Sabtu, 03 Oktober 2009

Batik Indonesia Resmi Masuk Warisan Budaya Tak Benda Dunia

Duta Wisata Kota Semarang memperagakan pakaian batik di Simpang Tugu Muda, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/10). Selain peragaan busana, duta wisata yang dikenal dengan Denok Kenang Kota Semarang tersebut membagikan brosur berisi ajakan kepada masyarakat untuk mengenakan batik pada Jumat (2/10) menandai diresmikannya batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh UNESCO. (Foto : Kompas/Bahana Patria Gupta)***

Batik Resmi Masuk Daftar Warisan Budaya

UNESCO Menetapkan dalam Sidang di Abu Dhabi

JAKARTA - Batik Indonesia akhirnya secara resmi dimasukkan dalam 76 warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Batik Indonesia dinilai sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal.

Masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO, pada 30 September 2009. Batik menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, hingga Jumat (2/10).

Seni dan tradisi China serta Jepang mendominasi Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia yang diumumkan UNESCO. Sebanyak 21 warisan budaya China masuk dalam daftar tersebut, mulai dari teknik pemotongan kertas yang rumit yang biasa diwariskan dari ibu ke anak perempuan, kerajinan, dan pertanian ulat sutra di Provinsi Sichuan, hingga upacara penyembahan Dewi Laut Mazu.

Ada pula seni opera Tibet, seni dekorasi Regong, puisi kepahlawanan masyarakat Kyrgiz di Xinjiang hingga tradisi masyarakat Mongolia berupa ritual nyanyian poliponik.

Sebanyak 13 warisan budaya Jepang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Warisan budaya itu antara lain tarian dan prosesi rakyat Akiu di Jepang utara hingga pertunjukan seni tertua Jepang yang disebut Gagaku.

Tari tango yang kesohor di dunia juga diakui sebagai warisan budaya tak benda yang diumumkan. Tari tradisional itu awalnya berkembang di masyarakat kota kelas bawah di Buenos Aires, Argentina.

Bagian keseharian

Mohammad Nuh, Menteri Ad Interim Kebudayaan dan Pariwisata, mengatakan, pengakuan batik Indonesia secara internasional tidak bermakna jika masyarakat Indonesia sendiri tidak mengapresiasi batik. Perkembangan batik sekarang mesti terus dipertahankan sehingga tetap menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Pemerintah akan mengembangkan pengakuan, lalu juga membantu untuk memperkuat promosi. Dengan demikian, sentra-sentra batik yang ada semakin berkembang dan mampu memunculkan keunikan-keunikan dalam kreasi batik. Selain itu, pemerintah akan membantu supaya batik mudah mendapat lisensi atau hak paten.

Guru besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Timbul Haryono, yang telah beberapa kali meneliti sejarah, makna, dan filosofi batik mengatakan, teknik membatik sesungguhnya bukan sebuah penemuan yang tiba-tiba. Batik merupakan proses panjang pengolahan kain yang terus dikembangkan secara turun-temurun. Proses ini seharusnya tidak berhenti meski batik telah diakui sebagai warisan dunia.

Kurator Museum Batik Yogyakarta, Prayoga, mengatakan, imbauan untuk mengenakan busana bermotif mirip batik yang banyak diserukan pemerintah saat ini baru sebatas tindakan sosialisasi. Namun, hal ini belum bisa disebut pelestarian karena tidak ada pewarisan pengetahuan mengenai batik.

”Saat ini banyak orang masih salah menyangka bahwa batik adalah motif kain. Padahal, batik merujuk teknik pembuatan motif di kain berikut filosofinya,” kata Prayoga.

Batik Indonesia memiliki keunikan yang tidak ditemukan di negara lain. Keunikan itu terletak pada penggunaan malam atau campuran sarang lebah, lemak hewan, dan getah tanaman dalam pembuatannya. Hal ini berbeda dengan teknik pembuatan motif kain dari China ataupun Jepang yang menggunakan lilin.

Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy) Murdokusumo, kerabat Keraton Yogyakarta Hadiningrat mengatakan, pencinta batik saat ini banyak, tetapi pembuatnya semakin berkurang. Selain regenerasi tidak berjalan mulus, kesejahteraan perajin batik juga masih jauh dari harapan.(AFP/ELN/IRE/ARA)***

Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009 | 03:48 WIB

Mengungkap Batik Trusmi Cirebon

FORUM

Batik Trusmi, Potret Kebudayaan Leluhur

Oleh : LUTFIYAH HANDAYANI

Kain batik yang masih basah melambai di pekarangan sebuah rumah di Desa Trusmi, sentra batik Cirebon. Batik dengan warna khas motif kompenian dan lembutan (jenis motif batik trusmi) pada kain itu terlihat sangat indah.

Terdapat perbedaan khas antara motif batik trusmi dan batik lain, misalnya dermayonan atau garut. Ragam motif batik trusmi tidak terlepas dari sejarah pembuatannya sebagai akses dari fenomena sosial yang terjadi waktu itu. Misalnya percampuran kepercayaan, seni, dan budaya yang dibawa etnis dan bangsa pada masa lampau. Seperti kita ketahui, sebelum abad ke-20 Cirebon merupakan pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang China ataupun Timur Tengah.

Motif batik trusmi yang merupakan akses dari proses asimilasi budaya, kepercayaan, dan etnik adalah motif paksinaga liman dan motif singa barong, yang merupakan dua kereta kerajaan Cirebon: Kasepuhan dan Kanoman. Replika bentuk binatang khayal berupa singa barong dan peksi nagaliman merupakan wujud perpaduan budaya China, Arab, dan Hindu.

Dua corak batik trusmi menjadi ikon batik nasional, yaitu motif keratonan dan motif pesisiran. Motif keratonan biasanya menggunakan bentuk yang diambil dari lingkungan keraton, seperti Taman Arum Sunyaragi, Kereta Singa Barong, Naga Seba, ayam alas, dan wadas. Warna yang digunakan pada batik ini cenderung gelap, seperti coklat dan hitam.

Motif keraton terbagi dalam dua jenis. Pertama, yang biasa dipergunakan punggawa atau abdi dalem. Jenis motif batik untuk punggawa kuat dan besar. Kedua, yang biasa dipergunakan ningrat. Ragam hiasnya halus dan kecil. Warna-warna batik keraton asli Cirebon umumnya sogan, hitam, biru tua, dan kuning.

Adapun motif pesisiran biasanya memiliki ciri gambar lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat, seperti dedaunan, pohon, dan binatang laut. Warna pada motif pesisiran cenderung terang, seperti merah muda, biru laut, dan hijau pupus.

Batik, sebagai kekayaan budaya nusantara, memiliki ragam dan motif beragam. Berkat transformasi budaya, kegiatan membatik hingga kini masih lestari. Batik trusmi merupakan satu dari ragam motif batik nusantara yang memiliki karakter kuat.

Makna di balik motif

Seni membatik pada zamannya digunakan Ki Buyut Trusmi sebagai media menyebarkan ajaran agama Islam. Penciptaan terhadap motif batik trusmi memiliki latar historis yang kuat. Motif yang dibuat sebagai simbol dari apa yang dikehendaki atau menceritakan latar sosial tertentu. Misalnya, jenis motif pusar bumi, yang menggambarkan sebuah lubang di puncak Gunung Jati, tempat pemuka agama Islam bermusyawarah, atau batik ayam alas gunung yang menjadi perlambang penyiaran dan penyebaran agama Islam dari bukit Gunung Jati.

Batik taman arum sunyaragi melambangkan sebuah taman yang harum, tempat para raja bersemadi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Kebudayaan China yang mengilhami motif batik trusmi disebut dengan batik piring dan piring selampad. Ini berasal dari susunan piring porselen china yang dipakai sebagai hiasan dinding Astana Gunung Jati dan keraton.

Motif bergaya China ini merupakan pengaruh akumulasi selera juragan-juragan batik keturunan China waktu itu. Batik keluaran juragan China ini umumnya berwarna merah, biru, hijau, dan putih. Itu menjadi warna khas batik pesisir.

Besarnya pengaruh budaya dan kepercayaan pada motif batik, di antaranya ada yang terasa begitu kental dengan kepercayaan berbau "mistik". Sebut saja nama batik kapal keruk, yang menurut kepercayaan, sangat baik dipakai mereka yang ingin menambah dan menggali ilmu.

Lain halnya dengan batik kapal kandas, yang konon sebaiknya dipakai oleh orang yang sudah matang dan dewasa dalam segalanya dan tangguh menghadapi liku-liku kehidupan dalam menggapai maksud tujuan.

Kini, batik bergulat melawan arus globalisasi, bersaing dengan keinginan pasar untuk mempertahankan keberadaannya. Transformasi yang terjadi pada batik trusmi secara mikro merupakan tantangan melestarikan sumber daya manusia, dalam arti orang yang memiliki keterampilan mendesain motif yang menjadi ciri khas batik trusmi. Di lain pihak, perajin batik juga harus memikirkan modifikasi sebagai upaya transformasi sosial untuk menjaga nuansa kekinian dari motif yang dimiliki.

Simbolisasi kebudayaan

Latar sosial-historis yang mengakar pada setiap motif batik trusmi menjadi sebuah komoditas kebudayaan yang strategis bagi Indonesia. Sebab, hanya negara dengan keanekaragaman bangsa yang memiliki banyak simbol, yang secara khas dan original dapat dibuat di tempat asalnya.

Simbol yang menjadi motif pada batik trusmi merupakan wujud kreativitas dari sistem nilai ataupun sistem gagasan yang terdapat pada kebudayaan Cirebon. Dalam segala hal, baik yang berasal dari unsur cipta, rasa, maupun karsa, manusia selalu mengungkapkannya secara simbolis. Misalnya, seseorang memberikan sekuntum mawar merah untuk menyatakan cinta.

Kita dapat mendefinisikan simbol sebagai penyatuan dari bentuk, nilai, makna, kesadaran, atau ketidaksadaran. Dengan demikian, penyatuan ini merupakan nilai tambah terhadap kehidupan manusia sehingga dalam perjalanan kehidupannya, hal itu menjadi lebih bermakna.

Tanpa mengurangi nilai kebudayaan pada motif batik trusmi, kini pengusaha batik kerap melakukan inovasi. Batik cirebon lebih cenderung memenuhi atau mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan komoditas perdagangan dan komersial) sehingga warna-warna batik cirebonan pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.

Produksi batik cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik tulis, batik cap maupun kombinasi tulis dan cap. Pada tahun 1990-2000 ada sejumlah masyarakat perajin batik cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik cirebon dengan teknik sablon tangan. Namun, belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah karena kalah segalanya oleh teknik sablon mesin yang dimiliki perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Motif batik trusmi kini diminati pasar sebagai benda ekonomis yang memiliki nilai budaya sehingga batik trusmi sebagai simbol kebudayaan menjadi sebuah simbol ekonomi masyarakat tertentu. Dalam lima tahun terakhir terdapat perkembangan yang signifikan terhadap geliat batik trusmi. Ini terbukti dengan semakin padatnya ruang pameran batik yang berada di sepanjang jalan utama Desa Trusmi-Panembahan.

Dengan geliat tersebut, semoga kita dapat melestarikan keberadaan batik, bukan hanya sebagai komoditas ekonomi, melainkan juga sebagai kebudayaan warisan leluhur yang membanggakan.

LUTFIYAH HANDAYANI,

Pegiat Lingkar Studi Sastra, Dewan Kesenian Cirebon

Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009 | 15:07 WIB

Jumat, 02 Oktober 2009

Naik Lagi Anggaran Pendidikan Kita

Pendanaan

Anggaran Pendidikan Naik Rp 7,6 Triliun

JAKARTA - Anggaran pendidikan tahun 2010 diputuskan meningkat Rp 7,6 triliun dari rencana awal senilai Rp 201,9 triliun menjadi Rp 209,5 triliun dalam APBN 2010. Itu karena terjadi kenaikan nilai anggaran belanja negara sehingga nominal anggaran pendidikan yang ditetapkan harus setara 20 persen dari belanja negara ikut meningkat.

”Anggaran pendidikan ini tetap disalurkan sebagian besar ke Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (30/9) malam, saat pemaparan isi APBN 2010 kepada media massa.

Sebelumnya, pemerintah dan DPR bersepakat menaikkan anggaran belanja negara yang menjadi basis perhitungan anggaran pendidikan karena terjadi kenaikan target penerimaan negara, dari Rp 911,5 triliun menjadi Rp 949,7 triliun. Dengan tambahan penerimaan tersebut, anggaran belanja negara diputuskan meningkat dari Rp 1.009,5 triliun menjadi Rp 1.047,7 triliun.

”Dengan sendirinya, anggaran pendidikan meningkat karena persentasenya tetap dipertahankan 20 persen dari total anggaran belanja negara,” ujarnya.

Anggaran pendidikan di kementerian dan lembaga nondepartemen disalurkan ke Departemen Pendidikan Nasional sebesar Rp 54,704 triliun atau meningkat dari pagu awal Rp 51,514 triliun. Adapun di Departemen Agama dialokasikan Rp 23,66 triliun atau melonjak dari pagu awal Rp 22,695 triliun. Selain itu, masih ada dana senilai Rp 4,8 triliun yang disalurkan ke kementerian dan lembaga nondepartemen lainnya.

Dialirkan ke daerah

Adapun anggaran pendidikan yang ditransfer ke daerah disalurkan melalui tujuh pos anggaran. Pertama, Dana Bagi Hasil pendidikan Rp 617 miliar. Kedua, Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan senilai Rp 9,334 triliun. Ketiga, Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 95,9 triliun. Keempat, DAU Tambahan untuk tunjangan guru pegawai negeri sekolah dasar Rp 5,8 triliun. Kelima, DAU Tunjangan Profesi Guru senilai Rp 10,994 triliun. Keenam, Dana Otonomi Khusus pendidikan Rp 2,309 triliun. Dan ketujuh, Dana Penyesuaian Insentif DAU Kependidikan sebesar Rp 1,387 triliun. (OIN)

Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009 | 03:46 WIB Foto-Foto : mywrotes.wordpress.com/isparmo.web.id

Perlu Upaya Serius Pelestarian Batik Nusantara

Ibu-Ibu Tengah Membatik

Membatik telah menjadi tradisi turun-temurun yang hingga kini masih banyak ditekuni oleh para ibu rumah tangga, sebagaimana yang ditemui di Dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (30/9). Setelah wayang dan keris, batik akhirnya mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya milik Indonesia di dunia, yang akan ditetapkan besok, 2 Oktober 2009. (Foto : Kompas/Wawan H Prabowo).***

Jangan Puas Sebatas Pengakuan Batik

Upaya Pelestarian Harus Serius

JAKARTA - Upaya pelestarian batik jangan hanya puas sebatas pengakuan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Semua pihak harus terus berjuang agar batik bisa semakin berkontribusi positif secara multidimensi bagi masyarakat Indonesia.

Demikian pendapat sejumlah kalangan mengenai rencana pengukuhan batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang direncanakan pada Jumat (2/10) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Doddy Soepardi, dari Dewan Pembina Yayasan Batik Indonesia, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (30/9), optimistis bahwa setelah ditetapkan UNESCO, batik akan semakin berkembang.

Seandainya penetapan UNESCO sesuai rencana, batik menjadi warisan budaya Indonesia ketiga yang diakui dunia. Sebelumnya adalah wayang (2003) dan keris (2005) yang ditetapkan UNESCO sebagai karya agung budaya lisan dan tak benda warisan manusia.

Menteri Ad Interim Kebudayaan dan Pariwisata Mohammad Nuh mengatakan, dengan adanya pengukuhan dunia kepada batik Indonesia, tidak perlu lagi ada keraguan dari masyarakat soal kepemilikan batik.

Menurut Nuh, sekitar sejam setelah diumumkan secara resmi oleh UNESCO, rencananya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mendeklarasikan pengukuhan batik tersebut.

Kurator Museum Batik Yogyakarta, Prayoga, mengatakan, penetapan UNESCO perlu disertai dengan pelestarian seni batik, terutama teknik membatik, regenerasi, dan memerhatikan kehidupan para pembatiknya. Selama ini kepedulian kepada batik baru sebatas pada pemakaian busana bermotif mirip batik.

Padahal sebagian besar pakaian tersebut justru tidak dibuat melalui proses batik. ”Pakaian bermotif batik itu sebagian besar adalah hasil printing atau sablon, bukan batik,” ujar Prayoga.

Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Komarudin Kudiya di Bandung mengatakan, dengan adanya pengakuan UNESCO, kebesaran batik kembali terangkat. ”Ini adalah saat yang tepat untuk kembali mencintai dan melindungi karya batik Indonesia,” kata Komarudin.

Komarudin menyatakan sangat bangga dengan pengakuan UNESCO. Ini menandakan, Indonesia adalah bangsa yang menghargai seni dan budayanya sendiri. Namun, ia mengharapkan semua pihak tidak berpuas diri. Dikatakan, pekerjaan rumah untuk melindungi dan melestarikan batik masih terbentang panjang. (ELN/IRE/ARA/CHE)***

Source : Kompas, Kamis, 1 Oktober 2009 | 03:51 WIB

Foto-Foto Pengrajin Batik Paoman Indramayu : ToeNTAS/Satim

Dari Ulang Tahun Gesang Hingga Sejarah Perang Bubat

Kado Ulang Tahun Gesang

Siswa SMA Pangudi Luhur Santo Yosef menyanyikan lagu-lagu karya Gesang Martohartono dengan iringan musik keroncong di rumahnya di Kampung Kemlayan, Serengan, Solo, Kamis (1/10). Lagu-lagu karya Gesang mereka nyanyikan sebagai kado ulang tahun ke-92 maestro keroncong Gesang. (Foto : Kompas/Heru Sri Kumoro)*** Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009


Museum Gunung Merapi


Pengunjung menyaksikan diorama erupsi Gunung Merapi yang menjadi salah satu fasilitas di Museum Gunungapi Merapi di Dusun Banteng, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (1/10). Museum ini diharapkan bisa menjadi media penyampaian informasi dan pendidikan ilmu kebumian, terutama yang berkaitan dengan mitigasi bencana letusan gunung api. (Foto : Kompas/Wawan H Prabowo).*** Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009

SEJARAH PERANG BUBAT

Dialog Budaya Belum Mencapai Titik Temu

MOJOKERTO - Dialog budaya antara Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat dalam rangka mencari kesepahaman soal latar belakang terjadinya Perang Bubat di tanah Majapahit belum menuai kesamaan pandangan. Kedua tim pembahas yang terdiri atas ahli sejarah, budayawan, praktisi sejarah, dan kalangan akademisi yang bertemu di lokasi sejumlah peninggalan Majapahit di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (30/9), hanya memutuskan perlunya penelitian lanjutan.

Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, yang hadir pada pembukaan dialog itu, mengatakan, sebuah produksi film kolosal yang menggambarkan Kerajaan Majapahit untuk sementara ditunda dulu pembuatannya. Salah seorang wakil tim pembahas dari kubu Jawa Timur, Prapto Saptono, menyebutkan, masih terjadi silang pendapat soal peran Mahapatih Gadjah Mada dalam perang tersebut.

”Akan diadakan penelitian Situs Bubat. Para penulis Jawa Barat masih memojokkan Gadjah Mada. Film tidak boleh dibuat dulu,” kata Prapto, yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur.

Sebelumnya, dialog budaya tahap pertama telah diadakan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sekitar sebulan lalu, yang juga belum mencapai kesepahaman pandang karena baru bersifat pemaparan.

Esais

Sementara itu, menurut budayawan Sunda, Abdullah Mustappa, yang bersama esais Jakob Sumardjo dan penulis Eddy D Iskandar tergabung dalam tim Jawa Barat, isu Perang Bubat merupakan sesuatu hal yang tetap sensitif hingga kini. ”Sensitif untuk Jawa Barat karena seperti pihak yang dizalimi dalam (Perang) Bubat. Lebih pada masalah psikologis masyarakat,” katanya.

Menurut Abdullah, dialog budaya itu dilakukan dengan tujuan mengangkat nuansa lain di seputar kisah peperangan yang harus terjadi untuk menghilangkan dendam serta tidak menimbulkan dendam baru. ”Perang Bubat itu terus aktual dan seperti baru terjadi kemarin,” kata Abdullah mengenai perang yang terjadi pada abad ke-14 sekitar tahun 1357 tersebut.

Menurut Dede, hasil dari dialog budaya soal Perang Bubat diharapkan dituangkan dalam bentuk tulisan, seperti buku dan sejumlah karya sastra, ataupun produk audio visual, seperti film. Ia mengatakan, dialog budaya itu penting untuk mencari kesepahaman, termasuk soal lokasi Perang Bubat sebenarnya, yang menurut Dede, belum bisa dipastikan pula berada di wilayah Trowulan.

Padukan dua kebudayaan

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berharap kesepahaman pandang soal Perang Bubat untuk tahap pertama bisa ditandai dengan sebuah pementasan akhir tahun yang memadukan dua kebudayaan.

Perpaduan budaya itu, kata Saifullah, bisa dilakukan antara seni tradisi dan modern, seperti perpaduan tari remo dari Jawa Timur dengan jaipongan asal Jawa Barat. Selain itu, dipertontonkan pula sejumlah kelompok musik yang akan disiarkan televisi secara nasional.

Perang Bubat antara Majapahit dan pasukan kecil Kerajaan Sunda-Galuh yang dipimpin Maharaja Linggabuana berdasarkan salah satu versi diduga disebabkan keinginan Mahapatih Gadjah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda-Galuh sebagai bagian dari Amukti Palapa demi mempersatukan Nusantara. Perang itu merupakan ”penyelewengan” karena niat semula kedatangan Maharaja Linggabuana ke Majapahit adalah untuk mengantarkan putrinya, Dyah Pitaloka Citraresmi, untuk dinikahi Prabu Hayam Wuruk. (INK)

Source : Kompas, Kamis, 1 Oktober 2009 | 03:50 WIB

Kebangkitan Rakyat China Setelah 60 Tahun

Barisan pertama tank-tank melewati tribune kehormatan di Beijing, Kamis (1/10), pada perayaan 60 tahun Partai Komunis berkuasa di China. Sekitar 100.000 orang dilibatkan dalam perayaan yang juga bertujuan membangkitkan rasa nasionalisme itu. (AP Photo/Xinhua)

China Rayakan Kebangkitan

Warga Tuturkan Kebanggaan

BEIJING - China merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat China, Kamis (1/10). Parade militer terbesar dan pameran sederet prestasi negara itu mengirimkan satu pesan jelas bahwa China telah bangkit kembali sebagai kekuatan global yang tidak bisa disangkal lagi.

Sebanyak 100.000 orang berbaris di Alun-alun Tiananmen mempergelarkan rasa patriotisme. Presiden Hu Jintao mengenakan pakaian tunik abu-abu seperti pendiri RRC, Mao Zedong, menginspeksi ribuan tentara, ratusan tank, dan persenjataan canggih lainnya di atas limusin beratap terbuka.

Di antara persenjataan itu adalah barisan rudal Dongfeng 31, yang menurut stasiun televisi pemerintah mampu membawa hulu ledak nuklir hingga sejauh 10.000 kilometer atau ke jantung Amerika Serikat.

Selama dua jam upacara, lebih dari 100 helikopter, pesawat komunikasi, dan pesawat tempur buatan China terbang di atas kota dalam formasi. Seusai upacara pada pagi hari, aliran 60 kendaraan hias menyusuri sepanjang jalan utama kota, memamerkan prestasi China dalam 60 tahun terakhir, diiringi ribuan orang yang berbaris dan menari.

Pawai kendaraan hias itu menampilkan, di antaranya, produk pertanian, program luar angkasa dengan pengorbit Bulan, dan model stadion Sarang Burung yang digunakan untuk olimpiade. Foto raksasa Mao, reformis ekonomi Deng Xiaoping, hingga Hu diusung sepanjang pawai.

Hu menyebut perayaan itu sebagai ”peremajaan kembali bangsa China”. ”Kita telah mengalahkan segala jenis kesulitan dan kemunduran dan risiko untuk meraih prestasi hebat sebagai bukti bagi dunia. Hari ini, China yang sosialis melaju menuju modernisasi. Dunia dan masa depan menjulang megah di Timur,” kata Hu.

”Pembangunan dan kemajuan China baru dalam 60 tahun terakhir benar-benar membuktikan bahwa hanya sosialisme yang bisa menyelamatkan China dan hanya reformasi dan pembukaan diri bisa menjamin pembangunan China, sosialisme, dan Marxisme,” ujar Hu.

Makin kuat

Kendati tidak banyak orang bisa menyaksikan langsung kemegahan perayaan tersebut, warga menuturkan kebanggaan mereka. ”Ini menunjukkan kepada dunia bahwa kami sekarang kuat, tidak hanya dalam standar hidup tetapi kekuatan militer kami juga meningkat,” kata Peng Jinzhi, pensiunan yang mendengarkan siaran parade di radio di sebuah gang di utara Tiananmen.

”Saya sangat bangga dengan militer saat ini. Anda bisa lihat kami semakin kuat sebagai bangsa,” kata Qiu Chengjie, pengusaha dari Provinsi Guangdong.

Pada awal tahun ini, sebelum perekonomian China membaik dari kemerosotan global, Pemerintah China menjanjikan hanya perayaan sederhana. Kini, perayaan itu dijuluki pameran persenjataan terbesar China, hampir seukuran dengan Uni Soviet.

Pada 1 Oktober 1949, Mao mengambil alih kekuasaan mengakhiri masa perang dan dominasi asing. Tiga dekade reformasi ekonomi yang dipelopori Deng memperkaya China dan mengangkat negara itu kembali ke jajaran kekuatan dunia.

Pesta kembang api spektakuler digelar pada malam harinya. (ap/afp/reuters/ xinhua/fro)

Source : Kompas, Jumat, 2 Oktober 2009 | 03:36 WIB

Foto-Foto : AP PHOTO/XINHUA/XIE HUANCHI/Yang Shirao

Kegembiraan Rakyat RRC Setelah 60 Tahun

60 Tahun RRC

Oleh : I Wibowo

Salah satu bangunan yang muncul di tengah kota Beijing dan menggegerkan masyarakat China pada tahun 1992 adalah gerai makanan cepat saji McDonald’s. Masyarakat Beijing terenyak atas datangnya makanan Amerika Serikat ini dan menyambutnya dengan penuh gairah, lebih bergairah ketimbang ketika dibuka di Shenzhen pada 1990.

Mereka bersemangat menyambut produk AS yang paling terkenal di seluruh dunia itu, tak peduli dengan harga yang mahal. Dalam waktu singkat, gerai makanan cepat saji yang menjadi ikon Amerika ini telah merebak di kota Beijing dan juga kota-kota lain di China.

Tiga puluh tahun kemudian tidak ada produk AS yang tidak ada di China. Makanan, minuman, pakaian, sepatu, tas, mainan, mobil, dan lainnya yang berasal dari AS menguasai pasar China. Tentu saja komputer asal AS yang terkenal. Segala jenis barang dan jasa yang berasal dari AS telah masuk dan diterima di China.

Gairah ini tidak hanya tampak di tingkat pemimpin, tetapi juga di kalangan intelektual dan rakyat jelata. Dan akhirnya adalah cita-cita pembangunan bangsa itu sendiri.

Apa cita-cita pembangunan China saat ini? Menandingi AS. China menjadikan AS sebagai sasaran dan tatapan matanya. Apa yang dilakukan oleh AS, China harus dapat melakukan. Apa yang dapat dicapai oleh AS, China harus dapat mencapainya.

Yang hebat di AS harus juga dapat dibuat di China, bahkan mungkin lebih hebat lagi. Kota New York harus dibangun juga di China dan terlaksana di Shanghai. AS dapat mengirim manusia ke ruang angkasa, China segera mengejarnya dan sudah berhasil mengirimkan ”taikonot” mereka keliling bumi.

Ketika Yao Ming direkrut menjadi pemain basket profesional (NBA) di AS, orang China tidak hentinya menceritakan peristiwa ini. Begitu pula kemenangan atlet-atlet China pada Olimpiade Beijing (2008) sebagai juara umum. Mereka bangga bahwa China dapat melewati AS.

Dalam perdagangan, China mampu menaklukkan AS sehingga negeri Paman Sam ini mengalami defisit besar. Koran-koran China pasti memuat berita yang memperlihatkan angka statistik dalam hal apa saja jika itu menyamai atau melebihi AS.

Awal 2009 ini, China boleh amat bangga bahwa untuk pertama kalinya posisi China diperhitungkan setara oleh AS. Adalah Robert Zoelick, Direktur Bank Dunia, yang pertama melontarkan gagasan bahwa krisis keuangan global saat ini hanya bisa diselesaikan oleh G-2.

Maksudnya adalah AS dan China. Gagasan ini menguat, lalu masuk China, dan membuat banyak intelektual China berbunga-bunga. Krisis keuangan global yang mulai pada September 2008 memang telah mengubah seluruh tata ekonomi dunia, termasuk hubungan China dan AS.

Mengejar AS

Mengapa Amerika Serikat?

Jika memerhatikan retorika akhir tahun 1950-an hingga 1960-an, tak terbayangkan bahwa China mengagumi AS. Bersama Stalin dan Khruschev, Mao mengkritik dan mengecam AS sebagai gembong kapitalis terbesar.

Namun, jika melacak hingga ke tahun 1930-an, pemimpin elite China (baik Chiang Kai-shek maupun Mao Zedong) sebenarnya menyimpan rasa kagum yang besar terhadap AS. Mao tercatat amat mengagumi presiden pertama Amerika, George Washington. Persahabatannya dengan Edgar Snow, wartawan Amerika, pernah mendorong dia untuk berpikir mengadakan kerja sama dengan AS untuk mengusir Jepang (He Di, 1994).

Paling jelas ketika Mao melancarkan Lompatan Jauh ke Depan pada 1959. Mao mengatakan mau mengejar AS dalam 15 tahun dan Inggris dalam 10 tahun. Padahal, program itu adalah program untuk menciptakan masyarakat komunis!

Alasan geopolitik mungkin berperan, tetapi alasan lain jelas bermain. Ketika Mao mau berjabat tangan dengan Nixon pada tahun 1972, proses normalisasi pun bergulir. Mao tidak menyaksikan normalisasi hubungan dengan AS, tetapi penggantinya, Deng Xiaoping, jelas mempunyai visi yang sama. Puncaknya adalah pada tahun 1979 ketika China dan AS setuju untuk membuka hubungan diplomatik.

Beberapa pekan kemudian Deng Xiaoping terbang ke AS, mengadakan tur ke beberapa kota. Selama di AS, Deng tak henti berdecak kagum atas kemajuan AS, terutama di bidang teknologi. Bersamaan dengan itu, seluruh masyarakat China dilanda ”demam Amerika”.

Dalam studinya tentang persepsi China terhadap AS pada akhir tahun 1980-an, David Shambaugh menemukan bahwa di lingkungan kader elite Partai Komunis China memang sudah ada rasa kagum yang kuat terhadap AS. Meski masih gencar menulis kritik terhadap ”imperialisme AS”, mereka tetap mengagumi AS. Imperialis namun dikagumi. Maka buku Shambaugh pun diberi judul Beautiful Imperialist.

Pada tahun 1997, persis ketika China dan AS terbekap aneka macam perselisihan, polling oleh Institut Pendapat Publik, Universitas Renmin, menemukan sikap positif masyarakat China terhadap AS. Bahkan, ditemukan bahwa masyarakat China mempunyai sikap yang lebih positif terhadap orang AS daripada terhadap orang Jepang, Jerman, dan Rusia.

Ketika pada tahun-tahun itu muncul buku-buku yang anti-Amerika sekalipun, kekaguman terhadap kemajuan AS tidaklah luntur. Hasil yang sama tampak dalam penelitian tahun 2005 oleh Global Times. Responden amat positif terhadap kemajuan ekonomi, kemajuan sains dan teknologi, serta kebudayaan Amerika. Hal ini menjadi kian menarik ketika dibaca dengan latar belakang persepsi yang negatif terhadap AS yang sedang melanda dunia saat ini (Kohut and Stokes, 2006).

Gaya gravitasi dari Amerika

Sejak kekalahan memalukan pada Perang Candu 1840, China sebagai bangsa sangat bertekad untuk belajar dari bangsa lain karena China merasa tidak mungkin memperbaiki diri dengan Konfusianisme.

Mula-mula China menoleh ke Eropa, mengirim banyak mahasiswa ke Eropa, terutama Perancis. Mereka mau menimba cita-cita Revolusi Prancis untuk dipakai mengubah keterpurukan bangsanya. Demonstrasi besar oleh mahasiswa pada 4 Mei 1919 menolak Konfusius dan Konfusianisme, serta memilih ”Mr Science and Mr Democracy” sebagai solusi masalah.

”Gerakan 4 Mei” ternyata tidak bertahan lama, digantikan dengan kekaguman akan Revolusi Bolshevik pada 1917.

Sekelompok besar orang China bertekad menanamkan Marxisme dan komunisme serta meniru Rusia (Uni Soviet). Mereka mendirikan partai politik dan sejak 1949 hingga tiga dekade ke depan menerapkan model Uni Soviet di China.

Namun, gerakan komunisme ini tidak memuaskan bangsa China. Kegagalan itu membuat China memikir ulang sikapnya terhadap AS, musuh besarnya. Mao dan kemudian Deng membuka jalan bagi perubahan ini. Ketika ”Reformasi dan Keterbukaan” diumumkan tahun 1978, China menempatkan Amerika yang kapitalis sebagai target untuk dicapai.

Selama tiga dekade kedua, AS telah menjadi sumber inspirasi, sedemikian rupa, sehingga China seolah-olah tidak dapat hidup tanpa AS. Kini China memandang AS sebagai penghela jalan sejarahnya ke masa depan. Banyak hal yang telah dicapai oleh AS ingin dikejar oleh China. Dan yang belum dicapai oleh China akan terus dikejar. Mungkin dalam hati orang China tebersit keinginan bahwa AS tidak boleh lenyap agar mereka tetap dapat mengalami gaya gravitasi yang muncul dari AS.

Hal ini tidak berarti bahwa terjadi penjiplakan mentah-mentah. China tidak akan, bahkan tidak mungkin, menjadi kembaran AS. Walaupun bermimpi untuk menjadi seperti AS, China telah berhasil melahirkan sendiri ”model China”. Mungkin lebih tepat untuk dikatakan bahwa AS telah menimbulkan gaya gravitasi yang luar biasa kuat sehingga China seakan-akan terus terarah ke sana meski tidak terperangkap di dalamnya.

Ketika mereka memperjuangkan demokrasi pada tahun 1989, para mahasiswa dan intelektual mendirikan replika Patung Liberty yang ada di New York. Perjuangan yang berubah menjadi drama berdarah ini mengungkapkan kerinduan terdalam sebagian warga China untuk meniru dan mengejar AS dalam hal mendirikan negara yang demokratis.

Mungkin hal ini hanya keinginan yang tertunda, yang akan terlaksana pada waktunya nanti. Pada ulang tahun ke-60 ini China tetap dapat memandang AS sebagai inspirator pembangunannya.

I Wibowo, Pengajar pada Departemen Hubungan Internasional

FISIP-UI; Ketua Centre for Chinese Studies FIB-UI

Source : Kompas, Kamis, 1 Oktober 2009 | 04:32 WIB

Foto : Xinhua/ Li Gang

30 Tahun Pertumbuhan Ekonomi China

Ekonomi China Setelah Pertumbuhan 30 Tahun

Oleh : Thee Kian Wie

Hari ini Republik Rakyat China merayakan HUT ke-60. RRC diproklamasikan pada 1 Oktober 1949 oleh Mao Zedong di hadapan massa di lapangan Tiananmen.

Pada peristiwa ini, ada baiknya merenungkan pencapaian negara raksasa ini di bidang ekonomi, terutama sejak reformasi ekonomi pada tahun 1979, dan berbagai tantangan yang dihadapi.

Reformasi ekonomi

Sejak Deng Xiaoping meluncurkan program reformasi ekonomi tahun 1979, ekonomi China mengalami pertumbuhan amat menakjubkan.

Akibat pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 10 persen setahun dan berlangsung hampir 30 tahun—sebelum negara ini terkena dampak krisis finansial global akhir 2008—ekonomi China diukur dari besarnya produk domestik bruto menjadi negara ketiga terbesar di dunia sesudah ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Bahkan, menurut proyeksi, dalam beberapa tahun mendatang China akan melampaui Jepang jadi ekonomi kedua terbesar di dunia sesudah AS.

Selain itu, menurut perkiraan Bank Dunia, persentase penduduk China yang hidup di bawah garis kemiskinan telah menurun dari 60 persen pada 1978 menjadi 7,0 persen pada 2007. Ini berarti sejak 1979 kesejahteraan ratusan juta penduduk China yang miskin dapat ditingkatkan, suatu kinerja yang tiada taranya dalam sejarah ekonomi dunia.

Demokrasi

Menurut Profesor Deepak Lal dari Universitas California, Los Angeles, faktor penting mengapa pimpinan China berbeda dengan elite politik India dan Indonesia, telah berhasil menempuh kebijakan reformasi ekonomi yang lebih konsisten dan berkelanjutan, adalah karena mereka sepenuhnya merangkul ideologi kapitalisme. Di sisi lain, dalam pidato baru-baru ini, Presiden Hu Jintao menegaskan demokrasi Barat tidak cocok bagi China.

Investasi asing

Kebijakan ekonomi China adalah pragmatis yang didasarkan atas evaluasi pengalaman dalam pelaksanaan berbagai eksperimen program pembangunan yang mereka sebut ”mencari kebenaran dari kenyataan konkret”, seperti ”sistem tanggung jawab rumah tangga” yang pada akhir 1970-an telah meninggalkan sistem pertanian kolektif dan mengembalikan usaha tani kepada para petani. Hasilnya, kenaikan pesat dalam produktivitas, hasil produksi, dan pendapatan petani tanpa memerlukan pengeluaran besar dari Pemerintah China.

Kebijakan ekonomi yang pragmatis juga tecermin pada kebijakan ”pintu terbuka” bagi investasi asing. Meski dari tahun ke tahun sistem insentif dan peraturan mengenai investasi asing terus disempurnakan, insentif dan peraturan tentang investasi asing tetap menarik bagi investor asing. Dengan demikian, China menerima investasi asing dalam jumlah amat besar, jauh melebihi investasi asing ke negara-negara kawasan Asia-Pasifik lainnya (di luar Jepang).

Semula, Pemerintah China juga memberi prioritas pada pembangunan industri-industri manufaktur ringan dan menengah yang padat karya dan berorientasi ekspor—yang hanya memerlukan jumlah investasi kecil—tetapi dalam waktu singkat menghasilkan lonjakan jumlah produksi, seperti tekstil, garmen, alas kaki, mainan anak, dan barang elektronik konsumsi. Kenyataannya, industri ini telah mempekerjakan puluhan juta orang yang datang dari pedesaan. Namun, setelah krisis finansial global juga melanda China, puluhan juta pekerja ini kembali ke pedesaan karena pasar ekspor mereka mengalami kontraksi.

Program reformasi ekonomi China yang diluncurkan Deng Xiaoping disebut Gai Ge Kai Feng, terdiri dari dua unsur utama. Pertama, ”mengubah sistem insentif dan kepemilikan” di mana milik pribadi menjadi lebih dominan daripada milik negara.

Kedua, ”membuka pintu”, artinya liberalisasi perdagangan luar negara, investasi asing, dan domestik. Kebijakan investasi asing yang liberal dilengkapi peraturan ketat, yang mewajibkan berbagai perusahaan asing untuk mengalihkan teknologinya ke berbagai perusahaan domestik, sebagai imbalan dibukanya pasar domestik China yang besar bagi berbagai perusahaan asing.

Selain itu, Pemerintah China berhasil membangun jaringan prasarana fisik, terutama sistem transportasi yang luas dan efisien, yang implementasinya didasarkan atas pemulihan ekonomi total. Artinya, penghasilan dari pengenaan tarif yang dibayar para pengguna prasarana ini harus menutupi semua biaya yang diperlukan untuk operasi dan pemeliharaan prasarana.

Program reformasi ini juga memberi prioritas tinggi pada pertanian dan pembangunan pedesaan. Kenyataan menunjukkan hal ini belum begitu berhasil, yang juga diakui Presiden Hu Jintao. Presiden Jintao menyerukan perwujudan suatu ”masyarakat yang serasi” yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Tantangan China

Namun, selain keberhasilan ekonominya yang luar biasa, China juga menghadapi berbagai tantangan besar yang harus ditanggulangi guna menghindari pertumbuhan ekonomi yang melamban; ketimpangan pendapatan antargolongan yang amat besar; konflik yang makin tajam dengan mitra perdagangan yang pasarnya dibanjiri barang-barang China.

Untuk dalam negeri, China juga menghadapi polusi udara yang amat parah, yang mengakibatkan China kini menjadi sumber gas karbon (CO) paling besar di dunia; dan ketimpangan dalam perimbangan jender akibat kebijakan satu anak yang menyebabkan terjadi banyak aborsi bayi perempuan karena preferensi orang China untuk anak laki, serta jumlah penduduk China yang makin cepat menua yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi, seperti yang kini sudah dialami Jepang.

Mengubah strategi

Pada Desember 2004, pimpinan puncak China memutuskan mengubah secara fundamental strategi pertumbuhan negara ini dari pola pembangunan yang terutama digerakkan oleh investasi dan ekspor ke pola yang lebih mengandalkan pertumbuhan domestik yang lebih pesat.

Pada awal 2006 Perdana Menteri Wen Jiabao mengulangi tekad Pemerintah China untuk mendorong konsumsi domestik sebagai sumber pertumbuhan utama China.

Dalam laporan triwulan kedua 2009 tentang perkembangan ekonomi China, Bank Dunia menekankan, China perlu memberi prioritas pada perubahan dalam kebijakan struktural yang diperlukan untuk memudahkan transisi ke pola pertumbuhan yang lebih didorong pertumbuhan konsumsi domestik dan lebih berorientasi pada pola pertumbuhan yang lebih mendorong sektor jasa dan padat karya.

Implementasi kebijakan ini akan memungkinkan China untuk lebih cepat menanggulangi dampak krisis finansial global dan mencapai lagi pertumbuhan ekonomi pesat yang berkelanjutan.

Thee Kian Wie, Staf Ahli Pusat Penelitian

Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Source : Kompas, Kamis, 1 Oktober 2009 | 04:32 WIB

Foto-Foto : Xinhua/Li Gang

Grafik : gmj.gallup.com

Perayaan 60 Tahun Republik Rakyat China (RRC)

C(h)ina

Oleh : Christine Susanna Tjhin

Sebulan ini, Beijing sibuk menyiapkan perayaan 60 tahun Republik Rakyat China.

Tak hanya itu. Media penuh program patriotik. Parade disiapkan, memamerkan kekuatan militer dan budaya China. Film epik Berdirinya Sebuah Republik yang melibatkan artis-artis besar seperti Jackie Chan, Jet Li, dan Andy Lau memecahkan rekor penjualan tiket terbesar. Hajatan sepekan itu ditutup pergelaran opera Turandot karya Puccini di megastadium Sarang Burung oleh sutradara Zhang Yimou, sebagai simbol ”China yang baru”, perpaduan budaya tradisional Kerajaan Tengah dan republik yang mendunia.

Namun, di sela-sela kemeriahan pesta, keamanan ibu kota dan wilayah rentan, seperti Tibet dan Xinjiang, diperketat. Warga lokal, sejumlah diplomat, dan wartawan asing yang tinggal di sekitar Tiananmen mengeluhkan peringatan untuk tidak membuka jendela saat parade berlangsung. Akses internet kian dibatasi, bahkan Facebook dan Twitter diblok. Apa yang sebenarnya terjadi dalam merefleksikan enam dekade kehadiran China di dunia?

Setelah enam dekade

Dari era Mao Zedong, modernisasi Deng Xiaoping, dan globalisasi saat ini, kompleksitas dari realitas China kian nyata. Pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan devisa dua triliun dollar AS mengangkat 200 juta lebih penduduk China dari kemiskinan dan melahirkan kota-kota megapolitan. Namun, masih ada ratusan juta warga yang miskin dan menganggur. Melebarnya kesenjangan ekonomi sosial dan degradasi lingkungan meningkatkan potensi instabilitas.

Kecepatan pembangunan fisik tak sepenuhnya diimbangi pembangunan nonfisik. Problem terkikisnya komunisme sebagai ideologi negara belum nyaman terjawab oleh kehadiran nasionalisme. Gelora nasionalisme mendapat tantangan konflik sosial di mana faktor kesenjangan, politik identitas, dan hak asasi manusia bersilangan.

Dari kasus obor olimpiade di Paris, konflik Tibet dan Xinjiang, gempa Wenchuan, hingga astronot China pertama menampilkan ekspresi nasionalisme yang berwarna. Pemerintah sering kelimpungan saat harus menangani gelombang pasang nasionalisme.

Sebuah arena interaksi narasi nasionalisme adalah dunia maya. Birokrasi ruang maya menjadi fenomena sosial yang hangat. Lebih dari 380 juta pengguna dari kelas menengah/atas berkelit dari polisi internet serta mencari gelanggang berekspresi secara kritis dan kreatif di dunia maya sebagai alternatif kekakuan dunia nyata. Banyak kebijakan direvisi/dihapus karena tekanan opini publik bertebaran di blog.

Seputar sistem politik, sekilas tidak tampak perubahan dari esensi struktur multipartai yang didominasi Partai Komunis (tertutup dan tanpa oposisi riil), tetapi internal partai ternyata lebih dinamis. Era pemimpin karismatik diganti kepemimpinan kolektif, diwarnai persaingan kubu ”populis” (Liga Pemuda Komunis) dan kubu ”pangeran” (penerus pemimpin era lalu).

PKC menunjukkan peningkatan kemampuan beradaptasi, terutama dalam pemanfaatan media dan pemberdayaan kaum intelektual. Desentralisasi dan ”konsultasi publik” dalam proses kebijakan kian mendapat angin.

China bersiap menjalani transisi, dari generasi ke-4 (Hu Jintao) ke generasi ke-5 (Xi Jinping?). Pengamat menerka-nerka, bagaimana transisi pada 2012 akan berlangsung setelah dalam rapat ke-17 PKC lalu, Xi tidak ditunjuk sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, posisi yang dulu memuluskan jalan Hu.

China dan dunia

China tidak berpretensi ingin mengubah dunia, kata beberapa pemikir strategis China. Hanya dengan mengubah diri China sendiri, seluruh dunia akan ikut berubah. Apa pun motivasinya, meningkatnya kepercayaan diri atau keinginan untuk menenangkan dunia sulit dimungkiri.

Meski masih jauh bagi China untuk menggantikan hegemoni Amerika Serikat, kehadirannya mendorong kita untuk mau tidak mau menggunakan lensa berbeda dalam meretas perjalanan dan pemikiran baru komunitas global. Kehadiran konsep ”Konsensus Beijing” telah mengundang perdebatan kritis seputar sebaran kapitalisme dan demokrasi liberal yang terpatri dalam ”Konsensus Washington”.

Selama krisis keuangan dunia, ekonomi terbesar ketiga dunia ini muncul sebagai salah satu penyangga dunia. Bahkan, dalam pertemuan G-20 lalu, China tampak kian lugas menuntut rekayasa ulang sistem keuangan global dan tatanan ekonomi baru. Perdebatan perlunya G-2, meski dikatakan prematur, mengindikasikan nilai strategis China untuk bersanding dengan AS. Yang jelas, China kian piawai memanfaatkan mekanisme multilateral.

Menuju ”mitra strategis”

Bagaimana posisi hubungan Indonesia-China? Meski lambat, posisi China bergeser, merefleksikan aspirasi mengangkat peran Indonesia ke tataran global. Kecanggungan kita sebagai aktor global masih terasa, dan ini diperburuk oleh institusionalisasi persepsi ”ancaman China” semasa Orde Baru. Ini akan memengaruhi kita dalam berinteraksi dengan China. Sejak penandatanganan kemitraan strategis 2006, pertanyaan ”mana dagingnya?” masih belum terjawab.

Dalam pertemuan G-20, Hu menggarisbawahi skema pertukaran mata uang antarnegara sebesar 95 miliar dollar, termasuk Indonesia, yang menjanjikan perdagangan lebih dinamis. Pertukaran mata uang bilateral masih diwarnai kebingungan dan keraguan. Kajian mendalam diperlukan guna menimbang manfaat skema ini dan mengurangi ketergantungan terhadap dollar, terutama pada saat krisis.

Diplomasi kita harus didukung kajian kritis tentang dampak perubahan China. Jangan sampai kecanggungan kita, terefleksi dalam kebingungan menyebut nama Negara Tirai Bambu (China, Cina, atau Tiongkok), trauma sejarah, dan kesenjangan pengetahuan, menghilangkan kesempatan mengambil manfaat dari perkembangan China.

Christine Susanna Tjhin, Peneliti di CSIS;

Sedang Mengambil Doktor di Jurusan Diplomasi Universitas Peking, China.

Source : Kompas, Kamis, 1 Oktober 2009 | 04:29 WIB

Foto-Foto : Xinhua/Li Gang