilayah utara dan selatan. Kenyataan itu tidak bisa dimungkiri, tetapi bukan berarti menjurus pada perpecahan. Keanekaragaman budaya justru merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga agar lestari.

Bentuk kesenian tradisi khas Jabar daerah pesisir utara (pantura), di antaranya, tari topeng, sisingaan, sandiwara, dan tarling. Di antara kesenian tersebut, tarling adalah kesenian yang paling populer dan banyak penggemar. Selama ini kesenian tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan ancaman kepunahan.

Namun, tanpa upaya melestarikannya, ancaman kepunahan tetap ada. Apalagi, dikaitkan dengan sejarah kebudayaan Indonesia, tarling memiliki sejarah kebudayaan serba tanggung. Ada yang menyebut "di antara", di antara tradisional dan modern, antara desa dan kota, antara agraris dan industrial. Sebagai basisnya, posisi Indramayu juga di antara pusat-pusat kebudayaan, yaitu Yogyakarta dan Surakarta di Jawa Tengah, Bandung di Jawa Barat, dan Jakarta yang mewakili budaya modern. Banyak yang menggemari dan banyak pula yang menolak, bahkan merendahkan.

Sejak awal kelahirannya, sekitar tahun 1930-an, namanya bukan tarling. Baru setelah RRI sering menyiarkan jenis musik ini, Badan Pemerintah Harian (sekarang DPRD) pada tanggal 17 Agustus 1962 meresmikan tarling sebagai nama jenis musik tersebut. Tarling biasa disebut lagu Dermayonan atau Cerbonan. Tarling adalah akronim dari gitar dan suling karena sejarahnya bermula dari kedua jenis alat musik tersebut.

Kelebihan tarling yang tetap eksis adalah mampu berevolusi dari masa ke masa. Pada perkembangannya, tarling bisa dikolaborasikan dengan jenis musik lain selain suling, misalnya musik gamelan, dangdut, dan sekarang organ tunggal. Namun, evolusi yang berlebihan patut diwaspadai karena berpotensi merusak orisinilitasnya yang meliputi diksi serta cengkok, ciri khas tarling. Contohnya, ketika tarling dikreasikan menjadi musik disko atau rock.

Faktor bahasa

Di samping kelenturannya bisa berevolusi bersama berbagai jenis musik, faktor bahasa dalam lirik lagunya yang menggunakan bahasa Jawa Cirebon sangat memengaruhi eksistensi dan popularitas lagu tarling. Secara empiris, penggemar lagu tarling bukan sebatas masyarakat Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya, tetapi merambah ke Brebes, Tegal, dan Pemalang yang notabene termasuk wilayah Jawa Tengah. Tarling mengalahkan popularitas lagu khas Tegalan sendiri ataupun campur sari dari Jawa.

Soal bahasa, Jabar identik dengan bahasa Sunda. Padahal, tidak semua masyarakat Jabar berbahasa Sunda. Masyarakat Bekasi dan Depok yang tinggal di pinggiran Jakarta, misalnya, menggunakan bahasa Betawi. Masyarakat di sebagian pantura Jabar menggunakan bahasa Jawa Cerbonan. Bahkan populasinya cukup signifikan.

Menurut EM Uhlembeck (1964), bahasa Jawa terbagi atas tiga kelompok besar, yaitu bahasa Jawa bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Bahasa Jawa bagian barat, menurut pembagian Uhlembeck, meliputi dialek-dialek atau subbahasa Banten, Cirebon, Tegal, dan Banyumas. Bahasa Jawa Cerbonan adalah subbahasa yang persebarannya meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Subang.

Persebaran subbahasa Banten meliputi Serang, Cilegon, dan sebagian Tangerang. Subbahasa Tegalan mencakup daerah Brebes, Tegal, dan Pemalang. Subbahasa Banyumas meliputi Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, dan Kebumen. Adapun subbahasa Cirebon meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Subang. Subbahasa Cirebon itulah yang berada di wilayah Jabar. Sebagai kelompok besar, bahasa Jawa bagian barat itulah yang turut berkontribusi bagi eksistensi dan popularitas tarling.

Bahasa Jawa bagian barat dikenal egaliter sesuai dengan budaya pesisir yang terbuka, tak mengenal tingkatan sebagaimana bahasa Jawa bagian tengah, di mana Solo (Surakarta) dan Yogyakarta menjadi pusatnya. Menurut Ajip Rosidi, bahasa Jawa bagian barat merupakan bahasa Jawa kuno. Adapun bahasa Jawa bagian tengah, lebih karena pengaruh kekuasaan Mataram abad ke-17 pada masa Sultan Agung, dibuat bahasa untuk lingkungannya, lingkungan keraton (Kompas, 3/10).

Pada subbahasa Banyumas, walaupun termasuk bahasa Jawa bagian barat, masyarakatnya kurang menggemari lagu tarling. Budayawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, menyimpulkan bahwa masyarakat Banyumas merupakan masyarakat pinggiran yang ingin mendekat ke keraton. Maka, dalam berkesenian mereka cenderung terpengaruh oleh Solo atau Yogyakarta.

Tema kehidupan

Pengaruh unsur ekstrinsik dalam kesenian memang sangat besar. Selain faktor bahasa, kesenian tarling berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Jabar. Tema seperti nasihat, pegat-balen (kawin cerai), wayuan (poligami), demenan (cinta), masalah dalam rumah tangga lain atau penyakit masyarakat, misalnya mabok (minum minuman keras), maen (berjudi), dan madon (main perempuan), menjadi tema utama lagu-lagu tarling.

Selain tema yang menyentuh kehidupan sehari-hari dan bersifat universal, yang membedakan lagu tarling dan lagu Tegalan, misalnya, tarling menggunakan gaya bertutur yang subyektif. Sebagaimana lagu pop melankolis pada era 1980-an, pendengar atau penikmat cepat terhanyut. Sementara lagu Tegalan lebih obyektif dan tidak selalu berkisah tentang percintaan atau urusan domestik rumah tangga, tetapi sosial budaya khas Tegal. Pasar Senggol Tegal, Man Draup Tukang Becak, dan Tegal Keminclong adalah contohnya.

Dengan demikian, sebagai kesenian tradisi, tarling sangat kuat terkait dengan bahasa ibu, bahasa Cerbonan, dan mencerminkan budaya masyarakatnya. Melestarikan kesenian tarling adalah bagian dari upaya mempertahankan karakter bangsa, khususnya di pesisir utara Jabar.

SUMARNO,

Pemerhati Masalah Sosial Budaya; Tinggal di Tangerang, Banten

Source : Kompas, Sabtu, 23 Oktober 2010 | 15:44 WIB

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • Anggun Pratiwi

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 18:25 WIB

Mari kita lestarikan musik tarling,yg merupakan budaya jawa. . .musik tarling tidah norak melainkan eksistensi budaya yang menjadi ciri khas.

Balas tanggapan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar