Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Laporan Akhir Tahun 2011 : Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

Senin, 19 Desember 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Laporan Akhir Tahun 2011

Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

MENGAMATI MERIAM – Beberapa wartawan, Jumat (16/12/2011) sore, mencoba mengamati dan berfose di senjata berat meriam bersejarah peninggalan penjajahan Belanda sekitar Abad XVI. Dalam meriam yang diduga terbuat dari besi campur baja itu, tertulis 1768 dengan beberapa tulisan yang diduga berbahasa Belanda.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online

Sabtu, 20 Agustus 2011

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Oleh : Sukardi

PROKLAMASI Cirebon dikumandangkan 2 hari lebih awal dari proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur Jakarta. Jika Proklamasi Jakarta dibacakan oleh seorang arsitek yaitu Ir. Soekarno, maka Proklamasi Cirebon dibacakan oleh seorang dokter yaitu dr. Soedarsono. Bunyi teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon relatif berbeda dengan teks proklamasi yang dibacakan di Jakarta. Teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon terdiri dari 300 kata yang pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintah kolonial lain. Demikian komentar Sutan Sjahrir saat ditanya tentang bunyi teks Proklamasi Cirebon yang dia susun (bersama aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia lainnya).

Informasi proklamasi Cirebon yang dibacakan dan dihadiri oleh 150 orang dengan mengambil tempat tepat di tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil dekat Alun-alun Kejaksan tersebut bisa dibaca dalam buku Sjahrir, "Peran Besar Bung Kecil" terbitan Majalah Tempo (edisi Desember 2010). Meski teks Proklamasi Cirebon itu --menurut penuturan Sjahrir sendiri-- hilang, sehingga otensitas peristiwa Proklamasi Cirebon tidak bisa terekam dengan baik seperti halnya Proklamasi Jakarta. Tetapi paling tidak ada satu indikasi kuat bahwa proklamasi kemerdakaan Indonesia memang murni dari aspirasi rakyat Indonesia, bukan pemberian penjajah Jepang atau Belanda. Proklamasi Jakarta merupakan akumulasi dan desakan rakyat segenap penjuru Tanah Air tentang kebutuhan menghirup udara bebas dari tekanan bangsa lain.

Dan menurut beberapa sumber, proklamasi yang dikumandangkan di Jakarta atau di Cirebon tersebut terjadi tepat pada saat rakyat Indonesia sedang melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan republik ini terjadi ketika mayoritas penduduknya sedang memperbanyak tadarus, bersalatul lail, memperbanyak sedekah serta pelaksanaan ritus-ritus keagamaan lainnya.

Fakta Proklamasi Cirebon yang dikumandangkan 2 hari sebelum Proklamasi Jakarta dan dibaca oleh seorang dokter makin meneguhkan tesis bahwa Cirebon memang layak disebut sebagai kota revolusi dengan masyarakat yang terdidik. Pasalnya, latar belakang keberadaan padepokan milik Sunan Gunung Jati yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, kanuragan dan kemandirian dalam berbisnis dan kemudian berlanjut dengan pendirian pondok-pondok pesantren oleh para keturunannya, sedikit banyak membentuk kultur masyarakat yang berani menghadapi risiko dibantai Jepang karena menyatakan kemerdekaan. Bukan rahasia kalau pendudukan Jepang yang hanya beberapa tahun jauh lebih bengis dibandingkan dengan penjajahan Belanda yang mencapai ratusan tahun.

Keberanian wong Cerbon memproklamirkan kemerdekaan tidak lepas dari adanya berkah Tuhan yang melimpah turun pada bulan Ramadhan serta kecerdasan para pemimpin masyarakat ketika itu dalam mengaktualisasikan ajaran agama. Perintah iqro (membaca) yang menjadi perintah awal kenabian dan yang turun pada bulan Ramadhan tidak dipahami hanya sebatas membaca teks agama, tetapi juga membaca dan memahami konteks masyarakat. Para aktivis atau pemimipin bisa memberikan pandangan serta meyakinkan masyarakat bahwa pelaksanaan ritus-ritus agama, keselamatan jiwa, kelanjutan keturunan, pengembangan akal budi serta harta mereka tidak akan bisa dijalankan secara optimal apabila masih dalam tekanan penjajah.

Belajar dari sejarah

Perayaan proklamasi tahun ini kebetulan bersamaan waktunya dengan pelaksanaan ibadah puasa, persis seperti ketika pertama kali teks proklamasi dibacakan. Nuansa euforia berbalut kebangsaan yang kental tak pelak akan lebih terasa dibandingkan dengan perayaan proklamasi selain bulan Ramadhan. Perayaan proklamasi di bulan Ramadhan dipastikan minus dari hura-hura yang menghabiskan dana belasan, bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Pentas musik yang tak jarang dibarengi dengan liukan pinggul para penyanyi seksi diiringi pelototan mata anak-anak dan sorot birahi tanpa kendali dari para pemuda karena pengaruh alkohol relatif berkurang.

Segenap elemen warga negara memang seharusnya bisa melakukan perenungan lebih baik atas makna kemerdekaan yang direbut dengan darah, harta dan nyawa tersebut. Setelah lebih dari setengah abad merdeka, apakah semua orang yang hidup di bawah bendera republik ini sudah merdeka secara utuh? Apakah perlindungan negara terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan kepada semua warganya sudah memadai?

Membincang negara berarti secara otomatis membicarakan persoalan pemerintah, wilayah dan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah pemerintah sudah mengoptimalkan layanannya kepada masyarakat, apakah masyarakat sudah menaati kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, apakah pemerintah dan rakyat memiliki ketahanan untuk mempertahankan wilayah, dan berbagai pertanyaan lain yang muaranya berpangkal pada sinergitas antara pemerintah dan rakyat?

Secara substantif, musuh sebelum dan sesudah dibacakan teks proklamasi relatif sama, yakni ancaman terhadap keberadaan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta, bedanya jika sebelum proklamasi musuhnya lebih konkret yaitu serdadu Jepang atau Belanda. Sementara pascaproklamasi bentuk ancamannya lebih kompleks dan beragam. Bercermin dari kesuksesan proklamasi di mana antara para pemimpin pergerakan dan rakyat bersatu, maka supaya berhasil menghadapi musuh bersama sekarang ini, perlu dibangun kolaborasi harmonis serta kesamaan sudut pandang antara rakyat dengan para pemimpinnya, baik pemimpin formal yang ada di birokrasi pemerintahan atau pemimpin non formal yang ada di masyarakat.

Ancaman terhadap keberadaan agama, bisa jadi berasal dari paham atau ideologis komunis serta tindakan pengeboman tempat-tempat ibadah. Ancaman terhadap keberadaan keturunan, bisa berbentuk penyebaran virus HIV atau kehidupan seks bebas. Ancaman keberadaan harta, dalam bentuk korupusi dana rakyat, pencurian, perampokan serta penjarahan, dan sebagainya.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi terhadap ancaman ini akan menumbuhkan sikap saling menghargai yang berujung pada kohesivitas antara para tokoh dan masyarakatnya terhadap berbagai perilaku yang mengancam kemaslahatan negara. Persoalan penyebaran virus HIV tidak hanya menjadi urusan kementerian kesehatan dan LSM peduli AIDS tetapi juga menjadi urusan para tokoh agama dan masyarakat luas. Perlawanan terhadap koruptor yang merampok dana-dana rakyat tidak hanya menjadi urusan kementerian hukum dan LSM tetapi juga menjadi urusan tokoh agama dan masyarakat luas. Tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya harus mulai menjadi garda terdepan dengan menggunakan bahasa yang lebih vulgar dalam menyuarakan penentangan terhadap penyimpangan sosial yang terjadi di negeri ini seraya memberikan solusi.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi akan berdampak pada berjalannya mekanisme sistem sosial yang memiliki nilai-nilai luhur keindonesiaan di tengah masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap perilaku dan ajakan kelompok yang akan menggoyahkan sendi-sendi negara--seperti pendirian Negara Islam Indonesia misalnya---akan lebih kuat. Regulasi yang dibuat pemerintah akan selalu berpihak kepada rakyat secara luas. Para pejabat akan terjauh dari perilaku yang merugikan rakyat dengan memperkaya diri atau kelompok politiknya, dan para aktivis LSM akan cepat melakukan audensi atau kritik kepada para pejabat pemerintah yang dianggap menyimpang.

Kalau semua pemimpin dan rakyat sudah menyadari peran dan posisinya masing-masing maka kesejahteraan masyarakat pun akan lebih terjamin. Kue pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, dan perayaan proklamasi pun tidak lagi menyisakan jeritan anak-anak dari keluarga miskin yang tidak bisa mengenyam sekolah karena mahhalnya biaya pendidikan. Momentum perayaan proklamasi di bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadi titik awal untuk menggapai kondisi tersebut. Wallahu a'lam.***

*) Sukardi, guru SMA Negeri 4 Kota Cirebon

Source : Kabar Cirebon.com, Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB

Minggu, 14 Agustus 2011

Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura

Minggu, 14 Agustus 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura

TRANSPORTASI dan perdagangan di Kabupaten Indramayu pada zaman dulu, terutama di era kolonial Hindia-Belanda pada tahun 1900-an, tertumpu di sepanjang aliran Sungai Cimanuk. Melalui jalur itulah, tata niaga lokal terkonsentrasi, dan menjadi pusat perekonomian terpenting di kawasan pantura kala itu.

Perdagangan beras dan komoditi pokok masyarakat lainnya, seperti jagung, palawija, rempah-rempah, dan lain-lain, setiap harinya dilakukan oleh masyarakat pribumi maupun pendatang dalam suasana kekeluargaan.

Tingginya intensitas perdagangan pada saat itu membuat sebagian besar warga pribumi yang beragama Islam, berinisiatif membangun sebuah langgar atau musala dengan ukuran kecil mungil. Saat itu tahun 1937, langgar terletak di tepi Sungai Cimanuk.

Tujuan dibangunnya langgar tersebut untuk memberikan sarana beribadah bagi penganut agama Islam di kawasan tersebut.

Keberadaan langgar yang saat itu belum bernama, cukup membantu ibadah masyarakat Indramayu, serta sejumlah pedagang asal Cina atau Tiongkok yang kerap menjalankan aktivitas niaga di sana.

Seiring perkembangan waktu, langgar kecil tersebut mulai dipugar, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Pemugaran langgar tersebut tidak terlepas dari peran sentral seorang mualaf asal Tiongkok bernama Tjoe Teng. Tanah seluas 1 hektare milik Tjoe Teng yang terhampar di sisi langgar tersebut, dihibahkan secara sukarela untuk kepentingan pembangunan langgar.

Bahkan Tjoe Teng yang saat itu sangat terkenal sebagai juragan atau saudagar kaya dengan berbagai jenis usaha baik beras maupun komoditi lainnya, ikut menyumbangkan sebagian rezekinya untuk pemugaran hingga pembangunan langgar.
Tjoe Teng pun menurut sejumlah saksi sejarah saat itu, memiliki komitmen yang cukup besar untuk membangun tempat ibadah yang representatif, meski ia merupakan mualaf atau pemeluk baru agama Islam.

Sikap dermawan sang mualaf asal Tiongkok ini membuat warga pribumi sangat menghormatinya, dan menganggap Tjoe Teng sebagai penduduk pribumi, bukan seorang pendatang dari negeri Tiongkok. Bahkan oleh warga setempat, Tjoe Teng sering disebut-sebut sebagai tokoh dermawan
"Riwayat pembangunan Masjid Agung Indramayu tidak terlepas dari peran Tjoe Teng yang menghibahkan tanah miliknya, dan membangun langgar menjadi masjid," ungkap pengurus DKM Masjid Agung Indramayu, Saprudin.

Selain mendapatkan bantuan dari Tjoe Teng, sang saudagar kaya, masyarakat sekitar pun ikut membantu baik dengan tenaga maupun materi. Pokoknya, saat itu kepedulian masyarakat setempat sangat tinggi untuk membangun sarana ibadah tersebut.

Singkat cerita, setelah dibangun secara gotong royong, Masjid Agung Indramayu pun berdiri cukup besar di zamannya. Bahkan, Masjid Agung Indramayu menjadi pusat ibadah kaum muslimin dan muslimat Indramayu dalam menjalankan ibadah.

"Bahkan, setiap tahunnya, Masjid Agung menjadi tempat salat ied bagi sebagian masyarakat Indramayu," katanya.

Budayawan Indramayu, Fuzail Ayad Syahbana, menjelaskan, berdasarkan sejumlah saksi sejarah Masjid Agung berupa foto-foto tempo dulu yang diperolehnya dari kantor arsip Hindia Belanda, Masjid Agung memiliki satu ciri khas pada konstruksi bangunannya yang mirip Masjid Demak.

Fuzail Ayad menambahkan, penyebaran Islam di Jawa tidak terlepas dari peran Wali Songo. "Kecenderungan tersebut sangat kuat dari arsitektur bangunan Masjid Agung Indramayu yang menyerupai Masjid Demak hingga saat ini," tuturnya.(Odox/"KC") ***

Source : kabar-cirebon.com, Rabu, 10 Agustus 2010 - 01:02:19 WIB

Kamis, 07 Juli 2011

Bunderan Kijang Yang Masih Dikenang

Kamis, 07 Juli 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Bunderan Kijang Yang Masih Dikenang

Foto : Satim/Maju Terus

BUNDERAN KIJANG – Keberadaan Bunderan Kijang di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, karena di tengahnya berdiri patung Kijang, tampaknya masih memberikan kenangan hingga kini. Perempatan jalan yang tak jauh dari jantung Kota Mangga itu, membagi empat jalur, yakni Jalan Gatot Subroto, Jalan Pahlawan, Jalan Ir. H. Juanda, dan Jalan Jenderal Sudirman. Kepadatan lalu lintas di Bunderan Kijang Indramayu itu pada jam kerja sekitar pukul 06.30 WIB dan pada jam bubar kerja sekitar pukul 14.00 WIB. Gambar Bunderan Kijang diambil, Senin (27/06/2011) sekitar pukul 16.15 WIB.(Satim)***

Jumat, 10 Juni 2011

Misteri Abad Pertengahan Mediterania

Jumat, 10 Juni 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

B U K U

Misteri Abad Pertengahan Mediterania

Nurhadi BW

• Judul : Foucault’s Pendulum • Pengarang : Umberto Eco • Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto • Penerbit : Bentang • Tahun : I, November 2010 • Tebal : xi + 691 halaman • ISBN : 978-602-8811-02-6

Umberto Eco bukannya tidak memiliki skenario dengan novel ini. Melalui tiga tokoh utama, dia mengisahkan rentang sejarah abad pertengahan dengan sentral Laut Tengah, khususnya terkait dengan kelompok-kelompok yang berperan dalam pergolakan sejarah.

Foucault’s Pendulum (Italia: Il Pendolo di Foucault) terbit pertama kali tahun 1988. Nama Foucault mengingatkan kepada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Padahal, Foucault pada judul novel ini adalah nama penemu pendulum, yaitu Leon Foucault.

Nama Umberto Eco sendiri di Indonesia tidak kalah populer dibandingkan dengan Michel Foucault. Selain ahli bidang semiotik, sejarah abad pertengahan, dan kajian budaya kontemporer, Eco juga seorang novelis. Pria kelahiran Italia tahun 1932 ini telah menulis enam novel. Dua di antaranya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, The Name of the Rose dan Boudolino.

Foucault’s Pendulum adalah novel kedua setelah The Name of the Rose (1980). Novel-novel Eco bukanlah novel yang linier menyajikan sebuah narasi seperti novel umumnya. Karya-karyanya berupa intertekstualitas, khususnya tentang sejarah abad pertengahan, sebuah rentang waktu dan wilayah yang tidak mudah dipahami, bahkan oleh orang-orang Eropa sendiri. Misal, untuk memahami novel The Name of the Rose perlu sebuah buku panduan tersendiri. Tampaknya, hal yang sama juga berlaku untuk Foucault’s Pendulum.

Knight Templar

Novel ini sebenarnya memiliki latar cerita pada akhir 1960-an di sekitar Milan, Paris, dan Brasil. Akan tetapi, paparan kisahnya merentang dalam waktu yang cukup panjang, mulai dari abad ke-11 hingga abad ke-20. Fokusnya adalah sepak terjang Knight Templar, ordo ksatria yang muncul pada masa perang salib di Jerusalem. Riwayat Knight Templar bukanlah kisah sederhana. Awalnya, kelompok pengawal para peziarah Eropa yang pergi ke Jerusalem hanyalah sebuah kelompok yang didirikan oleh sembilan orang. Lalu menjadi ordo yang kuat dan kaya, namun berseberangan dengan Vatikan. Akibatnya, diberangus. Setelah itu, muncul sebagai kelompok yang disebut dengan Iluminati atau Freemasonry. Kelompok ini sering dikaitkan dengan kekuatan rahasia yang menguasai dunia dan juga Teori Konspirasi.

Knight Templar tentu saja menjadi pilar utama yang menjadi jalinan kisah novel ini. Di Indonesia, kelompok ini mulai dikenal, antara lain, melalui The Da Vinci Code karya Dan Brown. Novel Brown yang diterbitkan pada tahun 2003 ini membahas tentang sejarah kehidupan Maria Magdalena dan kelompok Priory of Sion, nama lain Knight Templar.

Foucault’s Pendulum bukanlah novel yang menyajikan sebuah romansa tokoh-tokohnya ataupun sekadar novel detektif tentang sebuah pembunuhan dan dalangnya. Novel ini bersifat cerita berbingkai. Novel Eco mirip dengan yang dilakukan Brown pada karya-karyanya, termasuk The Da Vinci Code, meski dilihat dari tahun penerbitannya, novel Eco muncul jauh sebelum Brown. Novel Eco pun kaya dengan berbagai referensi sejarah abad pertengahan dan dipenuhi kutipan berbagai bahasa. Selain itu, juga bersifat simbolik; menggambarkan titik balik arah pergerakan sebuah pendulum, titik balik kekuasaan sejarah dunia.

Novel ini berpusar pada tiga tokoh yang mempelajari keberadaan dan sejarah sepak terjang Knight Templar. Ketiganya adalah Casaubon, Belbo, dan Diotallevi. Casaubon, narator, awalnya mempelajari Knight Templar guna menyelesaikan disertasinya pada akhir 1960-an. Sementara dua temannya, Belbo dan Diotallevi, adalah editor penerbit Garamond yang mendapatkan naskah tentang Knight Templar dari seorang kolonel bernama Ardenti.

Hampir sebagian besar novel berupa pengungkapan sepak terjang Knight Templar. Mulai dari pendiriannya oleh Huges de Payens dan Godfrey de Saint-Omer di Palestina pada 1119 hingga peristiwa pemberangusan dan pelarangan oleh Paus Clement V dan oleh Raja Perancis, Philip IV, pada 1312. Pimpinan Knight Templar kala itu, Jacques de Mollay, ditangkap dan dieksekusi di penjara Bastile. Revolusi Perancis (1879) yang berawal dari penjara Bastile konon sering dikaitkan sebagai bentuk balas dendam kelompok ini kepada Raja Perancis yang telah mengeksekusi De Mollay.

Dengan menuliskan sejumlah peristiwa yang terkait dengan Knight Templar sebagai benang merah dalam bentuk novel, Eco mengangkat tema tersebut menjadi sebuah diskursus. Tidak sedikit kritikus sastra yang meyakini sejumlah informasi yang diangkat Eco ini sebagai sebuah kebenaran sejarah, meski sejarah Knight Templar hingga Masonry sering kali gelap karena sifat kerahasiaan keanggotaan mereka. Fakta historis semacam ini juga dipergunakan oleh Dan Brown dalam trilogi novelnya (Angels and Demons, The Da Vinci Code, dan The Lost Symbol).

Tanpa mengetahui atau mengenali permasalahan yang terkait dengan Knight Templar, rasanya sulit untuk membaca novel ini. Untuk menjadi pembaca novel-novel semacam ini diperlukan pengetahuan yang mendasarinya. Eco memperlakukan calon pembacanya sebagai orang yang bukan awam terhadap informasi abad pertengahan di wilayah Mediterania itu.

Nurhadi BW,

Dosen FBS UNY, Lulus Program S-3 Sastra UGM, Yogyakarta

Source : Kompas, Minggu, 03 April 2011

Kamis, 26 Mei 2011

TOKOH PERGERAKAN : IJ Kasimo dan Politik Bermartabat

Kamis, 26 Mei 2011

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

TOKOH PERGERAKAN

IJ Kasimo dan Politik Bermartabat

Ignatius Joseph Kasimo saat bertemu Presiden Soekarno. (ARSIP KOMPAS)***

TOKOH PERGERAKAN

IJ Kasimo dan Politik Bermartabat

Oleh ST SULARTO

NAMA Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986) tidak setenar nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan lainnya. Namun, ketika praksis berpolitik belakangan ini cenderung menjadi komoditas dan tempat mencari kedudukan, sosok Kasimo menjadi referensi aktual.

Bersama orang-orang seangkatan, seperti Natsir dan Prawoto, tujuan Kasimo berpolitik itu jernih, untuk rakyat dan bukan untuk dapat banyak honor,” kata sejarawan Anhar Gonggong seputar ketokohan IJ Kasimo dalam sejarah pergerakan kemerdekaan.

Kasimo memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Berpolitik menjadi bermartabat.

Moto salus populi suprema lex (kepentingan rakyat hukum tertinggi), kata Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, merupakan cermin etika politik yang nyaris jadi klasik dari tangan Kasimo. Masuk ke gelanggang politik merupakan panggilan hidup, sikap dan perbuatannya jauh dari motivasi memperkaya diri, keluarga, dan kelompok. Kasimo seorang negarawan sejati.

Menyambung Jakob Oetama, di mata Harry Tjan Silalahi, Kasimo adalah manusia berkarakter. Berkorban tanpa pamrih, hidup sederhana. Kesederhanaan menjadi kesalehan hidup. Karena itu, Kasimo dianugerahi umur panjang. Meninggal dalam usia 86 tahun, 1 Agustus 1986, tidak pernah korup berkat pendidikan Barat yang membedakan ”milikku” dan ”milik negara”, mine and yours.

Dari Jawa mengindonesia

Kalaupun kemudian Kasimo dikenal sebagai politisi Katolik, kata Jakob Oetama dan Harry Tjan Silalahi, bahkan dikenang sebagai Bapak Politik Umat Katolik Indonesia, iman Katoliknya memberi inspirasi, memperkuat sikap dan pandangan idealisme.

Meskipun selalu berpakaian Jawa lengkap, Kasimo lebur dalam upaya mengajak dan menyadarkan bahwa umat Katolik bukanlah umat Katolik di Indonesia, tetapi umat Katolik Indonesia bagian utuh dari kemajemukan bangsa Indonesia. ”Dari Jawa mengindonesia,” tegas Harry Tjan.

Lahir sebagai anak kedua dari 7 bersaudara dari pasangan Dalikem-Ronosentika, seorang prajurit Keraton Yogyakarta, Kasimo tampil memperjuangkan hak-hak anak jajahan. Ia berjuang lewat Volksraad, lewat partai, tidak dengan menampilkan sikap sektarian, tetapi berdasar platform kebangsaan yang majemuk. Partai Katolik bukanlah partai konvensional, melainkan partai yang mendasarkan diri pada ajaran dan moralitas Katolik.

Mengenai posisi golongan Katolik, kata Daniel Dhakidae—Pemimpin Redaksi Majalah Prisma—di Hindia Belanda tahun 1930-an golongan Katolik dianggap seperti golongan ”paria” di India. Karena itu, kehadirannya tidak diperhitungkan.

Dalam kondisi demikian, peran pastor-pastor Belanda yang Katolik di Hindia Belanda menjadi serba salah. Pastor Frans van Lith SJ merupakan satu dari antara mereka yang bersimpati dan kemudian memihak orang bumiputra.

Menurut JB Sudarmanto yang melakukan penelitian tentang Kasimo, setahun setelah diangkat sebagai anggota Volksraad tanggal 19 Juli 1932, Kasimo melontarkan pernyataan, ”Tuan Ketua! Dengan ini saya menyatakan bahwa suku bangsa-suku bangsa Indonesia yang berada di bawah kekuasaan negeri Belanda, menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa.”

Kasimo juga ikut serta dalam Petisi Soetardjo yang diajukan pada 15 Juli 1936. Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, berkat diangkatnya Kasimo menjadi anggota penuh delegasi RI untuk perundingan dengan pihak Belanda dari Partai Katolik, dan Supeno dari Partai Sosialis, Belanda bersedia bertemu Indonesia di meja perundingan.

Bersama Kolonel AH Nasution, Kasimo—Ketua Partai Katolik (1924-1960)—menjalankan fungsi pemerintahan negara dengan membentuk Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa (KPPD). Kerja sama erat dalam kedudukannya sebagai pejabat KPPD di Jawa dengan Markas Komando di Jawa lewat penandatanganan bersama menghasilkan banyak keputusan sebagai legalitas formal Pemerintah Pusat RI di Jawa ketika bergerilya semasa Clash II.

Partai politik, bagi Kasimo, merupakan sarana dan bukan tujuan. Itu pula yang menjadikan Kasimo berbesar hati menerima Partai Katolik RI yang dia dirikan berfusi ke Partai Demokrasi Indonesia tahun 1972.

Dosen Sejarah Gereja, RL Hasto Rosariyanto SJ, menggarisbawahi pendapat orang tentang kesamaan ketokohan Kasimo dan Cory Aquino. Mereka bertemu dalam kegiatan politik yang digerakkan oleh cinta tanah air, sederhana, dan jujur. Sebuah bentuk keluhuran yang di hari-hari ini menjadi amat mewah, terlebih saat berpolitik tidak lagi didasarkan atas keberpihakan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Akan tetapi, mengapa hingga kini IJ Kasimo belum juga dianugerahi gelar pahlawan nasional? Ya, mengapa belum? Dua seminar tentang Kasimo yang digelar pada 8 Oktober 2010 di Yogyakarta dan 12 Oktober 2010 di Jakarta merupakan salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut.***

Source : Kompas, Jumat, 8 Oktober 2010 | 03:45 WIB

Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda


  • alies amasat

Sabtu, 9 Oktober 2010 | 02:01 WIB

semakin sempit berpikir akan semakin terbelakang bangsa ini. Kapan Indonesia bisa merajut kekuatan dari berbagai kelompok dalam masyarakatnya tanpa pandang bulu?

Balas tanggapan


  • an ismanto

Jumat, 8 Oktober 2010 | 12:40 WIB

Mentalitas primordialistik yang akut dan tidak konstruktif itulah yang menyebabkan kasimo belum juga memperoleh gelar pahlawan nasional. Mayoritas masyarakat menentang, pemerintah tidak berani mengoreksi penentangan tersebut karena tidak mau kehilangan popularitas di mata masyarakat. Perlu kemauan dan perwujudan politik yang tegas untuk memberikan penghargaan kepada pihak yang punya andil dalam sejarah bangsa ini, sekaligus memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang "meletakkan segala sesuatu sesuai dengan proporsinya".

Balas tanggapan


  • Veronika widijati

Jumat, 8 Oktober 2010 | 10:41 WIB

Yang kita tunggu sebenarnya bukan sekedar diberinya gelar sebagai pahlawan nasional,atau tidak, tetapi lebih pada mengapa tidak tumbuh j.Kasimo-Jkasimo baru ? sudah sekerdil inikah kita ?? tentunya tidak bukan ?

Balas tanggapan


  • sudirman pratiwi

Jumat, 8 Oktober 2010 | 07:39 WIB

Mengapa belum diangkat menjadi pahlawan nasional? Ya karena bangsa ini belum mampu (masih cupet nalar) menghargai yang baik dan benar, bahkan cenderung digiring ke arah pengkotak-kotakan berdasar golongan dan keyakinan. Bahkan pemimpin bangsa saat ini nampak lembek di hadapan gerakan-gerakan yang memecahbelah kerukunan dan kedamaian yang dicita-citakan sebagai bangsa merdeka. Sayang seribu sayang

Balas tanggapan


  • Tikus Kantong

Jumat, 8 Oktober 2010 | 06:16 WIB

Kompas pura-pura gak ngerti jawabannya ya? Ya karena Kasimo itu dari golongan minoritas. Itu makanya Indonesia terpuruk dalam memajukan bangsanya, Masih sebagai masyarakat gerombolan, tidak berani berfikir secara gentle. dan bersikap fair play. WNI dihargai bukan karena prestasinya, tapi dilihat asal agama dan rasnya, dari mayoritas atau bukan.

Balas tanggapan

Minggu, 19 Desember 2010

Ilham Khoriri : "Harapan Baru Setelah Timah"

SEJARAH

Harapan Baru Setelah Timah

Oleh Ilham Khoiri

Sejak abad ke-19 Masehi, Pulau Belitong didatangi banyak orang karena kandungan timahnya. Namun, ketika pamor bahan tambang ini kian merosot tahun 1990-an, kawasan di Bangka Belitung ini seakan ditelantarkan. Kini, lewat novel ”Laskar Pelangi,” muncul harapan baru.

Nama Belitong terkenal setelah Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah bernama Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB) tahun 1851. Perusahaan besar ini mendatangkan banyak pekerja dari berbagai kawasan di Nusantara, bahkan dari China. Mereka dikenal sebagai kuli kontrak.

Saderi (69), tokoh masyarakat di Gantong, Belitung Timur, menuturkan, kehidupan para pekerja itu dijamin perusahaan. Belanda memasok kebutuhan bahan pangan, sandang, dan papan mereka. Warga lokal yang tidak terkait pertambangan timah sulit mencicipi fasilitas itu.

Belitung kemudian menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan ketika Indonesia merdeka pada 1945. Perusahaan timah dikelola negara lewat PN Timah yang selanjutnya menjadi PT Timah Tbk. Hingga 1980-an, ketika pamor timah mentereng di dunia, kawasan ini masih diperhatikan.

Namun, pada pertengahan 1990-an, seiring dengan merosotnya harga timah dunia, pertambangan di Belitong ditutup. Pulau ini lantas seolah ditinggalkan begitu saja. Ketika penambangan liar mengeduk tanah di pulau itu sehingga bolong-bolong, kerusakan tersebut seperti didiamkan saja.

Kehidupan pulau tak banyak berubah meski kemudian berusaha mandiri sebagai Provinsi Bangka Belitung tahun 2000. Belitung dimekarkan menjadi Belitung (induk) dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibu kota Manggar. Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar kian parah.

”Kami ketinggalan dalam pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur,” kata Saderi.

Berubah

Perhatian masyarakat terhadap Pulau Belitong mulai berubah saat terbit novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, warga asli Desa Linggang, Gantong, Belitung Timur. Novel ini menceritakan perjuangan sekelompok anak kampung di kawasan itu dalam memperoleh pendidikan di tengah kesulitan ekonomi dan fasilitas. Buku terbitan Bentang Pustaka tahun 2005 itu terjual hingga sekitar lima juta eksemplar di pasaran.

Sukses itu kemudian diperkuat novel-novel berikutnya, yaitu Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), serta Maryamah Karpov (2009). Tiga novel itu lantas diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, masing-masing dengan judul Rainbow Troops, The Dreamer, dan Edensor. Artinya, ketiga karya tersebut telah menembus dunia.

”Kisah perjuangan anak-anak itu bisa jadi inspirasi bagi semua orang, tak terbatas negara,” kata John Colombo (25), penerjemah Edensor asal Amerika Serikat.

Laskar Pelangi kian meledak, terutama setelah diangkat ke layar lebar dengan sutradara Riri Riza pada 2008. Film produksi Miles Films dan Mizan Productions itu ditonton sekitar 4,6 juta orang dan menyabet penghargaan internasional. Salah satunya masuk dalam seksi panorama di Berlinale International Film Festival tahun 2009.

Film berikutnya, Sang Pemimpi (2009), juga ditonton 2,3 juta orang serta mendapat penghargaan festival internasional. ”Sambutan publik luar biasa. Mungkin karena ceritanya mengangkat lokalitas, tetapi problem pendidikan kan memang menjadi masalah universal,” kata Mira Lesmana, pemilik Miles Films. Kini, produser film ini sedang mempersiapkan ”Musikal Laskar Pelangi” yang bakal digelar di Jakarta, pertengahan Desember.

Sukses Laskar Pelangi melejitkan nama Belitong. Nama pulau kecil penghasil timah itu pun mencuat. Kunjungan wisatawan meningkat tajam. Mereka mendatangi situs-situs bekas shooting film, seperti sekolah Laskar Pelangi serta rumah Bu Muslimah (tokoh guru dalam novel itu). Mereka juga menikmati pesona pantai indah pulau itu, seperti Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang—yang kebetulan juga menjadi lokasi shooting.

Semua itu memberikan efek ekonomi, terutama jasa transportasi, hotel, dan rumah makan. Lebih penting lagi, masyarakat setempat memaknai sukses Laskar Pelangi sebagai momentum untuk bangkit. ”Inilah saatnya masyarakat Belitong tidak lagi menggantungkan diri hanya kepada timah, tetapi kepada kreativitas seni budaya,” kata Ahmad (51), Kepala SD 28 Gantong.

Festival

Agar tren ini tak jadi momen sesaat, Andrea Hirata bersama tokoh-tokoh warga lokal menyelenggarakan Festival Laskar Pelangi yang direncanakan diadakan setiap tahun. Untuk tahun 2010, festival berlangsung selama November. Berbagai ekspresi seni budaya lokal ditampilkan, seperti tari, musik, dan seni pertunjukan.

Tak hanya memusat di panggung, berbagai kelompok masyarakat juga didorong untuk menyajikan ragam budaya dalam karnaval. Ada barongsai, seni lesung panjang, tari campak, beripat, sepen, pakaian adat, atau bahasa Melayu lokal. Sebagian seni pertunjukan tradisional itu kemudian dikolaborasikan dengan seni modern, seperti puisi atau musik jazz. Salah satunya, Aminoto Kosin, personel Karimata Band yang jaya pada 1980-an sampai 1990-an.

”Masyarakat sangat antusias. Mereka ingin sekali menghidupkan budaya sendiri yang sebenarnya mulai terkikis zaman,” kata Fakhrul Rizal, Kepala Desa Linggang sekaligus Direktur Festival Laskar Pelangi.

Panitia festival mengukuhkan Desa Linggang sebagai ”Desa Sastra”. Tak jelas betul bagaimana konsepnya, tetapi yang jelas salah satu jalan desa diberi nama Jalan Laskar Pelangi, beberapa yang lain dengan nama tokoh-tokoh sastra Indonesia. Dibangun pula rumah puisi Andrea Hirata untuk residensi seniman dari luar serta rumah baca Laskar Pelangi sebagai perpustakaan umum.

Andrea Hirata menuturkan, program desa sastra itu terinspirasi dari perjalanannya di Amerika Serikat beberapa waktu sebelumnya. Dia sempat mampir ke Hannibal di Missouri, Amerika Serikat. Kawasan itu dibangun dengan mengabadikan citra dua karya sastra terkenal Mark Twain (1835-1910), yaitu Adventures of Huckleberry Finn dan The Adventures of Tom Sawyer.

Gerakan serupa mungkin dapat dikembangkan di Desa Linggang, tempat lahirnya Laskar Pelangi. ”Kenapa tidak? Ini diharapkan bisa mendongkrak pariwisata dan ekonomi rakyat, sekaligus menjadi alternatif baru setelah era timah berakhir,” ungkap Andrea.

Source : Kompas, Minggu, 12 Desember 2010 | 03:55 WIB

Minggu, 24 Oktober 2010

Manusia Prasejarah di Karst Citatah

ARKEOLOGI

Manusia Prasejarah di Karst Citatah

Petugas Balai Arkeologi Bandung dibantu masyarakat dan Balai Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisional melakukan penggalian di Goa Pawon, Padalarang, Jawa Barat, Rabu (25/8). Pada penggalian 23 Agustus-2 September ditemukan berbagai peralatan manusia prasejarah. (KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG)***

Oleh Cornelius Helmy

”Nu maot diurus nu hirup ditalantarkeun.” Kata-kata dalam bahasa Sunda, yang artinya: yang mati diurus tapi yang hidup ditelantarkan, itu kerap didengar para arkeolog dan peneliti beberapa tahun belakangan ini saat terlibat dalam pelestarian kawasan Karst Citatah, Bandung Barat.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk terus bergelut dengan sesuatu yang mereka yakini. Ada kehidupan yang hilang di Karst Citatah.

Lewat penggalian terus-menerus, Balai Arkeologi (Balar) Bandung kembali menemukan apa yang mereka cari. Mereka menemukan ribuan alat dari batu obsidian dan tulang mamalia dalam lapisan tanah dengan rentang kronologi 5.600-9.500 tahun lalu. Alat-alat itu diduga digunakan manusia prasejarah di sana untuk kegiatan sehari-hari. Alat itu berupa pisau, bor, penyerut, bahkan mata tombak. Juga ditemukan perhiasan dari taring binatang, kulit kerang, dan gigi ikan hiu.

”Semua digunakan manusia prasejarah Goa Pawon karena tahun asalnya sama,” ujar arkeolog Balar Bandung Lutfi Yondri, yang ditemui saat penggalian dasar Goa Pawon di tahun 2010, akhir Agustus lalu.

Penelitian ini merupakan rangkaian aktivitas penelitian arkeologi sejak tahun 2003. Setelah tim Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) menggali dan menemukan beberapa benda dari gerabah, obsidian, dan tulang binatang di Goa Pawon tahun 2000, Balar Bandung lalu menindaklanjutinya tiga tahun kemudian dan menemukan temuan lebih besar.

Mereka menemukan sisa rangka manusia yang lalu disebut dengan inisial R (Rangka)—dengan nomor urut berdasar urutan penemuan. Rangka R1 hanya terdiri dari atap tengkorak, rahang bawah, rahang atas yang diwarnai dengan hematid (pewarna merah) di kedalaman 80 cm. Ada juga R2— tulang tengkorak belakang.

Penggalian tahun 2004, tim Balar Bandung gembira bukan kepalang karena menemukan R3—rangka manusia dalam posisi terlipat (flexed) di kedalaman 143 cm. Dilihat dari posisi melipat, itu adalah pemakaman kuno. Walau saat ditemukan kondisinya sudah sangat rapuh, penemuan itu hingga kini adalah yang terbesar di Jabar. Di lapisan bawah dari temuan R3, ditemukan R4 tapi tidak seutuh R3. Rangka ini terdiri dari bagian tengkorak, dan tulang-tulang bagian badan, serta lengan-yang amat rapuh.

Sempat kosong setahun, di tempat yang sama tim mengembangkan penggalian, membuka kotak-kotak ekskavasi baru. Hasilnya, ditemukan tulang tungkai, rahang atas dan bawah—R5. Lutfi mengatakan, penggalian terbaru menguatkan fakta dari penemuan sebelumnya di Jabar atau daerah lain di Pulau Jawa, yaitu soal pola migrasi manusia prasejarah.

Temuan itu membuktikan manusia prasejarah pernah tinggal di Jawa Barat. Sebelumnya para ahli menarik jalur garis migrasi dari Asia ke Pulau Jawa langsung ke Jawa Tengah.

Ketika dicocokkan dengan kebiasaan manusia prasejarah di beberapa karst di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terlihat ada kemiripan. Penguburan manusia terlipat juga ditemukan di Song Keplek di Pacitan, Jawa Timur (usia: 5.900 tahun lalu); Song Gentong di Tulungagung, Jawa Timur (8.760 tahun lalu); Song Terus di Pacitan, Jawa Timur (9.200 tahun lalu); dan Goa Braholo di Gunung Kidul, Yogyakarta (9.780 tahun lalu).

Dari orientasi arah penguburan, manusia prasejarah di Song Gentong memiliki pola sama. Kedua kuburan mengarah ke barat laut tenggara. Proses pewarnaan dengan hematid juga dilakukan pada temuan di Song Keplek. Besar kemungkinan mereka memiliki garis keturunan sama yang terus menjauh dari tempat asalnya karena kebutuhan perburuan hewan. Mereka berpindah seiring migrasi hewan buruan.

Fakta lain, manusia prasejarah Pawon gemar menjelajahi daerah yang jauh dari tempat tinggalnya. Contohnya, penemuan batu obsidian hanya ada di sekitar Nagreg, Kabupaten Garut, dan di sekitar Subang. Jarak antara Nagreg dan Goa Pawon sekitar 30 kilometer. Dengan penemuan itu, bisa dipastikan bahwa manusia prasejarah Pawon melakukan perjalanan panjang mencari batu obsidian.

Pada penemuan gigi hiu dan kerang, 5.600-9.500 tahun lalu diperkirakan laut terdekat dengan Goa Pawon ada di Pantai Subang-sekitar 40 km dari Goa Pawon. Menarik diteliti bahwa mereka memiliki sistem navigasi atau penanda tertentu agar mereka bisa pulang.

”Bukan tidak mungkin, manusia prasejarah di Jatim dan Jateng awalnya adalah bagian dari manusia prasejarah Jabar yang memiliki pola migrasi untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Dengan penemuan itu, Lutfi semakin bersemangat menggali di sekitar Goa Pawon untuk melihat kemungkinan adanya bekas kegiatan yang sama atau lebih tua. Ia yakin ada semacam permukiman di Jabar, setidaknya ditemukan kerangka manusia prasejarah lain. Sasarannya adalah goa kapur di sekitar Pawon. Data mahasiswa pencinta alam Ganesha ITB menyatakan, tidak kurang 50 goa kapur ada di pegunungan Rajamandala.

Salah satu bukti adalah temuan serpihan tulang manusia di Goa Tanjung—sekitar 300 meter dari Goa Pawon—tahun 2009. Setelah penelitian lanjutan, ditemukan 7-8 fragmen tulang kaki manusia, panjang 20-30 cm. Usia tulang diperkirakan sama dengan usia manusia Pawon.

Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Tony Djubiantono mengatakan, penelitian lanjutan bisa menjadi aktivitas penting mengungkap perkembangan manusia prasejarah di Indonesia. Ia menyambut baik niat Balar Bandung terus meneliti untuk mengungkap misteri manusia prasejarah di Indonesia. Namun, usaha itu tidak akan mudah mendapat hasil. Mereka harus adu cepat dengan perusakan dan eksploitasi kawasan kapur. Geolog Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo mengatakan, mayoritas goa-goa kapur di Karst Citatah terancam rusak akibat penambangan. Lemahnya peraturan hukum turut memengaruhi.

”Aturan seperti UU No 24 Tahun 1992 tentang Perlindungan Kawasan Karst, UU No 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya, dan niat Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk melindungi Karst Citatah tidak terlihat kekuatannya,” ujar koordinator KRCB ini.

Ketua Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar mengatakan, setidaknya beberapa goa kapur di kawasan Karst Citatah dalam kondisi kritis. Goa itu ada di Pasir Bancana, Pasir Masigit, dan Gunung Hawu.

Goa di Pasir Bancana adalah goa buntu berbentuk vertikal dan horizontal. Saat ini goa itu rusak di sisi timur, barat, dan utara. Goa di Pasir Masigit adalah goa vertikal, dan kini rusak di sisi timur, utara, dan selatan. Juga goa vertikal dan horizontal di Gunung Hawu yang kini rusak di sisi timur. Bachtiar mengatakan, bila rusak dan hancur tentu sangat merugikan masyarakat Jabar di berbagai bidang. Ini merupakan bukti minimnya penjagaan tempat bersejarah, hilangnya aspek pendidikan dan potensi wisata. Ia menerangkan, minimnya penjagaan terhadap empat goa itu pasti berpengaruh pada usulan Jabar yang ingin Goa Pawon menjadi warisan dunia UNESCO.

”Padahal, apabila bisa dimanfaatkan dengan baik, potensi wisata dari kematian manusia prasejarah dan lokasi tempat tinggalnya bisa membuat warga di sekitarnya sejahtera. Bukan lagi anggapan hanya memikirkan yang sudah mati. Hal itu sudah dipraktikkan di negara maju seperti Jepang, Belanda, dan Perancis,” ujar Bachtiar. ***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Oktober 2010 | 04:35 WIB