Showing posts with label Iklim Global. Show all posts
Showing posts with label Iklim Global. Show all posts

Wednesday, November 25, 2009

Gunung Es Mengapung di Sandy Bay, Australia

Suhu Global Terus Meningkat
Sebuah gunung es terlihat mengapung di Sandy Bay di pesisir timur Kepulauan Macquarie, 1.500 kilometer di tenggara Tasmania, Australia. Foto ini disebarkan oleh Divisi Antartika Australia, pekan lalu. Kehadiran gunung es yang mengapung di perairan itu merupakan pemandangan yang langka. (Foto : AP Photo/Australian Antartic Division , Eve Merfield)***

Es Ancam Pelayaran
Bergerak dari Antartika ke Arah Selandia Baru

SYDNEY - Bongkahan es raksasa yang jumlahnya ratusan bergerak dari Antartika menuju pulau-pulau di Selandia Baru. Bongkahan es yang besarnya seperti stadion itu dikhawatirkan Pemerintah Selandia Baru mengancam pelayaran.

Hasil pemotretan satelit menunjukkan, bongkahan besar es baru saja melewati kawasan pulau Auckland dan menuju pulau utama South Island, sekitar 450 kilometer arah timur laut. ”Peringatan berlaku bagi semua kapal di kawasan itu agar waspada terhadap keberadaan bongkahan es,” kata juru bicara kelautan Selandia Baru, Ross Henderson, seperti dilaporkan AFP, Senin (23/11).

Keberadaan bongkahan es dalam kelompok besar itu disampaikan ahli gletser dari Divisi Antartika Australia. Mereka terus memantau pergerakan bongkahan-bongkahan es tersebut.

Menurut mereka, bongkahan es itu merupakan bagian dari bongkahan raksasa yang Oktober lalu terlihat di sekitar Pulau Macquarie, Australia. Saat itu, dua bongkahan besar—yang pertama selebar dua kilometer dan kedua sebesar stadion olimpiade ”sarang burung” Beijing—terpantau di sana.

Sementara itu, yang terpantau menuju Selandia Baru hari Senin lalu sudah terpecah-pecah dalam berbagai ukuran. Beberapa di antaranya memiliki lebar 200 meter.

”Semua berasal dari satu bongkahan besar, yang mungkin luasnya 30-an kilometer persegi di Antartika sana,” kata salah satu ahli gletser, Neal Young. Meningkatnya suhu global dan muka laut karena pemanasan global dituding sebagai penyebabnya.

Setelah tiga tahun

Menurut Neal Young, bongkahan es dalam jumlah besar terakhir terlihat mengapung di dekat Selandia Baru pada tahun 2006 lalu. Saat itu, hanya berjarak 25 kilometer dari garis pantai—kejadian pertama setelah tahun 1931.

Untuk kepentingan publikasi, tahun 2006, seekor domba yang diangkut helikopter dicukur bulunya di atas bongkahan es yang sedang mengapung. Selandia Baru dikenal sebagai pusat industri wol.

”Yang terlihat saat ini memiliki jalur pergerakan yang sama menuju Selandia Baru. Apakah menuju South Island, sulit mengatakannya,” kata dia.

Namun, ia yakin akan semakin sering melihat kejadian serupa bila suhu global terus meningkat. Sejumlah ahli tidak yakin akan hal ini.

Berkurangnya luasan es Antartika di Kutub Selatan telah teridentifikasi beberapa tahun terakhir. Namun, berkurangnya lapisan es di kawasan Antartika timur dalam jumlah besar, selama tiga tahun terakhir, dinilai para ahli sebagai ”kejutan”.

Tidak seperti lapisan es di Antartika barat, yang selama ini dikenal rentan dan tidak stabil, lapisan es di Antartika timur dikenal sangat stabil. Namun, sejumlah ahli belum meyakini fenomena itu terkait erat dengan perubahan iklim.

Prediksi kerugian

Di tengah pro-kontra lelehan es di kutub sebagai dampak pemanasan global, sebuah studi diluncurkan WWF di Swiss, Senin lalu. Banjir besar diperkirakan akan melanda kota-kota pelabuhan utama di dunia dan
menimbulkan kerugian hingga 28 triliun dollar AS pada tahun 2050.

Kenaikan muka laut akan mencapai setengah meter bila suhu global naik 0,5 hingga 2 derajat Celsius pada kurun waktu sekarang sampai 2050. Pada saat itulah kerugian triliunan dollar AS ditimbulkan dari 136 kota pelabuhan besar di dunia.(AFP/BBC/GSA)***

Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 03:11 WIB



Thursday, May 14, 2009

Serba-Serbi Konferensi Kelautan Dunia 2009 di Manado

Pekan Budaya Diwarnai Atap Bocor

MANADO – Hujan deras yang mengguyur Manado, Sulawesi Utara, Senin (11/5) sore, menyebabkan atap GOR Arie Lasut bocor. Pada saat bersamaan, sekelompok remaja dan pemuda bersiap tampil di panggung. Tak pelak, mereka tampil dengan sejumlah ember ditempatkan di panggung untuk menampung tetesan air hujan. Meski begitu, mereka tetap bersemangat tampil, seperti panggung boneka dan paduan suara yang diiringi kulintang dan keybord. (GSA)***

Kerja Sama Pemantauan Samudera Hindia

MANADO – Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menandatangani kerja sama pengamatan Samudra Hindia bagian timur di Manado, Selasa (11/5). Kerja sama yang rencananya mulai Juli 2009 itu merupakan bagian dari pemantauan perubahan iklim.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelautan DKP Aryo Anggoro mengatakan, pemantauan itu mencakup suhu permukaan, kecepatan arus laut, dan kecepatan angin yang bermanfaat untuk adaptasi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim. Kerja sama DKP dan NOAA itu berlangsung hingga tahun 2014. Pertemuan itu juga membahas pemberantasan pencurian ikan, perikanan yang bertanggung jawab, serta pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. (LKT)***

Tak Ada Larangan Melaut

MANADO – Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo H Sarundajang di Manado, Senin (11/5), mengatakan, pihaknya tak pernah melarang nelayan di Kota Manado melaut selama berlangsungnya Konferensi Kelautan Dunia (WOC). “Tidak ada pelarangan melaut terhadap nelayan. Melaut adalah hak asasi,” ujar Sarundajang.

Berdasarkan pengamatan kemarin, nelayan di Kota Manado berhenti melaut karena beredar luas isu pelarangan tersebut. Isu itu beredar sejak pekan lalu. (LKT)***

Sumber : Kompas, Selasa, 12 Mei 2009