Sabtu, 19 Februari 2011

Mendunia dengan Perpustakaan Maya

Sabtu,
19 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

TEROKA

Mendunia dengan Perpustakaan Maya

OLEH MOHAMAD FAUZI

Teknologi selalu membawa janji dan mimpi. Begitupun teknologi internet juga memberikan janji dan mimpi teknologi pada salah satu bagian vital dalam kehidupan akademik, yaitu perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi yang pesat mengarahkan perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan maya (online library).

Dengan perpustakaan maya, kita dijanjikan untuk mendapatkan kemudahan, kecepatan, keterjangkauan, kemurahan, fleksibilitas, serta kemampuan mengatasi ruang dan waktu.

Pada tahun 1945, atau 30 tahun sebelum penemuan PC (personal computer) dan 50 tahun sebelum lahirnya World Wide Web, Dr Vannevar Bush menuliskan sebuah esai yang kemudian begitu terkenal berjudul As We May Think.

Dalam esainya, ia memimpikan sebuah desktop personal yang akan mengambil alih semua perpustakaan. Dalam impian yang dia sebut Memex, Bush membayangkan sebuah keyboard dan layar yang memungkinkan penggunanya untuk menghadirkan ilmu pengetahuan umat manusia yang terkumpul menjadi satu.

Dalam tulisannya, Libraries of the Future (1965) yang terpengaruh pemikiran Bush, Douglas Engelbart, penemu mouse komputer, dan JCR Licklider membayangkan perpustakaan digital yang dihubungkan dengan sebuah jaringan agar dapat diakses para pengguna.

Menyaksikan apa yang ada pada hari ini, impian direktur Lembaga Pengembangan dan Penelitian Amerika Serikat (Office of Scientific Research and Development) itu tampaknya telah menjadi kenyataan.

Di Indonesia

Di negeri ini, hampir semua universitas terkemuka sudah memulai melakukan digitalisasi perpustakaan. Tahun ini, untuk menyebut beberapa contoh, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM) menganggarkan Rp 1 miliar untuk berlangganan database jurnal online. Adapun pengadaan buku cetak hanya Rp 150 juta.

Total anggaran UGM untuk berlangganan jurnal internasional mencapai Rp 5,8 miliar (Balkon Balairung UGM, edisi spesial, 2010). Di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, UPT Perpustakaan pusat sudah menghabiskan dana Rp 300 juta per tahun untuk berlangganan jurnal online.

Kini mahasiswa, dosen, peneliti, dan mereka yang berkecimpung dalam dunia akademis punya komputer atau laptop yang memengaruhi dan mengubah kebiasaan mereka dalam proses belajar-mengajar.

Para operator telepon sudah gencar memasarkan produk- produk bacaan via jasa internet prabayar. Sekarang juga sedang marak dipasarkan teknologi e-book reader yang digagas Apple dengan produk dalam iPad. Juga situs penjualan buku online Amazon dengan produknya Amazon Kindle, yang sudah menjadi tren belakangan ini. Semua ini mulai mengukuhkan janji dan mimpi perpustakaan maya di masa depan.

”Go international”

Selain itu, perkembangan perpustakaan maya tidak lepas dari perlombaan berbagai universitas di Indonesia untuk go international, menjadi universitas riset atau universitas berkelas dunia. Perpustakaan maya menjadi satu imperasi yang tak terelakkan.

Namun, seperti dikatakan Ian F McNeely dan Lisa Wolverton (2010) dalam buku Para Penjaga Ilmu dari Alexandria sampai Internet, mengelola perpustakaan adalah sebuah tugas besar yang menjemukan dan memerlukan komitmen. Di AS, mayoritas mahasiswa sudah beralih ke perpustakaan maya.

Menurut hasil survei Thomas dan Dorothy di Leavey Library yang berada di University of Southern California, AS, 73 persen mahasiswa AS sudah tidak lagi ke perpustakaan tradisional karena mereka sudah terhubung ke internet dan perpustakaan online.

Tinggal 36 persen mahasiswa S-1 yang meminjam buku, 12 persen yang datang ke perpustakaan untuk menggunakan jurnal cetakan, dan 61 persen yang datang untuk menggunakan komputer.

Di Indonesia, berdasarkan riset kecil yang saya lakukan, tak banyak mahasiswa dan dosen yang menggunakan perpustakaan maya.

Pada umumnya mereka, ternyata, lebih asyik menggunakan perangkat-perangkat teknologi modern itu hanya untuk bercengkerama dengan Facebook, blog, e-mail, atau Twitter.

Di UNS, dari total dana Rp 3 miliar per tahun, ternyata sekitar 60 persennya habis untuk mengakses Facebook atau untuk download film dan musik. Mentalitas dan perilaku, pada akhirnya, juga menjadi penentu dari tujuan dan masa depan yang kita harapkan.***

MOHAMAD FAUZI,

Mahasiswa Kajian Amerika Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta;

Bergiat di Bale Sastra Kecapi Surakarta dan Pengajian Senin Solo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar