Friday, March 22, 2013

Budaya Nusantara : Ritual "Erau Pelas Benua Guntung" Bontang Kalimantan Timur

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Budaya
Ritual "Erau Pelas Benua Guntung"
Bontang Kalimantan Timur
Upacara ini menampilkan tarian budaya khas masyarakat Dayak dan Kutai.
Kamis, 21 Maret 2013, 10:37 WIB
Posting Terkait :
VIVAlog - Pertama kali datang ke Bontang, Kalimantan Timur, semangat ingin tahu masih sangat menggebu-gebu. Salah satunya saat diajak melihat upacara Erau Pelas Benua Guntung. Mengapa di belakangnya ditambah kata "Guntung"? ini menunjukkan perbedaan wilayah dengan Erau Pelas Benua provinsi yang setiap tahunnya dilakukan oleh Kesultanan Kutai di Tenggarong.
Guntung merupakan satu-satunya bagian Kota Bontang yang sebagian besar warganya masih keturunan Kutai. Letaknya pun didekat perbatasan wilayah Kutai Timur. Namun seiring perkembangan, wilayah ini mulai bercampur dengan suku-suku lainnya, baik dari Kalimantan maupun luar Kalimantan.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Menteri Pertahanan Malaysia Wong Jawa

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Menhan Malaysia: Tiang Jawi Njih Saget Jawi
Menhan Malaysia dan Wali Kota Yogyakarta terhitung sepupu.
Jum'at, 22 Maret 2013, 00:12 Arfi Bambani Amri, Daru Waskita (Yogyakarta)
Menhan Malaysia Ahmad Zaid Hamidi (VIVAnews/ Daru Waskita)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kalimat "Tiang Jawi njih saget Jawi" atau berarti orang Jawa bisa berbahasa Jawa meluncur dari mulut Menteri Pertahanan Malaysia Dr Ahmad Zaid Hamidi. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas di Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, pun tersenyum simpul mendengarnya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi pun bercerita bahwa dia sangat pandai berbahasa Jawa karena kakeknya asli dari Serang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. "Bapak kulo asli Wates, ibu kulo asli Ponorogo (Bapak saya asli Wates dan ibu saya asli Ponorogo--red)," katanya saat ramah tamah dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta usai berziarah, Kamis petang, 21 Maret 2013.
"Monggo diunjuk minumannya (Mari diminum minumannya--red)," kata Zaid melanjutkan.
Datuk Zaid bercerita, di Malaysia dia menetap di Bagan Datu, Negara Perak. Di daerah itu, 90 persen warganya keturunan Jawa seperti dari Wates, Ponorogo, dan Tegal. "90 Persen warga yang tinggal di Bagan Datuk itu orang Jawa, maka saya juga pandai bahasa Jawa," katanya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi menjelaskan, kakeknya merantau dari Wates ke Malaysia pada tahun 1932. Tujuannya untuk kehidupan yang lebih baik.
Di Malaysia, kakeknya membuka perkebunan dan berhasil sehingga menjadi orang yang kaya. Kekayaan yang dimiliki sebagian untuk membangun masjid, sarana pendidikan atau pesantren. "Jadi saya yang sekarang meneruskan," katanya.
Kakeknya ini satu bapak dengan kakek Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. "Yo podo Mbah Buyut dengan Pak Walikota Yogya ini," katanya dengan logat Jawa yang kental.
Endro "kimpling" Suseno, sahabat dari Menhan Malaysia, mengatakan bahwa keluarga dari Menhan Malaysia ini merupakan trah dari Keraton Yogyakarta. Trah ini dibuktikan kepemilikan surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta yang masih dalam tulisan Jawa.
"Setelah dicek ke Keraton Yogyakarta, ternyata benar bahwa keluarga Menhan masih kerabat Keraton Yogyakarta. Saat ini surat kekancingan telah diubah dalam Bahasa Indonesia," katanya singkat.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Sunday, December 9, 2012


Minggu, 09 Desember 2012
BUBUR SURA – Jenis Bubur Sura seperti tampak dalam gambar hanya ada di Bulan Sura, dan tahun 2012 ini bertepatan dengan Bulan November 2012.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online
BUBUR SURA
Warga Desa Pesta Bubur Sura
INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Sejak awal hingga akhir Bulan Sura, warga desa di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih melakukan pesta adat ritual dengan memasak bubur “Sura”. Pesta adat yang, konon, sudah ribuan tahun secara turun-temurun itu, katanya sih dalam rangka mengenang kembali bencana alam terbesar di dunia pada jaman Nabi Nuh. Nah, sebagian masyarakat di Kota Mangga Indramayu menginginkan,  sekarang ini bisa hidup aman dan damai tanpa bencana.
Untuk menghindari bencana banjir bandang seperti peristiwa di jaman Nabi Nuh tersebut, sebagian kalangan secara bergotong-royong memasak bubur yang bercampur dengan berbagai jenis makanan lainnya yang mereka sebut “Bubur Sura”. Karena jenis bubur ini hanya ada di setiap Bulan Sura.
Pemantauan Ekspedisi Humaniora Online di Bulan Sura atau tahun ini kebetulan jatuh di Bulan November  2012, tak sedikit pula warga yang mampu dan terpandang secara turun-temurun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Selain itu, para Kuwu (Kepala Desa) yang masih aktif terkesan wajib membuat bubur Sura. Buburnya kemudian dibagi-bagikan kepada warga yang ada di desanya. Bahkan, para mantan kuwu pun  masih punya kewajiban membuat bubur Sura.
“Pada Minggu ini, saya pun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Ini bagian dari kewajiban kami selaku Kuwu. Lihat saja sejumlah warga sedang pada memasak bubur Sura,” kata Narsito, Kuwu Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Minggu (09/12/2012) sore.
Narsito menjelaskan, bahwa pesta adat seperti itu sudah berlangsung turun-temurun sejak dulu. Intinya, mengenang kembali peristiwa bencana banjir bandang pada jaman Nabi Nuh. “Pembuatan bubur Sura itu hanya simbol saja sebagai penolak bala agar terhindar dari musibah serupa. Yang selamat, hanya orang-orang yang takwa dan mau mengikuti ajaran agama yang diemban Nabi Nuh. Nah, keterkaitan dengan bubur Sura, intinya, mari bersama-sama menciptakan ketakwaan kepada Allah Swt sambil tetap memupuk kegotong-royongan demi kemajuan bersama,” kata Narsito.
Campuran
            Bubur Sura tersebut, tergolong bubur yang unik dan hanya ada di Bulan Sura. Meski warnanya nyaris serupa dengan bubur ayam yang banyak dijual orang. Biasanya berwarna kuning karena pewarna dari kunyit yang berwarna kuning. Tapi yang dicampur di Bubur Sura berbeda dengan bubur ayam.
            Campuran Bubur Sura berbagai macam makanan yang ada, tergantung kondisi bahan masakan yang ada di dapur. Biasanya, campuran Bubur Sura seperti Kelungsu (biji asam matang), kentang, jagung, kol, buncis, soun, pepaya, dan lain-lain. Dicampur jadi satu dan dimasak hingga matang. Lalu di atasnya diberi soun, gorengan parutan kelapa, rasa pemedas, dan lain-lain. Rasanya lezat dan gurih.
            Keunikan lainnya, warga yang datang dan bergoting-royong ikut memasak biasanya sambil membawa beras dengan sejumlah bahan makanan yang siap dicampur untuk membuat bubur sura tersebut. (Satim)***

Friday, June 29, 2012

Jumat, 29 Juni 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
KHASIAT BUAH BIDARA
POHON BIDARA atau WIDARA – Pohon Widara atau Bidara banyak tumbuh di sepanjang tepi jalan di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain itu, banyak tumbuh pula di sejumlah pekarangan perkantoran dan penduduk setempat. Seperti tampak dalam gambar, pohon Bidara yang tumbuh di belakang kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu. Buahnya banyak dan banyak dimanfaatkan untuk obat kewanitaan. Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
BUAH BIDARA – Buah bidara yang sudah matang tampak berwarna merah. Namun yang masih hijau lebih kecil dibamding dengan yang sudah masak secara alami.Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
INDRAMAYU -  Mungkin banyak orang yang tidak tahu jika buah Bidara atau Widara itu, sebetulnya sangat berkhasiat bagi kesehatan wanita, terutama bagian pengobatan kewanitaan. Namun sebagian orang, justru memanfaatkan buah Widara untuk penyembuhan keputihan dan untuk pengobatan yang mengandung sari rapet demi semakin membuat gairah dalam hidup berumah tangga.
            Pengakuan demikian seperti yang dilontarkan Ny. Nety (45), warga Indramayu kepada tim Ekspedisi Humaniora Online, Kamis (28/06/2012) sore. Menurutnya, buah Widara menjadi menu hampir setiap hari untuk menjaga kesehatan kewanitaannya.
            “Biar rasanya agak sepet, tapi khasiatnya lumayan,” katanya, singkat.
            Dan Kamis sore itu, Nety mengumpulkan sejumlah buah Widara yang jatuh ke tanah di halaman belakang kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, untuk di bawanya pulang.(Satim)***

Tuesday, April 24, 2012

Jembatan Bojongsari Indramayu Diduga Akan Berganti

Selasa, 24 April 2012

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jembatan Bojongsari Indramayu

Diduga Akan Berganti

Jembatan Bojongsari Indramayu – Kondisi Jembatan Bojongsari di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kondisinya saat ini masih seperti yang dulu sewaktu pertama kali dibangun sekitar tahun 1990-an, atau sebelum dibangunnya Waduk Bojongsari. Sedangkan Waduk Bojongsari mulai dibangun sekitar tahun 2002 hingga tahun 2003, dan pertama kalinya digunakan untuk arena lomba dayung pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX Provinsi Jawa Barat pada Juli 2003. Untuk masa mendatang, konon, Jembatan Bojongsari itu akan berganti bentuk yang kabarnya bernilai artistik. Namun, pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu belum bisa memastikan soal waktu pembangunan jembatan itu. Gambar diambil, Kamis (01/03/2012) pagi.(Satim)*** Foto : Satim/Satimterus.blogspot.com

Friday, February 24, 2012

Tradisi Dilarang Panen Hari Jumat

Jumat, 24 Februari 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Tradisi Panyindangan Wetan

Dilarang Panen Hari Jumat,

Melanggar Kena Denda !

SAWAH SEPI – Karena hari Jumat, situasi dan kondisi di sawah di Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, terlihat sepi. Padahal, sejak awal Februari 2012 tengah panen raya. Para petani setempat memilih tinggal di rumah dan liburan bersama keluarga. Konon, ada pantangan dari dulu secara turun-temurun. Setiap hari Jumat, para petani dilarang memotong padi atau panenan. Jika melanggar, sanksinya kena denda yang dilakukan aparat desa setempat. Hasil panennya akan disita menjadi milik Pemerintahan Desa Panyindangan Wetan. Seperti tampak dalam gambar yang diambil Jumat (24/02/2012) pagi, tidak ada petani yang berani panen di hari Jumat itu.(Satim)*** Foto-foto : Satim

Monday, December 19, 2011

Laporan Akhir Tahun 2011 : Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

Senin, 19 Desember 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Laporan Akhir Tahun 2011

Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

MENGAMATI MERIAM – Beberapa wartawan, Jumat (16/12/2011) sore, mencoba mengamati dan berfose di senjata berat meriam bersejarah peninggalan penjajahan Belanda sekitar Abad XVI. Dalam meriam yang diduga terbuat dari besi campur baja itu, tertulis 1768 dengan beberapa tulisan yang diduga berbahasa Belanda.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online

Wednesday, November 23, 2011

Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu

Rabu, 23 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA

Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu

DINAS CIPTA KARYA – Kondisi Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat pada suatu sore. Gambar diambil Jumat (8/7/2011) sore. (Satim)*** Foto : Satim

Adun Sastra Ketua PWI Indramayu

Selasa, 22 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA

Adun Sastra Ketua PWI Indramayu

Adun Sastra SH, Ketua PWI Perwakilan Indramayu Periode 2011-2014. Adun terpilih dalam Konferensi PWI Perwakilan Indramayu yang digelar di Hotel Wiwi Perkasa Indramayu, Kamis (10/11/2011) siang. (Satim)*** Foto : Satim

Friday, November 18, 2011

Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu

Jumat, 18 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

MEJA GAMBAR DULU – Meja gambar dulu yang kini sudah berlalu karena tak digunakan lagi. Tampak dalam gambar yang diambil Selasa (15/11/2011) siang, seorang karyawan pada Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat tengah mencoba menggunakan meja gambar bermerk MUTOH itu. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com

Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu

INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Keberadaan meja gambar untuk para arsitek, saat ini tampaknya sudah banyak ditinggalkan oleh penggunanya. Berkat kecanggihan teknologi, telah mengubah gaya para perancang bangunan yang sebelumnya menggunakan meja gambar hodrolik dan yang banyak digunakan merk MUTOH, kini beralih ke komputer dengan menggunakan program desainer sistem Auto Cad. Seperti tampak dalam gambar, keberadaan meja gambar di Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, tampaknya sudah tak digunakan lagi. Para perancang bangunan yang berada di ruangan Bidang Perencanaan pada Dinas Cipta Karya Kota Mangga itu, saat ini sudah pada beralih ke komputer. Konon, selain praktis, ekonomis, serta tidak menguras banyak tenaga. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com

Saturday, August 20, 2011

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Oleh : Sukardi

PROKLAMASI Cirebon dikumandangkan 2 hari lebih awal dari proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur Jakarta. Jika Proklamasi Jakarta dibacakan oleh seorang arsitek yaitu Ir. Soekarno, maka Proklamasi Cirebon dibacakan oleh seorang dokter yaitu dr. Soedarsono. Bunyi teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon relatif berbeda dengan teks proklamasi yang dibacakan di Jakarta. Teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon terdiri dari 300 kata yang pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintah kolonial lain. Demikian komentar Sutan Sjahrir saat ditanya tentang bunyi teks Proklamasi Cirebon yang dia susun (bersama aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia lainnya).

Informasi proklamasi Cirebon yang dibacakan dan dihadiri oleh 150 orang dengan mengambil tempat tepat di tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil dekat Alun-alun Kejaksan tersebut bisa dibaca dalam buku Sjahrir, "Peran Besar Bung Kecil" terbitan Majalah Tempo (edisi Desember 2010). Meski teks Proklamasi Cirebon itu --menurut penuturan Sjahrir sendiri-- hilang, sehingga otensitas peristiwa Proklamasi Cirebon tidak bisa terekam dengan baik seperti halnya Proklamasi Jakarta. Tetapi paling tidak ada satu indikasi kuat bahwa proklamasi kemerdakaan Indonesia memang murni dari aspirasi rakyat Indonesia, bukan pemberian penjajah Jepang atau Belanda. Proklamasi Jakarta merupakan akumulasi dan desakan rakyat segenap penjuru Tanah Air tentang kebutuhan menghirup udara bebas dari tekanan bangsa lain.

Dan menurut beberapa sumber, proklamasi yang dikumandangkan di Jakarta atau di Cirebon tersebut terjadi tepat pada saat rakyat Indonesia sedang melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan republik ini terjadi ketika mayoritas penduduknya sedang memperbanyak tadarus, bersalatul lail, memperbanyak sedekah serta pelaksanaan ritus-ritus keagamaan lainnya.

Fakta Proklamasi Cirebon yang dikumandangkan 2 hari sebelum Proklamasi Jakarta dan dibaca oleh seorang dokter makin meneguhkan tesis bahwa Cirebon memang layak disebut sebagai kota revolusi dengan masyarakat yang terdidik. Pasalnya, latar belakang keberadaan padepokan milik Sunan Gunung Jati yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, kanuragan dan kemandirian dalam berbisnis dan kemudian berlanjut dengan pendirian pondok-pondok pesantren oleh para keturunannya, sedikit banyak membentuk kultur masyarakat yang berani menghadapi risiko dibantai Jepang karena menyatakan kemerdekaan. Bukan rahasia kalau pendudukan Jepang yang hanya beberapa tahun jauh lebih bengis dibandingkan dengan penjajahan Belanda yang mencapai ratusan tahun.

Keberanian wong Cerbon memproklamirkan kemerdekaan tidak lepas dari adanya berkah Tuhan yang melimpah turun pada bulan Ramadhan serta kecerdasan para pemimpin masyarakat ketika itu dalam mengaktualisasikan ajaran agama. Perintah iqro (membaca) yang menjadi perintah awal kenabian dan yang turun pada bulan Ramadhan tidak dipahami hanya sebatas membaca teks agama, tetapi juga membaca dan memahami konteks masyarakat. Para aktivis atau pemimipin bisa memberikan pandangan serta meyakinkan masyarakat bahwa pelaksanaan ritus-ritus agama, keselamatan jiwa, kelanjutan keturunan, pengembangan akal budi serta harta mereka tidak akan bisa dijalankan secara optimal apabila masih dalam tekanan penjajah.

Belajar dari sejarah

Perayaan proklamasi tahun ini kebetulan bersamaan waktunya dengan pelaksanaan ibadah puasa, persis seperti ketika pertama kali teks proklamasi dibacakan. Nuansa euforia berbalut kebangsaan yang kental tak pelak akan lebih terasa dibandingkan dengan perayaan proklamasi selain bulan Ramadhan. Perayaan proklamasi di bulan Ramadhan dipastikan minus dari hura-hura yang menghabiskan dana belasan, bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Pentas musik yang tak jarang dibarengi dengan liukan pinggul para penyanyi seksi diiringi pelototan mata anak-anak dan sorot birahi tanpa kendali dari para pemuda karena pengaruh alkohol relatif berkurang.

Segenap elemen warga negara memang seharusnya bisa melakukan perenungan lebih baik atas makna kemerdekaan yang direbut dengan darah, harta dan nyawa tersebut. Setelah lebih dari setengah abad merdeka, apakah semua orang yang hidup di bawah bendera republik ini sudah merdeka secara utuh? Apakah perlindungan negara terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan kepada semua warganya sudah memadai?

Membincang negara berarti secara otomatis membicarakan persoalan pemerintah, wilayah dan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah pemerintah sudah mengoptimalkan layanannya kepada masyarakat, apakah masyarakat sudah menaati kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, apakah pemerintah dan rakyat memiliki ketahanan untuk mempertahankan wilayah, dan berbagai pertanyaan lain yang muaranya berpangkal pada sinergitas antara pemerintah dan rakyat?

Secara substantif, musuh sebelum dan sesudah dibacakan teks proklamasi relatif sama, yakni ancaman terhadap keberadaan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta, bedanya jika sebelum proklamasi musuhnya lebih konkret yaitu serdadu Jepang atau Belanda. Sementara pascaproklamasi bentuk ancamannya lebih kompleks dan beragam. Bercermin dari kesuksesan proklamasi di mana antara para pemimpin pergerakan dan rakyat bersatu, maka supaya berhasil menghadapi musuh bersama sekarang ini, perlu dibangun kolaborasi harmonis serta kesamaan sudut pandang antara rakyat dengan para pemimpinnya, baik pemimpin formal yang ada di birokrasi pemerintahan atau pemimpin non formal yang ada di masyarakat.

Ancaman terhadap keberadaan agama, bisa jadi berasal dari paham atau ideologis komunis serta tindakan pengeboman tempat-tempat ibadah. Ancaman terhadap keberadaan keturunan, bisa berbentuk penyebaran virus HIV atau kehidupan seks bebas. Ancaman keberadaan harta, dalam bentuk korupusi dana rakyat, pencurian, perampokan serta penjarahan, dan sebagainya.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi terhadap ancaman ini akan menumbuhkan sikap saling menghargai yang berujung pada kohesivitas antara para tokoh dan masyarakatnya terhadap berbagai perilaku yang mengancam kemaslahatan negara. Persoalan penyebaran virus HIV tidak hanya menjadi urusan kementerian kesehatan dan LSM peduli AIDS tetapi juga menjadi urusan para tokoh agama dan masyarakat luas. Perlawanan terhadap koruptor yang merampok dana-dana rakyat tidak hanya menjadi urusan kementerian hukum dan LSM tetapi juga menjadi urusan tokoh agama dan masyarakat luas. Tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya harus mulai menjadi garda terdepan dengan menggunakan bahasa yang lebih vulgar dalam menyuarakan penentangan terhadap penyimpangan sosial yang terjadi di negeri ini seraya memberikan solusi.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi akan berdampak pada berjalannya mekanisme sistem sosial yang memiliki nilai-nilai luhur keindonesiaan di tengah masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap perilaku dan ajakan kelompok yang akan menggoyahkan sendi-sendi negara--seperti pendirian Negara Islam Indonesia misalnya---akan lebih kuat. Regulasi yang dibuat pemerintah akan selalu berpihak kepada rakyat secara luas. Para pejabat akan terjauh dari perilaku yang merugikan rakyat dengan memperkaya diri atau kelompok politiknya, dan para aktivis LSM akan cepat melakukan audensi atau kritik kepada para pejabat pemerintah yang dianggap menyimpang.

Kalau semua pemimpin dan rakyat sudah menyadari peran dan posisinya masing-masing maka kesejahteraan masyarakat pun akan lebih terjamin. Kue pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, dan perayaan proklamasi pun tidak lagi menyisakan jeritan anak-anak dari keluarga miskin yang tidak bisa mengenyam sekolah karena mahhalnya biaya pendidikan. Momentum perayaan proklamasi di bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadi titik awal untuk menggapai kondisi tersebut. Wallahu a'lam.***

*) Sukardi, guru SMA Negeri 4 Kota Cirebon

Source : Kabar Cirebon.com, Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB

Sunday, August 14, 2011

Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura

Minggu, 14 Agustus 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Masjid Agung Indramayu Simbol Kejayaan Islam di Pantura

TRANSPORTASI dan perdagangan di Kabupaten Indramayu pada zaman dulu, terutama di era kolonial Hindia-Belanda pada tahun 1900-an, tertumpu di sepanjang aliran Sungai Cimanuk. Melalui jalur itulah, tata niaga lokal terkonsentrasi, dan menjadi pusat perekonomian terpenting di kawasan pantura kala itu.

Perdagangan beras dan komoditi pokok masyarakat lainnya, seperti jagung, palawija, rempah-rempah, dan lain-lain, setiap harinya dilakukan oleh masyarakat pribumi maupun pendatang dalam suasana kekeluargaan.

Tingginya intensitas perdagangan pada saat itu membuat sebagian besar warga pribumi yang beragama Islam, berinisiatif membangun sebuah langgar atau musala dengan ukuran kecil mungil. Saat itu tahun 1937, langgar terletak di tepi Sungai Cimanuk.

Tujuan dibangunnya langgar tersebut untuk memberikan sarana beribadah bagi penganut agama Islam di kawasan tersebut.

Keberadaan langgar yang saat itu belum bernama, cukup membantu ibadah masyarakat Indramayu, serta sejumlah pedagang asal Cina atau Tiongkok yang kerap menjalankan aktivitas niaga di sana.

Seiring perkembangan waktu, langgar kecil tersebut mulai dipugar, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Pemugaran langgar tersebut tidak terlepas dari peran sentral seorang mualaf asal Tiongkok bernama Tjoe Teng. Tanah seluas 1 hektare milik Tjoe Teng yang terhampar di sisi langgar tersebut, dihibahkan secara sukarela untuk kepentingan pembangunan langgar.

Bahkan Tjoe Teng yang saat itu sangat terkenal sebagai juragan atau saudagar kaya dengan berbagai jenis usaha baik beras maupun komoditi lainnya, ikut menyumbangkan sebagian rezekinya untuk pemugaran hingga pembangunan langgar.
Tjoe Teng pun menurut sejumlah saksi sejarah saat itu, memiliki komitmen yang cukup besar untuk membangun tempat ibadah yang representatif, meski ia merupakan mualaf atau pemeluk baru agama Islam.

Sikap dermawan sang mualaf asal Tiongkok ini membuat warga pribumi sangat menghormatinya, dan menganggap Tjoe Teng sebagai penduduk pribumi, bukan seorang pendatang dari negeri Tiongkok. Bahkan oleh warga setempat, Tjoe Teng sering disebut-sebut sebagai tokoh dermawan
"Riwayat pembangunan Masjid Agung Indramayu tidak terlepas dari peran Tjoe Teng yang menghibahkan tanah miliknya, dan membangun langgar menjadi masjid," ungkap pengurus DKM Masjid Agung Indramayu, Saprudin.

Selain mendapatkan bantuan dari Tjoe Teng, sang saudagar kaya, masyarakat sekitar pun ikut membantu baik dengan tenaga maupun materi. Pokoknya, saat itu kepedulian masyarakat setempat sangat tinggi untuk membangun sarana ibadah tersebut.

Singkat cerita, setelah dibangun secara gotong royong, Masjid Agung Indramayu pun berdiri cukup besar di zamannya. Bahkan, Masjid Agung Indramayu menjadi pusat ibadah kaum muslimin dan muslimat Indramayu dalam menjalankan ibadah.

"Bahkan, setiap tahunnya, Masjid Agung menjadi tempat salat ied bagi sebagian masyarakat Indramayu," katanya.

Budayawan Indramayu, Fuzail Ayad Syahbana, menjelaskan, berdasarkan sejumlah saksi sejarah Masjid Agung berupa foto-foto tempo dulu yang diperolehnya dari kantor arsip Hindia Belanda, Masjid Agung memiliki satu ciri khas pada konstruksi bangunannya yang mirip Masjid Demak.

Fuzail Ayad menambahkan, penyebaran Islam di Jawa tidak terlepas dari peran Wali Songo. "Kecenderungan tersebut sangat kuat dari arsitektur bangunan Masjid Agung Indramayu yang menyerupai Masjid Demak hingga saat ini," tuturnya.(Odox/"KC") ***

Source : kabar-cirebon.com, Rabu, 10 Agustus 2010 - 01:02:19 WIB

Friday, August 5, 2011

SMK Unggulan Dikembangkan di 10 Titik Koridor Ekonomi

Jumat, 05 Agustus 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Dua di Antaranya di Bandung

SMK Unggulan Dikembangkan

di 10 Titik Koridor Ekonomi

JAKARTA, (PRLM), EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE - Program pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) unggulan dikembangkan di sepuluh titik di daerah koridor ekonomi. Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mencatat, dua di antaranya berada di Bandung.

Daerah koridor ekonomi lainnya dalam pengembangan SMK unggulan itu antara lain Palembang, Palangkaraya, Wonogiri, Situbondo, Probolinggo, dan Denpasar. “Sifatnya itu memperbesar SMK yang sudah ada,” ujar Direktur Pembinaan SMK Kemdiknas Joko Sutrisno dalam keterangan pers di Kantor Kemdiknas Senayan, Jakarta, Rabu (13/7).

Sementara itu, menyinggung jumlah peminat SMK, Joko mengungkapkan, angkanya menunjukkan peningkatan persentase dari tahun ke tahun. Tahun ini, peningkatannya mencapai 15 persen. “Sedangkan, paling tinggi terjadi pada 2008 dan 2009,” katanya seraya menuturkan pada tahun itu lompatannya bahkan mencapai 30 persen.

Lebih jauh, Joko mengatakan, mengenai tren peminat SMK sendiri mendaftar pada jurusan informatika dan otomotif. Namun, belakangan juga teknologi bangunan menunjukkan peningkatan.

Sebelumnya, Joko memaparkan, saat berlangsung Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, beberapa waktu lalu, sebanyak 27 SMK turut berkiprah, terdiri dari 22 SMK peserta pameran dan 5 SMK mengisi tarian.

Dalam ajang itu, selain menampilkan stan otomotif, juga dikenalkan karya batik dan teknik pembuatan batik tulis yang terkendali dengan komputer. (A-94/das)***

Source : Pikiran Rakyat Online, Kamis, 14 Juli 2011