Saturday, August 7, 2010

IIS DAHLIA : Pilih Menyanyi 100 Lagu

IIS DAHLIA

Pilih Menyanyi 100 Lagu

IIS DAHLIA. (KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH)***

Bagi Iis Dahlia (38) lebih baik menyanyikan 100 buah lagu daripada diminta berpidato. ”Saya enggak bisa omong, kalau menyanyi ayo...,” tuturnya, Rabu (4/8) malam, ketika didaulat membuka pentas seni dan pameran ”Indramayu dari Dekat” di Bentara Budaya Jakarta.

Karena dilahirkan dan besar di Indramayu, panitia menghubungi Iis dan dia menyatakan bersedia membuka acara seni itu.

Setelah berbasa-basi, ia mengucapkan terima kasih kepada lembaga atau badan yang bersedia memamerkan hasil kerajinan serta mementaskan tari tradisional Indramayu.

Sebab, katanya, jika hal itu dilakukan, hal-hal negatif yang selama ini lebih mendominasi Indramayu lambat laun bakal terkikis. ”Indramayu juga ada positifnya. Lihat saja batik serta hasil kerajinan lain. Di bidang kesenian, ada tari topeng indramayu oleh Ibu Mimi Rasinah,” ungkapnya.

”Tetapi, kok, yang diingat-ingat hanya soal yang negatif saja...,” tambah Iis tanpa merinci apa itu hal negatif dari Indramayu. Iis sejak 2009 serius menjalankan bisnis warung di Cilandak Town Square, Jakarta. Dia tak beranjak dari tempat duduk sampai Mimi Rasinah (80), maestro tari topeng indramayu—yang menari sambil duduk karena sakit, turun pentas. (POM)***

Source : Kompas, Sabtu, 7 Agustus 2010 | 02:59 WIB

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

DOK. "PRLM"

Mimi Rasinah maestro tari topeng asal Indramayu meninggal dunia di UGD RSUD Indramayu, Sabtu (6/8).***

INDRAMAYU, (PRLM),- Mimi Rasinah seorang Maestro tari topeng asal Desa Pekandangan, Kec./Kab. Indramayu meninggal dunia di UGD RSUD Indramayu, Sabtu (6/8) sekira pukul 14.05 WIB. Oleh keluarganya, jenasah Mimi Rasinah langsung dibawa pulang kerumah duka.

Kematian maestro yang pernah pentas di beberapa negara ini sangat mengejutkan kalangannya, terutama pihak keluarga. Isak tangis keluarga mengetahui Mimi Rasinah meninggal mewarnai ruang UGD RSUD Indramayu.

"Sebelum meninggal dunia, Mimi Rasinah sempat tampil menarikan tari topeng di Jakarta. Mungkin karena kecapaian dan punya riwayat penyakit stroke hingga meninggal di rumah sakit. Mungkin meninggalnya Mimi menunggu saya yang sedang pentas tari topeng di Cirebon, " kata Erly, cucu Mimi Rasinah kepada "PRLM".

Hal senada dikatakan dokter jaga UGD RSUD Indramayu, dr. H.Nurhendi. Menurutnya, saat Mimi Rasinah dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya, kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Meski pihaknya telah berusaha semaksimal, namun nyawanya tidak tertolong.

"Saat dibawa kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Diduga meinggalnya Mimi Rasinah akibat kecapean dan punya riwayat penyakit stroke, " jelasnya. (ui/kur)***

Komentar Berita:

  • encep (not verified) on Sabtu, 07/08/2010 - 17:05

turut berduka cita.dr kotaudang-sap.blogger.com

  • Anonymous (not verified) on Sabtu, 07/08/2010 - 16:03

Ngiring bela sungkawa kanggo Mimi Rasinah sareng kulawargana. Kuring estuning kaleungiten maestro tari topeng Indramayu.
Mugia arwah almarhumah sareng amal ibadah ditampi disisi Allah SWT, dihampura sagala dosana, ditebihkeun tina siksa kuburna. Amin...
Selamat jalan Mimi, jasa mu bagi kebudayaan tetap akan dikenang sepanjang masa.

Source : pikiran-rakyat.com, Sabtu, 07/08/2010 - 15:43

JAWA BARAT

  • 07.08.2010 | 15:43 wib

Mimi Rasinah Maestro Tari Topeng Asal Indramayu Meninggal Dunia

  • 07.08.2010 | 13:10 wib

Jalur Sodonghilir - Deudeul Kab.Tasikmalaya Lumpuh

  • 07.08.2010 | 12:33 wib

Petugas Gabungan Amankan 30 Orang Pasangan Mesum

  • 07.08.2010 | 02:24 wib

Sumber Mata Air Semakin Susut Akibat Kerusakan Lingkungan

  • 06.08.2010 | 20:41 wib

Polsek Palabuhanratu Sita Ribuan Petasan

  • 06.08.2010 | 20:28 wib

4 Pasangan Tertangkap di Kamar Hotel

  • 06.08.2010 | 20:22 wib

Mayat Bayi di Muara Cimandiri

  • 06.08.2010 | 19:50 wib

Kurniawan Alami Lumpuh Layu

  • 06.08.2010 | 19:34 wib

Ahyar Tewas Gantung Diri

  • 06.08.2010 | 18:32 wib

Polres Indramayu Berhasil Amankan Pengedar Upal

PENTAS TARI : Meski Stroke, Mimi Rasinah Masih Menari...

PENTAS TARI

Meski Stroke, Mimi Rasinah Masih Menari...

Seni wayang, topeng, batik, dan sejumlah karya fotografi dari Indramayu, Jawa Barat, dipamerkan dalam Pameran "Indramayu dari Dekat" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8). Pameran berlangsung hingga Minggu (8/8) mendatang. (KOMPAS/LASTI KURNIA)***

Mengharukan dan luar biasa. Dalam kondisi stroke, maestro tari topeng, Mimi Rasinah (80), tak kehilangan semangat untuk tampil di halaman Bentara Budaya Jakarta, Rabu (4/8) malam.

”Ampun ya Gusti.... Kalau saya tak mampu lagi, biarkan anak-cucu yang mewarisi....” Demikian lebih kurang arti sebait syair yang dilantunkan Waci untuk Tarian Panji Rogo Sukma yang menampilkan Mimi Rasinah, Aerli Rasinah, cucunya, dan sejumlah cicitnya.

Dengan satu tangan kanan yang masih tangkas bergerak, Mimi Rasinah—yang merupakan pewaris kesembilan dalang Topeng Indramayu—dengan jari-jemari keriputnya, tetap lentik dan indah, membawakan tari tersebut sambil duduk. Sementara cucunya, Aerli, berdiri di belakang memainkan gerak topeng panji yang dibawakan Sang Maestro.

Walau tarian tersebut sudah diwariskan, di mana topeng Panji kini dimainkan Aerli, masih ada gerakan Mimi Rasinah yang belum dikuasai Aerli.

”Saya akan terus menggali karena Maestro Mimi Rasinah membawakannya dengan gerakan dari hati terdalam yang luar biasa,” katanya seusai pertunjukan.

Seusai menari, mata Mimi Rasinah tampak berkaca-kaca dan memberi hormat tatkala penonton mengapresiasinya dengan tepuk tangan.

Tari Panji Rogo Sukma merupakan tari yang sudah dimodifikasi, memainkan semua unsur topeng, sebagai simbol pewarisan dari Sang Maestro, kepada pewaris selanjutnya.

Selain Tari Panji Rogo Sukma, sebelumnya keluarga Mimi Rasinah juga menampilkan Tari Topeng Kelana Gandrung dan Tari Topeng Tumenggung.

Tarian topeng merupakan salah satu kekayaan budaya dari Indramayu yang ditampilkan khusus dalam pameran bertajuk ”Indramayu dari Dekat” yang dibuka penyanyi Iis Dahlia.

Pameran yang berlangsung hingga 8 Agustus itu juga menampilkan tradisi batik Indramayu. Di ruang pamer, terpajang 24 kain batik Indramayu berusia tua koleksi Carwati Basuri (33), salah seorang pengusaha batik dari Desa Paoman, Kabupaten Indramayu.

Jumat (6/8) besok pukul 19.30, pameran dimeriahkan Pentas Wayang Golek Cepak oleh Ki Ahmadi, sedangkan Sabtu (7/8) workshop tari topeng dan pentas tari topeng. (NAL/THT)***

Source : Kompas, Kamis, 5 Agustus 2010 | 04:48 WIB

INDRAMAYU DI BBJ : Dongeng Kegigihan Para Penari Pantura

INDRAMAYU DI BBJ

Dongeng Kegigihan Para Penari Pantura

Mimi Rasinah (80) memerhatikan dan sesekali memberikan contoh gerakan tari topeng yang benar kepada murid-murid di sanggarnya, yang dikelola cucu sekaligus penerusnya, Aerli Rasinah (24), di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (3/8). Anak didiknya berlatih tarian topeng Panji Rogosukmo, yang akan ditampilkan dalam acara "Indramayu dari Dekat" di Bentara Budaya Jakarta, Rabu ini. (KOMPAS/TIMBUKTU HARTHANA)***

Oleh Siwi Yunita Cahyaningrum dan Timbuktu Harthana

Rumah Wangi Indriya, penari topeng ternama itu, masih saja sederhana. Sanggarnya sejak setahun lalu sudah berdiri megah, tetapi rumahnya yang dibangun tahun 1980-an itu masih setengah jadi. Dinding rumah yang sehari-hari menjadi tempat hidupnya tak dipoles semen.

Meski sederhana, di sinilah segala kegiatan tari dan tetabuhan hidup. Di sini pula semangat tari topeng yang berusia ratusan tahun berkembang di pantai utara (pantura) Jawa Barat.

Keluarga Wangi sudah bergelut dengan seni pantura turun-temurun. Kakeknya adalah pedalang tersohor. Ayahnya, Mamak Taham, pun kini menjadi tokoh dalang kenamaan Indramayu. Bagi keluarga seniman ini, kesenian pantura dan sanggar yang mereka punyai, yakni Mulya Bhakti, adalah satu-satunya kekayaan mereka.

Bukan hal yang mudah menjaga eksistensi kesenian dan sanggar. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak kecil. Wangi Indriya menghidupi sanggarnya dari keringatnya menari, juga bercocok padi. Setiap kali bisa pentas ataupun panen, Wangi selalu menyisihkan sebagian dananya untuk kebutuhan sanggar. Uang itu sebagian untuk pementasan dan sebagian lagi untuk kebutuhan rutin seperti membayar listrik sanggar.

Di les menari, Wangi hanya menarik tarif Rp 5.000 per anak tiap kali datang. Uang itu pun kembali ke para penari tersebut untuk keperluan pentas mereka di Indramayu atau di luar kota.

”Tidak semua pentas tari menghasilkan uang. Jika dana terbatas, uang dari sanggar pun harus dikeluarkan untuk penari ini, setidaknya buat ongkos pulang mereka,” kata Wangi suatu sore di sanggarnya di Tambi, sebuah desa kecil di Indramayu.

Penari sanggar seperti Suti (18) pun rela menjahit manik- manik sendiri agar mendapatkan kostum tari yang murah untuk membantu sanggar. Kostum tari topeng yang biasanya Rp 350.000 per set bisa hanya Rp 300.000 berkat keringat para pengurus sanggar yang meluangkan waktunya untuk memasang manik-manik dengan tangan mereka sendiri.

Wangi bahkan melupakan kepentingan pribadinya. Ketika harus menyekolahkan putranya, Aris, ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) di Solo, tahun 1998, Wangi bahkan tak punya biaya karena dana diperuntukkan bagi kegiatan sanggar.

Namun, hasil kerja keras dan berbagai bentuk pengorbanan yang ia lakukan memperoleh hasil yang sepadan. Sanggar Mulya Bhakti kini punya 350 siswa tari. Setiap malam bulan purnama sanggar itu selalu meriah dengan pentas Midang Sari. Pada saat itu berbagai seniman pantura berkumpul untuk mementaskan tari, macapatan, prolog, dan kesenian khas lainnya. Warga bukan hanya dari Indramayu, melainkan juga dari kota- kota lain dapat turut menikmati berbagai kesenian pantura yang kadang sudah jarang dipentaskan tersebut.

Mimi Rasinah

Bukan hanya Wangi yang mengalami ”jalan tak mudah” dalam berkesenian. Perjuangan gigih menghidupkan sanggar dan panggilan jiwa juga dilakukan oleh Mimi Rasinah. Di forum pameran kerajinan, foto, dan pergelaran ”Indramayu dari Dekat”, yang digelar di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 4-8 Agustus 2010, keuletan, kegigihan, kesederhanaan, sekaligus ketangguhan penari topeng Indramayu yang mendunia itu bisa dinikmati masyarakat Ibu Kota.

Di balik namanya yang mendunia, Mimi Rasinah (80)—sejak lima tahun lalu terserang stroke—tetap hidup dengan segala keterbatasan ekonominya. Ia bahkan hidup sangat melarat sejak terserang stroke. Kehidupan Rasinah saat itu sangat tergantung dari nafkah anak-anaknya yang bekerja sebagai penabuh gamelan dan kuli pemecah batu.

Kendati demikian, Rasinah tetap menari. Ia tetap mengajari cucunya, Aerli, menari topeng ketika setengah dari tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. ”Mimi masih bisa mengetuk kenong ketika saya menari, bahkan melempar saya dengan pemukul kenong ketika salah menarikan gerakan tari topeng,” kata Aerli.

Meski hidup serba sulit, semangat menari Mimi Rasinah tak pernah pudar. Baginya, tari topeng adalah takdir sekaligus pilihan hidup. Pilihan hidup itulah yang membuat sanggarnya kembali ramai dengan anak- anak muda, penari topeng baru.

Generasi baru ini memberikan angin segar bagi regenerasi tari topeng Rasinah. Aerli Rasinah (24), cucu Mimi Rasinah, menghidupkan kembali sanggar Mimi Rasinah dengan cara yang lebih inovatif, khususnya dalam hal manajemen panggung. Jika dulu Mimi Rasinah-lah yang mengurusi seluruh keperluan depan dan belakang panggung, kini pekerjaan itu diambil alih oleh penari, pemain musik, dan manajer panggung.

Facebook yang menjadi alat jejaring sosial modern pun digunakan sebagai alat promosi sanggar ini. Dari jejaring sosial inilah warga bisa melihat tarian Mimi Rasinah yang diunggah oleh Aerli, dan belajar darinya.

Sanggar dan kesenian benar- benar menjadi bagian dari hidup para penari pantura ini. Baik bagi Mimi Rasinah maupun Wangi Indriya, hilangnya pamor sanggar akan menghilangkan kesenian yang menjadi roh hidup masyarakat pantura.

Kehidupan para penari seperti Wangi Indriya dan Mimi Rasinah mengamini filsafat tarian topeng yang sudah merasuki hidup mereka, yakni berbagi dan bertindak benar. Dari kegigihan mereka, kesenian pantura tetap ada dan tumbuh di jiwa anak- anak muda di kawasan pantura. ***

Source : Kompas, Rabu, 4 Agustus 2010 | 03:13 WIB

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • jarot santoso

Rabu, 4 Agustus 2010 | 11:33 WIB

selamat atas kegigihan sanggar tari topeng......... lestarikan budaya lokal (bangsa kita) jangan punah meski kita memasuki abad modernisasi.

Balas tanggapan

Monday, August 2, 2010

HER SUGANDA : Mimi Tiweng, Primadona Ronggeng Terakhir

Mimi Tiweng, Primadona Ronggeng Terakhir

Oleh HER SUGANDA

MIMI TIWENG. (Foto : HER SUGANDA)***

Masih adakah ruang yang tersedia untuk menyaksikan Mimi Tiweng menari? Primadona ronggeng ketuk dari Dusun Tlakop itu terakhir kali tampil memesona dalam pergelaran di Gedung Negara Cirebon, awal Desember tahun lalu.

Penampilannya di depan publik yang sebagian besar terdiri dari pejabat setempat pada malam itu bukan hanya merupakan yang pertama kali setelah cukup lama istirahat. Sebelumnya, ia lebih banyak berada di rumah mengurus suaminya, Waryim (75 tahun).

”Saya tidak tahu kapan bisa menari lagi,” kata Mimi Tiweng, yang memiliki nama lahir Kartiwen, penuh harap melepaskan kerinduannya.

Tlakop, kampung tempat Mimi Tiweng membangun keluarga dan kesenian ronggeng ketuk, termasuk wilayah Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Daerah pertanian itu dikelilingi areal persawahan sejauh mata memandang. Di tempat ini, Mimi Tiweng merupakan satu-satunya penari sekaligus primadona ronggeng ketuk yang masih ada.

Setelah itu? Mimi Tiweng tidak bisa menjawabnya. Dia hanya bisa menatap hampa masa depan kesenian yang digelutinya selama ini. Dalam benaknya sudah lama terbayang, kesenian ronggeng ketuk akan berakhir di tangannya. Setelah dirinya, tidak ada lagi generasi berikut yang melanjutkan.

Regenerasi kesenian tradisional yang biasanya berlangsung melalui anak atau anggota keluarga lain sudah tidak mungkin terjadi pada ronggeng ketuk.

”Anak saya dan anak-anak gadis lain tidak ada lagi yang mau menjadi penari ronggeng,” katanya. Nada suaranya rendah, memperlihatkan isi hati yang kecewa, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

Tanpa panggung

Ronggeng ketuk merupakan kesenian tradisional yang bentuknya tidak banyak berbeda dengan kesenian sejenis yang menampilkan penari ronggeng. Di daerah lain, kesenian ini dinamakan ketuk tilu karena salah satu instrumennya atau waditra berupa cemplon yang dinamakan ketuk terdiri dari tiga buah.

Instrumen lainnya adalah rebab (alat gesek), gendang dengan kulanter, gong, dan kecrek.

Para nayaga atau awak gamelan duduk di salah satu sisi, dikelilingi para penonton yang membentuk lingkaran. Penonton di baris paling depan biasanya duduk di atas lantai tanah atau jongkok. Namun, pusat perhatian mereka bukan pada kemeriahan irama gamelan yang mengiringi pertunjukan, tetapi kepada para ronggeng.

Ronggeng adalah penari yang umumnya perempuan. Selain menyanyi, ia juga melayani penonton yang berminat menari bersamanya. Tidak diketahui sejak kapan kesenian ini ada. Pergelaran kesenian tersebut biasanya diselenggarakan pada malam hari di daerah terbuka tanpa panggung.

”Kalau siang, penonton pria yang akan menari di arena merasa malu,” kata Waryim, menimpali istrinya. Penonton pria yang ikut menari kemudian memberikan sawer berupa sejumlah uang.

Pertunjukan ronggeng ketuk berlangsung sejak pukul 20.00. Semakin malam suasananya semakin hangat. Para penonton pria turun ke arena silih berganti, berusaha merebut hati ronggeng pujaannya seraya berlomba memberikan sawer. Sebelum 1990-an, pertunjukan ronggeng berlangsung hingga subuh. Namun kini, pertunjukan hanya dibolehkan sampai tengah malam.

Uang sawer merupakan pemasukan tambahan bagi para ronggeng dan nayaga. Kartiwen menceritakan, uang sawer yang terkumpul dibagikan setelah pertunjukan usai. ”Cara pembagiannya sabatur,” katanya. Artinya, sebagian untuk nayaga dan sebagian lagi untuk ronggeng.

Masa keemasan

Lahir di Dusun Tlakop, perjalanan hidup Mimi Tiweng sebagai penari ronggeng ketuk cukup panjang. Bisa dikatakan, hampir sepanjang usianya dicurahkan menjadi penari ronggeng. Ia mengaku sudah menari sejak usia 10 tahun. Tidak mengherankan jika namanya menyatu dengan ronggeng ketuk di Dusun Tlakop. Julukan ”Mimi” menunjukkan, ia merupakan seseorang yang dituakan karena kepiawaiannya pada salah satu bidang kesenian.

Mimi Tiweng pernah mengalami masa-masa keemasan yang sulit terlupakan. Sebelum organ tunggal mewabah seperti sekarang, ronggeng ketuk merupakan salah satu pilihan masyarakat Indramayu dalam memeriahkan upacara pernikahan, khitanan, dan lainnya.

”Waktu itu, dalam sebulan bisa penuh sehingga sering ada permintaan ditolak,” kenangnya. Apalagi jika usai musim panen, kesibukan mencapai puncaknya.

Mimi Tiweng dan penari ronggeng lainnya hanya mempunyai waktu istirahat pada siang hari. Malam hari mereka harus memenuhi panggilan dari satu desa ke desa lainnya.

Akan tetapi, masa keemasan itu sudah lama berlalu. Ketika ronggeng ketuk harus bersaing dengan orkes dangdut, Mimi Tiweng mengaku masih bisa bertahan. Namun, setelah muncul organ tunggal, Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” mulai limbung. Kelompok kesenian ini mulai merasakan kehilangan peminat. Nasib yang sama dialami oleh kelompok kesenian tradisional lain. ”Bahkan, sejak 2001 sudah tidak laku lagi,” katanya.

Satu per satu kesenian tradisional mulai berguguran. Pesaingnya sesama ronggeng ketuk yang ada di desanya sudah lebih dulu gulung tikar. Ronggeng dan nayaga-nya mencari sumber kehidupan lain. Sebagian lagi hilang dari peredaran karena usia lanjut dan lainnya meninggal.

Praktis Mimi Tiweng merupakan satu-satunya penari ronggeng ketuk yang masih bertahan. Di tempat kelahirannya, Dusun Tlakop, Sang Primadona itu tetap gigih mempertahankan keberadaan Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” walau hanya tinggal seorang diri. Teman-temannya sesama penari ronggeng sudah lama berpisah. Begitu juga sebagian besar nayaga-nya.

Dalam kesendiriannya, ia masih bersyukur karena ronggeng ketuk tidak hanya merupakan kesenian yang bertujuan menghibur publik penontonnya. Di daerahnya, ronggeng ketuk memiliki nilai spiritual yang biasa dipanggil oleh mereka yang akan memenuhi nazar atau kaul. Namun, hal itu sudah sangat jarang sehingga Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari” hanya sesekali tampil.

Itu pun, nayaga yang menyertainya tidak bisa tampil utuh sebagaimana pendahulunya.

(HER SUGANDA, Wartawan, Tinggal di Bandung)

KARTIWEN ALIAS MIMI TIWENG
• Umur: Sekitar 65 tahun
• Pendidikan: Tidak sekolah
• Pekerjaan: Pimpinan Ronggeng Ketuk ”Pacar Sari”, Dusun Tlakop RT 01 RW 03, Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
• Pengalaman: Menari sejak umur 10 tahun
• Suami: Waryim (75 tahun)
• Anak: Surono (36 tahun), Yus Idayani (23 tahun)

Source : Kompas, Sabtu, 31 Juli 2010 | 03:41 WIB

Sunday, August 1, 2010

Jabar Evaluasi RSBI

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Jabar Evaluasi RSBI

BANDUNG - Dinas Pendidikan Jawa Barat bekerja sama dengan Badan Akreditasi Provinsi Jawa Barat sedang melakukan proses akreditasi terhadap 145 sekolah negeri rintisan sekolah berstandar internasional atau RSBI. Tujuannya, melihat apakah sekolah itu sudah memenuhi standar yang disyaratkan.

”Setelah dilakukan evaluasi, bukan tidak mungkin akan ada sekolah yang statusnya diturunkan menjadi sekolah reguler apabila standar yang ditetapkan tidak terpenuhi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wahyudin Zarkasyi di Bandung, Jumat (23/7).

Di Jabar, RSBI telah diselenggarakan sejak dua tahun lalu. Sebanyak 145 RSBI yang akan diakreditasi itu tersebar di sejumlah kota/kabupaten di Jabar, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dan SMK.

Wahyudin mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sekolah RSBI. Di antara syarat yang utama adalah melakukan kerja sama pendidikan dengan negara lain serta pengajaran menggunakan metode berbahasa Inggris.

”Kami berharap agar semua sekolah itu bisa memenuhi standar yang ditetapkan. RSBI sangat positif meningkatkan daya saing siswa. Setelah proses ini diselesaikan, tahun ini akan langsung dilanjutkan dengan RSBI swasta,” ujarnya.

Humas Dewan Pendidikan Kota Bandung Iwan Hermawan mengatakan, pelaksanaan RSBI di Jawa Barat masih jauh dari rasa keadilan masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. Alasannya, syarat masuk RSBI masih kental dengan persoalan dana. RSBI sering dijadikan alasan oleh sekolah untuk memungut dana dari masyarakat dan sampai saat ini tidak jelas patokannya.

”Meski ada kuota bagi masyarakat tak mampu, saya rasa tidak seimbang dengan jumlah siswa yang ingin merasakan pengajaran yang berkualitas,” ujarnya. (CHE)***

Source : Kompas, Senin, 26 Juli 2010 | 03:25 WIB

RSBI Kesulitan Cari Guru Berkualitas

RSBI Kesulitan Cari Guru Berkualitas

YOGYAKARTA - Rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI masih banyak yang kesulitan mendapatkan guru berkualitas. Semestinya RSBI memiliki guru berpendidikan S-2 minimal 30 persen dari jumlah guru, tetapi kenyataannya baru 5-15 persen yang memenuhi kualifikasi itu.

Bantuan pemerintah dalam meningkatkan kualifikasi guru dinilai sangat minim sehingga dituding menjadi salah satu penyebabnya.

Di SMP Negeri 8 Yogyakarta, misalnya, baru empat dari 75 guru yang bergelar S-2. ”Mereka pun kuliah dengan biaya sendiri,” kata Kepala SMP Negeri 8 Yogyakarta Pardi Hardisusanto di Yogyakarta, Rabu (21/7).

Menurut Pardi, selama ini SMP Negeri 8 Yogyakarta belum pernah menerima bantuan beasiswa untuk menyekolahkan guru ke tingkat S-2. Sementara itu, pendapatan guru terlalu minim untuk melanjutkan sekolah S-2 dengan biaya sendiri. Sejak empat tahun lalu, SMP Negeri 8 Yogyakarta mulai menyelenggarakan kelas internasional. Jumlah kelas internasional tersebut terus bertambah hingga tahun keempat ini.

Minimnya guru yang telah memenuhi kualifikasi ini, menurut Pardi, merupakan kendala utama sekolah untuk meningkatkan status menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Selain itu, para guru juga masih mempunyai kendala dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris. Hal tersebut karena para guru tidak pernah dipersiapkan untuk mengajar dalam bahasa Inggris.

Hal yang sama dialami SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sekolah yang tahun ini membuka 21 kelas internasional itu belum bisa memenuhi kualifikasi guru yang disyaratkan.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMA Negeri 3 Yogyakarta Kusworo mengatakan, baru 12 dari 50 guru SMA tersebut yang telah bergelar S-2. Di sekolah itu pun sebagian besar guru menggunakan biaya sendiri untuk kuliah S-2.

Kepala Bidang Perencanaan dan Standardisasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta Baskara Aji mengakui, kualifikasi guru masih sulit ditingkatkan. Dari 76 RSBI di DIY, belum satu pun yang berhasil menjadi SBI.

Penggunaan dana

Di Jakarta, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menyelidiki dugaan penyalahgunaan dana sumbangan orangtua di salah satu sekolah RSBI di kawasan Rawamangun.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Hidayatullah memaparkan temuan ini ketika Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Antikorupsi Pendidikan (KAKP) mendatangi Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Rabu.

Mereka mempertanyakan laporan indikasi korupsi dalam pengelolaan dana bantuan langsung (block grant) RSBI di sekolah tersebut pada tahun 2007 sebesar Rp 500 juta. Peneliti senior ICW, Febri Hendri, menilai, seharusnya Kejati DKI Jakarta memfokuskan penyidikannya pada penyalahgunaan pengelolaan block grant yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (IRE/LUK)***

Source : Kompas, Kamis, 22 Juli 2010 | 03:52 WIB

Saturday, July 31, 2010

Tari Topeng Dermayon, Watak Manusia Dalam Lakon

Khazanah Sunda

Tari Topeng Dermayon, Watak Manusia Dalam Lakon

Meski berawal dari tradisi keraton, tari topeng khas Indramayu kental dengan nuansa tarian rakyat. Gerakannya lincah, dinamis, dan bertenaga, menggambarkan perkembangan watak manusia dari bayi hingga dewasa.

Karakter gerakan itu membedakan topeng Indramayu dengan induk tarinya, tari topeng Cirebon. Meski secara umum bentuk dan penokohannya sama, tari topeng Indramayu menggambarkan semangat rakyat biasa yang cenderung lugu dan kasar.

Karakter ini terlihat dari gerakan kaki menyepak selendang atau tangan mengibas udara dengan bertenaga. Kepala penari yang selalu tengadah pun mengesankan sikap berani sekaligus pongah. Nuansa semacam ini cenderung teredam dalam tari topeng Cirebon yang memang berawal dari keraton.

Karena itu, tari topeng Indramayu lebih sering disebut tari topeng Dermayon. "Dermayon" berasal dari kata "dermayu", nama desa di lembah barat Sungai Cimanuk yang diyakini sebagai cikal bakal Kabupaten Indramayu saat ini. Dermayu juga menegaskan kekhasan budaya Indramayu di wilayah pesisir utara Jawa, yang bukan bersuku Sunda dan jauh pula dari pusat kekuasaan Jawa.

Secara umum penyajian tari topeng Dermayon memiliki kesamaan dengan tari topeng Cirebon. Alur cerita terbagi dalam lima lakon, yakni panji, samba, rumyang, tumenggung, dan klana. Namun, pada tari topeng Indramayu terdapat pengembangan lakon, antara lain samba merah dan samba udeng.

Cerita dalam kelima lakon mementaskan watak manusia. Meski terdiri dari sejumlah watak, tarian ini dapat dibawakan oleh seorang penari. Perwatakan tergambar pada topeng kayu atau kedok yang dipakai penarinya.

Penjaga tradisi

Meski telah dikenal sejak abad ke-10, tari topeng diperkirakan baru masuk wilayah Cirebon pada abad ke-15, bersama dengan menguatnya pengaruh politik Kasultanan Demak di Keraton Cirebon.

Selain sebagai hiburan, tari topeng merupakan media syiar agama Islam yang efektif. Di luar tembok keraton, tarian ini segera menyebar dan berkembang pesat di wilayah Cirebon, Subang, Indramayu, hingga sebagian Priangan.

Meski sempat terlupakan, tari topeng Dermayon kembali dikenal di panggung pertunjukan lokal dan internasional, antara lain berkat Mimi Rasinah dan Wangi Indriya.

Mimi Rasinah, yang Maret lalu merayakan ulang tahun ke-80, awalnya adalah pengamen tari sebelum "ditemukan" Endo Suanda dan Toto Amsar dari Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia pada 1990-an. Rasinah juga mengajarkan tari topeng Dermayon di sanggarnya di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, sebelum akhirnya pensiun karena terserang stroke.

Adapun Wangi Indriya (49), pemimpin grup tari Sanggar Mulya Bhakti di Kecamatan Sliyeg, merupakan seniman Indramayu serba bisa. Selain menguasai tari topeng Dermayon, dia juga dikenal sebagai sinden dan dalang wayang kulit. (NDW/Litbang Kompas)***

Source : Kompas, Jumat, 30 Juli 2010 | 19:23 WIB

Friday, July 30, 2010

Kebebasan Pers Terancam!

