Sunday, June 28, 2015

Gedung “Kuning” Akan Dioperasikan Oktober 2015


Minggu, 28 Juni 2015
MAJU TERUS
SATIM TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Gedung “Kuning”

Akan Dioperasikan Oktober 2015
Gedung Mutiara Bangsa – Gedung Mutiara Bangsa atau yang dijuluki Gedung “Kuning” dirancang untuk obyek wisata Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Gedung ini terletak di obyek wisata Waduk Bojongsari.(Foto : Satim)***
Indramayu, SATIM TERUS
“Gedung Kuning,” begitulah  banyak orang menjulukinya, karena kubah gedung yang menyerupai telur setengah matang itu didominasi warna kuning. Gedung  dimaksud berada disekitar obyek wisata Waduk Bojongsari,  Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi JawaBarat. Rencananya, pengoperasian Gedung itu akan dilakukan pada Oktober 2015, atau menjelang Hari Jadi Indramayu ke-488.

            Gedung milik pemerintah Kota Mangga itu disebut-sebut sebagai gedung yang dibangun dengan biaya termahal, dan dibutuhkan waktu terlama sepanjang sejarah  proyek pembangunan yang ada di wilayah Kabupaten Indramayu. Gedung ini dibangun setelah Bupati Indramayu, Dr. H. Irianto MS Syafiuddin atau yang akrab disapa Kang Yance memerintah untuk kedua kalinya. Namun hingga kini, sampai dengan istrinya Hj. Anna Sophanah terpilih menjadi Bupati Indramayu dan akan berakhir pada Desember 2015, gedung itu hingga berita ini dirilis masih belum rampung.  

            Untuk biaya pembangunannya saja, sejak tahun 2008 hingga tahun 2013 telah menghabiskan biaya Rp14,6 Miliar lebih. Sedangkan pembangunan fisiknya di tahun 2014 menelan biaya sekitar Rp15 Miliar. Ini belum ditambah dengan berbagai macam barang-barang yang bakal ditampilkan di gedung yang dinamai ”Mutiara Bangsa” itu, konon, bakal menghabiskan sekitar Rp 5 Miliar lagi. Pihak Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu mencatat, sampai dengan 2014 telah menelan biaya sekitar Rp 35 Miliar lebih dari APBD Kabupaten Indramayu. Itu belum termasuk biaya pembebasan tanah seluas sekitar 3 hektar pada masa lalu, yang konon, diperkirakan mencapai Miliaran rupiah.

            Meski beberapa pihak menyayangkan pengerjaan proyeknya di tahun 2014 tidak tepat waktu, karena melewati kontrak kerja hingga sekitar Maret 2015 masih dikerjakan. Kabarnya, pihak perusahaan pemenang tendernya terkena sanksi denda keterlambatan kontrak kerja. Meski pihak Dinas Cipta Karya belum menerangkan jumlah dana yang terkumpul dari sanksi denda tersebut.

Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu, H. Didi Supriyadi S.Sos, MSi melalui PPTK Proyek Pembangunan Gedung Mutiara Bangsa, Yudi Suswanto K, ST didampingi Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan pada Dinas Cipta Karya setempat, Agus Salam Pujianto SIP, ST, MSi mengatakan, Karena belum rampungnya pembangunan gedung Iptek itu, tahun 2015 ini dianggarkan Rp 1,25 Miliar dari APBD Kabupaten Indramayu. Duit sebanyak ini untuk pekerjaan eksterior dan interior, yakni penyelesaian bangunan bagian luar dan dalam gedung yang masih belum rampung.

“Jika memang ada suntikan dana dari Pemerintah Pusat, kemungkinan penyelesaiannya akan lebih dipercepat lagi,” katanya.

Data yang dihimpun Satimterus menyebutkan, biaya pembebasannya saja yang seluas sekitar 3 hektar lebih itu, konon, menelan biaya sekitar miliaran rupiah. Pembangunan Gedung ”Mutiara Bangsa” dimulai sejak tahun 2008 dengan menghabiskan biaya Rp 1.938.937.000 (Rp 1,9 Miliar lebih). Tahun berikutnya 2009 menelan biaya Rp 4.217.026.000 ( Rp 4,2 Miliar lebih), tahun 2010 sebesar Rp 1.735.757.000 (Rp1,7 Miliar lebih), dan di tahun 2011 tidak ada anggaran untuk melanjutkan pembangunan Gedung”Mutiara Bangsa” tersebut.

            Kemudian pembangunannya dilanjutkan pada tahun 2012 dengan menguras anggaran Rp 4.521.433.000 (Rp 4,5 Miliar lebih), dan tahun 2013 memakan biaya Rp 2.251.745.000 (Rp 2,2 Miliar lebih). Sedangkan pembangunan fisiknya saja di tahun 2014 bakal dianggarkan sekitar Rp 15 Miliar. Sementara untuk pengadaan barang-barang yang bernuansa ilmu pengetahuan dan teknologinya, konon, diperkirakan bakal menghabiskan sekitar Lima Miliar.

            Yudi memastikan, sebelum masa jabatan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah berakhir pada tahun 2015, Gedung “Mutiara Bangsa” sudah dioperasikan untuk umum sebagai salah satu obyek wisata Iptek.

            Kemudian, ketika Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah menerima kunjungan Tim Kementerian Riset dan Teknologi di Pendopo Bupati Indramayu pada 10 Maret 2015, istri Yance (mantan Bupati Kota Mangga dua periode) itu mengatakan, Gedung Iptek Mutiara Bangsa akan diresmikan dan dibuka untuk umum menjelang Hari Jadi Indramayu pada Oktober 2015 mendatang.(Satim)***


Friday, June 5, 2015

Susi Susilawati PPL Desa Pengajang


MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA
Jumat, 10 Desember 2014

Susi Susilawati PPL  Desa Pengajang
Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) Desa Pengajang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Susi Susilawati seusai menjalankan tugas mengawasi tahapan Pemilihan Presiden 2014.(Foto : Satim)***


Friday, May 8, 2015

Indramayu Minta Mangrove Center Diresmikan

Jumat, 08 Mei 2015
SATIM TERUS ONLINE
HUTAN LINDUNG
Indramayu Minta 
Mangrove Center Diresmikan
INDRAMAYU, Satim Terus Online Ancaman rusaknya kawasan hutan Mangrove, masih menjadi kekhawatiran Pemerintah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Pasalnya, hutan lindung pantai itu menjadi andalan untuk melindungi bibir pantai dari gempuran abrasi bagi daerah di Pantai Utara itu.
Selain itu, keberadaan hutan Mangrove menjadi karbon kehidupan bagi makhluk di bumi, khususnya di Kota Mangga, nama lain bagi Kabupaten Indramayu.
Sedangkan di Kota Mangga, Mangrove menjadi salah sumber kehidupan sekaligus penunjang perekonomian bagi warga di sekitarnya. Berkembangnya sejumlah kelompok Tani Hutan Mangrove, dengan melakukan budi daya bibit Mangrove dengan tanpa mengabaikan tugas utamanya, yaitu menjaga dan melindungi kelestarian hutan Mangrove yang ada di sekitarnya.
“Kondisi demikian, perlu adanya payung hukum yang lebih luas, sehingga keberadaan Mangrove terjaga dan lestari sepanjang masa. Inilah yang tengah kami perjuangkan untuk sebuah pengakuan dari Pemerintah lebih atas, paling tidak Gubernur Jawa Barat,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu, Drs. H. Munjaki MSi di kantornya, belum lama ini.
Munjaki berharap, agar Gubernur Jawa Barat (Jabar) mau menerbitkan Surat Keputusan (SK) seputar zona hutan Mangrove yang berada di Kabupaten Indramayu.
Ia berdalih, dengan adanya SK itu, Pemerintah Provinsi Jabar ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian hutan Mangrove di wilayah Kota Mangga.
Keterangan yang dihimpun Satim Terus Online, kerusakan hutan Mangrove dipicu dua faktor, yaitu akibat faktor alam dan manusia. Namun yang paling parah, akibat faktor manusia dengan cara mencuri atau merambah hutan seenaknya.
Kemudian beberapa waktu lalu, Wakil Gubernur Jabar, H. Deddy M

izwar berkunjung ke Indramayu, sambil melihat langsung keberadaan hutan Mangrove di kawasan Pantai Karangsong, Kecamatan Indramayu.
Kunjungan perwakilan Pemerintah Provinsi Jabar itu diakui memicu semangat para pecinta lingkungan di Bumi Wiralodra Indramayu. Deddy Mizwar tentunya banyak menerima masukan dan informasi seputar susah payahnya melestarikan hutan Mangrove.
Ketua Kelompok Tani Hutan Mangrove Center, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Wartam mengatakan, ia meminta agar para pelaku pencurian dan perambahan hutan Mangrove di Kabupaten Indramayu ditindak tegas dan  diseret ke meja hijau.
 “Karena pencurinya, selalu mencari kelengahan kami. Biar mereka kapok, jika kami memergoki pencuri hutan Mangrove yang sudah dilaporkan ke pihak Hutbun Indramayu, kami berharap agar di seret ke Pengadilan,” pinta Wartam didampingi Sekretarisnya, Didi Hermadi kepada Satim Terus Online.(Satim)***

Monday, March 16, 2015

Indramayu Diguncang Banjir Cimanuk


Banjir Indramayu
Rendam Tujuh Kecamatan di Kabupaten Indramayu
Senin, 16 Maret 2015 10:15 WIB
CIMANUK MELUAP – Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat,  meluap, sehingga tanggul jebol dan melumat tujuh kecamatan di Kota Mangga. Gambar memperlihatkan kondisi Sungai Cimanuk di Jembatan Brahim Sindang, Kecamatan Sindang. Foto-foto: Satim/Satimterus Online
INDRAMAYU, SATIMTERUS Online– Setelah sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dikabarkan dilumat banjir, kini menyusul sebagian wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat dihajar muntahan air sungai Cimanuk dan tanggul jebol. Akibatnya, tujuh kecamatan di Kabupaten Indramayu terendam banjir, Senin (16/03/2015) dini hari, menyusul jebolnya tanggul Sungai Cimanuk di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang dan Desa Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya.

Kemudian di Blok Pulo Desa Telukagung, Kecamatan Indramayu sejak Senin (16/03/2015) dini hari. sudah digemparkan dengan melubernya isi perut Sungai Cimanuk yang meluber melintasi tanggul sungai. Airnya muntah ke pemukiman penduduk. Selain itu, luberan sungai juga terjadi di sekitar Bendungan Bangkir Lawas (Balas), hingga muntahannya membuat saluran sekunder Rambatan Wetan dan Panyindangan Wetan meluber ke badan jalan.

Gejolak  Sungai Cimanuk tersebut memicu seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) berangkat menuju ke sejumlah titik lokasi banjir. Beberapa gerakannya direalisasikan dengan pengiriman bantuan karung dan sekitar 6 alat berat jenis beko diterjunkan ke lokasi bencana.
“Ini antisipasi langkah pertama dari dinas kami,” kata Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi (PSDA Tamben) Kabupaten Indramayu, Suwenda melalui Sekretarisnya, Dikdik Sudikna di kantornya, Senin (16/03/2015) siang.

Kepada puluhan wartawan, Dikdik mengatakan, kepala dinasnya sudah terjun ke lokasi bajir sejak pagi,”Beliau kabarnya berkeliling sambil mengawasi anak buahnya yang bekerja di lapangan yang sefang membantu mengatasi tanggul jebol dan luberan Sungai Cimanuk,” ungkapnya.

Senin siang itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Dr. H. Odang Kusmayadi MM  didampingi Kasi Sapras Sekolah Dasar Umar M. Amir juga melakukan peninjauan ke sejumlah sekolah  yang  dihajar banjir Cimanuk.

“Kami sudah kumpulkan data untuk bahan pelaporan. Karena banyak sekolah yang terpaksa diliburkan  akibat terendam air,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu , Odang melalui Kasi sapras Amir M. Umar di kantornya. Sementara itu,  Kepala BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana mengatakan, banjir terjadi Senin sekitar pukul 03.00 WIB. Ketika itu, tanggul Sungai Cimanuk di dua desa tersebut jebol sehingga air sungai langsung meluap ke pemukiman warga.

"Yang paling parah kena banjir di Kecamatan Jatibarang dan Kertasemaya, karena tanggul yang jebol di kecamatan tersebut," kata Edi melalui sambungan telepon, Senin (16/3/2015) siang,” tutur Edi seperti dikutip Tribun Jabar.

Diungkapkan, ketinggian air di Desa Pilangsari Kecamatan Jatibarang dan Desa Tulungagung Kecamatan Kertasemaya 2-3 meter. Ribuan rumah di dua desa tersebut pun terendam hingga yang terlihat hanya atap.

Sementara lima kecamatan lain yang kena banjir adalah Lohbener, Sindang, Pasekan, Bangodua, dan Tukdana. Kelima kecamatan tersebut terendam air dari rembesan tanggul Sungai Cimanuk. Meski yang lima kecamatan tak terlalu parah. (Satim)***




Wednesday, April 17, 2013

Maju Terus : Soeratin dan Semangat Perbaikan PSSI

Rabu, 17 April 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Soeratin dan Semangat Perbaikan PSSI
Oleh Football Fandom | Arena – 21 jam yang lalu
Foto Soeratin da
n bendera pertama PSSI. (Tempo/Seto Wardhana)
*Edisi 83 Tahun PSSI*

Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi
Pada 19 April 2013, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) genap berusia 83 tahun. Usia yang sudah tak bisa dibilang muda. Jika PSSI diibaratkan manusia, tentunya PSSI merupakan seorang yang sudah tua yang mungkin tinggal menunggu waktu untuk meninggalkan dunia selamanya.
Tetapi, sebagai organisasi yang membidani olahraga paling populer di Indonesia, PSSI tentunya tak boleh terlalu cepat menjadi memori sejarah. Organisasi ini perlu tetap eksis dan berkontribusi positif, seperti yang dicita-citakan oleh Ir. Soeratin, pendirinya.
Kondisi terkini sepak bola Indonesia jelas membuat miris hati kita, terlebih Ir. Soeratin yang sudah mencurahkan hidupnya semata untuk sepak bola Indonesia. Dia sudah berkorban banyak. Dia memimpin PSSI selama 11 periode (waktu itu kongres berlangsung setahun sekali) bukan karena politik uang atau nafsu berkuasa, melainkan karena dia dianggap sebagai orang yang mampu, punya totalitas, dan mampu mengayomi berbagai insan sepak bola Indonesia. Meskipun itu artinya harus mengesampingkan kehidupan pribadi.
Ir. Soeratin lahir di Yogyakarta, 17 Desember 1898. Lelaki bernama lengkap Soeratin Soesrosoegondo ini dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terpelajar. Ayahnya mengajar di Kweekschool, dan penulis buku “Bausastra Basa Jawi”. Soeratin pun tumbuh menjadi lelaki yang cerdas dan memiliki kesempatan untuk terus bersekolah — hingga mengenyam studi di Koningen Wilhelmina School di Jakarta. 
Selepas merampungkan studi di Wilhelmina, Soeratin meneruskan ke Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman pada tahun 1920. Dari sekolah inilah, Soeratin bisa lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1927 dan berhak menyematkan gelar Ir. di depan namanya.
Soeratin bukanlah orang yang lupa pada tanah air walaupun hidup di Jerman begitu nyaman. Pada 1928 dia kembali ke nusantara dan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka Belanda. Perusahaan jasa konstruksi ini membangun infrastruktur, seperti jembatan dan gedung di Tegal, Bandung dan beberapa daerah lain.
Pada masa itu pergerakan nasional sedang menggeliat setelah adanya Sumpah Pemuda tahun 1928. Sulit bagi Soeratin untuk tidak ikut terlibat. Ada keinginan untuk memanfaatkan ilmunya bagi tanah leluhur dan juga menghapuskan penjajahan di bumi nusantara.
Namun, bukan gerakan politik yang dipilih oleh Soeratin. Dia lebih memilih memanfaatkan olahraga sebagai sarana memupuk rasa persatuan. Sepak bola yang sudah populer kala itu dipilih sebagai olahraga yang dijadikan alat untuk menjalin hubungan antar pemuda di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih pula Soeratin merupakan penggemar olahraga sebelas lawan sebelas ini.
Pekerjaannya yang berpindah-pindah mempermudah Soeratin untuk menjalin komunikasi dengan kawan-kawan di daerah. Dia pun didukung penuh oleh keluarganya untuk terlibat dalam pergerakan nasional. Terlebih lagi istrinya, R. A. Srie Woelan, adalah adik kandung Dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo, organisasi pemuda masa pergerakan nasional.
Dalam waktu yang relatif cepat Ir. Soeratin sudah mampu menjalin komunikasi intens dengan tokoh sepak bola di daerah dengan basis sepak bola kuat seperti Jakarta, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Solo, Madiun, hingga Surabaya untuk mempermudah langkah mendirikan organisasi sepak bola yang bersifat nasional. Pertemuan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi untuk menghindari intel Belanda.
Akhirnya pada 19 April 1930, tokoh sepak bola dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI, yang ketika itu merupakan kependekan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Penggantian kata “Sepak Raga” menjadi “Sepak Bola” baru dilakukan saat kongres Solo tahun 1950. Kongres di Yogyakarta sendiri dihadiri oleh Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ, yang kini kita kenal dengan nama Persija), BIVB Bandung (Persib), PSIM Mataram, PPSM Magelang, VVB Solo (Persis), IVBM Madiun, serta SIVB Surabaya (Persebaya).
Setelah terbentuk PSSI, kemudian diselenggarakan kompetisi sepak bola yang bersifat nasional secara rutin mulai tahun 1931. Dengan diadakannya kompetisi ini bisa menarik minat berbagai klub sepak bola yang sebelumnya belum bergabung menjadi bergabung dengan PSSI. Organisasi ini juga aman dari pengawasan Belanda yang mulai melarang organisasi politik. Klub sepak bola Hindia Belanda pun sering melakukan latih tanding dengan klub anggota PSSI.
Saat itu PSSI bukannya tanpa masalah. Pernah ada dualisme seperti yang terjadi saat ini. PSIM Mataram pernah berselisih dengan PSSI pimpinan Soeratin, sebagaimana dituliskan dalam artikel Pandit Football ini. Pada tahun 1934, PSIM keluar dari PSSI dan membentuk Persatuan Olah Raga Indonesia (Porsi). PSSI menyikapinya dengan membentuk Persim Mataram. Namun, akhirnya PSIM kembali bergabung ke PSSI pada tahun 1937.
Ketika mulai sibuk dengan kegiatan di sepak bola, Soeratin pun keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia kemudian mendirikan usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Tetapi usaha itu hancur setelah Jepang datang. Perang berlangsung, Soeratin pun bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat itu PSSI dinonaktifkan dan berada di bawah Taiikukai, asosiasi olahraga Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Ir. Soeratin menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api. PSSI pun aktif kembali. Sayangnya, Soeratin tidak terus hidup layak. Beliau meninggal dalam kemiskinan dan kesunyian. Tahun 1959, beliau akhirnya meninggal di rumahnya yang amat sederhana di jalan Lombok Bandung yang berdindingkan bambu 4x6 meter setelah berjuang melawan penyakitnya yang sempat tak terobati lantaran tidak mampu menebus obat.
Hingga kini belum ada usaha maksimal menghargai jasa Soeratin selain namanya diabadikan di Piala Soeratin, kejuaraan junior. Dia sempat diusulkan sebagai pahlawan nasional melalui Rapat Paripurna Nasional PSSI 2005 (Kep/09/Raparnas/XI/2005) tetapi sayang, hingga kini gelar itu belum diperoleh karena masalah administrasi.

