Thursday, October 15, 2009

Situs Purbakala Sriwijaya Terancam Sirna

Situs di Sumsel dan Babel Terancam

PALEMBANG - Situs purbakala dari masa pra- Sriwijaya dan masa Sriwijaya di Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung terancam keberadaannya oleh aktivitas manusia. Semua pihak perlu dilibatkan untuk melestarikan situs purbakala di kedua provinsi itu.

Demikian rekomendasi yang disampaikan Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti pada penutupan Ekspedisi Sriwijaya, Sabtu (10/10) di Palembang, Sumatera Selatan.

Ekspedisi yang diselenggarakan Balai Arkeologi Palembang dan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berlangsung lima hari (6-10 Oktober 2009). Tim Ekspedisi Sriwijaya menelusuri situs masa pra-Sriwijaya dan masa Sriwijaya dengan rute Palembang-Kota Kapur-Air Sugihan-Upang-Palembang.

Nurhadi mengatakan, situs Air Sugihan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel, yang terletak di lahan basah kondisinya memprihatinkan. Kawasan di sekitar situs semakin terdesak oleh perluasan lahan pertanian dan perkebunan kelapa sawit. Benda purbakala di situs itu banyak yang diambil dan diperdagangkan.

Kondisi situs purbakala di Kota Kapur, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, juga memprihatinkan. ”Kawasan tempat ditemukannya prasasti Kota Kapur, candi, dan arca Wisnu itu terancam oleh tambang timah,” ujar Nurhadi.

Situs Kota Kapur, lanjutnya, sampai sekarang masih aman. Namun, di sekitar situs banyak penambangan timah. ”Kegiatan penambangan di sekitar situs berpotensi merusak situs,” kata Nurhadi.

Jalan tengah untuk melestarikan situs purbakala di Sumsel dan Kepulauan Bangka Belitung adalah membuat batas-batas untuk melindungi situs dari kegiatan manusia yang berpotensi merusak situs. Kegiatan pertanian, perkebunan, dan pertambangan boleh dilakukan selama tidak melanggar batas yang dapat merusak situs.

Menurut Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Sutardi Harun, Ekspedisi Sriwijaya ini bermanfaat untuk menambah daftar obyek wisata sejarah dan wisata minat khusus di Sumsel. ”Tapi, masih perlu promosi untuk memperkenalkan wisata sejarah dan wisata minat khusus di Sumsel agar menarik minat generasi muda,” tambahnya. (WAD)***

Source : Kompas, Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:20 WIB

No comments:

Post a Comment