Tuesday, January 26, 2010

Berkat Kliping Koran Berhasil Meraih Gelar Doktor






BASUKI AGUS SUPARNO. (Foto:Kompas/Yurnaldi)***

Basuki, Koran dan Pendidikan

Oleh YURNALDI

Ada catatan menarik setelah Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia meluluskan doktor ke-42, Basuki Agus Suparno, Kamis (14/1) lalu. Promotor Prof M Alwi Dahlan, PhD mengatakan, yang membedakan Doktor Basuki dengan 41 doktor lain dari Ilmu Komunikasi UI adalah dia merupakan satu-satunya sosok yang memulai karier komunikasi dari bawah, sebagai loper koran.

Untuk mewujudkan mimpinya meraih jenjang pendidikan tertinggi, Basuki, anak kedelapan dari sembilan bersaudara keluarga buruh ini, pernah menjadi pengasong di gerbong kereta api dan distributor gula pasir dari rumah ke rumah,” kata Alwi Dahlan bangga, saat membacakan catatannya tentang Basuki.

Kebanggaan lain juga dikemukakan kopromotor Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, PhD. Seusai Sidang Terbuka Senat Akademik UI, katanya, ”Kajian disertasi Basuki itu menarik dalam studi komunikasi politik karena memfokuskan pada bahasa politik terkait dengan berbagai pemaknaan dan clash of argument tentang reformasi di Indonesia.”

Basuki, lanjut Sasa, meneliti bagaimana kontestasi makna reformasi dalam drama politik pada 1997-1998 di Indonesia dan bagaimana para aktor politik berkomunikasi (political talks) tentang reformasi dalam drama politik itu. Hasil penelitian Basuki menunjukkan, selama 1997-1998 terdapat lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama (scene) di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Alwi Dahlan menyarankan agar disertasi Basuki diolah menjadi buku.

Basuki melakukan penelitian dengan memanfaatkan surat kabar Kompas selama tahun 1997-1998. Ia mencermati pernyataan-pernyataan para aktor politik yang didukung data dari wawancara menjadi sesuatu yang menarik.

Menurut dia, ada lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama, di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Pertama, situasi pencalonan presiden masa bakti 1998-2003 yang memperlihatkan kompetisi, saling bersaing antara mereka yang menginginkan Presiden Soeharto tak dicalonkan dan yang tetap menginginkannya.

Kedua, aksi dan demonstrasi mahasiswa. Di sini ada persaingan antara mereka yang menghentikan gerakan serta yang berkeinginan memperluas gerakan dan tingkat partisipasi guna menjatuhkan Soeharto.

Ketiga, kerusuhan massa yang memperlihatkan persaingan pemikiran antara yang melihat itu sebagai akibat kesenjangan sosial dan pembangkangan sipil. Keempat, krisis ekonomi, persaingan antara prinsip-prinsip ekonomi bebas dan ekonomi yang proteksionisme dan monopoli. Kelima, posisi ABRI dilematis, memberikan ruang kepada tuntutan reformasi atau mempertahankan kekuasaan dan pemerintahan.

”Hasilnya, Soeharto menyatakan berhenti, rezim Orde Baru diganti, dwifungsi ABRI dicabut, amandemen UUD 1945, berbagai kebijakan ekonomi dicabut, keterbukaan dan kebebasan pers, serta kekuasaan dikompetisikan secara terbuka,” ujarnya.

Penelitian Basuki berimplikasi teoretis dalam kajian komunikasi, juga berimplikasi terhadap kajian politik dan sejarah. Kata dia, telaah yang perlu dikembangkan lebih jauh sebagai implikasi teoretis bagi kajian sejarah adalah menguji otentisitas pernyataan-pernyataan yang terekam di Kompas hingga segi-segi ini dapat mencerminkan sejarah perubahan kekuasaan yang sebenarnya penuh ironi.

”Jejak komunikasi itu dapat dikembangkan lebih jauh untuk menguji presentasi sosial para aktor politik, nilai-nilai yang diperjuangkan, segi perubahan itu sendiri, dan konstelasi kekuatan dan kekuasaan yang terbentuk dan berguna bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Semangat loper

Basuki menyadari, ia bisa meraih gelar doktor dengan kelulusan cum laude karena tempaan kehidupan yang penuh liku-liku. Ketika ayahnya, Suwoyo Wirusumitro, diberhentikan jadi buruh pabrik gula di Sragen, ayahnya mengadu nasib ke Jakarta menjadi tukang batu.

Beban hidup dan pekerjaan yang berat membuat sang ayah meninggal pada 1983. Maka ibundanya, Sugiyanti, dan adiknya pulang ke Sragen. Basuki, yang saat itu kelas II SMP 50 Jakarta, juga pulang kampung.

”Di kampung ada modal hidup berupa 20 batang pohon kelapa. Untuk makan sehari-hari, saya mengupas kelapa, Ibu yang menjual. Hasil belajar saya jelek dan menjadi bahan tertawaan. Anak pindahan dari Jakarta hanya dapat nilai 3 untuk ulangan Fisika. Tertawaan teman membuat saya termotivasi belajar otodidak. Saya berhasil lulus dan diterima di SMA Negeri I Sragen,” katanya.

Basuki ingin masuk fakultas kedokteran atau jurusan kimia, tetapi ia tak lulus tes. Menyadari sang ibu tak mampu, ia memilih berjualan koran untuk hidup dan kuliah.

”Hari pertama saya jual koran, hanya laku tiga eksemplar dan dapat uang Rp 300. Esoknya saya beranikan diri masuk-keluar kantor dan dapat Rp 1.000. Hari-hari berikutnya saya bisa menabung Rp 6.000 dan dalam setahun tabungan saya jadi Rp 300.000,” ujarnya.

Seusai berjualan koran sekitar pukul 14.00, Basuki mengasong di gerbong kereta api jurusan Klaten-Bandung dan Klaten-Surabaya. Semua hasil jualan itu dia simpan.

Basuki lalu memilih kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia tak lagi menjadi pengecer koran, tetapi loper koran. Kesibukan itu membuat dia sering terlambat kuliah.

Sekitar enam tahun menjadi loper koran, ia mengantongi penghasilan sekitar Rp 60.000 per bulan. Lulus S-1 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,2, selain berjualan koran ia juga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Modal awalnya satu karung gula pasir seharga Rp 100.000. Dari hari ke hari pelanggan Basuki bertambah, ia memerlukan 3 ton gula pasir per bulan untuk melayani sekitar 300 pelanggan.

Ketika ada peluang menjadi dosen pada 1997, temannya, Sigit Tripambudi, memotivasi, bahkan membuatkan lamaran untuk Basuki. Ketika dinyatakan lulus, ia berhenti menjadi loper koran dan distributor gula. Ia menjadi dosen tetap UPN Veteran Yogyakarta.

Studi S-2 di UNS dia selesaikan dengan IPK 3,8 dan predikat cum laude. Ia juga mendapat beasiswa S-3 di Universitas Indonesia, yang diselesaikannya selama 4,5 tahun.

”Kalau ada kemauan, Tuhan memberikan jalan. Sesuatu yang tak mungkin, bisa mungkin asal ada cita-cita dan keberanian untuk mewujudkannya. Suka-duka hidup itu menjadi energi positif mencapai keberhasilan,” katanya.***

Source : Kompas, Selasa, 26 Januari 2010 | 03:06 WIB

Menyelusuri Obyek Wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

KOLAM RENANG GILI TRAWANGAN

Serombongan wisatawan menikmati suasana siang dengan berendam di kolam renang sambil menikmati minuman dan sajian menu lain di Gili Trawangan. Tempat itu banyak dikunjungi turis muda usia. (Foto:Kompas/Hariadi Saptono)***

TANAH AIR

Ke Gili, Sebaiknya "Nginap" Saja...

Oleh Khaerul Anwar

Sarana akomodasi dan transportasi menjadi keniscayaan yang harus dipenuhi oleh daerah tujuan wisata, seperti obyek wisata tiga gili (pulau kecil): Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air, yang masuk wilayah Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Sarana-sarana itu agaknya tersedia, relatif mudah, dan murah dengan lumayan banyak pilihan jika para pelancong bertandang ke sana.

Dari Terminal Bus Mandalika, Mataram, ibu kota NTB, Anda bisa menumpang angkutan umum menuju Lombok Utara, lalu turun di Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang–pintu masuk menuju pulau-pulau itu. Ongkos dari Mandalika ke Bangsal sebesar Rp 15.000 per orang.

Memang ada angkutan umum jurusan Lombok Utara, yang mengetem di timur Bandara Selaparang, dengan ongkos lebih murah, Rp 10.000 per orang, sampai Pelabuhan Bangsal yang ditempuh sekitar 40 menit dari Mataram. Hotel-hotel di Mataram juga menyediakan mobil sewaan antara Rp 400.00 dan Rp 600.000 per hari.

Perjalanan ini bisa memilih jalur hutan atau pinggiran pantai. Kalau memilih rute hutan, Anda akan menerabas kawasan hutan Pusuk, habitat komunitas kera abu-abu di pinggir jalan yang menanti para pengendara dan penumpang angkutan umum melempar makanan (roti, pisang, dan lain-lain) buat mereka. Wisatawan singgah di sini memberi makan monyet-monyet itu seraya mencicipi air tuak manis dan durian.

Jika Anda memilih jalur pinggiran pantai, begitu masuk kawasan Senggigi, di sisi kiri Anda adalah panorama indah laut biru dan langit biru. Di kejauhan, Gunung Agung di Pulau Bali terlihat jelas. Suasananya sunyi... dan Anda bebas berhenti di mana saja di sejumlah pantai sunyi penuh pohon kelapa itu, lalu nyemplung, basah kuyup menyusuri pasir putih dengan air asin setinggi dengkul....

Selagi musim durian, harga durian Rp 15.000-Rp 30.000 per biji. Satu botol air tuak manis—ukuran 1 liter dan 600 mililiter botol minuman kemasan—dijual Rp 2.500-Rp 5.000. Di beberapa tempat di kawasan ini dapat dilihat proses membuat gula merah, malah diproduksi dalam bentuk briket (sebesar permen), biasanya dikonsumsi para olahragawan. Satu kotak kemasan briket gula merah dijual Rp 25.000.

Di Bangsal sudah menunggu boat angkutan umum penyeberangan ke tiga gili. Harga tiket yang dibeli di kantor koperasi pengelola angkutan itu tergolong murah, yakni Rp 10.000 per orang untuk jurusan Trawangan, Rp 9.000 ke Meno, dan Rp 8.000 ke Gili Air. Maksimal terisi 25 penumpang. Boat berlayar dari Bangsal ke Trawangan memerlukan waktu sekitar 45 menit, ke Meno 30 menit dan ke Air 20 menit.

Kalau enggan berdesak-desakan, ada yang bisa dicarter, tentu tarifnya lebih mahal. Tarif sekali jalan Bangsal-Trawangan Rp 185.000, Meno Rp 165.000, dan ke Air Rp 150.000. Andaikan tidak berniat bermalam, bolehlah mencarter boat seharga Rp 450.000 untuk menyinggahi tiga gili itu barang sebentar.

Perjalanan pun bisa ditempuh dari obyek wisata Senggigi dengan mencarter boat berkapasitas dua-empat orang yang tarifnya Rp 350.000, sedangkan yang kapasitasnya 10 orang harga sewanya Rp 550.000 pergi-pulang. Perjalanan pergi rute Senggigi-Trawangan sekitar 60 menit, atau lebih singkat ketimbang perjalanan pulang rute Trawangan-Senggigi yang mencapai 1,5 jam karena boat melawan arus laut.

Sejalan dengan gencarnya pariwisata tiga gili ini, banyak kapal cepat yang melakukan penyeberangan langsung dari Bali, yaitu dari Padangbai dan Nusa Lembongan yang ongkosnya Rp 450.000-Rp 550.000 per orang, dengan lama perjalanan sekitar dua jam.

Penginapan di tiga gili ini juga banyak pilihan, dengan tarif yang beda-beda tipis, meski wisatawan cenderung menginap di Gili Trawangan yang fasilitas penginapan, transportasi, keperluan menyelam, snorkeling, sampai barang cendera mata lebih lengkap. Biasanya wisatawan yang ingin menyelam dan snorkling melaju dari Trawangan ke Meno dan Air karena ada boat yang rutin pagi-sore melayani jalur Trawangan, Meno, dan Air pergi-pulang.

Di Trawangan, bagi yang berkantong tebal, tersedia hotel berbintang yang sewanya Rp 1,5 juta semalam atau penginapan menengah yang sewanya Rp 500.000-Rp 600.000 per malam. Paling murah adalah penginapan berstandar melati dengan tarif murah Rp 100.000 hingga Rp 150.000 semalam, plus layanan gratis snack serta segelas kopi dan teh manis pada pagi hari.

Habis sarapan, silakan melakukan snorkeling dan tidak perlu membawa alat sendiri karena maskernya banyak disewakan seharga Rp 50.000 sehari. Begitu pun bila menyelam, cukup menyediakan Rp 600.000 untuk membayar sewa alat selam berikut instrukturnya.

Puas menyaksikan pemandangan bawah laut, program berikutnya adalah jalan kaki mengitari tuntas pulau-pulau kecil itu selama satu jam. Kalau malas jalan kaki, cukup dengan merogoh saku untuk sewa sepeda Rp 50.000 per jam dan Rp 75.000 per hari. Menumpang cidomo (kendaraan dokar dengan roda ban mobil) adalah alternatif lain jalan-jalan menyusuri pinggir pantai Gili Trawangan (seluas 338 hektar) atau Gili Air, sekali jalan biayanya Rp 80.000 dan Rp 50.000.

Soal makan, sesuai dengan modal yang ada di kantong, ada restoran yang menyediakan aneka makanan laut seharga ratusan ribu. Namun, ada pula warung yang menyediakan nasi campur dengan lauk-pauk ala kadarnya, cukup merogoh kocek Rp 10.000-Rp 15.000.

Yah... tidak salah kalau memasukkan Lombok, dan tiga gili khususnya, dalam daftar acara liburan Anda dan keluarga. Sarana, akomodasi, dan biaya yang dikeluarkan relatif mudah dan murah. Berlibur dan menginap di tiga gili itu mungkin juga bisa mengendurkan saraf karena berbagai persoalan….

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 03:27 WIB

Perubahan mendasar pada pelaksanaan ujian nasional baru bisa dilaksanakan pada tahun 2011

Ujian Nasional Diubah pada 2011

Pemerintah Dinilai Paksakan Kehendak

JAKARTA, Ekspedisi Humaniora - Perubahan mendasar pada pelaksanaan ujian nasional baru bisa dilaksanakan pada tahun 2011. Jika perubahan dilakukan dalam ujian nasional tahun ini yang sebentar lagi digelar, dikhawatirkan bakal menimbulkan kebingungan bagi siswa dan sekolah.

”Keinginan untuk memperbaiki UN guna mengakomodasi keinginan masyarakat mesti dilaksanakan, UN tahun 2010 ini sebagai masa transisi untuk perbaikan mendasar UN pada tahun berikutnya,” kata Rully Chairul Azwal, Ketua Panitia Kerja Ujian Nasional Komisi X DPR di Jakarta, Jumat (22/1).

Rully mengatakan, DPR tidak lagi mempersoalkan apakah UN kali ini sah pascaputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi pemerintah soal gugatan UN. Dari konsultasi dengan MA, Ketua MA Harifin A Tumpa menegaskan bahwa tidak ada penghentian, pelarangan, atau penundaan UN.

”UN tahun ini tidak melanggar putusan MA. Jadi, kami anggap masalah hukum UN sudah selesai,” ujar Rully.

Adapun hasil UN sebagai penentu kelulusan, kata Rully, memang masih diperdebatkan. Masih ada fraksi di Komisi X yang meminta supaya hasil UN tidak sebagai syarat kelulusan dan saling memveto.

”Kami menyadari jika standar pendidikan kita belum merata. Jangan sampai UN itu membawa korban pada siswa dan sekolah-sekolah yang belum mencapai standar pelayanan minimum. Tetapi, perubahan itu kita siapkan untuk UN berikutnya supaya hasil UN jangan lagi merugikan siswa,” tegas Rully.

Hingga saat ini, dana alokasi UN senilai Rp 562 miliar masih diberi tanda bintang yang artinya belum disetujui Komisi X. Keputusan penghapusan tanda bintang diputuskan pekan depan, menunggu hasil kerja panitia kerja UN.

Pemaksaan kehendak

Secara terpisah, Muhammad Isnur, Koordinator Tim Advokasi Korban UN, mengatakan, pemerintah melakukan pemaksaan kehendak dengan tetap melaksanakan kebijaksanaan UN. Presiden dan Mendiknas dinilai hanya mencari-cari dalil dan legitimasi bahwa UN tidak bertentangan dengan putusan MA.

”Presiden, Wapres, Mendiknas, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah divonis lalai dan melanggar dalam pemenuhan dan perlindungan HAM.

Isnur menilai MA juga lari dari tanggung jawab untuk memenuhi putusan yang dibuatnya sendiri. ”Pengujian atas putusan seharusnya juga dilaksanakan melalui proses eksekusi dan penilaian majelis hakim bukan dilemparkan kepada anggota DPR yang merupakan lembaga politik,” ujar Isnur.

Di Semarang, anggota BSNP, Mungin Eddy Wibowo, mengimbau agar tim pengawas satuan pendidikan dan tim pemantauan independen lebih berani dan tegas dalam pelaksanaan ujian nasional tahun ini. Tim pemantau dan pengawas harus berani masuk ke ruang ujian jika menemukan pelanggaran dan menindak pelakunya.

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Sudijono Sastroatmodjo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan UN. Unnes bertanggung jawab dalam pengawasan pencetakan berkas soal dan pelaksanaan ujian serta pemindaian soal.

Sudijono pun menekankan bahwa perguruan tinggi tidak dapat bertanggung jawab dalam proses pencetakan naskah soal karena terkendala persoalan biaya dan peralatan.

(ELN/LUK/ NDY/DEN)***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 03:41 WIB

Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Dian @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 08:50 WIB
Menurut saya sebagai siswa yang masih dudk dibangku smk ujian nasional sangat memberatkan kami sebaiknya tidak usah diadakan saja,kami butuh keadilan.

yohanes muryadi @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 08:41 WIB
UN hanya untuk pemetaan. bukan untuk kelulusan. Yang berhak menentukan kelulusan adalah guru.

Max @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 08:36 WIB
Ya iyalah gak mungkin th ini dibatalkan, banyak pihak yg bakal gigit jari gak jadi dapat komisi dari proyek besar yg namanya Ujian nasional...

suhafrinal @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 08:10 WIB
Dlm era otonomi sekolah, nilai yang diberikan oleh satuan pendidikan lebih penting utk dimaknai dari pada nilai UN, agar relevan dengan program sertifikasi guru

Drs. Suhafrinal, M.Pd @ Sabtu, 23 Januari 2010 | 07:53 WIB
UN perlu hanya sebagai acuan, bukan penentu kelulusan karena tidak representatif secara edukatif, sehingga akhirnya guru-guru makin kurang eksis dlm pendidikan.

Tiga Gili "Desa Dunia" di Tengah Laut Lombok

HAMPARAN PASIR PUTIH DESA GILI - Berjemur sinar matahari di hamparan pasir putih memberikan kenikmatan tersendiri dan menjadi salah satu hal yang mendorong wisatawan mancanegara mengisi liburan di obyek wisata Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, akhir Desember 2009. (Foto:Q Wadru Wicaksono)***

TANAH AIR

Tiga Gili "Desa Dunia" di Tengah Laut Lombok

Oleh Khaerul Anwar

Inilah ”desa dunia” pasca-Bali. Ini memang julukan bagi obyek wisata tiga gili atau pulau kecil yang berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Sebutan itu dapat dibuktikan melalui keberadaan sejumlah hotel berbintang yang umumnya milik investor asing yang bekerja sama dengan warga setempat sebagai pemilik lahan. Juga suasana di pesisir tiga gili, Trawangan, Meno, dan Air, yang didominasi turis muda usia dari mancanegara, yang berwisata di pulau kecil yang masih bersih dari polusi dan terpisah dari Pulau Lombok itu.

Suasana ”desa dunia” sangat kental di Trawangan, terindikasi dari bahasa yang digunakan wisatawan, seperti bahasa Jerman, Perancis, Spanyol, dan Jepang; malah ada sekelompok kecil wisatawan yang berkomunikasi dengan bahasa Lebanon. Meski demikian, pelancong yang berbahasa Inggris lebih dominan.

Tidak seramai Kuta, Bali, memang, tetapi Ali dan Kahlil, keduanya wisatawan warga Swedia keturunan Lebanon, mengaku terhibur dengan suasana Trawangan. ”Di sini suasana tenang, alami, tidak ada polusi, saya suka,” ujar Ali, yang bersama 12 rekannya tinggal selama tiga hari pada pertengahan Januari.

Di Gili Trawangan tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermesin. Yang diizinkan hanya cidomo (kendaraan khas), kuda, dan sepeda gayung. Transportasi ini disewakan kepada wisatawan yang ingin jalan-jalan mengitari pulau seluas 338 hektar itu.

Gili Trawangan yang berada di deretan barat menjadi pilihan utama karena memiliki fasilitas lebih lengkap, seperti penginapan, hiburan malam, sarana komunikasi dan transportasi yang nyaris sepanjang hari melayani warga lokal ataupun wisatawan dari Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang, ke Gili Trawangan, termasuk ke Gili Air yang berada di deretan paling timur.

Agak berbeda dengan Gili Meno, yang diapit dua pulau tetangganya, sarana dan prasarana pendukungnya kurang lengkap meski suasana lingkungan sekitar Meno relatif sepi dan tenang, mungkin cocok untuk wisata keluarga.

Dari tiga gili itu, wisatawan dapat menikmati matahari terbit dari balik Gunung Rinjani, lalu matahari terbenam, dan Gunung Agung di Bali, serta berbagai atraksi bahari yang disukai, seperti diving dan snorkling. Ada taman laut Meno Wall, dinding tebing curam di antara Meno dan Trawangan, yang bisa disaksikan pada kedalaman 15 meter.

Gili Meno juga dilengkapi danau ”alam” berair asin, serta area tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi, aneka jenis dan warna ikan hias, seperti tiger fish, blue moon, dan ikan kepe-kepe yang masuk keluar terumbu karang. Para penyelam pun membawa roti yang dimasukkan dalam botol bekas air mineral. Saat di dalam air, roti itu disemprotkan guna menarik perhatian ikan hias itu.

Kecuali ribbon coral dan finger coral, hampir di semua tempat di perairan tiga gili itu terdapat terumbu karang berwarna biru. Terumbu karang biru masuk marga Acropora. Warna biru itu disebabkan warna pigmen zooxanthela atau alga bersel tunggal berwarna biru dan hidup bersimbiosa dalam jaringan karang. Suasana ini bagaikan karang biru di Laut Karibia.

Mau uji nyali, cobalah naik boat ke sekitar 100 meter barat-selatan dari Gili Trawangan. Di situ, selain ada ikan hias lion fish dan ikan sotong, juga ada shark point, sarang ikan hiu white tip di kedalaman 25-30 meter. Bagi yang mengikuti kursus selam, lokasi ini wajib dikunjungi.

Jika enggan berbasah-basah, ada glass bottom boat yang lantainya tembus pandang.

Banyak jalan menuju gili itu. Jika sekadar tur singkat atau ”cuci mata”, bisa mencarter boat dari obyek wisata Senggigi, Lombok Barat, yang sewanya Rp 350.000-Rp 550.000. Senggigi-Trawangan ditempuh sekitar 60 menit dengan boat.

Menumpang angkutan umum dari Senggigi ke Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang—pintu masuk ke tiga gili itu—adalah alternatif lain. Kondisi jalan di jalur ini beraspal hotmix, dengan medan menanjak dan tikungan menelusuri kawasan pantai serta pada tempat tertentu dari kejauhan tampak gugusan tiga gili itu.

Boleh juga menumpang angkutan umum dari Mataram, Ibu Kota Nusa Tenggara Barat, ke Pelabuhan Bangsal. Dalam perjalanan, para wisatawan singgah sejenak di sekitar kawasan Hutan Pusuk, bermain-main dengan komunitas kera abu-abu kemudian mencicipi air tuak manis yang dijajakan di pinggir jalan.

Sekalian juga menengok proses produksi gula merah yang dilakukan warga di sekitar kawasan hutan itu dari mengambil air aren di pohonnya sampai mengolahnya menjadi gula jawa.

Keunggulan komparatif tiga gili itu menjadi magnet yang dinikmati wisatawan, kalangan usaha, dan masyarakat. Hanya saja, mengedepankan hitung-hitungan ekonomi yang diraih, lalu mengabaikan aspek lingkungan, justru memperburuk persoalan lingkungan yang dalam dua dekade terakhir ini dirasakan masyarakat. Jika lalai menjaga lingkungan yang menjadi daya tarik tiga gili itu, niscaya ”desa dunia” ini ditinggal pelancong.***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 02:57 WIB

Saturday, January 23, 2010

Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

TARIAN RITUAL PUA KARAPAU- Sejumlah lakimosa (tetua adat) menari dan bersorak-sorai untuk mengiringi dan menghibur kerbau yang akan dipotong sebagai korban persembahan dalam ritual Pua Karapau di Dusun Cawelo, Desa Rokirole, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. (Foto:Kompas/Samuel Oktora)***

PUA KARAPAU

Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

Oleh Samuel Oktora

Musim kemarau panjang, hasil pertanian dan laut kurang menggembirakan, serta wabah penyakit melanda menjadi tanda serius bagi tetua adat untuk segera melakukan ”pendinginan” atau pemulihan alam. Ritual Pua Karapau merupakan salah satu jawabannya.

Pua Karapau (muat kerbau) merupakan salah satu ritual adat yang telah dilakukan turun-temurun oleh warga Dusun Cawelo dan Tudu, Desa Rokirole di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pulau sendiri sekitar dua jam dengan morot laut dari Maumere (Kabupaten Sikka) atau satu jam dari Ropa (pesisir utara Kabupaten Ende).

Warga dua dusun itu yang berada di luar Palue pun berdatangan sebelum rangkaian Pua Karapau mulai dilakukan hingga puncaknya, yakni berupa pemotongan kerbau sebagai persembahan kepada Rawula Watu Tana (Tuhan penguasa alam semesta) dan para leluhur. Tahun ini puncak acara jatuh awal bulan 11 tahun 2009.

Termasuk Lakimosa (tetua adat) Cawelo, Cosmas Himalaya, yang tinggal di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, jauh-jauh hari sudah tiba di Palue, pulau kecil dalam kepungan Laut Flores itu.

”Dalam tradisi di Cawelo, Pua Karapau digelar dua kali dalam lima tahun, sedangkan di wilayah adat yang lain ada yang cuma satu kali. Pua Karapau di Cawelo tahap pertama dilakukan tahun 2006 dan kali ini yang kedua,” kata Cosmas.

Pua Karapau tahun ini memang agak unik karena semestinya hanya memuat dua kerbau. Namun, berhubung seekor kerbau yang dipersiapkan sejak tahun 2006 mati pada bulan Juni 2009, maka perlu dipersiapkan gantinya tahun ini sehingga yang dipersiapkan menjadi tiga ekor.

Pasalnya, untuk Pua Karapau tahap pertama akan dipersiapkan dua kerbau, seekor di antaranya untuk dipotong dalam ritual tersebut, sedangkan seekor lainnya dipersiapkan untuk dipersembahkan pada masa Pati Karapau (potong kerbau) pada tahun ke-5.

Sementara pada Pua Karapau tahap kedua juga dimuat lagi dua kerbau, seekor dipotong saat itu, sedangkan seekor lainnya untuk Pati Karapau. Dengan demikian, saat Pati Karapau tahun 2011 akan dipotong dua kerbau yang dipersembahkan bagi Rawula.

”Persembahan kerbau pada waktu Pua Karapau dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa masyarakat Cawelo telah mempersiapkan persembahan (dua kerbau) untuk Rawula dan para leluhur, yang akan diberikan pada saat Pati Karapau,” kata Cosmas.

Dari delapan desa di Pulau Palue, tradisi Pua Karapau dan Pati Karapau dilakukan turun-temurun oleh komunitas adat di empat desa, yaitu Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka.

Namun, tata cara ritual antara satu wilayah adat dan wilayah yang lain berbeda-beda. Sebagai contoh di Rokirole yang berpenduduk 1.500 jiwa—yang meliputi tiga dusun—memiliki dua wilayah kelakimosaan, yaitu wilayah adat Cawelo dan Tudu, serta wilayah Lakimosa Koa. Di Cawelo, Pua Karapau dalam lima tahun dilakukan dua kali, sedangkan di Koa dilaksanakan sekali saja.

Serba lima

Satu hal yang menarik dalam Pua Karapau sejumlah ritual yang dilakukan serba lima. Begitu pula Pati Karapau digelar setiap lima tahun sekali. Bagi komunitas pendukung ritual itu, angka lima menyimbolkan keberuntungan.

Sebelum Pua Karapau dilaksanakan tanggal 28 Oktober, masyarakat Cawelo harus menjalani masa pantang, yaitu tidak melakukan pekerjaan di kebun, melaut, atau pekerjaan lain, selama lima hari. Selama hampir sepekan itu sejumlah warga menyeberang ke Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende di daratan Pulau Flores, untuk membeli tiga kerbau sebagai hewan kurban.

Sebelum berangkat ke Ropa, rombongan adat masing-masing harus lima kali mengelilingi tubu ca (tugu besar) dan tubu lo’o (tugu kecil) di tengah kampung. Selanjutnya perahu yang juga bermuatan gendang dan gong harus berputar lima kali di sekitar pelabuhan sebelum bertolak ke Ropa.

Selama perjalanan juga dilantunkan lima lagu adat. Begitu pula ketika rombongan hampir tiba di Ropa, perahu harus berputar lima kali sebelum lego jangkar. Setelah kerbau dinaikkan ke dalam perahu di pantai Ropa, perahu kembali berputar lima kali sebelum bertolak pulang ke Pulau Palue.

Cosmas menjelaskan, dalam ritual Pua Karapau akan terbangun relasi yang baik, terutama dengan Rawula, lalu persahabatan dengan alam, serta hubungan yang harmonis dengan sesama. Ritual itu menuntut yang berkonflik menjadi rukun kembali karena di dalamnya ada proses perdamaian dan pemulihan.

Kerbau yang dipotong sebagai persembahan dalam ritual tersebut, ujar Lakimosa Cawelo yang lain, Bernadus Ratu, juga berperan sebagai korban penebusan sebagai ganti kesalahan yang dibuat manusia atau warga setempat.

Karena itu, tak heran, begitu kerbau yang telah dipotong tersungkur karena kehabisan darah, warga berebut menyentuhkan kakinya ke badan kerbau yang berlumuran darah. Tentu dengan harapan segala penyakit yang diderita juga tertumpah atau ditanggung ke darah kerbau tersebut.

Karena berfungsi sebagai korban penebusan kesalahan, daging kerbau tidak dikonsumsi oleh semua lakimosa dan keluarganya, serta warga Cawelo dan Tudu.

Sebaliknya warga dusun atau desa lain diperbolehkan mengambil dan mengonsumsi daging kerbau itu. Namun, pengambilan daging kerbau kurban itu harus dilakukan secara diam-diam seolah mencuri atau tanpa diketahui masyarakat Cawelo.

Warga juga berkeyakinan posisi kepala kerbau setelah jatuh dan tewas mempunyai makna sendiri. Arah kepala hewan kurban itu diyakini menunjukkan kawasan yang akan memberikan hasil panen berlimpah pada musim mendatang.

Pada ritual Senin (3/11), kepala kerbau sebenarnya menghadap ke gunung di bagian selatan, posisi yang tidak mendatangkan rezeki karena menghadap kawasan berbatu atau bukan lahan pertanian. Karena masih bernapas, kepala kerbau itu oleh sejumlah tetua cepat-cepat digeser dan diarahkan ke utara menghadap areal kebun dan perairan pantai tempat para nelayan memburu ikan.

”Lewat ritual ini diharapkan hasil dari kebun maupun laut berlimpah. Kalau demikian, masyarakat berkecukupan dan dijauhkan dari penyakit. Juga mereka yang bekerja di luar pulau akan mendapatkan perlindungan,” kata Lakimosa Cawelo, Neno Toni, seusai pemotongan kerbau.

Ketahanan pangan baik

Tradisi tua itu menunjukkan betapa masyarakat Cawelo masih berpegang kuat pada akar budaya mereka. Ritual Pua Karapau dan Pati Karapau juga menunjukkan masyarakat Cawelo adalah masyarakat yang religius. Tradisi itu juga berdampak positif pada pertanian mereka.

Masyarakat Palue tidak menanam padi untuk kebutuhan pangan. Mereka hanya menanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan pisang. Penunjang ekonomi mereka yang lain adalah dari tanaman perdagangan, seperti kelapa, vanili, jambu mete, dan kakao, serta hasil melaut.

Mereka tidak pernah mengalami krisis pangan alias kelaparan. Ketahanan pangan warga Palue secara umum baik, sebagaimana warga Cawelo, karena ditunjang dengan adat istiadat setempat.

Setelah masa Pua Karapau berakhir dalam lima tahun, yang ditutup dengan Pati Karapau, masyarakat adat Cawelo akan memasuki phije, yakni masa haram atau pantang selama lebih kurang lima tahun. Selama masa itu mereka dilarang melakukan aktivitas yang merusak alam, juga melukai tanah. Sebagai contoh, memetik daun, apalagi menebang pohon, merupakan larangan keras. Begitu pula penggalian, pengerukan, dan pembuatan jalan maupun fondasi rumah juga dilarang. Penguburan orang mati pun tak bisa dilakukan dalam masa phije. Orang mati pada masa itu terpaksa tidak dikubur dalam tanah, melainkan dibaringkan saja di pemakaman.

Pada masa phije, yang diperbolehkan adalah aktivitas untuk menunjang atau memberikan kehidupan seperti bertani. Jika masa pantang itu dilanggar, warga akan dikenai sanksi adat. Yang lebih fatal, sebuah pelanggaran diyakini dapat mengakibatkan korban jiwa atau kesialan. Itu sebabnya pada masa itu warga menjadi fokus pada kegiatan pertanian. Bahkan, kelestarian lingkungan juga terjaga dengan baik.

Namun, pengaruh adat itu juga berdampak kurang baik pada aspek pembangunan, salah satunya pembuatan jalan kabupaten pada bulan Oktober lalu menjadi terhambat. Hal itu terjadi untuk pembuatan jalan sepanjang 1 kilometer lebih, yang menghubungkan Dusun Cawelo dengan Koa.

Pembangunan tidak bisa berjalan karena di Dusun Koa telah dilakukan Pati Karapau pada bulan Januari sehingga saat ini telah memasuki masa phije lebih kurang hingga tahun 2014.

Camat Palue Fernandes Woda pun kemudian mengusulkan kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang agar proyek jalan rabat beton Cawelo-Koa dialihkan dahulu ke daerah lain dalam wilayah Palue.

Dari pengalaman kasus ini memang sudah tidak zamannya lagi penetapan dan pengalokasian anggaran pembangunan desa dilakukan dari atas (top down), melainkan harus dari aspirasi arus bawah (bottom up).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sikka sebelum menetapkan alokasi anggaran pembangunan desa perlu berkomunikasi terlebih dahulu dengan lembaga adat sehingga program pembangunan desa tidak terbengkalai.

