Friday, April 16, 2010

MBAH PRIUK : Akhirnya Orang Kecil Juga yang Jadi Korban

Garfis : Kompas, Jumat, 16 April 2010

MBAH PRIUK

Akhirnya Orang Kecil Juga yang Jadi Korban

Satuan polisi pamong praja akan menertibkan areal makam, bukan menggusur makam Mbah Priuk”

Demikian pesan layanan pesan singkat, adik saya, tutur Kosasih (45), kakak kandung Ahmad Tajudin (26), anggota Satpol PP yang tewas di tengah bentrokan yang terjadi di kawasan Makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara (Jakut), Rabu (14/4).

”Pesan singkat ini disampaikan kepada saudara-saudara, calon istri, dan kawan-kawan dekatnya,” ujar Kosasih di rumah duka, di Jalan HH Nomor 43 RT 9 RW 1, Kebon Jeruk, Jakarta Barat (Jakbar), Kamis siang.

Dari rumah duka, jenazah Tajudin dishalatkan di masjid dan dimakamkan di Makam Assuru yang berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya.

Kosasih mengatakan, jenazah adiknya ditemukan di dekat rawa. Saat Satpol PP terdesak, Tajudin diduga berusaha menyelamatkan diri, tetapi tertangkap dan akhirnya dianiaya.

”Saat jenazahnya ditemukan, wajahnya masih penuh lumpur rawa,” tutur Kosasih. Ironisnya, kata Aida Priyanti (23), calon istri almarhum, 11 April lalu, atau lima hari sebelum kejadian, kekasihnya masih berziarah ke makam Mbah Priuk bersama majelis taklim setempat.

Peristiwa ini membuat rencana pernikahan Aida dan Tajudin pada 10 Oktober 2010 urung. Keduanya berpacaran sejak empat tahun lalu sebelum akhirnya memutuskan menikah.

”Kami bertemu dan menjalin kasih di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kasih Bangsa, Kebon Jeruk. Ia pria yang setia, sabar, penyayang, dan saleh,” ucap Aida.

Mereka sudah membangun rumah mungil tak jauh dari rumah duka. Rumah bertembok biru itu baru saja selesai. Saat sang kekasih berangkat bertugas, Aida mengaku waswas dan mengikuti perkembangan calon suaminya lewat pemberitaan di televisi. Pukul 13.00, saat istirahat, Tajudin menelepon Aida, mengeluh, punggung dan tangannya sakit. Selain itu, Tajudin juga mengungkapkan bahwa dua rekannya telah tewas.

Melihat tayangan di televisi yang menggambarkan suasana rusuh, Aida menelepon Tajudin, tetapi tak berjawab. Kala itu pukul 14.30. Seusai maghrib, Aseng, rekan Tajudin, memberi tahu bahwa Tajudin terluka dan dibawa ke rumah sakit. ”Saat kami ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, kami melihat ia sudah meninggal. Kata orang rumah sakit, ia mengembuskan napas terakhir pukul 17.00,” ujar Aida.

Dua karangan bunga terpacak di sebuah rumah di Kompleks Delpera, Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakut, Kamis. Ucapan simpati belasungkawa ini ditujukan oleh pengirimnya kepada Warsito Supono (43), petugas Satpol PP yang tewas dalam bentrokan Koja.

Di mata keluarganya, Warsito dikenal sebagai ayah yang menyenangkan. Ia meninggalkan seorang istri, Sukesi (40), serta dua anak, Anggi Windarti (19) dan Arti Widiarti (13).

Kakak Warsito, Siti Sukinah (58), menunjukkan raut wajah geram dan kepedihan yang mendalam ketika disalami para pelayat. Peristiwa ini begitu memilukan dan hanya merugikan warga setempat. Warga tercekam rasa takut, sebagian dari mereka memendam perasaan curiga satu sama lain.

Kebetulan Warsito adalah warga Koja. Pihak keluarga pun menyimpan tanya: ”Buat apa kami harus bentrok dengan tetangga sendiri?” gumam Siti dengan nada yang berat.

”Saya tidak perlu ini,” sambil menunjuk karangan bunga dari pejabat pemerintah untuk adiknya itu. Siti hanya meminta agar pemerintah tidak mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. ”Padahal, yang jadi korban orang seperti kami. Kasihan anak-anak yang ditinggalkan,” katanya.

Anggi dan Arti masih terlihat depresi. Mata kedua gadis remaja ini terlihat basah. Teman- teman sekolah mereka mencoba membuatnya tenang. Namun, kedua anak Warsito ini tetap saja murung, bercerita tentang ayahnya sekadarnya.

Sementara itu, istri Warsito, Sukesi, mengatakan, suaminya meninggalkan rumah dua hari sebelum bentrok berlangsung. Saat itu, katanya, pemimpin Satpol PP mengumpulkan semua anggotanya di Kantor Wali Kota Jakut. Selama dua hari, Warsito bersama anggota Satpol PP yang lain menginap di Kantor Wali Kota Jakut.

Pemimpinnya memberi arahan bahwa akan melakukan tugas membongkar bangunan tanpa izin di area Makam Mbah Priuk. Tugas ini baru dilaksanakan Warsito dua hari kemudian dengan menggelar apel pagi di area Makam Mbah Priuk. Sukesi tidak menyangka tugas suaminya harus diakhiri dengan hilangnya nyawa.

Sayap keluarga

Sementara itu, tangis pecah ketika peti jenazah Israel Jaya Simangunsong (27) tiba di rumah orangtuanya, Jalan Swadaya Nomor 97 RT 002 RW 14, Kelurahan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis sekitar pukul 16.22.

Rumah Abidin Simangunsong, ayah almarhum yang berada di sudut gang, disesaki keluarga, kerabat, dan teman-teman Jaya. Abidin duduk termenung. Wajahnya kuyu dan letih. ”Dia sangat terpukul dan sedih karena Jaya ibaratnya salah satu sayap Abidin dan menjadi tumpuan keluarga,” tutur Firman Pangaribuan (65), paman Jaya.

David Ristombi (27), kawan Jaya, menyatakan tidak menyangka bahwa salah satu korban dalam bentrok berdarah di kawasan Koja itu adalah Jaya. Rabu siang, kata David, Jaya memperbarui statusnya di situs jejaring pertemanan Facebook. ”Jaya meng-update statusnya, Rabu siang, pada pukul 02.30. ’Saat tangan terluka, MATA menangis...Saat mata menangis, tangan menghapusnya’,” ujar David.

David dan beberapa kawan Jaya pun menduga-duga arti dari tulisan Jaya tersebut. ”Sampai akhirnya kami mendapat kabar bahwa Jaya ternyata ikut menjadi korban dalam bentrokan di Koja,” tutur David. (Windoro Adi Tamtomo/ Andi Riza Hidayat/Cokorda Yudistira)***

Source : Kompas, Jumat, 16 April 2010 | 03:04 WIB

Thursday, April 15, 2010

Kerusuhan Priok : Kerugian Capai Ratusan Miliar

Kerugian Capai Ratusan Miliar

Presiden Menyatakan Prihatin

JAKARTA - Pemerintah memperkirakan bentrokan antara warga dan aparat di wilayah Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah. Kerugian itu karena terhambatnya arus lalu lintas barang ekspor dan impor ke pelabuhan untuk diperdagangkan di kawasan pabean Indonesia.

Sementara bentrokan itu sendiri mengakibatkan dua orang tewas, sekitar 130 orang luka-luka, dan puluhan mobil dibakar. Pukul 23.55, di depan RSUD Koja, tiga mobil bak terbuka patroli Satpol PP dibakar massa. Satu mobil lain di depan instalasi gawat darurat dirusak dan pagar RSUD dijebol.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers di depan Kantor Presiden, Rabu tengah malam, menyatakan prihatin dan menyayangkan terjadinya benturan fisik sehingga menimbulkan korban baik pada pihak Satpol PP, Polri, maupun warga masyarakat.

Bahkan, Presiden juga menyatakan berbelasungkawa atas tewasnya seorang personel Satpol PP yang dirawat di rumah sakit. Sementara itu, juru bicara Pemprov DKI Cucu Ahmad Kurnia menyebutkan, ada dua orang yang tewas, yakni M Tadjudin, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, dan W Supono, warga Kelurahan Tugu, Koja.

Presiden dalam kesempatan itu juga meminta agar status lokasi terjadinya bentrokan itu tetap status quo, dan meminta agar pintu negosiasi dengan pihak-pihak terkait dibuka kembali. Presiden juga meminta kepada Gubernur DKI Fauzi Bowo untuk melakukan pendekatan.

Dan, kepada Polri, Presiden meminta agar mencegah terjadinya insiden baru yang bisa membuka peluang dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain.

Presiden juga menyatakan bahwa biaya perawatan korban luka akan ditanggung pemprov.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto meminta maaf kepada semua pihak atas terjadinya bentrokan ini. Semua pihak diminta menahan diri agar kerusuhan tidak meluas.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan kembali membuka dialog untuk menyelesaikan masalah ini. Pemprov tidak berniat untuk menggusur makam, tetapi bangunan pendopo yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Makam Mbah Priuk justru akan dipercantik. Pelindo juga sudah menyetujui pemberian uang kerohiman Rp 2,5 miliar bagi ahli waris dan tanah 5.000 meter persegi bagi kepentingan masjid.

Taksiran pasti

”Sementara ini memang belum ada taksiran yang tepat soal kerugian, namun pasti ratusan miliar rupiah, karena Tanjung Priok melayani ekspor impor,” kata Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Perindustrian, Kantor Menko Perekonomian Edy Putra Irawadi di Jakarta, Rabu.

Menurut Edy, truk-truk yang keluar masuk dari kawasan Terminal Peti Kemas Koja terhambat akibat kerusuhan tersebut. Meski demikian, belum ada rencana pengalihan bongkar muat barang dari Pelabuhan Tanjung Priok ke kawasan lain.

Akibat kejadian itu, kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, kalangan pengusaha harus menanggung kerugian sedikitnya Rp 20 miliar karena berbagai kegiatan terhambat.

Pengamanan di pelabuhan juga minim sehingga memungkinkan warga menerobos masuk ke terminal peti kemas hingga ke kawasan Pelindo II. Mereka berhasil mendobrak kantor pelayanan dokumen ekspor-impor yang berada di areal terminal peti kemas Koja.

Kalangan pengusaha. kata Sofjan, khawatir dengan keselamatan dokumen ekspor-impor mereka yang berada di kantor tersebut.

Menurut Anton J Supit, anggota Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Seluruh Indonesia, hampir 70 persen kegiatan ekspor-impor nasional bergantung di Pelabuhan Tanjung Priok.

Namun, menurut Direktur Utama Pelindo II Richard Jose Lino, meskipun terjadi bentrokan proses bongkar muat barang tidak terganggu. Barang yang akan dimuat atau dibongkar sudah ada di kawasan pelabuhan sebelum kerusuhan terjadi.

Akan tetapi, lalu lintas truk peti kemas yang datang dari arah Cakung dipastikan tidak bisa masuk ke dalam kawasan Terminal Peti Kemas Koja.

”Namun, truk yang datang dari jalan by pass tetap bisa masuk. Akan tetapi, seluruh truk yang akan keluar dari Terminal Peti Kemas Koja sama sekali tidak bisa keluar,” ujarnya.

Rusuh

Bentrokan berdarah yang terjadi antara warga dan aparat Satpol PP dan polisi telah melumpuhkan jalur ekspor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Bentrokan warga dan aparat pecah ketika Pemerintah Kota Jakarta Utara menertibkan bangunan Gapura Mbah Priuk (Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad) di Tempat Pemakaman Umum Dobo.

Bentrokan meluas sampai ke area Jalan Jampea, yang juga jalur utama angkutan ekspor. Mobilitas barang dan orang seharian penuh terganggu bentrokan tersebut. Selain kondisi mencekam, akses transportasi warga terganggu karena jalanan di sekitar wilayah ini menjadi macet.

Bentrokan diawali dengan lemparan botol minuman energi ke arah warga. Korban luka-luka semakin bertambah banyak.

Petugas Satpol PP dan polisi berhasil masuk ke area TPU yang dikenal sebagai makam Mbah Priuk. Mereka berhasil menangkap sebagian warga yang bertahan. Peristiwa inilah yang memicu kemarahan warga dengan merusak dan menggulingkan mobil milik petugas Satpol PP.

Warga juga merusak sejumlah sepeda motor yang diparkir pemiliknya di pinggir Jalan Jampea. Bentrok lebih besar (ketiga kalinya) terjadi mulai pukul 14.00. Warga kian beringas dan melempari batu ke arah aparat, yang dibalas aparat dengan pukulan pentungan dan tembakan gas air mata. Kedua pihak berkali-kali mengejar satu sama lain. Warga bahkan kembali berhasil merusak dan menggulingkan truk pengangkut pasukan milik kepolisian. Bentrok terakhir ini berlangsung sampai sore hari.

Sekitar pukul 16.30 hingga pukul 17.30, berangsur-angsur anggota Satpol PP dan polisi dievakuasi ke zona netral dari daerah konflik di Kuburan Mbah Priuk yang terletak sekitar 1 kilometer di sebelah timur Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Hingga pukul 21.00, lebih dari empat ratus anggota Satpol PP yang berkumpul di ujung dermaga Kolinlamil untuk menunggu evakuasi lebih lanjut. Sudah bebas

Kuasa Hukum Ahli Waris Makam Mbah Priuk, Zulhendrihasan, menyayangkan keputusan Pemerintah Kota Jakarta Utara yang tidak mengedepankan upaya dialog.

Namun, Wakil Wali Kota Jakarta Utara Atmansanjaya mengatakan, permintaan warga mengada-ada. Warga meminta ganti rugi tanah yang menurutnya merupakan hak PT Pelabuhan Indonesia II. Pengelolaan oleh Pelindo ini berdasarkan surat Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 1987. Adapun perintah membongkar bangunan di kawasan ini berdasarkan Instruksi Gubernur Nomor 132 Tahun 2009 tentang Penertiban.

Menurut Lino, kawasan 5 hektar yang ada di sekitar makam Mbah Priuk seharusnya sudah tidak ada masalah dan sudah dibebaskan. Sejak tahun 1999, hak penggunaan kawasan pelabuhan itu sudah diberikan pemerintah kepada perusahaan Hongkong, Hutchison Port Holding.

Pada tahun 1999, ada yang menyatakan makam itu belum dibebaskan.

Sebagai informasi, kepemilikan JICT 51 persen dipegang oleh Hutchison Port Holding, melalui anak perusahaannya, Grosbeak Pte Ltd. Sebanyak 49 persennya dikuasai Pelindo II.

(OIN/ HAM/ PPG/ ECA/ WIN/JOS/BRO/NDY/HAR)***

Source : Kompas, Kamis, 15 April 2010 | 03:03 WIB

Sebelum Lakukan Tugas, Ahmad Tajudin Ziarah Ke Makam Mbah Priok

Sebelum Lakukan Tugas, Ahmad Tajudin Ziarah Ke Makam Mbah Priok

Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

Kompas.com, Kamis, 15 April 2010 | 15:02 WIB

Pemakaman jenasah anggota satpol pp, Ahmad Tajudin (26) di Pemakaman Masjid Jami Assuru, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (15/4/2010). Almarhum salah satu korban meninggal dalam bentrokan yang terjadi antara warga dan satpol pp saat upaya pembongkaran pagar makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara kemarin. (Kompas Images/Kristianto Purnomo)***

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahmad Tajudin (26), anggota satpol PP yang menjadi korban tewas dalam bentrokan makam Mbah Priok, ternyata masih merupakan ahli waris Mbah Priok. Lima hari sebelum kejadian, Ahmad berziarah ke makam keramat tersebut.

http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif

Sabtu kemarin baru saja dia ziarah ke makam Mbah Priok.

-- Aida Priyanti

http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif

"Sabtu kemarin baru saja dia ziarah ke makam Mbah Priok," kata Aida Priyanti, saat ditemui di rumah duka, jalan HH, Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (15/4/2010).

Ahmad mengunjungi makam Mbah Priok bersama rombongan keluarganya. Menurutnya, almarhum rajin mengikuti acara keagamaan di masjid Jami Assuru. Dia juga tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid. "Dia orangnya sholeh, rajin mengikuti acara-acara masjid. Kadang-kadang dia juga suka ngajakin saya," tuturnya.

Ahmad dan Aida berencana menikah pada 10 Oktober 2010 mendatang. Sayang, rencana itu akhirnya kandas karena takdir berkata lain. Kepada Aida, Ahmad sering berpesan agar sabar. Pasalnya, pekerjaan sebagi satpol PP sering menempuh resiko tinggi. "Pesannya supaya sabar, sabar, dan sabar," tandas dia. ***

Massa bentrok dengan Satpol PP dan Kepolisian Resort Jakarta Utara

Serang Aparat

Massa bentrok dengan Satpol PP dan Kepolisian Resort Jakarta Utara yang berupaya membongkar gapura kompleks makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010). Bentrokan ini mengakibatkan sedikitnya 100 orang terluka dan belasan kendaraan roda dua dan empat dibakar massa. (PERSDA/BIAN HARNANSA)***

Source : Kompas Images, Rabu, 14 April 2010 | 21:09

Kerusuhan Priok : Polisi menyelamatkan rekannya yang terluka


Terluka

Polisi menyelamatkan rekannya yang terluka dalam bentrokan dengan warga terkait rencana penggusuran di kompleks makam Mbah Priok di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010). (KOMPAS/AGUS SUSANTO )***

Source : Kompas Images, Rabu, 14 April 2010 | 21:20

Makam Sudah Dipindah? Cerita Bohong Belaka

Makam Sudah Dipindah? Cerita Bohong Belaka

Kompas.com, Kamis, 15 April 2010 | 14:04 WIB

Bentrokan terjadi antara anggota satpol pp dan warga saat upaya pembongkaran kompleks makam Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (14/4/2010). (Kompas Images/Kristianto Purnomo)***

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah seorang pengurus makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau yang dikenal dengan Mbah Priuk, Habib Bakrie Assegaf, yang ditemui di makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara, Kamis (15/4/2010), menyangkal pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang sebelumnya menyatakan bahwa makam Mbah Priuk telah dipindahkan.

"Itu semua cerita bohong belaka.Yang jelas, sampai sekarang makam ini masih ada di sini dan sangat bersejarah karena yang namanya Tanjung Priok itu beliau yang kasih nama," katanya.

Habib Bakrie juga mengatakan, di dalam area makam Mbah Priuk juga terdapat makam anak cucu Mbah Priuk yang jumlahnya tidak dapat dia pastikan. "Total di dalam ada Habib Hasan dan semua anak cucu, banyak. Ada kiai sepuh Tanjung Priok juga. Kalau Gubernur bilang sudah pindah, itu salah," imbuhnya.

Menurut Habib Bakrie, makam Mbah Priuk adalah makam bersejarah bagi umat Islam karena Mbah Priuk adalah tokoh yang menyiarkan Islam di Tanjung Priok dan sekitarnya.

Habib Bakrie memperingatkan pemerintah provinsi agar tidak menggusur situs yang dianggap bersejarah itu. "Silakan kalau mau diperbaiki bikin bagus, kami terima. Tapi, kalau pugar keseluruhan, kami perjuangkan," imbuhnya disambut teriakan takbir pengikutnya. ***

DPRD Siapkan Pansus Kasus Kekerasan yang Terjadi di Sekitar Makam Mbah Priuk

MBAH PRIUK

DPRD Siapkan Pansus Kasus Kekerasan

JAKARTA - DPRD DKI Jakarta menyiapkan panitia khusus untuk membahas kekerasan yang terjadi saat penertiban bangunan-bangunan liar di sekitar makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau Mbah Priuk. DPRD menyesalkan penertiban itu menggunakan kekerasan dan berakibat pada jatuhnya korban luka 144 orang.

Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan, Rabu (14/4) di Jakarta Pusat, mengatakan, DPRD akan memanggil Gubernur Fauzi Bowo untuk mengetahui penyebab kekerasan. DPRD menduga ada kelemahan dalam sosialisasi kepada warga sehingga muncul perlawanan.

Wakil Ketua DPRD Triwisaksana mengatakan, bentrokan terjadi karena satuan polisi pamong praja (satpol PP) mengedepankan kekerasan dibandingkan dialog. Komandan lapangan satpol PP juga terus memerintahkan pasukannya merangsek maju meskipun sudah jatuh korban di kedua pihak.

”Satpol PP harus belajar dari Polri yang memiliki satuan negosiator lapangan dan intelijen. Dengan informasi kondisi lapangan yang lebih dini, tawuran warga dan satpol PP dapat dicegah,” kata Triwisaksana.

Triwisaksana dan Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta Ida Mahmudah meminta gubernur memberhentikan Kepala Satpol PP di tingkat provinsi dan kota.

Sebelumnya, Ida Mahmudah dan anggota Komisi B DPRD DKI, Andhyka S, hadir di lokasi bentrokan untuk turut memediasi dialog antara Wakil Wali Kota Jakarta Utara dan perwakilan ahli waris. Namun, Ida terkena lemparan batu dari arah satpol PP.

Andhyka juga dikeroyok beberapa anggota satpol PP meskipun sudah berteriak bahwa dirinya anggota DPRD. Andhyka meminta visum dari rumah sakit dan akan menggugat satpol PP.

Kepala Satpol PP DKI Jakarta Harianto Badjoeri mengatakan, pihaknya bergerak atas perintah Pemerintah Provinsi DKI dan pengadilan. Bangunan liar yang akan ditertibkan berada di tanah milik Pelindo II dan makam yang dikeramatkan warga tidak akan dibongkar, tetapi dipugar dan diperindah. Ia membantah pihaknya memulai kekerasan. Warga yang dituding memulai serangan dan banyak anak buahnya yang terluka. (ECA/NDY)***

Source : Kompas, Kamis, 15 April 2010 | 03:53 WIB

Korban Priok Berjatuhan : Jumlah Korban Luka Masih Simpang Siur

Warga meninggalkan lokasi bentrokan antara aparat keamanan dan warga dalam gusuran makam Mbah Priuk di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (14/4). (Kompas/Agus Susanto)***

Korban Priok Berjatuhan

Jumlah Korban Luka Masih Simpang Siur

JAKARTA - Bentrokan antara warga dan aparat satuan polisi pamong praja dibantu petugas kepolisian di kawasan Koja, Jakarta Utara, menyisakan korban luka dari kedua belah pihak. Sebagian besar mengalami luka patah tulang terkena lemparan benda keras dan tersabet senjata tajam.

Mereka yang tidak terlibat konflik pun turut menjadi korban. Sebagian korban ini berasal dari anggota legislatif dan wartawan. Hampir semua korban kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara.

Hingga Rabu (14/4) malam, berdasarkan data dari Kepala Bidang Informasi Publik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, jumlah korban sebanyak 130 orang dengan rincian 66 petugas satpol PP, 10 polisi, dan 54 warga sipil.

Informasi dari Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar menyatakan, jumlah korban luka mencapai 144 orang. Namun, data rinci dari polisi hanya menunjukkan 134 orang luka, terdiri dari 10 polisi (2 di antaranya luka berat), 69 petugas satpol PP, dan 55 warga. Atas perbedaan angka itu, Boy menyatakan, polisi masih terus memverifikasi data.

Informasi dari Direktur RSUD Koja Togi Asman (sampai pukul 16.00 WIB), korban luka yang dirawat 87 orang, terdiri dari 57 petugas satpol PP, 11 polisi, dan 19 warga. Pantauan Kompas, sampai pukul 19.00 WIB, terdapat 15 korban luka baru yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja.

Dari 87 orang itu, sebanyak 16 orang (tidak termasuk 15 orang lainnya yang masuk pukul 16.00 WIB-19.00 WIB) masih harus dirawat. Dari 16 orang itu, 7 orang di antaranya dalam kondisi kritis sehingga harus menginap di RSUD Koja. Di antara yang dirawat itu terdapat pasien bernama Bayu (13) yang terluka akibat senjata tajam. Selain itu, dua orang terpaksa dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo, yakni Alvin (13) dan Sucipto (23).

”Kami belum menerima adanya korban tewas. Mungkin di rumah sakit lain,” kata Togi. Semua biaya perawatan korban, lanjut Togi, ditanggung Pemprov DKI Jakarta melalui dinas kesehatan. RSUD akan menagih semua biaya tadi kepada pemerintah.

Mencari keluarga

Selama terjadi bentrokan, warga berduyun-duyun mencari sanak keluarganya. Sebagian dari mereka khawatir salah satu anggota keluarganya turut menjadi korban.

Salah satunya, Topan, warga Cilincing, Jakarta Utara, bersama keluarganya memastikan apakah anaknya turut menjadi korban atau tidak. ”Semalam anak saya pamit mau pergi berziarah. Ini tidak biasa karena mereka berziarah pada malam Jumat,” tuturnya.

Setiap ada korban luka yang masuk selalu menjadi perhatian warga. Sebagian besar dari mereka terkulai lemas di atas kereta dorong, bahkan ada yang nyaris tanpa baju.

Sesalkan tindakan aparat

Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) Nur Cholis menyesalkan terjadinya bentrokan antara warga dan aparat keamanan. ”Saya imbau aksi kekerasan ini dihentikan. Jangan ada pikiran untuk balas dendam,” katanya seusai menjenguk korban di RSUD Koja.

Nur Cholis belum bisa memastikan apakah ada pelanggaran HAM dalam bentrokan tersebut.

Bentrokan mengakibatkan kawasan Tanjung Priok lumpuh sejak pagi hingga sore hari. Semua toko, warung, dan usaha di sepanjang Jalan Jampea dan sekitar RSUD Koja tutup. Truk- truk tujuan Cilincing sempat terjebak kepungan massa.

Suasana di lokasi bentrokan pun menyeramkan. Di lokasi terlihat bangkai-bangkai mobil, truk, dan sepeda motor milik aparat dan warga yang hangus terbakar.

Pengamatan Kompas, ada 30 kendaraan pengangkut milik satpol PP, 3 alat berat yang sedianya digunakan untuk menggusur, 5 truk, serta 1 kendaraan taktis milik polisi habis dibakar massa.

Sementara itu, Boy memaparkan, jumlah kendaraan roda empat yang rusak karena dibakar dan dirusak mencapai 15 buah dengan rincian 6 bus dan 4 truk polisi, 4 truk satpol PP, dan 1 water canon. Namun, Boy mengakui, polisi belum mendata semua kerusakan kendaraan roda dua.

Sejumlah perlengkapan, misalnya perisai, pakaian setelan, dan helm milik aparat yang dirampas warga, akhirnya dibakar di jalan. Satu truk di depan RSUD Koja hingga pukul 19.00 masih dalam kondisi terbalik dan terbakar. Siapa pun yang berada di dekat lokasi ini, matanya akan terasa pedih karena sisa tembakan gas air mata bercampur asap pembakaran kendaraan.

Farhan (23), salah satu korban terluka, mengaku diserang personel satpol PP saat bersembahyang di makam. Penuturan senada disampaikan Didin (16) yang juga korban terluka seusai dirawat di IGD RSUD Koja.

Menahan diri

Boy menyatakan, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono meminta semua pihak menahan diri sehingga tidak memunculkan lagi kerusuhan di luar batas kepatutan seperti yang terjadi pada Rabu siang. Upaya memprovokasi juga diharapkan dihentikan.

Untuk pengamanan kemarin, Polda Metro Jaya mengerahkan empat satuan setingkat kompi (400 polisi) untuk berpatroli dan menjaga kondisi wilayah Koja dan sekitarnya. Pada hari Kamis ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan bertemu dengan wakil warga, tokoh agama, serta ahli waris makam Mbah Priuk.

Ditanya apa penyebab bentrokan, Boy menduga, pemicunya adalah kurangnya komunikasi dan sosialisasi rencana penggusuran. Selain itu, ada kelompok yang memprovokasi warga. ”Ada salah pengertian, yang akan digusur bukan makam, tetapi permukiman warga di sana,” ujarnya. (BRO/ONG/NDY/ WIN/JOS/AGS/TRI)***

Source : Kompas, Kamis, 15 April 2010 | 03:54 WIB

Kerusuhan di Sekitar Situs Cagar Budaya Makam Mbah Priuk

Setelah sempat terputus karena bentrokan antara massa dan petugas berkaitan dengan rencana pembongkaran makam Mbah Priuk, lalu lintas di Jalan Jampea, di depan RS Koja, Rabu (14/4) malam, mulai dibuka untuk kendaraan. (Kompas/Priyombodo)***

KERUSUHAN PRIOK

Mereka Berdampingan di RSUD Koja

Di jalanan, ribuan warga melempari aparat Satuan Polisi Pamong Praja dan polisi dengan apa saja. Sesekali mengejar petugas, kemudian merampas peralatan mereka.

Aparat juga melawan. Mereka bergiliran melemparkan batu ke arah warga. Sesekali menembakkan meriam air atau gas air mata ke kerumunan warga. Kejar-kejaran tak terhindarkan.

Perang kota ini hanya berlangsung di jalan di wilayah Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Perang tak terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja yang menjadi tempat perawatan korban luka. Kedua pihak dirawat di satu ruang, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja. Rumah sakit ini juga menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah berperang di jalan.

Di RSUD Koja tidak ada permusuhan. Semua yang berada di tempat ini hanya mereka yang memerlukan pertolongan. Pihak rumah sakit mengambil sikap tegas. ”Kami harap tenang, sabar. Jangan ganggu kami memberi pengobatan. Semua warga akan kami tolong,” tutur Wakil Direktur RSUD Koja Caroline ketika menenangkan warga.

Selama bentrok berdarah itu, kepanikan terpusat di Ruang IGD RSUD Koja. Sanak keluarga menunggu di depan pintu masuk ruangan itu.

Hampir semua korban dibawa tim medis dengan ambulans ke ruangan ini. Suasana di IGD RSUD Koja hiruk-pikuk.

Sucipto nyaris tidak bergerak saat tubuhnya dibawa keluar dari IGD untuk dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo. Mata kirinya tertutup perban yang basah dengan darah. ”Matanya luka,” kata Direktur RSUD Koja Togi Asman.

Selama penantian para korban luka, mereka yang bertikai tak saling bentrok di rumah sakit. Kedua pihak sama-sama bisa menahan diri.

Panas di jalan

Kondisi di arena bentrok sangat panas. Puncak bentrok berlangsung pada sore hari sekitar pukul 16.00. Saat itu massa membakar puluhan kendaraan dinas Satpol PP dan polisi, termasuk dua backhoe dan satu kendaraan meriam air milik Polda Metro Jaya.

Awalnya mereka memecahkan kaca-kaca mobil, lalu menjungkirkan kendaraan, dan menjarah isinya. Seusai menjarah, mereka membakar.

Hanya beberapa menit kemudian, kompleks gudang Vepak Terminal Jakarta, yang terletak di sudut Jalan Dobo, Koja, Jakarta International Terminal Container (JICT), bak di

kelilingi api yang berasal dari deretan kendaraan yang dibakar.

Pemicu

Bentrokan dipicu rencana Pemerintah Provinsi DKI menggusur sebagian lokasi makam Mbah Priuk yang dikeramatkan. Warga, terutama mereka yang mengatasnamakan ahli waris tanah tersebut, berusaha mempertahankan Mbah Priuk.

Kuasa hukum ahli waris Makam Mbah Priuk, Zulhendrihasan, mengatakan, tanah ini awalnya makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad. Saudagar Arab itu meninggal pada tahun 1756 karena kapalnya terkena badai di laut utara Jakarta.

Saat Habib Hasan dimakamkan, batu nisannya adalah dayung patah dan ”periuk” nasi milik Habib Hasan. Di makam itu juga ditanam bunga tanjung. Zulhendrihasan meyakini hal inilah awal dari penyebutan nama Tanjung Priok.

Sebelum tahun 1997, lokasi itu merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dobo yang diisi oleh 28.500 unit makam. Luas TPU dan kawasan sekitarnya mencapai 145,2 hektar dan berada di Jalan Dobo, Jakarta Utara. Para ahli waris Habib Hasan mengklaim tanah itu sebagai milik mereka berdasarkan hak Eigendom Verponding No 4341 dan No 1780.

Sementara pihak PT Pelindo II mengklaim tanah itu berdasarkan sertifikat Hak Pengelolaan Nomor 1/Koja Utara, yang diterbitkan Kantor Pertanahan Jakarta Utara pada 21 Januari 1987. Dengan sertifikat itu, PT Pelindo II berniat memperluas terminal bongkar muat peti kemas sesuai rencana induk pelabuhan.

Mendengar hal itu, pihak ahli waris melakukan protes dan memeriksa status kepemilikan tanah ke Kantor Pertanahan Jakarta Utara. Kantor Pertanahan Jakarta Utara mengeluarkan surat No 182/09.05/HTPT yang menyatakan, status tertulis tanah di Jalan Dobo itu atas nama Gouvernement Van Nederlandch Indie dan telah diterbitkan sertifikat hak pengelolaan No 1/Koja Utara atas nama Perum Pelabuhan II.

Pada periode 1995-1997, 28.500 kerangka dipindahkan ke TPU Budidarma, Semper, Jakarta Utara. Pada 21 Agustus 1997, kerangka Habib Hasan juga dipindah ke TPU Budidarma.

Namun, pada September 1999, ahli waris kembali membangun makam Mbah Priuk di lokasi lama dan sebuah pendopo tanpa izin Pelindo II dan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB). Makam itu sering dikunjungi orang untuk berdoa dan berziarah.

Pada 2001, Habib Muhammad bin Achmad sebagai ahli waris Habib Hasan mengajukan gugatan atas tanah tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara dengan nomor perkara 245/Pdt.G/2001/PN.Jkt.Ut melawan PT Pelindo II. Namun, PN Jakarta Utara menolak gugatan itu. Setelah itu, pihak ahli waris tidak mengajukan banding sehingga putusan pengadilan memiliki kekuatan hukum tetap dan hak atas tanah itu menjadi milik PT Pelindo II.

Pada 2010, PT Pelindo II meminta bantuan hukum dari Pemprov DKI untuk membongkar bangunan pendopo dan karena tidak memiliki IMB dan kawasan itu akan dijadikan perluasan terminal peti kemas. Makam akan diperluas dan dipercantik sehingga tetap dapat dikunjungi untuk ziarah warga. (WIN/BRO/NDY/ECA/CAL/JOS/AGS)***

Source : Kompas, Kamis, 15 April 2010 | 03:01 WIB

Saturday, April 10, 2010

Jaya Suprana : "Indonesia dan Ramalan Jayabaya"

Indonesia dan Ramalan Jayabaya

Oleh Jaya Suprana

Saya tak percaya ramalan tentang masa depan akibat terlalu yakin, hanya Yang Maha Tahu yang tahu mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Maka, saya tidak pernah percaya Ramalan Jayabaya.

Meski keyakinan saya tidak tergoyahkan, tetapi segenap malapetaka yang bertubi-tubi menimpa negara dan bangsa Indonesia memilukan sanubari saya sehingga saya mulai tergerak untuk merenungi apa yang disebut sebagai Ramalan Jayabaya. Menurut kesepakatan para ilmuwan sejarah, Jayabaya adalah raja Kediri pada masa 1135-1157 yang bernama lengkap Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Kejayaan Jayabaya sebagai raja tersurat pada bait-bait awal Kitab Musasar gubahan Sunan Giri Prapen.

Penggagas tulisan dan rangkuman ramalan Jayabaya ke dalam kitab Jangka Jayabaya adalah Pangeran Kadilangu II pada lingkup masa tahun 1741-1743. Pangeran Kadilangu II adalah keturunan Sunan Kalijaga yang berhasil meyakinkan Brawijaya V untuk masuk Islam setelah pertemuan segi empat bersama dua penasihat kerajaan Majapahit: Sabda Palon dan Nayagenggong.

Di samping Jangka Jayabaya, pangeran yang di masa Sri Paku Buwana II juga Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura juga menulis berbagai buku penting mengenai kebudayaan Nusantara, seperti Babad Padjadjaran, Babad Madjapahit, Babad Demak, Babad Padjang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dan lain-lain. Tampaknya memang banyak penggemar ramalan terbukti popularitas Ramalan Jayabaya di khazanah kebudayaan Jawa setara Ramalan Nostradamus di kebudayaan Barat. Akibat terlalu populer, kitab Jangka Jayabaya kemudian berkembang ke permukaan kesadaran umum dan awam dalam beraneka ragam bentuk versi berdasar beraneka ragam tafsir, selera, dan kehendak hingga tidak jelas lagi tentang mana yang otentik mana yang tidak.

Renungan

Menarik, bagaimana rangkaian petilan salah satu versi Ramalan Jayabaya dalam bentuk syair berbahasa Jawa ternyata memiliki kandungan makna visioner selaras dan sesuai dengan berbagai prahara etika, moral, dan akhlak yang sedang melanda negara dan bangsa Indonesia di masa 853 tahun setelah wafatnya Jayabaya:

pancen wolak-waliking jaman, amenangi jaman edan

ora edan ora kumanan /sing waras padha nggagas

wong tani padha ditaleni/ wong dora padha ura-ura

beja-bejane sing lali, isih beja kang eling lan waspadha

wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil

sing ora abisa maling digethingi/sing pinter duraka dadi kanca

wong bener sangsaya thenger-thenger/wong salah sangsaya bungah

akeh bandha musna tan karuan larine

akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebab

akeh wong nglanggar sumpahe dhewe/manungsa padha seneng ngalap,

tan anindakake hukuming Allah

barang jahat diangkat- angkat /barang suci dibenci

sing edan padha bisa dandan/ sing ambangkang padha bisa

nggalang omah gedong magrong-magrong

sungguh zaman gonjang-ganjing, menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian /yang sehat pada olah pikir

para petani dibelenggu/para pembohong bersuka ria

beruntunglah bagi yang lupa/masih lebih beruntung yang ingat dan waspada

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil yang tidak dapat mencuri dibenci /yang pintar curang jadi teman

orang jujur semakin tak berkutik / orang salah makin pongah

banyak harta musnah tak jelas larinya / pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

banyak orang berjanji diingkari / banyak orang melanggar sumpahnya sendiri

manusia senang menipu / tidak melaksanakan hukum Allah

barang jahat dipuja-puja / barang suci dibenci

yang gila dapat berdandan

yang membangkang bisa punya rumah-gedung mewah-megah

Tanpa memubazirkan energi untuk terlibat polemik perdebatan tentang klenik atau bukan, sebenarnya ramalan an sich sangat mandraguna untuk didayagunakan sebagai pedoman akhlak dan budi-pekerti. Percaya atau tidak atas ramalan pada hakikatnya kurang penting sebab yang lebih penting adalah menyadari hakikat ramalan siap dimanfaatkan secara kelirumologis sebagai telaah kekeliruan demi mencari kebenaran.

Ramalan Jayabaya layak difaedahkan sebagai bahan renungan lebih mendalam, meluas, dan meninggi oleh bangsa Indonesia demi mawas-diri mendiagnosa kekeliruan. Hasil diagnosa sahih dimanfaatkan untuk menatalaksana upaya membenahi apa saja yang keliru pada das sein sikap dan perilaku peradaban dan kebudayaan bangsa Indonesia di masa kini demi das sollen membentuk masa depan yang lebih baik. ***

Jaya Suprana, Budayawan

Source : Kompas, Sabtu, 10 April 2010 | 03:17 WIB