Wednesday, November 25, 2009

Abrasi Pantai Indramayu Kian Ganas

Drs. H. Yayan Mulyantoro MM, Kepala Dinas Perkebunan
dan Kehutanan Kabupaten Indramayu.
(Foto : Satim
)***

LINGKUNGAN

Keganasan Abrasi
Harus Ditangkal Dengan Mangrove

INDRAMAYU – Hamparan persemaian tanaman mangrove memenuhi sebagian kawasan pantai Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Jutaan tanaman mangrove itu rencananya untuk program penghijauan kawasan pantai yang sekarang tengah digerogoti abrasi. Diperkirakan sudah ratusan kilometer kawasan pantai Indramayu lenyap ditelan lautan. Daratan yang semula terasa luas, kini air laut terkesan tengah mengganas dan merangsek ingin segera memangsa daratan yang masih tersisa.

Gawat ! Begitulah suara-suara para pemerhati lingkungan Indramayu mengomentari ganasnya ombak laut Jawa yang “menyerang” daratan wilayah Kabupaten Indramayu. “Jika tidak segera bertindak untuk aksi penanaman mangrove di sepanjang pantai, luas daratan Kabupaten Indramayu kian menyusut. Gawat !,” kata Ir. Nurcahya, pemuda pelopor gerakan penghijauan pantai di Kota Mangga Indramayu, Kamis (26/11), di areal pembibitan mangrove yang ada di pesisir Tiris Indramayu, sekitar 7 kilometer dari jantung Ibukota Indramayu.

Kegalauan warga yang menghuni kawasan pesisir Indramayu memang telah lama dipikirkan oleh instansi terkait yang ada di Kabupaten Indramayu. Salah satunya seperti yang dilakukan pihak Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Indramayu dalam beberapa tahun terkahir ini.

“Kami sudah mengupayakan gerakan penghijauan di selruh kawasan, baik kawasan pantai maupun permukiman penduduk. Gerakan one man one tree (satu orang menanam satu pohon), telah dimulai sejak tahun 2009 ini. Gerakan tersebut untuk mendasari pemulihan kawasan kritis hutan, dan diharapkan kita berada di kawasan hijau yang menghirup udara sehat apabila program penghijauan ini didukung oleh semua pihak,” kata Drs. H. Yayan Mulyantoro MM, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Indramayu, Rabu (25/11), di kantornya.

Yayan Mulyantoro bersama jajarannya tengah mendesain konsep “Indramayu Hijau” untuk tahun 2010 dan seterusnya. Keberhasilan konsepnya itu, telah diuji di Bali pada awal November 2009 lalu. Mantan Kepala Dinas Trantib yang hobi berkostum komboran hitam-hitam adat Dermayu, dan pencinta sepeda onthel kuno itu, dipercaya sebagai pembicara dalam sebuah acara nasional yang bertema gerakan penghijauan kawasan pantai di Pulau Dewata.

Menurut pengakuan Yayan Mulyantoro, ia merasa bersyukur karena dan tidak memalukan membawa daerahnya, mengingat program dan gerakan penghijauan kawasan pantai yang dilakukan Kabupaten Indramayu, ternyata jauh lebih maju dibanding beberapa daerah pantai lainnya. “Kami tak sia-sia sebagai pembicara tingkat nasional di Bali itu,” ungkapnya. (Satim)***

Sejarah Tempat Menimba Ilmu Pendidikan di Jawa Barat

TATAR SUNDA

Di Mana Tempat Menimba
Ilmu Pendidikan?

Hari Guru Nasional dan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang jatuh pada 25 November diperingati untuk menghormati jasa guru sekaligus refleksi profesionalitas guru. Salah satu tempat menimba ilmu pendidikan dalam meningkatkan profesionalitas guru adalah Universitas Pendidikan Indonesia di Kota Bandung.

Universitas yang berdiri pada 20 Oktober 1954 itu awalnya bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Perguruan tinggi itu diresmikan oleh Menteri Pengajaran dan Kebudayaan Mohammad Yamin. PTPG dipimpin seorang dekan yang membawahkan enam jurusan dan satu balai penelitian pendidikan.

Gedung utama PTPG merupakan gedung peninggalan masa sebelum Perang Dunia II bernama Vila Isola (kini Bumi Siliwangi). Gedung itu merupakan salah satu karya arsitektur monumental di Bandung rancangan arsitek Belanda, CP Wolff Schoemaker. Di gedung inilah untuk pertama kali para pemuda mendapatkan gemblengan pendidikan guru pada tingkat universitas.

Tiga tahun kemudian, PTPG bergabung dengan Universitas Padjadjaran menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Saat itu berdiri pula Institut Pendidikan Guru (IPG) yang didirikan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan sehingga terjadilah dualisme dalam lembaga pendidikan guru.

Untuk menghilangkan dualisme itu, pemerintah mendirikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) sebagai lembaga pendidikan guru tingkat universitas. Berkaitan dengan itu, tahun 1963 FKIP dan IPG di Bandung melebur menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.

Keputusan Presiden Nomor 93 Tahun 1999 tentang Perubahan IKIP Menjadi Universitas menandai perubahan nama IKIP Bandung menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Universitas itu kini memiliki tujuh fakultas dan satu program pascasarjana. Dua tahun terakhir, lebih dari 16.000 mahasiswa perguruan ini lulus dan meraih gelar sarjana. (ERI/LITBANG KOMPAS)***
Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 14:48 WIB


Kisah Pencipta Senjata AK-47

Mikhail Timofeyevich Kalashnikov.
(AP Photo/Natalia Kolesnikova)***


Kalashnikov, AK-47 demi Tanah Air
Oleh : Pieter P Gero

Jangan menggugat Mikhail Timofeyevich Kalashnikov. Apalagi membuat dia harus bertanggung jawab atas merebaknya aksi bersenjata yang masih marak di beberapa tempat di planet Bumi ini. Pria yang pada 10 November lalu berusia 90 tahun ini mengatakan, ia menciptakan senjata AK-47 yang populer itu hanya untuk mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh.

Alasan Kalashnikov ini yang membuat dia bisa hidup praktis tanpa beban sampai usia senjanya. ”Dalam usia ke-90 tahun, saya adalah manusia yang berbahagia,” ujarnya dalam wawancara dengan surat kabar Pemerintah Rusia, Rossiiskaya Gazeta, belum lama ini.

Kalashnikov gembira saat Pemerintah Rusia memberikan penghargaan atas desain senjata AK-47 buatannya. Perayaan peringatan usia 90 tahun ini misalnya, diwarnai pembacaan puisi-puisi patriotik karya Kalashnikov. Puisi yang dia buat waktu masih berusia muda. Dia dengan lantang membacakan beberapa karyanya ini.

”Saya tidak pernah berniat membuat senjata untuk digunakan dalam berbagai konflik di seluruh dunia. Saya membuatnya untuk mempertahankan wilayah tanah air saya,” tegas Kalashnikov saat pemberian penghargaan atas sukses AK-47 itu di Kremlin, Moskwa, ibu kota Rusia.

Kalashnikov diberi penghargaan prestisius, Pahlawan Rusia, yang diserahkan langsung oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev. ”AK-47 adalah sebuah contoh brilian dari persenjataan Rusia, dan sebuah simbol nasional yang menumbuhkan rasa bangga pada setiap warga negara,” kata Medvedev memuji.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin memuji Kalashnikov yang dia katakan sebagai ”legendaris sesungguhnya”. Acara penganugerahan penghargaan ini disiarkan langsung televisi nasional Rusia. Dua kosmonot Rusia yang berada di Stasiun Ruang Angkasa Internasional atau ISS juga memuji kehebatan kontribusi karya Kalashnikov tersebut.

”Nama Anda seperti kosmonot pertama Yury Gagarin, telah menjadi simbol dari negara kami pada abad XX,” ujar komosnot Maxim Surayev dari ISS.

Yuri Alekseyevich Gagarin menjadi pahlawan Uni Soviet karena dia merupakan manusia pertama yang mencapai ruang angkasa dan kembali ke orbit pada 12 April 1964.

Terjual 100 juta unit

Kalashnikov yang tampak sehat pada usia 90 tahun ini hidup sederhana di Izhevsk, sebuah kota industri sekitar 1.300 kilometer arah timur Moskwa. Padahal, senjata temuannya, AK-47, sudah terjual lebih dari 100 juta unit di seluruh dunia. Sebuah angka yang sebenarnya akan mendatangkan keuntungan finansial bagi penemunya.

Beberapa sumber menyebutkan, Kalashnikov hidup dengan uang pensiun sekitar 500 euro atau sekitar Rp 7 juta per bulan. Hal itu karena setiap warga negara bekas Uni Soviet tidak punya hak paten. Dia juga memperoleh sebuah vila mewah musim panas dan sebuah apartemen dengan empat kamar dari pemerintah.

AK-47 merupakan singkatan dari Avtomat Kalashnikova atau Automatic Kalashnikov, senjata serbu otomatis karya Kalashnikov. Sementara angka 47 menunjukkan senjata ini mulai diproduksi tahun 1947. AK-47 menjadi senjata serbu yang paling banyak diproduksi.

Angkatan Bersenjata Uni Soviet (kini Rusia) mulai menggunakan AK-47 tahun 1949, dua tahun setelah diproduksi dan ternyata efektif. Senjata ini kian populer di kalangan aksi bersenjata berhaluan komunis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Saat perang Vietnam, AK-47 berperan utama dalam aksi tentara Vietnam Utara menghadapi tentara Amerika Serikat dan Vietnam Selatan.

Kini, angkatan bersenjata di 55 negara di dunia menggunakan AK-47 (yang sudah dimodernisasi) sebagai senjata organik mereka. Angkatan bersenjata Indonesia juga pernah menggunakan senjata AK-47 pada era Orde Lama dan awal Orde Baru.

Beberapa negara seperti Mozambik dan Burkina Faso menempatkan gambar AK-47 pada bendera mereka. Begitu juga pada bendera kelompok bersenjata Hizbullah. Banyak anak laki-laki di Afrika diberi nama ”Kalash”, singkatan dari Kalashnikov karena AK-47 dianggap membantu perjuangan mereka.

Masa kecil

Di sisi lain, sikap Kalashnikov yang membuat AK-47 untuk membela tanah airnya juga masuk akal. Lahir di Kurya, wilayah Altai, masa kecil Kalashnikov sangat tragis. Ayahnya termasuk salah satu korban pengasingan diktator Uni Soviet, Joseph Stalin, pada tahun 1930.

Saat tentara Nazi Jerman menyerbu Uni Soviet, Kalashnikov ikut dalam divisi tank. Pada pertempuran Oktober tahun 1941 di Brysansk, dia cedera dan harus mundur ke garis belakang.

Dia kemudian bertugas di bengkel militer dan mulai mengutak-atik senjata. Apalagi saat itu Uni Soviet tengah mencari senjata yang ampuh, menyusul kekalahan mereka dari Jerman. Senjata yang bisa mempertahankan Soviet dari serbuan musuh.

Senjata Jerman, StG44 (Sturmgewehr 44), tahun 1946 menjadi pijakan desain Kalashnikov. StG44 memang dikenal ampuh, sederhana, dan bandel. Tak heran Jerman bisa unggul di semua sektor peperangan di Eropa dan Afrika Utara.

Rancangan yang sederhana, mudah penggunaannya, serta biaya produksi yang relatif murah membuat senjata rancangan Kalashnikov diterima pimpinan militer Uni Soviet. Kini, AK-47 dalam versi terbaru juga dipakai angkatan bersenjata Rusia.

Senjata Kalashnikov memang simpel. Beratnya pada awal sekitar 4,3 kilogram. Namun kini dibuat versi dengan
berat hanya 3,6 kilogram. Itu sebabnya, banyak anak-anak anggota kelompok bersenjata dengan enteng menyandang AK-47. Harga AK-47 juga relatif murah, bisa diperoleh dengan 125 dollar AS atau Rp 1,25 juta di pasar gelap.

Izhmash, produsen AK-47 di Rusia, mengaku, senjata AK-47 yang dipalsu diproduksi di Bulgaria, China, Polandia, dan AS. Aksi pemalsuan ini membuat Izhmash merugi hingga 360 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun per tahun.

Kalashnikov sendiri tak peduli dengan kerugian tersebut. ”Tentu saja, seperti setiap orang pada umumnya, ada yang perlu disesalkan (dengan AK-47). Namun saya tegaskan, saya tidak akan memilih jalan hidup yang lain sekalipun ada peluang untuk itu,” ujarnya.

”Saya membuat senjata ini untuk mempertahankan tanah air. Bukan salah saya jika senjata ini lalu digunakan untuk hal yang dianggap tak baik. Ini tanggung jawab para politisi,” ujar Kalashnikov di Kremlin.

”Tak ada sebuah senjata pun yang memulai perang,” ucapnya menambahkan, saat pameran senjata di Delft,
Belanda, tahun 2003. Itu sebabnya, mengapa Kalashnikov bisa tetap hidup bahagia tanpa beban sampai usia senjanya kini. ***
Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 03:20 WIB



Ancaman Serius Bagi Lingkungan Daerah Pertambangan Mangan

Sejumlah bukit yang semula hijau dan subur di kawasan Hutan Lindung Nggalak Rego Register Tanah Kehutanan 103, Kelurahan Wangkung, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, habis dieksploitasi oleh PT Sumber Jaya Asia, perusahaan tambang mangan. (Foto : Kompas/Samuel Oktora)***
TAMBANG MANGAN

Berjalan di Perut Bumi
Oleh : Samuel Oktora

Kepuasan dan pilu menyatu dalam batin masyarakat Desa Robek, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika mereka dapat melihat dengan mata kepala sendiri lokasi tambang mangan (Mn).

Puas, karena sejak Blok Soga I dan II, kawasan Torong Besi seluas sekitar 75 hektar mulai dieksploitasi oleh pemegang izin kuasa pertambangan, PT Sumber Jaya Asia, tahun 2007, tidak boleh sembarang orang masuk tanpa izin.

Rasa penasaran warga terobati ketika mereka bersama aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli (Almadi) NTT meninjau lokasi tambang mangan dengan berjalan kaki, Selasa (6/10) silam.

Saat itu rombongan dipimpin Koordinator Almadi NTT Pater Mateus L Batubara OFM. Pater Mateus juga menjabat sebagai Koordinator Lokal Fransiscans Office for Justice, Peace, and Integrity of Creation Flores.

Namun, selain puas, hati mereka juga pilu melihat kondisi tanah mereka yang sebelumnya hijau, yang sekaligus menjadi tumpuan hidup mereka dengan berkebun, kini ternyata penuh dengan lubang raksasa akibat penggalian tambang. ”Saya puas bisa datang melihat sendiri kondisi Torong Besi ini setelah dieksploitasi. Tapi perubahannya amat besar. Tak ada lagi tempat berteduh. Yang tersisa hanya lubang dan bebatuan cadas,” kata Yakobus Daud.

Warga Desa Robek secara umum juga mengeluhkan, sejak ada aktivitas tambang mangan yang hasilnya diekspor ke China itu, curah hujan setempat menjadi amat berkurang yang berdampak buruk terhadap hasil pertanian.

Tua Lumpung Gincu, Bernadus Du, pun mengeluhkan, ada tujuh tuntutan warga kepada perusahaan pemegang kuasa pertambangan eksploitasi, yakni pembangunan rumah adat, mesin pembangkit listrik, pembangunan sekolah, jalan masuk menuju rumah adat, perbaikan halaman kampung, sarana air bersih, dan pembangunan rumah guru hingga kini belum direalisasikan.

”Semua tuntutan warga sampai sekarang cuma menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan. Dari kehancuran lingkungan yang terjadi, kami minta tambang ini dihentikan sebelum kerusakan yang lebih besar menimpa warga,” kata Bernadus.

Kerusakan serius

Siang itu, dengan kondisi sinar matahari yang begitu menyengat kulit, dan keringat bercucuran, warga juga amat antusias menyusuri lokasi tambang sambil mencermati kerusakan lingkungan yang serius. Tak bisa dibayangkan jika hujan mengguyur, bahaya longsor, dan banjir bandang dapat melanda sewaktu-waktu.

”Perhatikan saja ketinggian tebing di lokasi tambang ini. Ada lima sampai enam lapisan tambang. Kita sama saja berjalan di dalam perut bumi. Lalu kalau isinya sudah dikeruk, dengan apa untuk menutup kembali, dan perlu waktu berapa lama?” kata Direktur Eksekutif Institute for Ecosoc Rights Sri Palupi yang turut meninjau lokasi.

Menurut Sri, aktivitas pertambangan hanya akan menghancurkan keutuhan alam, hutan, dan air.

Warga di dua kampung, yakni Ketebe dan Golosambi, juga mengeluh, karena mereka kini tak memiliki mata air, sebab mata air terdekat telah menjadi kering akibat penggalian tambang.

Sementara itu, di sejumlah titik lokasi tambang yang bertepatan dengan dermaga setempat, terlihat pula sekitar 45 buruh warga lokal yang sedang sibuk menyaring batu mangan dari tanah dan batu-batu cadas.

Mereka bekerja diawasi oleh supervisor yang berasal dari China, yang berbahasa Inggris saja kurang fasih, apalagi berbicara dalam bahasa Indonesia.

Sejumlah buruh, Christina Florandia dan Rosalia Iba, mengungkapkan, dalam sehari bekerja pada pukul 07.00-17.00 mereka mendapatkan upah Rp 27.500, sedangkan yang laki-laki memperoleh upah Rp 30.000 per hari. Mereka bekerja enam hari seminggu.

Namun, Bartolomeus Dono mengeluhkan, pendapatan buruh akan dipotong jika mereka tidak masuk kerja karena izin atau sakit. Mereka juga tidak mendapatkan penggantian biaya kesehatan.

”Kami tidak mendapat uang transpor. Kalau naik ojek, ya biaya sendiri,” kata Bartolomeus. Padahal, jarak rumah warga dengan lokasi tambang umumnya cukup jauh dengan biaya ojek rata-rata Rp 15.000.

”Dengan tidak adanya jaminan kesehatan, dalam waktu tiga sampai lima tahun mereka yang bekerja sebagai buruh ini bisa terserang penyakit serius, seperti gangguan paru-paru karena menghirup secara langsung debu mangan. Apalagi kalau ada yang hamil, bagaimana dengan kandungannya, dan tentunya akan lahir SDM yang kurang bagus,” kata Direktur Satu Visi Sumba Debi Rambu Kasuwatu.

Lokasi tambang di kawasan Torong Besi itu sekitar 70 kilometer dari kota Ruteng. Torong Besi terletak di kawasan pantai utara Flores.

Yang ironis, lokasi tambang Soga 1 dan 2 merupakan kawasan Hutan Lindung Nggalak Rego Register Tanah Kehutanan 103. Belum lagi di Desa Robek terdapat pula pantai berpasir putih Ketebe, yang merupakan obyek wisata bahari Manggarai.

Tak ada mata air kering

Pelaksana Tugas Sekretaris Kabupaten Manggarai Frans Hany membantah bahwa ada mata air yang kering di Robek.

Menurut Frans, secara rutin Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Manggarai selalu memonitor dampak tambang mangan tersebut. ”Sejauh ini tidak ada laporan dari Bapedalda soal kerusakan lingkungan,” kata Frans.

Torozatulo Mendrofa dari Kantor Pengacara T Mendrofa selaku penasihat hukum PT Sumber Jaya Asia
mengatakan, perusahaan tersebut mengutamakan faktor kesehatan dan lingkungan. Lokasi bekas tambang telah direklamasi dengan penanaman 10.000 pohon guna mencegah kerusakan lingkungan (Kompas, 10/10).

Mendrofa juga mengemukakan, lokasi tambang di Soga 1 dan 2 bukan kawasan hutan lindung karena belum ada peraturan daerah yang mengaturnya sebagai kawasan hutan lindung.***
Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 04:30 WIB


Ancaman Serius Bagi Lingkungan Daerah Pertambangan Mangan

LINGKUNGAN

Dipacu, Kesejahteraan Malah Menjauh

Degradasi lingkungan secara luas dan permanen tanpa terasa mulai menggerogoti bumi Congka Sae Manggarai. Dampak kian terasa dari maraknya aktivitas pertambangan mangan. Pemerintah daerah setempat membuka pintu seluas-luasnya untuk investor, tetapi ironis, kesejahteraan malah terasa jauh bagi masyarakatnya.

Keresahan masyarakat di lingkar tambang pun kian memuncak hingga mereka berunjuk rasa pada Kamis, 8 Oktober, di depan Kantor Bupati Manggarai. Masyarakat dari meminta pemerintah daerah segera mencabut izin kuasa pertambangan eksploitasi bahan galian mangan.

Keluhan mereka yang serupa adalah menyangkut perubahan cuaca karena setelah ada kegiatan tambang mangan, curah hujan dalam setahun jauh berkurang. ”Bagaimana hasil jagung atau padi baik kalau hujan dalam setahun tidak sampai sebulan,” kata Yakobus Daud, warga Desa Robek.

Tua Teno (tuan tanah) Sirise, Siprianus Amon, mengeluhkan polusi debu mangan yang kian memprihatinkan, yang bertebaran bukan saja di lokasi tambang, melainkan hingga perkebunan, dan rumah-rumah warga. Warga Sirise pun mulai sering mengalami gangguan pernapasan atau batuk kronis, bahkan ada yang mengalami tumor yang diduga akibat pencemaran limbah pertambangan. ”Kalau hujan lebat juga sering terjadi banjir dengan air yang hitam dari limbah mangan. Air-air sumur pun tercemar,” kata Yakobus.

Yang mencolok dari aktivitas tambang itu banyak bukit yang hijau telah berubah menjadi danau-danau kering dengan kedalaman mencapai 500 meter.

Bencana tanah longsor belum lama ini yang menelan korban 66 jiwa, di Cibal dan Lambaleda, di Kabupaten Manggarai, pada Maret 2007 (sebelum pemekaran) tentunya menjadi pelajaran berharga. Bencana tersebut terjadi akibat banyak hutan gundul, pohon-pohon ditebang dijadikan ladang jagung, dan sawah tadah hujan.

Daerah subur

Daerah Manggarai yang dimekarkan menjadi tiga kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, tergolong daerah subur di Flores atau NTT. Pulau Flores dan sekitarnya terbentuk secara vulkanik, dan pulau-pulau yang terletak pada jalur vulkanik dapat dikategorikan daerah subur, meski juga rawan bencana. Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2007 menunjukkan Manggarai memiliki deposit mangan yang menjanjikan hingga ratusan ribu ton, selain juga emas (Au).

Dari besarnya potensi mangan di Manggarai inilah pemerintah daerah setempat rupanya melihat sektor pertambangan cukup seksi, yang mampu meningkatkan secara signifikan pendapatan asli daerah. PAD Kabupaten Manggarai tahun 2008 sebesar Rp 20 miliar, terutama dari kontribusi pertambangan dan penggalian golongan C.

Kegiatan tambang di Manggarai dimulai tahun 1980 oleh PT Aneka Tambang, PT Nusa Lontar Mining, dan PT Flores Indah Mining yang melakukan penyelidikan umum dan eksplorasi. Sementara dalam kurun waktu tiga tahun, 2004-2007 secara resmi Pemerintah Kabupaten Manggarai mengeluarkan izin kuasa pertambangan kepada 11 perusahaan untuk melakukan aktivitas pertambangan di 20 wilayah prospek pertambangan mangan, logam dasar, dan emas.

Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Manggarai tahun 2009 terdapat 13 perusahaan yang memegang izin kuasa pertambangan di 21 wilayah. Untuk penyelidikan umum mangan di Kecamatan Cibal, wilayah paling luas dipegang PT Graha Kencana Persada seluas 5.011 hektar (2008-2009).

Adapun eksplorasi wilayah terluas di pegang PT Tribina Sempurna, mencapai 2.000 hektar (2008-2010), di Kecamatan Reok. Sementara kegiatan eksploitasi terluas dipegang PT Sumber Jaya Asia, di Cibal, sekitar 689,2 hektar (2008-2013).

Sementara itu, berdasarkan data penelitian tambang mangan di Manggarai tahun 2008 yang dilakukan Fransiscans Office for Justice, Peace, and Integrity of Creation Indonesia (JPIC OFM) , PT Sumber Jaya Asia telah mengangkut mangan per tahun sejak tahun 2006 sekitar 60.000 ton ke China. Pendapatan perusahaan tersebut hingga 2008 sekitar Rp 5.035.500.000.000, dan biaya reklamasi untuk Pemkab Manggarai hanya mencapai Rp 321 juta.

Sementara itu, PT Arumbai Mangabekti yang telah melakukan eksploitasi mangan di Satar Punda sejak tahun 1999 telah mengangkut mangan tiap tahun sekitar 45.000 ton. Direktur Eksekutif Institute for Ecosoc Rights Sri Palupi menyayangkan kebijakan Pemkab Manggarai yang menaruh perhatian besar pada sektor pertambangan dalam mengolah sumber daya alam setempat.

”Padahal, potensi paling besar di Manggarai adalah pertanian, kelautan, dan pariwisata yang selama ini justru memberikan kontribusi paling besar bagi PAD, bahkan menjadi penopang hidup bagi mayoritas warga. Pertambangan hanya menguntungkan birokrat dan pemodal. Dampaknya tak hanya kehancuran lingkungan, juga membuat masyarakat menderita,” kata Sri.

Koordinator Lokal JPIC OFM Flores Pater Mateus L Batubara OFM berpendapat, meski Manggarai kaya akan bahan mineral mangan, bukan berarti pemda setempat memutuskan seluas-luasnya pertambangan tanpa kajian yang matang, terlebih menyangkut kelestarian lingkungan, serta masa depan masyarakatnya yang mayoritas sebagai petani, yang amat memerlukan tanah atau lahan.

Hutan lindung

Pater Mateus juga menyayangkan, eksploitasi di Blok Soga 1 dan 2, kawasan Torong Besi, Desa Robek, seluas 75 hektar yang dikelola PT Sumber Jaya Asia merupakan kawasan Hutan Lindung Nggalak Rego Register Tanah Kehutanan 103.

Wakil Bupati Manggarai Deno Kamelus menyatakan, kebijakan menyangkut pertambangan yang diambil bukanlah ilegal karena diaturuu. (SEM)***

Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 04:29 WIB


Gunung Es Mengapung di Sandy Bay, Australia

Suhu Global Terus Meningkat
Sebuah gunung es terlihat mengapung di Sandy Bay di pesisir timur Kepulauan Macquarie, 1.500 kilometer di tenggara Tasmania, Australia. Foto ini disebarkan oleh Divisi Antartika Australia, pekan lalu. Kehadiran gunung es yang mengapung di perairan itu merupakan pemandangan yang langka. (Foto : AP Photo/Australian Antartic Division , Eve Merfield)***

Es Ancam Pelayaran
Bergerak dari Antartika ke Arah Selandia Baru

SYDNEY - Bongkahan es raksasa yang jumlahnya ratusan bergerak dari Antartika menuju pulau-pulau di Selandia Baru. Bongkahan es yang besarnya seperti stadion itu dikhawatirkan Pemerintah Selandia Baru mengancam pelayaran.

Hasil pemotretan satelit menunjukkan, bongkahan besar es baru saja melewati kawasan pulau Auckland dan menuju pulau utama South Island, sekitar 450 kilometer arah timur laut. ”Peringatan berlaku bagi semua kapal di kawasan itu agar waspada terhadap keberadaan bongkahan es,” kata juru bicara kelautan Selandia Baru, Ross Henderson, seperti dilaporkan AFP, Senin (23/11).

Keberadaan bongkahan es dalam kelompok besar itu disampaikan ahli gletser dari Divisi Antartika Australia. Mereka terus memantau pergerakan bongkahan-bongkahan es tersebut.

Menurut mereka, bongkahan es itu merupakan bagian dari bongkahan raksasa yang Oktober lalu terlihat di sekitar Pulau Macquarie, Australia. Saat itu, dua bongkahan besar—yang pertama selebar dua kilometer dan kedua sebesar stadion olimpiade ”sarang burung” Beijing—terpantau di sana.

Sementara itu, yang terpantau menuju Selandia Baru hari Senin lalu sudah terpecah-pecah dalam berbagai ukuran. Beberapa di antaranya memiliki lebar 200 meter.

”Semua berasal dari satu bongkahan besar, yang mungkin luasnya 30-an kilometer persegi di Antartika sana,” kata salah satu ahli gletser, Neal Young. Meningkatnya suhu global dan muka laut karena pemanasan global dituding sebagai penyebabnya.

Setelah tiga tahun

Menurut Neal Young, bongkahan es dalam jumlah besar terakhir terlihat mengapung di dekat Selandia Baru pada tahun 2006 lalu. Saat itu, hanya berjarak 25 kilometer dari garis pantai—kejadian pertama setelah tahun 1931.

Untuk kepentingan publikasi, tahun 2006, seekor domba yang diangkut helikopter dicukur bulunya di atas bongkahan es yang sedang mengapung. Selandia Baru dikenal sebagai pusat industri wol.

”Yang terlihat saat ini memiliki jalur pergerakan yang sama menuju Selandia Baru. Apakah menuju South Island, sulit mengatakannya,” kata dia.

Namun, ia yakin akan semakin sering melihat kejadian serupa bila suhu global terus meningkat. Sejumlah ahli tidak yakin akan hal ini.

Berkurangnya luasan es Antartika di Kutub Selatan telah teridentifikasi beberapa tahun terakhir. Namun, berkurangnya lapisan es di kawasan Antartika timur dalam jumlah besar, selama tiga tahun terakhir, dinilai para ahli sebagai ”kejutan”.

Tidak seperti lapisan es di Antartika barat, yang selama ini dikenal rentan dan tidak stabil, lapisan es di Antartika timur dikenal sangat stabil. Namun, sejumlah ahli belum meyakini fenomena itu terkait erat dengan perubahan iklim.

Prediksi kerugian

Di tengah pro-kontra lelehan es di kutub sebagai dampak pemanasan global, sebuah studi diluncurkan WWF di Swiss, Senin lalu. Banjir besar diperkirakan akan melanda kota-kota pelabuhan utama di dunia dan
menimbulkan kerugian hingga 28 triliun dollar AS pada tahun 2050.

Kenaikan muka laut akan mencapai setengah meter bila suhu global naik 0,5 hingga 2 derajat Celsius pada kurun waktu sekarang sampai 2050. Pada saat itulah kerugian triliunan dollar AS ditimbulkan dari 136 kota pelabuhan besar di dunia.(AFP/BBC/GSA)***

Source : Kompas, Rabu, 25 November 2009 | 03:11 WIB



Tuesday, November 24, 2009

Pengecoran Pilar Jembatan Pecuk Indramayu Tengah Dikebut


JEMBATAN PECUK INDRAMAYU

Pengecoran Pilar Bersamaan

Keruhnya Air Sungai Cimanuk

INDRAMAYU – Pilar jembatan Pecuk Indramayu, Provinsi Jawa Barat tengah dikebut pengerjaannya. Konon, karena jangka waktu pelaksanaan proyek untuk menyelesaikan pekerjaan pengecoran jembatan tersebut mestinya harus rampung paling lambat akhir November 2009 ini. Sedangkan kondisi air Sungai Cimanuk saat ini tengah keruh dan agak banjir.

Terlihat, sejak Selasa (24/11) siang sekitar pukul 11.05 WIB hingga malam hari, pengecoran pilar tengah jembatan Pecuk itu tengah dikerjakan dengan mengerahkan sedikitnya 14 dum truck redimix berbentuk kapsul tengah merampungkan pengecoran. Material pengecoran jembatan Pecuk itu dipompa dengan mobil mesin yang disalurkan melalui selang cor sepanjang sekitar seratus meteran ke rancangan besi pilar, yang ada di tengah Sungai Cimanuk Indramayu.

Jermon, pelaksana proyek Jembatan Pecuk melalui juru bicaranya, Taat mengatakan, pihaknya siap merampungkan sisa pekerjaan pengecoran pilar hingga tuntas sebelum akhir November 2009 ini. “Insya Allah pihak kami siap merampungkan pengecoran pilar sebelum akhir November 2009 ini,” kata perwakilan dari PT. Haruman Putra Wira dari Jakarta, selaku pelaksana proyek Jembatan Pecuk tersebut.

Sementara PPTK dan juga Kabid Jembatan pada Dinas Bina Marga Kabupaten Indramayu, Drs. H. Suwenda yang ditemui di lokasi proyek Jembatan Pecuk, Selasa (24/11) sore, mengatakan, pihaknya siap mengawasi jalannya pengecoran pile cup (pilar tengah) jembatan hingga rampung, dan semoga tak ada masalah apa pun.

“Kalau pelaksanaan pengecorannya hingga larut malam, bahkan sampai pagi pun, kami bersama tim pengawas jembatan siap melakukan pengawasan di lokasi proyek Jembatan Pecuk ini,” kata Suwenda yang saat itu didampingi ketiga tim pengawas lapangan. (Satim)*** Foto-Foto : Satim

PENGECORAN PILAR – Pengecoran pilar jembatan Pecuk Indramayu berlangsung sejak Selasa (24/11) siang sekitar 11.05 WIB hingga larut malam. (Satim)***

AIR CIMANUK KERUH – Ketika berlangsungnya pengecoran pilar tengah Jembatan Pecuk Indramayu, kondisi air Sungai Cimanuk tengah keruh dan agak banjir. Menurut pihak PPTK proyek itu, tiang penyangga jembatan tersebut mestinya harus rampung akhir November 2009. Konon, setelah itu, proyek selanjutnya pemasangan rangka baja jembatan yang akan membentang di atasnya. (Satim)***

Dum Truck Redimix – Kendaraan dum truck redimix yang mengangkut material pengerjaan pengecoran pilar tengah Jembatan Pecuk Indramayu tengah melaksanakan pengecoran jembatan itu, Selasa (24/11) sore. (Satim)***

Kirab gong ini merupakan rangkaian peringatan Hari Perdamaian Dunia

Gong Perdamaian Dunia
Gong Perdamaian Dunia diarak menuju lokasi pemasangan di Taman Pelita, Ambon, Maluku, Senin (23/11). Kirab gong ini merupakan rangkaian peringatan Hari Perdamaian Dunia, 24-26 November, yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah duta besar, dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Foto : Kompas/Agung Setyahadi)***

Festival Dalang Bocah

Festival Dalang Bocah

Dalang cilik Bagus Pramita Adi Nugroho (8) asal Mojokerto yang membawakan lakon Anoman Duto dalam Fest ival Dalang Bocah di Gedung Cak Durasim Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/11), membuat kagum penonton. Fest ival dalang ini bertujuan melestarikan seni budaya melalui pengenalan kesenian sejak usai dini. (Foto : Kompas/Raditya Helabumi)***

EKSPEDISI GARIS DEPAN NUSANTARA : Ratusan artefak langka berusia ribuan tahun terancam hancur

Benda-benda peninggalan sejarah disimpan di Museum Seribu Moko, Kecamatan Teluk Berlian, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Senin (23/11). Benda-benda bersejarah tersebut kurang mendapat perawatan sehingga rawan rusak. (Foto : Kompas/Lucky Pransiska)***

EKSPEDISI GARIS DEPAN NUSANTARA

Benda Purbakala Terancam Rusak

KALABAHI – Ratusan artefak langka berusia ribuan tahun terancam hancur akibat kerusakan Museum Seribu Moko di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Senin (23/11), terlihat sejumlah jendela ruang pamer pecah, langit- langit bocor, dan lampu-lampu rusak.

Akibatnya, penyimpanan benda bersejarah seperti puluhan moko (gendang kecil) perunggu dan nekara perunggu antik yang diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun, perkakas kayu kuno, senjata tradisional, serta kain tenun Alor dari sutra dan katun bermotif khas terganggu.

Koordinator Bimbingan dan Edukasi Museum, Rashid Sina, mengatakan, pihaknya sudah mengajukan anggaran perbaikan. Namun, dana belum turun. Museum Seribu Moko berdiri tahun 2003.

Seorang staf museum, Rivai Panara, mengatakan, benda-benda bersejarah itu membuktikan adanya hubungan internasional antara Alor dan bangsa lain di masa silam, seperti Tiongkok, India, Arab, Belanda, dan Portugis.

Peninggalan dari masa Majapahit, era masuknya Islam dan Kristen, juga disimpan di museum, antara lain Alkitab kuno dan foto Al Quran dari kulit kayu yang berusia sekitar 300 tahun.

Selain itu, banyak benda bersejarah yang masih tersebar di Pulau Alor dan disimpan keluarga bangsawan dan tokoh penting. Moko antik umumnya digunakan dalam upacara adat perkawinan.

Tertahan tiga hari

Akibat gangguan mesin dan kesulitan suku cadang, kapal tim ekspedisi Garis Depan Nusantara (GDN) tertahan tiga hari di Kabupaten Alor.

Semula direncanakan tim ekspedisi GDN dari Kabupaten Sikka, Sabtu (21/11), akan singgah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, dan Alor. Tapi untuk mengejar waktu penelitian masalah sosial, ekonomi, dan budaya di 28 pulau terluar di wilayah timur Indonesia, tim memutuskan tidak singgah di Adonara.

Kapal tiba di Alor, Minggu (22/11) pukul 17.00 Wita. Kapal pinisi Cinta Laut yang digunakan tim ekspedisi mengalami gangguan radio komunikasi dan alat untuk mengukur kedalaman air laut.

”Kami memerlukan suku cadang radar dan alat komunikasi dari Jakarta,” kata Ketua Pelaksana Ekspedisi GDN Irwanto Iskandar, Senin di Alor.

Suku cadang itu tiba di Kupang, Senin. ”Begitu suku cadang dipasang, tim segera bertolak ke Pulau Lirang (Maluku Barat Daya) setelah mengunjungi ujung timur Pulau Alor di Maritaing yang berseberangan dengan wilayah Timor Leste di Pulau Atauro,” kata Komandan Operasi GDN Haris Mulyadi. (SEM/ONG)***

Source : Kompas, Selasa, 24 November 2009 | 10:01 WIB

Jebakan pendidikan (ujian nasional) yang mekanis-transaksional

"Transaksi" Pendidikan

Oleh : Maria FK Namang

Berita pelaksanaan ujian nasional bulan Maret 2010 seharusnya tidak mengagetkan (Kompas, 12/11).

Tiap tahun, menjelang ujian nasional, cepat atau lambat, ada ”pemadatan pengajaran”. Konsentrasi anak hanya dipusatkan pada kiat menjawab pertanyaan secara tepat.

Apakah para pengambil keputusan sadar bahwa yang ”menggembirakan” dari ujian nasional hanya pemadatan pengajaran, bukan pemadatan pembelajaran?

Sistem mekanis

Dalam Introducción a la Filosofía de la Educación (TW Moore, 1987), pendidikan sering dipahami secara keliru, sekadar transaksi. Ibarat jual-beli, guru yang (diandaikan) memiliki keunggulan pengetahuan dan pengalaman ditawarkan kepada siswa. Guru menjadi sumber informasi, instruktur, ahli, dan animator.

Agar proses belajar-mengajar tidak terkesan vertikal, otoriter, atau sekadar mendikte, yang notabene sudah bukan zamannya lagi, guru mencari aneka ”strategi pengajaran”. Berbagai cara dikembangkan, bukan untuk menguatkan jelajah intelektual, tetapi sekadar menguatkan daya hafal dan ketelatenan melaksanakan instruksi. Sekolah pun gembira saat apa yang diajarkan dikuasai sangat baik oleh siswa dan hal itu terbukti dalam ujian.

Keinginan belajar juga ditimbulkan lewat ujian. Mekanisme ujian memaksa siswa memberi prioritas pada persiapan sambil menyampingkan (untuk sementara) dorongan negatif yang mengarah pada kenakalan remaja. Guru, orangtua, terutama pemerintah, gembira karena semangat belajar anak meningkat.

Sekilas, hal-hal seperti ini membanggakan. Namun, bila dikritisi, semangat belajar yang tercipta, baik melalui menghafal maupun pemaksaan lewat ujian, hanya bersifat mekanistis. Jika seseorang belajar bukan karena kesadaran tetapi paksaan, materi yang dikuasai tak akan bertahan. Ia ada selagi ada rangsangan eksternal dan akan minggat seirama perginya sokongan.

Sialnya, kepincangan model pendidikan transaksional seperti ini tidak mudah dibasmi karena pelaksanaannya membutuhkan biaya transaksional yang amat remuneratif. Pemerintah, misalnya, memberi anggaran besar guna menyukseskan ujian nasional. Sekolah dalam kerja sama dengan bimbingan belajar menggelar uji coba massal (berbiaya mahal). Semua dilaksanakan dengan asumsi ”meningkatkan mutu pendidikan”.

Pembelajaran organis

Jebakan pendidikan (ujian nasional) yang mekanis-transaksional hendaknya disadari sebagai sebuah kepincangan. Para pengambil keputusan mestinya insaf, yang diperoleh dari ujian nasional hanya pembelajaran mekanis yang sama sekali tidak mendidik. Anak belajar karena didesak keadaan dan berhenti seirama hilangnya rangsangan.

Pribadi yang dihasilkan dari model pendidikan seperti ini pun bisa ditebak. Yang dikejar adalah ijazah, bukan kompetensi. Lebih parah lagi, orang seperti itu, saat menjadi pejabat, yang dikejar bukan kreativitas, keikhlasan memberi, dan mengabdi, tetapi kelicikan mengambil barang atau hak orang lain, menipu, bahkan memeras. Kongkalikong dihalalkan demi memperkaya diri. Dengan ”lincah” mereka lepas dari jerat hukum. Dengan ”cerdik”, menjebak orang lain. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Untuk itu, tak ada pilihan selain peralihan kepada pembelajaran organis. Dalam sistem ini, jelajah nalar dioptimalkan, hati digerakkan, minat dan semangat didorong, serta motivasi dan kesadaran diri diberi ruang gerak luas. Melalui pendekatan ini, seseorang akan menjadi pribadi kian mandiri. Ia akan bebas berkreasi dan berinovasi. Ia punya intuisi sosial dan kontributif terhadap pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Cara organis seperti ini sudah terbukti di beberapa negara maju. Mereka memberi kesaksian, belajar yang dipaksakan tidak punya manfaat untuk pengembangan diri anak. Yang harus dibuat adalah menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajaran. Dari sana diharapkan terlahir pribadi kreatif dan konstruktif. Pribadi ini selain mandiri juga kontributif terhadap penciptaan masyarakat yang lebih baik. Yang dilakukan bukan menjadi benalu masyarakat dan bangsa, tetapi penuh kreatif mempersembahkan sesuatu yang bermakna untuk bangsa dan negaranya.

Muara dari semua ini adalah terbentuknya bangsa yang lebih berkarakter. Jelasnya, bangsa ini akan kian baik saat model pembelajaran organis kian diberi tempat dan impian kosong di balik ujian nasional yang menggunakan pembelajaran mekanis ditinggalkan.

Kalau kita berani melakukannya, sebuah tatanan baru akan lebih tercapai dan masalah yang meresahkan akibat tingkah pejabat yang merisaukan (seperti terjadi antara polisi dan KPK) akan lenyap atau minimal berkurang. Semua itu mungkin saat kita mulai dari pendidikan. Sudikah kita memulai? ***

Maria FK Namang,

Alumna Universita Facoltà di Scienze dell’Educazione

dell’Università Pontificia Salesiana, Roma;

Guru Sebuah Sekolah di Bekasi.

Source : Kompas, Selasa, 24 November 2009 | 03:20 WIB

Cukup Satu Sekolah Bertaraf Internasional di Setiap Kota / Kabupaten

MUTU PENDIDIKAN

Cukup Satu

Sekolah Bertaraf Internasional

di Setiap Kota

SALATIGA - Menjamurnya sekolah berstandar internasional belum diikuti ketersediaan tenaga pendidik yang bisa mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan bahasa Inggris. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memperketat seleksi. Di kabupaten atau kota sebaiknya cukup ada satu SBI untuk tiap jenjang.

”Sekarang ini bisa ada 5-7 SBI di satu kota. Di Malang, Jawa Timur, ada 7 SBI untuk satu jenjang pendidikan. Sumber daya guru tidak mencukupi,” kata guru besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang, Ali Saukah, di seminar ”English for Specific Purpose within the context of Sekolah Bertaraf Internasional Contextualizing the Jargons” di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (20/11).

Menurut dia, dari sejumlah survei, siswa pun belum seluruhnya mampu mengikuti pelajaran dalam bahasa Inggris untuk Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dengan bahasa Indonesia saja, siswa masih kerap kesulitan. ”Malah ada SBI yang belum memenuhi kriteria standar nasional,” tuturnya.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Bertaraf Internasional UKSW Salatiga, Philipus Pirenomulyo, mengatakan bahwa ”Di tengah kebingungan dan permasalahan sumber daya pengajar, tidak banyak sekolah yang mencoba menggandeng lembaga pendidikan tinggi. Padahal mereka bisa berkonsultasi atau, bahkan, meminta bantuan kepada perguruan tinggi terdekat,” ujarnya.

Michael Lynn, dosen Linguistik Universitas Kwansei Gakuin, Jepang, menuturkan, untuk meningkatkan kapabilitas berbahasa Inggris guru, sekolah berstandar internasional di Jepang membayar pengajar berbahasa ibu Inggris. (GAL)***

Source : Kompas, Senin, 23 November 2009 | 03:19 WIB

Koponk @ Senin, 23 November 2009 | 09:10 WIB
Benar sekali.Selain itu,banyak sekolah sbi akan tetapi ujung-ujungnya juga UN.Yang notabene comeback indonesian languange,ap gunanya belajar materi bahasa inggris kalau hasil akhir harus sama.Selain tenaga pengajar,siswa juga butuh penyesuaian ekstra dalam menempuh ujian akhir.

sitepu @ Senin, 23 November 2009 | 07:56 WIB
benar pak Ali Saukah, masih ada sekolah sbi tapi snp -nya belum terpenuhi, jangan ada pembohongan publik, daftar cek list harus ada, jangan asal sebut. penting.

Monday, November 23, 2009

Lemahnya Pemahaman Pelajar Terhadap Pancasila

Guru Disalahkan

Pengajaran Pancasila Tidak Menarik

JAKARTA - Lemahnya pemahaman pelajar terhadap Pancasila sebagai dasar negara dinilai karena miskinnya metodologi pembelajaran yang dikembangkan para guru. Pembelajaran di sekolah disampaikan tidak menarik dan terjebak pada penceramahan semata.

”Pendidikan kebangsaan, karakter, atau nilai-nilai tersebut masih jadi perhatian di kurikulum pendidikan. Pertanyaannya, mengapa pendidikan kewarganegaraan itu sering kali tidak bisa melekat dan dijiwai siswa, ya... karena metodologi pembelajaran yang dilakukan guru umumnya tidak menarik,” kata Diah Harianti, Kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Jumat (20/11).

Diah mengatakan hal itu menanggapi Heru Matador, Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. Depdagri menilai, sekarang banyak pelajar yang tak paham Pancasila, bahkan urut-urutannya pun banyak yang salah (Kompas 20/11).

Menurut Diah, pendidikan wawasan kebangsaan masih diajarkan, antara lain, dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Mestinya, dalam pelajaran PKN kompetensi yang dicapai bukan berhenti pada aspek kognitif atau siswa tahu. ”Namun, juga perlu sampai ke kompetensi kognitif dan keterampilan untuk menerapkan apa yang diajarkan,” kata Diah.

Para guru, ujar Diah, mesti kreatif untuk mengembangkan cara-cara belajar yang menarik sehingga siswa ingat dan memahami banyak aspek kebangsaan.

Minim pelatihan

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, menegaskan, miskinnya guru dalam mengembangkan metodologi pembelajaran karena para guru minim diberi pendidikan dan pelatihan. ”Jika ada perubahan-perubahan dalam kurikulum atau kebijakan pendidikan, guru dianggap sudah bisa menjalankan sendiri. Itu salah,” ujarnya. Menurut Hamid, pembelajaran soal Pancasila dan Kewarganegaraan selama ini bersifat indoktrinasi. Guru pun diarahkan demikian.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo mengatakan bahwa dalam pendidikan, guru menjadi ujung tombak yang tidak boleh diabaikan.

”Jangan hanya mudah menyalahkan guru yang kurang tidak kreatif, malas, membosankan, dan sebagainya. Namun, apakah selama ini para guru kita sudah benar-benar diperhatikan dalam pengembangan profesionalismenya?,” ujar Sulistiyo. (ELN)***

Source : Kompas, Sabtu, 21 November 2009 | 03:21 WIB

Soal Pancasila Yang Ditinggalkan Siswa

Pancasila Ditinggalkan Siswa

Konstruksi Pancasila Mengacu ke Orde Baru

YOGYAKARTA - Banyak pelajar yang tidak paham Pancasila sebagai dasar negara, bahkan urut-urutan silanya pun banyak yang salah. Kondisi ini setidaknya mencerminkan mulai lunturnya wawasan kebangsaan di kalangan para pelajar.

Penilaian tersebut diperoleh melalui sejumlah evaluasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. Gejala ini terutama terjadi pada pelajar di daerah perkotaan. ”Adapun kemampuan pelajar di kawasan pedesaan dalam menghafal sila-sila Pancasila relatif masih baik,” kata Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri Heru Matador di sela-sela seminar sehari ”Pancasila dan Kedaulatan Bangsa” yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Yayasan Pendidikan Pelita Kencana di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Kamis (19/11).

Menurut Heru, gejala ini mulai terjadi setelah era reformasi. Setelah jatuhnya pemerintahan Orde Baru, muatan pendidikan berkaitan dengan Pancasila berkurang. Kondisi ini diperparah dengan makin diabaikannya pendidikan pembangunan karakter siswa di sekolah.

Menurut Heru, pemahaman Pancasila di kalangan pelajar penting mengingat Pancasila sebagai ideologi bangsa merupakan salah satu falsafah yang mengikat persatuan bangsa. Pancasila juga merupakan salah satu dari empat pilar wawasan kebangsaan, selain pemahaman terhadap Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta keragaman budaya.

Berkurangnya wawasan kebangsaan, tutur Heru, berdampak pada menipisnya rasa nasionalisme, yang sudah mulai terlihat beberapa waktu terakhir. ”Maraknya pertikaian dan perkelahian antardesa merupakan salah satu tanda menipisnya rasa nasionalisme” ujarnya.

Perlu dimurnikan

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Arie Sujito, yang hadir sebagai salah satu pembicara, mengatakan, Pancasila merupakan jalan untuk menegakkan kedaulatan Indonesia. Namun, untuk menguatkan kembali keyakinan terhadap ideologi Pancasila, nilai-nilai Pancasila perlu terlebih dahulu dibersihkan dari manipulasi Orde Baru.

”Pancasila perlu dikembalikan pada nilai-nilainya yang murni berdasarkan karakter dan nilai bangsa,” tuturnya.

Menurut Arie, saat ini konstruksi Pancasila sebagai sebuah ideologi masih mengacu pada penerapan pada era Orde Baru sehingga kurang mendapat simpati masyarakat.

”Pada pemerintahan Orde Baru, Pancasila digunakan sebagai alat dan doktrin untuk melanggengkan kekuasaan. Hal ini menimbulkan antipati di sebagian masyarakat pada era reformasi yang lebih bebas sekarang ini,” ujarnya.

Penguatan kembali Pancasila juga perlu dilakukan melalui kebijakan pemerintah yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Pemahaman Pancasila pada generasi muda saat ini diharapkan menghasilkan tafsiran-tafsiran kritis sehingga nilai Pancasila terus relevan dengan kehidupan bangsa pada masa depan. (IRE)***

Source : Kompas, Jumat, 20 November 2009 | 03:18 WIB