Kebebasan Pers Terancam!


ani

Ilustrasi

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebebasan pers di Indonesia terancam dengan adanya Undang-Undang (UU) yang dinilai bisa membatasi pergerakan pers. Hukuman pidana penjara pun diperpanjang menyusul revisi mengenai Kitab Undang Hukum Pidana (KUHP). "Ada lima UU yang mengancam kebebasan pers, UU ITE (Informasi Transaksi Elektronik), UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik), UU Pornografi, UU Pemilu dan Pilpres, dan UU Rahasia Negara," ucap Leo S. Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, dalam Penyerahan Sertifikat Ahli Dewan Pers, Jumat (30/7/2010) di Gedung Dewan Pers, Jakarta.

Menurutnya, kelima UU tersebut mengancam kebebasan pers. Dalam UU tersebut terdapat pasal-pasal yang mengatur kebebasan pers, seperti UU Keterbukaan Informasi Publik yang mengatur informasi apa yang dapat disajikan ke publik.

Hal itu diamini oleh Atmakusumah Astraatmadja. Menurutnya, dalam revisi KUHP terakhir, terdapat sekitar lebih dari 60 pasal yang mengancam kebebasan pers yang akan dikenai hukuman pidana maksimal 20 tahun penjara.

"Dulu hukuman penjara maksimal tujuh tahun, sekarang bertambah. Dulu, pada revisi pertama ada lebih dari 40 pasal yang mengancam pers, revisi kedua 50 lebih pasal, dan pada revisi terakhir ini ada 60 lebih pasal," terangnya.

Ditambahkannya, KUHP yang sekarang berlaku itu sudah dari awal abad ke-20, zaman kolonial Belanda. Dan ada kurang lebih 35 pasal yang dapat dikenakan terhadap pers. "Waktu itu hukuman penjaranya maksimal tujuh tahun. Sekarang malah lebih parah dari zaman kolonial dulu," tegas dia. ***

Source : Kompas.com, Jumat, 30 Juli 2010 | 20:07 WIB

MEDIA MASA : Kembangkan Bahasa Tak Tergantung Pusat Bahasa

MEDIA MASA

Kembangkan Bahasa Tak Tergantung Pusat Bahasa

JAKARTA - Bahasa Indonesia dalam pengembangan dan pengayaannya tidak boleh hanya bergantung pada Pusat Bahasa. Bahkan, setiap individu yang peduli bisa turut serta mengembangkan bahasa Indonesia, terutama dalam menemukan beragam istilah atau kata.

Demikian disampaikan Anton M Moeliono, Guru Besar Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa, dalam diskusi tentang bahasa jurnalistik yang digelar Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bersama dengan Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) Antara di Jakarta, Kamis (29/7). Narasumber lainnya adalah Ketua Umum FBMM TD Asmadi dan Direktur Pemberitaan LKBN Antara Moehamad Saiful Hadi.

Anton memisalkan frasa ’pasar swalayan’, yang adalah pengindonesiaan dari supermarket, bukan ditemukan dan disosialisasikan Pusat Bahasa. Kata itu—dan juga banyak kata baru lain—merupakan bagian dari upaya warga dan institusi yang peduli dengan pengembangan bahasa Indonesia. Media massa memiliki peran yang penting dalam pengembangan bahasa Indonesia.

Oleh sebab itu, Anton meminta media massa memakai bahasa Indonesia yang dipakai masyarakat secara luas dan bukan menonjolkan dialek. Bahasa Indonesia saat ini dipergunakan dengan tak kurang dari 52 dialek.

Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang lebih luas, lanjut Anton, media massa sekaligus bisa mewujudkan idealismenya untuk mencerdaskan rakyat.

Asmadi mengakui, meski memiliki peran penting dalam pengayaan bahasa Indonesia, media massa masih acap kali melakukan kesalahan. Karena itu, wartawan sudah sepatutnya memahami benar bahasa sehingga tak melakukan kesalahan. (tra) ***

Source : Kompas, Jumat, 30 Juli 2010 | 07:33 WIB

Wednesday, July 28, 2010

MENGENANG MUHAMMAD SYAIFULLAH

MENGENANG MUHAMMAD SYAIFULLAH

Mengingatmu, Teringat Jurnalisme Investigasi

Keluarga dan kerabat serta warga mengikuti proses pemakaman wartawan Kompas Muhammad Syaifullah di makam keluarga Desa Gambah Dalam Barat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Selasa (27/7). Muhammad Syaifullah ditemukan meninggal Senin, 26 Juli 2010, di rumah dinas di Balikpapan, Kalimantan Timur. (BANJARMASIN POST/APUNK ANWAR)***

Mengingatmu, teringat segala ilmu dan pengalaman yang engkau ajarkan tentang hidup, fakta, dan jurnalisme investigasi. Selamat jalan Bang...

Demikian komentar salah seorang temannya dalam akun Facebook Muhammad Syaifullah (43), Kepala Biro Kompas Kalimantan, yang Senin (26/7) ditemukan di rumah dinasnya di Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Lebih dari 100 ucapan belasungkawa yang muncul di akunnya itu. Semua mengenang dan mendoakan almarhum agar diterima di sisi-Nya.

Ucapan belasungkawa tersebut mengalir mengiringi kepergian Syaifullah, anak sulung dari tiga bersaudara.

