Tampilkan postingan dengan label Art Cultural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Art Cultural. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

Selamatan Memitu Indramayu Tempo Doeloe


Rabu, 18 Mei 2016
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
Berkat Unik “Memitu”
Indramayu Tempo Doeloe
TURUN TEMURUN – Berkat atau oleh-oleh selamatan yang dibagikan kepada para tetangga, kerabat, dan handaitaulan dalam rangka memitu atau selamatan tujuh bulan kehamilan seseorang di sebagian desa di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, terbilang unik. Ada dodol ketan bergula merah setengah matang, rujak dan lain-lain, dan nasinya dibungkus dengan plastik seperti tampak dalam gambar hasil jepretan Selasa (17/05/2016) sore. Tradisi seperti sudah berlangsung turun temurun hingga kini.(Satim)*** Foto : Satim


Jumat, 22 Maret 2013

Budaya Nusantara : Ritual "Erau Pelas Benua Guntung" Bontang Kalimantan Timur

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Budaya
Ritual "Erau Pelas Benua Guntung"
Bontang Kalimantan Timur
Upacara ini menampilkan tarian budaya khas masyarakat Dayak dan Kutai.
Kamis, 21 Maret 2013, 10:37 WIB
Posting Terkait :
VIVAlog - Pertama kali datang ke Bontang, Kalimantan Timur, semangat ingin tahu masih sangat menggebu-gebu. Salah satunya saat diajak melihat upacara Erau Pelas Benua Guntung. Mengapa di belakangnya ditambah kata "Guntung"? ini menunjukkan perbedaan wilayah dengan Erau Pelas Benua provinsi yang setiap tahunnya dilakukan oleh Kesultanan Kutai di Tenggarong.
Guntung merupakan satu-satunya bagian Kota Bontang yang sebagian besar warganya masih keturunan Kutai. Letaknya pun didekat perbatasan wilayah Kutai Timur. Namun seiring perkembangan, wilayah ini mulai bercampur dengan suku-suku lainnya, baik dari Kalimantan maupun luar Kalimantan.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Menteri Pertahanan Malaysia Wong Jawa

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Menhan Malaysia: Tiang Jawi Njih Saget Jawi
Menhan Malaysia dan Wali Kota Yogyakarta terhitung sepupu.
Jum'at, 22 Maret 2013, 00:12 Arfi Bambani Amri, Daru Waskita (Yogyakarta)
Menhan Malaysia Ahmad Zaid Hamidi (VIVAnews/ Daru Waskita)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kalimat "Tiang Jawi njih saget Jawi" atau berarti orang Jawa bisa berbahasa Jawa meluncur dari mulut Menteri Pertahanan Malaysia Dr Ahmad Zaid Hamidi. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas di Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, pun tersenyum simpul mendengarnya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi pun bercerita bahwa dia sangat pandai berbahasa Jawa karena kakeknya asli dari Serang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. "Bapak kulo asli Wates, ibu kulo asli Ponorogo (Bapak saya asli Wates dan ibu saya asli Ponorogo--red)," katanya saat ramah tamah dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta usai berziarah, Kamis petang, 21 Maret 2013.
"Monggo diunjuk minumannya (Mari diminum minumannya--red)," kata Zaid melanjutkan.
Datuk Zaid bercerita, di Malaysia dia menetap di Bagan Datu, Negara Perak. Di daerah itu, 90 persen warganya keturunan Jawa seperti dari Wates, Ponorogo, dan Tegal. "90 Persen warga yang tinggal di Bagan Datuk itu orang Jawa, maka saya juga pandai bahasa Jawa," katanya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi menjelaskan, kakeknya merantau dari Wates ke Malaysia pada tahun 1932. Tujuannya untuk kehidupan yang lebih baik.
Di Malaysia, kakeknya membuka perkebunan dan berhasil sehingga menjadi orang yang kaya. Kekayaan yang dimiliki sebagian untuk membangun masjid, sarana pendidikan atau pesantren. "Jadi saya yang sekarang meneruskan," katanya.
Kakeknya ini satu bapak dengan kakek Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. "Yo podo Mbah Buyut dengan Pak Walikota Yogya ini," katanya dengan logat Jawa yang kental.
Endro "kimpling" Suseno, sahabat dari Menhan Malaysia, mengatakan bahwa keluarga dari Menhan Malaysia ini merupakan trah dari Keraton Yogyakarta. Trah ini dibuktikan kepemilikan surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta yang masih dalam tulisan Jawa.
"Setelah dicek ke Keraton Yogyakarta, ternyata benar bahwa keluarga Menhan masih kerabat Keraton Yogyakarta. Saat ini surat kekancingan telah diubah dalam Bahasa Indonesia," katanya singkat.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Sabtu, 09 Januari 2010

