Sabtu, 10 April 2010

Selam, Pelaras Nada Gamelan Lombok

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Selam

Selam, Pelaras Nada Gamelan Lombok

Oleh KHAERUL ANWAR

Seperti halnya musik diatonis, mendengar instrumen gamelan ditabuh, orang bisa menari-nari, berjingkrak-jingkrak, bahkan histeris oleh alunan nada harmoninya. Namun, bagaimana taluan bunyi alat musik tradisional enak dinikmati, agaknya tidak lepas dari pembuat dan pelaras nadanya, seperti Selam, warga Dusun Kuangsampi, Desa Pendem, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Ooo... tidaaak, Bapak kurang pendengarannya mungkin,” ujar Selam alias H Awaludin menjawab pertanyaan bahwa mendengar instrumen gamelan sasak, Lombok, ditabuh seperti mendengar gamelan bali. Dia tidak sependapat jika dikatakan gamelan sasak sama dengan gamelan bali.

Sambil tangan kanannya memegang dadanya, Selam berujar, ”Nada gamelan sasak punya khas, adanya di sini,” meski lelaki yang hanya lulusan sekolah rakyat itu sulit mengungkap kekhasan itu dalam kata-kata. Gerak tangan di dadanya menandakan, nada itu ada di dalam hati, di jiwa seseorang yang mendengarnya.

Dalam sebuah kajian, titi laras nada gamelan lombok yang pentatonik—seperti juga pelog-slendro-dalam gamelan jawa; gong-gender dalam gamelan bali—memiliki kekhasan tersendiri. Dengan berpedoman pada alat musik bertangga nada diatonis, posisi nada si terdapat hampir pada nada si dan sa, lalu nada mi turun sedikit dari titik nada mi. Karena itu, hanya pemain gamelan (praktisi) yang bisa memahami kekhasan nada karawitan Lombok itu.

Laras nada ini terdapat antara lain pada gamelan ”tawak-tawak”, ”barong tengkok” dan ”gendang belek”—instrumen yang umumnya dipesan kelompok seni tabuh di pedesaan Lombok. Penamaan ini diambil dari salah satu alat tabuh, seperti tawak-tawak atau gong kecil, barong tengkok berupa dua reyong (mirip simbal pada instrumen musik diatonis) diletakkan pada wadah yang dihiasi barong (singa), lalu ”gendang belek” beduk ukuran besar (belek) dalam orkestra gamelan.

Tidak semua orang bisa membedakan nada-nada khas dari instrumen-instrumen musik tersebut. Kemampuan membedakan nada khas instrumen itu menempatkannya sebagai ”manusia langka”. Dengan demikian, bisa dibilang, Selam adalah satu-satunya pelaras nada dari sekitar 2 juta etnis Sasak Lombok. Gamelan yang di-steaming nadanya adalah buatan perajin lain di Lombok dan bikinan perajin luar daerah yang dibeli grup seni tabuh di Lombok. Tanpa melalui proses itu, gamelan itu tidak memiliki ”rasa musikal” Lombok. Perlu sentuhan Selam untuk mendapatkan rasa musik lombok.

Setelah puluhan tahun bergelut dengan laras nada, Selam sangat peka bila mendengar nada instrumen gamelan yang bero atau fals, meskipun suara instrumen itu terdengar dari kejauhan. ”Bisa-bisanya nabuh gamelan bero begitu,” ujar Senare alias Ane (50 tahun), istrinya, menirukan gerutuan Selam.

Kepiawaian Selam dalam hal menyelaraskan nada gamelan ini tak diragukan lagi. Tidak terhitung sudah berapa gamelan yang dibuat dan dilarasnadakannya sebab sebagian besar kelompok seni tabuh memakai jasanya.

Tidak itu saja, karya-karyanya seperti gender, petuk, rincik dan reong yang digunakan grup gendang belek di Lombok, hampir pasti hasil tangan terampil Selam. Juga banyak perangkat gamelan bikinannya diboyong para transmigran asal Lombok yang bermukim di Pulau Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Agar produknya, seperti gender, jangan ”baru dipakai tiga bulan sudah rontok sepuhan perunggunya”, Selam agaknya bersikap perfeksionis ”melahirkan” gamelan lombok dari tangannya. Dia ketat memilih bahan baku bermutu, perunggu pilihan untuk produk gamelannya. Sikap menjaga citra itu ditunjukkan dengan ”mengawal” 9 pekerjanya dalam proses produksi di prapen (tungku pembakaran).

Semua proses pekerjaan anak buahnya dia perhatikan agar tidak terjadi salah langkah. Sering dia terlihat memberikan arahan kepada pekerja yang bertugas sebagai tukang empos, yang bertugas memompa udara ke api tungku pembakaran. Demikian juga tukang nanggen yang menempa lempengan perunggu/kuningan bakal alat tabuh; tukang kikir dan tukang supit. Pengawasan dan arahan yang ketat itu, katanya, dilakukan untuk efektivitas waktu dan efisiensi biaya. ”Adek te ndak begawean due kali (agar jangan sampai kerja dua kali),” kata Selam.

Berkurang

Selam agaknya maklum perannya sangat diperlukan oleh banyak orang, seperti kelompok seni tradisi. Karena itu, alat tabuh yang dibuatnya masih relatif murah: satu set gamelan gendang belek berbahan perunggu dijual Rp 25 juta-Rp 30 juta. Begitu juga untuk proses steaming, tarifnya Rp 250.000-Rp 300.000 per set.

Dari aktivitasnya selama puluhan tahun, kehidupan Selam sekeluarga relatif berkecukupan. Sebuah rumah permanen di pinggir jalan raya—semula menyatu dengan lokasi prapen berada di tengah kampung. Dari keahliannya sebagai penyelaras dan pembuat gamelan lombok itu pula, dia mampu menunaikan ibadah haji tahun 2005. Tahun ini, insya Allah, istrinya berangkat pula menunaikan rukun Islam kelima. Dia juga bisa membiayai anak-anaknya sampai lulus SMA.

Itu dilakoni guna memenuhi cita-cita ”agar gamelan Lombok tetap lestari”, juga tanggung jawab moralnya meneruskan warisan leluhur. Selam adalah generasi kelima dalam garis keturunannya. Dalam tradisi mereka, keahlian itu pantang diberikan kepada orang lain.

Tradisi dalam proses pembuatan gamelan itu tetap dipertahankan hingga saat ini. Saat tahapan proses produksi, misalnya, perempuan dilarang mendekat prapen selagi Selam bekerja. Selain itu, Selam melakukan ritual doa, berzikir, membuat sesajen dan ritual tertentu beberapa hari sebelum memulai pekerjaan. Menurut dia, cara-cara itu pernah tidak dilaksanakan, tetapi bakal reong dan gender misalnya, akan retak dan pecah begitu kena ayunan palu.

Selam meyakini, tahapan ritual sebelum proses produksi gamelan merupakan usaha membersihkan batin menghadapi pekerjaan berat. Pekerja harus bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaannya. ”Bagaimana menghasilkan karya yang bagus kalau lagi susah? Malah bisa-bisa kepala teman kena palu,” tuturnya mengandaikan.

Pesan dan pemahaman warisan leluhurnya yang terus dipelihara Selam menjadikan dirinya ”manusia langka” dalam dunia pergamelan di Lombok. ***

Source : Kompas, Jumat, 9 April 2010 | 04:05 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar