Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Thursday, April 8, 2010

Internationale Tourismus Borse Berlin 2010, 10-14 Maret

Demonstrasi pembuatan wayang kulit di arena ITB Berlin 2010,10-14 Maret. (Kompas/Kenedi Nurhan)***

PROMOSI KEPARIWISATAAN

Sebaris Pesan dari Berlin

Jero Wacik tampak semringah. Sebagai ketua delegasi Indonesia ke Internationale Tourismus Borse Berlin 2010, 10-14 Maret, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI ini mengaku benar-benar bebas dari tekanan. Di tengah ingar-bingar suasana ITB Berlin 2010 yang riuh, tebaran senyum dan optimisme selalu menyertainya selama 3 hari ikut ”menjaga” Paviliun Indonesia di arena pameran.

Tahun ini kita (baca: Indonesia) akan merebut pasar Eropa,” kata Jero Wacik. Pasar Eropa yang ia maksudkan tak lain adalah calon-calon wisatawan dari negeri empat musim ini agar berkunjung ke Indonesia. ”Meski target yang dicanangkan 773.000 wisatawan mancanegara dari Eropa yang berkunjung ke Indonesia, saya optimistis bisa mencapai angka 1 juta,” tambahnya.

Boleh jadi banyak kalangan tersenyum simpul, meragukan optimisme sang menteri. Akan tetapi, bagi Jero Wacik, semangat dan optimisme perlu selalu dikobarkan untuk melapiki etos dan kerja keras yang harus dibangun di atasnya. Bahkan, dengan target pertumbuhan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia hingga 9 persen pada 2010, yakni dari 6,4 juta (2009) menjadi 7 juta, angka ini jauh di atas prediksi UN-WTO (Organisasi Kepariwisataan Dunia di bawah PBB yang bermarkas di Madrid) yang memperkirakan arus kunjungan wisatawan mancanegara hanya tumbuh sekitar 3 persen.

Jika data statistik kunjungan wisatawan mancanegara selama 2009 benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, capaian Indonesia memang pantas diapresiasi. Ketika perekonomian dunia dilanda krisis dan pertumbuhan wisatawan internasional turun 4 persen dibandingkan dengan 2008, Indonesia justru mencatat 6,4 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke negeri ini selama 2009, atau naik sekitar 1 persen. Khusus untuk pasar Eropa, jumlah wisatawan malah naik hingga 3,92 persen, yakni dari 616.863 menjadi 641.024 wisatawan.

Melihat capaian yang diraih Indonesia selama 2009 dan target pertumbuhan yang dipatok untuk tahun 2010, Sekjen UN-WTO Taleb Rifai saat berkunjung ke Paviliun Indonesia di arena Bursa Pariwisata Internasional (Internationale Tourismus Borse/ITB) Berlin 2010 mengaku kagum. Ia juga memuji kisah sukses kepariwisataan Indonesia yang justru berjaya di saat dunia dilanda krisis.

”Tentu saja saya mengapresiasi langkah dan terobosan yang dilakukan Indonesia sehingga dunia kepariwisataan tidak saja memberikan nilai tambah dari aspek ekonomi, tetapi juga ikut memperkaya nilai sosial dan budaya,” kata Rifai.

Bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia, sektor pariwisata memang salah satu primadona penghasil devisa. Sebutlah seperti Maladewa, negara kecil di Samudra Hindia yang wilayah daratannya hanya berupa pulau-pulau karang atol, mampu hidup dan menghidupi rakyatnya dari jasa pariwisata setelah sektor kelautan.

Indonesia? Meski keragaman budaya dan eksotisme alam yang luar biasa kaya belum tergarap maksimal, ditambah jasa sektor industri kreatif yang juga bisa jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sumbangan sektor ini terhadap pendapatan negara ternyata cukup mencengangkan.

Data yang disodorkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memperlihatkan, selama tahun 2009 sektor pariwisata mampu menyumbang pendapatan negara hingga 7,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 68 triliun. Capaian ini hanya dikalahkan oleh sektor minyak dan gas bumi, serta kelapa sawit. Dengan target kenaikan wisatawan mancanegara hingga 7 juta, kementerian ini bahkan optimistis bisa menyumbang pemasukan hingga 7,8 miliar dollar AS pada 2010.

”Persaingan di bidang kepariwisataan yang paling keras dalam menggaet wisatawan sesungguhnya adalah faktor keamanan,” kata Jero Wacik.

Menurut dia, dari aspek keamanan, saat ini Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tiga keikutsertaan terdahulu— dari 15 kali Indonesia berpartisipasi sejak ajang promosi pariwisata terbesar di dunia ini digelar tahun 1966—Indonesia datang di tengah citra buruk, khususnya dari segi keamanan. Kerusuhan berbau etnis, peristiwa tsunami, dan kasus bom, terutama yang terjadi di Bali, sempat merusak citra Indonesia di mata sebagian wisatawan Eropa.

”Sekarang berbeda. Citra Indonesia dalam keadaan sangat baik. Kasus Century? Tidak ada masalah bagi calon wisatawan. Yang ribut, kan, cuma di DPR,” ujarnya.

Beragam pertunjukan

Dibandingkan dengan paviliun negara-negara peserta ITB Berlin 2010 lainnya, terutama peserta dari kawasan Asia-Oceania yang berada di Gedung Messegelande Berlin, Paviliun Indonesia yang menempati areal seluas 800 meter persegi relatif kurang memperlihatkan jati dirinya. Penataan ruang tidak cukup memunculkan semangat keindonesiaan sebagai sebuah bangsa yang besar.

Luas dan lapang, tetapi paduan ornamen Bali, Toraja, dan Papua dengan penonjolan warna-warna terang yang dipajang tanpa memperhitungkan aspek keletakan dan komposisi ruang membuat fokus perhatian pengunjung terpecah. Pilihan dan tata letak meja-kursi peserta bursa dari kalangan industri pariwisata pun sangat bersahaja. Untung ada panorama Candi Prambanan dan Borobudur yang cukup memikat, diletakkan di dua tempat terpisah.

Meski banyak mendapat pujian, termasuk dari panitia yang kemudian menobatkan Indonesia di urutan ke-5 penyaji terbaik di antara peserta pada ruang pamer kawasan Asia-Oceania, sangat boleh jadi hal itu karena Indonesia unggul dalam penampilan seni pertunjukannya. Panggung yang dibuat menonjol dengan maskot patung binatang komodo di latar depan, berikut patung Asmat yang tinggi menjulang di sayap kanan, setiap hari memang selalu diisi beragam pertunjukan.

Sumbangan tim kesenian dari KBRI Berlin, mulai dari sajian tari Betawi saat acara pembukaan, aneka variasi tari saman dari Aceh yang sudah melegenda itu, hingga peragaan busana karya Lina Berlina—desainer asal Bandung yang kini tinggal di Berlin—selalu menjadi pusat perhatian. Belum lagi penampilan tim kesenian dari Papua yang khusus datang mendampingi tim promosi pariwisata pemerintah setempat.

Di luar itu, demonstrasi pembuatan wayang kulit oleh tim promosi Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko; peragaan sulam tangan oleh Yayasan Sulam Indonesia; serta pembuatan patung dan kerajinan kulit kayu oleh pemahat dari Lembah Baliem, Papua, memberi nilai lebih pada Paviliun Indonesia. Sajian khusus ”pojok” kopi oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, juga keberadaan terapi spa dari Sari Royal Heritage yang disertakan dalam ITB Berlin kali ini, ikut menyedot antrean pengunjung.

Kerja keras

Selama lima hari ITB Berlin 2010 digelar, diperkirakan 200.000 pengunjung hadir di ajang promosi pariwisata terbesar di dunia tersebut. Sekitar 11.000 peserta dari kalangan industri pariwisata, berasal dari 180 negara tampil, bertemu para agen perjalanan yang akan memfasilitasi jutaan wisatawan berkunjung ke berbagai belahan dunia.

Tidak ada yang gratis! Di luar biaya perjalanan dan akomodasi, untuk mendapat satu meja kecil dengan tiga kursi di setiap paviliun, setiap peserta dari kalangan industri pariwisata harus berkontribusi 1.000 euro atau sekitar Rp 12,5 juta. Kontribusi tersebut belum termasuk tiket masuk selama pameran senilai 46 euro, seperti juga yang harus dikeluarkan oleh pengunjung pameran. Khusus bagi pengunjung umum, yang dibuka pada dua hari terakhir pameran, panitia mengenakan tiket 28 euro, dan bila membawa kendaraan pribadi ke lingkungan gedung pameran dikenai tambahan biaya 100 euro.

Boleh jadi, tak terbayangkan sebelumnya oleh Manfred Busche bersama dua rekannya, Hans Trautmansberger dan Susanne Barth, bahwa rintisan yang mereka lakukan dengan menggelar ITB Berlin untuk pertama kalinya pada 44 tahun silam akan semegah dan setenar seperti sekarang. Dalam suasana ketika Tembok Berlin yang memisahkan dua ”wilayah ideologi” di satu kota tersebut masih berdiri kokoh, ketika Perang Dingin antara Barat dan Timur masih sedingin salju yang tersisa di pertengahan bulan Maret, impian itu tetap mereka wujudkan di tengah sinisme banyak orang.

Bertahun-tahun mereka membangun citra, membuat jaringan, dan mempromosikannya ke seantero dunia. Hasil dari kerja keras yang disertai semangat dan optimisme itu kini menggema ke lima benua, menjadi tolehan kalangan industri pariwisata dan para agen perjalanan dunia! (KEN) ***

Source : Kompas, Sabtu, 20 Maret 2010 | 03:02 WIB

Tuesday, January 26, 2010

Menyelusuri Obyek Wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

KOLAM RENANG GILI TRAWANGAN

Serombongan wisatawan menikmati suasana siang dengan berendam di kolam renang sambil menikmati minuman dan sajian menu lain di Gili Trawangan. Tempat itu banyak dikunjungi turis muda usia. (Foto:Kompas/Hariadi Saptono)***

TANAH AIR

Ke Gili, Sebaiknya "Nginap" Saja...

Oleh Khaerul Anwar

Sarana akomodasi dan transportasi menjadi keniscayaan yang harus dipenuhi oleh daerah tujuan wisata, seperti obyek wisata tiga gili (pulau kecil): Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air, yang masuk wilayah Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Sarana-sarana itu agaknya tersedia, relatif mudah, dan murah dengan lumayan banyak pilihan jika para pelancong bertandang ke sana.

Dari Terminal Bus Mandalika, Mataram, ibu kota NTB, Anda bisa menumpang angkutan umum menuju Lombok Utara, lalu turun di Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang–pintu masuk menuju pulau-pulau itu. Ongkos dari Mandalika ke Bangsal sebesar Rp 15.000 per orang.

Memang ada angkutan umum jurusan Lombok Utara, yang mengetem di timur Bandara Selaparang, dengan ongkos lebih murah, Rp 10.000 per orang, sampai Pelabuhan Bangsal yang ditempuh sekitar 40 menit dari Mataram. Hotel-hotel di Mataram juga menyediakan mobil sewaan antara Rp 400.00 dan Rp 600.000 per hari.

Perjalanan ini bisa memilih jalur hutan atau pinggiran pantai. Kalau memilih rute hutan, Anda akan menerabas kawasan hutan Pusuk, habitat komunitas kera abu-abu di pinggir jalan yang menanti para pengendara dan penumpang angkutan umum melempar makanan (roti, pisang, dan lain-lain) buat mereka. Wisatawan singgah di sini memberi makan monyet-monyet itu seraya mencicipi air tuak manis dan durian.

Jika Anda memilih jalur pinggiran pantai, begitu masuk kawasan Senggigi, di sisi kiri Anda adalah panorama indah laut biru dan langit biru. Di kejauhan, Gunung Agung di Pulau Bali terlihat jelas. Suasananya sunyi... dan Anda bebas berhenti di mana saja di sejumlah pantai sunyi penuh pohon kelapa itu, lalu nyemplung, basah kuyup menyusuri pasir putih dengan air asin setinggi dengkul....

Selagi musim durian, harga durian Rp 15.000-Rp 30.000 per biji. Satu botol air tuak manis—ukuran 1 liter dan 600 mililiter botol minuman kemasan—dijual Rp 2.500-Rp 5.000. Di beberapa tempat di kawasan ini dapat dilihat proses membuat gula merah, malah diproduksi dalam bentuk briket (sebesar permen), biasanya dikonsumsi para olahragawan. Satu kotak kemasan briket gula merah dijual Rp 25.000.

Di Bangsal sudah menunggu boat angkutan umum penyeberangan ke tiga gili. Harga tiket yang dibeli di kantor koperasi pengelola angkutan itu tergolong murah, yakni Rp 10.000 per orang untuk jurusan Trawangan, Rp 9.000 ke Meno, dan Rp 8.000 ke Gili Air. Maksimal terisi 25 penumpang. Boat berlayar dari Bangsal ke Trawangan memerlukan waktu sekitar 45 menit, ke Meno 30 menit dan ke Air 20 menit.

Kalau enggan berdesak-desakan, ada yang bisa dicarter, tentu tarifnya lebih mahal. Tarif sekali jalan Bangsal-Trawangan Rp 185.000, Meno Rp 165.000, dan ke Air Rp 150.000. Andaikan tidak berniat bermalam, bolehlah mencarter boat seharga Rp 450.000 untuk menyinggahi tiga gili itu barang sebentar.

Perjalanan pun bisa ditempuh dari obyek wisata Senggigi dengan mencarter boat berkapasitas dua-empat orang yang tarifnya Rp 350.000, sedangkan yang kapasitasnya 10 orang harga sewanya Rp 550.000 pergi-pulang. Perjalanan pergi rute Senggigi-Trawangan sekitar 60 menit, atau lebih singkat ketimbang perjalanan pulang rute Trawangan-Senggigi yang mencapai 1,5 jam karena boat melawan arus laut.

Sejalan dengan gencarnya pariwisata tiga gili ini, banyak kapal cepat yang melakukan penyeberangan langsung dari Bali, yaitu dari Padangbai dan Nusa Lembongan yang ongkosnya Rp 450.000-Rp 550.000 per orang, dengan lama perjalanan sekitar dua jam.

Penginapan di tiga gili ini juga banyak pilihan, dengan tarif yang beda-beda tipis, meski wisatawan cenderung menginap di Gili Trawangan yang fasilitas penginapan, transportasi, keperluan menyelam, snorkeling, sampai barang cendera mata lebih lengkap. Biasanya wisatawan yang ingin menyelam dan snorkling melaju dari Trawangan ke Meno dan Air karena ada boat yang rutin pagi-sore melayani jalur Trawangan, Meno, dan Air pergi-pulang.

Di Trawangan, bagi yang berkantong tebal, tersedia hotel berbintang yang sewanya Rp 1,5 juta semalam atau penginapan menengah yang sewanya Rp 500.000-Rp 600.000 per malam. Paling murah adalah penginapan berstandar melati dengan tarif murah Rp 100.000 hingga Rp 150.000 semalam, plus layanan gratis snack serta segelas kopi dan teh manis pada pagi hari.

Habis sarapan, silakan melakukan snorkeling dan tidak perlu membawa alat sendiri karena maskernya banyak disewakan seharga Rp 50.000 sehari. Begitu pun bila menyelam, cukup menyediakan Rp 600.000 untuk membayar sewa alat selam berikut instrukturnya.

Puas menyaksikan pemandangan bawah laut, program berikutnya adalah jalan kaki mengitari tuntas pulau-pulau kecil itu selama satu jam. Kalau malas jalan kaki, cukup dengan merogoh saku untuk sewa sepeda Rp 50.000 per jam dan Rp 75.000 per hari. Menumpang cidomo (kendaraan dokar dengan roda ban mobil) adalah alternatif lain jalan-jalan menyusuri pinggir pantai Gili Trawangan (seluas 338 hektar) atau Gili Air, sekali jalan biayanya Rp 80.000 dan Rp 50.000.

Soal makan, sesuai dengan modal yang ada di kantong, ada restoran yang menyediakan aneka makanan laut seharga ratusan ribu. Namun, ada pula warung yang menyediakan nasi campur dengan lauk-pauk ala kadarnya, cukup merogoh kocek Rp 10.000-Rp 15.000.

Yah... tidak salah kalau memasukkan Lombok, dan tiga gili khususnya, dalam daftar acara liburan Anda dan keluarga. Sarana, akomodasi, dan biaya yang dikeluarkan relatif mudah dan murah. Berlibur dan menginap di tiga gili itu mungkin juga bisa mengendurkan saraf karena berbagai persoalan….

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 03:27 WIB

Tiga Gili "Desa Dunia" di Tengah Laut Lombok

HAMPARAN PASIR PUTIH DESA GILI - Berjemur sinar matahari di hamparan pasir putih memberikan kenikmatan tersendiri dan menjadi salah satu hal yang mendorong wisatawan mancanegara mengisi liburan di obyek wisata Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, akhir Desember 2009. (Foto:Q Wadru Wicaksono)***

TANAH AIR

Tiga Gili "Desa Dunia" di Tengah Laut Lombok

Oleh Khaerul Anwar

Inilah ”desa dunia” pasca-Bali. Ini memang julukan bagi obyek wisata tiga gili atau pulau kecil yang berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Sebutan itu dapat dibuktikan melalui keberadaan sejumlah hotel berbintang yang umumnya milik investor asing yang bekerja sama dengan warga setempat sebagai pemilik lahan. Juga suasana di pesisir tiga gili, Trawangan, Meno, dan Air, yang didominasi turis muda usia dari mancanegara, yang berwisata di pulau kecil yang masih bersih dari polusi dan terpisah dari Pulau Lombok itu.

Suasana ”desa dunia” sangat kental di Trawangan, terindikasi dari bahasa yang digunakan wisatawan, seperti bahasa Jerman, Perancis, Spanyol, dan Jepang; malah ada sekelompok kecil wisatawan yang berkomunikasi dengan bahasa Lebanon. Meski demikian, pelancong yang berbahasa Inggris lebih dominan.

Tidak seramai Kuta, Bali, memang, tetapi Ali dan Kahlil, keduanya wisatawan warga Swedia keturunan Lebanon, mengaku terhibur dengan suasana Trawangan. ”Di sini suasana tenang, alami, tidak ada polusi, saya suka,” ujar Ali, yang bersama 12 rekannya tinggal selama tiga hari pada pertengahan Januari.

Di Gili Trawangan tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermesin. Yang diizinkan hanya cidomo (kendaraan khas), kuda, dan sepeda gayung. Transportasi ini disewakan kepada wisatawan yang ingin jalan-jalan mengitari pulau seluas 338 hektar itu.

Gili Trawangan yang berada di deretan barat menjadi pilihan utama karena memiliki fasilitas lebih lengkap, seperti penginapan, hiburan malam, sarana komunikasi dan transportasi yang nyaris sepanjang hari melayani warga lokal ataupun wisatawan dari Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang, ke Gili Trawangan, termasuk ke Gili Air yang berada di deretan paling timur.

Agak berbeda dengan Gili Meno, yang diapit dua pulau tetangganya, sarana dan prasarana pendukungnya kurang lengkap meski suasana lingkungan sekitar Meno relatif sepi dan tenang, mungkin cocok untuk wisata keluarga.

Dari tiga gili itu, wisatawan dapat menikmati matahari terbit dari balik Gunung Rinjani, lalu matahari terbenam, dan Gunung Agung di Bali, serta berbagai atraksi bahari yang disukai, seperti diving dan snorkling. Ada taman laut Meno Wall, dinding tebing curam di antara Meno dan Trawangan, yang bisa disaksikan pada kedalaman 15 meter.

Gili Meno juga dilengkapi danau ”alam” berair asin, serta area tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi, aneka jenis dan warna ikan hias, seperti tiger fish, blue moon, dan ikan kepe-kepe yang masuk keluar terumbu karang. Para penyelam pun membawa roti yang dimasukkan dalam botol bekas air mineral. Saat di dalam air, roti itu disemprotkan guna menarik perhatian ikan hias itu.

Kecuali ribbon coral dan finger coral, hampir di semua tempat di perairan tiga gili itu terdapat terumbu karang berwarna biru. Terumbu karang biru masuk marga Acropora. Warna biru itu disebabkan warna pigmen zooxanthela atau alga bersel tunggal berwarna biru dan hidup bersimbiosa dalam jaringan karang. Suasana ini bagaikan karang biru di Laut Karibia.

Mau uji nyali, cobalah naik boat ke sekitar 100 meter barat-selatan dari Gili Trawangan. Di situ, selain ada ikan hias lion fish dan ikan sotong, juga ada shark point, sarang ikan hiu white tip di kedalaman 25-30 meter. Bagi yang mengikuti kursus selam, lokasi ini wajib dikunjungi.

Jika enggan berbasah-basah, ada glass bottom boat yang lantainya tembus pandang.

Banyak jalan menuju gili itu. Jika sekadar tur singkat atau ”cuci mata”, bisa mencarter boat dari obyek wisata Senggigi, Lombok Barat, yang sewanya Rp 350.000-Rp 550.000. Senggigi-Trawangan ditempuh sekitar 60 menit dengan boat.

Menumpang angkutan umum dari Senggigi ke Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang—pintu masuk ke tiga gili itu—adalah alternatif lain. Kondisi jalan di jalur ini beraspal hotmix, dengan medan menanjak dan tikungan menelusuri kawasan pantai serta pada tempat tertentu dari kejauhan tampak gugusan tiga gili itu.

Boleh juga menumpang angkutan umum dari Mataram, Ibu Kota Nusa Tenggara Barat, ke Pelabuhan Bangsal. Dalam perjalanan, para wisatawan singgah sejenak di sekitar kawasan Hutan Pusuk, bermain-main dengan komunitas kera abu-abu kemudian mencicipi air tuak manis yang dijajakan di pinggir jalan.

Sekalian juga menengok proses produksi gula merah yang dilakukan warga di sekitar kawasan hutan itu dari mengambil air aren di pohonnya sampai mengolahnya menjadi gula jawa.

Keunggulan komparatif tiga gili itu menjadi magnet yang dinikmati wisatawan, kalangan usaha, dan masyarakat. Hanya saja, mengedepankan hitung-hitungan ekonomi yang diraih, lalu mengabaikan aspek lingkungan, justru memperburuk persoalan lingkungan yang dalam dua dekade terakhir ini dirasakan masyarakat. Jika lalai menjaga lingkungan yang menjadi daya tarik tiga gili itu, niscaya ”desa dunia” ini ditinggal pelancong.***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 02:57 WIB

Monday, October 26, 2009

52 Tahun Perjalanan Ny. Hj. Anna Sophana Mendampingi Dr. H. Irianto MS Syafiuddin

Ny. Hj. Anna Sophana, istri Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) tengah memperoleh ucapan Selamat Ulang Tahun ke-52 dari anaknya, Dini yang disaksikan oleh jajaran pengurus PKK Kabupaten Indramayu, Jumat (23/10) siang, di Aula PKK setempat. (Satim)***

Perjalanan 52 Tahun

“Sri Kandi” Indramayu

Ulang Tahun di Dua Lokasi

INDRAMAYU – Perjalanan usia terus berjalan sejalan dengan perjalanan sang waktu. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Ny. Hj. Anna Sophana, istri Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) seperti yang dituturkannya kepada ToeNTAS News, Jumat (23/10) siang, seusai dirinya berulang tahun ke-52 yang dirayakan oleh puluhan pengurus PKK Kabupaten Indramayu di Aula PKK setempat.

“Tidak terasa lagi, ternyata saya sudah berumur 52 tahun. Saya juga sempat tidak ingat lagi karena sebuah kesibukan, sehingga sempat kaget begitu tanggal 23 Oktober ini para ibu-ibu Pengurus PKK mengundang saya dan anak cucu di Aula PKK ini. Saya baru ingat, jika hari ini 23 Oktober 2009 merupakan perjalanan hidup saya yang ke-52 tahun. Sebuah kejutan bagi saya, sekaligus rasa terima kasih atas doa seluruh rakyat Indramayu, sehingga saya masih diberikan panjang umur dan kesehatan,” kata Anna Sophana.

Hari Jumat itu, Anna Sophana bagai “Sri Kandi Indramayu” yang tengah banyak dirayakan oleh para “loyalisnya” di dua acara yang berbeda. Jumat (23/10) sore, Hari Ulang Tahun Anna Sophana yang juga anggota DPRD Kabupaten Indramayu daro Fraksi Golkar tersebut dirayakan di arena obyek wisata Water Park Bojong Sari, Indramayu. Dalam kesempatan itu, sejumlah unsur Muspida dan para undangan ikut menyaksikan acara yang paling berbahagia bagi Anna Sophana sekeluarga.

Sebuah kue ulang tahun yang ada angka 52 dan lilinnya ditiup Anna Sophana. Acara itu, konon, sengaja digelar pihak Panitia Peresmian Water Park Bojong Sari dari jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-52 bagi perjalanan hidup Anna Sophana yang hingga kini masih menjadi ibu Kepala Daerah Kota Mangga.

Pihak panitia acara, lalu meminta kepada Anna Sophana agar menyuapi kue ulang tahun kepada suaminya, Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (atau yang akrab disapa Yance) sambil tertawa dan disambut dengan nyanyian “Happy Birthday to You” dan Selamat Panjang Umur yang dinyanyikan bersama-sama oleh hadirin yang hadir memadati tepi kolam renang anak Water Park Bojong Sari.

Acara Ulang Tahun ke-52 untuk Anna Sophana itu digelar seusai Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin meresmikan dibukanya obyek wisata Water Park Bojong Sari, Indramayu yang berada di sekitar Waduk Bojong Sari. Seluruh rangkaian acara dan para pengunjung obyek wisata baru berakhir menjelang Maghrib. (Satim)*** Foto-foto : Satim

Ada-ada Saja ! Pintu Ruang Ganti Pakaian Jebol Pada Saat Peresmian Water Park Bojong Sari, Indramayu

“Water Park” Bojong Sari

Ketua KWRI Mengamati Jebolnya

Pintu Ruang Ganti Pakaian

INDRAMAYU – Pada saat peresmian, Jumat (23/10) sore sekitar pukul 16.31 WIB, Pintu Ruang Ganti Pakaian di lokasi Water Parka Bojong Sari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat dalam kondisi jebol. Entah kelalaian pihak panitia atau bagaimana menjelang peresmian, sehingga belum sempat diberesi. Namun Kabag Pengendalian Program Setda Kabupaten Indramayu, Didi Kusmulyadi pada saat peresmian mengatakan, bahwa kondisi pintu ruang ganti pakaian yang jebol itu merupakan proyek yang dikerjakan pihak pemborong pada tahun 2007 silam. Namun, rusaknya pintu itu tampaknya menarik perhatian Ketua Komite Wartawan Reformasi Indramayu (KWRI) Cabang Kabupaten Indramayu, Duliman. Seperti tampak dalam gambar, Duliman tengah mengamati kerusakan pintu ruang ganti pakaian wisatawan “Water Park” Bojong Sari Indramayu itu. Selain jebolnya pintu ruang ganti pakaian itu, sempat terjadi gangguan aliran listrik , sehingga saat itu air pemandian tidak bisa terpompa oleh mesin pemompa air. Meski akhirnya ada stroom kembali, sehingga kepanikan pihak panitia terobati menjelang obyek wisata "Water Park" itu ditinjau Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin bersama istrinya, Hj. Anna Sophana yang juga anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Golkar. (Jana/Satim)*** Foto-Foto : Satim


Friday, October 23, 2009

Obyek Wisata Water Park Bojong Sari, Telah Resmi Di Buka Untuk Umum

OBYEK WISATA

Bupati Yance Disambut Tarian Kolosal

INDRAMAYU – Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin akhirnya meresmikan obyek wisata Water Park Bojong Sari yang berada di sekitar Waduk Bojong Sari, Jumat (23/10) sore sekitar pukul 15.48 WIB. Dalam peresmian itu, Bupati Irianto atau yang akrab disapa Yance ini, sore itu didampingi istrinya, Ny. Hj. Anna Sophana, anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Golkar.

Kedatangan Bupati Yance bersama istrinya disambut dengan tarian penyambutan tamu agung yang dimainkan grup sendratari Dewan Kesenian Indramayu (DKI) di bawah koordinator tari Drs. Wergul W. Darkum, sambil diiringi dengan gamnelan laras slendro yang dimainkan para awak seni DKI.

Undangan dan para pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi peresmian obyek wisata yang berbiaya mahal itu memadati arena parkir Water Park Bojong Sari Indramayu. Sebagian warga berdesakan ingin bersalaman dengan Bupati Yance dan Anna Sophana, yang namanya banyak dibicarakan orang, karena masuk dalam wacana bakal calon Bupati Indramayu pada Pilkada 2010 mendatang yang diusung Partai Golkar.

Yance sore itu menandatangani prasasti peresmian obyek wisata Water Park Bojong Sari, sedangkan Anna Sophana mengguntingkan pita pintu masuk yang akan menuju ke arena wisata berbiaya puluhan miliar rupiah tersebut. Acara itu sebelumnya disambut dengan tarian kolosal yang mengusung replika gapura Obyek Wisata Bojong Sari, yang dibumbui dengan suguhan kreasi bakar kemenyan di atas dupa yang diperagakan seniman si “Kembar” Dermayon.

Bupati bersama rombongan Muspida, para anggota dewan dan undangan berkeliling meninjau langsung seputar sarana wisata yang telah siap dioperasikan, maupun yang sedang digarap pihak kontraktor.

Hari itu pun, pemandian anak-anak dan arena peluncuran air sudah digunakan warga yang berkunjung menghadiri acara peresmian. Puluhan, bahkan ratusan anak-anak terlihat ceria sambil berbasah ria bermain air di arena Water Park Bojong Sari.

Yance mengharapkan, agar masyarakat bisa memanfaatkan obyek wisata Bojong Sari itu. “Dan jangan lupa, mari kita bersama-sama untuk menjaganya, supaya keberadaan obyek wisata Bojong Sari benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Indramayu itu. (Satim)*** Foto-Foto : Satim

Site Plan Obyek Wisata Bojong Sari Indramayu

Site Plan Obyek Wisata Bojong Sari

Tersimpan di Budpar

INDRAMAYU – Site Plan (Gambar Perencanaan) Obyek Wisata Bojong Sari, Kabupaten Indramayu terpampang di ruangan tamu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Gambar diambil, Rabu (2/9) sore. Site Plan itu memperlihatkan betapa indahnya obyek wisata pertama yang sempat dijuluki mega proyek “mercuar” oleh sebagian kalangan, dan merupakan proyek Pemerintahan Kota Mangga yang terlama dan terbanyak menyerap dana rakyat, karena hingga 2009 telah menghabiskan dana APBD Kabupaten Indramayu puluhan miliar rupiah yang dikucurkan sejak 2006 silam.

Walaupun masih belum rampung 100 persen, Obyek Wisata Bojong Sari di Kabupaten Indramayu itu, Jumat (23/10) sore sekitar pukul 15.45 WIB, akhirnya diresmikan Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin (Yance) didampingi istrinya, Ny. Hj. Anna Sophana yang tengah naik daun karena wacana kandidat Calon Bupati Indramayu pada 2010 mendatang, Jumat (23/10) sore, dengan suasana yang dipadati para tamu kehormatan dan ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung kondisi Obyek Wisata Water Park Bojong Sari tersebut. (Satim)*** Foto-Foto : Satim

Thursday, October 22, 2009

Besok, Jumat (23/10) Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin Akan Meresmikan Obyek Wisata Water Park Bojong Sari Indramayu

OBYEK WISATA BOJONG SARI

Sudah Beberapa Kali "Gagal" Diresmikan

INDRAMAYU – Besok, Jumat (23/10) sekitar pukul 15.00 WIB, Bupati Indramayu Dr. H. Irianto MS Syafiuddin rencananya akan meresmikan Obyek Wisata Water Park Bojong Sari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Kesiapan Bupati Yance (begitu sapaan akrab H. Irianto MS Syafiuddin) meresmikan obyek wisata yang diperkirakan telah menelan dana sekitar puluhan miliar rupiah itu, konon, atas permintaan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar), Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu.

“Jumat, besok, Obyek Wisata Water Park siap untuk diresmikan Pak Bupati Yance,” kata Trisna Hendarin, Sekretaris Dinas Budpar, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu di Pendopo Bupati Indramayu, Kamis (22/10) siang.

Kejadian yang terbilang langka untuk peresmian sebuah proyek di Kabupaten Indramayu, salah satunya dialami obyek wisata Water Park Bojong Sari Indramayu. Dalam catatan ToeNTAS News, ada telah beberapa kali informasi pihak Budpar setempat yang memberitahukan peresmian “mega proyek” wisata di Kota Mangga itu, namun selama itu pula mengalami penundaan jadwal peresmian. Padahal, Bupati Yance kabarnya, menginginkan agar obyek wisata Water Park Bojong Sari diresmikan tepat di Hari Jadi Indramayu ke-482 pada 7 Oktober 2009 lalu. Namun akhirnya batal pula, dan beberapa media massa lokal jauh-jauh hari memberitakan, bahwa peresmian Water Park Bojong Sari Terancam Batal.

Trisna tak banyak komentar mengenai peresmian obyek wisata yang menjadi tanggung jawab instansinya itu. “Jumat (23/10), besok, wartawan dipersilahkan hadir untuk meliputnya,” ungkapnya sambil melenggang ke mobil dinasnya yang diparkir di halaman Pendopo Bupati Indramayu.

Trisna sejak tahun 2008 memang sudah banyak janji tentang agenda peresmian obyek wisata yang paling dibanggakannya itu. Bahkan telah beberapa kali pula berkomentar di koran, bahwa acara peresmian akan dilakukan Bupati Indramayu pada awal Januari 2009. Ironisnya, acara tersebut tak jelas juntrungnya. Belakangan diperoleh keterangan, pengunduran jadwal peresmian tersebut, karena pekerjaan proyek pembangunan Water Park Bojong Sari belum rampung.

Kemudian di pertengahan tahun 2009 muncul lagi wacana peresmian Water Park Bojong Sari yang akan dilakukan pada 7 Oktober 2009, atau bertepatan dengan Hari Jadi Indramayu ke-482. Namun, lagi-lagi, agenda launcing Water Park dan di buka untuk umum dibatalkan. Karena, lokasi peresmian terkesan masih amburadul mengingat proyek pekerjaan seputar arena wisata air itu masih belum rampung.

Meski banyak komentar beberapa kalangan yang menilai terkesan dipaksakan oleh pihak Budpar setempat, Jumat (23/10) besok sekitar pukul 15.00 WIB, Bupati Yance diminta oleh instansi tersebut untuk meresmikan dibukanya obyek wisata Water Park Bojong Sari.

Spanduk sponsor, eksbener yang menggambarkan keberadaan obyek wisata itu telah terpasang di sekitar lokasi peresmian. Sedangkan para pedagang yang akan menggelar dagangannya Jumat (23/10) besok, terlihat tengah memberesi tenda-tenda lapaknya yang disewa dari Pihak Budpar dengan tarif Rp 300 ribu per bulan, atau bayar Rp 10.000 per harinya itu.

Sementara kantin yang ada di dalam arena Water Park, konon, harga sewanya Rp sekitar 14 juta per tahun. “Sekarang, kantin di dalam sana sudah ada yang punya. Pedagang seperti saya ini, mana mungkin mampu bayar sewa semahal itu. Paling bisa sewa di lokasi parkir ini,” ujar beberapa pedagang yang ada di sana, Kamis (22/10) sore. (Satim/Jana/Joko K)*** Foto-Foto : Satim

Wednesday, October 21, 2009

Ingat Junghuhn, Ingat Pil Kina !


Histori

Junghuhn, Ahli Botani sekaligus Kartografi

Ingat Junghuhn, ingat pil kina! Ini bukan kalimat untuk jingle sebuah iklan, tetapi kenyataan bahwa pil kina yang kemudian menjadi obat penyakit malaria itu tak lepas dari peran lelaki keturunan Jerman itu. Pil kina "lahir" dari biji tanaman kina (Cinchona), varietas unggul asal Amerika Latin, yang lalu dibudidayakan di Lembang, Bandung.

Dengan dedikasi dan semangat tinggi, Junghuhn membikin sejarah baru bidang farmakologi lewat pengembangan budi daya tanaman kina. Bandung yang disebutnya "Parijs van Java" kian tersohor di mancanegara mengingat sebelum Perang Dunia II dikenal sebagai gudang bubuk kina. Sebab, sekitar 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dicukupi oleh perkebunan kina di wilayah sekitar Bandung.

Kekejaman Perang Dunia II berdampak pula pada terbengkalainya pengelolaan perkebunan kina di Indonesia. Tak heran, Indonesia harus mengimpor rata-rata 3.000-3.500 ton kulit kina kering per tahun. Namun, lantaran sudah menjadi trademark, budi daya tanaman kina terus dijalankan di Jabar, dengan lahan yang tersebar di Bandung, Cianjur, dan Garut.

Namun, masih ada kiprah Franz Wilhelm Junghuhn yang jarang diungkap. Itu tak lain jasanya di bidang kartografi. Dalam penjelajahannya di Indonesia, lelaki kelahiran Mansfeld, 26 Oktober 1809, itu memetakan secara lumayan detail hampir seluruh gunung, bentuk bentang kenampakan berikut vegetasi dan tanaman di sekitar gunung yang didakinya. Bahkan, peta yang dibuatnya pada 1855 hampir sama lengkapnya dengan peta hasil rekaman satelit NASA tahun 2007.

Peran Junghuhn itulah yang ingin diingatkan kembali lewat simposium yang digelar atas kerja sama Goethe Institut, Erasmus Huis, dan Institut Teknologi Bandung yang berlangsung selama dua hari dan berakhir Selasa (20/10). Simposium yang dirangkai dengan pameran di Campus Center ITB itu juga diadakan guna memperingati 200 tahun kelahirannya, dilanjutkan ziarah ke pemakamannya di Lembang.

Dalam simposium hadir pembicara Thilo Habel dari Humboldt Universitat Berlin, Johan Angerler dari Universitas Leiden, serta peminat dan pengamat kartografi Gerhadt Aust.

Memetakan gunung

Menurut Roman Roesener dari Goethe Institut Jakarta, setidaknya 46 gunung dari 56 gunung di Pulau Jawa, mulai Ujung Kulon hingga Banyuwangi, sudah didaki Junghuhn. Selain merekam perjalanan lewat foto, Junghuhn juga memetakan dan mengukur ketinggian gunung berikut lanskap. Upaya itu membuat masyarakat mengetahui karakter gunung dengan jelas. Maka, ketinggian Tanah Jawa yang terbentang sepanjang 1.000 kilometer jadi mudah dimengerti.

Hasil ekspedisi yang dibuatnya sendiri itu diabadikan lewat Kaart van Het Einland Java yang lebih lengkap daripada Map of Java yang muncul dalam karya Thomas Stamford Raffles, History of Java (1817). Sayang, beberapa gunung yang tertera dalam peta buatan Junghuhn, menurut pantauan Gerhadt Aust, kini tidak tampak di lapangan, seperti gunung kapur di selatan DI Yogyakarta yang "hilang" akibat penambangan. (KHAERUL ANWAR)***

Source : Kompas, Rabu, 21 Oktober 2009 | 15:10 WIB Foto-Foto : geoblogi.wordpress.com & jakarta.diplo.de



Monday, October 19, 2009

Mahalnya Harga Batik Tulis Karena Nilai Karya Seninya Yang Patut Dihargai

Pengunjung mencoba membatik di sela-sela acara Smesco Festival 2009 di Balai Sidang Jakarta, Sabtu (17/10). Selain batik, pengunjung pameran juga bisa mencoba membuat sendiri aneka kerajinan tangan di arena pameran tersebut. (Foto : Kompas/Kris Razaianto Mada)***

BATIK

Wajar Harganya Mahal

Oleh : Kris R Mada

Farida (35) batal membeli selembar kain batik tulis di arena pameran Karya Kreatif UKM 2009 di Balai Sidang Jakarta, Minggu (18/10), begitu tahu harganya. Penjual menyebut harga Rp 450.000 untuk selembar kain yang ditunjuk Farida.

Sebelum menanyakan harga, ia sudah meneliti beberapa kain. Setelah menemukan kain dengan corak yang dirasa pas, baru ia bertanya harganya. ”Tadinya mau buat bawahan kebaya yang beli di sini juga. Enggak jadi beli deh, mahal banget. Heran kenapa harganya bisa begitu,” ujarnya.

Keingintahuannya terjawab sebelum ia keluar dari arena pameran. Penyelenggara pameran menyediakan tempat demo bagi pengunjung. Beberapa perajin menyediakan bahan demo yang bisa digunakan pengunjung. Pengunjung bisa memilih kerajinan tangan di pojok arena demo atau membatik di bagian tengah arena.

Farida memilih tempat demo batik. Ia mencoba menggambar bunga. Belum 10 menit, ia sudah merasa susahnya membuat batik tulis. ”Kadang malam (tinta batik)-nya enggak mau keluar, kadang keluar kebanyakan, keluar sampai meleber ke mana- mana. Bikin batik susah banget, wajar harganya mahal,” ujarnya.

Ibu dua anak itu butuh hampir 20 menit untuk membuat motif kelopak bunga yang kurang memuaskan hasilnya. Tetapi, ia senang karena bisa merasakan pengalaman membuat batik. ”Kalau di televisi kelihatannya mudah sekali, sebentar saja langsung jadi motif. Waktu coba sendiri, susahnya minta ampun. Buat batik cap juga katanya susah dan lama. Kalau batik cetak mudah dan cepat, makanya bisa murah,” ujarnya.

Meski tahu susahnya membuat batik, ia tidak kembali ke gerai penjual kain batik tulis yang sebelumnya didatangi. Ia sudah cukup puas dengan beberapa baju batik yang motifnya hasil cetakan mesin. ”Ini sudah bagus kok, bisa buat ke kantor atau acara biasa,” ujarnya.

Hasil latihan

Pengunjung lain, Dira (21), juga merasakan susahnya membatik. Kesusahan dirasakan mulai dari memegang canting. Alat untuk menorehkan malam ke kain itu terasa panas karena terus berada di kuali berisi malam. Kuali itu terus dipanaskan agar malam tetap cair dan bisa ditorehkan ke kain. ”Ini cantingnya panas, kelamaan di dalam kuali. Heran kenapa perajin-perajin itu enggak kepanasan,” tuturnya.

Sebelum malam bisa ditorehkan, canting harus ditiup dulu untuk melancarkan saluran ujungnya. Dira butuh melakukan beberapa kali sebelum bisa meniup dengan pas. ”Kalau meniup terlalu keras, malamnya muncrat ke mana-mana. Terus di kain meleber karena malam terlalu lancar mengalir dari canting. Kalau kelewat pelan, malam enggak mau keluar. Perajin-perajin di Pekalongan atau Solo itu sudah tiap hari niup canting, jadi kelihatan enak bener,” ungkapnya.

Uji coba di arena pameran itu membuat mahasiswi salah satu perguruan tingi swasta di Jakarta ini tahu kenapa batik mahal. Baginya, membeli batik bukan sekadar membeli kain. ”Pembeli lebih membayar untuk keahlian para perajin. Keahlian itu perlu latihan bertahun-tahun sebelum bisa membuat batik bagus-bagus,” tuturnya.

Motif-motif batik juga tidak sembarangan dibuat. Tiap motif memiliki landasan filosofi tersendiri. ”Kata teman dari Solo, tiap acara sebenarnya ada motif khusus. Bagi yang muda seperti saya sih, enggak terlalu ngerti. Cuma kalau dipelajari, menarik juga. Tetapi, saya sih belum punya batik tulis,” ujarnya.

Salah seorang teman kuliah Dira yang juga hadir di arena pameran, Arman, mengatakan, seharusnya ada lebih banyak pelajaran soal landasan filosofi dan nilai batik. Pelajaran itu akan mendorong orang mengerti dan menyukai batik. ”Sekarang orang pakai batik karena sedang tren. Kalau tren sudah habis, siapa mau pakai batik? Kan sama waktu sebelum tren, enggak ada orang mau pakai batik. Kesannya cuma orang tua yang pantas pakai batik,” katanya.

Tindak lanjut atas pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia seharusnya tidak berhenti sebatas anjuran memakai saja. Orang Indonesia harus diberi tahu lebih banyak mengapa UNESCO membuat pengakuan itu. ”Mungkin harus ada pelajaran lebih banyak soal sejarah batik pada masa lalu dan sekarang. Pelajarannya jangan kaku, nanti enggak menarik buat yang muda-muda,” ujarnya.

Pelajaran itu juga akan membantu orang Indonesia yakin batik memang dikembangkan bangsa ini. Jadi, orang Indonesia bisa menjelaskan kepada warga asing tentang batik. ”Waktu ada negara lain klaim batik, banyak yang marah. Tetapi, enggak semua ngerti kenapa harus marah karena enggak ngerti soal batik. Itu sebenarnya malah membuat citra Indonesia jadi jelek. Mending buat lebih banyak orang tahu soal batik biar makin banyak yang bisa jelasin soal batik,” ujarnya.

Cara seperti itu akan lebih diterima dan menarik simpati warga negara asing. Warga negara asing akan yakin batik memang warisan budaya asli Indonesia karena banyak orang Indonesia yang bisa menjelaskan soal batik. ”Sama juga dengan kepemilikan benda lain. Mana bisa ngaku punya sesuatu kalau enggak bisa jelasin sesuatu itu seperti apa,” tuturnya.

Namun, seperti Farida dan Dira, Arman belum punya koleksi batik tulis. Faktor harga jadi alasan utama ia belum memiliki busana dari batik tulis. ”Selain itu, rasanya sayang kain bagus dan mahal dipotong-potong buat baju. Mending buat yang lain aja deh,” tuturnya.***

Source : Kompas, Senin, 19 Oktober 2009 | 03:16 WIB

Indonesia Channel 2009

Belajar Kesenian

Peserta program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) menampilkan berbagai kesenian daerah Indonesia dalam Indonesia Channel 2009 di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Minggu (18/10) malam. Pergelaran bertema One World, Diversed Culture, One Destiny ini diikuti 50 peserta dari 31 negara. Peserta program BSBI dari Departemen Luar Negeri ini belajar budaya Indonesia selama tiga bulan. (Foto : Kompas/Heru Sri Kumoro)***

Saturday, October 17, 2009

Ratu Sejagat Bersama Puteri Indonesia 2009

Stefania & Qori Sandrioriva

Suka Budaya Indonesia

JAKARTA - Miss Universe 2009 Stefania Fernandez (19), Jumat (16/10) pukul 09.15, muncul di Wedang Cafe di lobi Gedung Mustika Ratu, Pancoran, Jakarta.

Seusai berfoto-foto, Stefania melenggang santai bersama Puteri Indonesia 2009 Qori Sandrioriva (18) menuju ruang Java Princess, melihat berbagai macam produk kosmetik dan jamu tradisional. Dia tekun mendengarkan penjelasan tentang kosmetik tradisional tersebut.

Mereka berdua tampak segar, tak terlihat lelah. Padahal, sehari sebelumnya, mereka berkunjung ke Candi Borobudur dan Prambanan. Stefania yang hanya fasih berbahasa Spanyol ini sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya dan sejarah Indonesia.

”Kunjungan saya ke Candi Borobudur dan Prambanan sangat menyenangkan. Saya jadi tahu tentang budaya dan sejarah bangsa Indonesia,” kata Stefania.

Tidak cuma itu, rupanya dia juga telah mencicipi jamu modern. ”Baru mencobanya sedikit. Agak pedas rasanya. Tapi, kalau produk kosmetik tradisional Indonesia, saya mau membawa dan mempromosikannya ke Venezuela,” kata Stefania.

Qori Sandrioriva sendiri dalam waktu dekat akan berkunjung ke Nanggroe Aceh Darussalam lalu ke Padang, Sumatera Barat, untuk menyampaikan bantuan bagi para korban gempa. (LOK/egi)***

Source : Kompas, Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:59 WIB (Foto : Kompas/Arbain Rambey)***