Tetapi dengan gelar pahlawan nasional atau tidak, dengan namanya disematkan sebagai nama stadion sepak bola atau tidak, nama Soeratin — dengan kelebihan dan kekurangannya — tetap akan harum di Indonesia, terlebih bagi publik pecinta sepak bola.*** 
Source : Footbal Fandom, Rabu, 17 April 2013
BACA JUGA:



Friday, March 22, 2013

Budaya Nusantara : Ritual "Erau Pelas Benua Guntung" Bontang Kalimantan Timur

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Budaya
Ritual "Erau Pelas Benua Guntung"
Bontang Kalimantan Timur
Upacara ini menampilkan tarian budaya khas masyarakat Dayak dan Kutai.
Kamis, 21 Maret 2013, 10:37 WIB
Posting Terkait :
VIVAlog - Pertama kali datang ke Bontang, Kalimantan Timur, semangat ingin tahu masih sangat menggebu-gebu. Salah satunya saat diajak melihat upacara Erau Pelas Benua Guntung. Mengapa di belakangnya ditambah kata "Guntung"? ini menunjukkan perbedaan wilayah dengan Erau Pelas Benua provinsi yang setiap tahunnya dilakukan oleh Kesultanan Kutai di Tenggarong.
Guntung merupakan satu-satunya bagian Kota Bontang yang sebagian besar warganya masih keturunan Kutai. Letaknya pun didekat perbatasan wilayah Kutai Timur. Namun seiring perkembangan, wilayah ini mulai bercampur dengan suku-suku lainnya, baik dari Kalimantan maupun luar Kalimantan.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Menteri Pertahanan Malaysia Wong Jawa

Jumat, 22 Maret 2013
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA
Menhan Malaysia: Tiang Jawi Njih Saget Jawi
Menhan Malaysia dan Wali Kota Yogyakarta terhitung sepupu.
Jum'at, 22 Maret 2013, 00:12 Arfi Bambani Amri, Daru Waskita (Yogyakarta)
Menhan Malaysia Ahmad Zaid Hamidi (VIVAnews/ Daru Waskita)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Kalimat "Tiang Jawi njih saget Jawi" atau berarti orang Jawa bisa berbahasa Jawa meluncur dari mulut Menteri Pertahanan Malaysia Dr Ahmad Zaid Hamidi. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas di Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, pun tersenyum simpul mendengarnya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi pun bercerita bahwa dia sangat pandai berbahasa Jawa karena kakeknya asli dari Serang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. "Bapak kulo asli Wates, ibu kulo asli Ponorogo (Bapak saya asli Wates dan ibu saya asli Ponorogo--red)," katanya saat ramah tamah dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta usai berziarah, Kamis petang, 21 Maret 2013.
"Monggo diunjuk minumannya (Mari diminum minumannya--red)," kata Zaid melanjutkan.
Datuk Zaid bercerita, di Malaysia dia menetap di Bagan Datu, Negara Perak. Di daerah itu, 90 persen warganya keturunan Jawa seperti dari Wates, Ponorogo, dan Tegal. "90 Persen warga yang tinggal di Bagan Datuk itu orang Jawa, maka saya juga pandai bahasa Jawa," katanya.
Datuk Ahmad Zaid Hamidi menjelaskan, kakeknya merantau dari Wates ke Malaysia pada tahun 1932. Tujuannya untuk kehidupan yang lebih baik.
Di Malaysia, kakeknya membuka perkebunan dan berhasil sehingga menjadi orang yang kaya. Kekayaan yang dimiliki sebagian untuk membangun masjid, sarana pendidikan atau pesantren. "Jadi saya yang sekarang meneruskan," katanya.
Kakeknya ini satu bapak dengan kakek Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. "Yo podo Mbah Buyut dengan Pak Walikota Yogya ini," katanya dengan logat Jawa yang kental.
Endro "kimpling" Suseno, sahabat dari Menhan Malaysia, mengatakan bahwa keluarga dari Menhan Malaysia ini merupakan trah dari Keraton Yogyakarta. Trah ini dibuktikan kepemilikan surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta yang masih dalam tulisan Jawa.
"Setelah dicek ke Keraton Yogyakarta, ternyata benar bahwa keluarga Menhan masih kerabat Keraton Yogyakarta. Saat ini surat kekancingan telah diubah dalam Bahasa Indonesia," katanya singkat.***
Source : viva.co.id, Jumat, 22 Maret 2013

Sunday, December 9, 2012


Minggu, 09 Desember 2012
BUBUR SURA – Jenis Bubur Sura seperti tampak dalam gambar hanya ada di Bulan Sura, dan tahun 2012 ini bertepatan dengan Bulan November 2012.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Ekspedisi Humaniora Online
BUBUR SURA
Warga Desa Pesta Bubur Sura
INDRAMAYU, EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE – Sejak awal hingga akhir Bulan Sura, warga desa di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih melakukan pesta adat ritual dengan memasak bubur “Sura”. Pesta adat yang, konon, sudah ribuan tahun secara turun-temurun itu, katanya sih dalam rangka mengenang kembali bencana alam terbesar di dunia pada jaman Nabi Nuh. Nah, sebagian masyarakat di Kota Mangga Indramayu menginginkan,  sekarang ini bisa hidup aman dan damai tanpa bencana.
Untuk menghindari bencana banjir bandang seperti peristiwa di jaman Nabi Nuh tersebut, sebagian kalangan secara bergotong-royong memasak bubur yang bercampur dengan berbagai jenis makanan lainnya yang mereka sebut “Bubur Sura”. Karena jenis bubur ini hanya ada di setiap Bulan Sura.
Pemantauan Ekspedisi Humaniora Online di Bulan Sura atau tahun ini kebetulan jatuh di Bulan November  2012, tak sedikit pula warga yang mampu dan terpandang secara turun-temurun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Selain itu, para Kuwu (Kepala Desa) yang masih aktif terkesan wajib membuat bubur Sura. Buburnya kemudian dibagi-bagikan kepada warga yang ada di desanya. Bahkan, para mantan kuwu pun  masih punya kewajiban membuat bubur Sura.
“Pada Minggu ini, saya pun menggelar pesta adat membuat bubur Sura. Ini bagian dari kewajiban kami selaku Kuwu. Lihat saja sejumlah warga sedang pada memasak bubur Sura,” kata Narsito, Kuwu Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, Minggu (09/12/2012) sore.
Narsito menjelaskan, bahwa pesta adat seperti itu sudah berlangsung turun-temurun sejak dulu. Intinya, mengenang kembali peristiwa bencana banjir bandang pada jaman Nabi Nuh. “Pembuatan bubur Sura itu hanya simbol saja sebagai penolak bala agar terhindar dari musibah serupa. Yang selamat, hanya orang-orang yang takwa dan mau mengikuti ajaran agama yang diemban Nabi Nuh. Nah, keterkaitan dengan bubur Sura, intinya, mari bersama-sama menciptakan ketakwaan kepada Allah Swt sambil tetap memupuk kegotong-royongan demi kemajuan bersama,” kata Narsito.
Campuran
            Bubur Sura tersebut, tergolong bubur yang unik dan hanya ada di Bulan Sura. Meski warnanya nyaris serupa dengan bubur ayam yang banyak dijual orang. Biasanya berwarna kuning karena pewarna dari kunyit yang berwarna kuning. Tapi yang dicampur di Bubur Sura berbeda dengan bubur ayam.
            Campuran Bubur Sura berbagai macam makanan yang ada, tergantung kondisi bahan masakan yang ada di dapur. Biasanya, campuran Bubur Sura seperti Kelungsu (biji asam matang), kentang, jagung, kol, buncis, soun, pepaya, dan lain-lain. Dicampur jadi satu dan dimasak hingga matang. Lalu di atasnya diberi soun, gorengan parutan kelapa, rasa pemedas, dan lain-lain. Rasanya lezat dan gurih.
            Keunikan lainnya, warga yang datang dan bergoting-royong ikut memasak biasanya sambil membawa beras dengan sejumlah bahan makanan yang siap dicampur untuk membuat bubur sura tersebut. (Satim)***

Friday, June 29, 2012

Jumat, 29 Juni 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE
KHASIAT BUAH BIDARA
POHON BIDARA atau WIDARA – Pohon Widara atau Bidara banyak tumbuh di sepanjang tepi jalan di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain itu, banyak tumbuh pula di sejumlah pekarangan perkantoran dan penduduk setempat. Seperti tampak dalam gambar, pohon Bidara yang tumbuh di belakang kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu. Buahnya banyak dan banyak dimanfaatkan untuk obat kewanitaan. Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
BUAH BIDARA – Buah bidara yang sudah matang tampak berwarna merah. Namun yang masih hijau lebih kecil dibamding dengan yang sudah masak secara alami.Gambar diambil, Kamis (28/06/2012) sore.(Satim)*** Foto : Satim
INDRAMAYU -  Mungkin banyak orang yang tidak tahu jika buah Bidara atau Widara itu, sebetulnya sangat berkhasiat bagi kesehatan wanita, terutama bagian pengobatan kewanitaan. Namun sebagian orang, justru memanfaatkan buah Widara untuk penyembuhan keputihan dan untuk pengobatan yang mengandung sari rapet demi semakin membuat gairah dalam hidup berumah tangga.
            Pengakuan demikian seperti yang dilontarkan Ny. Nety (45), warga Indramayu kepada tim Ekspedisi Humaniora Online, Kamis (28/06/2012) sore. Menurutnya, buah Widara menjadi menu hampir setiap hari untuk menjaga kesehatan kewanitaannya.
            “Biar rasanya agak sepet, tapi khasiatnya lumayan,” katanya, singkat.
            Dan Kamis sore itu, Nety mengumpulkan sejumlah buah Widara yang jatuh ke tanah di halaman belakang kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, untuk di bawanya pulang.(Satim)***

Tuesday, April 24, 2012

Jembatan Bojongsari Indramayu Diduga Akan Berganti

Selasa, 24 April 2012

MAJU TERUS

EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Jembatan Bojongsari Indramayu

Diduga Akan Berganti

Jembatan Bojongsari Indramayu – Kondisi Jembatan Bojongsari di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kondisinya saat ini masih seperti yang dulu sewaktu pertama kali dibangun sekitar tahun 1990-an, atau sebelum dibangunnya Waduk Bojongsari. Sedangkan Waduk Bojongsari mulai dibangun sekitar tahun 2002 hingga tahun 2003, dan pertama kalinya digunakan untuk arena lomba dayung pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) IX Provinsi Jawa Barat pada Juli 2003. Untuk masa mendatang, konon, Jembatan Bojongsari itu akan berganti bentuk yang kabarnya bernilai artistik. Namun, pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu belum bisa memastikan soal waktu pembangunan jembatan itu. Gambar diambil, Kamis (01/03/2012) pagi.(Satim)*** Foto : Satim/Satimterus.blogspot.com

Friday, February 24, 2012

Tradisi Dilarang Panen Hari Jumat

Jumat, 24 Februari 2012
MAJU TERUS
EKSPEDISI HUMANIORA ONLINE

Tradisi Panyindangan Wetan

Dilarang Panen Hari Jumat,

Melanggar Kena Denda !

SAWAH SEPI – Karena hari Jumat, situasi dan kondisi di sawah di Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, terlihat sepi. Padahal, sejak awal Februari 2012 tengah panen raya. Para petani setempat memilih tinggal di rumah dan liburan bersama keluarga. Konon, ada pantangan dari dulu secara turun-temurun. Setiap hari Jumat, para petani dilarang memotong padi atau panenan. Jika melanggar, sanksinya kena denda yang dilakukan aparat desa setempat. Hasil panennya akan disita menjadi milik Pemerintahan Desa Panyindangan Wetan. Seperti tampak dalam gambar yang diambil Jumat (24/02/2012) pagi, tidak ada petani yang berani panen di hari Jumat itu.(Satim)*** Foto-foto : Satim