Jenazah Ful—demikian panggilan akrabnya di Kompas—kemarin pukul 10.45 dimakamkan di samping makam ayahnya, Haji Sabran, di pemakaman keluarga di Desa Gambah Dalam Barat, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Lebih dari 100 warga dan kerabat hadir pada acara itu. Kandangan adalah tanah kelahirannya.

Jenazah almarhum diberangkatkan dari Rumah Sakit Bhayangkara, Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin pukul 21.30, melalui jalan darat. Sekitar pukul 09.00 jenazah tiba di rumah duka di Jalan Ahmad Yani, Kilometer 125 Simpang Lima, Tumpangtalu, Kandangan.

Sekitar pukul 10.00 jenazah dibawa ke Mushala Darur Falah untuk dishalatkan. Dari sini jenazah kemudian diberangkatkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir, yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Ibu almarhum, Maahrita (68), istri almarhum, Isnainijah (41), serta sejumlah keluarga ikut mengiringi. Isnainijah sempat tidak sadarkan diri selepas melihat peti suaminya dibuka, sebelum dimasukkan ke liang lahat. Ibu almarhum pun demikian. Ia sempat pingsan begitu proses pemakaman dan doa selesai dilakukan.

M Ridwan, paman almarhum, menuturkan, keluarga pada prinsipnya menerima kepergian Syaifullah dengan ikhlas. ”Semua yang terjadi sudah menjadi kehendak dan suratan Tuhan Yang Mahakuasa. Semua sudah ada waktunya untuk berangkat ke hadapan Ilahi.”

Masalah lingkungan

Menjadi bagian dari harian Kompas pada tahun 1996, dan selanjutnya ditugaskan menjadi Kepala Biro Kalimantan per 15 Februari 2008, Syaifullah bisa dibilang kemudian menjadi ”faktor” Kalimantan.

Kami menggunakan istilah faktor karena sejak ia memimpin teman-teman Kompas di Kalimantan, topik besar tentang kerusakan lingkungan, termasuk yang berkaitan dengan pertambangan batu bara awal tahun ini, dapat diangkat secara nasional.

Berita itu sekaligus membuktikan bahwa kerusakan lingkungan alam yang parah memang terjadi di Kalimantan, terutama di Kalimantan Timur. Hasil investigasinya bersama teman-teman Biro Kalimantan tergolong berhasil memengaruhi kebijakan pengelolaan lingkungan di tingkat nasional.

Namun, tulisan-tulisan soal lingkungan yang tajam itu tak mustahil pula membuat sejumlah kalangan gerah.

Topik lain berskala nasional yang antara lain juga dapat dipanggungkannya dan berdampak nasional adalah terkait penerbangan di seluruh Kalimantan. Sejumlah kota dan kabupaten akhirnya bisa mengembangkan jaringan penerbangan meskipun masalah transportasi udara bukan masalah sederhana dan cepat selesai.

Laboratorium forensik

Kepergiannya yang mendadak memang banyak yang mempertanyakannya. Oleh karena itu, otopsi pun dilakukan.

Hingga kini penyebab meninggalnya masih terus diselidiki di Surabaya, Jawa Timur. Kepala Polresta Balikpapan Ajun Komisaris Besar Aji Rafik, kemarin siang, mengizinkan Kompas menyertakan dokter untuk memantau proses pengujian.

Pukul 14.15, dua anggota Polresta Balikpapan, yakni Inspektur Satu Teguh Sanyoto dan Brigadir Iswanto, yang disertai seorang wartawan Kompas berangkat dengan pesawat Batavia Air ke Pusat Laboratorium Forensik Surabaya dengan membawa sampel 19 organ tubuh Syaifullah. Sampel diterima di Puslabfor Surabaya pukul 14.55 waktu setempat.

”Kami sudah menerimanya dan akan melakukan pemeriksaan kira-kira dua hari,” kata Kepala Puslabfor Cabang Surabaya Komisaris Besar Bambang Wahyu Suprapto.

Sebagai langkah awal, pihaknya terlebih dulu mengecek daftar jenis sampel organ dan jaringan yang sudah diterima. Pemeriksaan baru bisa dilakukan setelah sampel tersebut dikeringkan dari rendaman alkohol.

Pemeriksaan, menurut Bambang, dilakukan di dua tempat. Selain di Puslabfor Cabang Surabaya, sebagian organ diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum dr Soetomo, Surabaya.

Kenangan tentang Ful semalam juga dilangsungkan di Redaksi Kompas, Jakarta.

Selamat jalan Ful... semoga engkau juga menemukan kedamaian yang abadi....

(WER/AHA/BEE/HRD/MUL)***

Sumber : Kompas, Rabu, 28 Juli 2010 | 02:49 WIB

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • arifai

Rabu, 28 Juli 2010 | 12:35 WIB

Semoga pahlawan-pahlawan seperti Muhammad Saifullah ini tetap tegar dan tidak takut akan tekanan dan godaan dalam melaksanakan tugasnya. Selamat Jalan Mas Iful, semangat dan tekatmu akan terus kami kenang.

Balas tanggapan

  • edi petebang

Rabu, 28 Juli 2010 | 11:12 WIB

Selamat Jalan Bang. Niscaya rakya Kalimantan mengingat kontribusi banag menuju Kalimantan yang lebih adil untuk semua orang, terutama rakyat pedesaan yang banyak hanya menjadi penonton pengerukan sumber daya alamnya.

Balas tanggapan