Friday, March 22, 2013
Budaya Nusantara : Ritual "Erau Pelas Benua Guntung" Bontang Kalimantan Timur
Menteri Pertahanan Malaysia Wong Jawa
- Menhan: Konflik Sabah Jangan Meluas ke Indonesia
- VIDEO: Menteri Pertahanan Malaysia “Pamer” Berbahasa Jawa
- 11 Nelayan Indonesia Dibebaskan Aparat Malaysia
- Ical: Indonesia-Malaysia Dapat Menjadi Jangkar Asia
Sunday, December 9, 2012
Friday, June 29, 2012
Tuesday, April 24, 2012
Jembatan Bojongsari Indramayu Diduga Akan Berganti
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Jembatan Bojongsari Indramayu
Diduga Akan Berganti
Jembatan Bojongsari Indramayu – Kondisi Jembatan Bojongsari di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kondisinya saat ini masih seperti yang dulu sewaktu pertama kali dibangun sekitar tahun 1990-an, atau sebelum dibangunnya Waduk Bojongsari. Sedangkan Waduk Bojongsari mulai dibangun sekitar tahun 2002 hingga tahun 2003, dan pertama kalinya digunakan untuk arena lomba dayung pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX Provinsi Jawa Barat pada Juli 2003. Untuk masa mendatang, konon, Jembatan Bojongsari itu akan berganti bentuk yang kabarnya bernilai artistik. Namun, pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu belum bisa memastikan soal waktu pembangunan jembatan itu. Gambar diambil, Kamis (01/03/2012) pagi.(Satim)*** Foto : Satim/Satimterus.blogspot.com
Friday, February 24, 2012
Tradisi Dilarang Panen Hari Jumat
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Tradisi Panyindangan Wetan
Dilarang Panen Hari Jumat,
Melanggar Kena Denda !
SAWAH SEPI – Karena hari Jumat, situasi dan kondisi di sawah di Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat,
terlihat sepi. Padahal, sejak awal Februari 2012 tengah panen raya. Para petani setempat memilih tinggal di rumah dan liburan bersama keluarga. Konon, ada pantangan dari dulu secara turun-temurun. Setiap hari Jumat, para petani dilarang memotong padi atau panenan. Jika melanggar, sanksinya kena denda yang dilakukan aparat desa setempat. Hasil panennya akan disita menjadi milik Pemerintahan Desa Panyindangan Wetan. Seperti tampak dalam gambar yang diambil Jumat (24/02/2012) pagi, tidak ada petani yang berani panen di hari Jumat itu.(Satim)*** Foto-foto : Satim
Monday, December 19, 2011
Laporan Akhir Tahun 2011 : Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Laporan Akhir Tahun 2011
Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu
Wednesday, November 23, 2011
Friday, November 18, 2011
Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
MEJA GAMBAR DULU – Meja gambar dulu yang kini sudah berlalu karena tak digunakan lagi. Tampak dalam gambar yang diambil Selasa (15/11/2011) siang, seorang karyawan pada Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat tengah mencoba menggunakan meja gambar bermerk MUTOH itu. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com
Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu
INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Keberadaan meja gambar untuk para arsitek, saat ini tampaknya sudah banyak ditinggalkan oleh penggunanya. Berkat kecanggihan teknologi, telah mengubah gaya para perancang bangunan yang sebelumnya menggunakan meja gambar hodrolik dan yang banyak digunakan merk MUTOH, kini beralih ke komputer dengan menggunakan program desainer sistem Auto Cad. Seperti tampak dalam gambar, keberadaan meja gambar di Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, tampaknya sudah tak digunakan lagi. Para perancang bangunan yang berada di ruangan Bidang Perencanaan pada Dinas Cipta Karya Kota Mangga itu, saat ini sudah pada beralih ke komputer. Konon, selain praktis, ekonomis, serta tidak menguras banyak tenaga. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com
Saturday, August 20, 2011
Jejak Teks Proklamasi di Cirebon
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Jejak Teks Proklamasi di Cirebon
Oleh : Sukardi
PROKLAMASI Cirebon dikumandangkan 2 hari lebih awal dari proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur Jakarta. Jika Proklamasi Jakarta dibacakan oleh seorang arsitek yaitu Ir. Soekarno, maka Proklamasi Cirebon dibacakan oleh seorang dokter yaitu dr. Soedarsono. Bunyi teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon relatif berbeda dengan teks proklamasi yang dibacakan di Jakarta. Teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon terdiri dari 300 kata yang pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintah kolonial lain. Demikian komentar Sutan Sjahrir saat ditanya tentang bunyi teks Proklamasi Cirebon yang dia susun (bersama aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia lainnya).
Informasi proklamasi Cirebon yang dibacakan dan dihadiri oleh 150 orang dengan mengambil tempat tepat di tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil dekat Alun-alun Kejaksan tersebut bisa dibaca dalam buku Sjahrir, "Peran Besar Bung Kecil" terbitan Majalah Tempo (edisi Desember 2010). Meski teks Proklamasi Cirebon itu --menurut penuturan Sjahrir sendiri-- hilang, sehingga otensitas peristiwa Proklamasi Cirebon tidak bisa terekam dengan baik seperti halnya Proklamasi Jakarta. Tetapi paling tidak ada satu indikasi kuat bahwa proklamasi kemerdakaan Indonesia memang murni dari aspirasi rakyat Indonesia, bukan pemberian penjajah Jepang atau Belanda. Proklamasi Jakarta merupakan akumulasi dan desakan rakyat segenap penjuru Tanah Air tentang kebutuhan menghirup udara bebas dari tekanan bangsa lain.
Dan menurut beberapa sumber, proklamasi yang dikumandangkan di Jakarta atau di Cirebon tersebut terjadi tepat pada saat rakyat Indonesia sedang melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan republik ini terjadi ketika mayoritas penduduknya sedang memperbanyak tadarus, bersalatul lail, memperbanyak sedekah serta pelaksanaan ritus-ritus keagamaan lainnya.
Fakta Proklamasi Cirebon yang dikumandangkan 2 hari sebelum Proklamasi Jakarta dan dibaca oleh seorang dokter makin meneguhkan tesis bahwa Cirebon memang layak disebut sebagai kota revolusi dengan masyarakat yang terdidik. Pasalnya, latar belakang keberadaan padepokan milik Sunan Gunung Jati yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, kanuragan dan kemandirian dalam berbisnis dan kemudian berlanjut dengan pendirian pondok-pondok pesantren oleh para keturunannya, sedikit banyak membentuk kultur masyarakat yang berani menghadapi risiko dibantai Jepang karena menyatakan kemerdekaan. Bukan rahasia kalau pendudukan Jepang yang hanya beberapa tahun jauh lebih bengis dibandingkan dengan penjajahan Belanda yang mencapai ratusan tahun.
Keberanian wong Cerbon memproklamirkan kemerdekaan tidak lepas dari adanya berkah Tuhan yang melimpah turun pada bulan Ramadhan serta kecerdasan para pemimpin masyarakat ketika itu dalam mengaktualisasikan ajaran agama. Perintah iqro (membaca) yang menjadi perintah awal kenabian dan yang turun pada bulan Ramadhan tidak dipahami hanya sebatas membaca teks agama, tetapi juga membaca dan memahami konteks masyarakat. Para aktivis atau pemimipin bisa memberikan pandangan serta meyakinkan masyarakat bahwa pelaksanaan ritus-ritus agama, keselamatan jiwa, kelanjutan keturunan, pengembangan akal budi serta harta mereka tidak akan bisa dijalankan secara optimal apabila masih dalam tekanan penjajah.
Belajar dari sejarah
Perayaan proklamasi tahun ini kebetulan bersamaan waktunya dengan pelaksanaan ibadah puasa, persis seperti ketika pertama kali teks proklamasi dibacakan. Nuansa euforia berbalut kebangsaan yang kental tak pelak akan lebih terasa dibandingkan dengan perayaan proklamasi selain bulan Ramadhan. Perayaan proklamasi di bulan Ramadhan dipastikan minus dari hura-hura yang menghabiskan dana belasan, bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Pentas musik yang tak jarang dibarengi dengan liukan pinggul para penyanyi seksi diiringi pelototan mata anak-anak dan sorot birahi tanpa kendali dari para pemuda karena pengaruh alkohol relatif berkurang.
Segenap elemen warga negara memang seharusnya bisa melakukan perenungan lebih baik atas makna kemerdekaan yang direbut dengan darah, harta dan nyawa tersebut. Setelah lebih dari setengah abad merdeka, apakah semua orang yang hidup di bawah bendera republik ini sudah merdeka secara utuh? Apakah perlindungan negara terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan kepada semua warganya sudah memadai?
Membincang negara berarti secara otomatis membicarakan persoalan pemerintah, wilayah dan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah pemerintah sudah mengoptimalkan layanannya kepada masyarakat, apakah masyarakat sudah menaati kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, apakah pemerintah dan rakyat memiliki ketahanan untuk mempertahankan wilayah, dan berbagai pertanyaan lain yang muaranya berpangkal pada sinergitas antara pemerintah dan rakyat?
Secara substantif, musuh sebelum dan sesudah dibacakan teks proklamasi relatif sama, yakni ancaman terhadap keberadaan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta, bedanya jika sebelum proklamasi musuhnya lebih konkret yaitu serdadu Jepang atau Belanda. Sementara pascaproklamasi bentuk ancamannya lebih kompleks dan beragam. Bercermin dari kesuksesan proklamasi di mana antara para pemimpin pergerakan dan rakyat bersatu, maka supaya berhasil menghadapi musuh bersama sekarang ini, perlu dibangun kolaborasi harmonis serta kesamaan sudut pandang antara rakyat dengan para pemimpinnya, baik pemimpin formal yang ada di birokrasi pemerintahan atau pemimpin non formal yang ada di masyarakat.
Ancaman terhadap keberadaan agama, bisa jadi berasal dari paham atau ideologis komunis serta tindakan pengeboman tempat-tempat ibadah. Ancaman terhadap keberadaan keturunan, bisa berbentuk penyebaran virus HIV atau kehidupan seks bebas. Ancaman keberadaan harta, dalam bentuk korupusi dana rakyat, pencurian, perampokan serta penjarahan, dan sebagainya.
Kolaborasi dan kesamaan persepsi terhadap ancaman ini akan menumbuhkan sikap saling menghargai yang berujung pada kohesivitas antara para tokoh dan masyarakatnya terhadap berbagai perilaku yang mengancam kemaslahatan negara. Persoalan penyebaran virus HIV tidak hanya menjadi urusan kementerian kesehatan dan LSM peduli AIDS tetapi juga menjadi urusan para tokoh agama dan masyarakat luas. Perlawanan terhadap koruptor yang merampok dana-dana rakyat tidak hanya menjadi urusan kementerian hukum dan LSM tetapi juga menjadi urusan tokoh agama dan masyarakat luas. Tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya harus mulai menjadi garda terdepan dengan menggunakan bahasa yang lebih vulgar dalam menyuarakan penentangan terhadap penyimpangan sosial yang terjadi di negeri ini seraya memberikan solusi.
Kolaborasi dan kesamaan persepsi akan berdampak pada berjalannya mekanisme sistem sosial yang memiliki nilai-nilai luhur keindonesiaan di tengah masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap perilaku dan ajakan kelompok yang akan menggoyahkan sendi-sendi negara--seperti pendirian Negara Islam Indonesia misalnya---akan lebih kuat. Regulasi yang dibuat pemerintah akan selalu berpihak kepada rakyat secara luas. Para pejabat akan terjauh dari perilaku yang merugikan rakyat dengan memperkaya diri atau kelompok politiknya, dan para aktivis LSM akan cepat melakukan audensi atau kritik kepada para pejabat pemerintah yang dianggap menyimpang.
Kalau semua pemimpin dan rakyat sudah menyadari peran dan posisinya masing-masing maka kesejahteraan masyarakat pun akan lebih terjamin. Kue pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, dan perayaan proklamasi pun tidak lagi menyisakan jeritan anak-anak dari keluarga miskin yang tidak bisa mengenyam sekolah karena mahhalnya biaya pendidikan. Momentum perayaan proklamasi di bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadi titik awal untuk menggapai kondisi tersebut. Wallahu a'lam.***
*) Sukardi, guru SMA Negeri 4 Kota Cirebon
Source : Kabar Cirebon.com, Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB
- Pengguna Narkoba Meningkat
- Proyek Jalan Kepur Diduga Bermasalah
- Tronton Hantam Toko Material
- Sekolah Masuki Libur Panjang
- Ditahan
Sunday, August 14, 2011
Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura

TRANSPORTASI dan perdagangan di Kabupaten Indramayu pada zaman dulu, terutama di era kolonial Hindia-Belanda pada tahun 1900-an, tertumpu di sepanjang aliran Sungai Cimanuk. Melalui jalur itulah, tata niaga lokal terkonsentrasi, dan menjadi pusat perekonomian terpenting di kawasan pantura kala itu.
Perdagangan beras dan komoditi pokok masyarakat lainnya, seperti jagung, palawija, rempah-rempah, dan lain-lain, setiap harinya dilakukan oleh masyarakat pribumi maupun pendatang dalam suasana kekeluargaan.
Tingginya intensitas perdagangan pada saat itu membuat sebagian besar warga pribumi yang beragama Islam, berinisiatif membangun sebuah langgar atau musala dengan ukuran kecil mungil. Saat itu tahun 1937, langgar terletak di tepi Sungai Cimanuk.
Tujuan dibangunnya langgar tersebut untuk memberikan sarana beribadah bagi penganut agama Islam di kawasan tersebut.
Keberadaan langgar yang saat itu belum bernama, cukup membantu ibadah masyarakat Indramayu, serta sejumlah pedagang asal Cina atau Tiongkok yang kerap menjalankan aktivitas niaga di sana.
Seiring perkembangan waktu, langgar kecil tersebut mulai dipugar, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Pemugaran langgar tersebut tidak terlepas dari peran sentral seorang mualaf asal Tiongkok bernama Tjoe Teng. Tanah seluas 1 hektare milik Tjoe Teng yang terhampar di sisi langgar tersebut, dihibahkan secara sukarela untuk kepentingan pembangunan langgar.
Bahkan Tjoe Teng yang saat itu sangat terkenal sebagai juragan atau saudagar kaya dengan berbagai jenis usaha baik beras maupun komoditi lainnya, ikut menyumbangkan sebagian rezekinya untuk pemugaran hingga pembangunan langgar.
Tjoe Teng pun menurut sejumlah saksi sejarah saat itu, memiliki komitmen yang cukup besar untuk membangun tempat ibadah yang representatif, meski ia merupakan mualaf atau pemeluk baru agama Islam.
Sikap dermawan sang mualaf asal Tiongkok ini membuat warga pribumi sangat menghormatinya, dan menganggap Tjoe Teng sebagai penduduk pribumi, bukan seorang pendatang dari negeri Tiongkok. Bahkan oleh warga setempat, Tjoe Teng sering disebut-sebut sebagai tokoh dermawan
"Riwayat pembangunan Masjid Agung Indramayu tidak terlepas dari peran Tjoe Teng yang menghibahkan tanah miliknya, dan membangun langgar menjadi masjid," ungkap pengurus DKM Masjid Agung Indramayu, Saprudin.
Selain mendapatkan bantuan dari Tjoe Teng, sang saudagar kaya, masyarakat sekitar pun ikut membantu baik dengan tenaga maupun materi. Pokoknya, saat itu kepedulian masyarakat setempat sangat tinggi untuk membangun sarana ibadah tersebut.
Singkat cerita, setelah dibangun secara gotong royong, Masjid Agung Indramayu pun berdiri cukup besar di zamannya. Bahkan, Masjid Agung Indramayu menjadi pusat ibadah kaum muslimin dan muslimat Indramayu dalam menjalankan ibadah.
"Bahkan, setiap tahunnya, Masjid Agung menjadi tempat salat ied bagi sebagian masyarakat Indramayu," katanya.
Budayawan Indramayu, Fuzail Ayad Syahbana, menjelaskan, berdasarkan sejumlah saksi sejarah Masjid Agung berupa foto-foto tempo dulu yang diperolehnya dari kantor arsip Hindia Belanda, Masjid Agung memiliki satu ciri khas pada konstruksi bangunannya yang mirip Masjid Demak.
Fuzail Ayad menambahkan, penyebaran Islam di Jawa tidak terlepas dari peran Wali Songo. "Kecenderungan tersebut sangat kuat dari arsitektur bangunan Masjid Agung Indramayu yang menyerupai Masjid Demak hingga saat ini," tuturnya.(Odox/"KC") ***
Source : kabar-cirebon.com, Rabu, 10 Agustus 2010 - 01:02:19 WIB 
- HA. Zainal Abidin Rusamsi Tetap Disiplin
- Pelaku Judi Kuclak Hanya Diberi Pembinaan
- Dewan Temukan Proyek tak Sesuai Perencanaan
- Kendaraan Mudik di Tol Kanci-Pejagan Meningkat
- Pengusaha Jakon Serang PLN
Friday, August 5, 2011
SMK Unggulan Dikembangkan di 10 Titik Koridor Ekonomi
Jumat, 05 Agustus 2011
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
Dua di Antaranya di Bandung
SMK Unggulan Dikembangkan
di 10 Titik Koridor Ekonomi
JAKARTA, (PRLM), EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE - Program pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) unggulan dikembangkan di sepuluh titik di daerah koridor ekonomi. Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mencatat, dua di antaranya berada di Bandung.Daerah koridor ekonomi lainnya dalam pengembangan SMK unggulan itu antara lain Palembang, Palangkaraya, Wonogiri, Situbondo, Probolinggo, dan Denpasar. “Sifatnya itu memperbesar SMK yang sudah ada,” ujar Direktur Pembinaan SMK Kemdiknas Joko Sutrisno dalam keterangan pers di Kantor Kemdiknas Senayan, Jakarta, Rabu (13/7).
Sementara itu, menyinggung jumlah peminat SMK, Joko mengungkapkan, angkanya menunjukkan peningkatan persentase dari tahun ke tahun. Tahun ini, peningkatannya mencapai 15 persen. “Sedangkan, paling tinggi terjadi pada 2008 dan 2009,” katanya seraya menuturkan pada tahun itu lompatannya bahkan mencapai 30 persen.
Lebih jauh, Joko mengatakan, mengenai tren peminat SMK sendiri mendaftar pada jurusan informatika dan otomotif. Namun, belakangan juga teknologi bangunan menunjukkan peningkatan.
Sebelumnya, Joko memaparkan, saat berlangsung Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, beberapa waktu lalu, sebanyak 27 SMK turut berkiprah, terdiri dari 22 SMK peserta pameran dan 5 SMK mengisi tarian.
Dalam ajang itu, selain menampilkan stan otomotif, juga dikenalkan karya batik dan teknik pembuatan batik tulis yang terkendali dengan komputer. (A-94/das)***
Source : Pikiran Rakyat Online, Kamis, 14 Juli 2011






