Monday, March 16, 2015

Indramayu Diguncang Banjir Cimanuk


Banjir Indramayu
Rendam Tujuh Kecamatan di Kabupaten Indramayu
Senin, 16 Maret 2015 10:15 WIB
CIMANUK MELUAP – Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat,  meluap, sehingga tanggul jebol dan melumat tujuh kecamatan di Kota Mangga. Gambar memperlihatkan kondisi Sungai Cimanuk di Jembatan Brahim Sindang, Kecamatan Sindang. Foto-foto: Satim/Satimterus Online
INDRAMAYU, SATIMTERUS Online– Setelah sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dikabarkan dilumat banjir, kini menyusul sebagian wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat dihajar muntahan air sungai Cimanuk dan tanggul jebol. Akibatnya, tujuh kecamatan di Kabupaten Indramayu terendam banjir, Senin (16/03/2015) dini hari, menyusul jebolnya tanggul Sungai Cimanuk di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang dan Desa Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya.

Kemudian di Blok Pulo Desa Telukagung, Kecamatan Indramayu sejak Senin (16/03/2015) dini hari. sudah digemparkan dengan melubernya isi perut Sungai Cimanuk yang meluber melintasi tanggul sungai. Airnya muntah ke pemukiman penduduk. Selain itu, luberan sungai juga terjadi di sekitar Bendungan Bangkir Lawas (Balas), hingga muntahannya membuat saluran sekunder Rambatan Wetan dan Panyindangan Wetan meluber ke badan jalan.

Gejolak  Sungai Cimanuk tersebut memicu seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) berangkat menuju ke sejumlah titik lokasi banjir. Beberapa gerakannya direalisasikan dengan pengiriman bantuan karung dan sekitar 6 alat berat jenis beko diterjunkan ke lokasi bencana.
“Ini antisipasi langkah pertama dari dinas kami,” kata Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi (PSDA Tamben) Kabupaten Indramayu, Suwenda melalui Sekretarisnya, Dikdik Sudikna di kantornya, Senin (16/03/2015) siang.

Kepada puluhan wartawan, Dikdik mengatakan, kepala dinasnya sudah terjun ke lokasi bajir sejak pagi,”Beliau kabarnya berkeliling sambil mengawasi anak buahnya yang bekerja di lapangan yang sefang membantu mengatasi tanggul jebol dan luberan Sungai Cimanuk,” ungkapnya.

Senin siang itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Dr. H. Odang Kusmayadi MM  didampingi Kasi Sapras Sekolah Dasar Umar M. Amir juga melakukan peninjauan ke sejumlah sekolah  yang  dihajar banjir Cimanuk.

“Kami sudah kumpulkan data untuk bahan pelaporan. Karena banyak sekolah yang terpaksa diliburkan  akibat terendam air,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu , Odang melalui Kasi sapras Amir M. Umar di kantornya. Sementara itu,  Kepala BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana mengatakan, banjir terjadi Senin sekitar pukul 03.00 WIB. Ketika itu, tanggul Sungai Cimanuk di dua desa tersebut jebol sehingga air sungai langsung meluap ke pemukiman warga.

"Yang paling parah kena banjir di Kecamatan Jatibarang dan Kertasemaya, karena tanggul yang jebol di kecamatan tersebut," kata Edi melalui sambungan telepon, Senin (16/3/2015) siang,” tutur Edi seperti dikutip Tribun Jabar.

Diungkapkan, ketinggian air di Desa Pilangsari Kecamatan Jatibarang dan Desa Tulungagung Kecamatan Kertasemaya 2-3 meter. Ribuan rumah di dua desa tersebut pun terendam hingga yang terlihat hanya atap.

Sementara lima kecamatan lain yang kena banjir adalah Lohbener, Sindang, Pasekan, Bangodua, dan Tukdana. Kelima kecamatan tersebut terendam air dari rembesan tanggul Sungai Cimanuk. Meski yang lima kecamatan tak terlalu parah. (Satim)***




Wednesday, April 17, 2013

Maju Terus : Soeratin dan Semangat Perbaikan PSSI

Rabu, 17 April 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Soeratin dan Semangat Perbaikan PSSI
Oleh Football Fandom | Arena – 21 jam yang lalu
Foto Soeratin da
n bendera pertama PSSI. (Tempo/Seto Wardhana)
*Edisi 83 Tahun PSSI*

Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi
Pada 19 April 2013, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) genap berusia 83 tahun. Usia yang sudah tak bisa dibilang muda. Jika PSSI diibaratkan manusia, tentunya PSSI merupakan seorang yang sudah tua yang mungkin tinggal menunggu waktu untuk meninggalkan dunia selamanya.
Tetapi, sebagai organisasi yang membidani olahraga paling populer di Indonesia, PSSI tentunya tak boleh terlalu cepat menjadi memori sejarah. Organisasi ini perlu tetap eksis dan berkontribusi positif, seperti yang dicita-citakan oleh Ir. Soeratin, pendirinya.
Kondisi terkini sepak bola Indonesia jelas membuat miris hati kita, terlebih Ir. Soeratin yang sudah mencurahkan hidupnya semata untuk sepak bola Indonesia. Dia sudah berkorban banyak. Dia memimpin PSSI selama 11 periode (waktu itu kongres berlangsung setahun sekali) bukan karena politik uang atau nafsu berkuasa, melainkan karena dia dianggap sebagai orang yang mampu, punya totalitas, dan mampu mengayomi berbagai insan sepak bola Indonesia. Meskipun itu artinya harus mengesampingkan kehidupan pribadi.
Ir. Soeratin lahir di Yogyakarta, 17 Desember 1898. Lelaki bernama lengkap Soeratin Soesrosoegondo ini dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terpelajar. Ayahnya mengajar di Kweekschool, dan penulis buku “Bausastra Basa Jawi”. Soeratin pun tumbuh menjadi lelaki yang cerdas dan memiliki kesempatan untuk terus bersekolah — hingga mengenyam studi di Koningen Wilhelmina School di Jakarta. 
Selepas merampungkan studi di Wilhelmina, Soeratin meneruskan ke Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman pada tahun 1920. Dari sekolah inilah, Soeratin bisa lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1927 dan berhak menyematkan gelar Ir. di depan namanya.
Soeratin bukanlah orang yang lupa pada tanah air walaupun hidup di Jerman begitu nyaman. Pada 1928 dia kembali ke nusantara dan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka Belanda. Perusahaan jasa konstruksi ini membangun infrastruktur, seperti jembatan dan gedung di Tegal, Bandung dan beberapa daerah lain.
Pada masa itu pergerakan nasional sedang menggeliat setelah adanya Sumpah Pemuda tahun 1928. Sulit bagi Soeratin untuk tidak ikut terlibat. Ada keinginan untuk memanfaatkan ilmunya bagi tanah leluhur dan juga menghapuskan penjajahan di bumi nusantara.
Namun, bukan gerakan politik yang dipilih oleh Soeratin. Dia lebih memilih memanfaatkan olahraga sebagai sarana memupuk rasa persatuan. Sepak bola yang sudah populer kala itu dipilih sebagai olahraga yang dijadikan alat untuk menjalin hubungan antar pemuda di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih pula Soeratin merupakan penggemar olahraga sebelas lawan sebelas ini.
Pekerjaannya yang berpindah-pindah mempermudah Soeratin untuk menjalin komunikasi dengan kawan-kawan di daerah. Dia pun didukung penuh oleh keluarganya untuk terlibat dalam pergerakan nasional. Terlebih lagi istrinya, R. A. Srie Woelan, adalah adik kandung Dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo, organisasi pemuda masa pergerakan nasional.
Dalam waktu yang relatif cepat Ir. Soeratin sudah mampu menjalin komunikasi intens dengan tokoh sepak bola di daerah dengan basis sepak bola kuat seperti Jakarta, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Solo, Madiun, hingga Surabaya untuk mempermudah langkah mendirikan organisasi sepak bola yang bersifat nasional. Pertemuan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi untuk menghindari intel Belanda.
Akhirnya pada 19 April 1930, tokoh sepak bola dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI, yang ketika itu merupakan kependekan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Penggantian kata “Sepak Raga” menjadi “Sepak Bola” baru dilakukan saat kongres Solo tahun 1950. Kongres di Yogyakarta sendiri dihadiri oleh Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ, yang kini kita kenal dengan nama Persija), BIVB Bandung (Persib), PSIM Mataram, PPSM Magelang, VVB Solo (Persis), IVBM Madiun, serta SIVB Surabaya (Persebaya).
Setelah terbentuk PSSI, kemudian diselenggarakan kompetisi sepak bola yang bersifat nasional secara rutin mulai tahun 1931. Dengan diadakannya kompetisi ini bisa menarik minat berbagai klub sepak bola yang sebelumnya belum bergabung menjadi bergabung dengan PSSI. Organisasi ini juga aman dari pengawasan Belanda yang mulai melarang organisasi politik. Klub sepak bola Hindia Belanda pun sering melakukan latih tanding dengan klub anggota PSSI.
Saat itu PSSI bukannya tanpa masalah. Pernah ada dualisme seperti yang terjadi saat ini. PSIM Mataram pernah berselisih dengan PSSI pimpinan Soeratin, sebagaimana dituliskan dalam artikel Pandit Football ini. Pada tahun 1934, PSIM keluar dari PSSI dan membentuk Persatuan Olah Raga Indonesia (Porsi). PSSI menyikapinya dengan membentuk Persim Mataram. Namun, akhirnya PSIM kembali bergabung ke PSSI pada tahun 1937.
Ketika mulai sibuk dengan kegiatan di sepak bola, Soeratin pun keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia kemudian mendirikan usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Tetapi usaha itu hancur setelah Jepang datang. Perang berlangsung, Soeratin pun bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat itu PSSI dinonaktifkan dan berada di bawah Taiikukai, asosiasi olahraga Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Ir. Soeratin menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api. PSSI pun aktif kembali. Sayangnya, Soeratin tidak terus hidup layak. Beliau meninggal dalam kemiskinan dan kesunyian. Tahun 1959, beliau akhirnya meninggal di rumahnya yang amat sederhana di jalan Lombok Bandung yang berdindingkan bambu 4x6 meter setelah berjuang melawan penyakitnya yang sempat tak terobati lantaran tidak mampu menebus obat.
Hingga kini belum ada usaha maksimal menghargai jasa Soeratin selain namanya diabadikan di Piala Soeratin, kejuaraan junior. Dia sempat diusulkan sebagai pahlawan nasional melalui Rapat Paripurna Nasional PSSI 2005 (Kep/09/Raparnas/XI/2005) tetapi sayang, hingga kini gelar itu belum diperoleh karena masalah administrasi.

Tetapi dengan gelar pahlawan nasional atau tidak, dengan namanya disematkan sebagai nama stadion sepak bola atau tidak, nama Soeratin — dengan kelebihan dan kekurangannya — tetap akan harum di Indonesia, terlebih bagi publik pecinta sepak bola.*** 
Source : Footbal Fandom, Rabu, 17 April 2013
BACA JUGA:



Friday, March 22, 2013

Budaya Nusantara : Ritual "Erau Pelas Benua Guntung" Bontang Kalimantan Timur

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Budaya
Ritual "Erau Pelas Benua Guntung"
Bontang Kalimantan Timur
Upacara ini menampilkan tarian budaya khas masyarakat Dayak dan Kutai.
Kamis, 21 Maret 2013, 10:37 WIB
Posting Terkait :
VIVAlog - Pertama kali datang ke Bontang, Kalimantan Timur, semangat ingin tahu masih sangat menggebu-gebu. Salah satunya saat diajak melihat upacara Erau Pelas Benua Guntung. Mengapa di belakangnya ditambah kata "Guntung"? ini menunjukkan perbedaan wilayah dengan Erau Pelas Benua provinsi yang setiap tahunnya dilakukan oleh Kesultanan Kutai di Tenggarong.
Guntung merupakan satu-satunya bagian Kota Bontang yang sebagian besar warganya masih keturunan Kutai. Letaknya pun didekat perbatasan wilayah Kutai Timur. Namun seiring perkembangan, wilayah ini mulai bercampur dengan suku-suku lainnya, baik dari Kalimantan maupun luar Kalimantan.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Menteri Pertahanan Malaysia Wong Jawa

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Menhan Malaysia: Tiang Jawi Njih Saget Jawi
Menhan Malaysia dan Wali Kota Yogyakarta terhitung sepupu.
Jum'at, 22 Maret 2013, 00:12 Arfi Bambani Amri, Daru Waskita (Yogyakarta)
Menhan Malaysia Ahmad Zaid Hamidi (VIVAnews/ Daru Waskita)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kalimat "Tiang Jawi njih saget Jawi" atau berarti orang Jawa bisa berbahasa Jawa meluncur dari mulut Menteri Pertahanan Malaysia Dr Ahmad Zaid Hamidi. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas di Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, pun tersenyum simpul mendengarnya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi pun bercerita bahwa dia sangat pandai berbahasa Jawa karena kakeknya asli dari Serang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. "Bapak kulo asli Wates, ibu kulo asli Ponorogo (Bapak saya asli Wates dan ibu saya asli Ponorogo--red)," katanya saat ramah tamah dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta usai berziarah, Kamis petang, 21 Maret 2013.
"Monggo diunjuk minumannya (Mari diminum minumannya--red)," kata Zaid melanjutkan.
Datuk Zaid bercerita, di Malaysia dia menetap di Bagan Datu, Negara Perak. Di daerah itu, 90 persen warganya keturunan Jawa seperti dari Wates, Ponorogo, dan Tegal. "90 Persen warga yang tinggal di Bagan Datuk itu orang Jawa, maka saya juga pandai bahasa Jawa," katanya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi menjelaskan, kakeknya merantau dari Wates ke Malaysia pada tahun 1932. Tujuannya untuk kehidupan yang lebih baik.
Di Malaysia, kakeknya membuka perkebunan dan berhasil sehingga menjadi orang yang kaya. Kekayaan yang dimiliki sebagian untuk membangun masjid, sarana pendidikan atau pesantren. "Jadi saya yang sekarang meneruskan," katanya.
Kakeknya ini satu bapak dengan kakek Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. "Yo podo Mbah Buyut dengan Pak Walikota Yogya ini," katanya dengan logat Jawa yang kental.
Endro "kimpling" Suseno, sahabat dari Menhan Malaysia, mengatakan bahwa keluarga dari Menhan Malaysia ini merupakan trah dari Keraton Yogyakarta. Trah ini dibuktikan kepemilikan surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta yang masih dalam tulisan Jawa.
"Setelah dicek ke Keraton Yogyakarta, ternyata benar bahwa keluarga Menhan masih kerabat Keraton Yogyakarta. Saat ini surat kekancingan telah diubah dalam Bahasa Indonesia," katanya singkat.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Sunday, December 9, 2012


Minggu, 09 Desember 2012
BUBUR SURA – Jenis Bubur Sura seperti tampak dalam gambar hanya ada di Bulan Sura, dan tahun 2012 ini bertepatan dengan Bulan November 2012.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online
BUBUR SURA
Warga Desa Pesta Bubur Sura
INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Sejak awal hingga akhir Bulan Sura, warga desa di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih melakukan pesta adat ritual dengan memasak bubur “Sura”. Pesta adat yang, konon, sudah ribuan tahun secara turun-temurun itu, katanya sih dalam rangka mengenang kembali bencana alam terbesar di dunia pada jaman Nabi Nuh. Nah, sebagian masyarakat di Kota Mangga Indramayu menginginkan,  sekarang ini bisa hidup aman dan damai tanpa bencana.
Untuk menghindari bencana banjir bandang seperti peristiwa di jaman Nabi Nuh tersebut, sebagian kalangan secara bergotong-royong memasak bubur yang bercampur dengan berbagai jenis makanan lainnya yang mereka sebut “Bubur Sura”. Karena jenis bubur ini hanya ada di setiap Bulan Sura.
Pemantauan Ekspedisi Humaniora Online di Bulan Sura atau tahun ini kebetulan jatuh di Bulan November  2012, tak sedikit pula warga yang mampu dan terpandang secara turun-temurun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Selain itu, para Kuwu (Kepala Desa) yang masih aktif terkesan wajib membuat bubur Sura. Buburnya kemudian dibagi-bagikan kepada warga yang ada di desanya. Bahkan, para mantan kuwu pun  masih punya kewajiban membuat bubur Sura.
“Pada Minggu ini, saya pun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Ini bagian dari kewajiban kami selaku Kuwu. Lihat saja sejumlah warga sedang pada memasak bubur Sura,” kata Narsito, Kuwu Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Minggu (09/12/2012) sore.
Narsito menjelaskan, bahwa pesta adat seperti itu sudah berlangsung turun-temurun sejak dulu. Intinya, mengenang kembali peristiwa bencana banjir bandang pada jaman Nabi Nuh. “Pembuatan bubur Sura itu hanya simbol saja sebagai penolak bala agar terhindar dari musibah serupa. Yang selamat, hanya orang-orang yang takwa dan mau mengikuti ajaran agama yang diemban Nabi Nuh. Nah, keterkaitan dengan bubur Sura, intinya, mari bersama-sama menciptakan ketakwaan kepada Allah Swt sambil tetap memupuk kegotong-royongan demi kemajuan bersama,” kata Narsito.
Campuran
            Bubur Sura tersebut, tergolong bubur yang unik dan hanya ada di Bulan Sura. Meski warnanya nyaris serupa dengan bubur ayam yang banyak dijual orang. Biasanya berwarna kuning karena pewarna dari kunyit yang berwarna kuning. Tapi yang dicampur di Bubur Sura berbeda dengan bubur ayam.
            Campuran Bubur Sura berbagai macam makanan yang ada, tergantung kondisi bahan masakan yang ada di dapur. Biasanya, campuran Bubur Sura seperti Kelungsu (biji asam matang), kentang, jagung, kol, buncis, soun, pepaya, dan lain-lain. Dicampur jadi satu dan dimasak hingga matang. Lalu di atasnya diberi soun, gorengan parutan kelapa, rasa pemedas, dan lain-lain. Rasanya lezat dan gurih.
            Keunikan lainnya, warga yang datang dan bergoting-royong ikut memasak biasanya sambil membawa beras dengan sejumlah bahan makanan yang siap dicampur untuk membuat bubur sura tersebut. (Satim)***

Friday, June 29, 2012

Jumat, 29 Juni 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
KHASIAT BUAH BIDARA
POHON BIDARA atau WIDARA – Pohon Widara atau Bidara banyak tumbuh di sepanjang tepi jalan di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain itu, banyak tumbuh pula di sejumlah pekarangan perkantoran dan penduduk setempat. Seperti tampak dalam gambar, pohon Bidara yang tumbuh di belakang kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu. Buahnya banyak dan banyak dimanfaatkan untuk obat kewanitaan. Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
BUAH BIDARA – Buah bidara yang sudah matang tampak berwarna merah. Namun yang masih hijau lebih kecil dibamding dengan yang sudah masak secara alami.Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
INDRAMAYU -  Mungkin banyak orang yang tidak tahu jika buah Bidara atau Widara itu, sebetulnya sangat berkhasiat bagi kesehatan wanita, terutama bagian pengobatan kewanitaan. Namun sebagian orang, justru memanfaatkan buah Widara untuk penyembuhan keputihan dan untuk pengobatan yang mengandung sari rapet demi semakin membuat gairah dalam hidup berumah tangga.
            Pengakuan demikian seperti yang dilontarkan Ny. Nety (45), warga Indramayu kepada tim Ekspedisi Humaniora Online, Kamis (28/06/2012) sore. Menurutnya, buah Widara menjadi menu hampir setiap hari untuk menjaga kesehatan kewanitaannya.
            “Biar rasanya agak sepet, tapi khasiatnya lumayan,” katanya, singkat.
            Dan Kamis sore itu, Nety mengumpulkan sejumlah buah Widara yang jatuh ke tanah di halaman belakang kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, untuk di bawanya pulang.(Satim)***

Tuesday, April 24, 2012

Jembatan Bojongsari Indramayu Diduga Akan Berganti

Selasa, 24 April 2012

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jembatan Bojongsari Indramayu

Diduga Akan Berganti

Jembatan Bojongsari Indramayu – Kondisi Jembatan Bojongsari di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kondisinya saat ini masih seperti yang dulu sewaktu pertama kali dibangun sekitar tahun 1990-an, atau sebelum dibangunnya Waduk Bojongsari. Sedangkan Waduk Bojongsari mulai dibangun sekitar tahun 2002 hingga tahun 2003, dan pertama kalinya digunakan untuk arena lomba dayung pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX Provinsi Jawa Barat pada Juli 2003. Untuk masa mendatang, konon, Jembatan Bojongsari itu akan berganti bentuk yang kabarnya bernilai artistik. Namun, pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu belum bisa memastikan soal waktu pembangunan jembatan itu. Gambar diambil, Kamis (01/03/2012) pagi.(Satim)*** Foto : Satim/Satimterus.blogspot.com

Friday, February 24, 2012

Tradisi Dilarang Panen Hari Jumat

Jumat, 24 Februari 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Tradisi Panyindangan Wetan

Dilarang Panen Hari Jumat,

Melanggar Kena Denda !

SAWAH SEPI – Karena hari Jumat, situasi dan kondisi di sawah di Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, terlihat sepi. Padahal, sejak awal Februari 2012 tengah panen raya. Para petani setempat memilih tinggal di rumah dan liburan bersama keluarga. Konon, ada pantangan dari dulu secara turun-temurun. Setiap hari Jumat, para petani dilarang memotong padi atau panenan. Jika melanggar, sanksinya kena denda yang dilakukan aparat desa setempat. Hasil panennya akan disita menjadi milik Pemerintahan Desa Panyindangan Wetan. Seperti tampak dalam gambar yang diambil Jumat (24/02/2012) pagi, tidak ada petani yang berani panen di hari Jumat itu.(Satim)*** Foto-foto : Satim

Monday, December 19, 2011

Laporan Akhir Tahun 2011 : Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

Senin, 19 Desember 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Laporan Akhir Tahun 2011

Meriam Peninggalan Sejarah di Pendopo Indramayu

MENGAMATI MERIAM – Beberapa wartawan, Jumat (16/12/2011) sore, mencoba mengamati dan berfose di senjata berat meriam bersejarah peninggalan penjajahan Belanda sekitar Abad XVI. Dalam meriam yang diduga terbuat dari besi campur baja itu, tertulis 1768 dengan beberapa tulisan yang diduga berbahasa Belanda.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online

Wednesday, November 23, 2011

Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu

Rabu, 23 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA

Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu

DINAS CIPTA KARYA – Kondisi Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat pada suatu sore. Gambar diambil Jumat (8/7/2011) sore. (Satim)*** Foto : Satim

Adun Sastra Ketua PWI Indramayu

Selasa, 22 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA

Adun Sastra Ketua PWI Indramayu

Adun Sastra SH, Ketua PWI Perwakilan Indramayu Periode 2011-2014. Adun terpilih dalam Konferensi PWI Perwakilan Indramayu yang digelar di Hotel Wiwi Perkasa Indramayu, Kamis (10/11/2011) siang. (Satim)*** Foto : Satim

Friday, November 18, 2011

Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu

Jumat, 18 November 2011

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

MEJA GAMBAR DULU – Meja gambar dulu yang kini sudah berlalu karena tak digunakan lagi. Tampak dalam gambar yang diambil Selasa (15/11/2011) siang, seorang karyawan pada Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat tengah mencoba menggunakan meja gambar bermerk MUTOH itu. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com

Meja Gambar Dulu Yang Sudah Berlalu

INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Keberadaan meja gambar untuk para arsitek, saat ini tampaknya sudah banyak ditinggalkan oleh penggunanya. Berkat kecanggihan teknologi, telah mengubah gaya para perancang bangunan yang sebelumnya menggunakan meja gambar hodrolik dan yang banyak digunakan merk MUTOH, kini beralih ke komputer dengan menggunakan program desainer sistem Auto Cad. Seperti tampak dalam gambar, keberadaan meja gambar di Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, tampaknya sudah tak digunakan lagi. Para perancang bangunan yang berada di ruangan Bidang Perencanaan pada Dinas Cipta Karya Kota Mangga itu, saat ini sudah pada beralih ke komputer. Konon, selain praktis, ekonomis, serta tidak menguras banyak tenaga. (Satim)*** Foto-foto : Satim/satimterus.blogspot.com

Saturday, August 20, 2011

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jejak Teks Proklamasi di Cirebon

Oleh : Sukardi

PROKLAMASI Cirebon dikumandangkan 2 hari lebih awal dari proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur Jakarta. Jika Proklamasi Jakarta dibacakan oleh seorang arsitek yaitu Ir. Soekarno, maka Proklamasi Cirebon dibacakan oleh seorang dokter yaitu dr. Soedarsono. Bunyi teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon relatif berbeda dengan teks proklamasi yang dibacakan di Jakarta. Teks proklamasi yang dibacakan di Cirebon terdiri dari 300 kata yang pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintah kolonial lain. Demikian komentar Sutan Sjahrir saat ditanya tentang bunyi teks Proklamasi Cirebon yang dia susun (bersama aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia lainnya).

Informasi proklamasi Cirebon yang dibacakan dan dihadiri oleh 150 orang dengan mengambil tempat tepat di tugu berwarna putih dengan ujung lancip menyerupai pensil dekat Alun-alun Kejaksan tersebut bisa dibaca dalam buku Sjahrir, "Peran Besar Bung Kecil" terbitan Majalah Tempo (edisi Desember 2010). Meski teks Proklamasi Cirebon itu --menurut penuturan Sjahrir sendiri-- hilang, sehingga otensitas peristiwa Proklamasi Cirebon tidak bisa terekam dengan baik seperti halnya Proklamasi Jakarta. Tetapi paling tidak ada satu indikasi kuat bahwa proklamasi kemerdakaan Indonesia memang murni dari aspirasi rakyat Indonesia, bukan pemberian penjajah Jepang atau Belanda. Proklamasi Jakarta merupakan akumulasi dan desakan rakyat segenap penjuru Tanah Air tentang kebutuhan menghirup udara bebas dari tekanan bangsa lain.

Dan menurut beberapa sumber, proklamasi yang dikumandangkan di Jakarta atau di Cirebon tersebut terjadi tepat pada saat rakyat Indonesia sedang melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan republik ini terjadi ketika mayoritas penduduknya sedang memperbanyak tadarus, bersalatul lail, memperbanyak sedekah serta pelaksanaan ritus-ritus keagamaan lainnya.

Fakta Proklamasi Cirebon yang dikumandangkan 2 hari sebelum Proklamasi Jakarta dan dibaca oleh seorang dokter makin meneguhkan tesis bahwa Cirebon memang layak disebut sebagai kota revolusi dengan masyarakat yang terdidik. Pasalnya, latar belakang keberadaan padepokan milik Sunan Gunung Jati yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, kanuragan dan kemandirian dalam berbisnis dan kemudian berlanjut dengan pendirian pondok-pondok pesantren oleh para keturunannya, sedikit banyak membentuk kultur masyarakat yang berani menghadapi risiko dibantai Jepang karena menyatakan kemerdekaan. Bukan rahasia kalau pendudukan Jepang yang hanya beberapa tahun jauh lebih bengis dibandingkan dengan penjajahan Belanda yang mencapai ratusan tahun.

Keberanian wong Cerbon memproklamirkan kemerdekaan tidak lepas dari adanya berkah Tuhan yang melimpah turun pada bulan Ramadhan serta kecerdasan para pemimpin masyarakat ketika itu dalam mengaktualisasikan ajaran agama. Perintah iqro (membaca) yang menjadi perintah awal kenabian dan yang turun pada bulan Ramadhan tidak dipahami hanya sebatas membaca teks agama, tetapi juga membaca dan memahami konteks masyarakat. Para aktivis atau pemimipin bisa memberikan pandangan serta meyakinkan masyarakat bahwa pelaksanaan ritus-ritus agama, keselamatan jiwa, kelanjutan keturunan, pengembangan akal budi serta harta mereka tidak akan bisa dijalankan secara optimal apabila masih dalam tekanan penjajah.

Belajar dari sejarah

Perayaan proklamasi tahun ini kebetulan bersamaan waktunya dengan pelaksanaan ibadah puasa, persis seperti ketika pertama kali teks proklamasi dibacakan. Nuansa euforia berbalut kebangsaan yang kental tak pelak akan lebih terasa dibandingkan dengan perayaan proklamasi selain bulan Ramadhan. Perayaan proklamasi di bulan Ramadhan dipastikan minus dari hura-hura yang menghabiskan dana belasan, bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Pentas musik yang tak jarang dibarengi dengan liukan pinggul para penyanyi seksi diiringi pelototan mata anak-anak dan sorot birahi tanpa kendali dari para pemuda karena pengaruh alkohol relatif berkurang.

Segenap elemen warga negara memang seharusnya bisa melakukan perenungan lebih baik atas makna kemerdekaan yang direbut dengan darah, harta dan nyawa tersebut. Setelah lebih dari setengah abad merdeka, apakah semua orang yang hidup di bawah bendera republik ini sudah merdeka secara utuh? Apakah perlindungan negara terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan kepada semua warganya sudah memadai?

Membincang negara berarti secara otomatis membicarakan persoalan pemerintah, wilayah dan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah pemerintah sudah mengoptimalkan layanannya kepada masyarakat, apakah masyarakat sudah menaati kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, apakah pemerintah dan rakyat memiliki ketahanan untuk mempertahankan wilayah, dan berbagai pertanyaan lain yang muaranya berpangkal pada sinergitas antara pemerintah dan rakyat?

Secara substantif, musuh sebelum dan sesudah dibacakan teks proklamasi relatif sama, yakni ancaman terhadap keberadaan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta, bedanya jika sebelum proklamasi musuhnya lebih konkret yaitu serdadu Jepang atau Belanda. Sementara pascaproklamasi bentuk ancamannya lebih kompleks dan beragam. Bercermin dari kesuksesan proklamasi di mana antara para pemimpin pergerakan dan rakyat bersatu, maka supaya berhasil menghadapi musuh bersama sekarang ini, perlu dibangun kolaborasi harmonis serta kesamaan sudut pandang antara rakyat dengan para pemimpinnya, baik pemimpin formal yang ada di birokrasi pemerintahan atau pemimpin non formal yang ada di masyarakat.

Ancaman terhadap keberadaan agama, bisa jadi berasal dari paham atau ideologis komunis serta tindakan pengeboman tempat-tempat ibadah. Ancaman terhadap keberadaan keturunan, bisa berbentuk penyebaran virus HIV atau kehidupan seks bebas. Ancaman keberadaan harta, dalam bentuk korupusi dana rakyat, pencurian, perampokan serta penjarahan, dan sebagainya.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi terhadap ancaman ini akan menumbuhkan sikap saling menghargai yang berujung pada kohesivitas antara para tokoh dan masyarakatnya terhadap berbagai perilaku yang mengancam kemaslahatan negara. Persoalan penyebaran virus HIV tidak hanya menjadi urusan kementerian kesehatan dan LSM peduli AIDS tetapi juga menjadi urusan para tokoh agama dan masyarakat luas. Perlawanan terhadap koruptor yang merampok dana-dana rakyat tidak hanya menjadi urusan kementerian hukum dan LSM tetapi juga menjadi urusan tokoh agama dan masyarakat luas. Tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya harus mulai menjadi garda terdepan dengan menggunakan bahasa yang lebih vulgar dalam menyuarakan penentangan terhadap penyimpangan sosial yang terjadi di negeri ini seraya memberikan solusi.

Kolaborasi dan kesamaan persepsi akan berdampak pada berjalannya mekanisme sistem sosial yang memiliki nilai-nilai luhur keindonesiaan di tengah masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap perilaku dan ajakan kelompok yang akan menggoyahkan sendi-sendi negara--seperti pendirian Negara Islam Indonesia misalnya---akan lebih kuat. Regulasi yang dibuat pemerintah akan selalu berpihak kepada rakyat secara luas. Para pejabat akan terjauh dari perilaku yang merugikan rakyat dengan memperkaya diri atau kelompok politiknya, dan para aktivis LSM akan cepat melakukan audensi atau kritik kepada para pejabat pemerintah yang dianggap menyimpang.

Kalau semua pemimpin dan rakyat sudah menyadari peran dan posisinya masing-masing maka kesejahteraan masyarakat pun akan lebih terjamin. Kue pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, dan perayaan proklamasi pun tidak lagi menyisakan jeritan anak-anak dari keluarga miskin yang tidak bisa mengenyam sekolah karena mahhalnya biaya pendidikan. Momentum perayaan proklamasi di bulan Ramadhan tahun ini bisa menjadi titik awal untuk menggapai kondisi tersebut. Wallahu a'lam.***

*) Sukardi, guru SMA Negeri 4 Kota Cirebon

Source : Kabar Cirebon.com, Sabtu, 20 Agustus 2011 - 01:26:08 WIB