Rabu, 27 Mei 2009

Museum digoyang Beragam Permasalahan

KRH Darmodipuro (Mbah Hadi).
OBITUARI

Mbah Hadi Tutup Usia

SOLO – KRH Darmodipuro yang akrab disapa Mbah Hadi, mantan Kepala Museum Radya Pustaka di Solo, Rabu (27/5) pukul 14.15, meninggal dunia dalam usia 71 tahun setelah beberapa lama menderita sakit. Jenazah almarhum akan dimakamkan Kamis (28/5) siang di Pemakaman Umum Daksinalaya, Sukoharjo, berangkat dari kediaman di Jalan Kiai Maja, RT.04 RW.05, Kelurahan Semanggi.

Menurut Suharyadi (27), putra bungsu almarhum, sebulan silam Mbah Hadi jatuh terduduk di lantau saat hendak sarapan pagi di ruang makan. Sempat diurut, selang sepekan kemudian diperiksakan ke rumah sakit setelah mengeluh tak bisa jalan. Dokter menyebutkan, ada bagian tulang punggungnya yang retak. Sejak itu ia menggunakan kursi roda.

Walau dalam kondisi sakit, Mbah Hadi sehari-hari tetap melayani warga masyarakat yang hendak konsultasi menyangkut perhitungan hari untuk hajatan, seperti perkawainan mencari jodoh, pembangunan rumah, peresmian gedung. Ia juga melayani ruwatan bagi mereka yang ingin terbebas dari kenaasan hidup.

“Jam 10.00 tadi masih welayani tamu dari Nguter. Tapi, jam 12.00 mendadak ia mengeluh dadanya sesak. Belum sempat diperiksa dokter, dia sudah meninggal,” kata Ny. Sulastri (65) adik kandung almarhum.

Suhadi, namanya saat muda, menjabat Kepala Museum Radya Pustaka Solo sejak tahun 1976 atas rekomendasi GPH Hadiwijoyo. Belakangan, seelah mendalami pengetahuan pawukon dan primbon, yaitu perhitungan hari dalam sistem kalender Jawa, ia menjadi narasumber andal dan panutan mengenai pawukon dan primbon di masyarakat. Banyak warga dari awam hingga pejabat tinggi, memanfaatkan ilmunya untuk berbagai keperluan.

Akan tetapi, November 2007, reputasi Mbah Hadi pupus menyusul terungkapnya kasus pencurian dan pemalsuan atas enam arca koleksi Museum Radya Pustaka.

Mbah Hadi bersama dua karyawan museum, Jarwadi dan Gatot, ditangkap polisi dan menjalani proses persidangan. Mbah Hadi terbukti berperan dalam kasus tersebut. Ia harus menjalani hukuman pidana selama 18 bulan. Ia dinyatakan bebas bersyarat Oktober 2008. (ASA/SON)

Source : Kompas, Kamis, 28 Mei 2009

Foto-foto Posmo.net, Kompas.com, dan Mataya-Indonesia.org.

Pengurus Komite Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah, menunjukkan peta wilayah Keraton Kasunanan Surakarta yang dibuat tahun 1905 di museum tersebut, Sabtu (23/5). Peta yang tidak terawat itu ditemukan bersama 15 peta kuno lainnya di gudang museum. (Kompas/Heru Sri Kumoro)

Ditemukan 16 Peta Kuno

Masih Dicari 23 Buku Kuno yang Hilang

SOLO - Pengelola Museum Radya Pustaka di Kota Solo "menemukan" 16 peta kuno. Dari 16 peta kuno tersebut, tujuh di antaranya sudah diidentifikasi, yakni dua peta Surakarta, peta wilayah Keraton Plered, Keraton Surakarta, Keraton Pajang, Kasepuhan Cirebon, dan Keraton Kartasura.

Peta kuno tersebut digambar dengan tangan menggunakan tinta di atas kertas karton tebal. Salah satu peta, yakni peta wi­layah Keraton Kasepuhan Cire­bon, dibuat tahun 1882 atau berumur 127 tahun. Adapun pe­ta wilayah Surakarta disertai ca­tatan pembuatan tahun 1903.

Gambar peta masih tampak jelas, tetapi beberapa peta sudah mulai sobek. Tulisan pada peta menggunakan huruf Jawa carik dan ada juga yang menggunakan huruf Latin. Peta-peta tersebut selama ini belum masuk daftar inventarisasi koleksi Museum Radya Pustaka.

inventarisasi koleksi Museum Radya Pustaka.

Peta ditemukan saat staf mu­seum membersihkan gudang un­tuk mencari sekitar 23 buku dan naskah kuno yang diduga hilang.

"Banyak koleksi buku dan nas­kah di gudang itu yang belum diberi nomor dan masuk daftar inventarisasi," kata Ketua Komi­te Museum Radya Pustaka Wi­narso Kalingga, Sabtu (23/5).

Peta-peta kuno ditemukan Jumat lalu bersamaan dengan kedatangan lima staf dari Badan

Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah. Anggota staf Mu­seum Radya Pustaka, Soemarni Wijayanti, mengungkapkan, Ba­dan Arsip menyarankan dilaku­kan laminasi terhadap peta-peta kuno yang ditemukan agar awet dan bisa dipamerkan di Museum Radya Pustaka.

Sejarawan dari Universitas Se­belas Maret (UNS) Solo, Tun­djung W Sutirto, mengatakan, peta kuno tersebut sangat ber­harga karena bisa diketahui wi­layah kekuasaan beberapa kera­ton di Jawa saat itu. Bisa di­ketahui pula pola penataan kota, ekologi sistem pertahanan ke­raton saat itu.

Masih dicari

Berkaitan dengan dugaan hi­langnya sekitar 23 naskah dan buku kuno, hingga kini penge­lola museum masih melakukan pencarian.

Tundjung mengatakan, hilang­nya naskah kuno dan belum di­inventarisasinya peta-peta ktmo menunjukkan pengelolaan mu­seum di Indonesia masih buruk dan tidak profesional. Barang-ba­rang bersejarah yang tak ternilai harganya peninggalan zaman Si­ngosari hingga Surakarta banyak yang tidak jelas keberadaannya. "Bendanya tetap ada, tetapi entah di mana keberadaannya," kata­nya.

Ini, menurut Tundjung, juga menunjukkan rendahnya kepe­dulian perguruan tinggi, teruta­ma yang memiliki fakultas sastra, karena sedikit sekali mengambil bagian dalam pelestarian kha­zanah pustaka.

"Konvensi internasional tidak membolehkan penggandaan nas­kah kuno dengan fotokopi karena akan merusak naskah, tetapi bisa dibuat mikrofilm," kata Tun­djung. (EKI)

Daftar Buku yang Diduga Hilang :

1. Serat Ong Ilahe'ng

2. Primbon Mangku Prajan

3. Serat Jaya Lengkara Purwacarita

4. Buku Werna-werni Sinjang (empat jilid)

5. Buku Gambar Songsong Kraton Lan Keterangan Werna-Werni

6. Buku Gambar Songsong Kraton

7. Serat Babad Surakarta

8. Babad Giyanti Dumugi Prajat & Partakrama (dua jilid)

9. Serat Jugul Muda

10. Serat Jugul Muda Baratayuda

11. Smaradahana

12. Kawi Bausastra

13. Serat Bausastra (empat jilid)

14. Kakawin Bharatayuda (dibuat untuk PB IV sebelum menjadi raja) ,

15. Serat Babad Purwa

16. Menak Purwakanda (dua buku, yakni Serat Karmajarwa dan Serat Nawawi)

17. Kamus Kawi Jawa Wiwit Huruf Ha Dumugi Ka

Buku yang Masih Dicari :

l. Serat Isi Tembang Kawi

2. Serat Sakuntala

3. Wiwaho Jarwa I

4. Wiwaho Jarwa II

5. Kakawin Parthajaya

Sumber: Museum Radya Pustaka Source: Kompas, Senin, 25 Mei 2009

Illustrasi : Gunawan

MuseumTerkendala Dana

Naskah Kuno Mulai Digitalisasi

SOLO - Hilangnya sejumlah naskah kuno dan buruknya inventarisasi koleksi di museum tidak terlepas dari terbatasnya dana dan sumber daya manusia. Hal ini dialami sejumlah museum di Tanah Air, termasuk Museum Radya Pustaka Solo.

Di Museum Radya Pustaka, misalnya, hingga kini hanya ada empat anggota staf yang bertu­gas, yakni petugas tiket, adminis­trasi, perpustakaan, dan peman­du wisata. Keempatnya bersama tiga orang Komite Museum Rad­ya Pustaka mengelola museum. Ini ditambah satu juru pelihara museum.

"Untuk perawatan dan opera­sional, seperti listrik, kebutuhan dananya banyak sekali, semen­tara kami hanya mendapat ban­tuan Rp 100 juta setahun. Untuk honor karyawan dan operasional saja tidak cukup," kata Ketua Komite Museum Radya Pustaka Winarso Kalingga, Senin (25/5).

Petugas perpustakaan, Kurnia Heniwati, berharap museum mendapat pendampingan tenaga ahli untuk pengelolaan museum dan perawatan koleksi-koleksi­nya. Saat ia masuk tahun 2007, kondisi koleksi pustaka semra­wut. "Buku-buku banyak yang hampir hancur. Letaknya ber­campur karena pengunjung bisa mengambil sendiri buku yang ingin dibaca," katanya.

Kurnia bersama anggota staf lainnya kemudian membersih­kan dan memperbaiki buku-buku yang ada, termasuk menemukan keberadaan buku-buku di gudang yang belum masuk katalog, di antaranya buku berbahasa Be­landa 300 buah, berbahasa In­donesia 400, dan berbahasa Jawa carik 200 buah.

Anggota staf museum Radya Pustaka, Soemarni Wijayanti, mengatakan, pihaknya harus pintar-pintar membagi waktu untuk mengurus koleksi pustaka. "Un­tuk mencari naskah dan buku kuno yang diduga hilang, kami harus menyempatkan waktu di tengah tugas utama melayani pengunjung museum dan per­pustakaan," katanya.

Wali Kota Solo Joko Widodo secara terpisah mengatakan, pi­haknya akan menambah bantuan dana untuk museum dalam per­ubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solo. Ia juga meminta agar mu­seum segera mencari keberadaan buku dan naskah kuno yang di­duga hilang. Jika memang dipas­tikan hilang, Komite Museum diminta segera melapor ke po­lisi.

Untuk tahun anggaran 2009, Pemkot Solo memberi bantuan Rp 100 juta. Museum Radya Pus­taka berumur 119 tahun, didi­rikan 28 Oktober 1890 oleh Kan­jeng Raden Arjo (KRA) Sosrodiningrat IV yang saat itu men­jabat patih Paku Buwono IX.

Lakukan Digitalisasi

Secara terpisah, pendiri Yaya­san Sastra Surakarta, John Pater­son, dan Direktur Yayasan Sastra Surakarta Supardjo mengatakan, menyadari naskah kuno sangat penting untuk pengembangan il­mu pengetahuan. Yayasan Sastra Surakarta, Jawa Tengah, kini me­reka melakukan digitalisasi ter­hadap naskah peninggalan masa lalu. Paterson mengatakan, hing­ga kini, sekitar 15 juta kata telah didigitalisasi dan sedang dalam proses mengunggah pada situs web www.sastra.org.

Sebagian besar karya yang akan dimuat dalam situs web, yang rencananya akan online kembali mulai Agustus 2009, adalah karya sastra terkenal yang ditulis atau diterbitkan pada awal abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Karya dimulai dari bentuk tembang (puisi), gencaran (pro­sa) baik prosa yang ditulis tangan, cetakan, maupun ketikan.

"Dengan digitalisasi, naskah asli menjadi lebih aman," kata Direktur Yayasan Sastra Sura­karta.

Direktur Museum Direktorat Sejarah dan Purbakala Depar­temen Kebudayaan dan Pariwi­sata Intan Mardiana Napitupulu mengatakan, buku kuno yang di­nyatakan hilang belum bisa dika­takan hilang karena harus dibuk­tikan dulu dengan catatan yang ada. (EKI/SON/NAL)***

Source : Kompas, Selasa, 26 Mei 2009 (Foto : PasarSolo.com)

Dosen UGM Terima Penghargaan Internasional
YOGYAKARTA - Atas komitmennya dalam melestarikan Candi Borobudur dan kawasan kota tua di Kotagede, dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Laretna T Adishakti, menerima penghargaan The Nikkei Asia Prizes ke-14 untuk kategori budaya perseorangan. Tahun ini, Laretna satu-satunya penerima penghargaan yang berasal dari Indonesia. Lewat surat elektronik yang dia kirimkan dari Tokyo, Jepang, Senin (25/5), ia mengaku terkejut saat dinyatakan sebagai salah satu penerima penghargaan itu. Laretna berada di Tokyo sejak 18 Mei untuk acara penganugerahan penghargaan The Nikkei Asia Prizes ke-14. The Nikkei Asia Prizes merupakan penghargaan yang diberikan koran bisnis nasional di Jepang, The Nikkei, kepada tokoh-tokoh di Asia dan kawasan Pasifik yang dinilai berprestasi di bidang pertumbuhan regional, inovasi sains dan teknologi, serta budaya. (IRE)***
Source : Kompas, Selasa, 26 mei 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar