Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2016

Bupati Indramayu Canangkan Hari Menanam Pohon Indonesia


Selasa, 29 November 2016
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
Bupati Indramayu Canangkan
Hari Menanam Pohon Indonesia
·         Kegiatan Dipusatkan di Hutan Kota Kayu Putih

LOKASI ACARA – Kondisi lokasi acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) tahun 2016 tingkat Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, di Hutan Kota Kayu Putih yang tengah dibangun. Gambar diambil Selasa (29/11/2016) sore.(Satim)***
INDRAMAYU, SATIM TERUS
            HUTAN KOTA Kayu Putih milik Pemerintah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat yang berada di Jalan Pahlawan Indramayu, manjadi saksi bisu pusat kegiatan tahunan dalam rangka pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) tahun 2016 tingkat Kabupaten Indramayu.
            Informasi yang dirangkum satimterus menyebutkan, dipilihnya  lokasi Hutan Kota Kayu Putih itu, lantaran kawasan itu merupakan hutan kota pertama dan tertua di Kabupaten Indramayu.
            Oleh karena itu, pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Indramayu, ingin menancapkan sejarah dalam peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) tahun 2016 di lokasi Hutan Kota Kayu Putih tersebut.
            Alasan lainnya, di kawasan Hutan Kota Kayu Putih sudah dilakukan pembenahan yang signifikan, yakni dengan dibangunnya gapura, pagar pengaman, toilet umum, tempat istirahat atau balai pertemuan, dan papan informasi raksasa yang berdiri di hutan kota itu.
            Diinformasikan, bahwa Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah akan membuka dan sekaligus memimpin acara menanam pohon secara simbolis di sekitar Hutan Kota Kayu Putih Indramayu, Selasa (06/12/2016) siang.
            Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Indramayu, H. Munjaki mengatakan, program pencanangan HMPI itu berjalan lancar dan sukses.
            “Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) itu, intinya membangun kesadaran masyarakat untuk gemar menanam pohon demi melindungi lingkungannya masing-masing,” kata Munjaki didampingi salah seorang Kasienya, Asep di kantornya, Selasa (29/11/2016) sore.
            Dijelaskan, atas nama Pemerintah Kabupaten Indramayu pihaknya menghimbau, agar masyarakat saling menjaga keberadaan hutan yang ada di lingkungannya masing-masing. Terlebih lagi hutan lindung seperti jati dan mangrove. Karena pohon itu selain sebagai paru-paru dunia, juga bisa mencegah bencana longsor dan lain-lain.
Kabar lainnya, acara pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) itu, diduga sebagai hari terakhir nasib Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Indramayu. Walaupun kantornya telah dibangun berlantai dua, dan telah dikerjakan oleh kontraktor  dalam dua tahap sejak tahun 2015 dan 2016 dengan biaya miliaran rupiah, namun lembaga itu akan dilikuidasi pada pertengahan Desember 2016. Kemudian sejak awal tahun 2017,  nama Dinas Hutbun sudah lenyap ditelan aturan pemerintah yang baru.(Satim)***

Rabu, 13 Januari 2016

JELAJAH CIMANUK (1) Dangkal dan Jadi Alas Gelagah


Selasa, 12 Januari 2015
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
JELAJAH CIMANUK (1)
Dangkal dan Jadi Alas Gelagah
ALAS GELAGAH – Kondisi Sungai Cimanuk Indramayu yang rusak parah, kini jadi alas gelagah. Tampak dalam gambar, seorang wartawan tengah memotret Cimanuk, beberapa waktu lalu.(Foto :Satim)***
Indramayu, SATIM TERUS ONLINE
            JIKA menelusuri aliran Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, mayoritas masih berantakan. Sungai Cimanuk nyaris menyerupai parit dan menjadi alas gelagah (jenis tumbuhan masih serumpun dengan ilalang, namun batangnya keras dan tinggi). Jenis tumbuhan ini batangnya bisa untuk pagar dan kayu bakar.
            Kondisi alas demikian itu Sungai Cimanuk yang melintasi Desa Kenanga dan Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Kemudian yang melintasi Desa Plumbon dan Telukagung, Kecamatan Indramayu, serta Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener. Aliran Sungai Cimanuk yang parah itu, sepanjang sekitar 15 kilometer.
            Menurut kesaksian beberapa warga setempat, Sungai Cimanuk pada masa penjajahan 1945, lebarnya ratusan meter  dan melingkar-lingkar mirip ular.“Untuk melempar batu kecil saja supaya sampai ke seberang, harus menggunakan bandring atau ketapel. Sekarang mirip parit atau saluran sekunder. Parahnya lagi, sudah jadi alas gelagah,” cerita Mita (62), salah seorang pembuat bata merah yang memanfaatkan tanah bantaran kali di wilayah Kecamatan Sindang, kemarin.
Penuturan Mita itu diamini warga lainnya, Mukamad (73), warga di kawasan Kecamatan Lohbener. Diterangkan, dulunya Sungai Cimanuk sangat lebar dan mampu menampung air besar,  meski warga sekitarnya selalu dihantui tanggul jebol ketika banjir bandang menerjang.
“Saya berharap, pemerintah siap mengeruk dan melebari Sungai Cimanuk sambil memperkokoh seluruh tanggulnya,” pinta Mukamad, belum lama ini.
Pantuan Satim Terus Online, selain Sungai Cimanuk perlu diperdalam dan dilebari, sepanjang tanggulnya perlu diperkokoh karena masih banyak yang kritis, dan terancam jebol jika banjir  mengukir.
Pekan lalu, beberapa wartawan dari berbagai harian dan mingguan melakukan pemotretan di sejumlah titik rawan bencana pada aliran Sungai Cimanuk Indramayu. Namun sejauh ini, belum terlihat tanda-tanda pihak berwenang, seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung yang bermarkas di Cirebon melakukan tindakan normalisasi Cimanuk yang bersejarah itu.
Pihak Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi (PSDA dan Tamben) Kabupaten Indramayu tak berdaya untuk melakukan tindakan pengurasan dan pelebaran Sungai Cimanuk.
“Selain terbatasnya angggaran yang kami miliki, juga bukan kewenangan pihak dinas kami tapi kewenangan BBWS Cimanuk-Cisanggarung,” kata Ir. Suwenda Asmita, Kepala Dinas PSDA dan Tamben Kabupaten Indramayu, kemarin.
Diterangkan, pihaknya sudah menyampaikan laporan seputar kondisi parah Sungai Cimanuk ke Kementerian PU dan juga ke BBWS Cimanuk-Cisanggarung di Cirebon.
Kondisi parahnya beberapa titik aliran Sungai Cimanuk Indramayu tersebut, tampaknya telah memicu beberapa kalangan untuk melakukan siaga bencana. Salah satu eksennya seperti yang dilakukan kodim 0616 Indramayu, yang terlihat aktif menggelar simulasi penanganan bencana alam.
Bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, melancarakan aksi simulasi penanganan bencana sambil menggandeng sejumlah unsur, Ormas, dan beberapa lembaga yang ada untuk aksi tanggap darurat.
“Penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga perlu dilakukan simulasi sejak dini. Kami selaku tentara selalu siap membantu,” tegas Dandim 0616 Indramayu, Letkol (Arh) Zaenudin didampingi Edi Kusdiana selaku Kepala BPBD Kabupaten Indramayu, belum lama ini.(Satim)***

         

TPA Pecuk Dipola Jadi Arena Studi dan Pariwisata


Senin, 11 Januari 2016
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA

TPA Pecuk Dipola
Jadi Arena Studi dan Pariwisata
SUDAH DIBETON – Jalan armada kendaraan pengangkut sampah di lokasi TPA Pecuk, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, sudah dibeton, belum lama ini. Para kuli bangunan tampak tengah merapihkan pekerjaannya.(Foto : Satim)***
Indramayu, SATIM TERUS ONLINE
            BUKAN hanya persoalan upaya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, untuk tetap bertengger menjadi daerah yang selalu berhasil meraih penghargaan “Adipura” sebagai kota sedang terbersih di Indonesia, namun sejak lama daerah yang tenar dengan julukan Kota Mangga itu, ingin menjadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Pecuk di Kecamatan Sindang, konon, akan dipola menjadi arena studi dan pariwisata.
            Pantuan Satim Terus Online, Senin (21/12/2015) sore, pekerjaan TPA Pecuk salah satu proyek bantuan dari Provinsi Jawa Barat senilai sekitar Rp 1,9 Miliar masih dikerjakan. Meski jalan cor sudah digelar dua pekan lalu, namun perbaikan pekerjaan lainnya masih dilakukan. Para kuli bangunan terlihat sibuk di sana.
“Pekerjaan akhir tengah dikebut, jangan sampai tutup tahun 2015,” ujar beberapa kuli bangunan yang tak mau mengutarakan indentitasnya, kemarin.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Indramayu, Trisna E. Hendarin mengatakan, dalam sebuah perbincangan tentang program dinasnya ke depan, di kantornya yang bermarkas di Jalan Pahlawan Indramayu, belum lama ini.
            Trisna menerangkan, program TPA Pecuk dipola menjadi arena studi dan pariwisata, bukan cuma angan-angan. Namun sudah lama secara bertahap mulai dilakukan dengan berbagai pembenahan.
            Tahun 2015, lembaga yang dipimpinnya memperoleh proyek berupa pembuatan drainase, pengecoran jalan, dan pembuatan posko timbangan sampah dengan anggaran sekitar Rp 1,9 Miliar.
            “Tapi harus tahu, kami hanya sebagai lembaga penerima bangunannya saja. Adapun anggaran proyek maupun kontraktornya, wewenang Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Jadi jika banyak bertanya soal proyek itu, silahkan ke Provinsi Jawa Barat,” kata Trisna.
            Namun demikian, ia merasa berterima kasih kepada pihak Provinsi Jawa Barat, karena telah memberikan bantuan untuk pembenahan TPA Pecuk.
            “Kami berharap, Tahun 2016 kami mendapat kucuran dana anggaran dari Provinsi Jawa Barat lebih besar lagi. Semua itu demi tercapainya TPA Pecuk bukan hanya sebagai pembuangan sampah, namun bahan studi bagi pihak manapun,” ungkapnya.
            Informasi yang diperoleh laman ini, pada tahun 2016, konon, Kabupaten Indramayu akan memperoleh kucuran dana pembangunan TPA Pecuk yang nilainya sekitar belasan miliar rupiah dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meski tender dan kontraktor pemenangnya sudah ditentukan dari sana.(Satim)*** 
                         
           

Selasa, 29 Desember 2015

Para Profesor Lingkungan Bahas Grand Design Indramayu Mangrove Center


Selasa, 22 Desember 2015
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
Para Profesor Lingkungan Bahas
Grand Design Indramayu Mangrove Center

PROFESOR LINGKUNGAN


Para Profesor Lingkungan ketika menggelar Rapat Pembahansan  Grand Design Indramayu Mangrove Center di Ruang Rapat Bappeda Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Selasa (22/12/2015). Para Profesor itu diantaranya, Prof. Sambas Basuni, Prof. Kris, dan Prof. Cecep didampingi moderatornya.(Foto-foto : Satim)***
Indramayu, SATIM TERUS Online - UNTUK menjadikan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, sebagai kawasan pusat Mangrove dan sekaligus sebagai daerah studi dan pariwisata hutan payau di Pulau Jawa itu, tampaknya mulai dibahas serius.
            Menjelang tutup tahun 2015, Desain Indramayu sebagai Pusat Mangrove kembali dibahas serius. Tak tanggung-tanggung, yang membahasnya para profesor lingkungan dari pemerintah pusat yang dimotori BPLH Cimanuk-Citanduy. Para pakar lingkungan itu, diantaranya Prof. Sambas Basuni, Prof. Kris, dan Prof. Cecep dan dipandu seorang moderator dari pihak BPLH Cimanuk-Citanduy.
Salah seorang pembicara, Prof. Sambas seusai rapat kepada SATIM TERUS mengatakan, pihaknya serius untuk menjadikan Kabupaten Indramayu sebagai daerah pusat Mangrove di Pulau Jawa dan Indonesia.
“Bukan sekedar pusat Mangrove, namun untuk menjadikan Indramayu sebagai daerah tujuan wisata dan pendidikan, sehingga turut membangkitkan perekonomian masyarakat sekitarnya,” kata Sambas, Selasa (22/12/2015) siang.Sambas menjelaskan, untuk perencanaan dan penyusunan detailnya harus dilakukan pihak Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Indramayu.
Rapat yang bertajuk “Pembahasan Grand Design Indramayu Mangrove Center” itu, berlangsung dari Selasa (22/12/2015) pagi hingga menjelang petang. Peserta rapatnya melibatkan berbagai unsur meliputi, perwakilan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Indramayu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Indramayu, para Kuwu (Kepala Desa) di kawasan pantai, LSM Lingkungan, para pejuang lingkungan hidup Indramayu, dan utusan beberapa instansi terkait lainnya.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Indramayu, H. Munjaki mengatakan, pihaknya sudah lama mengusulkan agar Indramayu sebagai pusat Mangrove. Semua itu, untuk membangkitkan perekonomian masyarakat pesisir sambil melestarikan hutan payau.
“Atas usulan itu, utusan pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Barat sudah beberapa kali berkunjung ke Indramayu. Harapan kami, demi Indramayu maka Grand Design Indramayu Mangrove Center segera terwujud,” tandas Munjaki di kantornya, Rabu (30/12/2015) siang.
Pantuan SATIM TERUS, sekitar beberapa abad silam, hutan Mangrove sudah tumbuh di sepanjang pantai Indramayu. Tak heran jika kini hutan payau itu masih banyak yang tersisa, tumbuh tinggi dan lebat. Kemudian sejak belasan tahun silam muncul kesadaran beberapa kalangan dengan gerakan menanam Mangrove, sehingga turut mendukung keasrian hutan Mangrove yang sudah tumbuh beberapa abad silam.
Kawasan pantai yang paling berpotensi untuk dikembangkannya pusat hutan Mangrove diantaranya, Pantai Karangsong, Pantai Cantigi, Pantai Balongan, Pantai Dadap, Pantai Juntinyuat, Pantai Karangampel, Pantai Tiris, Pantai Eretan, Pantai Kandanghaur, Pantai Sukra, Pantai Cemara, dan Pantai Losarang.
“Grand Design Indramayu Mangrove Center jangan hanya serius dalam rapat, tapi harus benar-benar terwujud segera supaya turut membangkitkan perekonomian masyarakat sekitarnya,” ungkap Dudung AR dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, kemarin.(Satim)***   

Rabu, 25 November 2015

Piala Adipura 2015 Diarak Keliling Kota Indramayu


Rabu, 25 November 2015
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
SPANDUK ADIPURA – Spanduk Ucapan Bupati Indrmayu, Hj. Anna Sophanah kepada masyarakatnya, karena Indramayu meraih penghargaan Adipura 2015 sebagai Kota Sedang terbersih di Indonesia terbentang, Selasa (24/11/2015). Foto-foto : Satim
Piala Adipura 2015
Diarak Keliling Kota Indramayu
Indramayu, SATIM TERUS ONLINE Suasana di sekitar kota Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Selasa (24/11/2015) sore mendadak diramaikan dengan ratusan pasukan “kuning” (tukang sapu) dan sejumlah penampilan drum band pelajar, tarian kolosal Dermayon dalam menyambut kedatangan Piala Adipura 2015, lalu diboyong keliling kota yang disambut ribuan warga kota.
            Sebelumnya, tim pembawa Piala Adipura yang dikomandani Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah disambut sejumlah tim dari berbagai kalangan organisasi perangkat dearah (OPD), Ormas, dan Komunitas Lingkungan menjemputnya di sekitar Jembatan Sewo (perbatasan Kabupaten Indramayu-Kabupaten Subang) pada hari Selasa (24/11/2015) sekitar pukul 13.35 WIB.
            Sebelum penghargaan di bidang kebersihan tingkat nasional itu tiba di Kota Mangga, sejumlah spanduk yang berbunyi ucapan selamat atas diraihnya Adipura ke-tujuh kalinya itu, terbentang di sejumlah perkantoran dan ruas-ruas jalan protokol yang diucapkan berbagai kalangan.
            Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah mengatakan, keberhasilan diraihnya penghargaan Adipura 2015 itu, berkat kerja keras seluruh pihak dan masyarakat Indramayu.
            “Kami merasa harus berterima kasih kepada semua pihak dalam menjaga kebersihan Indramayu,” kata Anna Sophanah yang mencalonkan kembali dalam Pemilihan Bupati pada 9 Desember 2015.(Satim)***
               


Senin, 23 November 2015

Ke-Tujuh Kalinya Indramayu Raih Adipura


Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah dan Piala Adipura.(Foto : Net)***
Ke-Tujuh Kalinya Indramayu
Raih Adipura
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
Senin, 23 November 2015 : Pukul 18.05 WIB
Indramayu, SATIM TERUS ONLINE – Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah didampingi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Indramayu, Trisna E. Hendarin dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Indramayu, Aep Surahman Senin (23/11/2015) malam, akan menerima piagam penghargaan dan Piala Adipura 2015 yang diserahkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi).
            Kabarnya, Presiden Jokowi menyerahkan penghargaan Adipura itu di Hotel Bidakara malam ini, sekitar pukul 21.05 WIB. Penghargaan Adipura itu, merupakan ke-tujuh kalinya diraih Indramayu.
            Dari Pendopo Bupati Indramayu diperoleh informasi, sejak Senin (23/11/2015) siang, Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah bersama rombongan berangkat ke Jakarta.
            Sebelum berangkat, Bupati Anna mengatakan, diraihnya penghargaan diraihnya penghargaan Adipura ini merupakan kerja keras dari semua pihak yang ingin menciptakan Kabupaten Indramayu bersih dan nyaman.
“Penghargaan Adipura, bukanlah suatu tujuan akhir. Namun yang terpenting, adalah dapat merubah budaya dan perilaku sosial masyarakat Indramayu untuk mau terus hidup bersih,” kata Anna yang mencalonkan kembali dalam Pilkada  Bupati Indramayu periode 2015-2020 itu.
Anna berharap, dengan diraihnya Adipura dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indramayu tak hanya di kota, namun ikut dirasakan masyarakat di pedesaan.
Meski ia mengakui, kemungkinan masih banyak kekurangan dalam beberapa bidang pembangunan. Namun hal itu akan menjadi evaluasi bagi dirinya selama memimpin Kabupaten Indramayu ke depan.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Indramayu, Trisna E. Hendarin mengatakan, pihaknya sudah berusaha dengan kerja keras dalam melakukan penataan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Pecuk.
“TPA Pecuk saat ini telah dijadikan arena studi banding sejumlah daerah di Indonesia,” ujar Trisna di kantornya, beberapa waktu lalu.
Selain itu, ia berkeinginan menjadikan TPA Pecuk di Sindang menjadi arena studi dan pariwisata bagi pelajar, mahasiswa, dan umum.
Sedangkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Indramayu, Aep Surahman mengakui, diraihnya penghargaan Adipura ke-tujuh kalinya bagi Indramayu, sebagai bukti kerja keras semua pihak dalam ikut menjaga kebersihan lingkungannnya masing-masing.
“Membangun kesadaran untuk hidup bersih, tidak membuang sampah di sembarang tempat, merupakan sikap bijaksana dan sangat mulia dalam membangun pondasi hidup sehat,” tuturnya, belum lama ini.(Satim)***
 



Kamis, 19 November 2015

Indramayu Butuh Pembuangan Sampah Terpadu


Kamis, 19 November 2015
SATIM TERUS
MAJU TERUS EKSPEDISI HUMANIORA
TPA PECUK DIBETON – Kondisi jalan sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Pecuk  dibeton, meski terlihat dalam gambar belum rampung, Selasa (17/11/2015) sore..(Foto-foto : Satim)***
Indramayu Butuh
Pembuangan Sampah Terpadu
Indramayu, SATIM TERUS ONLINE - SEIRING perkembangan jumlah penduduk dan jenis sampah yang dihasilkan warga Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, jenis sampah pun tampaknya lebih didominasi plastik, sehingga dikabarkan membutuhkan pembuangan sampah terpadu. Konon, jika berhasil akan menjadikan sampah sebagai bagian yang mengandung nilai ekonomi dan energi.
            Prosesing sampah pun berlangsung secara terpadu dan  berkesinambungan di sekitar area Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Namun, demikian Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Indramayu, Trisna E. Hendarin mengaku, tidak mudah untuk terciptanya TPA Sampah Terpadu.
            Konon, karena akan membutuhkan biaya tak sedikit dan tenaga teknis yang memadai. “Mengingat kondisi dananya masih terbilang minim, maka kami melakukan beberapa tahapan pembangunan di sekitar TPA,” kata Trisna, kemarin.
            Salah satunya TPA Pecuk yang saat ini tengah dipersiapkan untuk dijadikan penampungan sampah terpadu. Oleh karena itu, kata Trisna, setiap tahun dilakukan pembenahan.
            Pantuan Satim Terus Online, hingga menjelang tutup tahun 2015, masih ada beberapa pekerjaan yang berlangsung di TPA Pecuk Desa Sindang, Kecamatan Sindang, Indramayu. Salah satunya, pembuatan got dan jalan beton.
            Hingga Selasa (17/11/2015) sore, pengecoran jalan di sekitar TPA Pecuk belum rampung. Hanya pembuatan saluran atau got yang terlihat selesai. Sayangnya, pelaksana dan penanggung jawab proyek itu, kabarnya jarang di lokasi pekerjaan.
            “Bos jarang ke proyek TPA Pecuk. Sewaktu-waktu memang ada di sini,” ujar salah seorang kuli bangunan itu, tanpa mau ditulis indentitasnya.
            Catatan Satim Terus Online, proyek betonisasi dan pembuatan saluran TPA Pecuk dibiayai pihak Provinsi Jawa Barat. Nilai proyeknya sekitar Rp 1,9 Miliar, dan dikerjakan CV. Putra Dinamis.(Satim)***