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 04:57 WIB

Peradaban Islam di Uzbekistan

TEMPAT SUCI KAUM MUSLIM - Di sebuah tempat terpencil di perbukitan Jizzax, Uzbekistan, terdapat tempat suci bagi kaum Muslim. Di tempat inilah panglima perang Nabi Muhammad SAW, Said ibnu Abu Vaggos, pernah tinggal lama dan meninggalkan bagian jarinya yang terpotong. Air dan ikan di danau alam ini dianggap sebagai air dan ikan suci/keramat sehingga tetap terpelihara meski telah berusia lebih dari 10 abad. (Foto: Kompas/Rakaryan Sukarjaputra)***

SEJARAH

Menyusuri Peradaban Islam di Uzbekistan

Oleh Rakaryan Sukarjaputra

Uzbekistan, bagi umumnya warga Indonesia, bisa dipastikan adalah nama yang asing. Padahal, sejarah menunjukkan justru para ulama dari negara inilah yang menjadi motor penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, melalui para wali yang kita kenal hingga saat ini. Di kalangan warga Uzbekistan, nama Indonesia bahkan cukup populer.

Bagi mereka yang pernah membaca atau mendengar sebuah hadis, nama Imam Bukhari (810-870) pastilah bukan nama yang asing. Beliau dianggap sebagai salah satu penyampai hadis yang diakui kesahihannya. Beliau adalah putra Bukhara, salah satu provinsi di wilayah barat Uzbekistan.

Ibnu Sina (980-1037), yang dikenal sebagai filsuf dan ahli medis modern pada zamannya, juga kelahiran Afsyahnah, dekat Bukhara, Uzbekistan. Karyanya yang sangat terkenal, yaitu Qanun fi Thib, menjadi rujukan di bidang kedokteran selama beberapa abad, termasuk di Indonesia. Dunia Barat mengenal dia dengan nama Avicenna.

Sejarah para wali sembilan penyebar agama Islam di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari Uzbekistan karena beberapa di antara para wali itu memiliki kaitan langsung dengan negara di Asia Tengah tersebut.

Sisa-sisa peninggalan peradaban Islam masih banyak tegak berdiri di negara yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet itu meski pernah diabaikan, bahkan dibiarkan rusak oleh penguasa Soviet dulu. Ornamen-ornamen Islam yang banyak dipengaruhi Persia (Iran), dengan warna-warna biru yang menonjol, tersebar di banyak tempat, menunjukkan kekhasan arsitektur pada masa abad ke-11 hingga ke-17 Masehi. Wajarlah bila badan dunia PBB untuk perlindungan kekayaan budaya, UNESCO, menobatkan Samarkand sebagai salah satu kota warisan sejarah dunia, sejajar dengan Istanbul di Turki.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai keislaman juga tertanam dalam kehidupan rakyat Uzbekistan. Ketika bertemu dengan seseorang, baik yang telah dikenal maupun yang belum dikenalnya, warga Uzbek biasa menyapa dengan salam ”assalamualaikum”, sambil menaruh telapak tangan kanannya di dada sebelah kiri. Lebih jauh dari itu, penghormatan mereka yang tinggi terhadap para tamu dan keakraban yang mereka tunjukkan dengan tulus adalah pengamalan nyata ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Peradaban Islam

Sebagai negara berpenduduk mayoritas pemeluk Islam, yaitu sekitar 85 persen dari populasi Uzbek yang mencapai 27,5 juta jiwa, nilai-nilai keislaman pernah mendapatkan tekanan sangat berat ketika wilayah itu berada di bawah kekuasaan Soviet. Akan tetapi, tekanan yang berat justru membuat nilai-nilai keislaman itu tertanam dalam pada warga Uzbekistan. Maka, begitu Uzbekistan mendeklarasikan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1991, berbagai peninggalan peradaban Islam langsung dibenahi kembali dan hingga kini menjadi sumber daya tarik utama bagi kunjungan wisatawan ke negara itu.

Peradaban Islam masuk ke wilayah yang saat ini disebut Uzbekistan pada sekitar abad kedelapan lalu. Ketika itu pasukan kekhalifahan Arab dari Persia menguasai Mawarannahr (lahan yang berada di antara sungai), yaitu wilayah di antara Sungai Amudarya dan Sungai Syrdarya. Masuknya pasukan kekhalifahan Arab itu membawa ajaran Islam, yang langsung bisa diterima rakyat setempat.

Akan tetapi, jauh sebelum itu, beberapa abad sebelum Masehi, beberapa suku nomad dari Iran telah lebih dahulu tiba di wilayah yang sekarang bernama Uzbekistan itu. Mereka membangun kota-kota dan jaringan irigasi untuk menjadikan lahan padang rumput di wilayah itu lahan pertanian produktif. Kota Bukhara dan Samarkand pun mulai muncul sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan.

Dalam perjalanan menuju India, pada 327 sebelum Masehi, Raja Alexander yang Agung pun sempat singgah di wilayah Uzbekistan, khususnya di wilayah yang dahulu bernama negara-negara Soghdian dan Bactrian. Akan tetapi, perlawanan rakyat kemudian membuat pasukan Alexander Agung harus mundur dan wilayah yang kini bernama Uzbekistan kemudian dikuasai oleh kekaisaran-kekaisaran Persia, yaitu Parthian dan Sassanid.

Masuknya Islam melahirkan sejumlah filsuf cemerlang, seperti Abu Nasr Farabi, Imam al-Bukhari, Narshaki, Nadjimmiddin Kubro, Abu Ali ibnu Sina, serta para penyair seperti Rudaki, Yusuf khas Khadjib, Ahmad Yassavi, dan Abu Bakr-al-Khorezmi. Gerakan baru Islam pun berkembang pesat karena keistimewaan yang dimilikinya, antara lain kebebasan berpikir atau dikenal sebagai Mutaziliya, Ismailiya, dan Sufisme.

Kota-kota Bukhara, Samarkand, Merv, Urgench, dan Kiva sangat terkenal di kalangan negara-negara Muslim. Karya-karya seni, arsitektur, dan proyek-proyek konstruksi berkembang cepat menandakan kejayaan kekhalifahan Islam.

Pada awal abad ke-11, atas arahan Mamun Khorezm-Shakh, sebuah pusat riset baru didirikan di Khorezm, di mana para ilmuwan orientalis bekerja. Pusat riset ini belakangan didedikasikan untuk Khorezm-Shakh dan menjadi akademi pertama di Asia Tengah.

Kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari wilayah yang kemudian diberi nama Mawarannahr pun terkenal ke seluruh dunia. Akan tetapi, pertumbuhan cepat Mawarannahr itu terhenti pada awal abad ke-13 akibat invasi Mongol ke wilayah itu. Pemimpin Mongol, Genghis Khan, menghancurkan seluruh kota, jaringan infrastruktur irigasi, dan sumber-sumber pustaka budaya dari periode abad kedua dan ketiga Masehi. Perjuangan untuk membebaskan diri dari pendudukan asing dilakukan selama setengah abad pada abad ke-14. Salah satu tokoh penting dalam perjuangan itu adalah Amir Temur, yang setahap demi setahap bisa membebaskan wilayah Mawarannahr dan Khorasan dari penguasa Mongol. Pada akhir abad ke-14, sebuah negara baru yang kuat dengan wilayah luas pun terbentuk.

Amir Temur menekankan betul pentingnya kekuatan politik, ekonomi, dan pertumbuhan budaya. Prinsip-prinsip pengelolaan sebuah negara dia gambarkan dalam dokumen yang dikenal sebagai The Code of Temur. Setelah ditinggalkan Amir Temur, para keluarga penerus Temur memberikan perhatian besar terhadap pemajuan kesenian, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Oleh karena itulah Amir Temur menjadi sosok sangat penting dalam sejarah rakyat Uzbekistan, yang sekaligus meneruskan lagi kejayaan Islam di wilayah yang dikuasainya.

Pemerintah Uzbekistan membangun sejumlah patung Amir Temur di hampir semua kota besar di Uzbekistan. Di ibu kota Tashkent, misalnya, patung Amir Temur antara lain terdapat di sebuah lapangan di pusat kota, berdampingan dengan sebuah museum khusus Amir Temur di seberang lapangan tersebut.

Arsitektur yang khas

Uzbekistan saat ini memiliki sejumlah peninggalan masjid dan madrasah maupun pemakaman yang memiliki ciri arsitektur Islam yang khas. Selain bentuknya yang hampir seragam, berbagai bangunan yang didirikan dengan bahan baku utama batu bata merah itu juga kaya dengan ornamen Islam, baik dalam bentuk tulisan-tulisan arab maupun pola-pola garis dan bentuk.

Bangunan peninggalan peradaban Islam itu bentuknya berbeda sekali dengan bentuk-bentuk bangunan peninggalan peradaban Islam yang ada di Turki. Melihat arsitektur bangunan tersebut, dengan pola-pola tembok pintu gerbang yang dibangun tinggi, dengan menara di kedua sisinya yang tak kurang dari 20 meter, kita akan terpukau akan kehebatan para arsitek dan ahli bangunan pada abad ke-11-17 tersebut.

Lebih dari itu, di Uzbekistan, khususnya Tashkent, kita bisa melihat sebuah Al Quran asli peninggalan khalifah Usman bin Affan pada abad ketujuh. Al Quran yang di sisinya masih terlihat bekas-bekas darah itu menjadi koleksi sangat berharga sekaligus bukti kuatnya peradaban Islam di negara itu pada masa lalu.

Sangat pantas bila Uzbekistan kini memanfaatkan berbagai peninggalan peradaban Islam tersebut sebagai daya tarik utama bagi wisatawan ke negara itu. Wisata ziarah ke makam para tokoh besar Islam yang ada di Uzbekistan bisa semakin meningkatkan kadar ketakwaan, sekaligus semakin memberikan pemahaman mendalam mengenai ajaran-ajaran Islam dan kebesaran Islam.

Kemerdekaan dari Soviet telah membangkitkan kembali nilai-nilai keislaman di negara itu. Seperti halnya di Indonesia, nilai-nilai Islam tersebut tampil dalam wujud Uzbekistan yang lebih terbuka, ramah, dan menghormati para tamunya, persaudaraan yang kuat di antara warganya, serta terus berupaya berdemokrasi untuk membangun sebuah negara yang kuat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyatnya.***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Januari 2010 | 04:53 WIB

Friday, January 22, 2010

Michael Dharmawan Ruslim, Presiden Direktur PT. Astra International Tbk wafat

UCAPAN DUKA CITA

Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rojiun

Kami segenap Direksi dan Karyawan CV. MAJU TERUS

Menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas wafatnya

Bapak MICHAEL DHARMAWAN RUSLIM

Presiden Direktur PT. Astra International Tbk

Dalam usia 56 tahun

Pada hari Rabu, tanggal 20 Januari 2010, pukul 07.05 WIB

Di Rumas Sakit Mount Elizabeth, Singapura

Semoga Amal Ibadah Almarhum diterima di sisi Allah Subhanah Wa Ta’ala

dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran.

***********************************************

UCAPAN DUKA CITA

Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rojiun


Kami segenap Direksi dan Karyawan :

Satimterus.blogspot.com

Pendopoindramayu.blogspot.com

Lingkunganglobal.blogspot.com

Bisnisreang.blogspot.com

Ruswantoadipradana.blogspot.com

Hutbunindramayu.blogspot.com


Menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas wafatnya

Bapak MICHAEL DHARMAWAN RUSLIM

Presiden Direktur PT. Astra International Tbk

dalam usia 56 tahun


Pada hari Rabu, tanggal 20 Januari 2010, pukul 07.05 WIB

Di Rumas Sakit Mount Elizabeth, Singapura


Semoga Amal Ibadah Almarhum diterima di sisi Allah Subhanah Wa Ta’ala

dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran.