Monday, September 28, 2009

Rela Berdesak-Desakan Mengarap Berkah di Acara Ritual Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon

KOMPAS/TIMBUKTU HARTHANA

Masyarakat Cirebon berebut melempar uang, bunga, dan beras di depan Pintu Pasujudan atau Lawang Gede di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Sembung dalam acara Grebeg Syawal, Minggu (27/9). Pada acara ini keluarga Kesultanan Kanoman melakukan ziarah kubur sekaligus bersedekah kepada warga Cirebon dengan cara sawer uang logam.

GREBEG SYAWAL

Saat Sultan Kanoman Cirebon Bersilaturahim

Tarini (41), nenek dua cucu, segera berdiri kala sejumlah keluarga Kesultanan Kanoman Cirebon, Jawa Barat, berjalan melintas menuju Bangsal Pasanggrahan di kompleks makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Sembung, Kabupaten Cirebon, Minggu (27/9). Tiga jam sudah dia menanti kehadiran Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII.

Bagi Tarini, kaki yang kesemutan karena duduk berjongkok dan peluh yang mengucur karena sengatan matahari pagi, tak membuatnya gentar berdesak-desakan dengan ratusan orang di depan Bangsal Pasanggrahan. Tujuan mereka sama, ingin mendapat berkah dari Sultan Kanoman Cirebon yang melakukan ritual ziarah kubur Grebeg Syawal.

Mereka yakin, apa saja yang mereka dapatkan dan berikan dalam ritual Grebeg Syawal, akan mendatangkan kemakmuran dan perlindungan bagi keluarga. Karena itu, mereka pun rela menyemut di depan bangsal dan sepanjang jalan yang dilintasi Sultan. Banyak dari mereka yang mencoba menyentuh dan menggapai-gapai Sultan Kanoman XII.

”Senang rasanya bisa melihat Sultan. Dia kan keturunan orang suci. Kalau kita datang dan bertemu dengannya, pasti kita mendapat berkahnya,” kata Tarini yang antusias bersiap berebut uang receh dalam ritual surak atau sawer yang mengakhiri Grebeg Syawal Kesultanan Kanoman.

Damun (42) dan Sundari (40), suami istri asal Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, juga merasa senang. Pada Grebeg Syawal kali ini, mereka berhasil mendapat tiga koin uang receh dan sejumput nasi kuning yang disajikan saat doa di Bangsal Pesanggrahan. Rencananya, uang receh itu akan mereka simpan di dalam kendi beras dengan harapan dapat mendatangkan kemakmuran.

Pencerahan

Demikian pula Rohaya (65) dari Karangampel, Indramayu, senang setiap tahun bisa datang ke Grebeg Syawal. Selain melihat Sultan, dia juga menyempatkan berziarah ke makam kerabat Sunan Gunung Jati untuk mendapatkan pencerahan. ”Saya suka mendengarkan kalau Sultan berdoa. Hati rasanya lebih tenang,” tambahnya.

Menurut RM Arief Rahman, Sekretaris Yayasan Famili Kesultanan Kanoman Cirebon, banyak persepsi masyarakat terkait Grebeg Syawal yang dilakukan setiap tanggal 8 bulan Syawal. Kebanyakan menganggap kesempatan untuk mendapatkan berkah. Padahal, tujuan utamanya adalah ziarah kubur Sunan Gunung Jati dan leluhur Sultan Kanoman.

Ziarah dilanjutkan dengan silaturahim antarkerabat kesultanan dan masyarakat umum dalam bentuk doa dan zikir bersama. Setelah itu memberikan sedekah. Sultan melemparkan uang receh yang boleh diambil oleh siapa saja, khususnya khalayak umum. ”Ini adalah kesempatan Sultan bersilaturahim dengan kerabat-kerabatnya, juga dengan masyarakat,” ujar Arief.

Grebeg Syawal di Kesultanan Kanoman dilakukan setelah kelurga kesultanan melakukan puasa sunah enam hari pada 2-7 Syawal. Puasa sunah di awal bulan Syawal dilakukan Sunan Gunung Jati sehingga sebagai keturunannya, mereka pun harus menjalankannya.

Ritual diawali dengan penyambutan Sultan oleh Pangeran Komisi PM Rokhim dan kerabat, yang dikawal para kemit (penjaga makam). Sultan berjalan menuju Pintu Pasujudan atau Lawang Gede. Pintu ini hanya dibuka pada hari-hari tertentu, yaitu kala Grebeg Syawal dan Idul Adha. Masyarakat hanya boleh mengikuti Sultan sampai Lawang Gede atau pintu ketujuh.

Di depan Lawang Gede, masyarakat meyakini jika melempar uang, beras, dan bunga akan mendapatkan berkah. Sedekah yang mereka lemparkan bakal berbalik dan berlipat. Begitu keyakinan Rohaya yang pasti melempar uang saat melintas di depan Pintu Pasujudan.

Di kawasan Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Minggu, parade ”sewu kupat Sunan Muria” berlangsung meriah. Parade diawali dari kompleks makam dan masjid Sunan Muria, salah satu Wali Sanga. Begitu pula dengan acara serupa di lokasi sendang jodoh Bulusan Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Puncak perayaan Syawalan dan Kupatan, Minggu, ribuan pengunjung Taman Rekreasi Pantai Kartini dan peserta Tasyakuran Laut dan Bumi memadati jalur pantai utara di Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Keramaian itu menyebabkan arus lalu lintas di jalur itu padat merayap sekitar enam jam. (tht/sup/hen)

Source : Kompas, Senin, 28 September 2009 | 04:03 WIB

No comments:

Post a Comment