Spirit Perlawanan dan Perubahan Sikap

Mekah Almukharomah

Tawaf mengelilingi Kabah di lingkungan Masjidil Haram, Mekkah, tak pernah berhenti. Setiap saat umat Islam melakukan tawaf di tiga lantai yang disiapkan di lingkungan Masjidil Haram.(Foto : Kompas/Subhan SD)***

KEAGAMAAN

Spirit Perlawanan dan Perubahan Sikap

Oleh Subhan SD

Keagamaan Sepekan silam jemaah haji kelompok terbang terakhir tiba di Indonesia. Sebagai perjalanan ibadah, sekitar 207.000 anggota jemaah Indonesia pada musim haji 2009 atau 1430 Hijriah ini diharapkan bisa menyemai nilai-nilai haji seperti solidaritas, kesetaraan, perdamaian, kasih sayang, perjuangan, serta perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik. Hal-hal itu terasa sangat dibutuhkan ketika bangsa ini terus-menerus diguncang prahara kegamangan moral. Subhan SD

Sebagai dimensi ritual personal, ibadah haji telah melahirkan pengalaman rohani yang luar biasa bagi seorang Muslim. Namun, dimensi sosiologis-politis haji juga begitu kuat dan telah melahirkan transformasi intelektual yang menimbulkan spirit baru di kalangan komunitas Muslim. Bahkan, haji menjadi motor penggerak perubahan sikap dan perilaku, yang dalam catatan sejarah mampu menjadi motor pergerakan sosial.

Haji merupakan forum pertemuan umat Islam sedunia. Berbagai bangsa menyatu dalam lautan tawaf mengelilingi Kabah, beriringan dalam rombongan sai antara Safa dan Marwah, melebur dalam wukuf di Arafah, hingga bergandengan bersama dalam melawan ”kejahatan” di Jamarat Mina. Pertemuan umat Islam sedunia itu, dengan membawa kultur dan pengetahuan masing-masing, telah memberikan warna baru dalam pergaulan sesama Muslim. Bukan hanya dalam pemahaman kebudayaan yang multiras, tetapi juga ideologi secara politis.

Perjalanan haji telah melahirkan ikatan solidaritas yang lekat di dunia Islam dan kebangsaan, yang menggairahkan spirit keagungan Islam yang rahmatan lil alamin. Kekuatan haji secara ideologis-politis sangat kental saat perjalanan haji mulai diminati pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Haji menjadi semacam media baru perlawanan terhadap kolonialisme Barat (Eropa) yang menganeksasi negara-negara di Asia dan Afrika. Bahkan, perlawanan berlatar agama (Islam) yang dipimpin para haji bisa dikatakan menjadi prolog yang mendahului pergerakan nasional (kebangsaan).

Dalam kisah-kisah klasik sejarah pergerakan rakyat di Indonesia, peran kaum haji atau kaum putih menjadi pemompa semangat perlawanan dalam menentang kolonialisme sangatlah jelas. Kaum elite agama, khususnya para haji, telah melahirkan etos perlawanan dengan semangat kebangkitan agama (revivalisme). Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebutnya sebagai gerakan religio-politik. Pola perlawanan itu juga tumbuh subur dalam bingkai gerakan tarekat yang memperkuat radikalisasi agama.

Salah satu kisah yang sangat fenomenal adalah peran dominan haji sebagai penggerak dalam perlawanan sosial di Banten (1888), selain gerakan-gerakan sosial lainnya semisal peristiwa Cikande, Banten (1845), gerakan Haji Rifangi/Rifai di Jawa Tengah, atau skala lebih kecil perlawanan Haji Entong Gendut di Condet, Jakarta (1916), hingga merintis pergerakan nasional pada awal abad ke-20.

Perang Diponegoro (1825-1830) juga tak lepas dari peran Kiai Maja yang menjadi pemimpin spiritual penyuntik semangat perang agama. Bahkan tak perlu dipertanyakan lagi soal peran ulama dalam Perang Aceh (1873-1904) dalam mengobarkan perjuangan di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Perang Aceh merupakan perang tersulit yang ditumpas penguasa kolonial.

Saking takutnya penguasa kolonial hingga muncul ketakutan terhadap para haji (haji fobia). Bahkan, bukan hanya gerakan mereka yang ditakuti, simbol-simbol haji juga menjadi momok bagi penguasa kolonial. Misalnya saja, pascaperlawanan petani di Banten, Residen Banten meminta pemerintah kolonial agar memerhatikan pakaian haji. Memang, pengenaan pakaian haji sebagai simbol mereka yang telah pergi ke Mekkah menunaikan rukun Islam kelima makin tersebar luas di Banten. Kebiasaan pemakaian simbol itu dinilai potensi berbahaya karena mereka yang berpakaian haji sangat dihormati di kalangan masyarakat.

Komunikasi luas

Bagi Muslim, Mekkah merupakan pusat kosmis. Bukan hanya menjadi titik sentral beribadah dan kiblat bersujud, tetapi juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Haji telah mengukuhkan sistem komunikasi yang luas di dunia Islam. Tidak hanya tukar informasi dari belahan Islam di dunia lainnya, tetapi juga pertemuan gagasan-gagasan baru. Isu-isu pan-Islamisme menjadi sesuatu yang terbuka diterima kaum haji dari Indonesia. Kebangkitan pan-Islamisme semakin menguat ketika Barat terus melakukan penaklukan terhadap bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

Pengalaman sosiologis haji memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, budaya, kultur, ilmu pengetahuan sesama Muslim dan seluruh penjuru dunia. Bahkan, di Mekkah, justru jemaah haji Indonesia bisa bertemu dan berkomunikasi di antara penduduk Nusantara seperti dari Jawa, Padang, Palembang, Banten, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. Saat itulah para haji bisa mengetahui apa yang terjadi di wilayah lain di Nusantara. Snouck Hurgronje, penasihat masalah pribumi pemerintah kolonial Belanda yang pernah bermukim di Mekkah (1884-1885), menceritakan, para haji dari seluruh Nusantara kala itu justru membicarakan perlawanan rakyat Aceh.

Tak mengherankan, bila Snouck Hurgronje menyatakan, Mekkah merupakan tempat persemaian fanatisme keagamaan. Bagi sosok penting dalam penaklukan Islam di Indonesia itu, para haji ditanamkan rasa permusuhan terhadap penguasa kolonial di Tanah Air mereka. Bagi Belanda, hal itu amat membahayakan terlebih lagi jumlah haji Indonesia kian meningkat setiap tahun.

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, jumlah jemaah Indonesia sekitar 20 persen dari total jemaah. Pada 1915-1919, Belanda melarang perjalanan haji setelah Sultan Turki memproklamasikan seruan jihad. Namun, setelah diperbolehkan kembali pada 1920, jumlahnya meningkat hingga 40 persen. Orang Indonesia di Mekkah juga terbanyak di kalangan orang asing. Mereka dikenal sebagai ”orang Jawah”, sekaligus untuk menyebut orang Asia Tenggara. Sejak 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua di Mekkah setelah bahasa Arab. Di Mekkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, bahasa Melayu menjadi perekat di antara orang Nusantara.

Perubahan sikap

Tak mengherankan, mereka yang pulang berhaji dipastikan diawasi penguasa kolonial. Langkahnya selalu dikuntit, bahkan sampai di desa-desa. Bahkan dalam perjalanan di kapal laut hingga aktivitas di Tanah Suci pun dimonitor. Penguasa kolonial berdalih, pengawasan itu untuk melindungi haji dari tindakan kriminal seperti penipuan hingga penyakit.

Meskipun karantina yang dibangun di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta, yang disebutkan sebagai pengawasan kesehatan menyusul wabah kolera di Mekkah, hal tersebut tak bisa menyembunyikan maksud-maksud politis di balik kebijakan karantina itu. Sistem karantina justru memudahkan pengawasan terhadap para haji.

Meskipun demikian, perjalanan rohani yang sudah pasti mampu mengalahkan keinginan duniawi ini tak membuat orang-orang Islam surut untuk pergi haji. Peringatan dari pemerintah kolonial, intaian petugas intelijen, lama dan beratnya kondisi perjalanan, atau mahalnya ongkos naik haji tak melemahkan semangat untuk berangkat ke Tanah Suci. Tidak heran, setiap tahun justru keberangkatan orang yang hendak berhaji semakin bertambah. Apalagi saat haji akbar (saat wukuf pada hari Jumat), jumlah mereka lebih banyak lagi.

Ratusan tahun silam spirit haji telah memberikan corak dan warna bagi perjalanan bangsa. Spirit haji seperti itu tampaknya sangat dibutuhkan saat ini ketika bangsa kita terus terpuruk dalam karut-marut persoalan yang nyaris tak terselesaikan, saat korupsi terus merajalela, saat tuding-menuding menjadi pemandangan lumrah, dan saat moral dan etika diabaikan.

Bangsa ini semestinya bisa memetik spirit haji untuk membangun terus silaturahim, memupuk kebersamaan dan kesetaraan, menggalang solidaritas, bukan justru saling cerca dan nyaman dalam kemunafikan. Perubahan sikap itu sangatlah krusial bila kita ingin bangsa ini maju.

Source : Kompas, Sabtu, 9 Januari 2010 | 02:46 WIB


Rabu, 20 Mei 2009

Visit Enjoy Island Biawak Indramayu

Tourism
Enjoy the Beauty of Nature Island Biawak Indramayu

INDRAMAYU – Island Biawak which is located in the area of the Sea Indramayu, is a government asset Indramayu District, West Java Province who prouded far. Local government also did not seem reluctant to contribute funds for the repair, regulation, and efforts to manage the island's most unique city in the Mangga Indramayu.
Characteristics of these Biawak, perhaps, because the flock settled Biawak ancient eternal existence that is still up to now. In addition, the marine biota is still natural and beautiful, not much disturbed by megrim those who do not responsible. Strict supervision of the officer who conducted any diterjunkan Department of Fisheries and Marine Indramayu District.

The tourists who visit there, everything is forbidden to take or damage the things that are considered harmful to k beautifully Island Biawak. To keep things that do not want to, tourists will be guided by staff who have been prepared by the Fisheries and Marine Indramayu District.

Initial instructions, prior to Biawak Island, you should first contact or coordinate with the Department of Marine Fisheries and the local. Because all the information and other matters that are required for tourists in the future are described office.

Then, the tourists are not difficult to find hard-ship or sea transport facilities to go to Island Biawak. Because, the Fisheries and Marine Indramayu District already up big motor boat that accompany the holiday special.

Figure ship quite easily recognized. Because the image reptilian "Biawak" allegedly to describe the transportation facilities to the Island Biawak. This motor boat, have any posts Assistance Department of Fisheries and Marine who has nongkrong since 2008 at the Beach Karangsong Indramayu.

That need to be prepared for tourists, perhaps quite supplies and preparedness must be physical because of the surging sea and Indramayu. Who knows, tourists needed is not available there, as a means to go away to the market. Understand, an island in the middle of the ocean including the rarely visited by many people. However, all kinds of s meanses, have been made gradually since a few years ago.

If sidah until Biawak on the island, the tourists will enjoy the beautiful natural beauty of the island since hundreds of years ago has made the lighthouse stood Netherlands, hundreds flock around biawak ancient, and is in grave b pilgrimage Syarif Khasan sheik (reputedly, his Sunan Gunung Jati ) it. Marine biota and the land was kept tight in order to remain sustainable, as an effort to spoil the tourists who come to the island.

Head of Fisheries and Marine Indramayu District, Ir. Rosyid Abdul Hakim, said the center to seek to make the island Biawak as a fun area attractions. Therefore, he said, gradually built a variety of facilities for easier reach of tourists, and making visitors comfortable. So that the pier was made, bungalau, posko, and others.

"We seek, the existence of Biawak able to provide benefits for all parties. To the future, able to exchange for the cash pan Original Income Area Local (pads), "he said.

Seriousness of the handling and management Biawak been submitted Regent Indramayu, H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) in a plenary session of Parliament Wiralodra Earth Indramayu, Friday (13 / 3) in Speech delivery Accountability Reports Description Regent Indramayu Fiscal Year 2008.

In addition to reveal about the Spatial Plan Area (RTRW) District Indramayu Year 2008 - 2025, Regent Yance (greeting familiar H. Irianto MS Syafiuddin) says, that Biawak Island is a special area management area. So Biawak Island is divided into two (2) zone, that is, the core zone and development zone.

Explained, is a core protection zone biota and fauna on land and sea, and other functions to be prohibited. Meanwhile, Development Zone, the area of Biawak enabled the development of tourism for the economy, such as limited cultivation of the sea, fishing is limited, and tourism island.

Well, if you're interested in to fill the holiday with your family or your friends on the island of Indramayu Biawak? If interested, you should contact the Fisheries and Marine Indramayu District. (Satim / Joko K) ***