Saturday, February 26, 2011

Pendidikan Guru Belum Jelas

Sabtu,

26 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

Pendidikan Guru Belum Jelas

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora Online - Pemerintah pusat dan daerah saling lempar tanggung jawab soal pendanaan penyelenggaraan pendidikan profesi guru. Hal ini mengakibatkan kuota 13.000 guru untuk dididik sampai Juli 2011 bisa tak tercapai.

Pemerintah pusat hanya memberikan bantuan persiapan pendidikan profesi guru (PPG) kepada lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) negeri dan swasta yang ditunjuk. Sementara guru yang gajinya masih minim umumnya tidak berminat meraih gelar guru profesional lewat PPG yang biayanya bisa di atas Rp 10 juta untuk satu tahun.

Supriadi Rustad, Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, di Jakarta, Jumat (25/2), mengatakan, PPG bagi guru dalam jabatan ini kuotanya untuk 13.000 guru. Jatah ini di luar kuota sertifikasi dari pemerintah pusat tahun ini yang dialokasikan 300.000 guru.

Jalur ini dibuka untuk memberi kesempatan kepada daerah yang ingin mendapatkan kualitas guru profesional. Setelah guru lulus PPG, mereka dapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok.

”Jika pemerintah daerah peduli dengan guru di daerahnya, seharusnya PPG guru didukung. Mereka bisa memilih guru yang memenuhi syarat untuk dibiayai. Ini semua tergantung dari daerah,” kata Supriadi.

Edy Heri, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, mengatakan, pihaknya kesulitan menyediakan anggaran untuk PPG guru dalam jabatan untuk tahun ini. Anggaran daerah difokuskan untuk memberi beasiswa pendidikan S-1 bagi guru.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji mengatakan, pihaknya akan melihat anggaran dulu apakah memungkinkan atau tidak untuk membiayai PPG bagi guru di Kota Bandung.

”Kami lihat dulu kuotanya untuk Kota Bandung. Sampai saat ini belum ada pemberitahuan resmi soal PPG. Namun rasanya tidak bisa menanggung seluruh kuota guru,” kata Oji. (ELN)***

Source : Kompas, Sabtu, 26 Februari 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • Drajat Ajat

Sabtu, 26 Februari 2011 | 08:05 WIB

Itulah karut marut dunia pendidikan kita!

Balas tanggapan

Friday, February 25, 2011

BOIKOT MEDIA : Dipo Alam Enggan Minta Maaf

Jumat,

25 Februari 2011

BOIKOT MEDIA

Dipo Alam Enggan Minta Maaf

Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu II Dipo Alam (kiri) memberikan klarifikasi atas pernyataannya tentang rencana pemboikotan media yang menjelek-jelekkan pemerintah di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (24/2). Dipo Alam menolak meminta maaf dan siap menghadapi somasi terkait dengan pernyataannya tersebut. Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Wakil Ketua Dewan Pers Bambang Harymurti (kanan) dan pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Effendi Gazali. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)***

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora Online - Sekretaris Kabinet Dipo Alam membantah ada intensi untuk memboikot media massa. Menurut dia, dalam pertemuan internal dengan humas pemerintah, dirinya meminta perubahan alokasi anggaran iklan untuk revitalisasi humas.

”Saya tidak akan minta maaf karena saya tidak salah. Somasi akan saya hadapi,” kata Dipo Alam dalam diskusi publik yang diadakan di Dewan Pers, Kamis (24/2). Dalam pertemuan tertutup sebelumnya dengan beberapa anggota Dewan Pers, yaitu Agus Sudibyo, Bambang Harymurti, dan Zulfiani Lubis, Dipo menyatakan, dirinya menceritakan kronologi peristiwa yang terjadi untuk menjelaskan duduk perkara. ”Saya harap, semuanya sudah selesai di sini,” katanya.

Menurut kronologi yang Dipo sampaikan, permintaan untuk revitalisasi humas itu berdasarkan permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar para menteri menguatkan kinerja humas supaya informasi yang sampai ke masyarakat proporsional antara pencapaian pemerintah dan kendala.

Menurut Dipo, dirinya memang melihat ada media yang tendensius terus-menerus menjelek-jelekkan pemerintah dan bersikap partisan. Menurut Dipo, yang dilakukannya merupakan bagian dari upaya mengontrol pers. ”Bukan hanya pers yang mengkritik, saya juga boleh,” ujarnya.

Effendi Gazali sebagai pakar komunikasi mempertanyakan yang dimaksud dengan terus-menerus menjelekkan pemerintah. Bambang Harymurti mengatakan, Dewan Pers memperjuangkan kemerdekaan pers juga mengampanyekan upaya-upaya untuk mengoreksi pers agar bisa lebih baik.

Agung Rulianto selaku Manajer Peliputan TVOne yang hadir dalam diskusi publik itu menyambut kalau masalah itu tidak perlu diperpanjang lagi. Namun, ia menolak kalau pihaknya disebut tendensius ingin menjelek-jelekkan pemerintah.

Somasi terhadap Dipo Alam yang dilakukan harian Media Indonesia dan Metro TV, menurut penasihat Media Group, Jafar Assegaf, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Pasal 4) tentang jaminan kebebasan pers dapat diterapkan dalam praktiknya.

Wartawan senior Rosihan Anwar berpendapat, istilah yang diucapkan Dipo Alam bahwa pers adalah pemangku kekuasaan itu tidak tepat. ”Kalau kita beda pendapat, ya silakan. Itu demokrasi. Kalau kita mau pelihara demokrasi, kita harus belajar,” kata Rosihan.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan menilai reaksi Dipo Alam itu tidak sejalan dengan karakter ataupun sikap Presiden SBY yang sangat menghormati kebebasan pers. (EDN/LOK/WHY)***

Source : Kompas, Jumat, 25 Februari 2011

Aceh, Negeri Seribu Warung Kopi

Jumat,

25 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

KEBUDAYAAN

Aceh, Negeri Seribu Warung Kopi

Ngang...nging...ngung…. Gemuruh itu bagaikan suara gerombolan tawon. Tak henti pagi, siang, dan malam. Mereka keluar-masuk silih berganti. Meski bising, mereka terus berdatangan. Ruangan yang agak luas itu selalu penuh. Inilah suasana di Warung Kopi Jasa Ayah alias Solong Coffee di Ulee Kareng, Banda Aceh, di Negeri Seribu Warung Kopi.

Pemilik warung kopi, H Nawawi, tampak sibuk melayani pengunjung. Karyawannya hilir mudik membawa gelas-gelas kopi dan kue. Pengunjungnya pun tak kalah sibuk. Mereka mencari tempat duduk. Saking penuhnya, kadang mereka tak mudah mendapat tempat duduk. Ada yang duduk berjam-jam, tapi ada juga yang duduk hanya beberapa menit, sekadar minum kopi terus pergi.

”Usaha ini diawali oleh ayah saya tahun 1974. Saya melanjutkannya,” kata Nawawi menceritakan awal warung kopi itu. Warung Kopi Jasa Ayah merupakan warung kopi yang tergolong tua. Warung kopi sejenis inilah yang tergolong warung kopi tradisional di Banda Aceh dan sekitarnya.

Warung kopi tradisional yang dimaksud mulai dari cara pembuatan minuman kopi yang direbus dan menggunakan saringan saat hendak disajikan, fasilitas yang tak lebih dari meja dan kursi, jenis minumannya, dan juga tipe-tipe orang yang datang ke tempat itu. Bila kita menggunakan sebutan warung tradisional, tentu ada warung jenis lain.

”Kini banyak warung kopi baru bertumbuhan di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan Takengon. Warung kopi tradisional seperti Warung Kopi Jasa Ayah bisa digolongkan generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, hingga akses internet,” kata antropolog Teuku Kemal Fasya.

Pascatsunami

Pascatsunami dan perjanjian damai Helsinki di Banda Aceh dan juga kota-kota lain di pantai timur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) banyak sekali bertumbuhan tempat duduk dan tempat minum itu, baik yang tetap menyebut warung kopi ataupun kafe. Jumlah pasti warung kopi itu tidak diketahui, tapi kita bisa melihat jalan-jalan di Banda Aceh dan beberapa kota lainnya dipenuhi warung kopi. Salah satunya di jalan lingkar yang belum lama dibuka dan kini setidaknya sudah ada sekitar 10 warung kopi atau kafe.

Fasya mengatakan, menjamurnya warung kopi atau kafe terkait dengan kedatangan sukarelawan dan pekerja, baik dari dalam maupun luar negeri, ke NAD. Mereka membutuhkan tempat untuk duduk dan minum serta untuk relaksasi dan bertemu relasi. Perubahan lainnya yang tampak adalah jam buka warung kopi yang semula tak sampai 24 jam kini telah muncul warung kopi yang buka 24 jam.

”Para pendatang juga merasa membutuhkan ruang publik yang nyaman. Perkembangan warung kopi atau yang modern disebut kafe belakangan ini karena adanya peluang ekonomi yang terkait dengan kebutuhan ruang publik itu. Orang Aceh menangkap peluang itu,” kata Fasya.

Kebiasaan minum kopi yang sudah ada dan mengakar di kalangan masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya makin berkembang ketika para sukarelawan dan pekerja itu menikmati suasana warung kopi. Akar tradisi minum kopi dan duduk di warung kopi boleh dibilang sudah cukup lama. Melihat fakta sejarah mengenai komunikasi yang intens antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Ottoman yang sekarang berada di Turki, mungkin kebiasaan mengunjungi warung kopi sudah lama ada di kalangan masyarakat Aceh.

”Sehabis shalat subuh hingga malam hari kita bisa menemui orang dari berbagai kalangan berada di warung kopi. Obrolan apa saja ada di warung kopi, dari soal politik, ekonomi, sampai urusan kesenian ada di situ,” kata budayawan LK Ara. Ia menuturkan, kadang orang duduk berjam-jam di warung kopi.

Di mata Ara, memang tidak bisa dimungkiri ada orang yang bermalas-malas di tempat itu sehingga kadang ada yang mengkritik warung kopi tempat bermalas-malas. Namun, menurut dia, banyaknya orang di warung kopi karena juga menjadi tempat untuk menggali ide atau menambah informasi.

”Dari warung kopi kemudian ke tempat kerja. Di tempat kerja mereka bisa mengembangkan ide-ide yang didapat dari warung kopi,” kata Ara sambil menyebut wartawan dan juga sastrawan pemenang Nobel asal Mesir yang mendapat ide-ide di warung kopi sebelum berangkat bekerja.

Fasya mengatakan, orang dengan latar belakang bermacam-macam profesi kerap kali bertemu di warung kopi. Meski tidak ada pembedaan yang jelas, ia menyebutkan kalangan aktivis mahasiswa dan partai politik lebih menyenangi warung kopi tradisional. Namun, kalangan remaja dan muda memilih kafe-kafe yang baru bermunculan dengan fasilitas internet, nonton bareng, hingga musik.

Pembedaan lainnya yang juga terlihat adalah cara penghitungan pembayaran minuman. Di warung tradisional kopi kerap kali penghitungan hanya berdasarkan ingatan pegawai warung kopi. Ketika kita menanyakan jumlah yang harus dibayar, si pegawai warung kopi langsung mengatakan angka tertentu. Sebaliknya di warung kopi atau kafe, pemilik menyediakan bukti pembayaran yang akurat dan rinci.

”Kadang kita datang ke warung kopi tradisional pada waktu yang berbeda, harga yang harus dibayar berbeda meski minuman dan kue yang kita beli sama,” kata Fasya mencontohkan hal kecil tersebut yang ternyata diamati oleh para pengunjung warung kopi.

Identitas

Ada yang menarik dari maraknya warung kopi di NAD. Ketika proyek rehabilitasi hendak berakhir dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD Nias akan ditutup pada awal 2009, banyak kalangan menduga ekonomi NAD akan anjlok karena aliran dana akan berkurang banyak. Otomatis, usaha warung kopi diduga akan ambruk karena para pendatang juga berkurang. Akan tetapi, yang aneh dari warung kopi, pengunjung tetap marak dan tidak berubah meski pendatang sudah berkurang.

Beberapa kalangan menduga, secara tradisi minum kopi telah mengakar di kalangan rakyat Aceh. Kebiasaan ini mungkin pada suatu massa berkurang, tapi akan muncul kembali pada masa berikutnya. Saat ini gairah itu memuncak lagi. Di sisi lain, perkembangan kafe modern berhasil menarik anak-anak muda untuk memasuki ruang publik itu. Layaknya di kota besar, kafe menjadi bagian identitas anak-anak muda. Kerumunan anak muda mudah ditemui di tempat-tempat itu.

Jadi, meski proyek banyak yang telah selesai dan diikuti pendatang yang kembali ke tempat asal, warung kopi tetap marak. Kopi dan kehadiran warung kopi bisa menjadi simbol dan mercu tanda baru bagi NAD.

”Banyak identitas dan simbol terkait dengan Aceh. Ada yang bilang Serambi Mekah, Tanah Rencong, dan juga Cakra Dunia. Kini Aceh mendapat identitas baru terkait dengan warung kopi,” kata Fasya. Beberapa seniman dan budayawan di NAD pun telah banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Sebuah identitas yang bisa digunakan untuk menggerakkan pariwisata. Suatu saat bisa saja dibikin Festival Minum Kopi.

(ANDREAS MARYOTO/MAHDI MUHAMMAD)***

Source : Kompas, Jumat, 25 Februari 2011

Wednesday, February 23, 2011

Tunjangan 200.000 Guru Lolos Sertifikasi Bisa Terlambat

Dampak Perubahan Jabatan Struktural Kemendiknas

Tunjangan 200.000 Guru Lolos Sertifikasi

Bisa Terlambat

Ekspedisi Humaniora Online

Selasa, 22/02/2011 - 17:38 WIB

BANDUNG, Ekspedisi Humaniora Online - Sekitar 200 ribu guru di Indonesia yang telah dinyatakan lolos sertifikasi 2010 terancam mengalami keterlambatan dalam menerima tunjangan profesi. Pasalnya sampai sekarang belum ada pengusulan SK akibat adanya perubahan jabatan struktural di Kementerian Pendidikan Nasional.

"Belum ada rapat-rapat untuk pengusulan SK. Padahal biasanya tahun-tahun kemarin sejak 11 Januari sudah diusulkan, sementara sekarang sudah Februari belum ada rapat sama sekali," kata Koordinator Sertifikasi Guru Rayon 34 Jawa Barat Dadang Iskandar saat dihubungi "PRLM", Selasa (22/2).

Di Jawa Barat, kata Dadang, peserta yang dinyatakan lolos dalam proses sertifikasi 2010 sekitar 31 ribuan. Para guru ini juga kata Dadang dipastikan akan mengalami keterlambatan dalam penerimaan tunjangan profesi. "Padahal perguruan tinggi sudah bergerak cepat, dinas pendidikan pun cepat, tetapi ternyata di pusat tersendat," ujarnya.

Dadang menjelaskan, saat ini di pemerintah pusat sedang terjadi perombakan struktural. Termasuk dihilangkannya direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), sehingga belum ada lembaga yang khusus mengurusi tenaga pendidik. "Biasanya PMPTK ini yang mengurusi SK dan sebagainya. Tetapi sekarang dihilangkan dan belum tahu lembaga penggantinya seperti apa. Pejabatnya saja baru semua," tuturnya. (A-157/A-88)***

Source : Pikiran-Rakyat Online, Selasa, 22/02/2011 - 17:38

Saturday, February 19, 2011

Mendunia dengan Perpustakaan Maya

Sabtu,
19 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

TEROKA

Mendunia dengan Perpustakaan Maya

OLEH MOHAMAD FAUZI

Teknologi selalu membawa janji dan mimpi. Begitupun teknologi internet juga memberikan janji dan mimpi teknologi pada salah satu bagian vital dalam kehidupan akademik, yaitu perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi yang pesat mengarahkan perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan maya (online library).

Dengan perpustakaan maya, kita dijanjikan untuk mendapatkan kemudahan, kecepatan, keterjangkauan, kemurahan, fleksibilitas, serta kemampuan mengatasi ruang dan waktu.

Pada tahun 1945, atau 30 tahun sebelum penemuan PC (personal computer) dan 50 tahun sebelum lahirnya World Wide Web, Dr Vannevar Bush menuliskan sebuah esai yang kemudian begitu terkenal berjudul As We May Think.

Dalam esainya, ia memimpikan sebuah desktop personal yang akan mengambil alih semua perpustakaan. Dalam impian yang dia sebut Memex, Bush membayangkan sebuah keyboard dan layar yang memungkinkan penggunanya untuk menghadirkan ilmu pengetahuan umat manusia yang terkumpul menjadi satu.

Dalam tulisannya, Libraries of the Future (1965) yang terpengaruh pemikiran Bush, Douglas Engelbart, penemu mouse komputer, dan JCR Licklider membayangkan perpustakaan digital yang dihubungkan dengan sebuah jaringan agar dapat diakses para pengguna.

Menyaksikan apa yang ada pada hari ini, impian direktur Lembaga Pengembangan dan Penelitian Amerika Serikat (Office of Scientific Research and Development) itu tampaknya telah menjadi kenyataan.

Di Indonesia

Di negeri ini, hampir semua universitas terkemuka sudah memulai melakukan digitalisasi perpustakaan. Tahun ini, untuk menyebut beberapa contoh, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM) menganggarkan Rp 1 miliar untuk berlangganan database jurnal online. Adapun pengadaan buku cetak hanya Rp 150 juta.

Total anggaran UGM untuk berlangganan jurnal internasional mencapai Rp 5,8 miliar (Balkon Balairung UGM, edisi spesial, 2010). Di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, UPT Perpustakaan pusat sudah menghabiskan dana Rp 300 juta per tahun untuk berlangganan jurnal online.

Kini mahasiswa, dosen, peneliti, dan mereka yang berkecimpung dalam dunia akademis punya komputer atau laptop yang memengaruhi dan mengubah kebiasaan mereka dalam proses belajar-mengajar.

Para operator telepon sudah gencar memasarkan produk- produk bacaan via jasa internet prabayar. Sekarang juga sedang marak dipasarkan teknologi e-book reader yang digagas Apple dengan produk dalam iPad. Juga situs penjualan buku online Amazon dengan produknya Amazon Kindle, yang sudah menjadi tren belakangan ini. Semua ini mulai mengukuhkan janji dan mimpi perpustakaan maya di masa depan.

”Go international”

Selain itu, perkembangan perpustakaan maya tidak lepas dari perlombaan berbagai universitas di Indonesia untuk go international, menjadi universitas riset atau universitas berkelas dunia. Perpustakaan maya menjadi satu imperasi yang tak terelakkan.

Namun, seperti dikatakan Ian F McNeely dan Lisa Wolverton (2010) dalam buku Para Penjaga Ilmu dari Alexandria sampai Internet, mengelola perpustakaan adalah sebuah tugas besar yang menjemukan dan memerlukan komitmen. Di AS, mayoritas mahasiswa sudah beralih ke perpustakaan maya.

Menurut hasil survei Thomas dan Dorothy di Leavey Library yang berada di University of Southern California, AS, 73 persen mahasiswa AS sudah tidak lagi ke perpustakaan tradisional karena mereka sudah terhubung ke internet dan perpustakaan online.

Tinggal 36 persen mahasiswa S-1 yang meminjam buku, 12 persen yang datang ke perpustakaan untuk menggunakan jurnal cetakan, dan 61 persen yang datang untuk menggunakan komputer.

Di Indonesia, berdasarkan riset kecil yang saya lakukan, tak banyak mahasiswa dan dosen yang menggunakan perpustakaan maya.

Pada umumnya mereka, ternyata, lebih asyik menggunakan perangkat-perangkat teknologi modern itu hanya untuk bercengkerama dengan Facebook, blog, e-mail, atau Twitter.

Di UNS, dari total dana Rp 3 miliar per tahun, ternyata sekitar 60 persennya habis untuk mengakses Facebook atau untuk download film dan musik. Mentalitas dan perilaku, pada akhirnya, juga menjadi penentu dari tujuan dan masa depan yang kita harapkan.***

MOHAMAD FAUZI,

Mahasiswa Kajian Amerika Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta;

Bergiat di Bale Sastra Kecapi Surakarta dan Pengajian Senin Solo

Pendidik : Sertifikasi untuk Pemetaan

Sabtu,
19 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

Sertifikasi untuk Pemetaan

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora Online - Sertifikasi seharusnya dimanfaatkan juga untuk memetakan kondisi guru. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan guru tidak pukul rata, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik profesional.

Demikian dikatakan Unifah Rosyidi, Ketua Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, di Jakarta, Jumat (18/2).

Menurut Unifah, setelah sertifikasi, penanganan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru tidak berhenti.

”Perlu kelanjutan untuk membuat penilaian kinerja guru dari waktu ke waktu oleh kepala sekolah dan pengawas,” kata Unifah.

Sementara itu, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) melakukan penelitian tentang dampak sertifikasi terhadap peningkatan kinerja guru. Hasil penelitian disampaikan Sulistiyo, Ketua Umum PGRI.

Penelitian dengan menggunakan metode survei ini dilaksanakan PGRI terhadap 840 guru TK-SMA di 21 provinsi yang tersebar di 84 kabupaten. Sebanyak 15 persen di antara responden adalah guru swasta.

Dari hasil penelitian itu terungkap, sertifikasi guru yang dilaksanakan pemerintah sejak 2006 mulai memberikan dampak pada peningkatan kinerja guru. Namun, peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada guru-guru yang lolos sertifikasi lewat pendidikan dan latihan profesi guru.

Peningkatan kinerja guru yang sudah lolos sertifikasi tersebut terlihat dari kegairahan mereka dalam meningkatkan kualifikasi pendidikan, kemauan dan kemampuan membeli buku penunjang sertifikasi, berlangganan surat kabar atau jurnal, serta kebiasaan menggunakan komputer atau laptop. Selain itu, guru tetap aktif mengikuti berbagai pelatihan.

”Sertifikasi itu proses pengakuan kemampuan guru yang sudah ada. Tidak serta-merta guru yang lulus sertifikasi berubah seketika. Ketika mereka diperkuat lewat pendidikan dan latihan profesi guru, terlihat ada peningkatan,” kata Sulistiyo.

Dari hasil penelitian itu juga terungkap, sekitar 97 persen guru yang berhak menerima tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok menyatakan tidak pernah mendapat pembayaran tepat waktu. Selain itu, pembayaran pun tidak menentu, ada yang setiap tiga bulan, enam bulan, bahkan per tahun.

Keluhan lain soal tunjangan sertifikasi yakni adanya pemotongan oleh oknum dinas pendidikan daerah yang dialami sekitar 14 persen guru. (ELN)***

Source : Kompas, Sabtu, 19 Februari 2011

Friday, February 18, 2011

Pesan "Dokter" Wayang Potehi

Jumat,

18 Februari 2011

Ekspedisi Humaniora Online

Sukar Mudjiono

Pesan "Dokter" Wayang Potehi

SUKAR MUDJIONO. (KOMPAS/IDHA SARASWATI WAHYU SEJATI)***

Oleh Idha Saraswati

Tepat pada tanggal merah, perayaan Imlek 2562, Sukar Mudjiono duduk santai sambil memainkan lagu-lagu Mandarin di lantai dua Kelenteng Hong Tiek Hian di Jalan Dukuh, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lagu-lagu yang dia mainkan itu rupanya bisa menghibur para peziarah kelenteng sehingga tanpa diminta, lembaran uang yang ditaruh peziarah di atas meja di depannya terus bertambah.

”Kalau pas Imlek, saya malah libur. Ini sudah tradisi. Tetapi besok, saya ada tanggapan (bermain) di Jakarta,” ujar Sukar saat ditemui awal Februari ini.

Sukar adalah dalang wayang potehi. Hari-hari menjelang dan pasca-Imlek menjadi hari sibuk baginya, kecuali pada hari Imlek itu ketika penanggalan berwarna merah. Sukar mendapat tanggapan untuk mendalang dari kelenteng hingga pusat perbelanjaan. Pengundangnya berasal dari beberapa kota, seperti Surabaya, Bojonegoro (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), dan Jakarta.

Pada saat libur itulah, ia mengajak teman-temannya dari grup wayang potehi Lima Merpati berkumpul. Kelenteng Hong Tiek Hian yang berada di daerah pecinan menjadi semacam tempat berkumpul kelompok ini. Mereka memilih berkumpul di kelenteng sambil mencoba memainkan lagu-lagu Mandarin yang baru dipelajari.

