Sabtu, 03 Oktober 2009

Dari Duka Gempa Hingga Persoalan Batik Dunia

TAJUK RENCANA

KOMPAS, Sabtu, 3 Oktober 2009 | 05:01 WIB

Satu Dunia dalam Suka Duka

Skalanya memang tidak sebesar yang terjadi di Banda Aceh tahun 2004, di mana Bandara Sultan Iskandar Muda penuh pesawat asing pengangkut bantuan.

Namun, dari segi semangatnya, apa yang kini diulurkan oleh negara-negara sahabat sehubungan dengan terjadinya gempa di Sumatera Barat, dan juga sebelumnya di Jawa, mengingatkan kita pada apa yang terjadi tahun 2004.

Bangsa-bangsa lain juga merasakan senasib sepenanggungan dengan kita. Melihat penduduk kota Padang dan Pariaman yang tertindih oleh bangunan yang runtuh karena gempa, juga yang lalu harus tinggal di tenda-tenda karena kehilangan tempat tinggal, masyarakat bangsa lain juga iba dan tergerak hatinya. Mereka ikut merasa, apa yang dialami warga Sumatera Barat adalah penderitaan yang berat dan sepantasnya ditanggung bersama.

Sungguh, kita tidak meragukan bahwa umat manusia dalam banyak hal berbagi rasa persaudaraan. Mereka peka terhadap penderitaan sesama sehingga manakala ada satu pihak menderita, pihak lain tanpa pikir panjang segera mengulurkan tangan, menawarkan bantuan.

Yang lebih menggugah, sering kali sikap tanggap menawarkan bantuan tidak terbatas pada pemerintah, tetapi juga pada organisasi-organisasi masyarakat, sampai siswa sekolah, dan bahkan pada tingkat perorangan.

Di luar gempa, dunia juga dihadapkan pada bentuk bencana lain, seperti bencana kelaparan. Ini pun, untuk Afrika, melahirkan solidaritas para seniman yang tergabung dalam USA (United Support of Artists) for Africa di tahun 1985 dengan program ”We Are the World”. Menyebut program itu kita hanya ingin memperlihatkan, tidak di benua sana, tidak di benua sini, manakala ada musibah dan ketidakberuntungan, secara naluriah, pada umumnya kita terpanggil untuk membantu, dan berbagi.

Liriknya memang mengajak kita untuk berbagi. ”We are the world, we are the children, we are the ones who make a brighter day, so let’s start giving.” Ya, kita inilah yang akan membuat dunia lebih cerah, jadi, mari mulai memberi.

Kini, di Bandara Minangkabau, Padang, berdatangan pesawat dari berbagai penjuru untuk menyalurkan bantuan, mulai dari bahan makanan hingga alat penggali ukuran besar. Bantuan tersebut datang dari Singapura, Australia, dan sebagainya. Jerman menyiapkan dana khusus yang dapat kita pergunakan manakala kita perlukan.

Kita berharap tradisi baik penuh semangat kemanusiaan ini bisa terus hidup, dan lebih baik lagi apabila hal itu dapat diperluas di luar saat terjadi bencana.

Dengan semangat itu, kita yakin akan tumbuh pula saling pengertian lebih besar, yang pada gilirannya bisa mengurangi potensi konflik.

Pada kenyataannya, seluruh umat manusia berbagi bumi yang satu. Sewajarnyalah berkembang komunitas yang satu, di luar perbedaan yang ada. Inilah kearifan yang kita perlukan ketika kita menghadapi fenomena pemanasan global, bencana alam, dan problem kemanusiaan lainnya. ***

***

Batik Milik Dunia

Kita sambut gembira masuknya batik Indonesia dalam 76 warisan budaya nonbenda dunia. Menggembirakan dan membawa tanggung jawab.

Dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Indonesia hanya menyumbangkan satu, sementara China 21 dan Jepang 13 warisan. Meski demikian, jumlah ini jangan menyurutkan rasa gembira dan rasa syukur.

Teringatlah kita kepada Malaysia. Demi memiliki identitas, negara itu gencar mengklaim batik, reog, tari pendet, beberapa judul lagu, dan angklung sebagai milik sendiri. Kita desak Malaysia meminta maaf. Dengan bermacam dalih, mereka meminta maaf walaupun pada saat bersamaan terus mencari celah kelalaian kita.

Jajak pendapat harian ini, dimuat Kompas (31/8/2009), menunjukkan reaksi keras atas dipakainya simbol-simbol kebudayaan lokal Indonesia dalam iklan pariwisata Malaysia. Kita bangga atas kekayaan budaya kita, sebaliknya kita tidak mengenali dan memanfaatkannya.

Kata kuncinya kelalaian. Kita lalai tidak mengenal budaya sendiri, alih-alih mengurus hak kekayaan intelektual dan hak cipta. Sementara Malaysia, yang bangga atas kemajuan ekonomi, bermasalah ketika tidak memiliki identitas budaya. Padahal, sebuah bangsa menjadi besar jika memiliki identitas yang kuat.

Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di lembaga internasional. Kalau lalai, negara lain seperti Malaysia akan mengklaimnya sebagai produk budaya mereka.

UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang Hak Cipta menjamin perlindungan hak kekayaan intelektual komunal ataupun personal. Daerah diberi kebebasan mendaftarkan agar mendapat perlindungan sebagai kekayaan budaya bangsa.

Upaya itu sudah dilakukan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta dan Pemprov Bali. DI Yogyakarta menyangkut batik gaya Yogyakarta, Bali tarian dan tetabuhan musik. Sampai sekarang belum ada hasil. Termasuk pula musik angklung Jawa Barat yang sudah didaku Malaysia.

Contoh-contoh di atas menunjukkan urgensi dan perlu proaktifnya pendataan dan perlindungan hak cipta atas karya pribadi dan hak paten atas karya komunal. Kalau lalai, tidak saja kekayaan budaya hilang, bahkan berakibat buruk hilangnya identitas budaya kita.

Kekayaan budaya Indonesia, termasuk budaya nonbenda, berpotensi besar menumbuhkan industri kreatif yang memberikan kontribusi PDB Rp 104,6 triliun, yang didominasi fashion, kerajinan, periklanan, dan desain.

Pengakuan batik dari sisi desain bukan proses itu secara praktis kita lanjuti seperti Nelson Mandela yang sehari-hari menjadikan batik sebagai seragam formal. *** Illustrasi : foto batiksurya.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar