Wednesday, September 2, 2009

SBY dan Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Ny Ani Yudhoyono, meninjau Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Kompleks Arsip Nasional RI, Jalan Ampera, Jakarta, Senin (31/8). Diorama itu menyimpan dan menampilkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia sampai peristiwa mundurnya mantan Presiden Soeharto dari jabatan presiden. (Foto : Kompas.com)

ARSIP NASIONAL

SBY Bintang Diorama Sejarah Bangsa

JAKARTA - Susilo Bambang Yudhoyono memang belum genap menuntaskan mandat langsung dari rakyat untuk menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2004-2009. Namun, patung dirinya sudah berdiri dalam Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Kompleks Arsip Nasional, Jakarta.

Patung Yudhoyono berdiri dibuat sepertiga ukuran aslinya. Dia dijajarkan bersama lima Presiden RI yang sudah menjadi sejarah karena telah menuntaskan masa baktinya yaitu Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto, dan Soekarno.

Bersamaan dengan peninjauan setelah peresmian oleh Yudhoyono di halaman depan Kompleks Arsip Nasional, Senin (31/8), lagu ciptaan Yudhoyono, ”Majulah Negeriku”, diperdengarkan. Helmi Yahya membawakannya berirama country.

”Maaf saya lancang tak minta izin. Lagu ’Majulah Negeriku’ kami masukkan di Arsip Nasional dalam kelompok lagu perjuangan,” ujar Djoko Utomo, Kepala Arsip Nasional. Yudhoyono yang didampingi Ny Ani Yudhoyono pun tersenyum lebar.

Lagu ”Majulah Negeriku” adalah lagu kedua yang dimasukkan dalam jajaran lagu perjuangan. Lagu pertama adalah lagu wajib kampanye SBY-Boediono dalam Pemilu Presiden 2009 berjudul ”Ku Yakin Sampai di Sana”. Lagu itu diperdengarkan dalam peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64 di halaman Istana Merdeka, Jakarta.

Djoko mengaku merasa bangga dan terhormat. Yudhoyono adalah presiden pertama yang mengunjungi Arsip Nasional sejak Indonesia merdeka. Sambutan pun dibuat meriah.

Begitu masuk Gedung Diorama seluas 750 meter persegi yang dibagi secara apik dan modern dalam delapan ruang, replika Yudhoyono tersenyum dikelilingi lima mantan Presiden RI menyambut. Senyum enam presiden itu diberi judul ”Senyummu Indonesiaku”.

Diorama dibuka gratis untuk umum setiap hari kerja pukul 09.00-15.00. Khusus akhir pekan tutup pukul 13.00. Presiden berharap semua rakyat memaknai arsip dalam dimensi dan pengertian yang luas sebagai living memory bangsa.

Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Begitu pesan Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno, 17 Agustus 1966. Daripada lupa, seperti alpa menyanyikan ”Indonesia Raya” saat dalam Pidato Kenegaraan, 14 Agustus 2009, rupanya yang belum menjadi sejarah pun harus buru-buru dibuat sejarah. (ANTON WISNU NUGROHO)

Source : Kompas, Selasa, 1 September 2009 | 03:33 WIB

No comments:

Post a Comment