Siang itu, misalnya, Sukar kebagian memainkan olhu, sejenis alat musik gesek tradisional dari China. Alat-alat musik tersebut biasa mereka mainkan untuk mengiringi penampilan wayang potehi.

Dalam grup Lima Merpati, Sukar yang sudah menggeluti wayang potehi selama lebih dari 30 tahun berperan sebagai dalang utama. Meski demikian, dia juga mahir memainkan beberapa alat musik pengiring wayang potehi. Hal ini karena sebelum menjadi dalang, ia mengawali ”karier” dari bawah.

”Sebelum menjadi dalang itu kan biasanya kita jadi pemain musik dulu. Lalu, kita menjadi cantriknya dalang, baru jadi dalang,” tuturnya.

Dengan keahlian itu, seorang dalang wayang potehi bisa tampil secara fleksibel. Ketika tidak sedang kebagian jatah mendalang, Sukar bisa menjadi pemain musik, mengiringi temannya yang bertugas menjadi dalang. Begitu pun sebaliknya.

Sejak kecil

Sejak masih kanak-kanak, Sukar tertarik pada wayang potehi yang menyuguhkan legenda Tiongkok klasik. Waktu itu belum banyak hiburan seperti sekarang. Ia setia mengikuti kelanjutan cerita wayang potehi yang biasanya dipentaskan setiap hari hingga sebulan penuh di Kelenteng Hong Tiek Hian. Letak kelenteng ini relatif tidak jauh dari rumahnya. Ayah dan ibunya tidak pernah melarang Sukar kecil menonton di kelenteng.

Salah satu cerita favorit Sukar adalah kisah dua sahabat Sun Pin dan Ban Koan. Mereka menuntut ilmu militer bersama hingga mendapat kedudukan tinggi di kerajaan. Namun, persahabatan itu menjadi retak karena sifat Ban Koan yang serakah. ”Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita itu,” ujarnya.

Suatu hari seusai menonton, seorang dalang wayang potehi memanggilnya. Sukar kecil diajak mendekat ke kotak merah yang menjadi panggung wayang potehi. Sejak saat itu, Sukar mulai bersentuhan dengan dunia di balik tonil wayang potehi.

Guru pertamanya adalah Gan Cao Cao, dalang wayang potehi dari Hokkian, China. Ia memulai pelajarannya dari memainkan berbagai alat musik, membaca buku cerita legenda China, lalu menjadi pembantu dalang, hingga kemudian memulai debutnya sebagai dalang pada usia belasan tahun. Sukar mulai rutin memainkan wayang potehi untuk mengiringi ritual di kelenteng tua Hong Tiek Hian.

Beranjak remaja, Sukar semakin asyik menggeluti wayang potehi. Selain karena memang hobi, penghasilan dari wayang potehi membuatnya semakin rajin terlibat dalam pementasan.

Uang dari pentas wayang potehi dia kumpulkan sehingga bisa meringankan beban orangtua dalam membiayai sekolah. Sukar bahkan bisa melangkah hingga menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Namun, kesibukan sebagai dalang wayang potehi membuatnya meninggalkan bangku kuliah.

Sukar adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Melihat dia bisa mengumpulkan uang, empat adik lelakinya ikut tertarik mendalami wayang potehi juga. Dua di antaranya kini menjadi dalang, sedangkan dua lainnya menjadi pemain musik.

Semakin dewasa, Sukar menyadari bahwa menjadi dalang wayang potehi bisa dikatakan profesi yang menjanjikan. Setiap kelenteng punya jadwal rutin pementasan wayang potehi, terutama berkaitan dengan hari ulang tahun kelenteng. Belakangan, Imlek dan Cap Go Meh juga membuat dalang wayang potehi kebanjiran tanggapan.

Bersama teman-temannya, Sukar lantas mendirikan grup wayang potehi Lima Merpati tahun 2005. Grup ini punya sekitar 20 anggota, yang terdiri dari dalang dan pemusik. Untuk sekali tampil, mereka dibayar minimal sekitar Rp 4 juta.

Grup ini sudah menyambangi hampir semua kelenteng di Pulau Jawa. Mereka juga telah mengantongi piagam penghargaan dari beberapa perkumpulan warga Tionghoa atas upayanya melestarikan wayang potehi.

Menurut Sukar, penghargaan memang menjadi salah satu faktor yang membuat orang tertarik mendalami wayang potehi. Maka, setiap kali mendapati anak muda yang tertarik mempelajari wayang potehi, ia mengajaknya pentas dan memberi mereka penghargaan berupa uang.

”Asal mereka terlibat dalam pentas, pasti dikasih. Anak baru pun langsung dikasih (uang). Jadi, mereka tahu kalau ini (wayang potehi) menjanjikan,” katanya.

Lingkungan

Saat mendalang, Sukar membebaskan diri dalam membawakan cerita. Ia menggunakan bahasa Indonesia dengan logat China. Namun, kadang-kadang dia juga melontarkan lelucon dalam dialek suroboyoan.

Di sela-sela cerita yang ditampilkan, dia juga sering menyisipkan nasihat. Hal itu, misalnya, tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tidak terjadi banjir. Pesan-pesan seperti itu juga yang dia bawa saat diundang tampil mendalang di sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya.

Nasihat seperti itu dia sebut sebagai pesan-pesan ”dokter”. Inspirasinya diambil dari keadaan di sekitar lokasi pementasan wayang potehi. ”Apa yang saya lihat di lingkungan, ya itu yang muncul di panggung. Kalau sebagai dalang kita enggak sampai ke situ, ya enggak usah jadi dalang,” ucapnya.

Ketika sedang mendalang, Sukar juga membebaskan penonton yang masih kanak-kanak untuk maju, bahkan melongok ke belakang panggung. Mereka diizinkan memegang boneka ataupun alat musik sepanjang tak mengganggu jalannya pementasan.

Dengan cara itu, Sukar merasa telah memperkenalkan wayang potehi kepada anak-anak. Perkenalan itu dia harapkan bakal berkembang seiring bertambahnya usia mereka sehingga wayang potehi pun tetap bertahan.***

Source : Kompas, Jumat, 18 Februari 2011

Pemerintah Harus Lebih Tegas

Jumat,

18 Februari 2011

Pemerintah Harus Lebih Tegas

Eskpedisi Humaniora Online

Siswa SD Negeri IV Cidokom, Kampung Tutul, Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, belajar di kelas yang baru dibangun pada 2009, tetapi hanya berlantai tanah. Sementara itu, sebagian kelas yang dikeramik tidak memiliki bangku dan meja. Mereka terpaksa duduk di lantai selama proses belajar-mengajar. (KOMPAS/ANTONY LEE)***

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora Online - Pemerintah diminta untuk bersikap lebih tegas dalam menerapkan hukum terkait terjadinya berbagai kekerasan akhir-akhir ini. Pelaku kekerasan itu harus ditindak sesuai aturan hukum yang ada dan keselamatan serta kebebasan masyarakat semestinya dilindungi.

Desakan itu dikatakan mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, dan KH Salahuddin Wahid dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, di Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, Kamis (17/2). Mereka menilai, kasus kekerasan yang berlangsung akhir-akhir ini bermuara pada lemahnya pemerintah dan hukum yang tak jalan. Dalam situasi itu, masyarakat coba mengambil jalan keluar sendiri, termasuk lewat kekerasan.

Jimly menilai, tak hanya penegakan hukum yang lemah, tetapi seluruh sistem pemerintahan di negara ini juga tak berjalan maksimal. Itu terjadi karena faktor kepemimpinan yang tak berfungsi baik. Hal ini bisa berbahaya.

Setiap ada kasus kekerasan, menurut dia, pemerintah segera sibuk memperdebatkan bagaimana memperbaiki undang-undang (UU). Padahal, semestinya segera ambil tindakan, tangkap pelaku kekerasan, dan tegakkan hukum.

Pemerintah juga didesak bersikap tegas terhadap kelompok atau organisasi yang nyata-nyata berbuat kerusuhan. Itu dilakukan melalui pengadilan yang terbuka dan adil dengan memberikan hak kepada kelompok itu untuk membela diri. Langkah ini harus dipercayai sebagai proses yang paling fair. ”Pemerintah segeralah bertindak. Kurangi ngomong, banyak bekerja,” katanya.

Jusuf Kalla menegaskan, jika pemerintah sekarang dinilai lemah menghadapi berbagai kekerasan, jalan keluarnya adalah perlu memperkuat diri. Caranya dengan menegakkan hukum sesuai dengan aturan yang ada. ”Ada aturan hukum soal penganiayaan atau pembunuhan. Laksanakan saja. Siapa yang melanggar, ambil tindakan hukum,” katanya.

Tak boleh menghukum

Sejumlah tokoh lintas agama, termasuk Jusuf Kalla, Kamis malam, juga berdialog dengan Komisi VIII DPR. Dalam dialog itu terungkap, negara tak bisa menghukum keyakinan atau ideologi seseorang. Negara juga tidak bisa menetapkan suatu aliran tertentu sebagai sesat atau tidak.

Dalam rapat dengar pendapat umum itu, tokoh lintas agama juga memunculkan kerukunan umat beragama di negeri ini yang rentan karena posisi negara kadang tak hadir ketika dibutuhkan untuk menegakkan hukum.

Ketua Komisi VIII Abdul Kadir Karding mengakui, DPR sengaja meminta pendapat tokoh agama, salah satunya untuk merumuskan konstruksi kerukunan umat beragama. Terlebih ada niat DPR menyusun UU tentang kerukunan umat beragama.

Menurut Jusuf Kalla, kebinekaan seharusnya menjadi dasar rakyat Indonesia bernegara. ”Kalau bicara kerukunan, berarti bicara bagaimana melaksanakan dasar yang kita setujui dari awal. Perbedaan yang membuat bangsa ini besar. Jangan hukum orang karena pikiran atau ideologinya, tetapi hukum karena tindakannya,” katanya.

Jusuf Kalla mengingatkan, pemerintah harus tegas menghukum pelaku insiden terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. ”Kalau terjadi pembiaran, nanti ada anggapan, kalau kita hukum orang ramai-ramai, bisa bebas dari hukum. Ini yang berbahaya. Jika terjadi konflik antaragama, berhentinya sulit,” katanya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, Islam mengakui tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan pendapat. Namun, MUI berpandangan, Ahmadiyah berada di luar wilayah perbedaan yang bisa ditoleransi sehingga dinilai sesat. Untuk menindaklanjuti kesesatan itu, MUI menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah.

Ma’ruf menepis anggapan bahwa kekerasan kepada jemaah Ahmadiyah terjadi karena fatwa MUI yang menyebutkan Ahmadiyah merupakan aliran sesat. MUI tidak menoleransi kekerasan oleh siapa pun.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masdar F Mas’udi mengatakan, terkait Ahmadiyah, PBNU hanya menyatakan, aliran itu tidak sesuai dengan paham ahlus sunnah wal jamaah yang dianut warga NU. NU tak menggunakan kata sesat. ”Kami berpandangan, yang berhak menyatakan sesat atau tidak itu hanya Allah,” ujarnya.

Menurut mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra, Indonesia tidak bisa menghukum orang karena keyakinan yang dianutnya. Indonesia bukan negara agama. ”Apabila Malaysia menetapkan aliran yang menyimpang, seperti Darul Arqam, Syiah, sampai Ahmadiyah, wajar karena negara yang berlandaskan agama. Islam menjadi agama resmi mereka. Namun, di Indonesia, tidak ada agama resmi negara,” katanya.

Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia menambahkan, selama ini pemerintah cenderung absen dalam memberikan rasa aman terhadap warga negaranya. Tokoh agama yang sering harus menjadi ”pemadam kebakaran” ketika terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama. ”Kami tidak ingin terus-menerus jadi pemadam kebakaran. Pemerintah jangan bermain api terus,” katanya.

Tak cepat tanggap

Sebaliknya, Salahuddin Wahid di Komnas HAM menyatakan prihatin dengan lemahnya sistem intelijen dan respons pemerintah dalam menindaklanjuti data dari intelijen itu. Sebab, mungkin intelijen sudah memberikan laporan gejala kerusuhan atau kekerasan, tetapi kepolisian tak cepat tanggap. ”Aparat keamanan, dalam hal ini Polri, mungkin tidak siap mengatasi keadaan atau menganggap enteng,” katanya.

Situasi itu terjadi akibat pengembangan sistem intelijensi masih lemah. Mungkin saja jumlah sumber daya manusianya terbatas, dana sedikit, atau kurang profesional kurang. Polri harus menginvestigasi kenapa kekerasan itu terjadi dan bagaimana memperbaiki sistem antisipasinya. Kemampuan deteksi dan intelijensi mesti diberdayakan agar bisa mencegah kasus kekerasan serupa.

”Perbaikan sistem intelijen ini penting. Rakyat kan sekarang sudah merasa tidak dilindungi oleh kepolisian. Jika dibiarkan begini terus, pemerintah akan semakin kehilangan wibawa,” katanya.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengingatkan, TNI akan turun tangan menindak massa anarkis. ”Aksi kekerasan oleh massa menimbulkan keprihatinan TNI. Polisi berada di depan dan tentara memberikan dukungan. Namun, kalau keadaan tidak bisa diatasi, tentara akan masuk menindak massa anarkistis,” ujar Menhan di Jakarta, Kamis.

Purnomo mengajak seluruh komponen bangsa bersatu menolak dan meniadakan kekerasan yang mengganggu ketenteraman masyarakat. Aparat penegak hukum bersama tokoh masyarakat agar mencermati masalah yang mengganggu stabilitas.

Dari Pandeglang, Kamis, dilaporkan, tersangka kasus Cikeusik yang ditahan di Polda Banten menjadi tujuh orang. Tersangka baru, U, ditangkap di Bogor, Jawa Barat.

Kepala Bidang Humas Polda Banten Ajun Komisaris Besar Gunawan mengatakan, Polri masih mengejar sejumlah calon tersangka lain. Enam tersangka, selain U, yang kini ditahan, adalah Uj, YA, KE, KM, M, dan S.

Terkait penyerangan Pondok Pesantren Al Ma’hadul Islam Yayasan Pesantren Islam Pasuruan, Jawa Timur, jumlah tersangka menjadi enam orang, yaitu I, HS, S, AM, US, dan HA.

(iam/bil/uti/ong/why/har/ cas/eta/egi/nta)***

Source : Kompas, Jumat, 18 Februari 2011

KOMENTAR

Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • widhi setiono

Jumat, 18 Februari 2011 | 14:55 WIB

saya setuju komentar yang ada ini.. mantap

Balas tanggapan

  • simon ratulona

Jumat, 18 Februari 2011 | 12:35 WIB

Demokrasi itu bagus tapi bangsa Indonesia yang masih lapar ini belum siap menerima secara instant seperti yang di Amerika sana.Niat bagus belum tentu hasilnya bagus.Contohnya Saudara kita di Papua,niat bagus pemerintah memberikan pakaian yang layak seperti saudaranya yang di Jawa,hasilnya justru pada kegatelan /Penyakit kulit.Demokrasi yang masuk ini juga di artikan secara mentah Mayoritas lah yang berkuasa,akibatnya Minoritas tersingkirkan.

Balas tanggapan

  • wali yahya

Jumat, 18 Februari 2011 | 08:22 WIB

sy setuju !,pelaku insiden cikeusik,temanggung dihukum seberat"nya ,polri pun hrs tegas,klu perlu intruksi tembak ditempat (pakai peluru karet),bg perusuh yg berbau sara goodlook.

Balas tanggapan

  • Rocky Samuel Karinda

Jumat, 18 Februari 2011 | 08:21 WIB

Ketika bangsa ini di jajah bangsa lain itu perbuatan yang tidak manusiawi, ketika bangsa ini dikacaukan oleh beberapa penduduknya sendiri, ini tindakan yang luarbiasa tidak manusiawi!!! oleh sebab itu dibutuhkan pemerintah yang sangat luarbiasa untuk menghentikan perilaku yang luarbiasa ini!!!kalau caranya menjalankan pemerintahan seperti saat ini, saya pun bisa jadi presiden.... bahkan jauh lebih baik!!!!

Balas tanggapan

  • marsel T

Jumat, 18 Februari 2011 | 08:10 WIB

KIta sependapat, yang melakukan tindakan anarkis, diproses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar tindakan kolektif menghakimi orang lain atau kelompok lain oleh arogansi kelompok tertentu, dapat diperkecil ruangnya.

Balas tanggapan

Sekolah Akreditasi C Tetap Punya Peluang

Jumat,
18 Februari 2011

Ekspedsisi Humaniora Online

Sekolah Akreditasi C Tetap Punya Peluang

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora Online - Meskipun perguruan tinggi negeri lebih melirik siswa dari sekolah berakreditasi A yang akan diterima melalui jalur undangan, siswa dari sekolah berakreditasi B dan C tetap mempunyai peluang yang cukup lebar.

”Perguruan tinggi negeri juga menerapkan aksesibilitas atau pemerataan untuk sekolah-sekolah yang ada di daerah, termasuk kawasan Indonesia timur,” kata Priyo Suprobo, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (17/2).

Menurut Priyo, ITS memiliki semua data dasar sekolah tingkat atas di seluruh Indonesia, termasuk jenis akreditasinya. Lalu, ITS membuat indeks nilai setiap sekolah yang dilihat dari nilai ujian nasional (UN) tahun lalu.

”Untuk jalur undangan jatahnya 20 persen dari kapasitas yang ada,” kata Priyo.

Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengatakan,

penentuan siswa yang diterima lewat jalur undangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tidak semata-mata mempertimbangkan dari sekolah favorit. PTN pun memberikan pertimbangan pemerataan kesempatan.

”Kami mengutamakan siswa yang memilih di pilihan pertama dan melihat track record sekolah. Jika sekolah favorit yang diundang kurang merespons, jatahnya bisa dikurangi,” katanya.

Bibit lokal

Untuk jalur undangan SNMPTN 2011, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, akan menyasar lulusan-lulusan SMA yang kurang mampu secara ekonomi dari sekitar wilayah Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga.

”Unsoed menyiapkan 800 kursi dari seluruh fakultas bagi mahasiswa baru melalui jalur undangan,” kata Rektor Unsoed Prof Edy Yuwono.

Jika kuota tersebut tidak terpenuhi dari putra-putra daerah, Unsoed tetap membuka kesempatan bagi siswa-siswa dari daerah lain. ”Terutama daerah perbatasan dengan Jawa Barat seperti Banjar, Tasikmalaya, dan Garut,” ujarnya.

Secara terpisah, Sekretaris Panitia Lokal SNMPTN Bandung Asep Gana Suganda mengatakan, perguruan tinggi akan bersikap adil dalam seleksi melalui jalur undangan, yakni bukan semata- mata melihat kualitas sekolah, tetapi juga kualitas siswa. (ELN/LUK/GRE/CHE)

Source : Kompas, Jumat, 18 Februari 2011

Kasepuhan dan Kanoman Sampaikan Pesan Damai

Kasepuhan dan Kanoman

Sampaikan Pesan Damai

Ekspedisi Humaniora Online

Jumat, 18 Februari 2011

KULTURAL DAN SYIAR AGAMA. Abdi dalem Keraton Kanoman membawa benda-benda yang memiliki simbol masing-masing dalam arak-arakan panjang

CIREBON, Ekspedisi Humaniora Online – Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 142 H di Keraton Kasepuhan ditandai dengan dilaksanakan Panjang Jimat atau yang biasa disebut Pelal. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Panjang Jimat dihadiri oleh ribuan warga yang datang dari beberapa daerah di sekitar Cirebon.

Proses Panjang Jimat tahun ini merupakan yang pertama dipimpin oleh Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE sejak menggantikan almarhum Sultan Sepuh XIII Maulana.
Hadir Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat H Ahmad Mubarok, Wakil Gubernur Jawa Barat H Dede Yusuf, Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan wilayah III Jawa Barat, Drs H Ano Sutrisno MM, serta tamu undangan.

Sebelum proses Panjang Jimat dimulai, Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat SE mengatakan mengatakan prosesi Panjang Jimat merupakan refleksi dari proses kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan puncak acara kegiatan peringatan maulid nabi.
“Panjang berarti pada masa yang lama dan Jimat berarti satu yang harus diruwat atau dihormati yakni syahadat. Sehingga arti dari Panjang Jimat adalah sederetan kegiatan pada masa yang lama dan terus menerus dilaksanakan yakni menyongsong kelahiran nabi dengan mengumandangkan syahadat,” jelas dia.

Sultan mengungkapkan melalui prosesi Panjang Jimat diharapkan masyarakat bisa berkontemplasi dan evaluasi atas perjalanan panjang yang telah dilalui apakah masih mengumandang teguh syahadat. Sehingga dalam akidah yang lurus, kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir tidak bisa diubah-ubah lagi dan akidah Islam tidak bisa dipermainkan. “Namun kita tidak mengendaki tindakan anarkisme yang mengatasnamakan agama,” ungkap dia.

Sultan yang juga mantan anggota DPD RI ini dalam sambutannya ingin mengimbau dan berpesan bahwa Nabi Muhammad SAW sesuai pemahaman akidah Islam yang lurus adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW. “Dan bila ada yang mengakui adanya nabi setalah Muhammad, maka harus diluruskan,” tegas Arief.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Barat, H Dede Yusuf mengakui bahwa kegiatan Panjang Jimat yang diselenggaran oleh Keraton Kasepuhan bagus dan harus tetap dipelihara. “Proses Panjang Jimat merupakan sarana penyebaran agama Islam melalui pragmen dan tetap harus dilestarikan seperti sekarang ini,” tutur dia.

Saat ditanya tentang kepedulian Pemprov Jawa Barat terhadap keberadaan keraton di Cirebon, kader PAN ini mengaku selama ini pemprov selalu memperhatikan. Bahkan bantuan terus disalurkan setiap tahun. “Namun yang harus lebih memperhatikan dan melestarikan keberadaan keraton-keraton adalah pemerintah daerah setempat,” tandas Dede.

Kanoman

Panjang jimat yang merupakan prosesi iring-iringan benda-benda pusaka yang menjadi simbol perpaduan antara kultural dan syiar agama untuk memperingati kelahiran Nabi Muhamad SAW rupanya menyimpan pesan tentang perdamaian. Pesan inilah yang disampaikan melalui teladan Sinuhun Syekh Sunan Gunungjati dengan menggunakan metode persuasif untuk meminimalisir konflik dalam syiar agama.

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina ST, mengatakan, agama Islam yang tersebar di tanah Jawa dan ke berbagai belahan nusantara tidak terlepas dari syiar damai para wali. Pendekatan persuasif melalui budaya, seni, dan tradisi mewarnai bentuk syiar yang dilakukan. Inilah yang kemudian melahirkan tradisi panjang jimat yang merupakan perpaduan budaya, adat, budaya keraton, dan unsur-unsur religiusitas Islam. ”Tradisi panjang jimat mengambil momentum maulid Nabi Muhamad SAW, di dalamnya ada unsur budaya, adat, dan religiusitas Islam,” tuturnya.

Kacirebonan

Kirab panjang jimat pada malam pelal peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, juga dilaksanakan di Keraton Kacirebonan, yang dipimpin Sultan Abdul Gani Natadiningrat SE, kemarin (16/2). Kirab panjang jimat tersebut merupakan puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi keraton-keraton di Cirebon.

Selain warga masyarakat dari sekitar keraton dan berbagai daerah, Walikota Subardi SPd bersama jajaran Muspida Kota Cirebon ikut menyaksikan kirab panjang jimat tersebut. Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf juga tampak datang, dan dijamu keluarga Keraton Kacirebonan dengan makan malam. Kedatangan mereka menyaksikan panjang jimat tersebut bermaksud mencari berkah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

Menurut Pangeran Roeslan Amiril Mukminin SH, tradisi tersebut sebagai bentuk simbolisiasi penghormatan kepada nilai keluhuran sang Nabi Muhammad SAW. ”Dengan harapan dapat syafaatnya kelak di akhir zaman,” katanya kepada Radar. Menurut Roeslan, setelah usai rangkaian kirab panjang jimat dan sakralan, paginya (hari ini), piring-piring pusaka tersebut dicuci d itempat khusus. Kemudian dimasukkan ke dalam gedung jimat. “Sebelumnya piring-piring pusaka tersebut dicuci. Namanya siram panjang,” ujarnya. (mam/yud/ hsn)***

Source : radarcirebon.com, Jumat, 18 Februari 2011