Jumat, 18 Februari 2011

Kasepuhan dan Kanoman Sampaikan Pesan Damai

Kasepuhan dan Kanoman

Sampaikan Pesan Damai

Ekspedisi Humaniora Online

Jumat, 18 Februari 2011

KULTURAL DAN SYIAR AGAMA. Abdi dalem Keraton Kanoman membawa benda-benda yang memiliki simbol masing-masing dalam arak-arakan panjang

CIREBON, Ekspedisi Humaniora Online – Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 142 H di Keraton Kasepuhan ditandai dengan dilaksanakan Panjang Jimat atau yang biasa disebut Pelal. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Panjang Jimat dihadiri oleh ribuan warga yang datang dari beberapa daerah di sekitar Cirebon.

Proses Panjang Jimat tahun ini merupakan yang pertama dipimpin oleh Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE sejak menggantikan almarhum Sultan Sepuh XIII Maulana.
Hadir Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat H Ahmad Mubarok, Wakil Gubernur Jawa Barat H Dede Yusuf, Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan wilayah III Jawa Barat, Drs H Ano Sutrisno MM, serta tamu undangan.

Sebelum proses Panjang Jimat dimulai, Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat SE mengatakan mengatakan prosesi Panjang Jimat merupakan refleksi dari proses kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan puncak acara kegiatan peringatan maulid nabi.
“Panjang berarti pada masa yang lama dan Jimat berarti satu yang harus diruwat atau dihormati yakni syahadat. Sehingga arti dari Panjang Jimat adalah sederetan kegiatan pada masa yang lama dan terus menerus dilaksanakan yakni menyongsong kelahiran nabi dengan mengumandangkan syahadat,” jelas dia.

Sultan mengungkapkan melalui prosesi Panjang Jimat diharapkan masyarakat bisa berkontemplasi dan evaluasi atas perjalanan panjang yang telah dilalui apakah masih mengumandang teguh syahadat. Sehingga dalam akidah yang lurus, kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir tidak bisa diubah-ubah lagi dan akidah Islam tidak bisa dipermainkan. “Namun kita tidak mengendaki tindakan anarkisme yang mengatasnamakan agama,” ungkap dia.

Sultan yang juga mantan anggota DPD RI ini dalam sambutannya ingin mengimbau dan berpesan bahwa Nabi Muhammad SAW sesuai pemahaman akidah Islam yang lurus adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW. “Dan bila ada yang mengakui adanya nabi setalah Muhammad, maka harus diluruskan,” tegas Arief.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Barat, H Dede Yusuf mengakui bahwa kegiatan Panjang Jimat yang diselenggaran oleh Keraton Kasepuhan bagus dan harus tetap dipelihara. “Proses Panjang Jimat merupakan sarana penyebaran agama Islam melalui pragmen dan tetap harus dilestarikan seperti sekarang ini,” tutur dia.

Saat ditanya tentang kepedulian Pemprov Jawa Barat terhadap keberadaan keraton di Cirebon, kader PAN ini mengaku selama ini pemprov selalu memperhatikan. Bahkan bantuan terus disalurkan setiap tahun. “Namun yang harus lebih memperhatikan dan melestarikan keberadaan keraton-keraton adalah pemerintah daerah setempat,” tandas Dede.

Kanoman

Panjang jimat yang merupakan prosesi iring-iringan benda-benda pusaka yang menjadi simbol perpaduan antara kultural dan syiar agama untuk memperingati kelahiran Nabi Muhamad SAW rupanya menyimpan pesan tentang perdamaian. Pesan inilah yang disampaikan melalui teladan Sinuhun Syekh Sunan Gunungjati dengan menggunakan metode persuasif untuk meminimalisir konflik dalam syiar agama.

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina ST, mengatakan, agama Islam yang tersebar di tanah Jawa dan ke berbagai belahan nusantara tidak terlepas dari syiar damai para wali. Pendekatan persuasif melalui budaya, seni, dan tradisi mewarnai bentuk syiar yang dilakukan. Inilah yang kemudian melahirkan tradisi panjang jimat yang merupakan perpaduan budaya, adat, budaya keraton, dan unsur-unsur religiusitas Islam. ”Tradisi panjang jimat mengambil momentum maulid Nabi Muhamad SAW, di dalamnya ada unsur budaya, adat, dan religiusitas Islam,” tuturnya.

Kacirebonan

Kirab panjang jimat pada malam pelal peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, juga dilaksanakan di Keraton Kacirebonan, yang dipimpin Sultan Abdul Gani Natadiningrat SE, kemarin (16/2). Kirab panjang jimat tersebut merupakan puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi keraton-keraton di Cirebon.

Selain warga masyarakat dari sekitar keraton dan berbagai daerah, Walikota Subardi SPd bersama jajaran Muspida Kota Cirebon ikut menyaksikan kirab panjang jimat tersebut. Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf juga tampak datang, dan dijamu keluarga Keraton Kacirebonan dengan makan malam. Kedatangan mereka menyaksikan panjang jimat tersebut bermaksud mencari berkah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

Menurut Pangeran Roeslan Amiril Mukminin SH, tradisi tersebut sebagai bentuk simbolisiasi penghormatan kepada nilai keluhuran sang Nabi Muhammad SAW. ”Dengan harapan dapat syafaatnya kelak di akhir zaman,” katanya kepada Radar. Menurut Roeslan, setelah usai rangkaian kirab panjang jimat dan sakralan, paginya (hari ini), piring-piring pusaka tersebut dicuci d itempat khusus. Kemudian dimasukkan ke dalam gedung jimat. “Sebelumnya piring-piring pusaka tersebut dicuci. Namanya siram panjang,” ujarnya. (mam/yud/ hsn)***

Source : radarcirebon.com, Jumat, 18 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar