Kamis, 19 November 2009

Nakara (Gendang Perunggu) Peninggalan arkeologi periode Dongson-Vietnam

NAKARA PERUNGGU

Nekara perunggu yang ditemukan tahun 1686 oleh Sabura disimpan di sebuah tempat di Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa (17/11). (Foto : Kompas/Lucky Pransiska)***

GARIS DEPAN NUSANTARA

Selayar-Bonerate, antara

Nekara dan Taman Laut

Oleh : Iwan Santosa dan

Lucky Pransisca

Tiga meriam perunggu dan papan petunjuk peninggalan purbakala ditempatkan di dekat situs penting dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara, yakni Nekara Selayar.

Peninggalan arkeologi periode Dongson-Vietnam berupa nekara (gendang perunggu) terbesar di Asia Tenggara itu ditemukan tak jauh dari kota Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan.

Nekara raksasa dengan diameter 252 sentimeter dengan tinggi 96 sentimeter ditemukan Sabura, seorang petani, pada tahun 1686 di Kampung Matalalang, Desa Bontobangun. Nekara disimpan di dalam peti kaca dengan rangka kayu, di petilasan yang sedang diperbaiki beberapa pekerja asal Makassar.

”Kami sudah seminggu di sini. Sebelum Lebaran Haji harus selesai,” kata Mus, seorang pekerja proyek.

Mus menyebutkan, selama sepekan selalu ada orang yang berkunjung melihat nekara raksasa. Namun, sayang, kondisi nekara itu memprihatinkan. Terjadi korosi parah, yang tampak dari warna hijau seperti berkarat memenuhi badan nekara.

”Perlu diperhatikan kondisi di sekitar penyimpanan, apakah ada gangguan dari air atau faktor udara,” kata arkeolog dari Universitas Indonesia, Nini Susanti, saat dihubungi Kompas.

Sejumlah orang yang ditemui di sekitar situs tidak banyak mengetahui fungsi dan makna keberadaan nekara raksasa di Pulau Selayar. Papan informasi di luar kotak kaca dan di ruang penyimpanan nekara memberikan keterangan berbeda. Papan di dalam ruang nekara menyebutkan artefak berusia 2.000 tahun itu ditemukan tahun 1886.

Sejarawan Indonesianis asal Australia, Anthony Reid, dalam buku panduan perjalanan Periplus tentang Sulawesi mengatakan, Pulau Selayar memiliki peran penting dalam hubungan internasional kerajaan maritim dan dunia Barat yang memburu rempah di Kepulauan Maluku.

”Peninggalan purbakala lain, tembikar Tiongkok dan Siam dari periode Sawankhalok, ditemukan di kuburan-kuburan kuno di Selayar,” tulis Anthony.

Setidaknya pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, Kitab Negara Kertagama pada abad ke-14 telah mencatat keberadaan Selayar.

”Dulu disebut Salaja oleh pelaut Majapahit. Masyarakat Selayar termasuk masyarakat yang disegani orang daratan Sulawesi Selatan,” kata Ridwan Alimuddin, aktivis pelayaran tradisional Sulawesi Selatan yang menyertai Ekspedisi Garis Depan Nusantara (GDN). Selayar menjadi persinggahan hari kedua Tim Ekspedisi GDN, Selasa (17/11).

Selayar berada di bawah kekuasaan Makassar yang mengenalkan agama Islam dan menguasai pulau yang menjadi sentra industri kain selayar. Kain warna biru-putih itu merupakan komoditas ekspor utama abad ke-16 hingga abad ke-19.

Pada perjanjian Bungaya (1667), Kesultanan Ternate mengklaim Selayar sebagai wilayah kedaulatannya. Namun, Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) mengambil alih kekuasaan pada abad ke-18.

Saat tim ekspedisi berkeliling, hasil bumi unggulan Selayar, seperti buah mangga dan emping melinjo, masih dipasarkan di pulau itu. Suasana alam terlihat gersang saat tim berangkat dari ujung selatan Selayar di Apatana, tempat pinisi Cinta Laut membuang sauh di kejauhan.

Selayar dari sisi ekonomi masih hidup. Pecinan di dekat pelabuhan di kota Benteng juga terlihat sibuk. Sejarawan Didi Kwartanada mengatakan, para pelaku ekonomi golongan Tionghoa peranakan Selayar digeser oleh kelompok Tionghoa totok asal Hokchia, Provinsi Fujian, semasa pendudukan Jepang (1942-1945).

Pasokan barang dan bahan kebutuhan pokok masih terbilang lancar di Selayar. Liana, seorang perempuan asli Selayar yang berdagang eceran bensin, mengatakan, ia bisa menjual 10 hingga 12 drum bensin setiap hari. Satu liter bensin eceran dijual Rp 5.400. Tidak ada pompa bensin modern beroperasi di Selayar.

Penjelajahan Selayar berakhir petang hari. Rombongan menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Benteng ke Apatana yang berjarak hanya 45 kilometer. Jalan kecil selebar 4 meter, berliku, dan naik-turun tajam membuat mobil yang disewa tidak bisa melaju cepat. Sepanjang jalan, pantai berkarang dan pasir putih membentang di barat Pulau Selayar yang memanjang dari utara ke selatan sekitar 100 kilometer.

Jalur bajak laut

Perjalanan hari ketiga dan keempat tim GDN menyusuri surga taman nasional laut Takabonerate dan membuang sauh di Pulau Kalao Lipuna Baligau di dermaga Desa Lambego, Rabu sekitar pukul 16.00 Wita. Jalur laut dari Selayar ke Takabonerate adalah jalur bajak laut yang menguasai perairan Nusantara pada abad ke-16-ke-19.

Sejarawan Adrian B Lapian dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX menyebutkan ”... di kawasan Laut Flores juga ada pangkalannya—bajak laut—di beberapa pulau kecil seperti Tanah Jampea, Kalao, dan Bonerate. Pulau Riung di lepas pantai utara Flores Barat (Manggarai) juga pusat perompak Mandindano (Mindanao), Balangingi, dan Tobelo”.

Saat ini masyarakat Buton menghuni Lambego. Mereka membangun industri galangan kapal tradisional. Ridwan Alimuddin mengatakan, masyarakat Buton ahli membuat kapal jenis lambok, yang oleh pelaut Eropa disebut lambuk.

Tim GDN akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Flores yang berjarak sekitar 100 mil laut (185,2 kilometer) dari Pulau Kalao, Rabu malam atau Kamis pagi ini, mengikuti kondisi cuaca di Laut Flores. ***

Source : Kompas, Kamis, 19 November 2009 | 03:11 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar