Sabtu, 16 Januari 2010

Sebagai teater tradisional, tarling menempatkan penonton tanpa jarak

Migrasi Tarling ke Organ Tunggal

Oleh Supali Kasim

Pada awalnya seni tarling yang tumbuh sejak dekade 1930-an di wilayah kultural Dermayu-Cerbon merupakan migrasi bunyi dari gamelan ke gitar-suling. Boleh jadi kini terjadi migrasi pula, yakni migrasi bunyi dari gitar-suling ke organ tunggal. Sebuah penanda betapa tarling memiliki ekspresi lugas, bebas, bahkan liar.

Tarling seakan-akan menjadi katarsis bagi kehidupan masyarakat petani dan nelayan dalam mengekspresikan kepedihan ataupun kegembiraan. Melalui petikan gitar, alunan suling, tembang klasik, tembang pop, dan drama, problematika kehidupan tertumpah di panggung. Jurang sosial antara buruh tani dan majikan atau antara bidak dan juragan nelayan melebur dan luluh dalam apresiasi kebersamaan.

Sebagai teater tradisional, tarling menempatkan penonton tanpa jarak. Tarling acap kali melibatkan penonton dalam pertunjukan drama secara spontan, seperti halnya seni lenong di Jakarta atau ludruk di Jawa Timur. Suatu adonan dramaturgi yang mampu menyedot penonton. Sebuah kekuatan yang tiba-tiba mengedepankan tarling bukan hanya sebagai tontonan, tetapi lebih dari itu oase untuk melakukan kontemplasi, introspeksi, dan ekspresi kemarjinalannya.

Siapa sangka pada era kini orang di luar Cirebon-Indramayu menyangka tarling hanyalah deretan tembang-tembang dangdut berbahasa Cerbon-Dermayu. Siapa sangka pula, lagu-lagu tersebut justru makin dikenal di tatar nasional. Setelah lagu "Warung Pojok" (Abdul Adjib) tahun 1967, dari era 1990-an hingga sekarang publik nasional mengenal lagu-lagu semacam "Pemuda Idaman" (Sadi M), "Mabok Bae" (E Thorikin), dan "Kucing Garong".

Budaya pop

Sebagai bentuk seni kerakyatan, seni tarling tumbuh dan berkembang tanpa pakem atau ketentuan baku lain. Generasi Mang Sugra di Indramayu pada dekade 1930-an bereksperimen memindahkan bunyi dawai gitar Eropa menjadi nada-nada pentatonis gamelan Dermayu-Cerbon. Ditingkahi seruling bambu dan tembang gamelan, seperti "Dermayonan", "Bendrong", atau "Cirebon Pegot", bunyi tersebut melahirkan kesenian gitar-suling.

Generasi Jayana dan Raden Sulam pada era 1950-an mampu membawa tarling sebagai pertunjukan yang bernas. Peristiwa hajatan dalam keluarga menjadi bermakna dengan tampilan tarling. Suguhan drama humor, drama keluarga, tembang klasik, ataupun lagu ngepop memberi warna pada estetika masyarakat.

Sejak dekade 1960-an tarling menanjak pada lagu-lagu yang agak ngepop, tetapi tetap bertumpu pada nada dasar klasik daerahnya. Lagu-lagu seperti "Warung Pojok", "Penganten Baru", "Supir Inden", "Sumpah Suci", "Temon" (Abdul Adjib), "Melati Segagang", "Saumpama-saum-pami", "Berag Tua", dan "Aja Dumeh" (Sunarto Martatmadja) mampu merebut penonton yang tampaknya juga keranjingan budaya pop.

Dinamika itu makin bergeser dengan tengara mulai ditinggalkannya nada dasar klasik daerah. Sejak dekade 1980-an, ketika Rhoma Irama menjadi isme tersendiri yang mengusung percampuran musik Melayu, India, dan rock, pengaruh itu juga berimbas pada lagu-lagu tarling. Hal itu juga berlaku pada penampilan para senimannya yang suka berjenggot, rambut keriting-gondrong, memakai jubah kebesaran, dan menenteng sebuah gitar layaknya Rhoma Irama.

Beberapa lagu masih setia dengan nada dasar klasik, tetapi lebih banyak lagi yang mengekspresikannya secara bebas sebagai lagu dangdut nasional berbahasa Cerbon-Dermayu. Awalnya beberapa lagu, seperti "Sepasang Manuk Dara" (Hj Dariyah), "Kawin Paksa" (Udin Zhen), "Pemuda Idaman" (Sadi M), "Lanang Sejati" (Herman Top), "Kapegot Tresna" (Yoyo S), "Tetes Banyumata" (Agus Salim/Eddy Bentar), ataupun "Angin Sore" (Acing C Pribadi), tetap mengusung nada dasar klasik pada tembang pop-dangdut tersebut. Adapun lagu-lagu lain mulai meninggalkan nada dasar tersebut. Ciri khas kedaerahan pada akhirnya hanya menyisakan unsur bahasa daerah.

Bebas dan liar

Berbeda dengan seni yang tumbuh dari keraton yang memiliki pakem dan nilai-nilai kesakralan, seni tarling berkembang dengan dinamika yang lugas, bebas, bahkan liar. Perubahan demi perubahan sangat tampak, misalnya dalam wujud lagu. Jika nada dan tempo makin terasa dinamis, begitu pula pada syair-syairnya. Perkembangan sosial, budaya, dan geregap kehidupan lain pada masyarakat tampaknya berpengaruh pada syair-syair yang cenderung mudah dicerna.

Sastra Cerbon-Dermayu masa lama hingga baru, semisal jawokan (mantra), panyandra (ibarat), dan paribasa (peribahasa), mungkin dianggap kurang dinamis. Syair lagu lebih banyak bernuansa wangsalan dan parikan (pantun) yang lebih memasyarakat. Dinamika juga terjadi pada tema dan judul lagu yang mudah mengikuti tren.

Tren dekade 1960 hingga 1970-an cenderung menyuarakan problematika sosial, cinta yang agung, dan nasib wong cilik dengan bahasa yang puitis. Hal ini berbeda dengan dekade 1980 hingga 1990-an yang menyuarakan tema-tema tersebut dengan lugas, blak-blakan, dan bombastis. Bisa jadi kini organ tunggal dianggap sebagai metamorfosis seni tarling dengan menyisakan ciri bahasa daerah pada lagu-lagunya yang kerap dianggap sebagai lagu tarling dangdut. Karakter mengikuti tren tampaknya tetap berlangsung.

Entah karena kerasnya kehidupan sosial, gonjang-ganjing politik, degradasi budaya, atau seperti diungkap pujangga dan Raja Kediri Jayabaya (1135-1157) sebagai akeh wong mbambung, akeh wong limbung (banyak orang menggila, banyak orang limbung), lagu-lagu tarling dangdut era kini lebih suka mengambil judul dengan personifikasi binatang, seperti "Kucing Garong", "Uler Kilan", "Ula Pucuk", "Mujaer Mundur", "Dedali Putih", "Capit Yuyu", "Pindang Urang", "Gagak Abang", dan "Buaya Ngesod".

SUPALI KASIM,

Mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu

Source : Kompas, Sabtu, 16 Januari 2010 | 13:47 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar