Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Monday, November 2, 2009

China Gelar KTT Media Sedunia

KTT Media Sedunia digelar di Balai Rakyat (Great Hall) China, 8-10 Oktober 2009. KTT diikuti 170 organisasi media dari sejumlah negara. (Foto : Kompas/Budiman Tanurejo)***

KTT MEDIA SEDUNIA

Upaya China Menarik Perhatian Dunia

Oleh : Budiman Tanuredjo

Bandara Internasional Capital Beijing sudah sepi ketika pesawat Singapore Airlines mendarat di Ibu Kota Republik Rakyat China, Rabu (7/10) tengah malam. Pesawat SQ boleh jadi adalah penerbangan terakhir yang mendarat di Bandara Capital Beijing setelah menempuh perjalanan 6 jam lebih dari Bandara Changi, Singapura.

Tampak beberapa petugas bandara masih menggunakan masker, khususnya di pos kesehatan. Virus H1N1 masih menjadi momok menakutkan bagi Pemerintah China. Setiap penumpang diwajibkan mengisi formulir yang berisi catatan kondisi kesehatan, termasuk rencana pengunjung yang akan tinggal di China. Alat pengukur suhu badan dipasang di jalur penumpang. Semuanya diperiksa detail!

Kedatangan saya ke Beijing adalah atas undangan Kantor Berita China, Xinhua, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Media Sedunia, 8-10 Oktober 2009. Konferensi itu dipusatkan di Gedung Balai Rakyat (Great Hall) China. Di luar bandara, Rhine, mahasiswa China, sudah menunggu untuk menjemput saya menuju tempat penginapan di Hotel Grand Beijing.

Grand Beijing adalah hotel mewah yang letaknya di pusat kota. Lokasi Hotel Grand Beijing tak sampai 500 meter dari Lapangan Tiannanmen yang pada tahun 1990-an kesohor sebagai tempat terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Sekitar 20 tahun lalu—tepatnya 4-6 Juni 1989—terjadi pembantaian mahasiswa prodemokrasi China oleh Tentara Pembebasan Rakyat.

Meski mata sudah mengantuk karena badan lelah, Rhine menjelaskan agenda acara KTT Media Sedunia. Di dalam mobil Audi yang hangat—temperatur diatur 23 derajat celsius, sementara suhu udara di luar 12 derajat—Rhine menceritakan kemajuan China. ”Negeri ini tetap komunis, tapi secara ekonomi maju,” ucapnya.

Perjalanan dari Bandara Capital Beijing hingga hotel ditempuh sekitar 45 menit. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan lampu-lampu jalan dengan berbagai hiasan, yang didominasi warna merah, masih menyala terang benderang. Gedung pencakar langit menjulang di sepanjang perjalanan dari bandara. Jalan-jalan tol menghubungkan satu tempat ke tempat lain di Beijing,

Pekan itu, Beijing memang sedang pesta. Ketika saya tiba, Beijing baru saja memperingati 60 tahun Republik Rakyat China yang dipusatkan di Lapangan Tiannanmen, 1 Oktober 2009. Selama satu pekan, 1-8 Oktober, dijadikan hari libur resmi. Lalu lintas masih ramai. Rombongan pejalan kaki masih memadati jalan raya itu. Rasa dingin tampaknya tidak memengaruhi para wisatawan tersebut. Mereka tetap berjalan-jalan di tengah malam. ”Ini jalan terbesar di Beijing,” ucap Rhine menjelaskan jalan raya di mana Hotel Grand Beijing terletak.

Pertama kali

Masih dalam rangka peringatan 60 tahun Republik Rakyat China itulah Beijing menggelar KTT Media Sedunia. Diskusi tentang KTT Media Sedunia itu diinisiasi sejumlah raksasa media dunia saat mereka bertemu di Beijing berbarengan dengan pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008.

Para inisiator KTT Media Sedunia itu adalah Rupert Murdoch (CEO News Corporation), Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger, Direktur Jenderal ITAR-TASS Vitaly Ignantenko, Direktur Divisi BBC Global News Richard Sambrook, Presiden Associated Press Thomas Curley, dan Presiden Kantor Berita Kyodo Satoshi Ishihawa. Mereka hadir kembali di Beijing dalam KTT sebagai co-chairman. Sedangkan sebagai pimpinan KTT adalah Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun.

Masa depan media di tengah krisis ekonomi global dan perkembangan teknologi komunikasi menjadi isu sentral yang dibawakan dalam KTT Media tersebut. Media memang sedang dihadapkan pada era yang berubah. Perkembangan teknologi komunikasi dan merosotnya perekonomian dunia mengharuskan pengelola media mengantisipasi masalah tersebut.

KTT Media Sedunia yang pertama kalinya diadakan di Beijing. Mereka yang hadir mayoritas adalah kantor berita, televisi, radio, dan surat kabar. Biasanya, pertemuan internasional mengenai media digelar oleh World Association Newspaper (WAN) yang berbarengan dengan World Editor Forum (WEF) yang pada 2009 diadakan di Hyderabad, India, 30 November-3 Desember 2009.

Selain saya dari Indonesia, CEO Antara Ahmad Muklis Yusuf, Wakil Pemimpin Redaksi Antara Akhmad Khusaeni, dan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan juga hadir dalam pertemuan yang difasilitasi Kantor Berita Xinhua itu. Semua delegasi diinapkan di Hotel Grand Beijing dan Hotel Beijing yang lokasinya bersebelahan.

Demi untuk menyukseskan KTT Media Sedunia, Rhine menjelaskan, Xinhua mengerahkan 200 tenaga sukarela untuk mendampingi tamu-tamu Xinhua dari 170 negara di berbagai belahan dunia. Seorang tenaga sukarela—mereka adalah mahasiswa China yang belajar berbagai bahasa, seperti Inggris, Perancis, dan Arab—dikerahkan untuk mendampingi para pemimpin media dan kantor berita sedunia.

Safari pidato

KTT Media dibuka oleh Presiden Republik Rakyat China Hu Jintao dan dilanjutkan dengan safari pidato dari Ketua KTT Li Congjun dan para Wakil Ketua KTT dari Rupert Murdoch hingga John Liu, Wakil Presiden Google Inc. Hari pertama KTT ditandai dengan safari pidato yang diawali dengan pidato pembukaan dari Presiden China Hu Jintao. Presiden Hu menyerukan organisasi media global untuk menyerukan perdamaian dunia dan pembangunan.

Presiden Hu juga berharap pertemuan akan membantu untuk memperkuat kerja sama di antara media global, memacu lahirnya media industri global, dan membangun saling pengertian yang mendalam serta persahabatan di antara bangsa-bangsa. Terhadap organisasi media internasional, Presiden Hu menjanjikan akan melindungi media internasional untuk melakukan peliputan di China sesuai dengan peraturan yang berlaku di China.

Hu juga mengatakan, tantangan dunia berubah akibat krisis finansial global, ketidakseimbangan pembangunan, krisis pangan, dan terorisme. Kondisi itu menuntut tanggung jawab bersama media untuk bersama membangun dunia yang harmonis, perdamaian abadi, dan kesejahteraan umum. Pandangan senada disampaikan Presiden Kantor Berita Xinhua Li Congjun. Li mengangkat tema tanggung jawab sosial media.

Seakan merespons pandangan Hu Jintao dan Li Congjun, Pemimpin Redaksi Reuters David Schlesinger justru meminta China untuk mengembangkan sistem ekonomi yang lebih transparan. Masuknya China dalam sistem keuangan global menuntut adanya transparansi dalam statistik serta data-data keuangan karena pasar keuangan global menuntut data yang pasti dan bukan berdasarkan rumor. ”Transparansi menjadi salah satu kunci,” kata Schlesinger yang meminta China untuk membuka akses lebih besar terhadap wartawan asing di China. Selama ini, kata Schlesinger, terjadi perbedaan perlakuan antara wartawan China dan wartawan asing di China.

Saat berbicara di forum tersebut, Rupert Murdoch yang menyebut forum KTT Media sebagai ”Olimpiade Media” justru mengangkat tema lain yang mengentak. Raksasa media dari Australia justru berteriak keras terhadap para agregator yang mengambil begitu saja berita tanpa membayar. ”Mereka harus membayar karena ikut menggunakan berita-berita yang kita buat,” ujar Murdoch di atas podium. ”Bila kita tak bisa mengambil keuntungan, maka kita akan mengalami kerugian dan para kleptomania akan senang,” ujarnya seraya menyebut GoogleNews. John Liu dari Google yang berada di sudut paling kiri meja panelis hanya tersenyum ketika Murdoch berteriak perlunya membayar untuk menggunakan berita.

KTT Media Sedunia itu sendiri ditutup 10 Oktober. Dalam pernyataan bersamanya, KTT Media menyerukan agar organisasi media dunia memberikan informasi yang akurat, obyektif, tidak berpihak, serta liputan yang berimbang dalam berbagai peristiwa dunia yang terjadi. Namun, pada sisi lain, KTT Media Sedunia juga harus terus mempromosikan perlunya transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah serta perlunya membangun saling pengertian antarbangsa.

Citra

Apa yang didapat dari KTT Media Sedunia? Dong Guan Peng, analis dari Tsinghua University, menyebut forum KTT Media Sedunia adalah sebuah forum bagi pimpinan media dunia, termasuk pemimpin China, untuk mengenal lebih dekat para pemimpin raksasa media global.

”China memang mempunyai masalah dalam citra tentang dirinya,” kata Dong Guan, sebagaimana dikutip The Strait Times. Dong mengemukakan, ”Saya yakin beberapa dari tokoh media yang diundang sebagian dari antaranya belum pernah ke China. Saya terkejut dan berharap setelah mereka melihat kondisi riil China, maka bias terhadap berbagai tulisan tentang China akan sedikit berkurang.”

Politik pencitraan boleh jadi menjadi salah satu agenda Pemerintah China, selain motif ekonomi. China memang dikenal tidak ramah dengan ide-ide Barat soal transparansi dan kebebasan pers. Pers di China dikontrol sepenuhnya oleh negara. Selama berada di Beijing, hampir semua saluran televisi adalah CCTV. Tak ada CNN, BBC, atau Al-Jazeera yang bisa dinikmati.

Namun, kemampuan China menghadirkan sejumlah raksasa media dunia dan pada tahun 2008 menggelar Olimpiade Beijing telah menunjukkan kesuksesan China mengubah pandangan dunia tentang Negeri Tirai Bambu tersebut. Lapangan Tiannanmen yang 20 tahun lalu dikenal sebagai ladang kekerasan bagi mahasiswa prodemokrasi China kini telah diubah sebagai tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan asing selain Tembok China.

”China memang sukses mengubah citra diri mereka,” ujar seorang delegasi Indonesia. Lautan manusia dari berbagai penjuru dunia—mayoritas berwajah oriental—yang berada di Tiannanmen bak penziarahan manusia. ”Itu semacam penziarahan,” ujar seorang wartawan dari Senegal.

KTT Media 8-10 Oktober itu ditutup dengan mengunjungi tempat ternama di China, seperti The Forbidden City dan Tembok China. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:40 WIB

China Ibarat "Naga" Dengan Lidah Api Yang Siap Melahap Pangsa Pasar Produk Teknologi Komunikasi

Perusahaan teknologi telekomunikasi di China, Huawei Technologies Co Ltd, menempatkan stan pameran di tempat pameran komunikasi dan nirkabel di Beijing, China, Kamis (17/9). Ribuan pengunjung memadati pameran teknologi telekomunikasi tersebut. (Foto : Kompas/Ferry Santoso)***

STRATEGI

China Lahap Pasar Telekomunikasi

Oleh : Ferry Santoso

China tidak hanya unggul menghasilkan produk-produk manufaktur, seperti barang-barang konsumsi rumah tangga, tetapi juga unggul dalam memproduksi teknologi telekomunikasi dan sudah menjadi ”pemain” dunia.

Saat ini China ibarat ”naga” dengan lidah api yang siap melalap dan melahap pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Salah satu perusahaan penyedia solusi jaringan teknologi telekomunikasi di China yang menguasai sebagian pasar dunia adalah Huawei Technologies Co Ltd.

Huawei Technologies—didirikan tahun 1988—bermarkas di kota Shenzhen, China. Sejak didirikan, Huawei Technologies mampu mengembangkan teknologi telekomunikasi dari jaringan infrastruktur telekomunikasi, perangkat lunak, sampai produk-produk telekomunikasi seluler, seperti modem atau telepon genggam.

Setelah 20 tahun berkiprah di sektor industri telekomunikasi di China, Huawei Technologies telah melayani 36 operator telekomunikasi dari 50 operator telekomunikasi di dunia. Hampir semua produk telekomunikasi Huawei sudah memasuki pasar negara-negara di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.

Misalnya Belgia, Perancis, Brasil, Arab Saudi, Ghana, Thailand, dan Rusia. Bahkan, di Eropa, Huawei Technologies telah dipilih oleh operator telekomunikasi di Skandinavia, Teliasonera, untuk memasok jaringan teknologi seluler generasi keempat (long term evolution/LTE).

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus merambah pasar dunia, menurut Kepala Komunikasi Perusahaan Huawei Technologies Ross Gan, nilai kontrak penjualan produk Huawei terus meningkat.

Sebagai gambaran, nilai kontrak penjualan produk Huawei Technologies tahun 2007 sebesar 16 miliar dollar AS. Tahun 2008, nilai kontrak penjualan Huawei Technologies mencapai 23,3 miliar dollar AS atau naik 46 persen. Tahun 2009, nilai kontrak ditargetkan mencapai 30 miliar dollar AS.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS tahun 2008 itu, sebanyak 75 persen merupakan kontrak dengan operator-operator telekomunikasi dunia. Sisanya, sebesar 25 persen, merupakan kontrak dengan operator di pasar China sendiri.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS itu, Huawei Technologies mampu menggaet nilai penjualan atau pendapatan 18,3 miliar dollar AS. Pendapatan bersih mencapai 1,15 miliar dollar AS pada tahun 2008.

engan nilai kontrak dan nilai penjualan yang besar, peran Huawei Technologies dalam perkembangan teknologi telekomunikasi dunia memang patut diperhitungkan, selain Ericsson dan Nokia Siemens Networks (NSN).

Menurut Ross Gan, Huawei Technologies ditargetkan mampu menempati peringkat ke-2 di dunia pada masa mendatang sebagai perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi seluler.

Mengapa produk dan teknologi telekomunikasi yang dikembangkan Huawei Technologies mampu menembus pasar dunia? Salah satu strategi industri adalah terus mengikuti evolusi perkembangan layanan teknologi telekomunikasi.

”Huawei Technologies memiliki komitmen untuk menghasilkan teknologi dan produk telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Ros Gan. Untuk itu, Huawei menghabiskan biaya 2 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan pada 2008.

Bahkan, Huawei Technologies juga membangun universitas sebagai tempat belajar dan latihan di kawasan industri Huawei Technologies di Bantian Longgang, Shenzhen, China. Di tempat itu, tenaga-tenaga profesional Huawei dari sejumlah negara dididik dan dilatih.

Dengan riset yang dikembangkan, produk yang dihasilkan Huawei Technologies tidak hanya terbatas pada produk telepon genggam atau perangkat teknologi telekomunikasi seluler, seperti code division multiple access (CDMA), global system for mobile communications (GSM), dan worldwide interoperability for microwave access (WiMax).

Huawei Technologies juga mengembangkan jaringan infrastruktur telekomunikasi dari modem sampai stasiun penghubung telekomunikasi seluler (base transceiver station/BTS) untuk operator telekomunikasi. Bahkan, Huawei juga telah mengembangkan perangkat jaringan telekomunikasi BTS generasi keempat, yaitu SingleRan.

Di Indonesia, Huawei Technologies, melalui PT Huawei Tech Investment, juga menyediakan produk telepon genggam, modem, dan BTS untuk operator telekomunikasi.

Sebagai contoh, Huawei Tech Investment telah mendukung operator telekomunikasi seperti PT Telkom, Indosat, Telkomsel, Exelcomindo Pratama, Bakrie Telkom, dalam sejumlah layanan telekomunikasi seluler, seperti CDMA, GSM, transmisi, datacom, dan terminal.

Ledakan pasar

Pangsa pasar telekomunikasi seluler pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar. Produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, berkecepatan tinggi, dan layanan yang variatif semakin menjadi kebutuhan pasar.

Bagaimanapun komunikasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Produk-produk teknologi telekomunikasi pada akhirnya terintegrasi dengan kebutuhan manusia sehari-hari dengan populasi di dunia mencapai miliaran jiwa.

Itu berarti pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi semakin menggiurkan. Kompetisi perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi, termasuk operator telekomunikasi, pun semakin ketat untuk meraih konsumen dan memberikan layanan yang prima.

Pihak manajemen Huawei Technologies memprediksi besarnya pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Diperkirakan, lebih dari satu miliar pengguna jaringan seluler dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga-lembaga riset di bidang telekomunikasi, seperti Ovum dan Yankee Group, juga memprediksi hal yang sama.

Seberapa besar pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi di dunia? Memang tidak mudah mendapatkan angka pangsa pasar produk telekomunikasi di dunia karena banyaknya produk teknologi telekomunikasi.

Akan tetapi, statistik dari Internet World Stats dapat memberikan sedikit gambaran. Dari data Internet World Stats yang diperbarui per Juni 2009, jumlah pengguna internet di dunia diperkirakan 1,66 miliar orang (24,7 persen) dengan perkiraan populasi 6,76 miliar orang.

Dari data Internet World Stats itu juga dicantumkan 20 negara dengan jumlah pengguna internet yang terbesar. Dari 20 negara itu—dengan perkiraan populasi penduduk 4,31 miliar orang—jumlah pengguna internet diperkirakan 1,27 miliar orang (29,5 persen).

Dari 20 negara itu, Indonesia menempati urutan ke-15. Dari jumlah populasi sekitar 240 juta orang, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang besar pada masa-masa mendatang, kebutuhan produk teknologi telekomunikasi, dari telepon genggam, laptop, komputer, modem, sampai jaringan infrastruktur telekomunikasi pun akan semakin besar.

Perusahaan atau industri penyedia solusi jaringan telekomunikasi, seperti Huawei Technologies, semakin gencar menawarkan produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, efisien, dan canggih. Perusahaan-perusahaan sekelas Huawei Technologies akan berkompetisi dalam memberikan layanan teknologi komunikasi di dunia.

Di Indonesia, pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, termasuk di daerah-daerah terpencil, semakin menjadi tuntutan.

Apalagi Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana sehingga peran telekomunikasi dan layanan informasi yang cepat sangat penting.

Operator-operator telekomunikasi, termasuk di Indonesia, diharapkan mampu mengembangkan infrastruktur telekomunikasi yang andal dan efisien.

Operator telekomunikasi diharapkan tidak hanya menawarkan produk-produk seluler yang murah untuk merebut pangsa pasar yang gemuk. ***

Source : Kompas, Senin, 2 November 2009 | 02:37 WIB

Saturday, October 3, 2009

Geger Skandal Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi

Perempuan panggilan, Patrizia D Addario, saat berlangsung Festival Film Venesia di Venesia, Italia, 4 September 2009. (Foto : Getty Images/Gareth Cattermole)


SKANDAL ITALIA

Berlusconi Disebut Sadar Pakai PSK

Kisah skandal seks yang melibatkan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi bertambah rumit. Perempuan yang ada di pusat skandal yang menarik perhatian rakyat Italia itu mengatakan Berlusconi secara sadar menjamu perempuan-perempuan panggilan kelas atas di kediamannya di Roma.

Berlusconi jelas mengetahui bahwa saya seorang perempuan panggilan,” kata Patrizia D’Addario dalam sebuah acara televisi yang disiarkan ke seluruh negeri lewat televisi pemerintah RAI, hari Kamis malam. RAI mengatakan, sekitar 7,3 juta orang menonton acara itu. ”Dan saya bukan satu-satunya (perempuan) malam itu, atau malam sebelumnya,” kata D’Addario.

Berlusconi (73) tidak membantah dia melewatkan malam dengan D’Addario yang berusia 42 tahun itu. Namun, pernyataan perempuan itu bertentangan dengan pernyataan-pernyataan Berlusconi sebelumnya bahwa dia tidak mengetahui D’Addario atau perempuan-perempuan lain yang menghadiri pesta-pestanya adalah PSK kelas atas.

Skandal mengenai kehidupan pribadi Berlusconi itu bermula dari sebuah kasus pengadilan di kota Bari, Italia selatan, mengenai kegiatan pengusaha bernama Gianpaolo Tarantini, yang sedang diselidiki karena korupsi di sistem kesehatan setempat.

Pernyataan D’Addario itu merupakan yang paling akhir dalam skandal yang meletus Juni lalu ketika rekaman sadapan mengungkapkan bahwa Tarantini yang rekan Berlusconi itu menawarkan uang kepada gadis-gadis panggilan untuk melewatkan malam dengan Perdana Menteri di kediamannya di Roma dan Sardinia.

Tarantini, yang dalam tahanan rumah, mengakui bahwa dia membantu mendapatkan tamu-tamu perempuan untuk santap malam dan pesta-pesta di rumah Berlusconi, tetapi mengatakan Berlusconi tidak tahu mereka adalah PSK.

”Saya memperkenalkan mereka sebagai teman-teman saya dan tidak mengatakan bahwa saya kadang-kadang membayar mereka,” kata Tarantini kepada surat kabar-surat kabar Italia.

Bukti dari rekaman sadapan itu membuka kemungkinan Tarantini dikenai dakwaan tambahan mendorong aktivitas prostitusi. ”Saya mempunyai kesan menjadi bagian dari sebuah harem,” kata D’Addario, Kamis.

”Hanya ada PM Berlusconi dan Tarantini dan sekitar 20 perempuan, itu saja. Kami berdansa, kami bernyanyi. Saya senang untuk tinggal dengan Perdana Menteri dan bahwa dia tertarik kepada saya,” katanya.

Tarantini, yang seperti D’Addario berasal dari Bari, mengatakan kepada pihak penyidik bahwa dia telah memasok sekitar 30 perempuan yang siap memberikan layanan seksual ”kalau diperlukan” untuk semuanya, sejumlah 18 pesta di rumah Berlusconi di Roma dan Sardinia dari September 2008 sampai Januari 2009.

D’Addario merekam percakapan yang jelas dengan Berlusconi di ponselnya dan mengungkapkannya kepada publik ketika, menurut dia, janji-janji seperti bantuan bisnis dan bahkan sebuah kursi parlemen Eropa tidak dipenuhi.

Dia mengatakan, pertama kali dia ke pesta di kediaman Perdana Menteri itu di Roma, dia menolak untuk menginap dan dibayar 1.000 euro, bukannya 2.000 euro seperti yang dijanjikan Tarantini. Pada kesempatan kedua—malam pemilu AS tanggal 4 November tahun lalu—dia menginap.

Juru bicara Berlusconi, Paolo Bonaiuti, mengatakan, pernyataan pada acara televisi itu dibangun berdasarkan kabar angin. Acara itu berakhir sebelum tengah malam dan mendominasi halaman muka hampir semua surat kabar Italia hari Jumat pagi.

Menteri Kebudayaan Sandro Bondi menyatakan, acara itu merupakan sebuah upaya lagi untuk memfitnah Berlusconi.

Pemimpin konservatif, yang istrinya memicu krisis pada bulan Mei dengan menuntut cerai dan menuduhnya berhubungan dengan gadis di bawah umur, itu mengatakan tidak pernah membayar untuk seks.(Reuters/AFP/DI)***

Source : Kompas, Sabtu, 3 Oktober 2009 | 03:48 WIB

Monday, March 2, 2009

Harapan Daerah Pada KTT ASEAN Ke-14

KTT ASEAN Ke-14

Secercah Harapan

Untuk Pembangunan Daerah

INDRAMAYU – Sebagai masyarakat yang ada di daerah, semuanya mengharapkan agar program-program pembangunan dari pusat bisa dirasakan masyarakat secara merata di semua daerah. Jangan sampai ada daerah terisolir, sehingga butuh terobosan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Karena masyarakat sudah semakin cerdas, bahwa meski sudah otonomi daerah namun masih “payah” jika harus membangun dengan dana yang diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat.

Aliran dana dari pusat seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), tampaknya masih menjadi tumpuan dan gantungan hidup bagi Pemerintah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Meski tahun 2009 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Indramayu sudah mencapai Rp 1 triliun lebih, namun pada kenyataannya PAD Kota Mangga Indramayu itu masih “memble”. Untuk belanja daerah saja tidak cukup.

Sehingga tetap membutuhkan terobosan baru untuk membangkitkan pendanaan Kabupaten Indramayu. Untuk langkah jauhnya, Konferensi Tingkat Tinggi ke-14 ASEAN di Hua Hin, Thailand, Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3) banyak pihak berharap agar pertemuan para pemimpin ASEAN itu bisa mendorong kesejahteraan masyarakat yang ada di daerah, termasuk masyarakat Kabupaten Indramayu.

Sejumlah harapan masyarakat yang mengharapkan kesejahteraan, rupanya telah menjadi impian warga di seluruh dunia. Masalahnya, tak sedikit pula potensi yang dimiliki daerah tidak mampu digali oleh pemerintah daerahnya. Pemerhati ekonomi dan keuangan, Rhinto FRB mengatakan, KTT ASEAN ke-14 semoga mampu menjadikan Indonesia sebagai daerah yang tangguh dalam perekonomiannya.

“Kalau perekonomian Indonesia tangguh, rakyat kita Insya Allah akan sejahtera. Dampaknya, kesejahteraan itu akan dinikmati pula oleh masyarakat di daerah. Namun daerah perlu dibangkitkan dengan masuknya sejumlah investor untuk membangkitkan perekonomian daerah. Ini butuh kesungguhan para pemimpin daerah dalam memimpin daerahnya,” ujarnya.

Dalam pertemuan tingkat tinggi para pemimpin ASEAN ke-14, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono lebih fokus pada kerja sama ekonomi untuk mengatasi krisis. Indonesia akan mendorong apa yang bisa dilakukan ASEAN secara kolektif setelah menyusun kebijakan internal di setiap negara anggota.

Di akhir pertemuan, para pemimpin ASEAN akan menandatangani sejumlah dokumen sebagai pertemuan. Deklarasi Cha-am Hua Hin tentang Peta Jalan bagi Komunitas ASEAN (2009 – 2015), cetak biru Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN, cetak biru Komunitas Sosial Budaya ASEAN, serta Deklarasi Bersama Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) di ASEAN.

Para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-14 Tahun 2009 di Cha-am Hua Hin, Thailand, Sabtu (28/2) dihadiri Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri (PM) Laos Bouasone Bouphavanh, Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo, Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong, Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva, Perdana Menteri (PM) Vietnam Nguyen Tan Dung, Perdana Menteri (PM) Myanmar Thein Sein, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen, dan Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan. (AP/REUTERS/Kompas/Satim) ***